Di perjalanan, aku lihat Papa tidak banyak bicara. Apa ada sesuatu yang terjadi kemarin? Kalaupun ingin menanyakannya, sekarang bukanlah saat yang tepat. Akan lebih baik kalau aku bertanya saat sudah kembali ke kastil saja.

"Hei, ceritakanlah padaku seperti apa kekuatan Jendral Guan Xing itu." Lu Feng membuyarkan segala pikiranku.

Kilas balik adegan pertempuranku dengannya berputar kembali di otakku. Aku bisa mengingat dengan jelas pisau raksasa yang hampir memenggalku itu. Memikirkannya saja sudah membuatku merinding sendiri.

"Kau tidak lihat temanmu ini sedang trauma, heh? Bisa-bisanya kau malah bertanya begitu," kata Ling Zhao.

"Dia sangat kuat, seperti ayahnya." Meskipun tidak pernah melihat Jendral Guan Yu yang legendaris secara langsung, cerita tentangnya sering sekali kudengar. Dan kurasa kekuatannya diwarisi oleh anaknya. "Dia bergerak dengan sangat lincah, sehingga membuat pasukanku meleset mengenainya dan malah menyerang teman sendiri."

"Sungguh keajaiban kau bisa selamat," tanggap Lu Feng, tidak peduli dengan ucapan Ling Zhao. "Kemarin aku bertemu langsung dengan Jiang Wei. Aku rasa, dia tidak sepintar gurunya, Zhuge Liang. Untungnya kemarin bukan Zhuge Liang yang menjadi otak di balik peperangan. Bisa-bisa justru kita yang kalah. Jiang Wei saja tidak bisa menebak kalau kita akan menggunakan serangan api."

"Tapi aku berhasil ditemukan musuh. Bukankah itu sama saja?" tanyaku pelan. Pengalaman kemarin memang cukup mengerikan. Bayangkan saja kau sangat dekat dengan kematian. Menghindar saja aku tak mampu karena tubuhku serasa lumpuh.

Tidak ada satupun dari Lu Feng atau Ling Zhao yang menjawab. Sepertinya topik ini tidak begitu menyenangkan.

"Bagaimana kalau kalian nanti mampir ke istana kediamanku? Ibuku pasti memasak banyak sekali nanti malam!" Lu Feng tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, yang mana langsung kusambut dengan semangat. Masakan Putri Sun Shi itu enak sekali!

"Tentu saja! Mungkin bisa-bisa malah aku yang menghabiskan semuanya!"

Sementara Ling Zhao hanya mengangguk. Sungguh, tidak bisakah dia ini bersemangat sedikit?

"Ibuku akan senang kalau kau menghabiskannya, Zhu Yue! Makanlah sebanyak yang kau mau, setelah apa yang terjadi kau pantas mendapatkannya."

Aku senang sekali mendengarnya. Putri Sun Shi tampaknya juga begitu menyukai kami, aku dan Ling Zhao. Kadang berada di dekatnya membuatku merasa dekat dengan Mama.

Mama. Kenapa akhir-akhir ini aku sensitif sekali kalau menyangkut soal Mama?


Perkataan Lu Feng benar. Kami disambut dengan hangat oleh Putri Sun Shi setibanya di kediaman mereka, sementara Paman Lu Xun hanya tersenyum tenang seperti biasanya.

"Zhu Yue!" Begitu melihatku memasuki ruang makan, Bibi kami yang baik hati dan riang itu memelukku erat. "Aku mendengar apa yang terjadi. Syukurlah kau baik-baik saja. Kamu memang hebat, sama seperti ibu—"

"Sun Shi," sela Lu Xun. "Aku rasa ikannya sudah matang."

"Oh, tentu, tentu. Duduklah dulu anak-anak."

"Dimana ayah kalian? Kenapa tidak ikut kesini?" Paman Lu Xun bertanya padaku dan Ling Zhao.

