"Ah... sudah turun salju saja... waktu berlalu begitu cepat ya?"

"Ya, keriputmu menunjukkan hal itu."

"Apa kau tidak punya kaca? keriputmu bahkan lebih banyak dibanding punyaku."

"Itu karena kau curang! aku bahkan sedikit menyesal tidak belajar jutsu itu dengan Baa-chan."

"Sudahlah Naruto.. ingat umurmu..saat ini untuk berjalanpun kau sudah susah."

"Sepertinya kau yang lebih membutuhkan kaca, ya? atau kau tidak sadar tongkat itu milik siapa?"

Wajahnya sudah tak lagi sama, keriput menghiasi hampir sekujur tubuh ditambah beberapa gigi yang sudah tanggal menyisakan bibir yang juga perlahan mulai memudar warnanya.

Keadaannya yang sudah renta itu tak serta merta membuat Naruto tidak bisa bergurau ataupun menghilangkan kebiasaan yang sudah melekat, sangat cerewet.

Penampilan bisa menipu tapi tetap saja Naruto tidak seharusnya berbicara panjang lebar seperti itu, ingat usia.

"Setidaknya aku masih duduk di kursi yang normal.. bukannya duduk di kursi roda sepertimu."

Naruto lagi-lagi dibuat kesal, sejujurnya kesal saja sudah membuat tubuhnya terasa tak nyaman tapi tetap saja mengalah dan tak membalas apapun juga bukan hal yang ia sukai.

"Haha.. setidaknya aku masih punya otak yang sehat.. daripada kau nenek tua pelupa.." Balasan diberikan, membuat wanita yang keadaannya sebelas dua belas dengan Naruto mulai terpancing.

"Hoho, kalau begitu untuk memastikan, sekarang hari apa ya? jangan lupa tanggal, bulan, dan tahunnya." Wanita tua itu tersenyum menutupi beberapa gigi yang sudah hilang entah kemana.

"Terlalu mudah, ini kan hari sen-"

"Sabtu, ini hari sabtu!"

Seorang wanita paruh baya menginterupsi mereka berdua.

"Ah, ya hari sabtu.. itu maksudku!" Naruto mencoba tapi sudah terlambat.

"Haha, kau bodoh ya? bukannya kau tadi bilang ini hari rabu?" Wanita tua di hadapannya tertawa sangat keras, sepertinya ada yang salah.

"Sudah-sudah.. sekarang waktunya minum vitamin.. ingat diminum ya.. kalian kelihatannya tidak meminum vitamin yang kuberikan kemarin." tegas wanita yang baru datang itu, tampak menyadari pembicaraan Naruto dengan wanita tua dihadapannya yang terdengar sangat ngawur.

Diam, mereka berdua diam seperti tertangkap basah melakukan sesuatu.

"Tuh kan benar! kalian tidak menimumnya! harus berapa kali aku bilang kalau kalian ingin sehat kalian harus minum vitaminnya!" Wanita paruh baya itu memarahi Naruto dan si wanita tua.

"Maafkan aku Hanami.. ini semua gara-gara dia yang membuang vitaminnya kemarin." Wanita tua menyalahkan Naruto.

"Sakura-chan! kau menjualku!" Naruto tidak terima, wanita tua berambut putih dihadapannya yang ternyata adalah Sakura menyalahkan dirinya.

"Sudah-sudah.. kalau papa dan mama mau sehat minum vitaminnya sekarang!" Hanami menginterupsi lagi, tak ingin mendengarkan perdebatan orang tuanya yang sama sekali tak bermanfaat.

"Baik." Naruto dan Sakura mengalah, menelan tablet vitamin yang terasa hambar karena indra perasa mereka yang sudah menurun.

"Ah, aku ingin ramen! kenapa aku hanya makan vitamin terus tiap hari sih?"Naruto tak tahan dengan rasa hambar itu.

"Ramen? makan bubur saja sudah kesusahan." Sindir Sakura.

"Diam kau nenek tua!"

"Kau yang berkata, kakek ompong!"

"Cukup! aku pergi! kalian ingin berdebat? silahkan!" Hanami sepertinya kesal, suara yang keluar dari mulut wanita itu membuat Naruto dan Sakura hampir jantungan.

"Ya, selamat kau membuat anak kedua kita marah.. siapa yang akan merawat kita sekarang?" Sarkas Sakura.

"Hei, kau duluan yang memulai, cepat minta maaf sana." Naruto lepas tangan.

