Chapter 88
Lefiya kembali ke kursinya yang berada tak jauh dari anvil, mengamati Shirou yang mempersiapkan bahan-bahannya. Dengan nada penasaran, ia bertanya, "Jadi, apa kamu sudah memikirkan apa yang akan kamu tempa, Shirou?"
Shirou tersenyum kecil, sedikit bermain-main dengan rasa ingin tahu Lefiya. "Nanti kamu akan melihat sendiri," jawabnya, suaranya terdengar tenang namun penuh teka-teki.
Lefiya mendesah, cemberut sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Akhir-akhir ini kamu jadi suka bersikap misterius. Rasanya seperti sedang membaca buku yang menyembunyikan halaman terakhirnya."
Shirou tertawa kecil mendengar keluhan itu. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya menyeringai sebelum beralih fokus pada blueprint yang terlintas di pikirannya—sebuah busur sederhana berwarna abu-abu. Desainnya cukup praktis dan ideal bagi seorang pemula dalam menempa.
"Baiklah, dimulai dari sini," gumam Shirou pelan pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata, mengingat kembali langkah-langkah dari mantra tracing magecraft-nya. "Step four: Imitating the skill of its making." Seperti ada sebuah memori yang bukan miliknya mengalir masuk, memberikan pemahaman mendalam tentang cara menempa busur itu.
Begitu ia membuka mata, tangannya langsung bergerak dengan presisi. Ia mengangkat palu dan mulai memukul batang besi yang telah dipanaskan di atas anvil. Suara dentingan logam yang bertemu dengan palu memenuhi ruangan, menciptakan ritme kerja yang konsisten. Setiap ayunan tampak terukur, menunjukkan keahliannya meskipun ini pertama kalinya ia benar-benar menempa sesuatu.
Sementara itu, Lefiya hanya duduk diam, matanya terpaku pada Shirou. Pandangannya tak hanya tertuju pada gerakan tangan Shirou yang terampil, tetapi juga pada tubuhnya yang mulai berkeringat. Tank top putih yang ia kenakan menempel pada kulitnya, memperlihatkan lekuk otot di lengan dan dadanya. Wajah Lefiya perlahan memerah, pikirannya melayang pada betapa menariknya Shirou terlihat dalam keseriusannya.
Tanpa sadar, ia menggumam pelan, "Kenapa dia harus terlihat seperti itu saat bekerja..." Suaranya begitu kecil sehingga hampir tidak terdengar, tetapi senyumnya yang malu-malu tidak bisa disembunyikan. Namun, ia segera mengalihkan pandangannya, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal itu dan berfokus pada pekerjaan Shirou yang sedang berlangsung.
Suara dentingan logam terdengar berulang-ulang, memenuhi ruangan yang sebelumnya sunyi. "Klang, klang, klang," bunyi palu yang menghantam batang besi dengan ritme yang stabil. Shirou bekerja dengan penuh konsentrasi, memperbaiki bentuk busur yang perlahan mulai terlihat. Ketika bagian atas busur telah bengkok sesuai keinginannya, ia meletakkan palu sejenak dan mengambil batang logam panas itu dengan penjepit, lalu merendamnya dalam ember air di sampingnya.
Suara desisan uap muncul saat logam panas menyentuh permukaan air. "Ssshhhhh..." Asap tipis membubung, memberikan sedikit nuansa dramatis pada ruangan yang sudah dipenuhi cahaya api dari tungku.
Saat menunggu logam itu dingin, Shirou menoleh ke arah Lefiya, bermaksud memastikan keadaan temannya. Namun, yang ia lihat adalah Lefiya yang tampak canggung. Gadis itu dengan cepat mengambil buku yang tadi ia bawa, berpura-pura tenggelam dalam bacaan seolah-olah ia tidak sedang mengawasinya. Shirou sedikit bingung melihat usahanya, tetapi kemudian pandangannya berubah khawatir.
Ia menyadari kaos Lefiya yang semakin lembap, menunjukkan bahwa panas dari tungku mulai membuat gadis itu berkeringat. Shirou mendekat, berjalan pelan ke arahnya. Lefiya, yang pura-pura sibuk membaca, langsung tersentak ketika Shirou berdiri di depannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Shirou sambil memproyeksikan sebuah pedang sihir kecil berlapis es. Pedang itu memancarkan hawa dingin yang menyegarkan. Ia menyerahkannya pada Lefiya. "Ini, gunakan untuk mengurangi panasnya."