Aku mengangkat bahu. "Papa bertemu Kaisar, lagi. Dia akhir-akhir ini sering sekali bicara dengan Kaisar. Entahlah."

"Ayah sedang beristirahat. Aku tidak ingin mengganggunya."

Sebentar kemudian, Putri Sun Shi kembali dengan membawa beberapa piring berisi ikan secara bersamaan. Jika saja aku adalah anaknya, pastilah aku sangat gemuk. Pasangan ini tidak pelit sama sekali, jangankan pada teman anaknya, pada rakyat biasa pun mereka sering berbagi.

"Hei, besok kau ulang tahun!" Lu Feng berseru kepadaku sembari menggigit makanannya. Astaga, aku bahkan lupa soal itu. Entahlah, bagiku ulang tahun tidak begitu istimewa. Tahun-tahun sebelumnya, hari ulang tahunku hanya diisi oleh hadiah dari Papa, terkadang Ling Zhao dan Lu Feng juga, dan begitu saja. Di mataku, ulang tahun hanyalah hari dimana usiamu bertambah dan hari mendapat barang baru. Tidak pernah terpikir olehku saat ini bahwa tahun ini akan berbeda.

"Oh, ya?" tanya Putri Sun Shi. "Yang ke 19, bukan?"

Aku menggeleng. "Yang ke 20, sebenarnya. Lihat, usia kita berbeda jauh Lu Feng. Kau seharusnya hormat padaku," gurauku. "Kau juga, Ling Zhao."

"Tidak masuk akal!" bantah Lu Feng. "Usia kita hanya terpaut 3 tahun. Memang kau siapa harus kuhormati?"

Putri Sun Shi seketika menghentikan aktivitasnya menata meja makan, kemudian melirik suaminya yang tetap terlihat tenang.

"Oh.. wow. Kau.. sudah dewasa ya, Yue?" pertanyaan Putri kali ini terdengar janggal. Untuk apa bicara dengan gugup begitu?

"Ya Sayang, dia sudah dewasa. Dan sekarang biarkan dia menikmati makan malamnya dulu," kata Paman Lu Xun.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kusikut pinggang Ling Zhao yang sedang mengunyah, membuatnya terbatuk-batuk. "Sungguh maafkan aku, Ling Zhao. Tapi bukannya tadi kau berjanji akan bercerita?" aku berbisik pelan.

"Akan kuceritakan kalau kau tidak menggangguku makan." Aku nyengir. Lu Feng melirik kami ingin tahu, tapi aku tidak peduli.

Setelah makan malam selesai, aku dan Ling Zhao segera berdiri dan mengucapkan terima kasih. "Masakan Bibi selalu enak. Aku berterima kasih sekali atas jamuan ini. Sekarang aku akan kembali sekaligus mengantar Zhu Yue—"

"Aku ikut!" potong Lu Feng, membuat ibunya tertawa.

"Sama-sama, Ling Zhao, Zhu Yue. Kalau butuh apa-apa, kemari saja. Pintu selalu terbuka untuk kalian."

Kemudian aku dan Ling Zhao diikuti Lu Feng yang penasaran keluar dari kediaman Paman Lu Xun, berjalan menuju taman istana yang sepi. Jarang sekali ada orang yang mampir kesana malam-malam begini. Tempat yang strategis untuk Ling Zhao bercerita.

"Jadi, Ling Zhao, apa yang ingin kau bicarakan padaku?"

"Apakah Papamu tahu mengenai Tuan yang menolongmu di Lu Kou?" dipikir-pikir, kurasa Papa tahu, tapi bukan dariku. Seharusnya Paman Lu Xun sudah bercerita. Aku langsung teringat saat Paman Lu Xun berkata pada Papa bahwa 'dia-sudah-kembali.' Siapa? Apakah Jendral Guan Xing?

