Chapter 93
Setelah keluar dari ruang drop item, Shirou memutar kunci hasil proyeksinya pada pintu hingga terdengar suara "klik" yang halus. Ia memastikan pintu terkunci rapat sebelum mengembalikan kunci itu menjadi prana.
Namun, Lefiya yang sudah menunggu di balik konter dengan tangan di pinggang langsung menyapanya dengan nada main-main. "Hei, tukang kunci! selanjutnya tolong buka ruang perlengkapan. Ayo cepat, kita tidak punya waktu seharian!"
Shirou terkekeh kecil, mengangkat bahu. "Sepertinya aku dapat pekerjaan baru," katanya sambil mendekati pintu ruang perlengkapan. Ia meletakkan tangannya pada kenop pintu dan kembali melakukan Structural Analysis, memindai mekanisme kuncinya dengan cepat. Setelah itu, ia memproyeksikan kunci polos, mengubahnya menggunakan Alteration hingga pas dengan lubang kunci. Dalam hitungan detik, pintu terbuka dengan mudah. "Silakan, Nona Lefiya," ujar Shirou sambil membukakan pintu lebar-lebar.
Lefiya melangkah masuk dengan semangat, meskipun kaosnya masih basah dan lengket karena bangkai slime sebelumnya. "Terima kasih, tukang kunci," gumamnya dengan senyum geli sebelum menyelidiki isi ruangan.
Shirou menyusul, matanya tertuju pada berbagai rak yang dipenuhi perlengkapan tempur. Ruangan itu penuh dengan senjata, armor, perisai, dan perlengkapan lainnya, tersusun rapi sesuai kategori. Bau logam tajam menyelimuti udara, bercampur dengan aroma kulit yang baru disamak dari beberapa perlengkapan kemah.
Dari kejauhan, Shirou menyentuh sebuah pedang di salah satu rak dan menggunakan Tracing. Ia segera mengetahui bahwa sebagian besar perlengkapan di sini adalah hasil karya pengrajin dari Goibniu dan Hephaestus Familia, dua kelompok terkenal yang dikenal dengan barang berkualitas tinggi mereka. "Luar biasa," gumamnya pelan, mengagumi detail dan presisi dari barang-barang itu.
Sementara itu, Lefiya terus mencari sesuatu di bagian belakang ruangan. "Aha! Akhirnya ketemu!" serunya sambil menunjuk sebuah rak kecil di sudut yang tampaknya sudah lama tak tersentuh. Rak itu berisi perlengkapan alchemy, meskipun terlihat sedikit berdebu.
Shirou mendekat, memperhatikan apa yang Lefiya temukan. "Ini sepertinya sudah lama tidak digunakan," komentarnya, menyentuh salah satu botol kecil yang penuh dengan cairan aneh.
"Betul," jawab Lefiya sambil membersihkan debu pada alat-alat itu. "Tapi ini lebih dari cukup untuk apa yang kita butuhkan. Aku akan menggunakan alat-alat ini untuk eksperimen slime nanti."
Shirou mengangguk. "Baiklah, biar aku salin semua ini dulu." Ia mulai menggunakan Tracing pada setiap perlengkapan alchemy—tabung, pembakar, mortar dan pestle, serta berbagai botol cairan. Setiap detail ia salin dengan cermat, memastikan jika Lefiya membutuhkannya nanti, ia bisa memproyeksinya tanpa harus kembali ke ruangan ini.
Setelah selesai, Shirou berbalik ke Lefiya. "Semua sudah siap. Kita bisa mulai eksperimen kapan pun kau siap."
Lefiya tersenyum lebar, matanya berbinar dengan semangat. "Bagus! Kalau begitu, ayo kita keluar dari sini sebelum seseorang menyadari kita terlalu lama di dalam!"
Setelah mereka keluar dari ruang perlengkapan, Shirou kembali mengunci pintu dengan kunci proyeksinya sebelum memudarkannya kembali menjadi prana. "Tugas tukang kunci selesai," katanya sambil menyeringai kecil.
Lefiya tertawa ringan sebelum berjalan mendahului Shirou menuju pintu keluar ruang penyimpanan bawah tanah. Kali ini, giliran Lefiya yang mengeluarkan kunci dari gantungannya untuk mengunci pintu utama tempat penyimpanan itu. Ia melakukannya dengan cekatan, lalu menghela napas panjang begitu tugasnya selesai.
