Terima kasih untuk reviewnya. Ah, betapa berharganya buatku satu review dari kalian itu :') boost semangatku untuk lanjutin ini ^^
Part 12: What is Wrong?
Sepanjang masa hidupku, aku mengenal Papa sebagai orang yang bersemangat namun ceroboh dan penuh emosi. Walau seiring bertambahnya usia, apalagi memasuki umur 50 an, tentu saja sifatnya sudah banyak berubah, meski tak bisa kupungkiri kalau ia masihlah sosok Zhu Ran yang optimis dan selalu menularkan energi positif padaku.
Aku tidak tahu apa yang sudah dialami dan dirasakan Papa semenjak kelahiranku sampai aku sudah menginjak usia 20, karena ia bisa menyembunyikannya dengan sangat rapi. Membesarkanku seorang diri pasti bukan hal yang mudah, apalagi harus bertarung dengan perasaannya karena kehilangan orang yang dicintai.
Aku memang tidak mengingat sosok Mama, kepergiannya di saat umurku masih sangat belia.
Betapa aku ingin merasakan hangat pelukannya seperti bagaimana Sun Shi memeluk Lu Feng, merasakan bagaimana masakan buatannya, atau merasakan bagaimana mendengar dongeng sampai terlelap dalam dekapannya.
Bukan aku tidak bersyukur atas Papa yang melakukan semua itu padaku, sungguh. Hanya saja, kasih sayang seorang ayah dan ibu jelas berbeda, bukan?
Aku masih tidak tahu kemana arah cerita ini. Mama terlihat sangat mencintai Jenderal Gan Ning. Apa yang akhirnya membuat Mama menaruh hati pada pria lain? Apakah Jenderal Gan Ning bersikap buruk padanya?
Kalau benar demikian, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Mama.
"…Yue?" aku segera tersadarkan dari lamunanku saat Ling Zhao menepuk bahuku.
"Oh, aku tidak tahu kau di belakangku," kataku buru-buru sambil mengusap air mata yang tidak kusadari membasahi pipiku.
"Kau baik-baik saja?" raut wajah Ling Zhao berubah begitu melihat kondisiku.
"Aku baik-baik saja kalau ayahmu mau menyelesaikan ceritanya hari ini juga," gurauku, baru sadar kalau Paman Ling Tong tidak ada di beranda.
"Tunggu sebentar, Ayah sedang bicara dengan Ibu."
"Ling Zhao, bagaimana menurutmu cerita ini akan berakhir?"
Ling Zhao terdiam sejenak. "Aku belum tahu, kau lahir tahun 215, masih lama dari latar cerita, apa saja bisa terjadi. Tapi satu yang sudah jelas, pernikahan ibumu dengan Liu Bei hanya sementara dan ibumu tidak punya anak darinya."
"Liu Shan—"
"Bukan, Liu Shan anak Lady Gan, selir Liu Bei, meskipun memang ia lahir satu tahun sebelum ibumu menikah dengan Liu Bei."
"Hei, Ling Zhao, pergilah berlatih dengan Lu Feng. Ayah masih ada urusan panjang dengan temanmu ini," usir Paman Ling Tong, mengejutkan kami tiba-tiba.
"Tidak perlu, dia di sini saja. Aku ingin Zhao mendengarnya juga," tegasku. Jujur saja, aku perlu analisis cerdiknya.
Paman Ling Tong bergeming sejenak. "Baiklah."
"Gan Ning, aku ada perlu denganmu." Setelah hari latihan yang melelahkan bagi Gan Ning, Lu Meng dan Ling Tong, Sun Quan menghampiri mereka.
"Kalau bisa bawa saja dia yang jauh, Tuan Sun Quan. Aku lelah berada di dekatnya terlalu lama," tukas Ling Tong, terlihat bahagia harus jauh dari rivalnya itu.
"Jangan lupa minum bersamaku nanti malam, Pak Tua!" Gan Ning tampak tidak memperdulikan ucapan Ling Tong dan menyeringai ke arah Lu Meng.
Gan Ning sungguh tidak mengerti kenapa Sun Quan membawanya ke halaman belakang istana, jauh dari siapapun. Hanya ada mereka berdua di sana, sembari disuguhi pemandangan burung-burung yang sedang mencari makan.
