Keberangkatan kami dari Jian Ye ke Lu Kou memakan waktu yang tidak sebentar. Betapa merasa lelahnya aku ketika sudah sampai di perkemahan kami di Lu Kou. Kami sampai pada sore hari, jadi masih ada cukup waktu untuk beristirahat sebelum perang besok.
Tadi, sebelum berangkat, aku sempat melihat Lu Feng berpamitan dengan ibunya, Putri Sun Shi, anak Kaisar Sun Ce terdahulu. Sungguh, kadang aku iri melihat mereka yang masih mempunyai ibu. Apalagi Lu Feng dan ibunya memang sangat dekat. Saat itu Ling Zhao yang mengerti situasi langsung berusaha mengalihkan perhatianku dengan mengajak ngobrol dan menjauh perlahan dari sana.
Aku memang selalu bercerita pada Papa, tapi untuk hal yang satu ini sangat kuhindari. Bercerita tentang kesedihanku soal ibu akan membuat Papa kepikiran sampai berhari-hari, yang artinya aku justru menambah bebannya.
Sore itu, meskipun lelah, aku tetap latihan memanah bersama Papa. Tapi fisikku tidak bisa berbohong, panah yang kutembakkan hampir selalu meleset dan itu membuat Papa cemas.
"Sebaiknya kau istirahat saja, Yue. Tidak perlu memaksakan diri seperti itu."
Membantah Papa berarti mencari masalah. "Baiklah. Kurasa aku terlalu semangat untuk besok. Papa, bagaimana kalau malam kita mencari makan?"
"Kau mau makan apa? Akan Papa carikan."
"Tidak usah, kita cari bersama. Sudah lama sekali bukan, kita tidak berkeliling mencari makan seperti waktu aku kecil?"
"Ide yang bagus. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama."
Karena Papa, aku bisa melupakan segala kesedihanku.
Genderang perang telah ditabuhkan. Pasukan-pasukan maju sesuai arah mereka ditempatkan. Kalau strategi Paman Lu Xun menjebak Shu masuk ke benteng berhasil, kami akan segera membakar benteng tersebut. Aku dan Papa ditugaskan untuk menyerang musuh menggunakan api secara diam-diam.
Yang paling penting dari misi ini adalah musuh tidak menemukan kita yang bersembunyi, atau semuanya akan gagal.
Ternyata, pasukan yang akan menyerang dengan api tidak akan berkumpul menjadi satu, melainkan berpencar di beberapa titik. Artinya, aku akan memimpin sendiri prajuritku tanpa bantuan siapapun. Ini usulan Paman Lu Xun yang disetujui olehku dan sangat ditentang oleh Papa. Papa lagi-lagi khawatir jika aku memimpin prajurit sendirian tanpa didampingi. Tapi pada akhirnya aku berhasil meyakinkannya kalau ini tidaklah semengerikan bayangannya.
Maka disinilah aku dan seratus prajuritku, di sebuah benteng di Barat Daya. Kami ditugaskan untuk berjaga di sini, sedangkan Papa dan prajuritnya berada dekat dengan benteng utama tempat serangan api akan diluncurkan, di bagian tengah.
Sejauh mata memandang belum ada tanda-tanda Shu akan datang atau aktivitas mencurigakan. Ling Zhao si strategis muda itu tidak mengetatkan penjagaan di area tertentu sehingga para pasukan dari Shu akan lebih mudah terpancing dan masuk ke dalam jebakan kami di benteng tengah yang sudah pasti akan mereka lalui. Saat mereka masuk, seluruh gerbang akan dikunci kemudian aku dan Papa akan membakar benteng itu.
Dan disitulah letak kesalahanku. Mengetahui situasi aman, aku menjadi lengah. Tidak menyadari kalau ada musuh yang berhasil menemukan persembunyianku.
"Jendral Zhu Yue! Awas!" teriak salah satu prajuritku ketika sebuah anak panah melesat menuju ke arahku. Buru-buru aku menangkisnya. Ini gila, telat satu detik saja dan nyawaku akan hilang.
Melihat ini, para prajuritku menjadi awas. Senjata mereka mulai teracung, waspada akan ada musuh yang menampakkan diri. Benar saja, gara-gara satu prajurit yang menemukan kami itu, menyebabkan ratusan prajurit Shu muncul menghadang kami, dipimpin oleh seorang Jendral dengan bandana hijau yang pernah kutemui sebelumnya di perang pertamaku, tapi aku tidak ingat namanya. Jumlah pasukan yang dibawanya mungkin hampir sama denganku.
"Wah, lihat kepada siapa serangan api mereka yang payah itu ditugaskan." Jendral itu tertawa. "Seorang nona muda yang masih hijau dan belum berpengalaman. Rupanya Wu memang ingin kalah!"
Kurang ajaar..! Beraninya dia mengataiku seperti itu. Memangnya dia tidak tahu siapa aku?
