Sword and Shield

Chapter 2 : Warna Rambut (Orihime's POV)

Genre : Romance, Friendship, Slice of Life

Rating : T

Setting : Canon

Warning : bullying, kekerasan fisik


Dari banyak orang yang pernah aku temui, belum pernah aku melihat seseorang yang memiliki warna rambut serupa dengan warna rambutku. Bahkan satu-satunya keluargaku, kakak laki-lakiku memiliki warna rambut yang berbeda denganku. Entah dari siapa warna rambut ini diturunkan, aku bahkan tidak pernah mengenal wajah kedua orangtuaku.

Miris.

Aku pernah membenci warna rambutku sendiri. Begitu benci hingga rasanya ingin aku tarik kuat-kuat supaya bisa lepas dari kepalaku. Tapi sayangnya hal itu tidak berhasil. Sambil terdiam terkadang aku berpikir sendiri, jika saja aku memiliki warna rambut yang lebih "normal" maka aku tidak akan mengalami semua hal ini.

Aku tidak mengerti alasan kenapa mereka melakukan hal buruk kepadaku. Apakah memang hanya karena warna rambutku? Apakah ada alasan lain?

Namun aku tidak boleh menunjukkan bahwa aku sedang bersedih atau kesusahan di depan kakak laki-lakiku. Dia sudah bekerja keras merawatku dari bayi, bahkan hingga kini ia masih tetap bekerja keras untuk menghidupi kami berdua. Karena hanya dia keluarga yang aku punya, kakak laki-lakiku. Inoue Sora.

Dia selalu mengatakan bahwa aku memiliki rambut yang cantik, warna rambutku yang tidak biasa ini bukanlah hal yang aneh melainkan sesuatu yang spesial. Keistimewaan yang hanya dimiliki atau diberikan kepada orang-orang tertentu. Setiap kali dia mengelus rambutku dan memberikan pujian, menatapku dengan hangat dan penuh rasa bangga saat aku bercerita tentang kegiatanku di sekolah, pada saat itulah aku meyakinkan diriku bahwa aku bisa melalui ini semua.

Aku tidak akan mengecewakan kakakku, aku akan menjaga dan merawat rambutku dengan baik supaya bisa tumbuh panjang, sesuai dengan keinginannya.


"AAARRRGH." Aku menjerit kesakitan saat punggungku menabrak tiang besi di belakangku. Seakan masih belum cukup, beberapa orang senior di sekolahku masih menghujaniku dengan pukulan dan tendangan di badanku. Tak dapat menahan rasa sakit yang menyerang, air mataku mengalir begitu saja. Kusilangkan kedua tanganku di atas kepala, mencoba melindungi diriku sendiri meskipun sepertinya sia-sia.

Tanpa aku sadari, salah seorang diantara mereka mengeluarkan sebuah gunting dari saku roknya. Aku masih meringis kesakitan serta ketakutan saat aku merasa ada tangan yang menjambak rambutku dan mendongakkan kepalaku dengan paksa. Mataku terbuka lebar saat aku merasa benda tajam sedang bergesekan dengan rambutku.

'Tidak! Jangan!', tapi suaraku seakan tercekat di tenggorokan. Aku hanya bisa diam menyaksikan saat mereka memotong rambutku dengan gunting tadi. Telingaku mendadak seakan tuli, yang bisa aku dengar hanya suara gesekan gunting setiap kali berhasil memotong helai demi helai rambutku. Tubuhku mendadak kaku, menatap tak percaya pada potongan helai rambutku yang bersebaran di sekitarku.

"Aku benci dengan warna rambutmu! Begitu jelek dan mencolok, melihatnya membuat mataku sakit.", ucap salah satu senior yang berada di depanku. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun, aku tidak sanggup. Badanku rasanya begitu lemas hingga tak mampu untuk sekadar mengangkat kepalaku, aku masih setia menunduk dan menangisi rambut panjangku yang kini sudah terpotong dengan paksa. Aku mengandalkan kedua tanganku untuk bertumpu di kedua sisi badan, meskipun tanganku sendiri sudah seperti mati rasa.

Sebuah gunting dilempar ke arahku dan salah satu ujung pisaunya mengenai betisku hingga tergores dan berdarah. Mereka kemudian meninggalkanku begitu saja sambil tertawa kencang. Aku masih menangis sesegukan tanpa bisa bicara, baru saat bayangan mereka benar-benar hilang tangisku pecah tak terbendung.

"HWAAAAAAAAA." Aku meraung sambil meraih potongan rambutku yang tercecer, aku menggenggamnya dengan erat lalu kudekap di depan dadaku. Rasa sakit yang tubuhku rasakan tidak sebanding dengan rasa hancurnya hatiku. Hal yang bagiku berharga, sesuatu yang aku jaga demi kakak laki-lakiku satu-satunya. Aku melipat kedua lututku dan menjadikannya sebagai sandaran sementara kedua tanganku aku pakai untuk menutupi wajahku yang kini sedang berlinang air mata.

Meluapkan rasa sedihku sambil berpikir apa yang harus aku katakan saat pulang ke rumah nanti kepada kakakku.


Wajahnya masih kuingat saat melihat rambutku yang semula panjang menjadi pendek dengan potongan acak-acakan. Terkejut, tapi dia tidak menanyakan apapun meskipun terlihat bahwa sebenarnya dia bingung dan sedikit panik melihat kondisiku.

