Pretty Guardian Sailor Moon © Naoko Takeuchi
Warning: OOC, mature-rated.
.
.
.
.
.
Dalam waktu satu jam, Chibiusa pun mengubah ingatan Ikuko, Kenji, dan Shingo tentang pertemuan mereka dengan 'orang tua' Seiya.
Chibiusa menghiptonis keluarga Tsukino bahwa pertemuan makan malam tersebut hanyalah mimpi, dan pertemuan makan malam yang sebenarnya dijadwalkan keesokan harinya.
Setelah berpelukan dan berpamitan dengan semua orang, ia dan Chibi Chibi kembali ke abad 30.
"Aku tidak percaya bencana ini telah berakhir. Sekarang, kita hanya perlu mencari tahu apa yang harus kita lakukan besok ketika keluargamu menyadari bahwa itu semua bukanlah mimpi," kata Seiya sambil menggendong Shingo ke mobil van milik Taiki.
Taiki dan Yaten ikut membopong Ikuko, sementara Kenji sudah ada di dalam.
"Aku tak tahu. Mungkin kita harus mempekerjakan orang yang berbeda... orang-orang yang lebih tua dan memang berpenampilan seperti orang tua, bukan pria muda dengan kumis palsu." Taiki dan Yaten terkikik dan melangkah masuk ke dalam mobil van.
Ketika mereka sampai di rumah Usagi, empat orang muda itu membawa ketiga orang yang tidak sadarkan diri tersebut ke dalam dan menidurkan mereka.
"Kuharap mereka tidak merasa aneh dengan pakaian mereka. Tapi jujur, aku tak ingin menggantikan baju mereka dengan piyama, Usagi." kata Taiki.
"Aku tidak mengharapkan itu darimu. Mereka akan baik-baik saja." Usagi melirik orang tuanya yang sedang tidur, lalu menoleh ke arah Taiki dan Yaten.
"Taiki-san, Yaten-kun... terima kasih. Kalian berdua telah melalui semua kesulitan ini hanya untuk kami. Jika aku harus memilih seseorang untuk menjadi sahabat suamiku, kalianlah yang terbaik."
Dengan gerakan khasnya, Usagi melompat dan memeluk mereka dengan sangat erat hingga menjatuhkan mereka ke lantai.
"Sama-sama," Taiki tersedak.
"Ya ampun! Kau persis seperti Minako!" Yaten mengeluh, tetapi tidak mendorong si pirang agar menjauh darinya.
"Maafkan aku, teman-teman. Aku sangat bersyukur. Meskipun rencana ini tidak sepenuhnya berhasil, aku tidak akan pernah melupakan usaha kalian." Usagi berdiri sambil tersenyum manis, membuat Taiki dan Yaten merasa—terlepas dari kekacauan yang terjadi—mereka rela melakukan semua itu lagi jika memang harus, demi sang gadis bersurai pirang.
Usagi kemudian menoleh kepada tunangannya dan air mukanya berubah menjadi sedih dan takut. Sambil memegang tangannya, ia berkata, "Seiya..."
"Aku tahu, aku tidak dapat memikirkan hal lain yang dapat kita lakukan." ujarnya lirih sambil menatap malaikatnya yang cantik, mengetahui bahwa jika mereka gagal lagi keesokan harinya, mereka akan dipisahkan selamanya.
"Kau selalu bisa menggunakan orang tua kandungmu."
Tiba-tiba, terdengar suara seorang laki-laki yang dalam dari pintu.
Semua orang menoleh karena terkejut ketika mendapati sepasang pasutri berdiri bergandengan tangan dan tersenyum lebar.
"I—ibu...? Ayah?"
Seiya terperanjat, kedua matanya melebar saat melihat sosok pria dan wanita dewasa yang ada di hadapannya. Berulang kali ia menatap sang pria ke sang wanita, mengamati mereka dari atas ke bawah dengan rasa tidak percaya.
Tinggi wanita itu sama dengan Seiya, dengan rambut biru tua panjang dan bergelombang hingga ke pinggangnya. Mata peraknya bersinar seterang bulan. Bentuk wajahnya persis seperti wajah Seiya, hanya warna rambut dan mata saja yang membedakan mereka berdua. Ia tampak tenang dan anggun, bahkan saat berdiri diam.
