Disclaimer : Dynasty Warriors belongs to KOEI. The canon characters belong to God. I only own the OC and the story. Happy reading.
Chapter 5 : Twenty Years of Life
Papa sedang duduk di kursi kesukaannya ketika aku pulang. Rupanya ia sudah kembali dari tadi. Terlihat karena Papa sudah mengenakan pakaian tidurnya. Kurang lebih sekarang sudah hampir larut, semoga aku tidak dimarahi karena kembali terlalu malam.
"Papa tadi sempat mampir ke kediaman Lu Xun, tapi kau tidak ada disana."
"Iya, aku ke taman bersama Ling Zhao dan Lu Feng."
"Ya sudah, sebaiknya kau segera tidur. Besok hari besarmu, kan?" Papa nyengir. Ia selalu bersemangat menyambut ulang tahunku setiap tahun. Biasanya, dari dua hari sebelum tanggalnya, Papa sudah heboh dan bersemangat, terkadang juga mencoba memasak untukku walau sekali dua kali gagal. Berbeda sekali dengan tahun ini, dimana ia seperti baru mengingatnya sekarang.
Yah, wajar saja. Beberapa hari lalu kan kami disibukkan dengan perang. Mana sempat berpikir soal hal sepele soal ulang tahun. Lagipula, apa yang begitu spesial dari seorang Zhu Yue akan menginjak usia kepala 2?
"Papa sebenarnya membicarakan apa sih dengan Kaisar?" tanyaku ingin tahu.
"Papa kan pernah bercerita, kalau dulu Kaisar Sun Quan dan Papa adalah teman masa kecil, tidak heran kalau kami dekat. Bertemu dengannya bukan berarti membicarakan sesuatu yang pentingkan? Kami hanya berbicara layaknya seorang teman, bukan antara Kaisar dan Jenderalnya." Begitu penjelasan Papa, membuatku hanya mengedikkan bahu sebagai respon.
"Baiklah, kalau begitu aku akan tidur."
"Tidak perlu dongeng sebelum tidur?" gurau Papa.
"Sekadar informasi yang pastinya kau sudah tahu, Papa, usiaku beberapa jam lagi sudah menginjak kepala 2."
"Tapi kau tetaplah Zhu Yue si Putri Kecil."
"Wah, kurasa Putri Kecilmu bahkan sudah cukup umur untuk menikah." Aku balas bercanda, sekadar ingin tahu reaksi Papa. Tidak mungkin juga aku akan menikah dalam waktu dekat.
"Mau menikah dengan siapa kau? Jenderal dari kerajaan seberang?"
"Tentu saja tidak. Mungkin, Lu Feng?" sungguh, aku mengucapkannya dengan asal dan benar-benar murni bergurau. Tapi, reaksi Papa terlihat begitu serius sampai-sampai ia menjadi pucat hanya karena kalimat barusan.
"Kau tidak mempunyai hubungan spesial dengan Lu Feng, kan?" tanya Papa yang sudah menyerupai mayat hidup. Astaga, rupanya gurauanku keterlaluan. Bahkan tidak sedikitpun aku pernah berpikir untuk berhubungan seperti itu dengannya.
"Papa, aku hanya bercanda. Tidak perlu berlebihan seperti itu!" lagipula, seandainya aku betul-betul ada sesuatu dengan anak strategis itu, memang kenapa? Apa karena dia lebih muda sehingga aku tidak boleh bersamanya? Ah, sayang sekali kalau begitu alasannya. Padahal, Ling Zhao si pendiam pemuda yang cukup menarik.
"Baiklah, baiklah. Sebaiknya kau memang cepat tidur sebelum candaanmu membuatku makin gila." Aku tertawa dan meninggalkan Papa termenung sendirian disana. Huh, Papa kalau berlebihan suka menyebalkan.
Aku terbangun karena sinar matahari yang mengenai wajahku pagi itu. Sayup-sayup aku mendengar suara Papa yang tengah berbicara dengan entah siapa. Sepertinya ada yang berkunjung pagi-pagi begini.
