"Muka mu…" Ucap Naruto membuat Hinata menoleh ke arah lelaki yang berada di balik kemudi itu. "Sangat jelek."
Hinata membuang muka sambil mendecih, Naruto benar-benar sangat menyebalkan. Ia bahkan seperti tak diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya sama sekali dihadapan Sakura.
"Kau benar-benar menyebalkan Namikaze-san." Nyatanya ucapan Hinata malah disambut kekehan Naruto.
Lelaki itu merasa di atas awan, ia masih dengan jelas mengingat bagaimana ekspresi jengkel Hinata saat tak ia beri kesempatan untuk memilih. Naruto sadar apa yang ia lakukan adalah hal yang sedikit melukai harga diri perempuan bersurai indigo itu, namun bagaimanapun ini adalah kesempatan yang bagus untuk jenjang karir Hinata, ia tidak ingin ilmu yang perempuan itu kuasai tidak disalurkan.
"Hari ini aku menginap." Ucap Naruto saat mobil yang ia kendarai memasuki basement sebuah pusat perbelanjaan elite di Konoha.
"Aku sedang menstruasi." Balas Hinata acuh.
Dalam batin Naruto mengutuk pikiran Hinata, bagaimana mungkin perempuan itu bisa menghubungkan kata menginap dengan melakukan hubungan seksual—Gila.
"Menginap Hinata, hanya menginap." Naruto menatap Hinata yang masih membuang muka.
Naruto mengacak rambutnya frustasi sebelum tangannya menelusup kedalam surai Hinata, membut perempuan itu reflex menolehkan wajahnya kearah Naruto. Tatapan Hinata nyalang seolah ingin memakan Naruto hidup-hidup, bendera perang berkibar di dalam iris perempuan yang dimata Naruto terlihat sangat manis itu.
Menggerakkan jemarinya dengan lembut Naruto mengelus pipi Hinata, menelisik paras ayu perempuan yang berhasil menjungkir balikkan perasaan nya itu. Ia tersenyum saat menyadari ada semburat merah diatas pipi mulus Hinata. Dengan pelan ia mendorong kepala Hinata agar semakin dekat kearah nya.
"Aku sedang tidak buru-buru Hinata." Ucap Naruto lirih. "Aku akan menunggu sampai kau berlutut memohon kepada ku."
Benar-benar iblis—batin Hinata saat merasa ucapan Naruto membangkitkan dopamin, adrenalin dan norepinefrin dalam saat bersamaan menciptkan efek butterfly in stomach yang banyak disalah artikan sebagai perasaan cinta.
"Maka kau hanya akan menunggu." Balas Hinata sambil menyunggingkan senyuman mengejek kerah Naruto.
"Dare to bet with me ?" Tanya Naruto masih dengan suara rendahnya, jarak mereka kuarang dari satu jengkal membuat Hinata bisa menghidu wangi yang menguar dari tubuh Naruto.
"You not going to win that bet." Jawab Hinata angkuh.
"Let see Mrs. Hyuga." Ucap Naruto sambil menjauhkan tubuhnya.
"KAU …." Hinata menatap Naruto jengkel membuat lagi-lagi sebuah senyuman bertengger diatas bibir lelaki itu.
"Jangan terlalu berharap aku akan mencium mu setiap saat." Ucap Naruto sambil melepas seatbelt yang memeluk tubuhnya.
Naruto terkekeh saat menyadari Hinata yang masih memasang tampang mengajak berperang. Ia tidak tau jika menggoda perempuan itu benar-benar menjadi sebuah kesenangan baru dalam hidup nya.
Naruto mengikuti langkah Hinata sambil mendorong troli, sesekali ia ikut berhenti saat Hinata memilih bahan makanan yang akan mereka beli, Naruto memperhatikan sikap Hinata yang sangat menawan saat sedang memilih bahan makanan—teliti—mirip seperti ibunya.
"Besok aku sudah mulai bekerja di rumah sakit." Ucap Hinata.
"Apa tidak terlalu buru-buru ?" Tanya Naruto membuat Hinata menghentikan langkahnya.
"Kenapa ?" Naruto kembali bertanya saat menyadari Hinata tak kunjung melanjutkan langkahnya.
"Ya Tuhan, apa si yang kau dengarkan saat Sakura-san sedang menjelaskan." Hinata menatap Naruto bosan membuat lelaki itu sedikit salah tingkah.
"Aku akan menelfon Sakura." Ucap Naruto sambil mengambil ponsel dari sakunya.
"Bukankah ini yang kau inginkan?" Ucap Hinata sambil merebut ponsel dari tangan Naruto. Membuat lelaki itu mengernyit seolah tidak mengerti apa yang diinginkan Hinata.
"Jangan menyulitkan ku." Lanjut Hinata, kali ini sambil mengulurkan ponsel pada Naruto.
Naruto mengambil ponsel nya dengan muka yang cukup masam, ia tidak menyangka bahwa Sakura benar-benar menepati ucapannya untuk membantu Hinata, namun yang tidak Naruto sukai adalah fakta bahwa perempuan itu terlalu terburu-buru membuat Hinata mendapatkan pekerjaan nya.