Lefiya terkejut, matanya membesar saat menerima pedang sihir tersebut. Begitu tangannya menggenggam gagang pedang itu, hawa sejuk langsung menyelimuti dirinya, menggantikan panas yang sebelumnya ia rasakan. Ia tersenyum kecil, wajahnya memerah bukan karena panas lagi, tetapi karena perhatian Shirou yang begitu tulus.
"Terima kasih, Shirou," ucapnya dengan suara pelan.
Shirou hanya mengangguk sebelum kembali ke anvil untuk melanjutkan pekerjaannya. Dentingan palu kembali terdengar, sementara Lefiya duduk diam di kursinya. Pedang sihir es itu masih ia genggam erat, memberikan kesejukan di telapak tangannya. Namun, lebih dari itu, ia merasakan kehangatan yang berbeda—kehangatan dari perhatian Shirou yang membuat hatinya sedikit berdebar. Dengan senyum tipis di wajahnya, Lefiya membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa nyaman itu, meski pikirannya masih berusaha tenang.
Shirou terus bekerja dengan penuh fokus, palu di tangannya bergerak dengan terukur, memukul bagian bawah busur yang perlahan mulai mengambil bentuk sempurna. Sementara itu, Lefiya duduk tenang di kursinya, pedang sihir es yang masih menggenggamnya memberikan rasa sejuk di tengah suhu panas ruangan. Namun, perhatian Lefiya lebih tertuju pada Shirou. Setiap gerakannya—mulai dari ayunan palu hingga tarikan napasnya—membuat Lefiya semakin terpesona.
Saat sore menjelang, akhirnya Shirou menghentikan pekerjaannya. Dengan tangan yang mantap, ia membawa busur yang hampir selesai itu ke ember berisi air. Bunyi desis terdengar saat logam panas menyentuh air, menghasilkan uap yang menyelimuti Shirou sejenak. Setelah memastikan logam itu cukup dingin, Shirou mengangkat busur tersebut dari air dengan hati-hati.
Lefiya yang penasaran segera mendekat, matanya berbinar saat melihat hasil kerja keras Shirou. "Apa itu sudah selesai?" tanyanya dengan penuh antusias.
"Masih butuh sedikit sentuhan akhir," jawab Shirou sambil memeriksa busur itu.
Lefiya langsung teringat sesuatu. "Tunggu sebentar!" katanya, sebelum mulai menggeledah salah satu kotak tua yang berada di sudut ruangan. Setelah beberapa saat mencari, ia menemukan sebuah tali busur yang masih dalam kondisi cukup baik. "Ini, mungkin ini cocok untuk busurmu," ucapnya sambil menyerahkan tali itu pada Shirou.
Shirou mengambil tali tersebut dengan anggukan kecil. "Terima kasih, Lefiya." Dengan telaten, ia memasang tali itu pada busur yang telah selesai ia tempa, memastikan semuanya terpasang dengan sempurna. Setelah selesai, Shirou menyerahkan busur abu-abu sederhana itu kepada Lefiya.
"Untukmu," katanya sambil tersenyum tipis.
Lefiya menerima busur itu dengan hati-hati, tangannya meraba permukaan logam yang dingin. Saat ia melihat lebih dekat, sebersit memori muncul di benaknya. Ia menatap Shirou dengan ekspresi penuh kejutan. "Busur ini... ini sama persis dengan busur yang pernah kubelikan untukmu saat kau baru bergabung dengan Loki Familia!" serunya.
Shirou mengangguk pelan, senyum kecil muncul di wajahnya. "Aku memang sengaja membuatnya mirip. Itu busur pertamaku di sini, dan aku ingin mengenangnya melalui ini. Terima kasih karena telah memilih busur itu untukku dulu."
Mendengar itu, Lefiya merasa hatinya hangat. Ia tersenyum penuh arti sambil menggenggam busur tersebut dengan erat. "Busur ini pasti akan menjadi kenangan yang sangat berharga bagiku juga."
