Disclaimer: Dynasty Warriors belongs to KOEI. Canon characters belong to God. I only own the story

Terima kasih yang sudah membaca! Love u so muchhh, hehehe.

Chapter 13: Marriage


Aku belum pernah merasakan jatuh cinta sebelumnya. Namun, aku bisa ikut merasakan patah hati yang dialami oleh Mama dan Jenderal Gan Ning kala itu. Keduanya serba salah, dan aku yakin sebenarnya Jenderal Gan Ning juga pasti ingin memberi tahu semuanya pada Mama.

Di satu sisi, aku ikut terbawa emosi dan turut menyalahkan Kaisar atas perbuatannya. Pertama dia menyuruh Mama menikahi lelaki dari antah berantah, lalu ia mengatur-atur perasaan orang. Apakah sebagai seorang Putri sebegitu harusnya menikahi pemimpin Kerajaan?

Aku tidak paham. Kaisar menentang hubungan Mama dan Jenderal Gan Ning, tapi pada akhirnya Mama menikah dengan Papa? Bukankah Papa juga seorang Jenderal?

"Zhao, ambilkan aku minum. Bercerita sepanjang ini membuat tenggorokanku kering," perintah Paman Ling Tong.

"Ayah masih akan melanjutkan ceritanya, kan? Aku juga penasaran," kata Ling Zhao.

"Tentu saja, bagian yang menarik justru setelah ini." Paman Ling Tong terkekeh.

Selagi Ling Zhao kembali ke dalam untuk mengambil air, aku bertanya pada ayahnya. "Jenderal Gan Ning membunuh ayah Paman, betul? Lalu mengapa kalian bisa bersahabat? Aku tidak yakin jika seseorang membunuh Papaku, aku bisa berdamai dengannya…"

"Ya, Zhu Yue, pastinya aku saat itu juga merasa begitu. Aku amat membenci Gan Ning dari lubuk hati terdalamku, bahkan beberapa kali aku ingin dia mati saja di peperangan. Tapi Lu Meng tidak menyerah untuk membuat kami berdamai, kami selalu dipasangkan saat perang. Pada satu waktu aku pernah dikepung oleh para pasukan Wei dan dia menyelamatku. Setelah itulah, api di antara kami perlahan-lahan padam. Aku tidak pernah mendeklarasikan kata damai, tapi aku yakin dia tahu saat aku tak lagi ingin dia terbunuh."

"Bolehkah aku tahu bagaimana perasaanmu saat akhirnya ia meninggal di Yi Ling?" aku dengan ragu bertanya, takut pertanyaan itu sensitif baginya.

Paman Ling Tong terdiam sejenak. "Seperti dejavu saat ayahku meninggal, rasa sakitnya sama persis."

Selama beberapa detik, tidak ada yang bicara. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai seruan semangat yang familiar menginterupsi keheningan itu.

"Halo! Apa aku ketinggalan sesuatu?" Suara Lu Feng yang ceria membuyarkan lamunanku.

"Oh, banyak sekali," Ling Zhao yang menjawabnya sembari menyuguhkan segelas air pada ayahnya.

"Serius? Memangnya ada apa? Kenapa Zhu Yue dan Paman Ling Tong terlihat tegang?"

"Jangan berisik dan dengarkan saja ceritanya," kataku. Tampaknya Paman Ling Tong sudah siap melanjutkan ceritanya.


Sudah beberapa menit berlalu sejak Sun Shang Xiang menatap gaun pengantin merah yang tampak kontras di atas tempat tidurnya yang berwarna putih. Harus ia akui, gaun itu memang cantik dan mewah. Namun, bukannya membuat hati terasa gembira, gaun itu justru membuat emosi-emosi negatif berkecamuk di hati Sang Putri.

Sedih, karena ia harus meninggalkan Kerajaan dan orang-orang terdekat untuk seseorang yang sama sekali tidak dicintainya. Marah, kenapa takdir memilihnya sebagai seorang Putri yang hidup berlandaskan aturan kerajaan alih-alih menjadi seseorang yang bisa memilih jalan hidupnya dengan bebas. Takut, akan hal baru apa yang menanti selanjutnya. Juga khawatir, karena ia sungguh berharap rencana Zhou Yu akan berhasil sehingga ia tidak perlu menjadi istri Liu Bei dalam waktu lama. Apabila gagal, harus kemana ia berlari?