"Apa? kau pikir siapa yang lebih dulu mengejek soal keriput?" Sakura tidak terima.

"Jadi sekarang aku yang salah? aku kan hanya bercanda.. kenapa kau sesensitif itu?" Naruto ikut kesal.

"Ah! lebih baik aku keluar melihat salju.. dia tenang dan damai tidak sepertimu yang cerewet dan suka membuat orang kesal!" Sakura sudah lelah berdebat, akhirnya ia berdiri sembari berjalan ditopang oleh satu tongkat yang digenggam olehnya.

"Silahkan saja, pilihlah salju dibanding suamimu yang sudah tua renta ini." Naruto sadar diri rupanya.

"Ya, tidak lihat aku sedang berjalan?"

Situasi menjadi canggung tatkala baik Naruto dan Sakura sudah tidak segesit seperti saat mereka muda dulu.

Lihat saja.. Sakura bahkan baru melewati dua ubin lantai sejak ia berdiri beberapa menit yang lalu.

"Tidak usah lihat-lihat.. aku sedang berjalan sekarang."

"Haha, sudah kubilang pakai saja kursi roda, nenek tua keras kepala!" Naruto mengejek Sakura dengan bergerak mengelilingi ruangan menggunakan kursi rodanya.

"Diam kau.." Walaupun terdengar seperti ancaman, suara Sakura yang parau membuat Naruto tidak menggubrisnya sama sekali.

"Lihat aku nenek tua.. aku sudah sampai di pintu loh.." ejek Naruto sembari perlahan meraih gagang pintu.

Cklek.

"Awas!"

Buak!

Sebuah bola karet mendarat tepat di wajah Naruto sesaat setelah ia membuka pintu, membuat kursi rodanya ikut terjatuh karena gaya reaksi yang cukup kuat.

"Ha-ha-ha." Sakura tertawa puas, walau itu tidak seperti tertawa yang umum sih.

