"Hanami! kembalikan!"

"Ga mau, wlee! Tangkap aku kalau bisa Nii-Chan."

Drap...

Drap...

Drap...

"Hanami!"

"Hmm?"

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memenuhi ruangan, membuat seorang pria dewasa bersurai pirang yang tengah terduduk tenang nan damai mulai menoleh.

"Haha, Nii-Chan payah!"

"Hanami, kembalikan! aku nanti telat pergi misinya!"

"Ga mau!"

"Mereka berdua kenapa sih?" Tanya seorang wanita.

Di sana lah sosoknya, bersurai merah muda dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya, menghampiri meja makan dimana sosok pria bersurai pirang terduduk di sana, dengan koran yang baru saja dia letakkan di atas meja.

Kedua sosok dewasa itu mengerenyit bingung, memperhatikan sekelibat bayangan yang terus mondar-mandir di balik lorong.

"Ini." Si wanita kembali berujar, segera meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.

"Ah, terima kasih Sakura-Chan." Sahut si pria, tersenyum lebar melihat ke arah secangkir teh yang baru saja di letakkan.

"Hanami!"

"Hahaha, wlee, Nii-Chan larinya lambat!"

Teriakan terus bergulir di sana, membuat sosok wanita yang dipanggil Sakura mulai nampak kesal, kedua alisnya mulai berkedut, membuat si pria yang tengah menyesap teh buatan istrinya itu meringis ngeri melihatnya.

"Kalian berdua, berhenti lari-lari di rumah!" Teriak Sakura keras, menghentakkan kaki dengan keras sembari menghampiri sosok bayangan-bayangan yang masih terlihat berlarian di lorong.

"Jangan buat ibu marah hei!" Tambah si pria, dengan suara keras namun tetap terdengar tenang.

Drap..

Drap..

Seakan menghiraukan perkataan ibu mereka, kedua anak yang berlarian tadi nampak tak menghentikan aktivitas mereka, secara tak sadar mulai bergerak ke arah dimana ruang keluarga berada.

Si anak kecil bersurai merah muda nampak masih tertawa keras, berlarian dengan mengangkat sebuah benda dengan kilauan putihnya di atas udara, tak menyadari langkah kakinya yang hendak menabrak seseorang di depannya.

"Nii-Chan payah! wleee!"

"Hanami, awas!"

"Eh?"

Duak.

"Ittai..." Si anak kecil meringis, mengusap dahinya yang terasa nyeri akibat tabrakan tadi, tubuhnya sudah terjatuh ke atas lantai, bahkan benda yang dipegangnya dengan erat tadi sudah terlempar entah kemana.

"Euh... "

Si anak yang mengejar sejak tadi mulai membatu, nampak memandang horor ke arah depan, tubuhnya mulai bergetar di sana, tak lagi ingin mengejar sosok adik yang sejak tadi terus mengerjainya.

"H-Hanami..." Suara si anak bersurai pirang bergetar, kedua emeraldnya membulat sempurna.

"Ada apa?" Si adik bertanya, mengerenyit bingung melihat ekspresi aneh yang ditunjukkan kakaknya.

"I-itu.." Suaranya masih bergetar, dengan perlahan menunjuk ragu ke arah depan, meminta si adik untuk melihat apa yang ada di depannya.

"Hah? ada apa sih? emangnya siapa yang tadi ku-"

Perkataannya tercekat, si anak kecil bersurai merah muda terkesiap, kedua Safirnya membilat sempurna, memandang horor ke arah sosok di hadapannya.

"Mama!" Berteriak spontan, itulah yang bisa dilakukan Hanami sekarang, menatap sosok Sakura dengan aura hitam yang sudah melekat di sekujur tubuh, membuat Hanami bergedik ngeri seketika.

"Hanami! Shinachiku!"

Kedua sosok yang dipanggil terkesiap, dengan sigap menegakkan badan, masih memandang horor sosok ibunya itu.

"Ha'i Mama!"

Prang.

Semua mata membulat, memandang ke arah sumber suara dimana sebuah vas bunga baru saja terjatuh dari nakas, akibat dari benda yang terlempar tadi.