Setelah selesai menempa, Shirou dan Lefiya mulai membereskan sisa-sisa pekerjaan mereka. Shirou memindahkan alat-alat tempa ke tempat semula, sementara Lefiya membantu dengan membersihkan sisa debu dan merapikan kotak-kotak tua yang mereka buka sebelumnya. Meski lelah, suasana hati mereka terasa ringan, terutama dengan busur baru yang kini dipeluk Lefiya erat-erat di dadanya.
Ketika semua sudah rapi, mereka berjalan beriringan meninggalkan forge, menuju Twilight Manor. Di tengah perjalanan, Lefiya menatap busur di tangannya dengan ekspresi rumit. "Shirou, aku harus jujur," katanya pelan, "Aku sama sekali tidak bisa memanah."
Shirou menoleh dengan alis terangkat. "Tidak bisa memanah? Aku pikir Elf biasanya jago memanah. Lihat saja Riveria, dia—"
Lefiya mendengus kecil, menghentikan langkahnya dan memelototi Shirou. "Dengar, Shirou. Tidak semua Elf itu sama! Lady Riveria itu pengecualian. Beliau memang berbakat secara alami, sedangkan aku... yah, aku tidak pernah punya bakat itu."
Shirou tersenyum mendengar nada suaranya yang penuh protes. Ia merasa Lefiya terlihat cute saat kesal. "Baiklah, baiklah. Kalau begitu," katanya dengan nada menenangkan, "bagaimana kalau aku yang mengajarkanmu? Memanah tidak sulit jika kau berlatih dengan benar."
Lefiya terkejut sejenak mendengar tawaran Shirou, namun ekspresinya segera berubah menjadi semangat. "Kalau begitu, kenapa menunggu? Ayo kita latihan sekarang juga!" katanya dengan penuh antusias. Ia bahkan melangkah lebih cepat.
Shirou merasa geli melihat semangat Lefiya yang tiba-tiba meluap. "Sabar dulu, Lefiya. Kita perlu cari tempat yang cocok untuk berlatih. Juga, busur itu baru saja kutempa—setidaknya beri waktu bagiku untuk memastikan kualitasnya sebelum digunakan."
Namun, Lefiya sudah berjalan lebih dulu, menoleh ke belakang sambil berkata, "Kalau kau lambat, aku akan mulai sendiri!"
Shirou hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Baiklah, baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti busurmu perlu diperbaiki lagi." Dia mempercepat langkahnya untuk menyusul Lefiya yang tampak semakin tidak sabar. "Tunggu aku, Lefiya. Kita lakukan ini bersama-sama."
Lefiya dengan semangat memimpin jalan, melangkah ringan menuju bangunan latihan fisik di sisi Manor. Shirou mengikuti di belakangnya, memperhatikan bagaimana senyum cerah Lefiya tampak semakin berseri-seri di bawah sinar matahari senja. Bangunan itu, meskipun sederhana, terlihat hangat dengan cahaya keemasan yang masuk melalui jendela-jendela besar.
Begitu mereka masuk, Shirou berkata, "Kita kembali lagi ke sini, ya. Rasanya baru tadi pagi aku ada di sini untuk membantu Aiz menghindari tebasan Tsubame Gaeshi."
Lefiya menoleh dengan senyum lebar, matanya berbinar. "Betul! Dan sekarang giliranku. Tadi pagi kau membantu Aiz sekarang kau harus membantuku!" katanya penuh antusias.
Shirou hanya mengangguk sambil mulai mempersiapkan tempat latihan. Ia memasang beberapa target memanah di ujung ruangan dengan hati-hati, memastikan semuanya stabil. Setelah itu, ia mengangkat tangannya dan menggunakan magecraft untuk memproyeksikan satu quiver penuh dengan anak panah beserta sabuk untuk menaruhnya. Dengan sedikit gaya, ia menyerahkan quiver tersebut pada Lefiya. "Ini, untukmu," ujarnya lembut.
Lefiya menerima quiver itu dengan tatapan sedikit gugup. Ia mencoba memasangnya di pundaknya, tetapi tali sabuknya sedikit melorot, membuatnya terlihat agak canggung. Shirou geli melihat usaha Lefiya, tetapi memilih untuk tidak berkomentar.