Ketika mereka berada di luar, Lefiya melirik kaosnya yang basah dan mengerutkan hidung. "Ugh, ini menjijikkan," keluhnya sambil mengangkat salah satu ujung kaos putihnya yang sekarang lengket oleh bekas lendir dari bangkai slime. "Lihat, Shirou," katanya sambil menunjukkan bekas kotoran itu padanya, wajahnya sedikit cemberut.
Shirou melirik ke arah Lefiya, dan sekilas ia menyadari bahwa kaos putih Lefiya telah menjadi transparan, memperlihatkan samar-samar bra berwarna pink di baliknya. Ia langsung merasa canggung, berdehem pelan untuk menutupi keterkejutannya. "Uh, Lefiya... mungkin kau sebaiknya ganti baju dulu," sarannya dengan nada tenang, meskipun ia sedikit memalingkan wajahnya untuk menghindari menatap lebih lama. "Biar aku saja yang membawa kantong itu. Lagi pula kau pasti merasa tidak nyaman."
Lefiya menatap Shirou dengan ekspresi bingung sejenak sebelum menyadari maksudnya. Wajahnya langsung memerah. "Ah, benar juga. Aku bahkan tidak sadar!" katanya malu-malu, menyerahkan kantong slime itu pada Shirou. "Terima kasih sudah memberitahu... aku akan ganti baju di kamarku. Kau tunggu saja di luar manor, nanti aku susul."
Shirou mengangguk sambil menerima kantong slime dari tangan Lefiya. "Baiklah. Jangan terburu-buru, aku akan menunggu," balasnya sambil tersenyum tipis.
Setelah Lefiya bergegas menuju kamar di lantai atas, Shirou menggelengkan kepalanya sambil menatap kantong slime di tangannya. "Betapa cerobohnya dia," gumamnya. Ia kemudian melangkah menuju dapur untuk mengambil bekal makan siang yang telah ia siapkan sebelumnya. Wajahnya masih menyiratkan senyuman kecil, meskipun pikirannya sedikit mengusik tentang kejadian tadi.
Di dapur, Shirou membuka lemari dan mengambil bekal yang telah ia persiapkan sebelumnya. Dua kotak bekal yang berisi nasi goreng jamur, harum aromanya sudah terasa saat ia mengangkatnya. Ia juga mengambil termos yang berisi teh dingin, memastikan tutupnya terpasang rapat agar minuman tetap segar. Kotak bekal, termos, dan kantong berisi slime yang masih sedikit lengket ia masukkan dengan hati-hati ke dalam tas ukuran sedang yang kini ia sandang di punggungnya.
Keluar dari dapur, Shirou melangkah melewati lorong manor yang mulai diterangi oleh cahaya matahari pagi. Udara segar menyambutnya saat ia keluar dari pintu depan. Ia berdiri di halaman manor, memandangi matahari yang baru saja mulai mengintip dari balik horizon. Langit berwarna oranye lembut, dan suasana pagi itu begitu tenang, hanya disertai suara burung yang berkicau.
Tak lama kemudian, Shirou mendengar langkah-langkah ringan yang mendekat. Lefiya muncul dari pintu manor dengan lari kecil, mengenakan kaos berwarna gelap yang jelas dipilih agar tidak transparan seperti sebelumnya. Ia tersenyum cerah, meskipun wajahnya sedikit memerah karena mengingat kejadian sebelumnya. "Aku tidak membuatmu menunggu lama, kan?" tanyanya sambil menyeka sedikit keringat di dahinya.
Shirou menggeleng dengan santai. "Tidak, kau tepat waktu. Bagaimana, sudah siap untuk melanjutkan proyek kita?"
"Siap sekali," jawab Lefiya sambil tersenyum. Mereka pun mulai berjalan bersama menuju forge yang terletak di belakang manor. Langkah mereka diiringi obrolan ringan tentang betapa cerahnya pagi itu, meskipun Lefiya sesekali melemparkan candaan kecil tentang 'kecelakaan kaos basah' sebelumnya, membuat Shirou tersenyum.
Setibanya di forge, ruangan itu sudah dipenuhi aroma besi dan kayu yang khas. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kecil, menambah kehangatan suasana. Di atas meja kerja utama, kerangka sepeda yang hampir selesai berdiri kokoh. Kilauan logamnya memantulkan cahaya, membuat Shirou merasa puas dengan hasil kerja mereka sejauh ini.
Namun, Lefiya berjalan menuju meja lain di sudut ruangan. "Shirou, aku akan mulai mempersiapkan eksperimen dengan slime ini. Bisa kau proyeksikan alat-alat alchemy yang kita ambil tadi?"
