Chapter 12
Lembar demi lembar terkoyak tanpa minat. Jaehyun menatap malas buku tebal yang tengah ia geluti. Tangannya begitu gatal ingin segera melempar buku tebal yang terlihat kotor dan usang itu ke jendela, namun terpaksa ia sirnakan niat tersebut saat mengingat pentingnya buku itu bagi kelangsungan Kerajaan Baekje. Buku tata perundangan Kerajaan.
Pintu geser ruangannya berderak cukup kasar, selang beberapa menit seorang wanita muda dibaluti dangui merah sakura dengan rok chima berwarna merah jambu pekat berderap menghampiri dirinya setelahnya menyamankan tubuh di bantal duduk berwarna merah dengan gerakan kasar.
Jaehyun menumpu dagu, dia meneliti setiap gurat kesal di paras cantik itu. "Bagaimana?" tanya Jaehyun datar sembari menatap buku, kembali mengoyak lembar demi lembar tanpa membaca isinya. Seungwan menghela napas sejenak kemudian berucap, "Dia menolakku."
"Sudah kuduga," Jaehyun menutup buku tebalnya. "Tentu saja dia akan menolakmu. Sang Putra mahkota tengah tergila-gila kepada Pangeran Rose," ejek Jaehyun beriringan dengan decak meremehkan.
Seungwan mengembungkan pipi, bola matanya mengedar menatap langit biru yang mengintip dari celah jendela.
"Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang? Chanyeol Wangseja benar-benar tidak tertarik kepadaku meski hanya sekilas lirik," Seungwan mendecih, "Apa aku semenjijikkan itu, hah?!" sambungnya kesal. Kepalan tangan yang menumpu paha kini melayang ke meja. Menciptakan kegaduhan kecil yang cukup mengganggu ketenangan Jaehyun.
"Jangan mengacau ditempatku, Son Seungwan. Jelas saja Seja jeoha tidak tertarik denganmu. Kau bahkan tidak lebih anggun dan cantik dari Pangeran Rose."
"Dia seorang pria, bodoh!" sentak Seungwan mengindahkan tata krama. "Oh Dewa, mengapa semua lelaki di alam semesta ini begitu menggandrunginya bahkan mendiang Changmin Sanggam yang digadang-gadang sangat mencintai sang permaisuri pun turut terjerat ke dalam pesonanya. Ilmu hitam apa yang dia gunakan," kicau Seungwan sambil menangkup wajah.
Tak mengira bahwa kecantikannya dapat terkalahkan oleh Pangeran Bungsu Silla yang sekali waktu tidak pernah dia dapati sosoknya. Terkadang ia begitu penasaran dengan rupa sang Pangeran Rose yang sangat tersohor beritanya, bahkan acap kali ia bersungut dendam ketika telinga mendengar kunjungan Kerajaan seberang ke Kerajaan Silla hanya sekadar demi merundingkan sang Pangeran Bungsu.
Sementara dirinya yang selalu bersolek dan berusaha memperindah diri dengan segala kuasanya tak sedikitpun mampu membawa seorang Pangeran maupun Raja bertandang ke tempatnya. Bukankah hal tersebut sangat tidak adil, dirinya yang seorang wanita yang memang diciptakan sebagai pelengkap bagaimana bisa terkalahkan oleh seorang pria. Oh, kini kepalanya berdenyut pening.
Jaehyun meraih cangkir teh yang terletak di samping lengannya lalu menyesapnya secara perlahan. "Ilmu hitam dan ilmu sihir, bukankah dua keilmuan keji yang berteman erat denganmu, Putri Seungwan. Tidak perlu mengambing hitamkan orang lain," cibir Jaehyun merasa tidak terima atas tudingan sepupunya yang merangsak pujaan hatinya.
Seungwan terkekeh-kekeh, terdengar mengejek. "Oh, sekarang kaupun membelanya."
"Tentu saja, dia calon pendampingku," tegas Jaehyun datar.
Seungwan menumpu dagu, menatap Jaehyun lekat-lekat. "Heh, arogan sekali. Jika Chanyeol Wangseja menolakku bagaimana dengan Baekhyun Daegam. Aku pastikan sebentar lagi hatimu akan remuk hancur sebab penolakannya," ejek Seungwan bermaksud balas dendam.
Jaehyun tertawa benar-benar tertawa dengan keras hingga suara tawa yang sengaja dia keraskan menggema di setiap sudut ruangannya. "Kau mendadak lupa ingatan, Son Seungwan? Tidak tahu sosok asliku." Jaehyun mengulas senyum miring, sorot matanya berubah tajam dan begitu kelam.
"Aku Jung Jaehyun sang penguasa Kerajaan Baekje. Tidak akan dengan mudah melepaskan apa yang telah menarik perhatianku sekalipun nyawa turut bertindak. Aku tidak akan goyah," tutur Jaehyun angkuh. Seungwan melekatkan pandang ke dalam sorot kelam Jaehyun.
"Jangan cepat percaya diri, Jaehyun Sanggam. Ingat, lawanmu saat ini adalah Seja jeoha Goryeo, sang Putra mahkota yang lagi-lagi berhasil mengibarkan bendera kemenangan pada peperangan minggu lalu, bahkan dia pula berhasil melenyapkan Changmin Sanggam," pesan Seungwan yang menuai gelak tawa dari Jaehyun.
"Tenanglah, aku orang yang penuh perhitungan. Aku tidak setolol Changmin yang menggunakan ramuan racun demi merobohkan pertahanan Chanyeol Wangseja."
Jaehyun kemudian menyesap cairan keemasan itu hingga tandas. Sorot tajam yang terlihat gelap, kini bertambah mematikan dengan macam pandangan penuh arti tidak terdefinisikan.