Dan di samping semua emosi itu, masih ada luka lain yang ia emban dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Setiap kali ia memikirkan pria itu, hatinya bak disayat pisau lagi dan lagi.

Shang Xiang kemarin mendengar dari Ling Tong bahwa Gan Ning sempat terperangkap oleh pasukan Cao Cao di Nanjun, sehingga membuat para strategis seperti Zhou Yu, Lu Su dan Lu Meng Panik. Beruntungnya, mereka berhasil menyelamatkan mantan perompak itu tepat waktu ketika kondisinya belum begitu buruk.

"Hah… lagi-lagi ia terluka," batin Shang Xiang.

Setelah perang di Nanjun berakhir tidak memuaskan bagi Wu, Shang Xiang jarang sekali melihat Gan Ning. Apakah ia sehat atau masih harus menahan sakit akibat luka-lukanya, ia tidak tahu.

Mungkin sudah ratusan kali Shang Xiang menyalahkan dirinya sendiri karena terpisah dari Gan Ning saat perang di Chi Bi, yang kemungkinan menjadi penyebab lelaki itu menjauhinya.

Selama ini, ia mengetahui kabar Gan Ning hanya dari orang lain tanpa pernah bicara langsung seperti dulu.

Apakah ia sudah menemukan wanita idamannya? Wanita yang tak terikat oleh peraturan-peraturan konyol dan hidupnya tak terikat oleh kerajaan? Wanita yang bisa menemaninya berlayar, berkeliling Cina tanpa harus memikirkan aturan kerajaan.

Padahal aku pikir dia serius dengan perasaannya padaku.

Selain Gan Ning, Shang Xiang juga sudah mulai lupa bagaimana cara berinteraksi dengan damai dan penuh kehangatan dengan kakaknya seperti dulu. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah Sun Quan. Bah, jika saja Sun Ce masih hidup, tidak mungkin kakak sulung Shang Xiang itu rela menjualnya.

Belum lagi pria tua itu, Liu Bei, yang nampaknya menerima tawaran Sun Quan dengan senang hati setelah istrinya baru-baru ini meninggal.

Dasar sampah.

Ini adalah malam terakhirnya dengan menyandang status lajang, sebelum esok akan menjadi hari terburuk seumur hidupya. Sebenarnya Shang Xiang ingin sekali menghirup udara segar di Wu yang mungkin menjadi kali terakhir, tapi pengawal-pengawal pribadinya yang siaga di depan kamar pasti akan banyak bertanya apa yang akan ia lakukan selarut ini.

Walau begitu, Shang Xiang bersumpah akan membawa pengawal-pengawalnya sampai ke Shu.

Hal yang begitu disayangkan olehnya adalah salah satu pengawal favorit sekaligus sahabatnya, Lian Shi, tidak mungkin akan ikut ke kerajaan Liu Bei. Kini Lian Shi sudah mempunyai hubungan spesial dengan kakaknya, dan kemungkinan besar keduanya akan menikah.

Ah, benar juga! Lian Shi! Shang Xiang akan mengatakan pada para pengawal lainnya bahwa ia akan menemui Sun Quan dalam pengawasan Lian Shi, walau sebenarnya ia hanya ingin menikmati waktunya sendirian.


"Sialan!" Gan Ning mengernyit saat luka yang didapatnya di Nanjun terasa kembali sakit. Padahal baru saja tusukan kapak Zhang Liao di pundaknya sembuh total, kini ia harus menghadapi luka lainnya.

Ia menendang salah satu botol arak kosong yang baru saja ditengguknya dengan kalap. Semenjak Sun Quan memberi ultimatum, Gan Ning minum dua kali lebih banyak dari biasanya dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

Di sebelahnya, Ling Tong menghela napas panjang. "Tidakkah kau ingin menjelaskan langsung pada Shang Xiang? Dia juga hampir sama gilanya sepertimu."

"Aku ingin, Ling Tong. Ingin sekali. Tapi aku bisa menyeretnya ke masalah baru. Aku tahu karakternya. Ia akan semakin membenci Tuan Sun Quan, bahkan kemungkinan ia akan memberontak. Lalu kau pikir Tuan Sun Quan akan diam, pasrah saja dan langsung menuruti keinginannya? Keinginan kami? Tidak! Apalagi pernikahan mereka kurang dari 24 jam lagi. Kau pikir bajingan bernama Liu Bei itu akan melepaskannya begitu saja dan berkata 'Oh, mereka saling mencintai, kalau begitu aku tidak jadi menikahinya', begitu? TIDAK!"