Shirou mengangguk. "Tentu saja." Ia meletakkan tasnya di lantai, lalu berdiri di depan meja kosong itu. Dengan konsentrasi penuh, ia memanggil satu per satu alat alchemy yang sebelumnya telah ia tracing. Sebuah tabung reaksi muncul, diikuti dengan cawan lebur, penjepit, mortar dan pestle, serta berbagai alat kecil lainnya. Masing-masing alat ia letakkan dengan rapi di meja, memastikan semuanya siap untuk digunakan.
Lefiya mengamati dengan mata berbinar. "Terima kasih, Shirou! Ini lebih memudahkan daripada aku harus membawa semuanya dengan tangan."
Shirou tersenyum kecil sambil merapikan tasnya kembali. "Senang bisa membantu. Nah, apa langkah pertama untuk eksperimen ini?" tanyanya, menatap Lefiya yang sudah terlihat penuh semangat di depan peralatan alchemy-nya.
Lefiya berdiri di depan meja alchemy-nya, mengarahkan pandangannya ke Shirou. "Shirou, bisa kau proyeksikan bangkai slime di samping peralatan ini? Aku ingin segera mulai eksperimennya," pintanya dengan nada antusias.
Shirou mengangguk dan mengangkat tangannya. Namun, alih-alih langsung memunculkan bangkai slime, ia terlebih dahulu memproyeksikan sebuah ember besar. Ember itu muncul dengan suara lembut, dan Shirou segera memproyeksikan bangkai slime ke dalamnya. Gumpalan hijau berlendir itu mengisi ember, sedikit bergoyang seolah masih hidup, sebelum akhirnya tenang.
Lefiya memandang ember itu dengan sedikit ekspresi jijik. "Aku akan gunakan slime hasil proyeksimu untuk eksperimen awal. Kalau aku sudah berhasil menemukan cara yang benar untuk mengubahnya jadi bahan ban, baru kita pakai slime asli dari tas ini," ujarnya sambil menunjuk tas di lantai.
Shirou tersenyum kecil. "Baik, tapi kalau kau butuh tambahan slime, cukup panggil aku. Dan, Lefiya, hati-hati, jangan sampai basah lagi seperti tadi pagi."
Namun, alih-alih mendengarkan nasihatnya, Lefiya justru mengambil segumpal lendir dari ember itu dengan tangan kosong. Wajahnya menampilkan ekspresi campuran antara keberanian dan rasa jijik. Dengan gerakan cepat, ia mengoleskan slime itu ke kaosnya sendiri. "Kalau nanti aku pasti akan kotor juga, lebih baik aku membiasakan diri dulu," katanya dengan nada bercanda.
Shirou terkejut. "Tunggu, kau serius melakukan itu?" tanyanya dengan mata sedikit melebar.
Lefiya mengangguk penuh percaya diri. "Tentu saja! Lihat ini!" Ia membusungkan dadanya ke arah Shirou, memperlihatkan bahwa kaos berwarna gelap yang ia kenakan kini sudah dilumuri lendir. "Setidaknya sekarang kaos ini tidak tembus pandang, kan?" candanya sambil tertawa kecil, mencoba menutupi rasa canggungnya.
Shirou memperhatikannya sesaat, dan meskipun kaosnya tidak transparan, slime yang basah membuat bahan kaos itu menempel erat pada tubuh Lefiya. Siluet tubuhnya terlihat lebih jelas, dan dada Lefiya yang cukup besar untuk seorang elf, Dalam benaknya, ia tak bisa menahan perbandingan dengan ukuran dada Sakura, juniornya dulu, yang memiliki tubuh serupa. Namun, ia segera menyingkirkan pikiran itu, merasa tidak pantas memikirkannya dalam situasi seperti ini.
Berusaha menjaga agar Lefiya tidak merasa canggung, Shirou mengalihkan perhatian. "Baiklah, kalau begitu aku akan melanjutkan menempa bagian sepeda di sana," ujarnya sambil menunjuk meja kerja di sisi lain ruangan.
Lefiya mengangguk tanpa curiga. "Baik! Kalau ada ide soal desain sepeda, beri tahu aku juga, ya!" katanya sambil kembali fokus pada ember berisi slime di hadapannya. Shirou tersenyum tipis sebelum berjalan menuju meja kerjanya, membiarkan Lefiya tenggelam dalam eksperimen alchemy-nya.