*Rose*
Sepoi angin menyemarak di antara sepasang tubuh yang seolah terpahat kokoh di posisi. Chanyeol terdiam, mematung dengan sorot tajam tidak percaya akan untaian kalimat yang menyusup ke telinga. Tiba-tiba telinganya berdenging hebat seakan tuli akibat ucapan yang bahkan dalam mimpi pun dia kutuk kehadirannya.
Chanyeol yang berniat menginterogasi Baekhyun perihal ramuan penawar racun yang sangat dirisaukan keberadaannya sebab terlampau berbahaya dari jangkauan manusia mendadak linglung. Terdiam, kehilangan pita suara, hanya getar samar yang mendominasi kesadarannya saat ini.
"Aku tidak mengerti." Kepala Chanyeol menggeleng pelan. "Aku tidak mengerti dengan perkataanmu, sayang," racau Chanyeol sembari menggeleng cepat.
Baekhyun mundur selangkah, tubuhnya terhuyung tidak kuasa menatap kondisi Chanyeol yang terlihat terpukul atas kalimatnya. Tangan Baekhyun yang terjatuh di sisi tubuh mengepal, mengerat dalryongpo biru yang menyembunyikan tubuhnya dari hilir angin yang semakin mendesak keras. Pertahanan dirinya menahan lesatan panas di selubung mata, tak menginginkan dirinya menjatuhkan air mata di hadapan Chanyeol.
"Sudah berakhir. Hubungan ini sudah berakhir, Seja jeoha. Maaf, aku tidak bisa. Aku terlalu lapuk bertahan di sisimu demi menerjang jalan berduri ini. Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku." Baekhyun menundukkan kepala, menggigit bibir bawah dengan kuat saat gemuruh sesak mengoyak hatinya.
"Apa yang telah terjadi? Mengapa tiba-tiba berkata seperti itu? Seseorang mengancammu," tutur Chanyeol lembut, masih berusaha merasionalkan pikirannya akan keputusan Baekhyun yang tidak benar-benar terlafal dari bibir.
Berpikir bila Baekhyun hanya tengah diserang rasa takut sebab salah seorang yang berniat mempengaruhi hatinya. Chanyeol bergerak meraih Baekhyun, menenangkan kekasihnya dan membawa jemari tangan Baekhyun ke dalam genggaman tangannya.
Namun, terasa terhempas ke dalam jurang terjal ketika mendapat penolakan sang terkasih dengan menepis tangannya di sela sorot mata yang melontarkan kebenaran. "Berhenti menjauhi kenyataan, Chanyeol Wangseja. Berhenti menguatkan hubungan yang bahkan tidak akan pernah bisa bersatu sekalipun kita merobek takdir. Aku mohon berhenti memaksakan diri. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik_."
"Bahkan nyawamu lebih berharga ketimbang nyawaku, Gun Daegam."
Chanyeol tersenggal sudut matanya tanpa sadar sedikit berair. "Lantas, kebaikan apa yang patut aku cari bila kenyataannya kaulah seluruh kebaikanku. Katakan kepadaku! Alam semesta bagian mana yang perlu aku pijaki agar aku mendapatkan seseorang yang lebih baik darimu!"
Tangannya terulur meraih bahu Baekhyun lalu mengeratnya dengan erat. Chanyeol menatap wajah Baekhyun lekat-lekat, menemukan binar sendu yang berpendar kacau. "Perlukah aku menghujamkan belati ke jantungku. Perlukah sekali lagi aku membuktikannya kepadamu jika hanya kau yang terbaik untukku. Perlukah aku meletakkan seluruh tahtaku dan berlari bersamamu. Jawab aku Baekhyun?!"
Baekhyun mengusap tangan Chanyeol, membawa sepasang tangan yang kian bergetar itu ke dalam genggamannya. "Empat hari lagi, pernikahanku bersama Jaehyun Sanggam akan dilangsungkan, Jeoha. Ayahanda sudah memutuskan, keputusan yang mutlak dan tidak bisa dibantah. Maafkan aku."
Chanyeol tertegun, seolah nyawa dicabut secara paksa dari raga. Dia kehilangan kendali tubuhnya. Merosot jatuh ke dalam pusaran siksaan yang membuatnya lumpuh. Sorot matanya kosong, bulir air mata tanpa sadar melinang bersama rintik hujan yang membasahi bumi.
Pertama dalam hidupnya, Chanyeol meneteskan air mata sebab seseorang. Tidak terkira dalam hidupnya bila dirinya akan merintih menyedihkan seperti ini. Suara yang biasa terdengar syahdu kini bahkan lebih mengerikan ketimbang lesatan anak panah yang menembus jantungnya.
"Baekhyun..."
"Semua sudah berakhir. Aku mohon lupakan aku. Setidaknya tidak terlalu lama, hubungan kita masih dapat dihitung dengan jari. Tidak akan sesulit itu jika kita mau mencobanya."
Chanyeol menatap Baekhyun tidak percaya, tangannya terkepal kini emosi yang mengambil alih seluruh kuasa tubuhnya.
"Kau berkata seolah hubungan kita hanya sekadar permainan konyol di waktu senggang! Tidak mengertikah bila hati turut andil di dalamnya. Meskipun terhitung hanya sehari aku menjalin hubungan denganmu, tidak akan semudah itu melupakanmu karna faktanya aku telah menyerahkan seluruh hidupku kepadamu, Gun Daegam!" bentak Chanyeol murka.
"Maka dari itu benci aku!" sergah Baekhyun cepat balas berteriak. Air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata kini melinang deras bercampur dengan rintik hujan yang senantiasa menemani pergulatan hati mereka.
"Berulang kali aku katakan! Aku hanya sebuah benalu! Aku hanya akan menciptakan rasa sakit dalam hidupmu! Jangan menyerahkan hidupmu kepadaku, Chanyeol. Aku mohon mengertilah, jangan mempersulit keadaan."
