Hari pertama Alex menjadi bodyguard dengan penyamaran sebagai kekasih pura-pura seorang Henry Fox.

Setelah menyelesaikan begitu banyak detail pembicaraan mengenai pekerjaan ini, Alex memulai debutnya dengan menjadiplus oneHenry untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan kenalannya.

Sebenarnya pihak manajemen Henry ingin ia langsung diperkenalkan kepada publik dengan status sebagai kekasih Henry dengan cara gamblang. Menemaninya ke acara penghargaan pertelivisian. Tetapi Zahra menentang. Ia mendebat bahwa sebaiknya mereka mulai dengan cara yang sedikit lebih tak kentara. Biarkan Alex terlihat bersama Henry dan biarkan orang-orang berspekulasi terlebih dahulu. Barulah nanti Alex akan tampil dengan Henry ke acara-acara selebritinya.

Dan tentu saja rencana pilihan Zahra yang digunakan. Tidak ada yang tidak bisa wanita itu menangkan. Jangankan dengan petinggi manajemen begitu, Alex yakin wanita tangguh itu bisa mematahkan perintah seorang Raja sekalipun.

Alex akan bertemu dengan Henry nanti dan barulah mulai setelah itu hidupnya akan menempel dengan aktor tersebut.

Ia akan dijemput sebentar lagi dan Alex sudah mempersiapkan diri, langsung mengenakan setelan untuk menghadiri acara pernikahan. Memakai blazer biru dongker yang amat gelap, celana bahan, dan sepatu formal. Sebenarnya Alex tidak suka berpenampilan sampai seformal ini, bahkan untuk pesta pernikahan sekalipun ia biasanya hanya memakai jeans terbagusnya dan kemeja polos.

Tapi melihat detail pesta dari undangan yang diperlihatkan oleh Shaan, manajer Henry, Alex merasa dia akan sangat mencolok dengan usaha minimal seperti itu. Tapi Alex sendiri tetap membiarkan dirinya tak memakai dasi dan tidak mengancingi kancing kemeja paling atas. Hanya sedikit agar ia tidak merasa terlalu kaku. Alex sudah mengkompensasi sentuhan yang berkesan kasual tersebut dengan blazernya.

Selain mempersiapkan penampilannya, dari pagi Alex sudah mengemas barang-barangnya. Alex akan tinggal dikediaman Henry. Bagaimanapun manajemen Henry hanya menyewa satubodyguard, padahal ini semua menyangkut dengan ancaman-ancaman yang dikirimkan ke aktor itu baik diluar maupun langsung ke alamatnya. Aktor tersebut harus selalu dibawah penjagaan. Alex tidak bisa bekerja hanya sekedar datang di pagi hari dan bersamanya saat ia bekerja lalu pulang ketika hari usai. Dan mana mungkin ada sistemshifthanya dengan satu orang yang bekerja? Maka hanya ada satu pilihan yaitu Alex tinggal bersama sang aktor.

Shaan sudah mengatur agar barang Alex langsung dibawa ke apartemen Henry saat mereka bertemu nanti, jadi ia hanya perlu mengemas barang-barangnya dan menitipkannya ke bagian resepsionis gedung apartemen Alex.

Tak banyak yang Alex bawa, hanya pakaian-pakaian dan barang elektroniknya. Ia hanya punya sebuah koper dan satu tas punggung untuk diangkut. Alex harap Shaan tidak sampai menyediakan truk pindahan segala.

Begitu jam yang disepakati sudah dekat, Alex membawa barangnya ke bawah, menitipkannya pada resepsionis. Tepat disaat ada sebuah mobil mengkilap yang datang di parkiran. Tak ada keraguan dalam Alex saat ia menghampiri.

Tebakannya benar ketika ia melihat Shaan keluar dari mobil tersebut.

"Hallo, Shaan!" Alex langsung merangkul dengan sikap sok akrab pada manajer tersebut. Alex melihat pria itu tertegun saat Alex melingkarkan lengan pada bahunya.