"Aku tidak bercerita langsung. Tapi seharusnya Paman Lu Xun sudah memberitahunya. Aku tidak tahu ini berkaitan atau tidak. Yang jelas, setelah menjemputku dari gerbang Barat Paman Lu Xun berkata kepada Papa bahwa 'dia-sudah-kembali'. Menurutmu, apakah kalimat itu mengacu pada Jendral Guan Xing?"

"Mungkin saja. Tapi setelah melihat reaksi Ayahku saat kita sarapan waktu itu, aku jadi sangsi kalau yang dimaksud adalah Jendral Guan Xing. Aku malah berasumsi bahwa kalimat itu ditujukan untuk Tuan yang menolongmu."

"Bagaimana mungkin?" tanya Lu Feng bingung. Sebetulnya aku juga sama bingungnya.

"Ketika kau bilang bahwa Tuan itu mengenal Papamu, aku bisa melihat kalau Ayahku langsung menghentikan makannya dan buru-buru pergi dari ruangan. Menurutku itu aneh karena aku tahu Ayah selalu menghabiskan makanannya bahkan menambah. Lebih lagi, kau mengatakan bahwa kemampuan bertarung Tuan tak dikenal tersebut setara dengan ayahku. Apa kau yakin dia benar-benar warga desa biasa?"

"Maksudmu, dia bukan warga desa biasa?" aduuhh, aku semakin pusing. Tidak bisakah Ling Zhao langsung pada intinya saja?

"Pikirkan ini. Tuan itu adalah seorang warga desa biasa, tapi bagaimana mungkin dia berani terjun ke medan tempur dan mengalahkan seorang Jendral yang terkenal seperti Guan Xing, dengan kemampuan bertarungnya yang setara Jendral seperti kau katakan? Ada kemungkinan bahwa ia dulunya adalah Jendral juga, namun entah bagaimana sekarang sudah tidak lagi. Apalagi, dia sepertinya mengenal Papamu. Dan mungkin juga, mengenal Ayahku."

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan semua ini?" Lu Feng terlihat semakin frustasi mendengarkan penjelasan Ling Zhao.

"Ketika Zhu Yue mengatakan bahwa kemampuannya setara Ayahku, tidakkah kalian apalagi kau Yue, merasa ada yang aneh?" Tentu saja tidak, otakku terlalu lambat untuk memikirkan hal ini. "Mana ada warga desa biasa yang bisa sekuat Jendral?"

"Jadi menurutmu dulu dia adalah Jendral Wu?" Lu Feng bertanya lagi. Sementara aku hanya mengamati pembicaraan mereka sembari ikut berpikir.

"Bisa iya, bisa tidak. Siapa yang tahu? Mungkin saja dia dulunya Jendral Wei yang mempunyai dendam dengan Shu dan pindah ke daerah Wu agar tidak ada yang mengenalnya. Kalau dia Jendral Shu, sangat kecil kemungkinan karena Guan Xing pasti mengenalinya."

"Apakah kau juga bisa menebak mengapa dia menolongku?"

"Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Mungkin ia kebetulan disana dan melihatmu butuh pertolongan. Kalau ia dulunya Jendral Wu, mungkin ia tidak ingin membiarkan pasukan Wu dikalahkan oleh Shu. Atau kemungkinan yang terakhir, sepertinya Tuan itu dan Papamu saling mengenal, sehingga ia menolongmu terlepas apakah dia Wei atau Wu."

"Hei Zhao, kau tahu? Mungkin sebenarnya kau adalah anak ayahku dan aku adalah anak Paman Ling Tong." Lu Feng menatap Ling Zhao sebal. "Aku anak strategis, tapi sama sekali tidak mewarisi kepintarannya! Beda dengan Zhu Yue yang sangat mirip Papanya dalam hal bertarung."

"Tunggu, kalau Papa mengenalnya, kenapa dia tidak langsung memberitahuku bahwa ternyata aku ditolong oleh salah seorang kawannya? Kami kan bisa pergi ke tempat tinggalnya dan mengucapkan terima kasih—"

"Itulah intinya. Papamu pasti menyembunyikan sesuatu."