Shinachiku dan Hanami dengan segera menelan ludah mereka sendiri, meringis melihat vas bunga yang sudah tak berbentuk, kali ini mereka sudah tak berani untuk memandang sosok ibu mereka.

Karena mereka tau..

Hari ini telinga mereka akan tuli seketika, akibat dari amarah sang ibu yang tak lagi terbendung.

"Hanami! Shinachiku! lihat apa akibat dari kelakuan kalian!" Sakura berteriak, kali ini tak bisa lagi menahan kesabaran, kedua anaknya itu benar-benar ceroboh.

"Hei, ada apa sih?" Sosok pria dewasa menghampiri mereka, mencoba menenangkan suasana yang terlihat menegang.

"Lihat kelakuan anak kita Naruto! vas bunga yang kau beli kemarin jadi pecah sekarang!" Sahut Sakura, berdecak kesal sembari menunjuk ke rah vas bunga yang tak lagi terbentuk.

Naruto memperhatikan atensi yang ditunjuk Sakura, menautkan kedua alisnya lalu bergerak menatap kedua anaknya yang sedang menunduk pasrah, dan akhirnya mulai mengerti apa yang baru saja terjadi.

"Oh!" Sahut Naruto enteng, bergerak menghampiri vas bunga yang sudah hancur tak berbentuk di atas lantai.

"Oh?" Sakura mengerenyit bingung, tak paham dengan respons sang suami yang kelewat enteng.

Cing...

Pancaran cahaya hijau nan menyilaukan membuat semua orang terkejut di sana, kecuali Naruto, dirinya hanya tersenyum sambil terus mengeluarkan pancaran chakra berwarna hijau itu, dan seketika vas yang tak lagi berbentuk sudah diperbaiki secara sempurna, bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya.

"Sudah ku perbaiki, mudah bukan?" Sahut Naruto enteng, tersenyum kecil sembari kembali menempatkan vas di atas nakas.

Hanami dan Shinachiku melongo melihat apa yang baru saja dilakukan ayahnya itu, tanpa sadar kedua tangan mereka sudah bertepuk tangan dengan keras, sangat takjub.

"Papa Hebat!"

"Aku tidak percaya Tou-Chan bisa melakukan hal itu!"

Pujian-pujian itu membuat Naruto menoleh, mendengus pelan lalu mulai tersenyum lebar.

"Tentu saja! tidak ada yang mustahil untuk dilakukan seorang hokage ketujuh!" Sahut Naruto dengan bangga, membusungkan dada sambil menempatkan ibu jari di depan dada.

"Papa Sugoiii!" Hanami masih melongo, dengan mata yang berbinar-binar terus menatap sosok ayahnya yang nampak keren sekali hari ini.

"Aku tidak pernah lihat teknik itu Tou-Chan, apa kau bisa mengajariku?" Tanya Shina dengan mata yang berbinar-binar, berharap akan diajari teknik yang terlihat sangat keren tadi.

"Haha, tentu saja! kau bisa datang ke kantorku kapan saja!" Sahut Naruto, terkekeh pelan.

"Benarkah?" Mata Shina masih berbinar-binar.

"Ya, teknik ini simpel kok, aku tahu kau pasti bisa mempelajarinya!" Jawab Naruto, dengan masih membanggakan diri.

"Papa, aku mau diajari juga dong!" Rengek Hanami sembari mencengkram erat celana hitam Naruto.

"Kau masih kecil Hanami, tingkatkan saja nilai akademimu dulu!" Naruto terkekeh pelan, sembari mengacak surai merah muda milik Hanami, membuat sang empunya menggembungkan kedua pipinya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau sekarang, ayo Tou-Chan, kita bisa latihan di lu-"

Tep.

Perkataan Shina tercekat, gerakan kakinya tertahan, sebuah ketukan di dahinya membuat dia meringis pelan.

"Kau punya misi kan hari ini?" Tanya Naruto setelah melepaskan sebuah sentilan pelan di dahi Shina.

"Jadi kau sudah tahu kan, apa yang lebih penting sekarang?" Tanya Naruto lagi, tersenyum kecil ke arah Shina.

