If I Die

Disclaimer : Kamen Rider W punya Shotaro Ishinomori dan Toei

Note : Alternate Universe, mungkin OOC, menggunakan Shotaro's POV, menggunakan nama asli Philip yaitu Sonozaki Raito


"Jika aku meninggal nanti, aku ingin jasadku dibakar dan abunya ditaburkan di sungai Sumida atau Laut Jepang..."

Lagi-lagi Raito mengatakan itu dan aku mulai terbiasa dengan kalimat yang baru saja meluncur dari celah birainya itu. Raito sudah mengatakannya dan alasannya cukup menggelikan. Ia hanya ingin melucu dan puncak kesenangannya adalah bila orang-orang tertawa saat mendengar leluconnya itu.

Aku mengajak Raito ke garasi kecil yang saat ini sudah berubah menjadi bengkel. Motor Raito ada di sana, siap dipacu setelah aku begadang tiga malam untuk mengotak-atiknya.

"Dengan motor ini, aku yakin kamu tak akan berada di belakang Katsumi lagi, Rai," ujarku dengan penuh keyakinan.

Raito memperhatikan motornya dengan seksama. Ia menatapku. "Kamu sudah coba?"

Aku menganggukkan kepalaku. "Seratus delapan puluh kilometer per jam! Aku sudah mencoba sendiri sebanyak dua kali."

Raito tersenyum lebar dan menepuk pundakku. Ada kepuasan terpancar di wajahnya. "Kelak, kamu bisa jadi teknisi balap, Sho. Siapa tahu saja nanti ke depannya, kita ada kesempatan untuk bisa berlaga di balapan professional!"

Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya. Lagi-lagi Raito mengulang kalimat yang biasa aku lontarkan. Cita-citaku.

"Omong-omong, kamu benar-benar tidak ikut ke lintasan balap nanti malam?" tanya Raito.

Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku. Meskipun aku sangat ingin ikut, tapi malam nanti ada pernikahan sepupuku dan aku pasti akan disalahkan jika lebih memilih balapan liar Raito daripada acara keluargaku.

"Aku cuma ingin kamu berhati-hati, Rai. Motor ini nggak bisa dibuat bermain-main. Kusarankan kamu untuk mencobanya dulu."

Raito tersenyum lebar penuh kebanggaan. "Sho, ini motorku. Aku mengenalnya dengan baik seperti aku mengenal diriku sendiri."

"Ya sudah, selamat berpacu, ya!"

"Harusnya kamu ada di sana, Sho. Kita kan satu tim. Kurang lengkap kalau nggak ada kamu."

"Kamu nggak harus mengandalkanku, ada Terui yang juga paham mesin," tukasku saat melihat tatapan penuh sesal dari Raito. "Atau, kamu masih ragu-ragu dengan motormu sampai harus kutemani?"

"Bukan begitu. Aku yakin malam ini bisa menang dari Katsumi, tapi aku mau kamu jadi orang pertama yang menyalamiku, Shotaro."

Untuk pertama kalinya, aku melihat Raito begitu serius mengatakan itu padaku. Biasanya ia selalu mengabaikanku jika orang-orang mengagumi kecepatan motornya. Aku sebenarnya tidak terlalu memusingkan hal itu, karena kuanggap Raito terlalu terobsesi mengalahkan Daido Katsumi yang selama ini merajai arena balap liar di Fuuto.

"Kamu harus hati-hati terhadap Katsumi, Rai. Dia itu licik dan penuh muslihat, juga tak akan mau kalah darimu. Ingat, kamu bercanda dengan maut!"

"Aku lebih takut pada polisi daripada maut, Sho!" ucap Raito dengan pongahnya.

Aku hanya terdiam. Bagaimanapun kami telah melanggar hukum dengan melakukan balapan liar di jalan umum, meski kami memiliki lintasan balap di kota Fuuto. Kami lebih memilih area yang bisa dipakai dengan cuma-cuma daripada harus membayar sejumlah uang untuk mengadakan balapan. Hasilnya, kami harus pontang-panting menghindari sergapan aparat keamanan yang mengadakan patroli di jalan raya.