"Besok aku akan mengantarkan mu." Naruto berujar sambil ikut memilih beberapa buah yang berada dihadapan nya. "Aku suka Apel."
"Aku sangat berterimakasih." Ucap Hinata sambil memasukan Apel kedalam troli. "Tapi kau akan sangat menyulitkan ku nantinya."
"Maksud mu ?" Tanya Naruto.
"please, kau ini cucu pemilik rumah sakit, aku tidak ingin pandangan orang berubah hanya karena melihat kau yang mengantarkan aku dihari pertama bekerja."
Naruto menghela nafas kasar, ia benar-benar menyerah jika menyangkut Hinata. Ia tidak tau bahwa di Konoha masih ada manusia yang mampu membuat nya kehabisan kata-kata. Padahal biasanya ia tak pernah mau mengalah, apa yang ia mau sudah pasti ia dapatkan. Namun kali ini ia tak bisa melakukan semua hal yang ia inginkan pada perempuan yang masih berdiri di hadapannya dengan tampang mengiba.
"Baiklah." Naruto melihat tatapan penuh harap pada mata amethys itu. "Aku tidak akan menyulitkan mu."
"Sangkyu." Hinata tersenyum saat mengatakan nya, senyum yang sangat manis yang belum pernah Naruto lihat sebelum nya, membuat lelaki itu ikut menyunggingkan senyum nya.
Sekilas beberapa pasang mata menyaksikan keindahan yang ada di hadapan mereka, dua pasang insan yang terlihat sangat sempurna—saling melengkapi. Mereka terlihat akrab, lebih dekat dari hubungan mereka yang sebenarnya. Hubungan transaksional yang mengikat keduanya terlihat hanya sebuah formalitas belaka. Keduanya tertawa bersama, belajar memahami satu sama lain dari hal-hal kecil yang mereka suka, seperti memilih makanan dan minuman yang menjadi favorit mereka.
Dari pada majikan dan pembantu atau atasan dan bawahan, mereka malah terlihat seperti pasangan baru, pasangan yang sedang dimabuk cinta.
"Aku ingin makan ramen." Naruto masih mengikuti Hinata sambil mendorong troli.
"Ramen?" Tanya Hinata.
"Iya." Ucap Naruto. "Makanan kesukaan ku."
"Orang kaya seperti mu ternyata masih menyukai makanan rakyat jelata." Hinata terkekeh.
"Kau pikir hanya orang miskin yang menyukai ramen." Naruto mendecih.
"Makan di luar atau aku masak kan?" Hinata bertanya, memberi pilihan pada lelaki yang sekarang ia anggap sebagai tuan nya itu.
"Any guest?"
"Kau akan menyukai nya." Balas Hinata sambil tersenyum
Mereka melanjutkan mengisi troli dengan segala macam makanan, Naruto hanya mengikuti Hinata tanpa menginterupsi kegiatan perempuan itu, lagi pula ia juga tak mengetahui apapun tentang urusan dalam rumah.
Hinata pun demikian ia memilih makanan dengan kualitas yang baik, meskipun hidupnya sangat kesusahan namun untuk urusan makanan ia tak mau menurunkan standar. Meski sudah tidak bisa memakan masakan restoran berbintang seperti sebelumnya, ia tetap bisa menikmati masakan yang enak buah dari tangan nya sendiri.
"Hinata!"
Hinata menoleh saat sebuah suara memasuki indra pendengarnya. Ia mendapati seorang perempuan dengan rambut pirang berdiri hanya beberapa meter dari nya.
Perempuan itu menatapnya dengan pandangan mengasihani seperti biasanya, membuat amarah menyeruak dalam dada Hinata. Shion—perempuan itu—terlihat tersenyum mengejek sebelum melangkah mendekat ke arah Hinata.
Naruto yang sedari tadi berada di sebelah Hinata hanya terdiam, namun ia merasakan aura membunuh dari perempuan yang terlihat sangat tenang itu.
"Aku sudah lama tidak melihat mu di KC." Ucap Shion, nadanya terdengar seperti sedang merendahkan. "Apa kau sudah mendapatkan pekerjaan baru."
Hinata tersenyum. Tidak ada sedikit pun niat untuk membalas ucapan perempuan itu.
"Aku rasa kau harus tau, minggu depan aku dan Toneri akan bertunangan." Shion memberikan senyuman pada Hinata.
Hinata tersenyum sekali lagi sebelum membalas perkataan Shion. "Syukurlah kalau begitu."
"Semoga kau bisa datang." Shion menyeringai sebelum membalas ucapan Hinata. "Toneri pasti akan senang jika kau bisa datang."
Hinata hendak membalas perkataan Shion saat sebuah kehangatan menyapu telapak tangannya, membuat ia mengalihkan pandangannya pada lelaki yang ia sempat lupakan kehadirannya.
Tangan besarnya menyelimuti seluruh telapak tangannya, kulitnya yang putih tenggelam dalam kulit warna tan yang terlihat sangat mempesona. Hinata mendongakkan kepalanya untuk mendapati sebuah senyum yang sangat manis dari seorang Naruto.
"Ayo." Ucapnya singkat.
Hinata mengangguk, membalas ajakan Naruto.