Baekhyun terisak, tubuhnya terperosok jatuh mengerat rumput hijau yang menjadi alas mereka.
"Kau tidak akan mengerti, Chanyeol. Kau tidak akan mengerti. Sebuah peristiwa mengerikan akan menimpa kita bila kita memutuskan untuk tetap mempertahankan hubungan ini dan aku tidak ingin hal tersebut terjadi." Lirihnya bergetar, terdengar frustasi berlomba dengan riuhan angin serta rintik hujan yang mengamuk lebat.
Chanyeol mendekat, bersimpuh di hadapan Baekhyun. Jemarinya bergerak mengusap sisi wajah Baekhyun. "Aku mohon." Tangan gemetarnya meraih tangan dingin Chanyeol dan menggenggamnya dengan erat.
"Kau tahu perasaanku. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku mohon, demi menyelamatkan nyawa seseorang yang tak berdosa, Chanyeol. Aku mohon penuhi permintaanku ini. Aku berjanji, hati serta tubuhku hanya untukmu, tidak akan pernah aku biarkan Jaehyun menyentuhku walau hanya seujung jari. Percayalah."
Baekhyun menganggukkan kepala, melekatkan tatapan dengan binar keputusaasaan yang diliputi tekad membara. Chanyeol tidak mengerti maksud kalimat Baekhyun tentang menyelamatkan nyawa seseorang, namun entah mengapa jantungnya berdetak cepat. Desir hangat menghinggapi dadanya yang terkoyak perih.
Mendapati kebisuan Chanyeol, Baekhyun bergerak meraih sisi wajah prianya. "Maaf, aku tidak bisa terus berada di sampingmu. Akan tetapi, hati serta cintaku akan terus mendampingimu, Jeoha. Maafkan aku." Baekhyun bangkit dari simpuhnya.
"Aku mencintaimu," gumam Baekhyun sebelum melangkah pergi dari hadapan Chanyeol sambil mengusap perutnya.
Walau terlihat kejam, setidaknya apa yang dia lakukan saat ini demi menyelamatkan hak hidup anak mereka. Lebih baik Baekhyun melenyapkan diri dan membangun kehidupan baru bersama sang putra ketimbang terus bersitegang dengan aib yang akan merombak Kerajaan.
Baekhyun memejamkan mata, tekadnya sudah bulat. Usai mengemban titah dari sang ayah, dia akan bergegas pergi dari bayang-bayang takdir yang seolah tidak berpihak pada kisah cinta yang bahkan baru saja ia kecap keindahannya namun sesingkat ombak meleburkan tulisan di pasir.
Terlampau singkat dan tak berbekas.
*Rose*
Jenderal Kim terlihat ragu dalam mengais langkah mendekati Chanyeol. Lesatan anak panah yang tiada henti seolah ingin meremukkan papan kayu tersebut cukup membuat jantungnya berdetak kencang. Dia tahu, dibalik raut datar nan dingin yang terpancar, tersimpan gemuruh emosi yang sekali cubit akan bergegas menebas kepala sang pelaku. Junjungannya tengah menahan emosi.
Iris kelamnya melirik sejenak gulungan kertas yang tertaut di antara jemari tangannya. Jenderal Kim meneguk ludah berat, terpaksa dia harus mengganggu Chanyeol demi menyerahkan surat tersebut tidak peduli dengan keadaannya nanti yang terpenting surat ini tersampaikan.
"Wangseja," cicit Jenderal Kim gamang.
Chanyeol bergeming, tak menyahut tetapi gestur tubuhnya seperti mempersilakan. Jenderal Kim menunduk dalam. "Maaf telah lancang mengganggu waktu anda, Jeoha. Namun, kiranya saya harus menyampaikan kiriman surat dari Kerajaan Baekje ini kepada anda."
Lesatan anak panah yang beruntun meremukkan papan seketika terhenti. Chanyeol menoleh, menatap datar Jenderalnya. Tangan kanannya bergerak meraih uluran gulungan kertas dari Jenderal Kim setelahnya melempar anak panahnya ke tanah. Gulungan tersebut terbuka cepat dengan kendali diri menekan amarah.
Sorot matanya menajam bersama remasan di setiap sudut kertas, Chanyeol meremas gulungan kertas tersebut kemudian dia campakkan ke sisi kanan tubuhnya. "Persiapkan kudaku!" titah Chanyeol datar sebelum melangkah pergi meninggalkan Jenderal Kim yang menunduk patuh.
Chanyeol menggertakkan gigi, pertemuannya dengan Baekhyun siang lalu berhasil mempora-porandakan hati serta emosinya. Tidak mengerti dengan jalan pikiran sang kekasih, tetapi dia pula tidak bisa menahan Baekhyun. Lelaki calon Raja Goguryeo itu merutuki kebodohannya, mengapa begitu lemah bila berhadapan dengan kekasih mungilnya? Seharusnya ia bisa menahan Baekhyun bila mengingat tabiat kerasnya.
Dan untaian hangul yang tertera digulungan kertas tersebut semakin menyulut emosinya. Sudut bibirnya tiba-tiba tertarik ke samping, Chanyeol menyeringai bila hari ini diharuskan membunuh penguasa Baekje akan ia laksanakan dengan sepenuh hati. Memang dirinya sudah begitu bergairah, sebab sang penguasa Baekjelah penyebab hilangnya Baekhyun dari jangkauan tangan.
Tangan Chanyeol terulur mengusap kepala kudanya lantas meloncat naik menapaki punggung kuda. Tangannya terangkat ketika melihat Jenderal Kim hendak turut serta bersamanya.
"Wangseja..."
"Kau tetap di Istana. Jaga mulut dan jangan biarkan pihak Kerajaan mengetahui kepergianku," kata Chanyeol memberi perintah kemudian menarik tali kekang kuda dan beranjak pergi dari halaman depan Kerajaan. Sekali lagi, Jenderal Kim hanya mampu menunduk patuh mengikuti titah sang Putra mahkota.