Gan Ning melempar salah satu botol arak ke dinding sampai pecah, menimbulkan suara nyaring yang menyakiti telinga, seolah menunjukkan bagaimana hatinya ikut hancur berkeping-keping bagaikan botol itu.

"Satu-satunya yang bisa kuandalkan hanyalah rencana Zhou Yu. Setelah Liu Bei mati, aku akan memperjuangkan agar kami bisa bersama lagi."


Selain berbakat dalam menggunakan panah, bakat lain Sun Shang Xiang yang tidak pernah dan tidak ingin ia tunjukkan pada publik adalah bakatnya untuk berakting.

Setelah melalui malam yang berat dan menyesakkan dada, hari pernikahan itu tiba. Hari di mana ia harus mengenakan topeng dan tersenyum lebar untuk membohongi publik, meyakinkan mereka bahwa ia bahagia hari ini.

"Kau cantik sekali, Putri," puji Lian Shi. Shang Xiang bisa melihat rahangnya mengencang dan matanya mulai merah, menahan tangis sama sepertinya.

"Aku akan sangat merindukanmu." Putri Sun Jian satu-satunya itu memeluk wanita yang telah setia di sisinya selama beberapa tahun terakhir, posisi Lian Shi tidak akan bisa digantikan oleh siapapun.

"Aku harap segala hal baik berpihak padamu, Putri."

"Aku tidak yakin." Shang Xiang mengusap air mata yang perlahan turun dari mata sahabatnya. "Aku justru berharap kau yang bahagia di sini. Semoga kakakku bisa membahagiakanmu, aku turut senang kau bisa bersama orang yang kau cintai."

Lian Shi memeluk Shang Xiang sebelum mereka keluar dari kamar Sang Putri. Pernikahan akan dilangsungkan mulai sore hari, di mana Liu Bei, Sun Quan dan beberapa petinggi lain akan berpesta di aula besar, sedangkan Sun Shang Xiang sebagai mempelai wanita akan menunggu kedatangan Liu Bei di kamar mengenakan kerudung yang menutup seluruh wajahnya. Kerudung itu nantinya harus dibuka oleh mempelai pria.

Sebelum itu, Sun Shang Xiang ingin menyusuri istana untuk terakhir kalinya, sekaligus menemui Sun Quan untuk mengucap perpisahan.

Dalam perjalanan menuju aula dengan dikawal oleh Lian Shi dan sejumlah pengawal pribadinya, mereka disambut oleh Zhu Ran dan Lu Xun yang tampak rapi.

Dengan agak tergesa, Shang Xiang mempercepat langkahnya ke arah kedua maniak api itu. "Zhu Ran, Lu Xun! Astaga, kini kita tidak bisa bermain dan latihan bersama lagi!" tanpa ada perasaan canggung, Shang Xiang memeluk Lu Xun terlebih dulu.

"Boyan, kau membuatku membuka perspektif baru akan banyak hal. Aku salut dengan kepintaranmu, semoga kau bisa membuat Wu lebih baik dengan otakmu itu. Aku senang sekali banyak belajar ilmu baru darimu!"

"Sama-sama Tuan Putri, aku juga senang berteman denganmu. Kau orang yang berani dan ceria, kuharap apimu tidak pernah padam." Lu Xun menepuk punggung Shang Xiang beberapa kali.

Gadis bersurai coklat itu tergelak. "Bahkan di situasi beginipun, kau tidak lepas dari obsesimu akan api."

Setelah melepaskan pelukan mereka, Shang Xiang menatap Zhu Ran sebentar dan memeluknya, lebih erat daripada Lu Xun.

"Yifeng, kau mengajarkanku banyak teknik memanah, menjadi sahabatku dalam suka dan duka, aku harap kau bisa menjadi pemanah terbaik di Wu! Aku akan sangat merindukanmu."

Tak mendengar jawaban apapun dari Zhu Ran, Shang Xiang berusaha melepaskan pelukan mereka, walau gagal karena pelukan Zhu Ran lebih kuat. Shang Xiang baru menyadari kawannya itu menangis tanpa suara saat merasakan punggungnya bergetar.