Shina menepuk dahinya dengan keras, segera mengambil sebuah benda yang sebelumnya membuat vas bunga terjatuh, dengan cepat memakainya di kening, sebuah ikat kepala dengan lambang desa Konoha.

"Hehe, Gomen!" Ujar Shina, menggaruk belakang kepala setelah selesai memakai ikat kepalanya itu.

"Lakukan yang terbaik oke!" Sahut Naruto, mengarahkan kepalan tangan kehadapan Shina.

Shina tersenyum kecil, dengan cepat ikut mengarahkan kepalan tangan, menatap ke arah sosok ayahnya dengan penuh keyakinan.

"Ya, tentu saja Tou-Chan!"

"Nah, kalau begitu bagaimana kalau-"

"Siapa bilang kalian boleh pergi?" Suara dingin, menusuk pendengaran Naruto dan Shina, membuat keduanya menoleh dengan ragu ke arah sumber suara.

"Masalah ini belum selesai." Tambah Sakura, kali ini tatapan tajamnya tak lagi diarahkan ke sumber masalah, melainkan Naruto yang sudah menyelesaikan masalah itu sendiri.

"Maa-maa, Sakura-Chan, sudahlah jangan marah lagi, vas bunganya kan sudah betul." Ujar Naruto, dengan nada pelan, mencoba membuat Sakura tenang.

"Bukan seperti itu caranya, kau terlalu memanjakan mereka berdua, terutama Hanami, sudah berapa kali Ibu bilang berhenti menjaili kakakmu!" Tegas Sakura, kali ini mendelik tajam ke arah Hanami.

"Hii, papa, mama seram!" Hanami berteriak spontan, dengan segera bersembunyi di balik kaki besar milik Naruto.

"Hei, Sakura-Chan, tenang oke? kau membuat mereka takut." Naruto masih bersuara dengan lembut, berharap Sakura mulai melunak.

Perkataan Naruto seakan tak digubris, Sakura masih terlihat sangat kesal, membuat kali ini bukan Hanami saja yang bersembunyi, Shina pun kali ini ikut bersembunyi, tak tahan melihat tatapan tajam milik sang ibu.

"Baka.." sebuah suara anak kecil menyahut, membuat semua orang menoleh, mendapati seorang anak kecil berambut merah berdiri di sana, dengan memegang sebuah boneka, menatap datar ke arah kakak-kakanya yang sedang ketakutan setengah mati.

"Arashi, sini... selamatkan dirimu.." Hanami berbisik pelan, meminta sang adik untuk bergerak menghampiri dirinya.

"Tidak, kalian yang salah, kenapa aku harus ikutan bersembunyi?" Sahut Arashi enteng, memilih berdiri di samping ibunya.

"Lihat, Arashi saja tahu siapa yang salah, lalu kenapa kau membela mereka Naruto!" Tegas Sakura, kembali menatap tajam ke arah Naruto.

Hah..

Naruto menghela nafas pelan, mulai menatap Sakura dengan pandangan datar.

"Baiklah aku jelaskan, aku di sini tidak berniat membela mereka oke? aku hanya berniat menyelesaikan masalahnya, bukankah kau marah karena vas itu rusak? aku sudah perbaiki kan?" Tanya Naruto dengan nada tenang, mencoba memperjelas situasi.

"Tidak seperti itu cara menyelesaikan masalahnya." Jawab Sakura, mulai melunak kali ini, dengan cepat menghela nafas.

"Lalu?" Naruto bingung sekarang, jawaban Sakura semakin membuat permasalahan semakin tidak jelas.

"Ck, sudahlah!" Sakura berdecak kesal, mulai bergerak menghampiri ruang keluarga dengan Arashi yang mengikuti dari belakang.

"Kalian makan di luar hari ini!" Tegas Sakura, dengan cepat menutup pintu ruangan, membuat ketiga sosok berbeda gender meringis mendengarnya.

"Hah... kalian berdua ini memang ga pernah kapok ya membuat ibu marah." Naruto menghela nafas, menunduk suram di akhir.

'Aku belum sempat menghabiskan teh tadi..'

Sementara Shina dan Hanami hanya bisa menyengir lebar sembari menggaruk belakang kepala.