Alex menyeringai jahil saat melepaskan rangkulannya. Ia dapat melihat postur Shaan yang menjadi semakin kaku dan ada kerutan samar pada matanya yang menyembunyikan kejengkelannya. Alex tahu orang-orang kaku seperti itu akan jengkel dengan kelakuan layaknya yang Alex berikan tadi, karena itulah ia sengaja melakukannya. Alex suka melihat seseorang yang tipikalnya memiliki kontrol begitu runtuh karena sebal dengan kejahilannya.

"Apakah semua barang anda sudah siap, Mr. Claremont-Diaz?" Alex mengiyakan dan Shaan mengangguk puas. Pria itu kembali masuk ke mobil di samping kursi pengemudi. Yang itu berarti Alex akan duduk di bangku penumpang.

Ia membuka pintu dan melihat Henry Fox sudah duduk dengan kaki bersilang di dalamnya. Satu tangan bersandar ke pintu mobil dan satu tangan lagi memainkan ponsel.

Pria pirang itu mengenakan setelan hitam formal. Tampak elegan dan tampan bahkan hanya dengan setelan yang sangat umum nyaris membosankan begitu. Benar-benar sejatinya keturunan James Bond sebagaimana ia.

Henry hanya melirik karena refleks sekilas saat pintu terbuka. Kemudian kembali memalingkan muka pada ponselnya.

Alex mengangkat sebelah alis. Mendudukkan diri di sebelah pria pirang itu dengan jarak yang cukup diantara mereka. Dan meskipun Alex yang notabenenya adalah orang asing yang sudah menginvasi ruang sempit yang selalunya hanya ia sendiri miliki, Henry tetap sama sekali tidak bereaksi apapun.

Bukannya Alex berharap ia akan diberi sambutan yang heboh atau sok akrab dari aktor tersebut, tapi paling tidak seharusnya ada sapaan, bukan?

Alex mendengus. Mesin mobil berjalan dan Alex yang pada dasarnya tidak terbiasa dengan kebisuan membuka obrolan. Mungkin ialah yang mesti terlebih dahulu mencoba akrab.

"Cuaca hari ini bagus ya, beruntung sekali kenalanmu itu, melakukan pernikahanoutdoorkan artinya harus bertaruh melawan cuaca," ujar Alex. Tolong jangan komentari topik membosankan yang Alex lempar, hanya itu yang bisa ia pikirkan.

Usaha pertamanya itu hanya dihadiahi dengan anggukan. Hanya anggukan yang bahkan tidak mau disusah payahi dengan lirikan.

Alex menahan diri untuk tidak menghela napas meski rasa jengkel mulai merambat.

"Apakah sejauh ini ada penyerangan atau ancaman yang dikirim?" tanya Alex, terdengar sedikit serius. Mungkin Henry lebih ingin mereka memiliki hubungan yang serba bisnis daripada berteman. Kalau itu yang aktor itu mau, Alex tidak masalah. Ia profesional terhadap kerjaannya.

Dibanding yang sebelumnya, Henry terdiam dulu, barulah kemudian menggeleng pelan. Tapi tetap saja ia tidak menoleh pada Alex maupun bersuara.

Alex kini tidak menahan helaan napasnya. Ia tahu kapan ia benar-benar tidak bisa memaksa lebih jauh.

Dan ia mengerang dalam batinnya pada perjalanan yang hanya akan diisi kebisuan.

.

.

.

Alex menganga dengan begitu takjubnya ketika ia turun dan berjalan ke lahan luas tempat dimana resepsi pernikahanoutdoortersebut diadakan. Pada lahan kosong yang menghampar luas itu, berdiri bangunan tenda yang sangat besar dan tinggi.

Bentuknya mengingatkan Alex pada bentuk tenda sirkus. Tetapi yang ini lebih besar dan megah dan elegan tentunya.

Bangunan itu terbuat dari bergulung-gulung kain putih dengan kilauglitterperak yang kuat dan semi transparan. Tampak agung saat mereka bergoyang sedikit digoda angin. Rasanya seolah bangunan itu dicomot langsung dari buku dongeng.

"Oh, wow,that friend of yours is really rich, and way too dramatic," seru Alex.

Henry mendengungkan apa yang mungkin saja persetujuan, fokus pada tangannya yang membenarkan lengan jas. "Ah, dia seorang perfeksionis dan romantis, hari pernikahan pastinya harus menjadi hari paling indah dan tak terlupakan baginya."