Lefiya memulai eksperimennya dengan mengambil ban sepeda yang ditinggalkan di forge sehari sebelumnya. Tas supporter tempat ban itu disimpan ia buka perlahan, dan ia mengeluarkan ban luar serta ban dalamnya. Ia meraba permukaan ban luar, merasakan tekstur kasar namun elastis yang terasa kuat di tangannya. Setelah itu, ia menekan ban dalam yang berisi udara, merasakan tekanan lembut di bawah jarinya.
"Hmm... ban luar ini tampaknya lebih mudah untuk dibuat ulang," gumamnya sambil meletakkan ban tersebut di bawah meja alchemy. Lefiya memutuskan untuk fokus pada eksperimen bahan ban luar terlebih dahulu, karena itu tampak lebih sederhana dibandingkan mencoba mereplikasi ban dalam yang harus memiliki keseimbangan tekanan udara.
Lefiya berdiri tegak sejenak, pikirannya melayang pada kenangan saat ia belajar alchemy di school district. Ia teringat guru alchemy-nya, seorang penyihir tua yang selalu memulai eksperimen dengan merapal mantra untuk mengaktifkan lingkaran sihir. Guru itu selalu tidak menyelesaikan mantranya, tetapi hanya memanggil energi yang cukup untuk menciptakan lingkaran sihir di bawahnya.
Lefiya tersenyum kecil. "Kalau begitu, aku juga akan mencoba," katanya pada dirinya sendiri. Dengan napas pelan, ia mulai merapal mantra dengan suara lembut namun penuh konsentrasi.
"I wish upon the name of Wishe. Ancestors of the forest, proud brethren. Answer my call and come to the plains. Connecting bonds, the pledge of paradise."
Mantranya terhenti di situ. Lefiya tidak berniat memunculkan Elf Ring-nya sepenuhnya. Sebaliknya, ia hanya mengarahkan energinya untuk membentuk lingkaran sihir bercahaya emas di bawah kakinya. Cahaya itu perlahan meluas, mengelilingi meja alchemy-nya dengan pola-pola rumit yang berkilauan seperti akar pohon yang saling terjalin.
Suara ketukan logam dari meja di sisi lain ruangan berhenti. Shirou, yang sedang menempa batangan besi menjadi bentuk pedal, menoleh ke arah Lefiya dengan alis terangkat. "Apa yang sedang kau lakukan, Lefiya?" tanyanya dengan nada ingin tahu.
"Hehe," Lefiya terkikik kecil, merasa puas dengan hasilnya. "Aku menggunakan lingkaran sihirku untuk mempermudah penerapan alchemy pada bangkai slime ini nanti," jawabnya dengan penuh percaya diri.
Shirou mengangguk, tertarik dengan metode Lefiya. "Itu teknik yang menarik. Kau belajar ini dari mana?"
"Tentu saja saat aku bersekolah dulu," jawab Lefiya sambil tersenyum bangga. "Guru alchemy kami sangat hebat, dan aku mencoba mengadaptasi metode mereka untuk eksperimenku."
Shirou tersenyum kecil sebelum kembali fokus pada pekerjaannya. "Baiklah, semoga berhasil. Kalau kau butuh bantuan, panggil aku," katanya sambil kembali menempa pedal dengan konsentrasi. Sementara itu, Lefiya menghela napas panjang, siap untuk memulai langkah berikutnya dalam eksperimen alchemy-nya.
Lingkaran sihir emas yang berpendar di sekitar meja alchemy Lefiya memberikan rasa percaya diri padanya. Meski ia tahu kemampuan sihirnya tidak sebanding dengan teknik Structural Analysis yang dikuasai Shirou, namun lingkaran ini cukup membantu. Energi dari lingkaran sihir membuat Lefiya lebih peka terhadap perubahan kecil pada bahan yang ia kerjakan, sebuah keuntungan yang sangat penting dalam eksperimen alchemy.
Di atas meja, Lefiya mulai bekerja dengan alat-alat yang Shirou proyeksikan. Pertama, ia mengambil retort kaca dan menuangkan cairan transparan yang sebelumnya ia siapkan ke dalamnya. Ia menambahkan serpihan bangkai slime proyeksi ke dalam cairan itu, kemudian menggunakan tongkat pengaduk dari logam untuk mencampur bahan-bahannya. Perlahan, ia memanaskannya dengan nyala api biru dari pembakar kecil.