"Euh, kalau gitu aku pergi dulu, jaa Tou-Chan! jaa Hanami!" Shina dengan cepat melangkah pergi sembari melambaikan tangan.

"Hati-hati di jalan Nii-Chan!" Hanami melambaikan tangan di semangat, menunjukkan senyuman ceria.

Sementara Naruto?

Hanya melambaikan tangan dengan lesu, sembari menahan rasa lapar yang mulai mencuat, akibat dari jatah sarapan yang tak diberikan hari ini.

Krukk...

"Hmm?"

Mendengar suara yang menggema tadi membuat akhirnya Naruto menoleh, mengerenyit bingung ke arah Hanami yang masih menyengir sembari mengelus perut kecilnya.

"Hana lapar?" Tanya Naruto.

"Hehe, apa papa lapar juga?" Tanya Hanami balik, sembari tertawa canggung.

"Ya sudah ayo! papa masih punya waktu sebelum pergi kerja, kita bisa mampir ke tempat makan favorit papa dulu!" Sahut naruto, tersenyum lebar ke arah Hanami.

"Yee asik, ayo papa!"

"Ayo!"

--

"Selamat datang!"

Sambutan ceria dari seorang penjaga kasir menyambut mereka berdua, dengan langkah santai bergerak memasuki restoran yang terlihat luas dan bergaya modern.

"Ah Nanadaime! sudah lama tidak berkunjung!" Seru Ayame, terkejut mepihat kedatangan Naruto.

"Ah Ayame-San, sudah lama ya!" Naruto tertawa canggung sembari menggaruk belakang kepala.

"Papa, ayo makan, aku laper tau!" Hanami merengek sembari menggembungkan kedua pipi, menarik lengan baju Naruto dengan erat.

"Iya-iya Ayo."

--

"Miso Ramen ukuran besar satu!" Sahut Naruto riang.

Hening...

Naruto menoleh ke arah samping, menautkan kedua alis setelah melihat anak gadisnya itu tetap diam sembari

memandang kertas menu dengan pandangan heran.

"Ada apa? bukannya kau lapar Hanami?" Tanya Naruto, membuat akhirnya Hanami menoleh.

"Kenapa menunya ramen semua? aku pengen anmitsu papa, lagipula kata mama gaboleh makan ramen di pagi hari." Jelas Hanami, menyipitkan kedua mata ke arah Naruto.

Naruto terkekeh pelan, ada-ada saja sikap anaknya yang satu ini, giliran soal makanan saja dia nurut pada ibunya.

'Memang anak-anak itu penuh kejutan ya!'

'Kau baru sadar bodoh?'

'Diam Kurama!'

"Udah pilih saja, ramen disini enak semua kok, bahkan mungkin yang paling enak di dunia, kamu pasti suka!" Sahut Naruto, tersenyum lebar ke arah Hanami.

"Hmm, kalau begitu aku pilih menu yang sama kaya papa aja!" Jawab Hanami, membuat senyum Naruto semakin melebar.

"Kau itu memang benar anak papa ya!" Seru Naruto, sembari mengelus pelan puncak kepala Hanami.

"Papa aneh!" Seru Hanami, membuat akhirnya Naruto tertawa keras.

"Miso Ramen nya jadi dua!"

"Oke!"

Setelahnya suasana menjadi hening, Naruto yang memilih tersenyum lembut sembari memandang kursi kosong di sebelah kirinya.

Sementara Hanami?

Dirinya memilih memandangi sekeliling, hingga terfokus ke salah satu poster, membuat dirinya terkagum sekaligus merasa aneh.

"Nee Papa." panggil Hanami.

"Hmm?"

"Sejak kapan papa berganti profesi jadi model?" Tanya Hanami sembari menunjuk ke arah poster di ujung ruangan.

"Haha, sejak kapan ya? kenapa kau bertanya?" Naruto balik bertanya sembari tersenyum kecil, agaknya dia ingin menggoda anak gadisnya itu.

"Soalnya papa agak aneh kalau jadi model." Sahut Hanami enteng, mendengus pelan di akhir.

"Eh? aneh?"