"Aku perlu kau untuk bertarung di Nanjun, Cao Cao kini sudah di titik terlemahnya atas kemenangan kita di Chi Bi."
"Baik, Tuan." Gan Ning semakin bingung, percakapan seperti ini tidak mengharuskannya untuk berbicara secara privat dengan Sun Quan.
"Kau juga tahu adikku akan menikah tak lama lagi bukan?"
"Aku tahu."
Baru kali ini, Gan Ning menatap secara intens dan dari dekat mata hijau Sun Quan yang sama persis seperti Sang Putri, tapi sepasang mata hijau ini tidak memancarkan kehangatan seperti biasanya.
Ia justru merasakan sebaliknya. Dingin.
"Selagi kau bersiap untuk ke Nanjun, tolong jauhi dia. Aku tahu kalian memang berteman dekat, tapi setelah perang di Chi Bi kemarin, kalian sudah tidak ada urusan."
"Tuan Sun Quan, aku sungguh minta maaf karena lalai dan menyebabkan Putri terluka." Gan Ning hampir saja bersujud di depan Tuannya itu, yang langsung dicegah oleh Sun Quan, memegang pundaknya yang tidak terluka.
"Tidak, aku justru berterima kasih karena kau membawanya dengan selamat. Bukan itu yang kumaksud."
Keduanya berpandangan sejenak, sepertinya Gan Ning tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Kau adalah salah satu Jenderal terbaikku. Aku sangat bangga mempunyai seorang seperti kau dalam pasukanku."
Nafas Gan Ning tiba-tiba saja terasa pendek, seolah ia telah menyelam terlalu lama di dalam laut sampai segalanya terasa sesak.
"Tapi aku minta padamu, tolong jaga jarak dengan adikku. Terkadang, beberapa hal tidak bisa dipaksakan, Gan Ning."
Hari itu sama sekali tidak panas. Tapi entah mengapa, Gan Ning merasakan pandangannya mulai buram, kepala sebelah kirinya berdenyut kencang dan keringat bercucuran di tubuhnya.
Sore itu, Ling Tong yang sedang menikmati waktu santainya di bawah sebuah pohon sembari melihat pemandangan sungai di hadapannya dikejutkan dengan kehadiran Sun Shang Xiang yang tampaknya tidak sedang dalam mood yang baik.
"Kau tahu apa yang terjadi pada Xingba?" terkanya tiba-tiba.
Ling Tong, yang tak siap ditanya begitu, hanya mengernyit bingung.
"Entahlah, bukannya kau yang lebih sering berbicara dengannya?" ia bertanya balik. "Hmm, tapi kurasa 2 hari belakangan dia tidak dalam kondisi yang baik."
"Apa dia sakit?"
"Tidak, err.. kurasa sejak Tuan Sun Quan memanggilnya."
Raut keterkejutan terlihat di wajah Shang Xiang. "Oh, ya? Ada apa?"
"Dia hanya bercerita kalau harus bertarung di Nanjun bersama Tuan Lu Su, Tuan Lu Meng dan Tuan Zhou Yu."
"Oh, begitukah? Dia tidak bilang padaku, bahkan mungkin menghindariku." Sun Shang Xiang sedikit menggeser Ling Tong agar bisa duduk di sebelahnya.
Ling Tong tidak berani berkomentar apapun karena Gan Ning juga belum memberitahunya, ia juga tidak mengerti kenapa mantan perompak itu agak lebih diam dua hari ini.
Sore hari itu, semua orang tampak bahagia dengan kegiatan masing-masing. Mentari yang perlahan turun tidak menyurutkan semangat orang-orang yang sedang beraktivitas. Beberapa prajurit sedang berlatih, yang lain menghabiskan waktu dengan berlayar di perahu sambil memancing, bahkan sepasang anak laki-laki tampak riang mengejar satu sama lain.
"Hey, mungkinkah di masa depan nanti, anak kita akan saling berteman dan bermain bersama?" pertanyaan Shang Xiang itu membuat Ling Tong langsung duduk tegap.
"Kemungkinan besar mereka memang seumuran."