"Harus hati-hati," gumamnya pelan, mencoba menjaga fokusnya. Asap tipis naik dari retort, meninggalkan aroma asam yang menyengat. Cairan dalam retort berubah menjadi hijau pekat, tanda bahwa reaksi awal berjalan sesuai rencana.
Namun, masalah mulai muncul saat Lefiya mencoba menuangkan cairan tersebut ke cetakan datar untuk membentuk lapisan elastis. Ketika cairan itu mendingin, bukannya membentuk bahan yang solid dan lentur seperti ban luar, hasilnya malah pecah-pecah seperti kaca rapuh.
"Ah, gagal lagi!" keluh Lefiya frustrasi. Ia mengusap dahinya yang mulai berkeringat, mencoba mempertahankan konsentrasi agar lingkaran sihirnya tetap aktif.
Ia mengulangi proses itu beberapa kali. Kali ini, Lefiya mencoba mengatur suhu dengan lebih hati-hati. Ia menambahkan bahan tambahan dari vial kecil, berharap reaksi kimianya lebih stabil. Namun, hasilnya tetap mengecewakan. Setiap kali cairan mendingin, bentuknya tidak sesuai harapan—terkadang terlalu keras, terkadang terlalu lengket.
Ketika waktu terus berjalan dan matahari semakin tinggi, kelelahan mulai menghampiri Lefiya. Energinya terkuras untuk mempertahankan lingkaran sihir dan berkonsentrasi penuh pada setiap langkah eksperimen. Ia menunduk, menatap hasil kegagalannya yang bertumpuk di meja, merasa putus asa.
"Apakah aku benar-benar bisa melakukannya?" bisiknya pada dirinya sendiri, hampir menyerah. Namun, saat ia mengangkat kepalanya, pandangannya jatuh pada Shirou.
Shirou berdiri tegap di sisi lain forge, tubuhnya bergerak konsisten saat ia menempa. Keringat mengalir di wajahnya, tapi ia tetap fokus. Dentang palu yang menghantam logam terdengar ritmis, seakan menjadi pengingat bahwa kerja keras tidak pernah sia-sia. Shirou tidak mengeluh meski pekerjaannya tampak melelahkan. Ia hanya terus melanjutkan tugasnya dengan tekad yang kokoh.
Melihat semangat Shirou, hati Lefiya kembali bergejolak. "Kalau Shirou bisa terus bekerja keras tanpa menyerah, maka aku juga harus begitu!" Ia menggenggam kedua tangannya, memaksa dirinya untuk bangkit kembali. Kali ini, ia memulai dengan pendekatan yang lebih teliti.
Lefiya menyesuaikan jumlah bahan yang ia gunakan, mengubah proporsi cairan slime dan bahan tambahan. Ia memperlambat proses pemanasan dan memastikan suhu tetap stabil. Setiap langkah ia lakukan dengan hati-hati, memastikan tidak ada kesalahan. Lingkaran sihir di bawah kakinya semakin lemah, tapi Lefiya tidak peduli. Dengan tekad yang membara, ia terus melanjutkan.
Hingga akhirnya, setelah berjam-jam mencoba, Lefiya menatap hasil akhirnya dengan mata berbinar. Di atas cetakan datar, terbentuk lapisan elastis berwarna hitam pekat. Teksturnya serupa dengan ban luar yang ia pelajari sebelumnya—lentur, kuat, dan memiliki ketahanan yang diinginkan.
"Aku berhasil!" seru Lefiya penuh semangat, mengangkat lapisan itu dari cetakan. Senyumnya lebar, matanya bersinar dengan rasa bangga yang sulit disembunyikan. Ia memandangi Shirou yang berhenti sejenak dari pekerjaannya, menoleh ke arahnya dengan senyum tipis.
"Bagus sekali, Lefiya. Aku tahu kau pasti bisa," ujar Shirou dengan nada tenang. Dentang palunya berhenti sejenak, memberikan penghormatan pada kerja keras Lefiya.
Dengan hati yang ringan, Lefiya menyeka keringat di dahinya, merasa bahwa segala usahanya terbayar. Ini baru awal, tapi keberhasilan kecil ini adalah bukti bahwa ia memiliki potensi untuk melangkah lebih jauh.
Shirou melangkah mendekat, memandangi hasil eksperimen Lefiya yang berhasil. Ia menyentuh lapisan elastis yang baru selesai itu, lalu dengan cepat mengaktifkan Structural Analysis-nya. Pandangannya terlihat fokus, seolah menilai setiap detail kecil yang tidak terlihat oleh mata biasa. Setelah beberapa detik, ia mengangguk pelan, tampak puas.