Sedangkan, pria di sampingnya sedikit lebih tinggi dari saya, tetapi dengan postur tubuh yang sama seperti Seiya dan rambut hitam legamnya dipotong pendek. Ia terlihat gagah, namun ada binar di matanya yang hampir sewarna dengan rambut istrinya.
Usagi menyadari bahwa dari perpaduan sempurna orang tuanya, Seiya memiliki mata berwarna biru tua yang unik.
"Seiya-kun, aku tidak percaya kau akan menikah!" ibunya berbicara dengan suara merdu, mengulurkan tangannya untuk memberi salam.
Seiya, dengan mata berkaca-kaca, berlari ke arahnya dan memeluknya erat-erat.
Taiki, Yaten, dan Usagi tidak bisa menahan senyum melihat pemandangan itu, mengetahui bahwa mungkin sudah lama sejak Seiya terakhir kali melihat orang tuanya.
"Ibu... ayah... bagaimana kau bisa tahu?" Seiya menjauh dari ibunya dan bergerak ke ayahnya yang memberinya pelukan penuh kasih yang sama.
"Taiki Kou menghubungi kita, tentunya. Dia memberi tahu kita saat itu juga bahwa kau akan bertunangan. Aku sangat menyesal karena butuh waktu lama untuk sampai di sini," ibunya meminta maaf, memeluknya sekali lagi.
"Tunggu sebentar!" kata Yaten, memecah reuni penuh haru dan menoleh ke idola berambut coklat berjidat lebar itu.
"Maksudmu—kau TAHU mereka akan datang, dan alih-alih menunggu mereka sampai disini... kau MENGIKUTI RENCANA INI?!"
"A—ah, baiklah... kau tahu aku ingin ini menjadi sebuah kejutan, bahwa mereka akan datang ke sini. Aku meminta mereka tinggal di hotel untuk sementara waktu, kemudian jika mereka menemukan tempat yang mereka sukai di planet ini, aku hendak meminta mereka untuk tinggal secara permanen. Itu akan menjadi hadiah pernikahanku. Lagi pula... aku tidak yakin berapa lama mereka akan datang. Jika ternyata mereka membutuhkan waktu lebih lama, kita tidak bisa terus menunda pertemuan dengan keluarga Tsukino tanpa membuat mereka curiga."
Yaten menatap Taiki dalam diam. Amarah yang tenang terpancar di tatapannya yang tajam. Akhirnya dia berkata, "Aku pergi."
Bagaikan seorang diva, Yaten keluar dari rumah tersebut dan bergegas masuk ke mobil van.
Taiki berdeham. "Baiklah, kurasa aku akan mengejarnya sebelum dia melakukan apa pun pada mobilku. Senang bertemu denganmu lagi, Ryuusei-san, Arisa-san." Sambil membungkuk, dia pamit dan meninggalkan Seiya, Usagi, serta orang tua kandung Seiya.
"Jadi, tampaknya sekarang giliranku untuk memperkenalkan kalian kepada orang tua-ku," kata Seiya setelah beberapa saat.
"Odango, perkenalkan. Ini Arisa Kou, ibuku, dan Ryuusei Kou, ayahku. Ibu dan ayah, ini tunangan dan cinta sejatiku, Tsukino Usagi." Senyum di bibir Seiya merekah. "Tapi mungkin kalian lebih mengenalnya sebagai... Sailor Moon."
"Salam kenal." kata Usagi, mendadak bersikap malu-malu.
"Sailor Moon—?" Ryuusei tersentak.
"Sungguh merupakan suatu kehormatan bertemu denganmu! Kau menyelamatkan orang-orang di planet kami dan seluruh alam semesta kita! Kami selalu berhutang budi padamu." Ia membungkuk dalam-dalam sementara Arisa meraih salah satu tangan Usagi dan menciumnya sambil berlutut.
"Kumohon... aku tidak ingin dikenal sebagai Sailor Moon olehmu. Aku... hanya ingin menjadi menantu perempuanmu." kata Usagi, wajahnya memerah.