"Baiklah, Lefiya," kata Shirou, melangkah mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang. "Sekarang, coba tembakkan satu anak panah ke target itu."
Lefiya mengerutkan kening, bingung dengan arahan Shirou. "Eh? Bukankah kau bilang tadi kau akan mengajarkanku?" tanyanya dengan nada protes.
Shirou hanya menyeringai, ekspresi wajahnya terlihat agak nakal. "Aku akan mengajarkanmu," jawabnya santai. "Tapi sebelum itu, aku ingin melihat seberapa baik kemampuanmu sekarang. Jangan khawatir, aku tidak akan menertawakanmu."
Lefiya memandang Shirou dengan tatapan setengah percaya, setengah kesal. "Awas saja kalau kau tertawa," katanya dengan nada mengancam, meskipun pipinya sedikit memerah karena canggung.
Shirou hanya mengangguk pelan, menyilangkan tangan di depan dada sambil memperhatikan. Lefiya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dengan cemberut kecil, ia mulai bersiap untuk menembakkan panah pertamanya.
Lefiya menyiapkan kuda-kudanya, lalu meletakkan anak panah pertamanya dengan hati-hati. Ia mengangkat busurnya, membidik target yang terletak di ujung ruangan, dan melepaskan tembakan. Namun, alih-alih mengenai target utama, anak panahnya meleset dan menancap di target sebelahnya—tepat di bagian dada gambar target tersebut.
Wajah Lefiya memerah karena malu, tapi ia langsung memasang senyum percaya diri. "Eh-hehe, aku memang membidik target itu dari awal!" katanya, berusaha terdengar meyakinkan.
Shirou yang berdiri di dekatnya hanya menyeringai tipis, menahan senyum lebar. Ia mengulurkan tangan di depan dadanya dan berkata dengan tenang, "Baiklah, kalau begitu, teruskan saja. Aku ingin melihat seberapa hebat keahlianmu."
Dalam hati, Lefiya menyesali kebohongan kecilnya. Kenapa aku harus pura-pura hebat? Sekarang aku harus membuktikan sesuatu yang jelas-jelas tak bisa kulakukan! Aduh, ini buruk! pikirnya sambil menggigit bibir. Namun, ia tak ingin terlihat menyerah begitu saja.
Ia kembali menyiapkan anak panah berikutnya. Kali ini, tembakannya meleset lebih jauh, bahkan tidak mengenai papan target sama sekali. Tapi yang membuatnya terkejut, Shirou tidak menunjukkan tanda-tanda mengejek. Ia hanya mengangguk pelan, seolah memberikan dukungan tanpa kata-kata. Tatapan Shirou yang tenang justru membuat Lefiya semakin ingin berusaha.
"Baiklah, aku akan mencoba lagi!" gumam Lefiya, setengah untuk dirinya sendiri. Ia terus menembakkan panah demi panah, namun hasilnya tetap sama—semua meleset. Entah menancap di dinding, di lantai, atau bahkan terpental ke sudut ruangan. Setelah sepuluh tembakan yang gagal, Lefiya akhirnya menurunkan busurnya dan menghela napas panjang.
"Baiklah, aku menyerah!" katanya dengan suara sedikit kesal, tetapi ada nada manja di dalamnya. Ia menoleh ke arah Shirou, menatapnya dengan mata sedikit memohon. "Sekarang, tolong ajarkan aku. Kau kan janji akan membantuku!"
Shirou tertawa kecil melihat Lefiya yang tampak putus asa namun tetap bersemangat. "Oke, oke. Aku akan mengajarkanmu sekarang," katanya sambil melangkah mendekat. "Tapi pertama-tama, kita mulai dari posisi dasar. Kalau tidak, kau bisa merusak busur ini sebelum berhasil mengenai target."
Shirou berjalan mendekati Lefiya dengan langkah tenang. "Coba tahan posisi itu sebentar," katanya sambil mengangkat tangannya untuk memperbaiki postur Lefiya. Dengan lembut, ia menyesuaikan posisi bahu dan lengan Lefiya, memastikan busurnya dipegang dengan benar. "Lefiya, kalau posisi tubuhmu seperti ini, panahmu akan lebih stabil," tambahnya sambil mengarahkan siku Lefiya sedikit lebih tinggi.