Alex sedikit terkejut saat ia diberikan jawaban. Hanya menduga ia hanya akan diberikan anggukan lagi. Meski lagi-lagi aktor itu belum juga mau menatapnya, maupun suaranya yang masih terdengar acuh tak acuh bagi Alex.

"Ayo, masuk," gumam Henry kemudian berlalu. Meninggalkan Alex yang mengedipkan mata beberapa kali, mengernyit tak suka saat sadar ditinggal. Dengan hati mendongkol, ia menyusul langkah Henry.

Bukankah ia disini sebagaiplus one-nya? Mana ada orang yang bersikap begitu pada teman kencannya?

Mereka melewati tempat masuk, Henry menandatangani buku tamunya, dan mereka melangkahkan kaki ke bangunan besar tersebut.

Untuk yang kedua kalinya, rahang Alex dibuat melongo.

Dekor dalamnya juga se-impresif bagian luarnya. Kalau bukan jauh lebih hebat lagi.

Bangunan itu terasa sekali besarnya. Langit-langitnya yang tinggi juga menambah kesan tersebut. Alex merasa seperti anak kecil yang memasuki istana dalam novel cerita anak kuno.

Warna putih dan kerlip dari kain yang menjadi dinding tenda tersebut memberikan kilau, seolah mereka berpendar. Lampu-lampu kecil yang menjalari sepanjang tenda, juga lampu-lampu bertiang bergaya klasik yang biasa terlihat pada ilustrasi buku bergambar, menyediakan penerangan tambahan yang diperlukan.

Pita-pita besar berwarna biru dan merah mendekorasi. Kontras yang sangat beradu dan mencolok dengan warna putihnya yang elegan. Tetap sama sekali tidak jelek, kok.

Di dalamnya dibagi menjadi dua seksi. Satu terlihat untuk pengucapan janji pernikahan, dengan bangku-bangku panjang berbaris, terbagi menjadi dua oleh sebuah karpet berwarnabeigelembut menuju altar yang dibuat dinding latar penuh bunga mawar biru.

Disisi lainnya, bagian untuk perayaannya. Meja-meja tamu dengan alas putih bersih dan ditambah selembar kain berwarnabeigemelintang diameternya sebagai pemanis. Di setiap meja ada sebuah vas dengan tiga bunga mawar, merah, putih dan biru. Sentuhan warna yang agak-agak patriotis untuk pernikahan menurut pendapat Alex.

Mereka datang di saat yang tepat karena acara akan dimulai. Semua orang mengisi tempat duduk. Henry dan Alex duduk di barisan tengah.

Di altar, seorang mempelai pria pirang dengan setelan jas putih serta bunga mawar hijau tersemat di dadanya, berdiri dengan gugup di depan pendeta.

Laguwedding marchmulai mengalun. Semua orang menoleh ke arah ujung karpet. Pengantin pria pirang lainnya dengan setelan jas putih, bunga mawar biru tersemat di dadanya. Menggandengkan tangannya pada laki-laki tinggi berambut gelap dengan setelan hitam. Berjalan dengan perlahan.

Alex menjulurkan lehernya saat mereka mendekat. Penasaran ingin melihat seperti anak kecil. Hal yang pertama yang ia sadari adalah bahwa kedua orang itu memiliki alis yang sangat tebal. Yang langsung membuat Alex tahu bahwa mereka bersaudara. Hal kedua yang ia sadari adalah begitu cerahnya senyum sang pengantin.

Pasti begitulah wajah seseorang yang sedang jatuh cinta dan tengah berbahagia. Amat sangat berbahagia.

Ketika sang mempelai yang berjalan itu sampai di altar, kedua mempelai langsung berpegangan tangan. Yang sedari tadi menunggu langsung menyambar tangan kekasihnya, seolah sudah tak sabar.

Mereka terkekeh kecil, seolah merasa lucu dengan kelakuan mereka sendiri. Dan pendeta mulai bicara, suasana langsung diselimuti kesyahduan.

Keduanya bergantian mengatakan pidato masing-masing. Keduanya sama-sama indah. Alex merasakan dirinya dibuat terhanyut. Hatinya dibuat terharu oleh begitu banyak emosi yang terasa. Padahal Alex sama sekali tidak mengenal mereka.