"Yah, itu mungkin terjadi kalau aku tetap di sini bersama kalian, tapi mungkin anakku justru tumbuh besar di Shu, belajar literatur sampai muak. Kalau bertemu denganmu, kau tidak akan bisa membodohinya!"
Keduanya lalu tergelak sampai suara bel yang sangat familiar menginterupsi pembicaraan.
"Oi, Ling Tong! Kau – ah, lupakan." Walaupun tujuan Gan Ning sebenarnya adalah memanggil Ling Tong, tetapi raut wajahnya berubah drastis kala melihat sosok lain yang sedang duduk di sebelah semi-rivalnya itu.
Tampak bingung menyusun kata, Gan Ning memilih untuk berbalik dan pergi.
"Xingba!" seru sang Putri. Tak mendapat jawaban, Sun Shang Xiang mengejar dan meraih lengannya. "Kau baik saja?"
Tanpa disangka oleh ketiganya – bahkan Gan Ning sekalipun – ia menepis tangan Sun Shang Xiang, meninggalkan gadis yang kini berusaha sekuat mungkin agar air matanya tidak jatuh setelah mendengar kalimat terakhirnya, "Maaf, aku ada urusan."
Untungnya Ling Tong cukup tanggap dengan kejadian tersebut dan mendekat ke arah putri bungsu Sun yang terlihat makin merana meratapi tubuh Gan Ning yang kian menjauh seiring dengan matahari yang tenggelam total.
"Aku akan mengantarmu ke dalam istana, oke? Sebentar lagi gelap, sebaiknya kita pulang."
"Sekarang aku mulai iba dengan Jenderal Gan Ning ini, Paman!" ucapku jujur.
Hmm.. di posisi Mama saat itu pastilah berat karena belum tahu kenyataan yang sebenarnya. Tapi rasanya, posisi Jenderal Gan Ning malah lebih berat karena ia harus berpura-pura di depan Mama, belum lagi harus terbebani dengan ultimatum dari Kaisar Sun Quan.
Paman Ling Tong terkekeh. "Jujur saja, saat itu aku belum sepenuhnya menganggap Gan Ning sahabatku, apalagi seperti kau tahu, dia membunuh ayahku. Aku benar-benar marah padanya hari itu atas sikapnya."
"Yah, setidaknya anak Paman Ling Tong dan anak Mama benar-benar berteman, kan?" aku berusaha mencairkan suasana dengan menyikut Ling Zhao yang menyeringai sedikit.
"Setidaknya anak Putri Sun Shang Xiang tidak sedang belajar literatur di Shu," tukasnya. Aku dan Paman Ling Tong tertawa kecil sebelum kembali ke topik.
"Jadi ternyata, mereka tidak bisa bersatu karena larangan Kaisar Sun Quan, ya?"
"Banyak hal, Yue. Banyak hal yang terkadang terlalu rumit untuk dijelaskan, tapi mau tidak mau kita harus menerimanya."
Cerita itu berlanjut.
"Apa yang kau pikir kau lakukan, hah?!" hardik Ling Tong setelah ia berhasil menemukan Gan Ning yang tampak frustasi di halaman belakang malam harinya. Dengan segelas arak di tangan kanannya, Ling Tong tidak yakin apakah pria di hadapannya ini dalam keadaan sadar sepenuhnya.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi!" Gan Ning balik menyentak, lalu menenggak kembali araknya.
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau menghindari semua orang?!"
Tapi Ling Tong tahu kalau meneruskan pembicaraan ini akan sia-sia, karena kondisi Gan Ning sekarang tidak bisa diajak berbicara dengan kepala dingin. Alih-alih pergi, ia memutuskan untuk duduk di hadapannya, menunggu apa tindakan Gan Ning selanjutnya.
"Tuan Sun Quan tahu." Hanya satu kalimat itu yang ia ucapkan, dan hanya dengan satu kalimat itu Ling Tong bisa menebak kelanjutan ceritanya. "Dia ingin aku menjauhi Shang. Tapi itu terlalu sulit untukku, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya setiap matanya menatapku. Aku tidak bisa berada terlalu dekat darinya."