*Rose*
Seulas senyum ramah yang terkesan dipaksakan terulas digaris bibir saat mata melihat sang tamu terhormat. Jaehyun beringsut turun dari punggung kuda, ia menunduk memberi salam. "Selamat datang Wangseja. Saya cukup tersanjung, tak terkira anda menerima undangan saya," sapa Jaehyun setengah hati dan Chanyeol mengetahui hal tersebut.
Chanyeol menggelengkan kepala, sorot mata tenang tak berselang lama berubah tajam penuh kilat amarah. "Anda berniat membalas dendam kepada saya sebab kematian Changmin Sanggam, Wanggeonnim," kata Chanyeol tanpa membalas basa=basi Jaehyun.
Jaehyun terkekeh pelan. "Anda sungguh lurus, Jeoha. Tidak bisakah kita sedikit berbincang akrab."
"Maaf, waktu saya terlalu berharga hanya untuk sekadar meladeni omong kosong anda, Wanggeon," tebas Chanyeol tajam tak mempedulikan tata krama. Dia memang tidak peduli, penghancur cintanya untuk apa diberi tata krama. Chanyeol memejamkan mata, emosinya bagaikan gelombang air laut. Pasang surut tak menentu.
Kening Jaehyun berkerut, ia menyipitkan mata. "Rupanya anda sangat membenci saya. Oh, tentu saja. Sang terkasih telah memutuskan untuk pergi," remeh Jaehyun yang seketika menciptakan gertakan gigi di balik bibir Chanyeol.
"Jangan menyulut emosi saya, Jaehyun Sanggam. Lekas jelaskan maksud anda mengundang saya kemari sebelum saya menebas leher anda!" ancam Chanyeol tidak main-main.
Tangannya memang telah mengerat pangkal pedang sejak kedatangannya dan Jaehyun tahu Chanyeol bukanlah seorang pria dengan tabiat suka bercanda. Apa yang dia katakan selalu berujung kebenaran. Jaehyun menyilangkan tangan di balik pungung.
"Sungguh menyeramkan. Tak heran mereka menyebut anda sebagai pembunuh berdarah dingin." Jaehyun berdehem. Iris matanya mengerling sang Putra Mahkota dengan sorot mata penuh arti.
"Tujuan saya mengundang anda kemari hanya ingin memberitahukan kepada anda tentang pernikahan kami. Ya, meski saya tidak yakin Kerajaan Silla akan mengundang anda. Tetapi, saya akan sangat tersanjung bila anda turut ikut serta menghadiri upacara pernikahan kami."
Dada Chanyeol terasa panas, dia bahkan tak merasakan sepoi sang angin yang berusaha mendinginkan kobaran api di sepanjang tubuhnya. Chanyeol tidak bisa menjamin kesadaran rasionalnya, bila kendali tubuhnya melemah ia tidak bisa berjanji untuk tetap tenang dan tidak menerjang habis pria tampan di hadapannya itu.
"Benar. Anda hendak membalas dendam kepada saya sebab kematian Changmin Sanggam," ulang Chanyeol yang membentuk gelengan kepala dari Jaehyun.
"Tidak juga. Meskipun sang permaisuri mendiang Changmin Sanggam adalah adik saya, sedikitpun saya tidak bermaksud untuk membalas dendam kepada anda. Bahkan saya ingin sekali berterima kasih kepada anda karena sudah membunuhnya dengan begitu dia gagal mempersunting Pangeran Bungsu," jelas Jaehyun yang kembali menarik ulur kendali emosi Chanyeol.
Jaehyun maju selangkah, melihat ketediaman Chanyeol pria tampan itu bersiasat melantunkan ungkapan hatinya yang penuh provokasi. "Sesungguhnya, sudah sejak ulu saya ingin bertandang ke Kerajaan Silla dan merundingkan hal tersebut. Tak mengira halangan selalu menghantui saya. Tetapi, saya tidak berniat menyerah. Meski telah mengetahui hati Baekhyun Daegam telah berlabuh kepada anda hal tersebut tidak menyurutkan niat saya untuk memiliki teman masa kecil saya."
"Cinta bagaikan air, Jeoha. Mengalir dengan sendirinya dan tanpa batas. Untuk saat ini hatinya memang masih menjadi milik anda, namun seiring berjalannya waktu saya akan mendapatkan segalanya," sambung Jaehyun yang berhasil menghancurkan pertahanan Chanyeol.
"Brengsek! Sebenarnya apa yang kau inginkan, Jaehyun!" geram Chanyeol yang mulai resah diposisinya. Fakta mengenai pertemanan yang terjalin antara Jaehyun dan Baekhyun sediki banyak membuatnya gelisah, takut jika pada akhirnya Baekhyun tidak bisa menepati janjinya. Jaehyun menatap Chanyeol, meneliti setiap garis kemarahan di wajah rupawan sang Putra mahkota Goguryeo.
"Anda sudah mengetahuinya, Jeoha. Tentu saja memiliki Baekhyun Daegam."
"Kau memaksakan kehendak!"
Chanyeol menanggalkan sopan santun, dadanya bergerak naik turun dengan cepat karna amarah yang siap meledak kapan saja. "Cinta tidaklah se-sederhana yang kau pikirkan. Gun Daegam tidak akan semudah itu melabuhkan hatinya kepada mu."
"Aku tidak peduli." Jaehyun turut termakan siasat provokasinya. "Bahkan jika seumur hidup aku tidak mendapat cintanya, aku tidak peduli. Yang terpenting aku sudah memiliki hidupnya."
Chanyeol menarik pedangnya dari rengkuhan kayu berukir yang menyembunyikan kilauan tajamnya.
"Bisakah kau menyebutnya sebagai cinta. Perasaan menjijikkan itu hanya akan mendatangkan kesengsaraan baginya, Brengsek!"