Alex melirik ke sampingnya. Ia tertegun melihat Henry seolah menahan air mata. Bibirnya yang sejak pertama Alex bertemu hanya membentuk garis lurus tipis tegang, tampak tersenyum lembut. Sudutnya tertekuk dengan anggun dan samar.

Huh, bahkan orang tak acuh dan dingin sepertinya pun tetap bisa terpengaruh oleh hal romantis begini, pikir Alex.

Semua tamu undangan bertepuk tangan saat kedua pengantin menutup acara pengucapan janji dengan ciuman. Dan bagian kedua dari acara itu dimulai.

Semua orang berpindah ke sisi yang lain. Menempati meja-meja dan mendengarkan pidato pendek dari beberapa anggota keluarga dan sahabat dekat.

Kemudian jamuan disajikan pada tamu undangan. Membawa suasana riuh rendah yang ceria saat orang-orang mulai bercakap-cakap dengan santai.

"Bisa setidaknya beritahu aku pernikahan siapa yang kuhadiri saat ini?" sahut Alex ketika pelayan menyajikan appetizer. Ia sudah lama menahan pertanyaannya, dengan upacara janji pernikahan sekhidmat tadi, Alex tidak berani bicara dan mengganggu suasana. Kalau ia pergi dengan June dan berani bicara pada suasana syahdu seperti tadi, Alex pasti akan dihajar.

"Hum?" Henry mengambil garpu dan pisaunya. Entah bagaimana caranya menjelaskan, tapi Alex merasa tertarik sekali dengan cara Henry menggunakan garpu dan pisaunya. Jari-jarinya yang kurus dan pastinya selalu dimanikur itu diposisikan dengan cara yang entah bagaimana membuatnya tampak sangat elegan bersanding dengan garpu dan pisau perak. Menggerakkan alat makannya dengan cara yang anggun sekali. Seperti praktik tata krama yang sangat pantas untuk menghadiri jamuan kerajaan.

Mendadak Alex menjadi sadar diri dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba saja tangannya tampak terlalu besar dan terlalu kikuk. Merasa canggung dengan caranya memakai garpu dan pisau padahal peralatan tersebut ia pakai setiap harinya.

"Arthur Kirkland adalah penulis yang salah satu novelnya diangkat menjadi drama series, dan aku memainkan salah satu tokohnya, drama series The Invitational Year," jawab Henry.

"Oh, aku ingat drama itu. Kau memainkan peran Pangeran yang sangatgrumpy, yang dibilang sangatfreshkarena bertolak belakang dari karakter anak manis yang biasa kau mainkan. Bukankah itu salah satu drama yang menurut media merupakan penggebrak karirmu untuk memainkan berbagai macam peran?" sahut Alex, antusias karena ia mengenali judul tersebut.

Henry menoleh padanya dengan pandangan tertegun. Alex mengangkat sebelah alis. Kenapa Henry terlihat seolah kaget Alex menonton acara itu? Yah, mungkin Alex terlihat seperti tipe yang tidak akan menyukai drama series remaja, tapi hei, dia tetap saja dibesarkan dengan Disney Channel.

Memang sih, jika kalian meringkas kasar alur cerita The Invitational Year kalian akan mengira itu adalah drama klise yangcringedan buah fantasi picisan. Drama yang berlatarkan sekolah asrama bertaraf internasional dengan murid-muridnya adalah anak-anak dari berbagai kalangan orang-orang penting, mulai dari anak presiden Amerika, pangeran Inggris, anak perdana menteri Perancis, sampai anak dari keluarga mafia Rusia.

Alex akui bahkan ia sendiri sempat sangsi saat drama itu diumumkan, apalagi ia tidak pernah membaca bukunya, namun berakhir menjadi teman nonton setia June setiap episode barunya keluar. Karena ternyata drama itu memiliki alur yang bagus. Memperlihatkan bagaimana mereka melewati semua masalah pribadi, keluarga, dan masalah remaja umumnya dengan cara yang sangat pas bagi remaja tanpa membuatnya menjadi konflik karakter yang malah tak karuan. Semua tokohnya mendapatkan perkembangan karakter yang patut, berkembang dan mengerti diri mereka sendiri lebih baik.

