Beberapa menit berselang setelah kepergian Tuan baik hati itu, Paman Lu Xun datang dengan pasukannya. Tidak perlu orang pintar untuk mengetahui bahwa ahli strategi ini panik.

"Zhu Yue! Aku mendapat laporan dari pengantar pesanku kalau dia kehilangan kontak denganmu. Kau baik-baik saja?" Paman Lu Xun bertanya hanya dalam satu tarikan napas.

"Aku baik-baik saja," bohongku. Lenganku tergores, dan dengan darah lawan ada di sekujur tubuhku, bercampur dengan darahku sendiri, mana ada orang yang percaya kalau aku dalam keadaan baik. Setidaknya, aku tidak mati.

"Aku tidak yakin begitu," tukas Paman Lu Xun setelah memandangiku dari atas sampai bawah. "Tapi kau hebat sekali bisa mengalahkan Guan Xing. Aku dengar dia mengunci benteng ini agar kau tidak bisa kabur."

Dia menguncinya? Berarti prajurit yang kuperintahkan tidak pernah sampai pada Paman Lu Xun. Mungkin dia sudah tewas. Aku bahkan sama sekali tidak sadar. "Sebenarnya bukan aku yang benar-benar mengalahkannya, tadi ada seseorang yang membantuku." Aku menjelaskan.

"Siapa? Gerbang benteng dikunci begitu Guan Xing dan pasukannya masuk. Pastilah orang yang membantumu itu sudah ada di sini sebelum Guan Xing datang."

"Entahlah, Paman. Aku juga tidak pernah melihat wajahnya, namun dia sangat kuat layaknya Jendral saja. Tapi sekarang gerbang sudah dibuka lagi. Orang itu pasti sudah keluar," kataku, diiringi anggukan Paman Lu Xun yang tampak sedang berpikir keras setelah mendengar penjelasanku.

"Siapapun itu, untungnya dia menyelamatkan nyawamu. Keadaan agak sedikit kacau tadi. Ketika aku menyuruh seorang pengantar pesan untuk menyampaikan padamu dan Zhu Ran agar segera ke benteng tengah, seperti yang kubilang tadi, pengantar pesan itu melapor bahwa dia kehilangan kontak denganmu. Jadilah Zhu Ran berangkat ke benteng tengah sendirian. Untungnya, Guan Xing tengah melawanmu saat sebagian besar pasukan Shu terjebak di benteng tengah. Jadi, Guan Xing tidak sempat menyampaikan bahwa ada pasukan yang bersembunyi." Mendengar penjelasan ini, aku bisa menyimpulkan bahwa semua sudah berjalan lancar meskipun tanpa diriku. Ah, ini sungguh tidak seru! Andai saja Jendral Guan Xing tidak hadir. Tentulah aku bisa menyerang menggunakan api.

Celaka…. Aku baru ingat sesuatu!

Kabar hilangnya aku pastilah sudah sampai di telinga Papa. Kalau sudah begini, ia bisa marah bukan main. Aku menelan ludah. Punya muka untuk bertemu dengannya saja tidak.

"Papa.. bagaimana reaksinya?"

"Aku belum bertemu dengannya. Tapi dia pasti panik, dan kalau sudah begitu, dia bisa mengacaukan keadaan. Lebih baik segera menuju benteng tengah." Paman Lu Xun segera memacu kudanya keluar dari benteng Barat Daya, diikuti olehku dan seluruh pasukan yang tersisa.

"ZHU YUE!" teriak Papa ketika melihatku masuk dari belakang. Wajahnya pucat, dan ia melotot, membuat bola matanya terlihat seakan-akan bisa lompat begitu saja saat ini. Ia turun dari kudanya dan segera menghampiriku. "Bagaimana semua ini bisa terjadi!?" sembari mengatakan itu, cengkraman Papa di bahuku makin kuat.

"A..aku tidak tahu, Pa! Mereka mengetahui persembunyian kami." Takut-takut aku menjawab, menunggu omelan Papa berikutnya. Tapi, omelan itu tidak pernah datang karena detik berikutnya Papa langsung memelukku seperti aku sudah mati saja.

"Lihat dirimu!" sama seperti Paman Lu Xun tadi, Papa juga memandangi keadaanku dari atas sampai bawah setelah melepaskan pelukannya. "Kau terluka! Astaga, kau bisa saja mati disana!"

Belum sempat aku membalas, Papa sudah memanggil salah satu bawahannya. "Yu Fan! Bawa putriku ini ke perkemahan, lukanya harus segera diobati!"

Hei! Mendengar perintah itu, aku tersentak. "Tidak! Aku baik-baik saja, Papa! Aku masih bisa bertarung bersamamu!" paksaku.

"Aku tidak menerima penolakan, Zhu Yue!"

Demi Dewa langit… aku tidak pernah melihat Papa semarah itu. Seumur hidupku, mungkin hari ini adalah pertama kalinya aku melihat Papa begitu marah.

