CHAPTER VI

AKU MENDAPAT SEBUAH PEDANG DARI ORANG TAK DIKENAL

.

.


Hari-hariku di perkemahan kemudian berjalan seperti jadwal yang diberikan Chiron kepadaku. Setelah kemarin, aku mengerjakan proyek bersama Leo selama hampir seharian penuh di Bunker Sembilan, hari ini aku berlatih panah dan Pankration yang dipimpin oleh Chiron. Pada kedua sesi latihan itu, aku mendapatkan kawan baru seperti Meghan Burke, putri Apollo dan Andreas Lee, putra Ares.

Meghan Burke adalah seorang gadis dengan karakter periang. Ia memiliki kulit yang sedikit tan, rambut panjang berwarna pirang kecokelatan serta iris mata berwarna cokelat. Kemampuannya dalam memanah hampir sebanding dengan Will Solace, bahkan banyak pekemah veteran yang menyandingkan dirinya dengan Lee Fletcher, mantan konselor Kabin Apollo yang telah gugur di Perang Manhattan.

Sedangkan Andreas Lee adalah seorang pemuda keturunan Chinese bertubuh gempal nan kekar, rambutnya yang berwarna cokelat dipotong pendek layaknya seorang anggota militer. Tidak seperti saudara-saudaranya yang terkesan haus akan pertarungan, Andre ̶ begitulah nama sapaannya ̶ memiliki kepribadian yang cukup kalem, meskipun jika dia marah maka sifat beringas milik Ares akan keluar dari dirinya.

Keduanya membantuku dalam beradaptasi pada kedua sesi latihan itu. Meghan mengajariku secara detail mengenai posturku dalam memanah, sedangkan Andre ̶ nama panggilan Andreas Lee ̶ melatihku dalam fisik serta dasar-dasar Pankration.

Dari segala latihan yang aku lakukan, aku menyadari bahwa kekuatan fisikku cukup berada di atas rata-rata. Hal ini dapat dilihat dari kepiawaianku dalam Pankration serta waktu latihan lari menghadapi dryad. Selain itu, kemampuan berpedangku juga lumayan di atas rata-rata menurut Percy. Aku sering dijadikan partner sparring olehnya.

Contohnya hari ini, aku kembali menjadi partner sparring dari Percy. Kami saling beradu pedang di dalam arena sambil dilihat oleh sebagian orang dari kabin lain.

"Tidak buruk," tukas Percy ketika kami saling mengadu pedang.

"Makasih," balasku. "Aku terus berusaha untuk mengimbangimu."

Kami saling beradu pedang untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Percy dengan Riptide miliknya mencoba untuk menyayatku dari samping, namun aku berhasil menangkisnya menggunakan pedang latihanku. Aku mencoba untuk menyabet lengan kanannya, namun ia dengan sigap berkelit menghindari seranganku.

Kami terus saling beradu serangan hingga akhirnya aku mati langkah dan Percy berhasil menyabet pedangku. Pedangku malah terlempar dari tanganku membuatku kesulitan untuk mengimbangi serangan cepat Percy yang berakhir dengan ujung pedangnya berada di dekat leherku.

"Menyerah?" tanyanya dengan senyum sedikit mengejek.

Aku hanya bisa mengangkat tanganku dan berkata, "Baiklah, aku menyerah."

Percy tersenyum lagi dan menjauhkan pedangnya dari leherku. Dia mengambil penutup pulpen dari sakunya dan menaruhnya pada ujung bilahnya. Pedang itu akhirnya menyusut hingga berubah menjadi sebuah pulpen yang tertutup.

"Pedang yang praktis," kataku.

"Ini?" Percy mengangkat Riptide yang sudah berada dalam bentuk pulpen itu. "Yah begitulah, kau bisa menyebutnya seperti itu."

Aku memungut pedang latihan yang tadi terlempar dan menyarungkan pedangku pada pingangku. Tak lama kemudian, seorang gadis datang menghampiri kami. Gadis itu memiliki rambut panjang tergerai berwarna pirang keemasan dengan beberapa untai rambutnya terlihat berwarna putih keabu-abuan, matanya yang abu-abu mencolok terlihat seperti orang yang perhitungan.