Tak ayal lagi, perang di tempat itu berlangsung. Aku memerintahkan para prajuritku untuk segera menembakkan anak panah kepada pasukan Jendral gila itu. Namun, alangkah terkejutnya aku melihat betapa gesit pasukan lawan ini. Sebagian besar dari mereka berhasil menangkis panah itu, hanya satu-dua saja yang tumbang.
"Payah sekali!" dengus Jendral yang usianya kira-kira beberapa tahun di bawah Papa itu. "Serang!"
Anak buah Jendral itu berlari begitu cepat ke arah kami. Dengan begitu, menggunakan panah tidak lagi efektif karena jarak mereka semakin dekat. Kini aku mengerti apa gunanya belajar menggunakan tombak seperti Lu Feng.
"Ratakan mereka dengan tanah! Tanpa ampun!"
Sial, mereka memang kuat! Beberapa prajurit berhasil kutebas, namun aku tidak mempunyai mata di segala sisi. Selalu saja ada yang berusaha menyerangku dari arah lain. Untungnya, aku cukup gesit untuk menangkisnya dibantu oleh prajuritku.
Ketika aku sedang tidak dikepung, segera aku berkata pada salah satu prajuritku. "Bergegaslah menuju tempat Paman Lu Xun dan katakan aku membutuhkan bantuan!"
Tanpa menunggu lama, prajurit itu langsung menunaikan tugasnya dan melarikan diri dari benteng ini. Aku harap dia bergerak cepat.
Lama kemudian, aku semakin kepayahan. Peluhku sudah bercampur dengan darah prajurit yang berhasil kubunuh. Aku sudah tidak peduli lagi tangan dan wajahku terciprat darah mereka, aku hanya harus bertahan. Pasukanku berkurang terus, membuat pasukan lawan kini menjadi lebih banyak. Anak buah Jendral ini tangguh sekali, dan belum selesai masalah, Jendral itu berlari menyerangku.
"Menyerah saja, Nona!" teriaknya, mengacungkan senjatanya yang berupa dua pisau raksasa itu. Sekali tebas saja, dan kepalaku akan menggelinding.
"Tidak akan!"
Suara itu, bukan aku yang menjawabnya. Di beberapa detik pertama tadi, aku kira itu Papa atau Jendral Wu yang lain.
Orang ini⦠bagaimana mungkin dia berperang tanpa menggunakan baju zirah? Aku tidak pernah melihat wajahnya di Wu. Melihat pakaiannya yang hanyalah kain, tahulah aku bahwa dia ini pastilah warga desa yang tidak ikut mengamankan diri. Tapi, kemampuan bertarungnya luar biasa sekali. Pedang besarnya bisa menebas 3-5 prajurit sekaligus. Papa saja tidak seberbakat dan secepat dia dalam pertarungan jarak dekat. Aku jadi tidak yakin dia benar-benar warga desa biasa.
"Kaulah yang akan menyerah!" Tuan ini berhasil mengalahkan hampir separuh prajurit Jendral Shu itu sendirian, dan kini senjatanya hanya sesenti saja wajah dari Jendral sialan itu.
"Mundur!" perintah Jendral tersebut beserta pasukannya yang kini kian menipis. Kemudian larilah mereka seperti tikus pengecut, meninggalkan aku bersama Tuan tak dikenal ini dan pasukanku yang tersisa.
"Kau menyelamatkan nyawaku!" aku berlutut di depan Tuan itu. Siapapun dia, Jendral atau bukan, aku tidak peduli. Kalau tidak ada dia, pastilah kepalaku saat ini sudah dibawa para pasukan Shu yang hina itu.
"Tidak perlu berlutut begitu, Nona!" ia mengangkat tanganku dan membantuku berdiri. Saat itulah aku menatap wajahnya dengan jelas untuk pertama kalinya. Sepertinya dia berumur 40-an, dengan bekas luka di pipinya yang baru saja ditorehkan oleh salah satu prajurit Shu. Astaga, aku jadi merasa bersalah.
"Tuan, kau terluka!" pekikku.
"Ah, ini hanya luka kecil. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Nona, kau sebaiknya mencari pasukan Wu yang lain. Tidak baik kau hanya sendirian di sini."
"Benar, tapi bolehkah sebelumnya aku mengetahui siapa Tuan? Aku Zhu Yue, putri Jendral Zhu Ran."
"Putri Zhu Ran, ya?" orang itu hanya tersenyum singkat, membuatku bingung. "Kau tidak perlu tahu namaku, Nona Zhu Yue. Anggap saja aku adalah orang suruhan langit untuk membantumu. Kalau begitu, semoga kita bertemu lagi suatu hari nanti." Kemudian Tuan itu berlalu dengan begitu cepat.
Ada yang bisa nebak siapa Jendral Shu yang hampir membunuh Zhu Yue? :D
Read and Review are very welcome