"Tentu saja. Kau gadis yang sangat cantik. Cahaya yang terpancar dari dalam dirimu sangat kuat. Aku langsung tahu mengapa Seiya-kun sangat mencintaimu." Arisa tersenyum.
Wajah Usagi bersemu merah.
"She is one in a billion, ayah. Kurasa aku tak akan pernah bisa jauh darinya sejak pertama kali kita bertemu." Ia melingkarkan lengannya di pinggang Usagi dan menyandarkan kepala di bahunya.
"Selalu romantis—tidak heran kamu memilih untuk menjadi seorang artis di planet ini." kata Ryuusei.
"Seiya, kami mendukungmu. Apa pun yang akan terjadi."
"Ya. Kau tetap anak kami, dan kami mencintaimu." ucap Arisa.
"Terima kasih, ayah, ibu. Perkataanmu sangat berarti untukku."
Suasana diselimuti keheningan yang nyaman saat semua orang saling tersenyum, sebelum Seiya teringat akan urusan penting yang harus dibicarakan.
"Ibu, ayah. Kalau kalian bersedia, kami butuh bantuan kalian..."
Cuaca hari itu sangat cerah. Gedung gereja tampak berkilauan dan orang-orang tampak berbahagia.
Barisan demi barisan penonton yang gembira menunggu saat ketika pengantin wanita akhirnya masuk. Sedikit grogi dalam balutan tuksedonya, Seiya menarik napas dalam-dalam dan teringat saat ia berdiri di luar pintu rumah kekasihnya enam bulan lalu, menunggu pertemuan orang tua gadis itu.
Taiki, Yaten, dan bahkan—Haruka—berdiri bersama para best man, menyemangatinya dengan senyum serta acungan jempol yang membuat dirinya sedikit lebih tenang.
Sesungguhnya, apa lagi yang perlu dikhawatirkan? Dirinya akan bersatu selamanya dengan belahan jiwanya, sesuatu yang hanya pernah ia impikan.
Piano mulai memainkan melodi "Here Comes the Bride", dan pintu kapel pun terbuka lebar.
Pertama-tama, muncul seorang gadis kecil berambut merah dengan gaun berwarna rose gold yang menawan, membawa keranjang dan menaburkan kelopak bunga di sepanjang lorong. Orang-orang terpesona pada gadis itu saat dia mengarahkan mata birunya yang berbinar ke arah mereka dan melanjutkan jalannya, sesekali menyerukan, "Chibi Chibi!"
Sesampainya dia di penghujung lorong, ia berlari ke bangku depan dan melompat sambil cekikikan di samping Ikuko.
Berikutnya muncul delapan gadis berpakaian sewarna dengan Chibi Chibi, serasi dengan gaun panjang selutut yang berkilauan di bawah sinar matahari yang terpancar melalui jendela kaca.
Satu per satu, mereka berjalan menuju altar. Setsuna—yang bertubuh paling tinggi—berdiri paling dekat dengan Seiya, sementara Chibiusa berdiri paling jauh.
Dengan tatapan kagum dari para tamu, Usagi perlahan memasuki ruangan sembari digandeng oleh ayahnya. Ia tampak memesona mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih yang membuatnya tampak seperti seorang putri—meskipun tak semua orang tau bahwa ia memang sang Putri Bulan.
Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Usagi memancarkan kecantikannya. Napas Seiya tercekat di tenggorokannya saat melihatnya, sekali lagi bersyukur kepada Tuhan karena dapat menyebut malaikat ini sebagai miliknya—oh, tidak hanya itu—istrinya.
Sampai di altar, Kenji mencium pipi putrinya dengan mata berkaca-kaca.
Ketika pendeta akhirnya mengucapkan sumpah, Seiya mengeluarkan selembar kertas dari sakunya, lalu membacanya dengan penuh sentimental.
"Usagi, kesayanganku. Saat pertama kali kita bertemu, aku tahu ada sesuatu yang istimewa darimu. Sesuatu yang membuatmu berbeda dari yang lain. Di saat kau sama sekali tidak terkesan dengan pesonaku sebagai idola, kau membuat diriku semakin penasaran. Ketika aku berusaha mengenalmu lebih dekat... aku belajar bahwa kau adalah wanita yang paling baik hati, peduli, dan tidak egois yang pernah kutemui."