"Hei! Kau membuatku makin sedih!" kekeh Sang Putri.

Sial, aku juga ingin menangis, tapi aku harus mempertahankan aktingku sampai hari ini berakhir.

"Kau sahabat terbaikku… Shang Xiang… bolehkah kami nanti mengunjungimu?" tanya Zhu Ran setelah ia berhasil mengendalikan tangisnya.

"Tentu saja! Aku akan melawan siapapun yang berani menentang kunjungan sahabat-sahabatku. Aku sangat berharap kalian datang." Mengeratkan pelukannya pada Zhu Ran untuk terakhir kalinya, Shang Xiang akhirnya melepaskan pelukan mereka berdua.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Sun Shang Xiang dan Lian Shi kembali menyusuri istana. Langkah demi langkah, Shang Xiang bisa merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Bukan karena perasaan senang, tapi sebaliknya. Seolah setiap langkah akan membawanya lebih dekat menuju neraka.

Ketika akan melewati ruang makan, sepasang sahabatnya yang lain menyambut. Yang satu tersenyum padanya, sedangkan yang satu hanya menatapnya kosong.

"Ling Tong." Shang Xiang amat bersyukur akan kehadiran Ling Tong di sana, agar fokusnya tidak sepenuhnya tertuju pada pria lain yang menyita pikirannya selama ini. Pria yang dulu selalu menatapnya hangat, namun kini tergantikan oleh tatapan yang tak pernah ia sangka akan dapatkan darinya.

"Shang Xiang, jangan lupakan aku! Bukankah kita sudah berjanji anak kita akan bermain bersama?" gurau lelaki yang pertama.

"Jangan konyol Gongji, anak kita mungkin akan sangat jarang bertemu satu sama lain!" Shang Xiang tertawa, mengusap sedikit air mata yang menghalangi pandangannya.

Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, kini Shang Xiang menatap lelaki kedua yang berdiri di sana. Ia amat familiar dengan tubuh tegap dan berotot, rambut berwarna madunya yang selalu menarik perhatian, dan sepasang mata coklat itu.

Kali ini tatapan mata itu terasa berbeda.

"Xingba," sapanya.

"Tuan Putri."

Tuan Putri. Pria itu tahu betul Shang Xiang benci dipanggil begitu olehnya. Hanya olehnya, karena ia jelas tidak keberatan saat Lu Xun tak pernah memanggilnya menggunakan nama asli.

"Aku harap kita bisa bertemu lagi, Xing- Gan Ning."

"Kuharap begitu. Kau teman yang sangat baik."

Teman.

Shang Xiang menatap keduanya sebentar sebelum menganggukkan kepalanya dan meneruskan langkahnya menuju aula. Ia merasakan tangan Lian Shi menggenggam jari-jarinya lebih erat.

"Kau akan menemukan kebahagiaan lainnya, Putri," Lian Shi berbisik di telinganya.

Menit-menit yang mendebarkan itu berakhir ketika aula besar yang sudah ramai mulai terlihat. Sun Shang Xiang bisa merasakan seseorang tak melepaskan pandangan darinya. Ia tahu siapa itu, strategis baru Liu Bei, Zhuge Liang. Strategis yang dengan kerjasamanya dengan Zhou Yu, sukses mengalahkan ratusan ribu pasukan Cao Cao dan mengukir sejarah baru.

Entah mengapa, Shang Xiang tidak berani melihatnya terlalu lama. Tatapan Zhuge Liang terasa… mengintimidasi. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Sun Quan, yang juga menatapnya.

"Kakak." Sun Shang Xiang berlutut, mengepalkan kedua tangannya sebagai tanda hormat di hadapan sang pemimpin Kerajaan.

"Aku berterima kasih karena kau memilihkanku seorang pria yang baik untuk menjadi pasanganku, demi masa depan Wu dan juga masa depanku."

Aku ingin muntah.

"Kini aku mengucapkan perpisahanku padamu. Aku harap Surga memberkatimu dengan banyak kebaikan dan masa kejayaan yang lama."

"Berdirilah," titah Sun Quan. "Aku berharap untuk kebahagiaanmu bersama Liu Bei, dan kiranya pernikahan kalian akan membawa masa depan yang lebih baik bagi Wu dan Shu."

Dua pasang mata hijau saling bertatapan.

Kalau boleh jujur, Shang Xiang sangat merindukan kebersamaan dengan kakaknya.