Henry berdeham, menetralkan kembali wajahnya. "Yah, kuakui peran itu benar-benar memotong rentetan tokoh-tokoh anak manis yang disodorkan padaku dan kini aku bisa memilih berbagai peran yang berbeda. Dan bagaimana aku bisa berteman dengan Arthur, dia sering mendatangi lokasishootinguntuk membicarakan semua alur drama agar cukup pas dengan bukunya dengan sutradara, semua staf dan para aktor. Kami menemukan banyak persamaan sebagai sesama British sekaligus minat pada literatur."

British yang menyukai literatur, apa pria itu tidak bisa lagi lebih cocok dengan penampilannya?

"And the other groom?"

"Alfred F. Jones. Aku belum pernah bertemu dengannya sebenarnya," Henry mengangkat bahu. "Hanya tahu dari apa yang diceritakan Arthur. Dia bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan sangat berhasil dengan pekerjaanya, juga ia berinvestasi pada pada berbagai bidang dan punya pengamatan yang baik mengenai saham."

"No wonder he's so freaking rich," komentar Alex.

Henry mengangkat bahu dengan tak acuh lalu kemudian mulai makan. Alex mengerti bahwa pria itu tidak akan bicara lagi dalam waktu yang lama juga memusatkan semua fokusnya kepada makanannya.

.

.

.

Setelah jamuan dengan makanan yang paling lezat yang pernah Alex makan—dessert-nya sangat luar biasa, dan Alex bahkan bukan pecinta makanan manis, dia yakin sekali ada binar takjub di mata Henry saat menelan suapan pertamadessert-nya, menegaskan kualitas makanan itu karena pastinya aktor tersebut sudah biasa dengan makanan restoran bintang lima—mereka memutuskan untuk langsung memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.

"Selamat atas pernikahanmu, Arthur," sahut Henry, tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya kepada mempelai dengan mata hijau dan mawar biru di jasnya.

"Thankyou, Henry," balas sang pengantin dengan aksen British anggun yang mirip dengan Henry. Ia menganggukkan kepala kecil dan sudut bibirnya membentuk senyum tipis dan menyambut jabat tangan Henry.

Segala gerakannya elegan. Membuat Alex bertanya-tanya apakah ia tengah berada di acara parodi mengenai streotipikal manusia. Karena tidak mungkin semua orang Inggris bertingkah seperti dua pria ini, seolah merekagentlemendari jaman Ratu Victoria.

"Kalian belum pernah bertemu 'kan, Henry, perkenalkan suamiku, Alfred," ada nada bahagia dan amat hangat yang tak bisa dibendung oleh kepribadian kental britishnya saat ia mengatakan kata suami. Matanya bersinar-sinar dengan kebanggan ketika mengatakannya. Dan Alex sekali lagi menyaksikan bagaimana cinta bisa sangat menyilaukan.

"Heyya, Henry, senang bertemu denganmu. Aku sangat menyukai film-filmmu dan ayahmu. Hollywood beruntung sekali mempunyai bintang seperti kalian." Henry dibuat kaget saat tangannya dijabat dengan antusiasme yang besar sekali, Alfred menyapanya dengan suara nyaring dan ceria beraksen Amerika.

Namun Henry dengan cepat menenangkan reaksinya, tersenyum dengan sopan dan berterima kasih terhadap pujiannya.

"AndArthur, Alfred,this is Alex, my date."

Dan Alex tahu itu tandanya untuk berakting.

Alex memberikan seringai lebar teramahnya. Menjabat tangan kedua mempelai bergantian.

"Resepsi yang luar biasa. Pidato kalian sangat indah, hampir membuatku menangis," sahutnya memuji.

Keduanya terkekeh pelan. "Itulah keuntungannya punya tunangan seorang penulis," balas Alfred, mengedipkan matanya pada Arthur dan menyelipkan tangan memeluk pinggang suaminya tersebut. "Tapi aku yakin punyaku lebih romantis 'kan? Mengalahkan novelisbestseller."

Arthur mendengus. "Perlu kuingatkan siapa yang menangis saat membaca novelku?"