"Ah.. punggungku..."

~~~~~~~

"Jadi aku harus berbaring di sini selama tiga minggu?"

"Ya, ini untuk berjaga-jaga agar kejadian seperti tadi tidak terulang."

"Hei, yang salahkan mereka! kenapa bisa para suster membiarkan pasien mereka bermain bola di dalam rumah sakit!" Naruto tidak terima, kenapa malah ia yang 'dikurung' di dalam kamar.

"Benar, mereka yang salah.. tapi papa juga tetap harus menjaga diri.. lagipula sudah seharusnya begini.. memberi papa kursi roda saja sebenarnya sudah membuatku melanggar beberapa prosedur.. ini semua demi kesehatan papa kok." Hanami berusaha menenangkan ayahnya, sejujurnya ia juga merasa bersalah ayahnya bisa mengalami hal seperti ini.

"Eh? kenapa? aku ini sehat! li- aw!" Tangan yang terasa kaku membuat Naruto tidak bisa melawan.

"Tuh kan.. tiga minggu saja... setelah itu papa bisa berjalan seperti biasa! bagaimana?" Hanami memberi pilihan, lagipula ia sudah lelah menasehati ayahnya itu.

"Hmm.." Naruto berpikir sejenak, memastikan Hanami jujur dengan perkataannya.

"Sudahlah anata, walaupun keliatannya itu membosankan.. tapi sebagai seorang mantan dokter aku setuju dengan perkataan Hanami." Sakura yang duduk di samping ranjang Naruto akhirnya berbicara.

"Hmm.." Naruto kembali merenung, sejenak Sakura tahu kenapa Naruto ragu seperti itu.

"Bisakah kau tinggalkan kami berdua, Hanami? sepertinya papamu ini masih butuh waktu untuk memikirkannya." Sakura memberi sebuah sinyal agar Hanami menyerahkan semuanya pada dirinya mulai sekarang.

"Baiklah.. tapi ingat ya.. jangan berusaha untuk menipuku lagi! ini peringatan terakhir." Hanami akhirnya mengalah dan berjalan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.

"Jadi sekarang ceritakan apa yang kau pikirkan." Sakura akhirnya mempersilahkan Naruto untuk berbicara setelah Hanami menutup pintu kamar mereka.

"Tanpa kujelaskan juga kau sudah tahu itu Sakura, aku gak ingin tidur di kamar ini selamanya.. aku ingin pulang.." Naruto akhirnya mengeluarkan apa yang ia pikirkan selama ini.

"Kau tahu itu tidak bisa, kan? kita sudah terlalu tua untuk merawat diri kita sendiri.. kalau saja waktu itu Hanami tidak datang tepat waktu.." Sakura terdiam sejenak, tak ingin lagi mengingat kejadian waktu itu.

Naruto ikut terdiam, sejenak ia melihat wajah Sakura yang dipenuhi keriput menunjukkan ekspresi sedih dan pilu.

Tentu saja itu membuat Naruto juga sedih, sejujurnya ia tak ingin menghabiskan masa tuanya dengan hal-hal semacam ini.

"Tapi bagaimana dengan rumah kita? sudah tiga minggu kita tinggalkan rumah itu." Naruto berusaha mengalihkan topiknya.

"Ada Arashi yang mengurusnya.. sudahlah Naruto.. jangan pikirkan hal lain selain kesehatanmu sendiri." Sakura menggenggam lengan kanan Naruto dengan kuat.

"Arashi pulang? kenapa dia tidak menjenguk kita?" Naruto tampak terkejut mendengar kabar anak bungsunya yang ternyata berada di Konoha sekarang.

"Dia pasti punya urusannya sendiri.. tapi Hanami bilang dia akan datang menjenguk hari ini.. mungkin nanti malam." jelas Sakura yang berusaha membuat Naruto tenang kembali.

"Anak itu.. sulit sekali menyuruhnya pulang.. sekalinya pulang karena berita ayahnya masuk rumah sakit." Gerutu Naruto yang sebenarnya rindu dengan Arashi yang sudah hampir tiga tahun tidak bertemu.

"Haha.. memangnya untuk apa dia pergi selama itu kalau bukan karenamu?" suara tawa parau Sakura menghiasi ruangan kamar.

"Eh? kenapa aku?" Naruto sekali lagi terkejut dengan apa yang dikatakan Sakura.

"Ingatanmu semakin buruk saja.. sudah lupakan.. fokus saja membuat dirimu sehat dan mungkin kita bisa keluar dari rumah sakit ini secepat mungkin." Sakura menggelengkan kepalanya.

"Hmm.. tapi kan.."

"Sudah, jangan keras kepala lagi.. umur kita sudah tidak panjang lagi.. sudah saatnya kita beristirahat dan nikmati sisa hidup kita tanpa memikirkan hal yang tidak-tidak." Sakura menempatkan telunjuknya di depan bibir Naruto.

"Ingat Naruto.. sekarang tinggal kita berdua yang tersisa.. jangan membuatku sedih karena pada akhirnya kau meninggalkanku sendiri tanpa seorang teman untuk menemaniku di hari-hari terakhirku." Sakura serius dengan perkataannya, tersirat lagi ekspresi sedih dan pilu mengingat apa saja yang sudha terjaid belakangan ini.

Naruto terdiam, sejujurnya ia hanya ingin membuat suasannya mencair, ia hanya ingin masa tuanya tidak dipenuhi rasa sedih dan pilu seperti ini.

Sejujurnya ia juga sama takutnya dengan Sakura, ia takut ditinggalkan sendiri.. ia tak ingin Sakura pada akhirnya juga menyusul semua teman-temannya yang sudah pergi mendahuluinya.

"Ah.. ya baiklah.. maafkan aku Sakura." Naruto sadar ia sudah bersikap egois.. ya setidaknya ia akan mendengarkan saran Sakura dan Hanami untuk sekarang.

"Akhirnya.." Sakura hanya bisa bernafas lega sesaat karena setelahnya Naruto kembali berulah,

"Tunggu.. aku punya satu syarat!"

~~~~~~

"Apa aku yang sudah terlalu tua atau memang salju hari ini tidak terasa dingin?"

"Yang pertama."

Pada akhirnya disinilah mereka berdua berada, taman rumah sakit yang dipenuhi salju putih yang sudah menumpuk.

Tentu saja mereka tidak seharusnya melakukan ini tapi karena Naruto berjanji akan menjadi penurut setelah ini Sakura tidak ada pilihan lain selain mengabulkan keinginan suaminya itu.

"Ah.. akhirnya aku bisa melihat salju lagi.."

Sakura dengan perlahan membantu Naruto untuk duduk di atas bangku taman di samping dirinya.

"Puas? kalau begitu ayo kembali." Sakura sejujurnya tak tahu apa ini buruk atau tidak bagi kesehatan mereka berdua.

"Kita baru sampai, tidak usah terburu-buru.. lagipula Hanami pasti datang sebentar lagi." Naruto tertawa parau, puas seakan berhasil membodohi Hanami sekali lagi.