Chanyeol tidak mampu menahan gejolak amarahnya, kini dirinya benar-benar tersulut dan menerjang Jaehyun, pada akhirnya tindakan tersebut menjadi pilihan terakhirnya.
Suara pedang bergesekan seketika menggema di sekitar sudut hutan belantara itu. Wajah mereka berhadapan saling mengirimkan kilat tajam yang berkilat tak ingin mengalah.
"Tidak, selama aku memberikan segenap perasaanku kepadanya. Hati manusia siapa yang tahu, Chanyeol. Pada akhirnya Baekhyun akan menjadi miliku," ejek Jaehyun yang sekejap menampar harga diri Chanyeol.
"Aku tidak bisa menjamin keselamatan mu hari ini. Sebuah keputusan yang salah karena telah menyulut emosi ku!" desisnya mengancam. Chanyeol mendorong tubuh Jaehyun menjauh. Kesadarannya menipis, sementara gairah membunuh mendominasi tubuhnya.
Jaehyun memasang sikap awas, melihat Chanyeol yang diliputi amarah memang sedikit banyak membuat hatinya bergetar. Meskipun sebelumnya tak pernah terlibat dalam suatu pertarungan dengan lelaki tinggi itu, namun dirinya cukup mengetahui kemampuan bertarung Chanyeol melalui gerakan awal si Putra Mahkota yang tidak pelak membuatnya kagum akan kehebatan sang Dewa Kematian.
Jaehyun memilih memfokuskan diri menghindari ayunan pedang Chanyeol, sebab bila dirinya memilih turut melawan, Chanyeol dengan mudah akan mengelabuhi perlawanannya. Chanyeol berdecak keras, sejak tadi Jaehyun hanya menghindari perlawanannya tanpa berniat menangkis maupun menyapa.
Tentu saja hal tersebut semakin membuat emosinya meledak. Nyaris saja dia mengincar tangan Jaehyun jika sebuah lesatan anak panah tidak melebarkan jarak mereka. Chanyeol menoleh, mata tajamnya berkilat menakutkan memberi peringatan tersirat pada si pemanah.
"Oh, ada apa ini? calon kakak ipar berniat membantuku?" kekeh Jaehyun tidak mengira, sedikit terkejut menerima kehadiran Jongin dan Sehun.
Dua putra Silla itu bungkam, mengacuhkan sapaan Jaehyun. Sepasang iris kelam mereka kemudian melirik si penguasa Baekje. "Mohon tinggalkan kami, Jaehyun Sanggam. Ada suatu urusan yang perlu kami selesaikan bersama Wangseja," ucap Jongin mengusir Jaehyun secara halus.
Jaehyun menyematkan pedangnya ke dalam sarung pedang berukir lambang Kerajaannya sambil menatap Chanyeol. "Ya, silakan. Lagipula urusan saya dengan Wangseja telah usai," sahut Jaehyun sembari menempatkan tubuh di punggung kuda. Tak berselang lama, penguasa Kerajaan Baekje itu meninggalkan hutan belantara menyisakan tiga pria tampan dengan aura berbeda.
Chanyeol menarik napas panjang, berupaya mengembalikan kendali diri selagi Jongin dan Sehun melangkah mendekat. "Apa anda sekalian turut ingin mengundang saya ke pernikahan Gun Daegam?" Chanyeol menekan suara geramannya. Hatinya serasa terkoyak ketika melontarkan kalimat keji itu dari lidah.
Jongin dan Sehun saling pandang sejenak, lantas beralih mengerling Chanyeol. "Bahkan kami sama sekali tidak setuju dengan pernikahan itu, Seja jeoha," jawab Sehun yang sejenak membuatnya terkesiap. Chanyeol terdiam, menatap Jongin dan Sehun lekat-lekat.
"Kami sudah mengetahuinya, seberapa jauh hubungan kalian. Mustahil bagi kami untuk menyetujui pernikahan itu dan mengorbankan kebahagiaan Baekhyun," lanjut Jongin.
Chanyeol terdiam, merasa bingung sekaligus rancu dengan bait kalimat yang hendak dia lempar keluar.
"Sesungguhnya kami merasa malu dengan diri kami sendiri, sebab tidak bisa melindungi Baekhyun dari tindak pengorbanan diri. Bagaimana bisa seorang kakak yang telah berjanji untuk selalu membahagiakan adiknya berdiam diri ketika melihat sang adik menangis tersedu meratapi takdir yang seolah menyudutkan hidupnya?"
"Lantas? Apa maksud anda sekalian mengutarakan hal tersebut kepada saya?" Akhirnya Chanyeol mendapatkan suaranya saat perasaan bingung semakin memecah belah pikirannya. Jongin mengukir senyum begitupula dengan Sehun sesaat mendengar balasan dari sang Putra mahkota.
"Mari bekerja sama. Sungguh, kami hanya menginginkan kebahagiaan Baekhyun. Bila kebahagiaannya ada bersamamu, kami siap membantu."
Dan tawaran Jongin sekejap menjatuhkan kesadaran Chanyeol ke dalam lembah ketidakpercayaan atas uluran tangan dari sepasang pria terhormat dari Kerajaan Silla. Musuh bebuyutan Kerajaan Goguryeo, mengulurkan tangan demi kebahagiaannya tidak lebih tepatnya demi kebahagiaan Baekhyun. Cukup masuk akal.
Namun, tetap sempat berpikir ini mustahil, tetapi dia tak mampu memungkirinya. Binar tulus dan kejujuran yang berkilat tajam itu serentak menyadarkan Chanyeol atas restu yang akhirnya dia dapatkan. Tak sadar, seulas senyum hangat menghiasi di sudut bibirnya.
"Ya. Mari bekerja sama."