Lefiya tetap diam, tubuhnya kaku, tetapi bukan karena gugup tentang memanah. Rasanya perhatian Shirou yang begitu fokus padanya, gerakannya yang hati-hati, dan jaraknya yang begitu dekat membuat pipinya mulai terasa hangat. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya seakan tersangkut di tenggorokan. Begini rasanya mendapat perhatian penuh dari Shirou... pikirnya, mencoba menikmati momen itu.
"Baik," kata Shirou setelah beberapa saat, mundur sedikit untuk melihat hasilnya. "Sekarang posturmu sudah benar. Cobalah rileks. Tarik napas dalam-dalam, fokus pada target, dan lepaskan ketika aku memberi aba-aba."
Lefiya menuruti instruksi Shirou. Ia menarik napas pelan, mencoba mengosongkan pikirannya, dan mengarahkan busur pada target yang jauh di depannya. "Sekarang... tembak!" perintah Shirou tegas namun lembut.
Anak panah meluncur dari busur dengan kecepatan yang cukup baik. Meskipun belum mengenai titik tengah sasaran, kali ini panahnya setidaknya menancap di papan target. Lefiya membuka matanya lebar-lebar, setengah tidak percaya. "Aku mengenai target!" serunya, wajahnya bercahaya penuh semangat.
Shirou mengangguk sambil tersenyum. "Hebat, itu jauh lebih baik daripada sebelumnya. Kau sudah mulai memahami tekniknya."
Semangat Lefiya semakin membara. Ia kembali menyiapkan anak panah berikutnya, kali ini dengan lebih percaya diri. Tembakan demi tembakan ia lepaskan. Tidak semuanya mengenai sasaran dengan sempurna, tetapi setidaknya hasilnya semakin membaik. Beberapa panah bahkan mulai mendekati pusat target.
"Kau semakin mahir," ujar Shirou dengan nada memuji. "Hanya perlu sedikit latihan lagi, dan kau pasti bisa melakukannya dengan sempurna."
Wajah Lefiya bersinar lagi, bukan hanya karena pujian Shirou, tetapi juga karena kegembiraan yang ia rasakan. "Terima kasih, Shirou. Aku tidak akan menyerah!" katanya dengan penuh tekad, matanya berbinar-binar.
Lefiya berdiri dengan busur di tangannya, matanya terpaku pada target di depan. Namun, pikirannya tidak benar-benar pada papan itu. Aku ingin dia memperhatikanku lagi... pikirnya, mengenang bagaimana Shirou tadi dengan sabar membantunya, memperbaiki posisinya, dan berbicara dengan nada yang begitu lembut. Rasanya nyaman dan... istimewa. Dia menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu, tetapi keinginan itu tetap mengakar.
Lefiya melepaskan anak panah berikutnya, sengaja membidik jauh dari target. Panah itu terbang melewati papan dan menancap di tanah. "Ah... aku masih belum bisa!" katanya dengan nada lemah, berpura-pura frustasi. Ia menoleh pada Shirou dengan ekspresi memohon. "Shirou, bisakah kau mengajarkanku sekali lagi? Aku benar-benar tidak tahu apa yang salah."
Shirou, yang tidak menyadari niat nakal Lefiya, hanya tersenyum sabar. "Tentu saja. Jangan khawatir, kita akan memperbaikinya." Ia kembali berjalan mendekati Lefiya, berdiri di sisinya, dan dengan hati-hati menyentuh lengannya untuk memperbaiki posisi. "Coba angkat sedikit siku kirimu. Ya, seperti itu. Dan pastikan kau tidak terlalu tegang saat menarik tali busurnya."
Lefiya hampir tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia menikmati perhatian Shirou yang sepenuhnya tertuju padanya. Tetapi ia berusaha tetap terlihat serius. "Tapi, Shirou... apakah aku memegang busurnya dengan benar? Mungkin posisinya masih salah?" tanyanya, dengan nada yang sedikit manja.