Percy tersenyum cerah ketika ia melihat gadis itu. Ia menghampiri gadis itu, memeluknya dengan hangat dan juga mencium lembut dahi gadis itu. Mau tidak mau, aku juga ikut tersenyum.

Gadis itu adalah Annabeth Chase, putri Athena sekaligus pacar Percy. Keduanya sudah bersama semenjak Percy pertama kali datang ke Perkemahan. Walaupun pada awalnya, hubungan mereka hanyalah sebatas rivalitas yang sama dengan rivalitas dari kedua orang tua dewata mereka. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan mereka mulai berjalan ke arah romantis hingga pada puncaknya Percy menembak Annabeth setelah Perang Titan Kedua berakhir.

Aku bisa melihat mereka berpelukan dengan mesra tanpa menghiraukanku. Mau tidak mau, aku berdeham. "Hei jangan lupakan aku di sini," hardikku.

Setelah itu, mereka pun melepaskan diri dari pelukan masing-masing sambil tersipu malu. "Hei Naruto," ujar Annabeth.

Aku mengangguk. "Kau baru sampai?" tanyaku.

"Iya," balas Annabeth. "Ada banyak tugas yang perlu aku selesaikan di kampus. Bagaimana denganmu?"

"Masih beradaptasi saja," balasku singkat.

"Dia juga lumayan jago untuk masalah adu pedang, mungkin setara denganku ketika pertama kali dilatih oleh Luke," ujar Percy kepada pacarnya itu.

"Benarkah?" Annabeth sedikit menaikkan alisnya.

"Kau bisa bilang bahwa kemampuanku tidak terlalu buruk, namun tidak ada pedang latihan yang cocok untuk kugunakan," balasku lagi.

"Kasus yang sama seperti Percy, huh?" Annabeth bergumam dengan rasa penasaran. Aku hanya mengangguk untuk membalasnya.

Kemudian kami pun membereskan pedang dan pelindung latihan kami dan berpisah, Percy dan Annabeth berjalan ke arah Rumah Besar ̶ kudengar kalau mereka sedang bersiap untuk menyambut orang-orang perwakilan dari Perkemahan Jupiter yang berkunjung ̶ sedangkan aku berjalan ke arah pantai. Entah mengapa, pantai selalu menjadi tempatku untuk menenangkan diri, bahkan ketika aku masih tinggal di Jepang.

Aku merebahkan diriku di atas pasir sambil menatap ke arah langit. Aku selalu melakukan ini bersama sahabatku di Jepang, merebahkan diri di pantai sambil menatap awan di langit. Meskipun terlihat seperti orang yang malas, tapi setidaknya hal ini membantu untuk menenangkan pikiranku.

"Sedang menikmati hari, eh?" ujar sebuah suara tak jauh dariku.

Aku menoleh dan mendapati sosok seorang pria mendekatiku. Pria itu mengenakan sebuah kimono berwarna biru navy dan dilapisi dengan hakama kuno berwarna biru muda dengan motif bunga Sakura. Pinggangnya dibalut oleh sabuk bernama Obi berwarna hitam dengan sebuah katana bergantung di dalamnya. Ia juga mengenakan sebuah topi rajut lebar yang terbuat dari anyaman bambu layaknya seorang Ronin yang membuatku tidak mengenali mukanya sama sekali.

"Siapa kau?" tanyaku sambil berdiri dari posisiku.

"Belum saatnya kau mengenaliku, Naruto. Namun aku harap kau bisa menjadi jembatan yang nantinya menghubungkan antara Takamagahara dan Olympus," ujarnya.

Belum sempat aku bertanya lagi, tiba-tiba saja angin bertiup kencang membentuk sebuah tornado pasir yang menutupi tubuh pria itu. Aku terpaksa harus menutupi muka dan mataku agar tidak kemasukan pasir yang beterbangan. Beberapa saat setelah angin itu reda, aku mendapati bahwa pria itu telah menghilang dan digantikan oleh sebuah pedang yang menancap di atas pasir serta secarik kertas yang melayang jatuh tak jauh dari pedang itu.