*Rose*
Baekhyun tidak mengerti, mengapa dirinya melangkah kemari dan mengapa pula dirinya menghadiri undangan Jaehyun. Sungguh pikirannya tengah kalut dan dia tak menginginkan emosi menguasai kesadarannya sebab pertemuannya dengan Jaehyun.
Seseorang yang begitu dia hindari kemunculannya. Tidak terasa satu umpatan yang dia tahan sejak langkah kaki mengais seresah daun yang menghantarkan dirinya pada hanok sederhana di pinggir hutan belantara itu terlempar dengan mudah begitu iris mata melihat siluet Jaehyun.
Jaehyun menyamankan tubuh di teras hanok dengan mengulas satu senyuman hangat. Dia kemudian bangkit, menanti kehadiran Baekhyun. Keningnya berkerut saat melihat Baekhyun berdiam diri, seolah tengah menjaga jarak sejauh mungkin dengan dirinya. Hela panjang terlontar dari bibir Jaehyun.
"Tetap di sana!" tahan Baekhyun ketika Jaehyun hendak melangkah mendekat. Kepalanya menoleh ke kanan, menghiraukan tatapan tidak suka yang menatap lurus ke arahnya.
"Kau calon permaisuriku. Mengapa aku tidak boleh mendekatimu?" tanya Jaehyun kesal.
Jaehyun mengindahkan kegusaran Baekhyun, tetap melangkah mendekat meski Baekhyun bersikeras menghentikan langkahnya. "Aku bilang tetap di sana!" Suaranya terdengar membentak, iris kelam yang berbinar indah itu kini berkabut penuh amarah. Menatap dengan kejelasan penuh bila dirinya begitu enggan satu lingkup dengan Jaehyun.
Jaehyun terdiam terlihat menahan emosi, penolakan Baekhyun sedikit banyak melukai perasaannya terlebih harga dirinya. Ini tidak mudah, benar. Baekhyun memang seharusnya membenci dirinya sebab ia telah menghancurkan kisah cinta lelaki mungil itu serta persahabatan mereka.
Tak bermaksud seperti itu, hanya saja perasaan cinta yang terlalu menggebu perlahan menjadi sebuah obsesi yang mendarah mendaging. Jaehyun tidak ingin kehilangan Baekhyun, ia ingin memiliki Baekhyun seutuhnya dan hanya untuk dirinya.
Bukan salah Jaehyun, pesona Baekhyun yang sejak belia yang menguar tanpa sadar terkecap di mata akibat pertemuan tidak sengaja di sekolah medis. Kala itu umurnya masih belia, terlampau tabu memahami rasa rumit yang tanpa sopan mengacaukan lelap tidurnya. Baru dia menyadari saat pertemuan tidak sengajanya beberapa waktu lalu saat dirinya bertandang ke Kerajaan Joseon.
Ya, waktu itu tanpa Chanyeol dan Baekhyun sadari rombongan Jaehyun melewati hutan pinus tempat mereka mencari kayu manis. Bukan rombongan yang besar, oleh sebab itu Jenderal Kim dan Tabib Choi tidak mendapati kehadiran mereka.
Tentu saja, kala itu Jaehyun menitahkan dua prajurit dan Jenderalnya untuk bersembunyi di salah satu semak belukar saat sepasang mata menangkap siluet Chanyeol dan Baekhyun di barisan tebing. Tautan tangan serta rona wajah mereka menandakan bila sesuatu telah terjalin.
Dan tepat saat itu pula, entah mengapa dia terpaku, terkesima dengan garis lekuk di bibir ranum Baekhyun. Tidak mengira, pesona sahabat masa kecilnya tidak luntur justru makin membuatnya gila. Pada akhirnya ia menyimpulkan bila dirinya pun telah jatuh hati. Terpesona pada sahabat kecilnya yang beranjak dewasa.
"Kau sangat membenciku. Tidak mengingat kita pernah menjadi teman baik," Jaehyun berujar lirih, sesungguhnya hatinya tengah memberontak. Tak menginginkan kebencian Baekhyun dalam menyambut perasaannya. Baekhyun mengerling Jaehyun, sekilas nada suara itu sedikit meluluhkan hatinya, tetapi ia tetap bungkam.
"Ingin membunuhku," lanjutnya. Jaehyun menarik napas berat. "Maafkan aku, aku melakukan semua ini sebab terlalu mencintaimu."
"Bukan cinta." Jaehyun menatap Baekhyun. "Apa yang kau rasakan bukanlah sebuah cinta, Jaehyun Sanggam," binar matanya berubah sendu, dia memiringkan kepala menatap lekat seseorang yang pernah menjadi kawannya. "Cinta tidak untuk saling menyakiti dan cinta tidak bisa melihat seseorang tersakiti karenanya." Jaehyun tertawa sumbang, lengannya bersilang dibalik punggung.
"Kau terlalu naif, Baekhyun. Bila cinta tidak untuk saling memiliki, lantas bagaimana dengan kalian? Bagaimana kau menjelaskan tentang kemurkaan Chanyeol sebab dirimu yang menjauh dan bagaimana kau menjelaskan tentang kebencianmu kepadaku sebab aku telah menghancurkan kisah cinta kalian? Bagaimana kau menjelaskannya?!" remeh Jaehyun menyudutkan Baekhyun disela getar suara yang membendung sesak.
Baekhyun menyipitkan mata menggalih setiap lontaran yang terkecap, Jaehyun telah salah mendefinisikan ucapannya. "Rupanya kau telah salah mengartikan perkataan ku, Jaehyun. Apa yang kami rasakan berbeda dengan apa yang kau rasakan? Kami memang saling mencintai, wajar bukan bila menginginkan untuk bersama_."