"Maafkan aku Onii-chan, aku hanya ingin bereksperimen dengan rambutku, tapi hasilnya malah begini. Hehehehe." ucapku berdalih cepat sebelum kakakku mengatakan sesuatu, sambil menunjukkan senyum kikuk. 'Semoga aktingku cukup meyakinkan.'

Kakakku membalasnya dengan senyuman dan membelai kepalaku dengan sayang, "Tidak apa-apa. Bagaimanapun potongan rambutmu, kau adalah adikku yang paling cantik."

Mataku berkaca-kaca dan air mataku sudah hampir tak tertahan mendengar jawaban dari kakakku. Kemudian ia mendekapku dengan erat sambil mengelus punggungku seolah mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan berkata kepadaku 'Semua akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu dengan lebih baik lagi'. Saat itulah aku tidak dapat menahan air mataku dan balas mendekap kakakku. Kedua lenganku melingkari lehernya, aku benamkan wajahku di potongan lehernya dan aku bisa merasakan pakaian kerjanya basah terkena air mataku.

Aku bisa. Aku akan tetap bertahan demi kakakku.

Tapi semua itu hancur seketika ketika mengetahui bahwa kakak laki-lakiku, satu-satunya keluargaku yang ada, meninggalkanku untuk selamanya. Rasanya sangat sulit dan tiada lagi harapan yang tersisa. Hari-hariku setelahnya aku lalui tanpa ada rasa semangat, berusaha untuk menghindari tatapan orang lain dengan menyendiri dan menggunakan topi untuk menutupi rambutku. Kehilangan kakakku membuatku juga kehilangan keinginan untuk merawat rambutku.

Aku tidak ingin memanjangkan rambutku lagi. Tidak ada alasan untuk melakukannya dan aku tidak mau kejadian buruk itu terulang lagi. Yang aku lakukan hanya sesekali mencuci rambutku ala kadarnya dan jika aku merasa panjang rambutku sudah melebihi pundakku, aku akan memotongnya sendiri agar lebih pendek. Berulang kali melakukan hal yang sama sampai aku bertemu dengan sahabatku.

Tatsuki-chan.

Dia yang selalu melindungiku disaat murid lain berniat untuk merundungku. Dia yang ikut menemaniku saat jam makan siang, duduk bersantai di bawah pohon sambil bergurau. Berkat dirinya aku mendapatkan harapan baru dan semangat untuk hidup dengan lebih baik. Ia selalu memuji rambutku dan berkata aku memiliki rambut yang indah. Saat dia bertanya mengapa aku tidak membiarkan rambutku tumbuh panjang, aku tidak dapat menjawabnya. Seakan mengerti maksudku, dia mendekatiku dan mengelus kepalaku.

"Tenang saja. Kau tidak sendirian, aku yang akan melindungimu. Biar aku hajar mereka yang berani macam-macam denganmu." Terdengar begitu naif jika aku begitu mempercayai omongan gadis seusia denganku dan berkata akan melindungiku. Tetapi, aku sangat yakin bahwa Tatsuki-chan tidak berbohong dan sungguh-sungguh dengan ucapannya.

Demi Tatsuki-chan aku akan kembali merawat rambutku, akan kubiarkan rambutku tumbuh panjang lagi. Dengan memanjangkan kembali rambutku, melambangkan kepercayaanku terhadap sahabatku Tatsuki-chan.


"Orihime, anak laki-laki bermuka aneh yang ada di depanmu saat ini adalah sahabatku dari kecil, Ichigo Kurosaki." Aku terpana melihat sosok laki-laki di hadapanku. Mataku terpaku pada warna rambutnya yang mirip denganku, namun lebih terang. Akhirnya aku bertemu dengan orang yang juga memiliki warna rambut yang serupa denganku.

Melihatnya membuatku teringat pengalaman pahitku tentang rambutku dan membuatku berpikir apakah dia juga mengalami hal yang sama denganku. Kubuang jauh-jauh pikiran buruk itu sebelum akhirnya aku tersenyum kepada sahabat masa kecil Tatsuki-chan. Tatsuki-chan adalah orang yang baik, berarti sahabat dari Tatsuki-chan juga orang yang baik.

Melihatnya berdiri dengan tegap di depanku membuatku tersadar bahwa selama kita bersama dengan orang yang baik, kita dapat menjalani hidup dengan lebih baik. Aku harap kami dapat berteman dengan baik nantinya.


Chapter kali ini lebih panjang dari sebelumnya dan mungkin bisa jadi terhitung satu chapter untuk kategori long fiction. Tapi aku berusaha sebaik mungkin untuk menggambarkan tentang bagaimana kedua kepala oranye kita menghadapi masalah yang sama dan bagaimana cara mereka melalui hal tersebut melalui orang yang sama yaitu Tatsuki.

Rencananya akan aku buat satu chapter untuk Tatsuki yang isinya nanti akan dari sudut pandang Ichigo maupun Orihime. Bisa jadi mungkin ada sedikit sudut pandang Tatsuki juga sebagai tambahan. Sudah terbayang idenya tapi masih belum buat draftnya. Drabble ini pengennya aku tulis sesuai dengan timeline cerita asli baik dari manga maupun anime. Tapi ya seperti yang sudah aku bilang, semakin banyak chapter berjalan pasti akan ada saat kehabisan ide. Jadi saran, kritik serta masukan dari kalian sangat berharga dan akan membantu dalam pengembangan cerita selanjutnya.

Selamat membaca dan jangan lupa tetap jaga kesehatan.

Yukari.