Aku telah mengganti pakaian formalku dengan pakaian santai di kamar ganti. Jas dan pantalon yang kukenakan sebelumnya benar-benar membuatku gerah. Terui tiba-tiba saja datang dengan wajah penuh sesal dan kesedihan. Aku semakin bingung dibuatnya. Jangan-jangan ada sesuatu yang gawat sampai-sampai Terui menyusulku ke gedung pernikahan ini.

Dugaanku benar karena Terui mengatakan bahwa Sonozaki Raito tewas dalam balapan itu. Entah kenapa tiba-tiba perasaan bersalah merayapiku. Terlebih saat aku tiba di rumah duka saat hari menjelang pagi. Rumah keluarga Sonozaki dipadati oleh para pelayat, yang kebanyakan merupakan kerabat dan para sahabat. Namun, ada juga yang datang dari luar kota.

Kudengar dari pihak rumah sakit, sebaiknya jasad Raito tidak dilihat. Tubuhnya rusak. Akupun ngeri membayangkannya.

Terui sudah menceritakan dengan lengkap bagaimana Raito memacu motornya bagaikan orang kesurupan. Ia melesat bagaikan anak panah lepas dari busurnya, melewati Katsumi, dan membuatnya tertinggal dua puluh meter pada putaran kedua. Lalu saat itulah Raito menemui ajalnya, ketika sebuah sedan melintas di perempatan dan Raito tak dapat menghindarinya.

Menurut cerita Terui, motor Raito hancur berkeping-keping karena menghantam aspal dengan begitu kerasnya usai menabrak sisi kanan mobil itu. Tubuh Raito terbanting dan terlempar puluhan meter. Itulah yang menyebabkan Raito meninggal seketika di arena balap liar tersebut.

Aku terpekur dan memilih diam di sudut bersama Terui. Aku tidak berani bertemu muka apalagi berbicara dengan para pelayat, terlebih pada orang tua Raito dan kakak-kakak Raito yang sudah sangat mengenalku. Aku yakin mereka semua akan menyalahkanku sebagai biang kerok penyebab kematian Raito.

Aku menyesali pertemuanku dengan Raito dua tahun lalu. Aku jjuga menyesali kemampuanku yang mengulik motor hingga melebihi standar pabrik. Padahal jika saja aku tak ada di kehidupan Raito, pemuda imut itu tak perlu mengalami kematian tragis seperti ini.

Tadinya aku ingin lari dan bersembunyi saat melihat Tante Fumine, ibunya Raito, menghampiriku. Namun, pada akhirnya aku pasrah saja diam di tempat. Mungkin saja Tante Fumine akan mencerca dan mengutukku atas kematian anak bungsunya itu.

"Tante tidak menyalahkanmu, Shotaro. Bukankah kamu tidak ada di sana saat kejadian berlangsung? Jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti itu," ujar Tante Fumine lembut. Seolah beliau menetahui isi pikiranku.

Ada sesuatu yang membuatku terperangah saat melihat ekspresi yang tergambar di wajah Tante Fumine. Ada senyum terukir di ranumnya. Walaupun wajahnya penuh duka. Bagaimana mungkin beliau masih bisa tersenyum saat anak laki-laki satu-satunya itu meninggal dengan mengenaskan? Bukankah itu tanda depresi yang luar biasa?

"Tante bersyukur Raito memiliki teman sebaik kamu. Kini, Raito sudah tenang di alam baka. Mungkin, cara inilah yang ditakdirkan Tuhan untuk Raito." Tatapan Tante Fumine menerawang sesaat sebelum kembali tertuju kepadaku. "Tante yakin kalau Raito tidak pernah mengatakan ini pada semua orang, termasuk kamu. Jika umurnya tidak lama lagi, hanya tiga tahun berdasarkan vonis dokter dua tahun yang lalu sebelum Raito mengenalmu. Ia terkenaleukimiastadium empat. Waktunya tinggal sedikit lagi..."

Aku tercengang seketika. Tidak menyangka jika itu yang sebenarnya dialami oleh Raito selama ini. Selama ini, ia hanya terlihat senang dan ceria. Aku merutuk marah dalam hati. Bisa-bisanya ia tidak jujur padaku yang merupakan sahabatnya! Teman macam apa dia?