"Kerjamu bagus, Lefiya," puji Shirou dengan senyum tipis. "Struktur ini stabil. Sekarang waktunya kita mencoba menggunakan slime asli, dan kali ini dengan jumlah yang lebih banyak."
Lefiya menyembunyikan rasa lelahnya di balik senyum ceria. "Siap, Kapten!" serunya, berusaha terdengar antusias meskipun lingkaran sihir yang terus ia pertahankan sejak tadi sudah mulai menguras energinya.
Shirou memperhatikan wajahnya sejenak, lalu mengerutkan dahi. "Lefiya," katanya dengan nada lembut tapi tegas, "kalau kau merasa terlalu lelah, kita bisa lanjutkan nanti setelah istirahat. Aku tidak ingin kau memaksakan diri."
Namun, Lefiya langsung menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, Shirou. Kali ini prosesnya lebih sederhana. Aku sudah tahu langkah-langkahnya, jadi aku bisa melakukannya lebih cepat. Benar-benar tidak masalah," ucapnya dengan senyum yang meyakinkan.
Shirou menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pelan. "Baiklah, kalau kau yakin. Tapi jika kau merasa tidak sanggup, katakan saja."
Lefiya tersenyum penuh semangat dan segera mengambil kantong slime asli dari tas yang Shirou bawa tadi. Ia menuangkan slime ke dalam wadah pengukur, kali ini dengan jumlah yang jauh lebih banyak daripada eksperimen sebelumnya. Sambil memegang wadah itu, Lefiya dengan hati-hati mencatat rasio bahan tambahan yang ia gunakan, memastikan semuanya tetap seimbang seperti dalam percobaan sebelumnya.
Dengan penuh konsentrasi, Lefiya memulai proses alchemynya. Ia menuangkan slime ke dalam retort besar, menambahkan cairan katalis perlahan-lahan sambil terus mengaduknya menggunakan tongkat logam. Nyala api biru di bawah retort menyala stabil, menghangatkan campuran tersebut hingga mencapai suhu yang tepat. Aroma asam kembali memenuhi udara, tapi Lefiya tetap tenang.
Lingkaran sihir emas di bawah kakinya berpendar terang, memancarkan energi yang membantu memperkuat kendalinya terhadap proses kimia yang kompleks ini. Dengan aliran energi yang lembut, Lefiya merasakan perubahan pada slime. Cairan kental itu mulai mengental, berubah menjadi bahan yang lebih solid namun tetap elastis.
Namun, menjaga lingkaran sihir tetap stabil sambil mengontrol suhu dan pencampuran bahan membutuhkan konsentrasi penuh. Keringat mulai membasahi dahinya, tapi Lefiya tetap fokus. Dengan tangan gemetar, ia menuangkan bahan dari retort ke dalam wadah pencampur kedua untuk menyempurnakan teksturnya.
"Sedikit lagi," gumam Lefiya pada dirinya sendiri, memotivasi dirinya untuk bertahan.
Akhirnya, setelah beberapa menit penuh ketegangan, Lefiya menghela napas lega. Cairan elastis yang ia buat telah siap untuk dituangkan. Ia menoleh ke Shirou, yang telah bersiap dengan membawa cetakan bulat berbentuk ban yang ia proyeksikan sebelumnya.
"Aku selesai," kata Lefiya dengan senyum bangga, meskipun wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Shirou mengangguk, mengapresiasi kerja kerasnya. "Bagus sekali, Lefiya. Sekarang, mari kita tuangkan ke cetakan ini."
Dengan hati-hati, Lefiya menuangkan bahan elastis itu ke dalam cetakan bulat. Shirou membantunya memastikan semua permukaan cetakan terisi rata. Saat mereka menyelesaikan proses itu, Lefiya mundur sedikit, memandangi hasil pekerjaannya dengan perasaan puas.
"Ini terlihat lebih sempurna," ujar Shirou, memberi anggukan persetujuan. "Kau benar-benar melakukan pekerjaan luar biasa hari ini."
Lefiya tersenyum lemah tapi bahagia. "Terima kasih, Shirou. Aku tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuanmu."
Shirou hanya tersenyum dan berkata, "Ini semua karena kerja kerasmu sendiri. Sekarang, bagaimana kalau kita istirahat sejenak? Kau pasti membutuhkan waktu untuk memulihkan energi."
Lefiya tertawa kecil, akhirnya setuju. "Aku rasa itu ide yang bagus."
