"Jadi sekarang kau adalah pacar dari Henry Fox?" sahut June dengan mata berbinar dan senyum kelewat lebar. Saudarinya itu menghempaskan diri di sofa setelah mengambil gelasnya dari dapur sembari terus menjinjing sebotol wine yang ia bawa.

Alex memutar bola mata. Mengambil satu gelas yang diangsurkan June.

Kakak perempuannya itu segera meluncur ke apartemennya setelah Nora memberitahunya bahwa Alex menerima pekerjaan itu dengan segala tetek bengek yang menyertainya. Ia masih dalam balutan kemeja blus pink dan rok pensil hitam pertanda bahwa ia langsung menemui Alex begitu jam kerjanya berakhir.

"Pacar pura-pura," koreksi Alex, "secara realitanya, aku tetap hanyalahbodyguard-nya."

June melambaikan tangan seolah mengisyaratkan kata-katanya tidak penting. "You still can tell your grankids one day that you dated a celebrity."

Alex mendengus, meminum winenya yang dituangkan June. Mereka menyesap wine mereka dengan tenang selama beberapa saat. Menikmati rasa minuman tersebut.

"But, you sure about it?" tanya June tiba-tiba. Suaranya lembut. Alex mengulum senyum. Ah, June dan segala sifat protektif seorang kakaknya. Bahkan ketika Alex kini sudah beranjak dewasa, ia tetap khawatir dengan Alex.

"Tentu, ini sulit dan merepotkan, tapi aku bersedia membantunya," jawab Alex. "He looks like he needsthe help. A lot. Dan dia juga terlihat tidak punya pilihan selain menerima rencana yang dibuat manajemennya." Alex menggedikkan bahu.

"Poor guy," komentar June. "Tapi aku tidak suka memikirkan kau akan terseret media, orang-orang akan penasaran padamu dan mencoba menggali-gali identitas dan kehidupan pribadimu," lanjut June dengan kening berkerut pertanda cemas.

"I know, Bug," sahut Alex dengan suara menenangkan, ia meletakkan gelasnya dan meraih tangan saudarinya. "Tapi aku sudah mengambil keputusan dan kau tahu aku akan melakukan yang terbaik jika aku sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu."

June memberikannya senyum setelah mendengar itu. "Yes, I know how you are. Aku harap kau berjanji padaku untuk tetap aman dan langsung mundur saat siatuasinya terlalu berlebihan." Kalimat kedua diucapkan dengan pandangan serius dan menuntut.

Alex berpikir dia tidak akan mundur. Dia tahu bahwa dia sangat keras kepala hanya untuk menyerah. Tapi demi ketenangan hati kakaknya ia mengangguk dan mengiyakan.

Mereka saling bertatapan dan tersenyum kecil dalam diam.

"So, any chance you pulled string and get me to meet the star?" June memecah atmosfir sendu tersebut dengan cengiran jahil.

Alex mengerang tetapi lalunya tertawa, merasa lega mereka kembali ke suasana ceria. "No. Aku seorang profesional."

June mencebik, masih menggodanya soal itu sebelum mereka berpindah topik dan menyelesaikan botol wine mereka.