"Iya aneh, tapi rasanya cocok juga."

"Haha, tentu saja cocok, papamu ini adalah orang paling keren di Konoha!" Seru Naruto, membusngkan dada, terlihat bangga sekali.

"Papa lagi-lagi bersikap aneh." Hanami menyipitkan kedua matanya kembali, sosok di sampingnya itu benar-benar sangat percaya diri.

"Tapi tunggu, jangan-jangan papa juga punya banyak wanita ya? kalau papa jadi model pasti begitu!" Seru Hanami, memandang tajam ke arah Naruto.

Naruto terkesiap, apalagi ini, tau dari mana anak seumurnya hal yang seperti itu.

"Hei, pikiran dari mana itu!" seru Naruto, sedikit tak terima dikatakan seperti itu.

"Hmm, aku sering lihat di drama yang aku tonton bersama Chōchō Nee-Chan!" Jawab Hanami sembari mengangkat telunjuk di atas udara.

'Apa-apaan ini! tontonan apa yang sering ditonton Hanami?'

"Jangan lagi nonton drama seperti itu! kamu belum cukup umur!" Tegas Naruto, mengalihkan pandnagan ke arah depan.

"Ah, papa pasti mau mengelak ya? yang tadi pasti benar ya?" Hanami menyeringai kecil, membuat Naruto sedikit kesal.

"Hei, papamu ini setia tau! hanya mama yang selalu di hati papa! ga ada yang lain!" Tegas Naruto, masih memalingkan muka, memasang wajah cemberut.

"Hmm, benarkah?"

"Hah... begini saja, kau mau tahu kenapa ini jadi tempat makan favorit papa bukan?" Naruto mendengus pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan, tak ingin pembicaraan seperti ini terus berlanjut.

"Bukankah itu sudah jelas, karena papa suka ramen kan?" Tanya Hanami, menaikkan salah satu alisnya, sedikit tertarik ke arah pembicaran.

"Lebih dari itu..." Jawab Naruto pelan, sembari terkekeh.

"Tempat ini adalah tempat dimana ayah sering menghabiskan waktu bersama teman-teman papa, bersama Iruka-Sensei, dan tentu dengan mamamu juga!" Jelas Naruto sambil tersenyum lembut, sembari melihat sekeliling, Ichiraku sudah terlihat berbeda sekarang.

"Jadi ini tempat masa kecil papa ya?" Tanya Hanami, kali ini mendengarkan perkataan Naruto dengan saksama.

"Yap kau betul!"

"Dan lagi..."

"Apa papa? ayo ceritakan, ada apalagi yang istimewa di tempat ini?" Hanami semakin penasaran, membuat akhirnya Naruto tersenyum lebar.

"Tempat ini adalah tempat papa dan mama berkencan untuk yang pertama kali!" Sahut Naruto, senyumnya semakin lebar.

"Wah, benarkah? ceritakan papa, ceritakan! aku ingin dengar!" Sahut Hanami, dengan mata yang berbinar-binar menatap ke arah Naruto.

Tep.

Sebuah suara mengalihkan mereka berdua, menoleh ke arah depan, melihat dua mangkuk ramen yang telah disajikan.

"Ceritanya kita tunda, kau sudah lapar kan? ayo makan dulu, nanti ramennya dingin!" jawab Naruto kembali mengelus pelan puncak kepala Hanami.

"Tidak-tidak, selesaikan dulu ceritanya! aku mau dengar papa!" Sela Hanami, mengerecutkan bibir, kesal dengan cerita yang menggantung.

"Tidak, nanti papa bisa telat, kalau kamu penasaran, kamu bisa bertanya sama mama saat pulang nanti." Sanggah Naruto, menggelengkan kepala singkat.

"Tapi kan mama lagi marah sama aku." Jelas Hanami, menunduk pelan di akhir.

"Hei, minta maaf saja oke? mama itu sayang sama kalian, mama ga mau kamu jadi ceroboh kaya tadi, apalagi belakangan kamu sering ga menuruti perkataan mama." Sahut Naruto dengan nada lembut, mengelus puncak kepala Hanami.