"Hahaha. Zhu Ran, anakmu ini punya semangat bagaikan harimau! Sangat mirip Kaisar Sun Jian dan Sun Ce terdahulu!" Jendral bernama Yu Fan ini tersenyum melihatku.

Papa tidak bisa lebih pucat lagi dari sekarang. Bahkan dia sudah sama persis seperti strategis Wei (1) yang seperti vampir itu, Jia siapalah namanya.

"Jangan banyak bicara. Cepat bawa dia pergi, Yu Fan!"

"Baiklah, Jendral. Perintahmu adalah tugasku. Nona Zhu Yue, ayo bergegas."

Karena tidak ingin membuat Papa lebih marah lagi, aku akhirnya dengan sangat berat hati menuruti perintahnya itu. Padahal, aku merasa baik-baik saja! Goresan di lenganku ini bukan apa-apa. Mungkin sedikit sakit untuk mengangkat senjata, tapi selebihnya bukan masalah. Aku masih bisa lanjut bertarung, kok. Papa memang suka berlebihan.

Tanpa pernah kusadari saat itu, Paman Lu Xun yang sedari tadi diam saja akhirnya mengatakan sesuatu kepada Papa. "Dia kembali. Sudah waktunya, Yifeng."


Berada di tenda membuatku bosan! Dari tadi aku hanya bisa berbaring sambil melihat salah satu tabib mengobati lukaku. Andai saja Papa tidak usah mengetahui kondisiku, mungkin aku masih bisa lanjut berperang. Yang lebih membuatku sebal adalah, aku tidak jadi meluncurkan serangan api! Alangkah buruknya hari ini.

"Lukamu tidak parah, Nona. Hanya saja perlu istirahat yang cukup," jelas tabib itu. Tentu saja lukaku tidak parah, kepalaku tidak nyaris lepas dari tempatnya kok!

"Baik, terima kasih," kataku pelan. Tabib itu meninggalkan tenda, kini aku hanya seorang diri saja. Sungguh ingin aku kembali, namun lenganku ini tidak bisa diajak kerja sama. Sakit dan berat sekali ketika mencoba mengangkatnya. Kalau begini mana bisa pegang senjata? Meskipun benci mengakuinya, tapi Papa benar dengan menyuruhku kembali.

Dari jendela, aku melihat langit sudah mulai gelap. Yah, kurasa tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain tidur sebentar. Mau keluar tenda pun tidak ada yang bisa dilakukan, tidak ada teman yang bisa kuajak ngobrol. Lu Feng dan Ling Zhao sama-sama masih berada di arena pertempuran.

Maka aku memutuskan untuk memejamkan mata. Aku hanya akan tidur sebentar, kemudian bangun saat malam hari saat semua sudah kembali.

Ya, tidur sebentar mungkin baik.


Hal pertama yang ingin kulakukan begitu kesadaranku sepenuhnya kembali adalah makan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir aku makan. Tapi, ada yang aneh… alih-alih gelap, mengapa aku justru merasa sinar matahari menyeruak masuk lewat jendela…?

Astaga! Sekarang pastilah sudah pagi. Aku pasti tertidur lebih lama dari yang kuperkirakan!

Tanpa memedulikan tanganku yang masih nyeri, aku buru-buru keluar dari tenda untuk mencari dua hal. Pertama, Papa. Kedua, makan. Di luar sudah mulai ramai, beberapa prajurit sedang mengobrol bersama, ada juga yang sedang berlatih bersama. Astaga, berapa lama aku tidur?

Kuputuskan untuk menghampiri kumpulan prajurit yang sedang mengobrol itu. "Apakah ada yang melihat ayahku?" aku bertanya pelan.

"Ah, Nona Zhu Yue. Jendral Zhu Ran saat ini sedang sarapan bersama Jendral Ling Tong."

Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera pergi ke hall dimana orang-orang biasa sarapan. Betul, Papa memang disana, tapi dia sudah berdiri dari kursinya, hendak pergi. Rupanya dia sudah selesai sarapan.

"Papa," panggilku. Pria yang kupanggil itu menoleh, ekspresi wajahnya berubah sumringah ketika melihatku. Buru-buru dia menghampiriku.

"Akhirnya kau bangun juga. Sepertinya kau kelelahan sekali sampai tidur layaknya orang pingsan," gurau Papa. "Kau belum makan dari kemarin."

"Benar, dan aku lapar. Aku akan bergabung dengan Jendral Ling Tong dan Ling Zhao."

"Kau tidak mau makan di tendamu saja? Kalau mau, Papa bisa membawakan makanan."

Aku tersenyum. Papa ini, tidak pernah bisa berhenti memperlakukanku seperti bayi saja. "Tidak usah, Papa. Itu terlalu berlebihan."

"Baik, kau makanlah dahulu. Papa harus menemui Kaisar."

Aku mendapat sambutan yang begitu hangat oleh Paman Ling Tong, Ling Zhao dan Lu Feng. Mereka tadinya sedang bercakap-cakap sampai melihat kehadiranku.