Ia tahu bahwa pernikahan ini hanya umpan dan menjadi bagian dari rencana Zhou Yu, tapi seharusnya Sun Quan bisa mencari cara lain kan? Zhou Yu saja baru menemukan cara untuk membunuh Liu Bei setelah spontanitas Sun Quan di aula besar beberapa bulan lalu. Bagaimana kalau Zhou Yu gagal?

Sun Shang Xiang ngeri membayangkannya. Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidup selamanya di Shu dan mempunyai anak dari lelaki yang tidak dicintainya.

Di sebelah Zhuge Liang, Zhou Yu tersenyum. Ketika Shang Xiang balas menatapnya, strategis itu mengangguk pelan.


Malam itu, di aula besar, semua orang tampak gembira dan menikmati perayaan. Petinggi-petinggi duduk bersila, di hadapan mereka telah disajikan meja yang di atasnya terdapat cangkir berisikan arak berkualitas.

Sama seperti yang lainnya, Liu Bei juga menikmati pesta itu. Entah sudah berapa banyak gelas arak yang ditenggaknya.

"Liu Bei, sudah berapa cangkir yang kau minum hari ini?" tanya Sun Quan.

"Aku tak ingat, tapi sepertinya empat puluh atau lima puluh," guraunya.

"Hanya itu? Tidak cukup. Kau perlu setidaknya ratusan, sebagai simbol ratusan tahun kebahagiaan dalam pernikahan."

"Ratusan tahun pernikahan? Betapa beruntungnya," terdengar sahut-sahutan dari tamu yang hadir.

"Cepat minum, Paman Kaisar!" seseorang berseru.

"Baik kalau begitu, keinginan Tuan Sun Quan adalah perintahku." Liu Bei tersenyum.

Semua orang di aula bersorak, menyambut hari bahagia yang akan menjadi hari bersatunya dua kerajaan.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana mungkin arak yang hanya sedikit itu mempengaruhiku?" Liu Bei menepis tangan pengawal yang membimbingnya berjalan menuju kamar pengantin.

Pengawal itu tidak pergi, tetap mengawal Liu Bei yang mulai sempoyongan.

"Paman Kaisar, kita telah tiba di halaman dalam menuju kamar. Silahkan."

Namun alangkah terkejutnya Liu Bei ketika mendapati di depan kamar itu dijaga sekitar sepuluh pengawal perempuan Sun Shang Xiang. Pemandangan yang tidak biasa untuk sebuah kamar pengantin.

"Ini kamar pengantinnya? Menurutku lebih seperti barak," Liu Bei terkekeh.

"Tuan Putri adalah seseorang yang menekuni bela diri, jadi jangan heran jika kamar pengantinnya seperti ini," ucap pengawal tersebut. Ia lalu menunduk dan meninggalkan Liu Bei yang berjalan mendekati para pengawal perempuan kepercayaan Shang Xiang.

"Tuan, Sang Putri selalu menggemari permainan pedang. Ada dua pedang di sini, yang satu berkualitas baik dan satunya buruk. Tolong pilih salah satu." Salah seorang pengawal itu berkata.

"Apa kegunaan pedang di malam pernikahan?" Liu Bei menatap kedua pedang yang diletakkan bersebelahan itu.

"Tuan harus menggunakan salah satu pedang ini untuk membuka kerudung pengantin wanita untuk menyempurnakan pernikahan ini."

"Kalau aku gagal?"

"Kalau Tuan gagal, silahkan pergi untuk menghindari rasa malu," ucapnya tegas.

"Baiklah." Liu Bei menatap kedua pedang itu sejenak sebelum mengambil salah satu pedang yang terlihat lebih tipis. Ia mencabut pedang itu dari sarungnya dan berjalan mendekat ke arah pintu kamar.

Belum sempat ia memasuki kamar, Sun Shang Xiang sudah lebih dulu berjalan maju dan mengarahkan pedang ke arahnya, berhasil membuat Liu Bei tersentak mundur. Bahkan dari balik kerudung yang menutup seluruh wajahnya, gerakan Sun Shang Xiang tetap lincah.

Gadis itu semakin frustasi ketika melihat lawannya juga tak kalah lincah dan berhasil menghindari semua serangannya.

"Tuan Putri, jika ada yang salah, mari kita bicarakan. Tidak perlu berkelahi."