Aku mendekati pedang itu dan mengeluarkannya dari pasir. Pedang itu adalah sebuah katana yang tertutupi oleh sarung yang terbuat dari kayu berpernis hitam dengan ukiran motif api dan petir yang kadang berubah-ubah.

Aku menarik pedang itu dari sarungnya dan melihat bilah berwarna perunggu gelap dengan urat-urat seperti kilat yang mengalir melaluinya. Ketika aku memegang gagang pedang itu, corak urat-urat itu memancarkan sinar samar-samar berwarna biru dan ungu. Pada bagian bilah yang mendekati bagian pelindung, terukir suatu tulisan dalam bahasa Yunani kuno di sisi yang satu dan kanji Jepang di sisi yang lain.


.

Σιδηροῦχος Ἀγγελος

.

鉄の天使

.


'Sidēroûchos Ángelos atau Tetsu no Tenshi, Sang Malaikat Besi' pikirku dalam hati.

Aku bisa melihat bahwa pegangannya dibuat dari bahan yang entah terbuat apa dan dibungkus dengan kulit berwarna merah tua dan kawat emas. Pada bagian dasar gagang, aku dapat melihat lambang palu tempa serta seekor naga.

Pedang itu juga memiliki pelindung atau Tsuba yang berbentuk seperti naga yang mengaum dengan sebuah palu terukir di dahi sang naga. Di kedua sisi mulut dari naga itu, aku melihat ukiran-ukiran yang berbentuk lidah api dan juga kilat petir.

Aku menyarungkan kembali pedang itu dan aku merasakan sedikit sengatan listrik serta denyut panas yang terasa samar. Lalu aku mengambil secarik kertas yang berada tak jauh dari pedang itu.


.

'Aku berikan pedang itu ini untukmu sebagai partner yang akan terus mendampingimu di setiap perjalananmu. Pedang itu terbuat dari campuran Perunggu Langit dan Baja Ilahi yang dapat membunuh baik monster di mitologi Yunani ataupun mitologi Shinto. Pedangmu itu juga memiliki jiwa seorang Shikigami yang nantinya akan membantu serta mendampingimu, namun kau akan bisa membangkitkannya seiring berjalan waktu.

Kalau kau ingin menyembunyikannya dari pandangan orang fana, ketuklah bagian dasar gagang pedang itu dengan telapak tanganmu, nantinya pedang itu akan berubah menjadi pulpen dan dapat kau masukkan ke dalam sakumu. Pedangmu juga telah diberi beberapa sihir, salah satunya bahwa pedangmu akan kembali ke dalam sakumu setelah satu menit hilang.

Akhir kata, semoga kau beruntung.

Tertanda,

SNM

.


Aku hanya menatap kertas itu dengan wajah sedikit bingung. Tanpa menyadari bahwa Chiron datang menghampiriku dengan cepat. Aku menoleh dan mendapatinya telah berdiri di dekatku. Tak jauh darinya, aku melihat ibuku yang juga berlari sambil sedikit terengah-engah.

"Apa yang terjadi, Naruto? Aku melihat angin puyuh pasir dari arah pantai," tanya Chiron.

Aku pun menceritakan apa yang terjadi tadi sambil menunjukkan pedang yang kubawa. Selain itu, aku juga mengikuti saran dari tulisan kertas itu dan mengetuk bagian dasar pegangannya. Kemudian pedang beserta sarung pedang itu berubah menjadi sebuah pulpen berwarna hitam dengan corak api dan petir, lengkap dengan tulisan 'Sidēroûchos Ángelos' di bagian sampingnya.

Aku bisa melihat bahwa Chiron sedikit terkejut akan apa yang kuceritakan dan ia menatap ibuku yang sama terkejutnya.

"Ini tidak pernah terjadi sebelumnya," gumam Chiron. "Semoga saja Zeus tidak menganggap hal itu sebagai provokasi dari mereka ke wilayahnya."

Ibuku mengangguk mendengar perkataan Chiron, sementara aku mengernyit kebingungan.

"Sebenarnya siapa pria itu?" tanyaku.

Kemudian ibuku menjawab, "Kemungkinan terbesar bahwa pria itu adalah Susanoo-no-Mikoto, Dewa Penguasa Laut dan Badai Shinto dan sekaligus juga kakekmu."