"Kau memang tidak pernah kapok, ya?" Sakura pada akhirnya hanya mengikuti alurnya.. lagipula ia juga ingin melihat salju hari ini.

"Kapok? apa itu?" sarkas Naruto, ia merasa sangat puas karena akhirnya bisa keluar dari kamar yang rasanya lebih dingin dibanding tempatnya berada sekarang.

Mereka berdua akhirnya diam tanpa berbicara lagi, menikmati setiap butiran salju yang mulai turun di depan mata mereka, untuk sejenak mereka merasa damai dan tenang.

"Ngomong-ngomong soal salju.. bukannya ini mengingatkan kita pada waktu itu?" Naruto akhirnya membuka lagi pembicaraan.

"Ya, misi yang menjelaskan semuanya." Sakura mengerti apa yang dimaksud Naruto, sebuah kenangan indah untuk mereka berdua.

"Aku masih berpikir sampai sekarang.. kalau saja waktu itu Toneri tidak melakukan sesuatu pada bulan dan misinya tidak pernah diberikan.. apa kita akan tetap berakhir di sini?" pertanyaan yang Naruto berikan membuat Sakura merasa tak nyaman.

"Bagaimana kalau seandainya kita memang berakhir di sini tapi dalam keadaan berbeda? kau dengan keluh kesahmu.. dan aku dengan keluh kesahku.. sebagai dua orang yang dtinggal sendirian.." Akhirnya Naruto melihat ke arah Sakura untuk mencari jawaban yang belum diberikan.

"Tidak.. kemungkinan itu sudah tidak mungkin lagi terjadi.. kenapa harus memikirkan hal yang tidak terjadi?" Balasan yang Sakura berikan membuat Naruto sadar istrinya itu tak menyukai topik yang ia bawa.

"Haha, benar juga.. ya.. aku tak akan membantahnya kali ini." Naruto tertawa pelan.

Canggung, inilah yang terjadi jika mereka mengungkit cinta masa lalu yang tak berjalan mulus bak buku dongeng yang sering dibaca oleh anak kecil.

Sakura tak mengerti kenapa Naruto mengungkit hal itu lagi sekarang, bukannya mereka terlalu tua untuk berurusan dengan hal semacam itu.

"Oh, ya.. jangan salah sangka... aku bukannya meragukanmu atau apapun itu.. aku hanya merasa aku masih bermimpi.." Naruto sepertinya berhasil membaca ekspresi wajah yang Sakura tampilkan, sebuah hal umum bagi seorang yang hidupnya hampir menyentuh satu abad.

"Kalau begitu.. biarkan aku bertanya.. apa itu mimpi indah atau mimpi buruk?" Sakura memang sudah lega, tapi ia tetap ingin mendengar semuanya langsung dari mulut Naruto.

"Indah.. itu sudah jelas, bukan? haha." Naruto tertawa, rasanya sifat Sakura yang ini tidak mencerminkan umurnya yang sudah tua.

Sakura akhirnya ikut tersenyum, kadang ia merasa bodoh sendiri jika sudah berurusan dengan Naruto.

"Hah... bukannya ini mengingatkan masa lalu yang itu juga?" kali ini masa lalu dimana semuanya berawal yang diungkit oleh Naruto.

"Haha.. yahh kejadian yang seharusnya kita lupakan, kan?" Jawab Sakura.

"Benar.. aku sepakat!" Naruto merasa malu sendiri setelah mendengar jawaban yang diberikan Sakura.

Suasananya kembali hening dan damai, mereka berdua menikmati pemandangan taman ditemani dengan suasana rumah sakit yang sepi dan tenang.

"Hei, apa kau percaya dengan reinkarnasi?" Naruto kembali memulai topik baru diantara mereka.

"Oh, maksudmu yang terjadi padamu waktu perang dulu? ya kupikir setelah melihatnya secara langsung.. aku tidak punya pilihan lain selain percaya pada perkataan kakek itu." Sakura memberi pandangannya terkait topik pembicaraan yang Naruto bawakan.

"Aku juga percaya, malah seandainya jika aku bereinkarnasi nanti aku ingin bisa mengingat hidupku yang ini.. ya memang terdengar tidak masuk akal sih." Naruto tertawa pelan.

"Kalau begitu ayo kita lakukan." Naruto terkejut mendengar Sakura yang tiba-tiba berkata seperti itu.