Shirou memiringkan kepalanya, memperhatikan posisi Lefiya dengan cermat. "Baiklah, aku akan membenarkannya lagi," katanya, mengambil tangan Lefiya dengan lembut dan mengarahkan jari-jarinya agar memegang busur dengan benar. "Seperti ini. Kau akan merasa lebih stabil."
Perasaan hangat menjalar di tubuh Lefiya. Ia tahu Shirou hanya berusaha membantu, tetapi setiap sentuhannya terasa begitu tulus dan penuh perhatian. "Terima kasih, Shirou," katanya pelan, suaranya nyaris berbisik.
Dengan bimbingan Shirou, Lefiya kembali mencoba menembak. Kali ini, ia memusatkan semua fokusnya, baik pada teknik maupun pada keinginannya untuk membuat Shirou bangga. Ia menarik napas dalam-dalam, menarik tali busur perlahan, dan kemudian melepaskan anak panah terakhirnya.
Panah itu meluncur cepat, terbang lurus, dan akhirnya menancap tepat di tengah sasaran. "Aku berhasil!" serunya, matanya bersinar penuh kebahagiaan.
Shirou tersenyum lebar. "Kerja bagus, Lefiya. Kau sudah jauh lebih baik dari tadi. Aku tahu kau bisa melakukannya."
Lefiya memandang Shirou, hatinya meluap dengan rasa senang. Kalau begini, aku tidak keberatan meleset lagi... pikirnya, meskipun kali ini ia memastikan dirinya menyimpan pikiran itu untuk dirinya sendiri.
Setelah sesi latihan memanah Lefiya selesai, Shirou mendekat dengan langkah ringan. "Lefiya, boleh aku meminjam busur itu sebentar?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Lefiya mengangguk tanpa ragu dan menyerahkan busur abu-abu yang baru saja mereka gunakan. Shirou menerima busur itu dengan hati-hati, memegangnya seperti sesuatu yang berharga. Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan energinya untuk melakukan Structural Analysis. Matanya kemudian terbuka, dan tanpa banyak bicara, ia mulai memproyeksikan beberapa anak panah, yang satu per satu meluncur dari busur itu. Setiap anak panahnya menancap dengan sempurna di tengah target.
Lefiya berdiri dengan tangan di pinggang, alisnya sedikit berkerut. "Apa Shirou mau pamer? Aku baru saja belajar, dan kau langsung menunjukkan kehebatanmu," gumamnya dengan nada cemberut, meskipun sebagian kecil dari dirinya juga kagum.
Namun, sebelum ia bisa berkata lebih banyak, Shirou menyandang busur itu di punggungnya dan memproyeksikan busur yang sama di tangannya. Dengan tenang, ia kembali memanah. Hasilnya sama—semua panah menancap sempurna di tengah sasaran, tak ada satu pun yang meleset.
Setelah selesai, Shirou memudarkan busur proyeksi itu, lalu melepaskan busur asli dari punggungnya. Ia menyerahkannya kembali kepada Lefiya dengan sikap tenang. "Ini, busurmu kembali," katanya.
Lefiya menerima busur itu dengan ekspresi yang masih bingung. "Shirou, apa sebenarnya yang kau lakukan tadi? Kenapa memanah dengan dua busur yang sama?" tanyanya, nada penasarannya tak bisa disembunyikan.
Shirou tersenyum tipis. "Aku hanya ingin membandingkan busur ini, hasil tempaanku, dengan busur yang aku proyeksikan menggunakan magecraft. Ingin tahu seberapa baik aku melakukannya."
Lefiya memiringkan kepalanya. "Lalu, bagaimana hasilnya?"
Shirou menghela napas pelan dan menggeleng. "Busur yang kutempa ini sedikit lebih buruk dibandingkan busur hasil proyeksiku. Aku masih perlu banyak belajar."
Lefiya terdiam sejenak, merenung, lalu tersenyum kecil mengambil kesimpulan. "Jadi kalau diurutkan," gumamnya, "busur yang dibuat oleh penempa asli berada di puncak, lalu busur hasil projeksimu, dan terakhir busur hasil tempaanmu ini?"
Shirou mengangguk perlahan, tampak sedikit kecewa. "Sepertinya begitu."