"Sedangkan perasaanku tidak terbalas, benar. Maka dari itu tidak wajar bila aku berkeinginan untuk bersamamu! Bukankah itu terlihat egois!" sergah Jaehyun cepat memotong penjelasan Baekhyun.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, kepalanya menunduk menghindari tatapan penuh luka yang menguar di sepasang mata Jaehyun. "Kau memaksakan kehendak. Manusia memiliki pilihan dan kau merampas hak tersebut secara paksa," lirihnya tidak terima.
Tangan yang terjatuh di sisi tubuh terkepal dengan erat. Jaehyun berdecih, menodai lantunan hati Baekhyun. "Merampas hak? Kau bilang merampas hak? Bahkan takdirpun seolah tidak mengizinkan hubungan kalian. Bagaimana bisa kau bilang aku merampas hak jika tanpa kehadiranku pun pada akhirnya hubungan kalian akan hancur!"
Baekhyun tertegun, perkataan Jaehyun sontak membuat hatinya beku. Melempar dirinya ke lembah kenyataan yang memang benar adanya. Ingatan tentang kemurkaan sang ayah hari lalu ketika mendapat kenyataan tentang dirinya yang tengah menjalin hubungan dengan Chanyeol seketika menghapus segala muara kebenaran akan cintanya.
Jaehyun benar. Takdir tidak menghendaki hubungan mereka. Mereka sepasang musuh tidak pantas hidup bersama. Baekhyun mengusap perut datarnya fraksi-fraksi hangat yang acap kali menenangkan hatinya kembali menyapa tangan. Setidaknya janin yang bahkan kehadirannya tidak dikehendaki Kangin mampu mengurangi kegusaran hatinya.
"Semuanya akan berubah. Seiring berjalannya waktu kau akan merasakan perasaanku."
"Tidak akan berubah." Baekhyun menengadah, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Hati Jaehyun berdenyut, tertikam oleh rona kacau yang terpancar lekat. "Tidak semudah itu. Kau tidak akan mengerti." Baekhyun melangkah mundur, kepalanya menggeleng berulang kali.
"Kau tidak akan mengerti." Putusnya sebelum berbalik melangkah pergi meninggalkan Jaehyun yang mematung diposisi, menatap punggung Baekhyun yang bergerak menjauh. Tanpa dia sadari, sudut matanya berair. "Kaupun tidak akan mengerti, Baekhyun. Bagaimana ketulusan cintaku terhadapmu hingga mengubahku seperti ini? Kaupun tidak akan mengerti."
*Rose*
Desau angin bergerak bebas mengoyak pepohonan yang terdiam merenung jemu akan posisi mereka yang tidak pernah berubah. Terus menancap di satu sisi hingga usia menggilas kehidupan mereka. Daun dan ranting berguguran kemudian batang pohon mulai melapuk tergilas angin, air dan sinar matahari serta cuaca yang acap kali menyapa tidak tentu turut menyemarakan kematian mereka.
Baekhyun terdiam di salah satu pohon tua yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi meski batang mulai lapuk. Jemarinya terulur, menekan kulit batang, menghancurkannya menjadi serpihan debu yang akhirnya menambah lubang-lubang kecil di sekitar batang pohon. Baekhyun membalikkan tubuh, menyandarkan punggung pada batang pohon seraya mengintip sinar matahari yang menyelusup dari celah ranting pohon.
Baekhyun mengangkat tangan, menatap lingkar gelang naga berwarna biru yang melingkar di pergelangan tangan.
"Sebab aku memilihmu."
Baekhyun menarik napas panjang, kelopak matanya bergerak menyembunyikan kilauan bening yang membaluti bola mata. Perasaan sesak yang mencekik leher kembali menyapa, menaungi hatinya yang mulai kebas. Jemarinya bergerak menarik gelang tersebut dari pergelangan tangannya.
"Haruskah?" Baekhyun menatap kosong gelang naga biru yang membayangi wajahnya.
"Haruskah aku melepasmu pergi?" Kepalanya menengadah, menghalau rembasan air mata yang menggenang di sudut mata. "Inikah akhirnya. Inikah akhirnya semua gugusan kalimat yang mengatakan 'Semua pasti baik-baik saja'. Inikah jawaban terbaik itu?"
Tubuh Baekhyun merosot ke bawah, menggesek kulit batang pohon yang lapuk bersama punggung yang terkotori. Lengannya melingkar, merengkuh lutut, menyembunyikan wajah berlinang air mata. "Pada akhirnya takdir mendorongku untuk menyerah."
"Maaf, Chanyeol. Maafkan aku, demi putra kita."
Arah angin melambat, mengiringi isakan samar Baekhyun yang tertahan di bibir. Daun yang berguguran serta ranting yang bergesekan sejenak berhenti, mematung ketika mendengar sang Pangeran mereka tengah merintih sendu kepada takdir yang menggores perih di garis hidupnya.
*Rose*
Suasana hiruk pikuk sebab kicauan pandai para petinggi Kerajaan begitu merajam telinga setiap insan yang menempati ruangan tersebut. Mereka terlihat semangat dan antusias dengan topik yang akan mereka bicarakan hari ini, yaitu mengenai keputusan sang Pangeran Bungsu atas kepemilikan dirinya.
Tahun Matahari yang sangat ditunggu kehadirannya kini telah menampakkan kuasanya dan tiba waktunya Kerajaan Silla untuk menggelar pesta pernikahan yang sungguh dinantikan para rakyat Silla sebab pasokan bahan makanan yang mendadak melimpah ruah.
Para petinggi Kerajaan serentak bangkit dari kursi mereka saat mendapati rombongan Kangin serta Jaehyun memijaki lantai Balai Istana. "Selamat datang Kangin Sanggam dan Jaehyun Sanggam," sapa mereka sopan sembari membungkukkan tubuh. Kangin mengangguk singkat, sementara Jaehyun mengulas lekuk tipis.