"Kalau boleh jujur, Raito sudah kehilangan semangat hidupnya sebelum bertemu denganmu. Sebelum ia mengenal balapan liar itu dan menemukan kegembiraan di sana. Kami memang salah karena membiarkan Raito dengan memberikannya kebebasan dan melakukan perbuatan berbahaya serta melanggar hukum. Tapi, mau bagaimana lagi? Kami hanya ingin Raito bahagia di sisa hidupnya..."

Usai berkata demikian, Tante Fumine menangis sesengukkan. Senyum di wajahnya hilang. Aku hanya terpekur melihat Tante Fumine menangis seperti itu. Tapi yang mengejutkan, setelahnya Tante Fumine memelukku dan berkata bahwa beliau berterima kasih padaku karena memberikan semangat dan kebahagiaan untuk Raito.

Aku tak sanggup berkata apapun. Yang terbetik di benakku saat ini adalah ... kata-kata Raito yang selalu diulang-ulangnya.

"Jika aku meninggal nanti, aku ingin jasadku dibakar dan abunya..."


Beberapa hari setelahnya, ketika jam dinding telah menunjukkan pukul 22.30, Tante Fumine menelepon. Aku menduga jika ada sesuatu yang penting sampai-sampai beliau menelepon selarut ini. Mungkin saja beliau ingin meminta beberapa barang Raito yang masih tersimpan di rumahku.

Namun, dugaanku salah.

"Shotaro, kamu ada waktu untuk bertemu Tante? Kalau bisa sekarang, ya? Tante tunggu di rumah."

"Ada apa, Tante?"

"Ini tentang Raito," aku mendengar helaan napas berat dari seberang sana."Tentang hantu."

Akupun tercekat mendengarnya. "Eh? Hantu?"

"Iya, hantu Raito yang berkeliaran di dalam rumah dan mengamuk."

"Tante tidak bercanda, kan?"

"Raito datang dan menampakkan diri di hadapan Tante, Saeko, dan Wakana. Dua malam ini, rumah menjadi gaduh dan berantakan. Tante tidak tahu kenapa bisa seperti itu, makanya Tante memintamu untuk segera datang ke mari, Shotaro. Bayangkan! Bagaimana mungkin motor Raito yang sudah nyaris hancur yang berada di belakang rumah bisa pindah sendiri ke kamarnya dan bisa dihidupkan mesinnya? Apakah mungkin ada sesuatu yang salah sehingga membuat Raito tidak tenang di alam kuburnya?"

Aku mendadak menggigil dan sekujur tubuhku dibasahi keringat dingin. "Saya tidak tahu," jawabku kelu.

"Selama dua malam juga, Tante memimpikan hal yang sama. Di dalam mimpi, Tante melihat kuburan Raito terbakar. Lalu kuburan itu terbelah, dan Raito terbang keluar dari dalam kubur, kemudian memekik keras sekali. Shotaro, mungkin kamu tahu sesuatu? Kamu adalah sahabat terdekatnya, barangkali kamu memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan peristiwa-peristiwa ganjil ini."

Mendadak aku teringat sesuatu dan membuatku berseru pada wanita paruh baya itu. "Tunggu, Tante! Saya akan segera ke rumah Tante malam ini juga. Saya baru teringat akan sesuatu."

Setelahnya aku berpamitan pada ibu dan menyambar jaket. Aku berlari ke garasi dan memacu motorku menuju rumah Raito. Sepanjang perjalanan, aku terngiang kembali akan ucapan Raito.

"Jika aku meninggal nanti, aku ingin jasadku dibakar dan abunya disebarkan ke sungai Sumida atau Laut Jepang. Supaya nantinya kalian tak perlu repot-repot menziarahi makamku dan membasahi tanah kuburku dengan air mata..."

Apa mungkin arwah Raito mengamuk dikarenakan keinginannya tidak terpenuhi? Ia kecewa dengan hal itu, dan membuat rumahnya kacau balau. Apa mungkin?

Note : Berakhir dengan tak jelas. Reviewnya, minna?