Warning! Japan x Nesia [Oneshoot]

Ada ooc, ataupun oot, bahasanya sedikit aneh...

enjoy!!


Di bawah langit kelam yang diselimuti asap peperangan, di sebuah desa kecil di tanah Hindia, Kirana menulis surat di sudut rumahnya yang sederhana. Jemarinya bergerak perlahan, merangkai kata-kata yang hanya bisa ia sampaikan lewat lembaran kertas. Kata-kata yang tidak pernah bisa ia ucapkan langsung kepada suaminya.

Setiap surat yang ia tulis adalah harapan. Untuk suaminya yang telah lama pergi ke medan perang, untuk kehidupan yang mereka impikan, untuk anak yang masih di dalam kandungannya. Namun surat-surat itu tak pernah dikirim. Mereka tersimpan di peti kayu kecil di pojok kamar, menunggu seseorang yang mungkin akan membacanya suatu hari nanti.

Lalu pada malam itu, suara langkah berat mendekati rumahnya. Kirana bergegas keluar, berharap menemukan sosok yang selama ini ia nantikan. Sosok dengan seragam putih yang sudah kotor oleh debu dan bersimbah darah.

"... Kiku." bisiknya lirih.

Lelaki itu berdiri di hadapannya, matanya lelah, tubuhnya penuh luka yang belum sepenuhnya mengering. Ia tidak membawa pedang, hanya membawa dirinya sendiri yang hampir tak utuh.

"... *ただいま"

Kirana menahan air matanya. Ia berlari memeluknya erat, memastikan bahwa ini bukan sekadar mimpi. Tapi peperangan telah mengubah mereka. Ada jarak di antara mereka yang tidak bisa dijembatani begitu saja.

Hari-hari pun berlalu, dan Kirana merawat suaminya dalam diam. Kiku tak banyak bicara, tetapi setiap malam ia duduk di depan rumah membaca surat-surat yang Kirana tulis untuknya. Ia tahu bagaimana istrinya selalu menunggunya, setiap kata yang tertulis adalah doa yang tak pernah sampai.

Sampai pada suatu malam, Kirana menemukan selembar kertas di meja kayu mereka. Tulisan tangan yang ia kenali dengan baik.

"Aku ingin kau percaya bahwa aku kembali untukmu, bahwa aku pulang untuk menepati janji-janji kita. Tapi aku tahu tubuhku saja yang kembali, sementara jiwaku masih tertinggal di medan perang. Kirana, aku takut aku tidak bisa menjadi suami yang sama seperti dulu."

Kirana menggenggam kertas itu erat. Ia tahu luka perang tidak hanya menggores tubuh, tetapi juga hati.

"Kiku, kau sudah pulang. Itu cukup," bisiknya, sebelum menulis balasan di lembaran yang lain.

Namun dunia tidak pernah memberi mereka waktu yang cukup.

Pada dini hari yang sunyi, suara derap kaki kuda terdengar mendekat. Kiku terbangun, menatap Kirana di sebelahnya dengan mata yang tiba-tiba dipenuhi kegelisahan.

"Mereka datang mencariku,"

Kirana menggeleng, menggenggam tangannya erat. "Kita bisa pergi."

"Tidak. Aku tidak mau melibatkanmu dalam hal ini."

Kiku dengan cepat merapihkan pakaiannya yang kembali dalam kondisi bagus berkat Kirana, sebelum istrinya bisa berkata lebih banyak, Kiku menyelipkan sesuatu ke tangannya—sebuah surat yang telah ia tulis diam-diam.

"*愛しているよ, baca nya nanti saja, dan kali ini, aku berdoa supaya aku bisa kembali lagi dengan tubuh yang utuh, aku tidak sabar untuk kelahiran anak kita." Itu kata terakhirnya, sebelum bayangannya menghilang di balik gelapnya malam.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tidak ada kabar, tidak ada surat.

Lalu keesokan harinya, Kiku tiada.

Bukan surat dari suaminya yang ia terima, melainkan berita kematian. Kiku gugur dalam peperangan terakhirnya.

Kirana tidak menangis. Ia hanya membuka surat terakhir yang diberikan suaminya, membacanya perlahan di bawah cahaya lilin yang redup.

"Kirana, jika aku tidak kembali, berjanjilah padaku untuk tetap menulis. Menulislah untuk dunia, untuk anak kita, dan jika kau masih bisa… tulislah untukku. Karena di mana pun aku berada, aku akan membaca setiap kata yang kau rangkai."

Kirana tahu bahwa nama Kiku mungkin hanya akan terukir di daftar prajurit yang gugur, namun terukir di dalam hatinya, selamanya.

Lalu malam itu dengan tangan gemetar, Kirana menulis surat baru.

"Untukmu, Kiku Honda,

Aku tidak tahu apakah kau akan membaca ini, atau apakah dunia akan memberimu waktu untuk melakukannya. Tapi seperti surat-surat lainnya, aku tetap menulis.

Kau kembali kepadaku, meski hanya sebentar. Kau membaca surat-suratku seolah-olah di dalamnya ada sesuatu yang bisa menyelamatkanmu, padahal aku sendiri menulisnya untuk mencari penyelamatanku.

Aku ingin percaya bahwa di dunia lain bukan perang yang memisahkan kita. Aku ingin percaya bahwa kau tidak harus pergi, dan aku tidak harus ditinggalkan.

Tapi kita hidup di dunia ini. Dunia tidak mengizinkan kita berharap lebih dari yang seharusnya.

Jika suatu saat kau membaca surat ini, dan jika dunia masih memberimu ruang untuk mengingatku, ketahuilah bahwa aku juga mengingatmu."

Dia yang akan terus menuliskan doa-doanya, Kirana.


YAYYY ini fanfic angst pertamaku xD gomen kalo ada kesalahan kata atau tidak baku, serta kurang sedih :( /plak, tapi so far so good lah ya~~~

(: Tadaima= Aku pulang.)

(:Aishiteruyo= Aku mencintaimu.)