Seiya menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Sebenarnya, aku cemburu ketika mengetahui kau milik orang lain. Namun, aku cukup beruntung karena pada akhirnya, kau mengucapkan tiga kata ajaib itu—dan lihatlah di mana kita berada sekarang."
Sekelibat, terlintas berbagai kenangan bersama Usagi di benaknya.
Semua dimulai dari ungkapan rindu Usagi akan mantan kekasihnya di atap sekolah yang dibalas dengan pernyataan "Apakah... aku tidak cukup baik untukmu?" dari Seiya.
Dilanjutkan dengan pertemuan tak sengaja ketika Usagi mencoba menyelinap ke belakang panggung setelah konser—di mana Usagi pada akhirnya membalas perasaannya dengan mengatakan "Aku menyukaimu, Seiya." Sampai pada akhirnya, mereka berdua dapat bersanding di altar.
"Tsukino Usagi, aku mencintaimu lebih dari seluruh bintang di galaksi ini, dan aku ingin menghabiskan seumur hidupku bersamamu. Setiap saat, setiap hari—hingga akhir hayatku."
Tak kuasa menahan tangis bahagia, terlihat para tamu undangan menyeka air mata mereka. Selanjutnya, giliran Usagi menyampaikan pidatonya dengan perasaan haru.
"Seiya, saat kita bertemu, kau benar-benar menyebalkan."
Spontan, para hadirin pun tertawa.
"Kupikir kamu adalah orang yang paling sombong dan konyol di dunia. Tapi kemudian, aku melihat sisi lain dari dirimu. Sisi yang jauh lebih dalam, membuatku mengenal sosok dirimu yang sebenarnya. Meskipun sifat luarmu seperti itu, nyatanya kamu adalah orang yang menyenangkan. Di saat kamu tidak ada, aku menyadari betapa sulitnya hidup tanpamu. Aku terlalu dibayangi oleh keyakinanku sendiri meskipun sebenarnya itu bukanlah keinginan hatiku. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa tidak masalah apa pun yang kupilih, selama aku bahagia—dan aku tidak pernah merasa sebahagia ini."
Sambil menahan air mata, Usagi tersenyum, kemudian melanjutkan pidatonya.
"Seiya Kou, kamu adalah sahabatku. Kamu selalu ada untukku saat tidak ada orang lain yang memahamiku. Kamu adalah satu-satunya orang yang terhubung denganku tanpa ada kaitan dengan semacam 'takdir yang telah ditetapkan.' Aku sangat mencintaimu, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Sorak sorai para tamu terdengar saat pasangan itu berpelukan. Sang pendeta kemudian melanjutkan ke acara penutup.
"Mempelai pria dipersilakan untuk mencium pengantin."
Penonton bertepuk tangan dan bunga-bunga dilemparkan saat pasangan pengantin baru itu berjalan menuju limusin yang akan membawa mereka ke resepsi pernikahan.
Aula gedung didekorasi dengan bunga-bunga segar yang indah, sementara orang-orang berdansa dan bersenang-senang. Ikuko dan Kenji duduk bersama Ryuusei dan Arisa, sambil mengobrol tentang harapan mereka untuk masa depan anak-anak mereka. Seiya dan Usagi bergabung dengan mereka setelah beberapa saat, beristirahat dari lantai dansa.
"Aku sangat senang kita bisa akur. Kupikir... Ah, sudahlah," kata Ikuko, melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
"Apa? Apa yang kau pikirkan?" Arisa bersikeras dengan rasa ingin tahu.
"Baiklah," kata Ikuko. Sampanye yang diminumnya membuat lidahnya kelu.
"Pada malam sebelum kita makan malam bersama untuk pertama kalinya, aku bermimpi aneh sekali. Aku melihat... kau dan suamimu agak mencurigakan. Kau bercerai dan berusaha menyembunyikannya karena kau sebenarnya... berkencan dengan salah satu teman putriku. Begitu pula suamimu. Lalu tiba-tiba kau jatuh sakit, dan suamimu punya kumis palsu yang rontok. Setelah itu, seorang gadis kecil masuk ke ruangan dan mengatakan bahwa Usagi adalah ibunya. Mimpi yang sangat aneh—seharusnya aku tidak menyebutkannya."