Biar kuceritakan padamu salah satu kebiasaan burukku. Ketika bangun tidur dan tidak sedang dalam keadaan genting, aku bisa mengumpulkan kesadaran sampai bermenit-menit dan susah rasanya untuk meninggalkan ranjangku. Aku biasanya keluar dari kamar setengah jam setelah bangun, menghabiskan waktu dengan sia-sia untuk melamun dan berguling-guling di ranjang. Tidak jarang Papa mengomel dan menyuruhku untuk cepat beranjak.
"Tentu, tentu saja. Untungnya kau tepat waktu, Gongji. Aku berterima kasih sekali." Terdengar suara Papa berbicara dengan seseorang yang dipanggilnya Gongji itu. Aku tentu tahu siapa Gongji itu, sering sekali Paman Lu Xun memanggil Paman Ling Tong dengan nama itu.
"Baiklah Zhu Yifeng, semoga semuanya lancar."
Dan seperti yang sudah-sudah, aku tetap tidak bergerak dari ranjangku sampai aku mendengar Paman Ling Tong pergi. Bahkan sampai pintu kamarku diketuk.
"Tidak bisakah kau tidak tidur seperti kerbau sehari saja, Zhu Yue?" tanya Papa dari balik pintu.
"Masuk saja Papa," jawabku malas. Aku belum ingin bangun, demi Dewa.
Seperti biasa, Papa kemudian masuk sambil mengomel, di tangannya ada sebuah kotak yang cukup besar. "Usiamu sekarang sudah 20. Bangunlah lebih pagi dan jangan bermalas-malasan terus!"
"Papa, akan lebih baik jika Papa membuka hari ini dengan mengucapkan selamat ulang tahun padaku," aku membalas dengan bercanda.
"Tentu. Syarat pertamanya adalah tinggalkan ranjangmu."
"Baiklah, baiklah!" dengan berat hati, aku berdiri dan menatap kotak besar itu. "Itu kadoku, bukan?" aku nyengir.
"Selamat menjadi wanita dewasa, Putriku." Papa merangkul dan mencium rambutku, kemudian menyerahkan kotak kayu dengan ukiran yang cantik itu.
"Bukalah," kata Papa setelah menyerahkan kotak itu padaku. Aneh, dia terlihat tidak terlalu bersemangat seperti biasanya. Perlahan-lahan kubuka kotak dari kayu. Di dalamnya adalah sebuah kain. Tidak, bukan kain. Ketika aku mengeluarkannya, tahulah aku bahwa itu adalah hanfu (1).
Astaga, melihat bahannya, pastilah hanfu ini begitu mahal. Yi atau atasannya berwarna hitam dengan sedikit motif bergambar naga emas. Sedangkan bagian kerah dan pergelangan tangan berwarna merah. Kemudian berikutnya, chang atau roknya berwarna merah, lengkap dengan ikat pinggang yang juga berwarna merah. Ini benar-benar cantik.
"Ini luar biasa!" jeritku senang. "Dari mana Papa mendapatkannya?"
"Ah, kau tidak perlu tahulah. Yang penting kau senang." Suara Papa terdengar berat.
"Tentu saja aku senang! Ini hanfu yang cantik sekali, Pa." Dengan hati-hati, aku menyimpan kembali hanfu itu dalam kotaknya.
Saat aku kembali menatap Papa, kagetlah aku melihatnya yang sudah berderai air mata. Apa ada yang salah? Apa Papa terharu? Kurasa tidak.
"Apa yang terjadi?"
"Hari yang paling Papa takutkan seumur hidup akhirnya datang. Zhu Yue, waktu berlalu terlalu cepat. Papa masih belum siap."
Aduh, tidak bisakah Jenderal Zhu Ran yang terhormat ini tidak berbicara dengan penuh teka-teki? Aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya.
"Maksudnya? Belum siap apa? Papa takut akan hari ulang tahunku?"