Namun, sebelum Shirou bisa mengatakan apapun lagi, Lefiya tiba-tiba memeluk busur abu-abu itu erat-erat di dadanya. Ia menatap Shirou dengan tatapan penuh semangat dan berkata dengan tegas, "Aku tidak peduli kalau busur ini adalah yang terburuk. Bagiku, busur yang kau tempa ini adalah yang terbaik!"
Shirou tertegun mendengar perkataannya. Senyumnya perlahan muncul kembali, dan ia mengangguk dengan lembut. "Terima kasih, Lefiya. Itu berarti banyak bagiku."
Lefiya hanya mengangguk sambil tersenyum hangat, memeluk busur itu seolah merupakan harta paling berharga yang pernah dimilikinya.
Mereka melangkah keluar dari bangunan latihan dengan langkah santai, diiringi suara langkah kaki yang bergema pelan di koridor. Langit di luar sudah berubah menjadi kanvas senja dengan warna oranye dan ungu gelap yang memudar, sementara bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Udara dingin malam mulai terasa, namun keheningan di antara mereka lebih menyita perhatian Lefiya.
Shirou berjalan di sisi Lefiya, tetapi raut wajahnya tampak suram. Pikirannya dipenuhi keraguan. Haruskah aku melanjutkan menempa? batinnya bertanya-tanya. Meski ia memiliki kemampuan untuk meniru teknik penempa asli melalui Tracing, hasil kerja kerasnya tadi bahkan tidak bisa menyaingi hasil dari busur yang ia proyeksikan. Kalau begitu, apa gunanya aku belajar menempa? pikirnya dengan berat hati.
Lefiya melirik Shirou dengan khawatir. Ia mengenal tatapan itu—tatapan seseorang yang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Betapa sering Shirou hadir untuk menyemangatinya, memberinya dorongan di saat ia merasa lemah. Kini, giliran Lefiya untuk melakukan hal yang sama. Ia menarik napas dalam-dalam dan memutuskan untuk bicara.
"Shirou," panggilnya dengan suara lembut namun tegas, membuat Shirou menoleh ke arahnya dengan ekspresi bertanya. "Kau tahu, ini baru pertama kalinya kau mencoba menempa. Tidak ada yang langsung sempurna di awal, tapi aku yakin, suatu hari kau akan jadi penempa yang luar biasa."
Shirou tersenyum lemah, sedikit skeptis. "Lefiya, meskipun aku terus belajar, bukankah akan lebih cepat kalau aku cukup memproyeksikan senjata saja? Aku bisa membuat senjata yang persis seperti milik orang lain tanpa harus melalui semua ini."
Lefiya menghentikan langkahnya dan berdiri di depannya, menatapnya dengan mata yang penuh keyakinan. "Bukan itu intinya, Shirou. Kau tidak hanya meniru, kau bisa menciptakan sesuatu yang unik, sesuatu yang benar-benar milikmu. Aku bisa membayangkan kau menempa senjata baru untuk Aiz, kapak besar untuk Gareth, atau tombak yang sempurna untuk Finn. Dan siapa yang tahu? Mungkin suatu hari nanti kau akan membuat senjata yang bahkan lebih hebat daripada senjata yang ada di Orario."
Shirou terdiam mendengar kata-katanya, melihat keyakinan yang terpancar dari mata Lefiya. Ia menghela napas panjang, namun kali ini senyuman kecil menghiasi wajahnya. "Baiklah, kalau kau percaya padaku, aku akan melanjutkan. Besok aku akan mencoba lagi. Aku tidak ingin mengecewakan kepercayaanmu."
Lefiya tersenyum lebar, menahan kegembiraan yang meletup di dalam dirinya. "Bagus! Itu baru Shirou yang aku kenal," katanya, langkahnya kembali ringan saat mereka melanjutkan perjalanan.
Namun, di dalam hatinya, Lefiya menyimpan kebahagiaan kecilnya sendiri. "Besok aku akan menghabiskan waktu bersamanya lagi. Mungkin aku tidak bisa membantunya menempa, tapi setidaknya aku bisa ada di sana untuk mendukungnya," pikirnya sambil terus memeluk busur abu-abu yang ia bawa, merasa malam itu lebih hangat dari biasanya.