"Mama seram, aku kan jadi takut kalau mau minta maaf." lihir Hanami, masih menundukkan kepala.

"Ngga kok, kalau kamu sadar kesalahan kamu terus minta maaf, mama pasti maafkan, lagipula sepertinya mama lagi banyak kerjaan di rumah sakit." Jelas Naruto, mulai tersenyum lembut.

"Kamu mau diberi saran cara membuat mama jadi ga marah lagi?" Tanya Naruto, membuat Hanami akhirnya mendongkakkan kepala, dengan cepat mengangguk.

Naruto dengan pelan berbisik di telinga Hanami, membuat Hanami menganggukkan kepala mendengar saran dari ayahnya itu, dan akhirnya ekspresi anak gadis itu kembali cerah.

"Jadi semudah itu ya?" Tanya Hanami, sementara Naruto menjawab dengan anggukan kepala.

"Kamu tadi belum sempat minta maaf kan? jadi papa rasa ini ga bakalan sulit." Tambah Naruto.

"Baiklah, aku pasti bisa!" Seru Hanami, menyemangati dirinya sendiri.

"Haha, bagus, begini baru anak papa, ayo kita makan!" Naruto mulai gemas, kembali mengacak-acak surai merah muda milik Hanami.

"Itadakimasu!"

--

"Ah, aku pulang larut lagi deh... Sakura-Chan masih marah ga ya?"

Dengan langkah pelan Naruto memasuki halaman rumah, rumah terlihat begitu sepi, tirai-tirai telah ditutup, sumber penerangan yang ada hanyalah cahaya-cahaya lampu jalan dan juga cahaya lampu teras rumahnya.

'Mungkin mereka sudah tidur ya..'

Terus melangkah pelan, hingga akhirnya sampai di depan pintu rumah yang berukuran cukup besar itu.

Memutar gagang pintu perlahan, memastikan pintu terkunci atau tidak.

Cklek...

Naruto menaikkan salah satu alisnya, pintu terbuka dengan mudah, menandakan penghuni rumah yang lupa mengunci atau...

'Apa Sakura-Chan masih bangun ya..'

"Tadaima.."

Dengan pelan Naruto menutup pintu kembali, segera menguncinya dari dalam.

Hening...

Lagi-lagi Naruto dibuat heran, tak ada sahutan dari dalam, suasana terasa sepi, tak ada tanda-tanda penghuni rumah masih terjaga.

Tep..

Tep..

Naruto memutuskan untuk tak mengambil pusing, memilih untuk menghampiri ruang keluarga, memutuskan untuk menyeduh secup ramen sebelum nantinya beranjak tidur.

Langkahnya berhenti tepat di samping tangga, berbelok ke arah yang berlawanan, dan disitulah akhirnya dia sadar.

"Hei Shina, kau tidak mendengar suaraku tadi?" Tanya Naruto setengah berbisik, tersenyum lembut melihat sosok anak sulungnya yang tengah menyelimuti adiknya yang sedang tidur di atas kursi meja makan.

"Gomen Tou-Chan, aku gabisa jawab tadi, takut mereka bangun." Jawab Shina ikut memelankan suara, menunjuk kedua sosok perempuan berbeda usia yang tengah tertidur pulas di atas kursi mereka masing-masing.

"Arashi dimana?" Naruto bertanya lagi, sembari bergerak menghampiri sofa di dalam ruangan.

"Udah tidur di atas." Jawab Shina singkat, ikut menghampiri sofa, mencoba mengambil sesuatu di sana.

"Kamu baru pulang?"

"Haha, iya tadi aku main sama Inojin dan Shikadai setelah pulang misi, jadinya aku pulang agak telat deh." Jawab Shina sembari menggaruk belakang kepala.

"Lalu mereka?" Tanya Naruto lagi, menunjuk ke arah Sosok Hanami dan Sakura yang tengah tertidur di atas kursi mereka masing-masing.

"Saat aku pulang tadi mereka sudah tidur seperti ini." Jelas Shina, mulai menggerakan tangan, mencoba mengambil sebuah benda di atas sofa.

"Biar Tou-Chan saja." Sahut Naruto pelan, menghentikan pergerakan tangan Shina.