Usai menyamankan tubuh dikursi masing-masing, Sekretaris Park mulai melangkah maju hendak melantunkan barisan hangul yang tertulis di dalam gulungan kertas yang tersemat di lengan kanannya. Pria tua berjenggot sedang itu berdehem sejenak, lembaran gulungan kertas yang terbuka menghalangi wajah bayanya.
"Baik. Sidang pada hari ini akan segera dimulai. Saya selaku pembuka sidang hendaknya diperkenankan untuk menyampaikan topik bahasan yang akan dilantuntan di dalam sidang, yaitu mengenai keputusan Baekhyun Daegam atas kepemilikannya."
Baekhyun terdiam, binar sipitnya terlihat kosong usai mendengar lontaran tegas yang menggema di setiap sudut Balai Istana. Sementara Jongin dan Sehun terkesan berusaha menahan diri untuk tidak mengacau dalam sidang. Kangin mengerling Baekhyun, gurat wajahnya terlihat kaku. Tikaman emosi rupanya masih tersisa di sudut hatinya.
"Silakan utarakan keputusanmu, Gun Daegam!" titah Kangin tegas yang sekejap menarik Baekhyun dari singgasananya.
Mendadak sunyi senyap, bahkan para menteri Kerajaan yang kerap kali berbisik riuh kini seolah kehilangan kepandaian mereka dalam menguntai kata.
Hanya gulir mata mereka yang senantiasa mengikuti pergerakan Baekhyun menghadap Kangin dan Leeteuk. Leeteuk mengalihkan pandang, tidak kuasa menatap sinar hampa yang terlukis jelas di sepasang mata putranya. Terlampau menghujam sanubarinya, wajah datar yang terlihat menunduk patuh itu seolah menghempaskan nyawa Leeteuk dari raganya.
Baekhyun tengah menahan diri, putranya berada dipenghujung keputusasaan. Terlampau pelik masalah yang menggelayuti sepasang bahunya, terjepit antara keputusan yang sama sekali tidak berpihak kepada dirinya. Leeteuk membungkam bibir, tak mengira akan mendapati tragedi serumit ini di kehidupannya terlebih menimpa putra tersayangnya.
Baekhyun menarik napas dalam, kepala yang semula menunduk perlahan terangkat menatap lekat wajah Kangin yang sedikit bergetar sebab menangkap binar mata yang sontak menginjak hatinya. Perasaan bersalah tak dipungkiri menyapa hati, namun ego yang membumbung tinggi menenggelamkan hati nuraninya.
"Saya Baekhyun Daegam Pangeran Bungsu dari Kerajaan Silla memutuskan menerima simpul benang merah yang diikatkan Jaehyun Wanggeonim dalam kunjungan pribadinya beberapa hari lalu di Kerajaan Silla." Usai melontarkan bait kalimat yang sesungguhnya kelu di lidah, tubuh Baekhyun sekilas terhuyung ke belakang.
Jongin dan Sehun yang melihat pemandangan tersebut nyaris bangkit dari singgasana mereka sebelum mematung ditempat ketika mata mereka lagi-lagi mendapat kepatuhan Baekhyun di antara gerak tubuh yang bersimpuh hormat di hadapan Kangin.
"Maafkan Pangeran bungsu, Ayahanda. Maaf telah menjadi putra durhaka," lirih Baekhyun yang seketika membuat pandangan Kangin memburam, sementara Leeteuk terisak pedih disinggasananya. Wanita elok itu tidak peduli dengan keberadaannya saat ini serta pula menghiraukan pandangan para petinggi Kerajaan yang termangu di masing-masing kursi mereka.
"Saya mohon undur diri," kata Baekhyun sopan meminta izin, setelahnya beranjak berdiri dari simpuhnya kemudian berlalu dari hadapan Kangin yang terpaku di tempat.
Leeteuk menggelengkan kepala. Gurat emosi yang tertahan akibat tata moral terlontar melalui gertakan giginya.
"Maaf, Kangin Sanggam. Hari ini saya sungguh merasa kecewa terhadap anda. Hari ini saya tidak mendapati anda sebagai junjungan saya dan Ayahanda dari putra-putra saya. Saya rupanya telah kehilangan panutan saya!" kecam Leeteuk pedas kemudian beringsut pergi dari Balai Istana tanpa mengucap kalimat izin.
Berlalu dengan langkah terseok menapaki lantai Balai Istana yang sejak tadi terkesan mencekam. Para petinggi Kerajaan pun turut membisu hingga lontaran Kangin yang terdengar bergetar menghentak posisi mereka untuk segera meninggalkan kursi sidang.
Kangin memejamkan mata, tanpa mereka sadari sudut matanya berair. Hatinya pun tengah menjerit pilu begitu melihat dirinya yang seolah kehilangan naluri kemanusiaannya terhadap putra yang sekalipun tidak pernah menentang perkatannya. Bahkan Baekhyun sempat mengucap maaf atas kesalahan yang sama sekali bukan kehendaknya.
"Maafkan Ayahanda, nak."
To be continue...
Hai sayang aku kembali setelah menghilang berabad-abad lamanya ehehhehehe #plak. Okeii, jujur aku sebetulnya mau berentiin ini cerita karna aku lagi fokus sama cerita ChanBaek di wattpad, maaf :( Tapi, misal kalian masih mengharap lanjut akan aku lanjutin tapi maaf kalo lagi-lagi ngaret yaa. Aku mau fokus ke cerita baru ku biar bisa kelar ngga lagi-lagi gantung :( Bagi kalian yang mau berkunjung kemari yaa BYUNIBAEKHYUN maaf sepi soalnya akun baru netes eheheheh. Untuk ceritanya aku kasih linknya di bawah yaa
Link : https/story/390673066-enemy-my-love
Judul ceritanya Enemy! My Love.
Okeii segini dulu yaa cuap-cuapnyaa, terima kasih kalian masih setia menunggu cerita abal ku ini. Saranghaee mwaa mwaaa 33