"Aku akan ke Nanjun selama beberapa hari. Mungkin itu memang cara yang efektif agar kami tidak bertemu dan bertindak bodoh."
Hari demi hari berlalu tanpa ada kabar baik sama sekali bagi Sun Shang Xiang. Pernikahannya dengan Liu Bei hanya tinggal hitungan hari, ia harus memakai topeng di hadapan semua orang untuk menyembunyikan kesedihannya, dan yang terburuk adalah sudah berminggu-minggu Gan Ning pergi tanpa memberinya kejelasan sama sekali. Terakhir kali mereka benar-benar berinteraksi adalah saat perang di Chi Bi.
Apakah Gan Ning menganggapnya beban karena terpisah darinya saat perang sampai mereka berdua terluka parah? Mungkin saja Gan Ning tidak akan marah padanya jika mereka tidak terpisah.
Tidak ada makanan selezat apapun yang bisa membangkitkan nafsu makannya. Justru sebaliknya, semua jenis makanan membuatnya ingin muntah walaupun Shang Xiang sudah mengurangi setengah porsi makannya.
"Tuan Putri, kita perlu berbicara sebentar." Zhou Yu membuyarkan lamunan Shang Xiang saat gadis itu baru saja hendak beranjak dari meja makan, meninggalkan sedikit sisa makanan di piring yang tidak bisa ia habiskan.
Sun Quan sepertinya juga memerhatikan hal ini, karena ia hanya menatap kepergian Shang Xiang dan Zhou Yu tanpa berkata apa-apa. Kakak beradik itu masih tidak saling bicara, atau mungkin lebih tepatnya, Sun Shang Xiang menghindari berada dekat dengan Sun Quan terlalu lama.
Kondisi Zhou Yu terlihat sangat buruk, kian hari tubuhnya makin kurus, ia kembali paling awal dari Nanjun dengan membawa luka-luka, yang diperparah dengan stres akibat terlalu banyak pikiran, terutama soal bagaimana menyingkirkan Zhuge Liang.
"Aku ada kabar baik untukmu," ucap Zhou Yu saat keduanya telah berada cukup jauh dari kerumunan. "Pernikahan ini memang umpan, tapi awalnya aku menyuruhmu untuk ke wilayah Liu Bei dulu selama beberapa saat, bukan? Aku dan Sun Quan punya rencana yang lebih baik. Kami berencana membunuh Liu Bei lebih cepat, setelah pernikahanmu dan saat dia masih di daerah Jian Ye. Kalau berjalan lancar, kau tidak perlu pergi ke daerah Liu Bei."
Mungkin ini menjadi kali pertama Sun Shang Xiang tersenyum setelah beberapa hari terakhir diselimuti kemurungan, pertama kali ia menemukan sedikit semangat hidup. "Kau serius, Zhou Yu?! Apa yang bisa kubantu agar rencana ini berjalan lancar?"
"Menunda pembunuhan Liu Bei akan membuat lebih banyak ancaman, bahaya untuk membiarkannya hidup terlalu lama. Shang Xiang, aku hanya ingin kau tetap pada rencana, itu saja yang perlu kau lakukan."
"Aku akan berusaha sebaik mungkin!"
"Sun Quan sangat khawatir dengan kondisimu, kau kehilangan banyak berat badan hanya dalam beberapa hari," Zhou Yu meneruskan.
Sun Shang Xiang hanya mengedikkan bahu, apakah strategis satu ini tidak punya cermin?
"Tunggu, apakah Mama tidak jadi dibawa pergi oleh Liu Bei?" tebakku. Jika Mama memang tidak pergi, masih ada jeda enam tahun sebelum aku lahir, cukup waktu untuk menumbuhkan cinta Mama pada Papa, walau masih tidak jelas bagaimana akhir kisah cinta Mama dan Jenderal Gan Ning.
"Kalian jangan lupa dengan si legendaris Zhuge Liang." Paman Ling Tong mengingatkan.
Hmm, betul juga. Strategis Shu yang baru meninggal tahun lalu itu sangat terkenal seantero Cina karena kepintarannya. Punya akal apa dia kali ini?
"Yang jelas, Zhuge Liang selalu satu langkah lebih maju dari kami."
If you like this story, kindly leave R&R!