"Kamu bisa gendong adikmu kan? bawa dia kekamarnya, tidur seperti itu tidak baik." Tambah Naruto, tersenyum lembut sembari menunjuk ke arah Hanami yang masih tertidur pulas dengan selimut merah muda yang menyelimuti tubuhnya.

Shina mengangguk pelan, seakan mengerti dengan maksud perkataan Naruto, dengan segera bergerak menghampiri adiknya itu.

Naruto ikut melangkah, membawa sebuah selimut berukuran cukup besar di tangannya, menghampiri sosok wanita paruh baya yang tengah tertidur pulas di atas kursinya.

"Mereka sudah baikkan?" Shina mulai bertanya, sedikit terkejut melihat Hanami dan Sakura yang nampaknya membicarakan sesuatu hingga akhirnya tertidur bersamaan.

"Mungkin saja." Naruto terkekeh pelan sembari menyelimuti sosok Sakura yang tengah tertidur.

"Kok bisa? bukankah tadi Kaa-san lagi marah besar padanya?" Shina bertanya lagi, menghentikan pergerakannya untuk membawa tubuh kecil Hanami, kembali menoleh ke arah sosok ayahnya yang tengah tersenyum lembut.

Hening...

Naruto tak menggubris perkataan anak sulungnya itu, fokusnya hanya terarah ke arah Sakura seorang, masih dengan senyum lembut yang terus terukir.

"Tou-Chan?"

"Ah, iya, kau mengatakan apa?"

Shina menghela nafas pelan, sebegitu cantik kah ibunya? hingga sosok ayahnya terus terfokus hingga perkataannya tadi tidak didengar?

'Tapi iya sih, Kaa-San adalah wanita paling cantik menurutku, Kaa-San dan Hanami yang paling cantik!'

"Shina?" Naruto bertanya lagi, mengerenyit bingung melihat sosok anak sulungnya itu malah tersenyum aneh.

"Eh, Gomen Tou-Chan." Shina tersadar, kembali menggaruk belakang kepala.

"Jadi?" Naruto bertanya lagi.

"Iya, kenapa mereka bisa baikkan? bukankah Kaa-San lagi marah besar?" Shina akhirnya kembali melontarkan pertanyaannya tadi.

Naruto yang mendengarnya hanya bisa tersenyum lembut, mengalihkan pandangan ke arah Sakura lalu kembali menatap Shina dengan tatapan lembut.

"Sudah sewajarnya bukan?" Naruto berbalik bertanya, membuat Shina mengerenyit bingung sekarang.

"Maksud Tou-Chan?"

Naruto akhirnya terkekeh pelan, sosok anaknya ini kadang bisa jadi sedikit bodoh.

"Seorang ibu tidak mungkin membenci anak mereka, sekalipun anak mereka membencinya, sosok ibu tetap akan menyayangi anaknya itu, dan tentu saja sosok ibu pasti dengan mudah memaafkan kesalahan anak mereka." Jelas Naruto, membuat Shina akhirnya terdiam.

"Walaupun Kaa-Sanmu ini terlihat galak, bukan berarti dia membencimu, itu adalah ekspresinya tersendiri untuk menunjukkan kasih sayang." Tambah Naruto, dengan senyum lembut yang masih terukir.

"Kau tahu maksudku kan?"

Shina terkekeh pelan sebentar, rasanya dia lupa bagaimana sifat asli ibunya itu, untung saja ada sosok ayahnya, dia benar-benar sosok yang bisa diandalkan.

"Ya, kalau itu sih aku tau, sosok ibu memang menyeramkan sih, bahkan Shikadai dan Inojin juga setuju!" Shina tertawa kecil, membuat Naruto ikut tertawa juga.

Hup.

Shina dengan pelan mengangkat tubuh adiknya itu, menggendongnya dibalik punggung, bersiap untuk pergi tidur.

"Kalau begitu aku tidur dulu ya Tou-Chan, hari ini benar-benar melelahkan." Sahut Shina pelan, mulai melangkahkan kaki, bersiap meninggalkan ruangan.

"Ya, selamat tidur Shina."

"Selamat tidur juga, Tou-Chan."

The End.