"Kalau aku bereinkarnasi nanti.. aku pasti akan menemukanmu lagi." Sakura tersenyum lembut pada Naruto.

"Ah, yang benar saja.. pada kasusku dan Sasuke saja kami berdua tak mengingat kehidupan sebelumnya.. dan jangan lupakan soal mengapa itu bisa terjadi." Naruto menggelengkan kepalanya, Ia tak terlalu menanggapi dengan serius perkataan Sakura.

"Karena keinginan yang kuat kan? walau kita memang pada akhirnya tidak mengingat kehidupan sebelumnya.. itu tetap bisa terjadi kan?" Sakura tidak sedikitpun bergurau dengan perkataannya.

"Selama aku punya keinginan yang kuat.. aku percaya aku bisa menemukanmu di kehidupan selanjutnya.." Naruto terdiam mendengar perkataan Sakura.

Ia tahu Sakura tidak bercanda.. tapi tetap saja sulit mempercayainya.. apa memang benar mereka bisa melakukan itu? bertemu di kehidupan selanjutnya?

"Kita buat ini terjadi.. aku yakin.. aku percaya kalau cintaku akan menemukanmu lagi, Naruto." Sakura yakin dengan perkataannya, layaknya seorang nenek tua yang sedang berimajinasi seperti anak kecil.

"Lalu bagaimana kalau kita bereinkarnasi ke dunia yang baru? dunia tanpa chakra dan hal-hal semacam itu?"

"Aku akan tetap menemukanmu.. aku yakin.. ya tapi jika kau menginginkannya juga.." Sakura menjadi ragu setelah melihat Naruto sepertinya tak menginginkan hal itu terjadi.

"Haha tentu saja aku ingin.. aku juga pasti akan menemukanmu, Sakura-chan." Naruto membelai lembut pipi Sakura yang sudah keriput itu.

"Ayo kita berjanji untuk bertemu di kehidupan selanjutnya!" Naruto tersenyum lebar.

Kali ini Sakura tak lagi melihat keriput di wajah Naruto, pemandangannya berubah total menjadi Naruto yang seperti biasa selalu menghiburnya dengan senyum lebar di masa lalu.

"Ya, ini janji abadi kita." Sakura ikut tersenyum.

"Haha janji abadi ya.. benar juga kalau janji seumur hidup terdengar tidak masuk akal." Naruto tertawa dengan gurauannya sendiri.

"Kalau begitu untuk seterusnya selama kita terus bereinkarnasi.. kita akan selalu saling mencintai.. itu kan keinginan kuat yang kau maksud?" Naruto memastikannya sekali lagi.

"Ya, itulah keinginan kita.. untuk saling mencintai apapun halangannya." Sakura mengangguk lembut.

"Haha.. setidaknya di kehidupan selanjutnya aku ingin kisah kita berjalan mulus layaknya buku dongeng." Naruto menyandarkan tubuhnya pada bangku.

"Mana mungkin.. tapi aku juga ingin mencoba menjadi seorang putri."

Mereka berdua akhirnya tertawa, seakan lupa dengan tubuh tua renta mereka, seakan-akan terjebak di dalam waktu dimana cinta mereka masih bersemi layaknya bunga Sakura yang mulai bermekaran setelah berhentinya salju turun.

Naruto dan Sakura sudah sepakat, mereka tidak akan pernah melupakan cinta abadi mereka bahkan jika mereka sudah mati sekalipun.

"Kalau beginikan aku bisa tenang.. ah.. aku ngantuk.." Naruto menguap sejenak sebelum akhirnya menjatuhkan kepala pada bahu Sakura.

Dingin, kali ini saljunya terasa dingin.. begitu pula bahu Sakura yang perlahan tapi pasti terasa semakin dingin.

"Jadi ini alasanmu mengajakku pergi kesini?"

Sejenak Sakura melihat wajah Naruto yang sudah damai, ia hampir meneteskan air mata jika saja dirinya tak mengingat apa yang Naruto katakan sebelum dia pergi meninggalkannya di dunia ini sendirian.

Sakura tersenyum lembut.. ia tidak lagi merasa takut.. walau pada akhirnya ia tetap ditinggalkan sendiri..

Ia tahu kalau pada waktunya ia akan bertemu lagi dengannya, dengan begitu ia akan memulai kisah baru.. kisah yang mungkin akan jauh lebih indah dibanding kisah kehidupannya yang satu ini.

"Sampai bertemu lagi, Naruto."

The End.