Usagi dan Seiya saling berpandangan dengan sedikit khawatir, dan tertawa gugup.
"Oh, itu mimpi yang aneh. Mari kita lupakan saja dan nikmati pestanya." kata Arisa.
"Tapi tunggu dulu... orang-orang dalam mimpiku... mereka tampak seperti Taiki-san dan Yaten-san!" Ikuko menunjuk ke dua laki-laki yang sayangnya keduanya saling berdekatan dengan Ami dan Minako—yang hanya menambah kenyataan dari apa yang seharusnya sekadar 'mimpi'.
"Sekarang setelah kau menyebutkannya, kurasa aku juga bermimpi yang sama!" Kenji setuju. "Kau tidak berpikir—"
Tapi sebelum Kenji bisa menyelesaikan kalimatnya, ada kilatan cahaya cepat dan dia dan istrinya tertidur di meja.
Chibiusa berdiri di belakang mereka bersama Luna-P.
"Aku sarankan, jauhkan mereka dari alkohol." katanya sebelum kembali berdansa dengan Helios yang juga diundang.
Usagi, Seiya, dan kedua orang tua Seiya dengan acuh tak acuh berdiri dari meja dan pergi—berharap siapa pun yang lewat mengira bahwa keluarga Tsukino hanya terlalu banyak minum.
Seiya memegang tangan istrinya dan menariknya keluar ke udara malam yang sejuk untuk sejenak menjauh dari keramaian.
"Syukurlah semuanya berjalan lancar. Setidaknya, sekarang setelah kita benar-benar menikah, orang tuaku tidak bisa berbuat apa-apa jika di tengah jalan mereka mengetahui sesuatu." ujar Usagi.
"Kau akan memberi tahu mereka pada akhirnya, bukan? Maksudku, bagaimanapun juga, mereka orang tuamu." jawab Seiya, berkaitan dengan identitas Usagi.
"Ya. Kurasa, suatu saat nanti aku akan memberi tahu mereka. Hanya jika aku tahu pasti bahwa tidak akan ada lagi musuh yang menyerang mereka."
Seiya mengangguk tanpa suara, menoleh ke arah gadis yang dicintainya. Senyum mengembang di wajahnya.
"Hei, Odango."
"Hm?"
"Kita sudah menikah."
Sekilas, makna dari kata-kata itu terbayang di benak Usagi.
Usagi menoleh ke arah suaminya—satu-satunya suaminya—dan tersenyum lebar.
Seiya mendekatkan wajah Usagi lebih dekat padanya dan menciumnya, sambil berbisik, "Aku mencintaimu."
- END -
Author's Note
Dengan demikian, kisah Seiya dan Usagi dalam cerita "Hajimete" telah berakhir sebagai karya fiksi pertama dari author.
Kepada para reader yang setia, terima kasih sudah menunggu selama (hampir) 10 tahun! ;A;) *brb nangis terharu*
Ketika menulis bagian pidato pernikahan, entah kenapa author kebayang lagu "Lover" by Taylor Swift dan lanjut nulis chapter ini sambil dengerin lagu itu. Lagunya pas banget!
By the way,jangan bingung sama kemunculan Arisa dan Ryuusei, ya! Arisa Kou dan Ryuusei Kou adalah murni original character yang dibuat author untuk cerita ini dan tidak ada kaitannya dengan tokoh-tokoh buatan Takeuchi-sensei :)
Meskipun di serial sesungguhnya, Usagi berakhir menikah dengan Mamoru, namun author turut senang bisa mempersembahkan sebuah karya untuk salah satu One True Pairing kesayangan Sailor Moon fans di penjuru dunia: Seiya dan Usagi.
Seiya and Usagi, you will always be famous!
Semoga author juga bisa turut merasakan kisah cinta yang tulus dan sejati!
—shxreii, Februari 2025.