Shang Xiang tidak menggubris dan mengarahkan pedangnya ke leher Liu Bei, yang langsung ditangkis dengan cepat.

Sial. Ia merubah haluan dengan menunduk dan menyerang kaki Liu Bei, namun pria itu lagi-lagi berhasil menghindar dan lompat ke arah lain.

Adik Sun Ce dan Sun Quan itu terbelalak ketika Liu Bei justru menggunakan pedangnya untuk hampir saja melepaskan kerudung itu tanpa menggores wajahnya sama sekali. Tersulut emosi, Shang Xiang menendang pedang Liu Bei hingga terlepas dari genggamannya.

Tapi Liu Bei tidak mau menyerah, ia menangkap kembali pedangnya. Ketika hendak mengarahkan pedang itu ke arah Shang Xiang, pengantinnya lebih cepat dan berhasil menangkis sekaligus membelah pedang Liu Bei jadi dua.

Keduanya terdiam sejenak. Pedang Sun Shang Xiang sangat dekat dengan leher Liu Bei.

"Kenapa kualitas pedang ini jelek sekali?" gumam Liu Bei.

"Ini sudah kehendak Surga. Pergi dari sini!"

Dengan cepat Liu Bei mengambil pedang yang satu lagi dan kembali melanjutkan pertarungan. Bukannya makin melemah, kekuatan Shang Xiang justru dua kali lipat lebih kuat. Tapi kali ini Liu Bei mulai mempelajari gerakannya.

Target Liu Bei hanyalah melepas kerudung itu.

Begitu ia mengarahkan pedangnya ke puncak kerudung, Shang Xiang berusaha menepisnya lagi. Ia berhasil mematahkan pedang Liu Bei menjadi dua lagi, tapi ia terlambat satu detik.

Liu Bei berhasil membuka kerudung itu dengan pedangnya tepat sebelum pedang itu terbelah.

"Kau kalah, Tuan Putri."

"Baiklah." Sun Shang Xiang menyimpan kembali pedangnya, tanpa menunjukkan kekesalan atas kekalahannya barusan. "Silahkan masuk, Tuan."


"Wooooww, keren sekali ibumu Yue!" Lu Feng bertepuk tangan setelah Paman Ling Tong mengakhiri ceritanya.

"Ternyata Paman tahu ceritanya lebih detail dari perkiraanku," ucapku kagum. Paman Ling Tong bahkan tahu sampai detail pertarungan kecil Mama dan Liu Bei.

"Hahaha, bagaimana tidak? Shang Xiang berkali-kali menceritakanku bagian itu sampai aku bosan mendengarkan dia berapi-api saat bercerita bagaimana Liu Bei berhasil melepas kerudung itu sedetik sebelum pedangnya terbelah lagi."

"Ahh, padahal aku berharap Mama yang menang!"

"Hmm, sebenarnya, kemampuan Liu Bei menggunakan pedang memang tidak bisa dianggap remeh. Tapi, Shang Xiang berhasil menahan kekesalannya dan menuruti perintah Zhou Yu untuk tetap pada rencana."

"Oh ya, apakah kisah Mama dan Jenderal Gan Ning berakhir begitu saja di sini? Tidak seru sekali!" kataku. Sejujurnya aku berharap ada kelanjutan dari kisah mereka. Aku tidak suka sesuatu yang menggantung begini.

"Hei, kini saatnya ayahmu yang merebut hati Putri, Yue!" sela Lu Feng. "Kalau aku jadi Jenderal Gan Ning, sudah pasti aku akan memberi tahu Putri yang sebenarnya, dan menyuruhnya tetap diam dan pura-pura!"

"Sebenarnya, aku berpikir Gan Ning akan melakukan itu dahulu, mengingat karakternya yang selalu berkepala panas," tukas Paman Ling Tong. "Tapi kurasa cintanya pada Shang Xiang berhasil mengalahkan segala ego."


Bagian pernikahan Sun Shang Xiang dan Liu Bei diambil dari film "Three Kingdoms" (2010) Episode 54, tapi endingnya memang saya rubah sedikit. Kalau di serial itu, Sun Shang Xiang memang berhasil luluh sama Liu Bei :D walau tidak sebucin di Dynasty Warriors series.

Note: kisah cinta Sun Shang Xiang masih panjang!

Terima kasih sudah membaca! Jika berkenan, tinggalkan komentar dan saran ^^