"Lihat, Tuan Putri kita sudah sadar dari tidur panjangnya. Astaga, tadinya aku sempat berpikir kau mati saat tertidur Yue!" cerocos Lu Feng. Anak satu ini memang begitu kurang ajar, aku sendiri tidak mengerti kenapa mau berteman dengannya.

"Yang berada di depanmu saat ini memang hantunya Zhu Yue," balasku penuh sarkas sambil menarik kursi di sebelah Ling Zhao dan mengambil makanan.

"Tidak usah pedulikan anak itu, Zhu Yue. Ceritakan, bagaimana kau bisa mengalahkan Guan Xing kemarin?" tanya Paman Ling Tong.

"Paman Ling Tong selalu jahat kepadaku!" Lu Feng menggerutu.

Aku tertegun. Rupanya orang-orang masih mengira aku benar-benar mengalahkan Jendral Guan Xing dengan tanganku sendiri. Padahal faktanya tidak begitu.

"Bukan aku yang mengalahkannya, Paman. Ada seseorang yang membantuku. Aneh, dia tampaknya seorang warga desa biasa, namun kemampuan bertarungnya hampir setara denganmu Paman. Lebih aneh lagi, ketika aku memperkenalkan diri, ia sepertinya mengenal Papa."

Tidak ada jawaban terdengar dari Paman Ling Tong, tapi aku tidak peduli. Aku lebih memilih untuk mengisi perutku yang sudah lebih dari setengah hari tidak ada isinya ini.

"Ayah?" suara Ling Zhao terdengar, membuatku ikut menoleh ke arah Paman Ling Tong. Astaga, kenapa dia jadi terlihat pucat? Apa makanan yang dimakannya tidak enak?

"Silakan lanjutkan makan kalian. Aku harus pergi sebentar, maaf." Tergesa-gesa, Paman Ling Tong meninggalkan kami dan keluar dari hall.

Ling Zhao menatap kepergian ayahnya dengan mata menyipit. Hal biasa, Ling Zhao memang mudah curiga pada hal-hal kecil.

"Ada sesuatu yang perlu kubicarakan padamu nanti, Zhu Yue."

"Eh? Kenapa tidak sekarang saja?" tanyaku heran. Intonasi Ling Zhao mencurigakan sekali.

"Tidak bisa."

"Kenapa?"

"Turuti saja kataku." Baiklah, baiklah. Kalau Ling Zhao sudah memberi perintah, tidak ada yang mau membantahnya baik aku maupun Lu Feng.

"Bukannya sebentar lagi kita akan bersiap untuk kembali ke Jian Ye?" tanya Lu Feng.

"Tepat. Aku bilang nanti, saat kita sudah sampai di kastil." Ling Zhao berdiri. "Aku sudah selesai. Permisi." Kemudian tanpa mengatakan apa-apa lagi, Ling Zhao meninggalkan kami.

"Astaga, teman kita itu kaku sekali bukan?" decak Lu Feng.

"Biarlah, Lu Feng. Kau hanya iri karena tidak bisa sesopan dia," kataku. Lu Feng ini sudah mirip tukang gosip saja.

"Aku juga sudah selesai." Aku berdiri, membuat Lu Feng bingung.

"Hei, cepat sekali!" protesnya. Bagaimana tidak cepat, aku hanya makan setengah porsi dari biasanya. Tiba-tiba saja aku merasa kenyang. Tujuanku setelah ini adalah menemui Papa. Aku harus menanyakan soal Tuan tak dikenal itu. Dia sepertinya mengenal Papa.

Entahlah apa dia masih berbincang dengan Kaisar atau tidak. Jadi lebih baik aku menunggunya di—

BRAK!

Karena tidak berhati-hati, aku tersandung kakiku sendiri. Sungguh sangat memalukan, untungnya tidak banyak orang yang ada di sini.

"Hei Nak, kau baik-baik saja?" sebuah tangan terjulur menawarkan bantuan. Tanpa melihat dulu siapa orang yang berusaha membantuku tersebut, aku menerima uluran tangannya.

Alangkah terkejutnya aku ketika melihat Kaisar Sun Quan berada tepat di depanku, tertawa padaku dengan hangat. Aku tidak bisa lebih malu lagi. Tersandung dan ditolong Kaisar? Prestasi yang membanggakan sekali, Zhu Yue.

"Lain kali berhati-hatilah."

"Terima kasih, Kaisar. Sungguh seharusnya Anda tidak perlu menolongku begitu."

Baru kali ini dalam seumur hidupku aku berbincang dengan Kaisar dari jarak yang amat dekat. Dari situlah, aku bisa memahami garis-garis wajahnya dengan detail.

Namun, ada satu fitur wajahnya yang begitu menarik perhatianku.

Matanya. Mata Kaisar Sun Quan berwarna hijau.

Warna yang begitu indah, warna mata yang begitu langka, juga warna mata yang sering kulihat… di cermin.