"Hey! Itu pengecualiaan! Kau tidak meperingatkanku endingnya akan sesedih itu!"

"Apa itu Lovely As You Are?" potong Henry terdengar tertarik. Matanya yang besar itu melebar. "Kalau yang itu sih aku tidak heran." Alex merasa sedikit kebingungan, tidak mengerti apa yang dibicarakan.

Tapi tidak bagi Henry, ia malah menatap Arthur dengan amat bersemangat. "Arthur, apa kau belum mendapatkan tawaran untuk memfilmkan buku itu? Seharusnya buku itu difilmkan! Aku ingin seisi bioskop berteriak frustasi diakhir film seperti saat aku membacaendingbuku itu!" serunya berapi-api. Mungkin ini pertama kalinya Alex melihat Henry jauh dari diam dan terkendali.

Arthur tertawa. "Ah, dan aku yakin kau pasti ingin peran paling sedih disana." Henry mengedipkan matanya dan—Alex pikir dirinya berhalusinasi—tersenyum jahil. "Kau pasti cocok memainkan model yang are, after all, a pretty crier," tambah Arthur dan kedua pria British itu terkekeh.

Alex mengedipkan mata dengan Henry yang terlalu asing baginya ini. Matanya bersitatap dengan Alfred. Pria itu memutar bola mata, menggedik pada aktor dan penulis yang berbincang-bincang tersebut, tapi mulutnya menyunggingkan senyum geli.

"Kalau kutu buku sudah bersemangat seperti ini, akan sangat sulit memaksa mereka berhenti," sahutnya.

Pembicaraan riang itu berhenti, sadar sedang disindir suaminya, Arthur menyikut Alfred. Mendengus dan menyilangkan tangan di dada, mendelikkan mata hijaunya yang tajam.

"We're not that bad!"

"Sure, babe," balas Alfred ceria dan ringan lalu mencium pipi suaminya, terdengar sama sekali tidak mengindahkan Arthur.

Alex memutar bola mata tapi tersenyum geli. Mereka pasangan yang imut.

Henry dan Alex mengucapkan salam perpisahan mereka dan ucapan selamat sekali lagi sebelum akhirnya pergi dari lokasi pesta tersebut.

Mengendarai perjalanan yang lagi-lagi sunyi, Alex dibuat tak mengerti. Apa Henry yang bersemangat dan berapi-api tadi hanya halusinasinya? Atau ia baru saja melihat akting dari seorang aktor di luar layar televisi?

.

.

.

A/N:

Alfred dan Arthur adalah karakter dari anime berjudul Hetalia. Salah satu alasan aku tahu film RWRB tuh karena anime ini! Fandomnya heboh pas pengumuman poseter filmnya rilis.

Hetalia adalah anime tentang personifikasi negara-negara (negara yang berwujud manusia) dan salah satu ship gede mereka (yang juga OTPku) adalah UsUK/AmericaxEngland. Nah, ngerti kan kenapa fandomnya heboh sama filmnya, karena mereka tuh kayak human au nya UsUK.

Dan dua novel Arthur itu adalah judul fanfic Hetalia. Dan Hetalia emang punya Fic lama dimana Alfred jadi anak presiden Amerika dan Arthur jadi Pangeran bungsu kerajaan Inggris! Cuman fanfic itu berlatarkan Highschool. Ada yang nge-qrt post poster filmnya, dengan 'That one usuk fanfic' yang bikin aku kepo dan langsung google summary novelnya dan aku teriak, "The Invitational Year?!" pas baca kalimat pertama wiki RWRB

Kalau nanya, apakah Alex Henry mirip UsUK? Agak mirip mereka, aku baca novelnya sebelum nonton dan awal-awal baca pas Alex, I'm be like "Alfred, is that you?", pas baca Henry, "Arthur, is that you?" bahkan pas baca Pez, "Francis, is that you?!"

Waduh, sorry ya jadi kepanjangan gini A/N nya, mana bahas fandom lain lagi. Tapi aku dah gregetan sejak suka filmnya mau bahas ini! dan emang harus berterimakasih ke usuk tuh, aku gak bakal nonton filmnya kalau bukan karena obsesiku ke usuk parah banget.