"Zhu Yue, kau selalu ingin tahu bagaimana ibumu selagi masih hidup, bukan?"
Papa tidak menjawab pertanyaanku. "Lalu?" aku masih bingung mengapa tiba-tiba membahas Mama.
"Permaisuri Lian Shi memanggilmu sebelum jam makan siang, dia akan menunggumu di taman. Darinya kau akan tahu siapa sebenarnya ibumu."
Apa kaitannya dengan Permaisuri? Sebenarnya apa yang dimaksud Papa?
"Papa bisa menjelaskan sisanya ketika kau sudah bertemu Permaisuri." Setelah mengatakan itu, Papa mengusap rambut coklatku sejenak dan meninggalkan ruangan.
Aneh.
Setelah membersihkan diri dan hendak keluar dari kediamanku, ternyata Ling Zhao dan Lu Feng sudah berada di depan halaman dengan membawa sebuah kotak persegi panjang kecil yang manis. Aku tersenyum melihat Lu Feng yang tampak riang menatapku dan Ling Zhao dengan wajah sok cueknya seperti biasa.
"Lihat siapa yang membawakanku kado," gurauku.
"Selamat ulang tahun, Nona Cerewet. Ini dari kami berdua. Aku yakin pasti cocok untukmu." Lu Feng menyerahkan kotak itu yang mana langsung kuterima.
"Boleh kubuka sekarang?"
"Tentu saja kau harus membukanya di depan kami." Ling Zhao yang menjawab.
"Tentu, tentu." Kubuka pembungkus kotak itu sebelum membongkar isinya.
Tidak kusangka isinya adalah tusuk konde dan gelang emas yang terlihat mahal. Sepertinya orang-orang ini suka membelikanku barang mahal. Padahal tadi kotak itu kubuka dengan hati-hati karena beberapa tahun lalu Lu Feng memberiku kotak berisi katak. Dasar kurang ajar.
"Barang-barang itu kami berdua yang membelinya. Tapi, model gelangnya adalah rekomendasi ibuku," jelas Lu Feng bangga. "Ibu bilang, gelang itu cocok untukmu."
"Kurasa gelang ini lebih cocok dipakai oleh bangsawan," kataku setelah mengamati gelang emas itu. "Terima kasih banyak, ini jelas cantik sekali." Aku masih mengagumi hadiah pemberian dua sahabatku.
"Kau rapi sekali. Mau kemana?" tanya Ling Zhao.
"Permaisuri memanggilku."
"Whoa, kau tidak habis berbuat hal aneh-aneh kan Yue?"
"Selama aku tidak berada dekatmu, tidak akan ada hal aneh-aneh yang terjadi," balasku kesal.
"Mau kami temani?"
"Tidak perlu, Ling Zhao. Aku hanya sebentar, setelah itu, mari kita menghabiskan waktu di restoran dekat gerbang Timur," kataku semangat. "Aku yang traktir."
"Kalau begitu cepatlah! Aku sudah lapar!" celoteh Lu Feng.
Tidak kuhiraukan kalimantya itu karena aku sudah berjalan dengan tergesa menuju taman, tempat yang sering kukunjungi saat sedang suntuk.
Aku bisa merasakan tanganku begitu dingin dan jantungku berdegup lebih kencang dari seharusnya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Jarak semakin menipis, sedangkan keringatku semakin deras. Taman berada persis di depan mataku. Aku benar-benar tidak siap. Ini pertama kalinya Permaisuri memanggilku secara personal, salahkah aku kalau aku gugup? Semoga saja aku tidak berbuat suatu kesalahan yang membuatku diusir dari—
"Yue, kau sudah datang." Suara lembut Permaisuri menyapaku.
Aku bersoja. "Ada apakah gerangan sehingga Permaisuri memanggilku?"
"Berdirilah, Yue. Tidak perlu formal begitu. Aku memanggilmu bukan untuk kepentingan kerajaan." Permaisuri tersenyum hangat, membuatku sedikit tenang. Ah, dia benar-benar terlihat keibuan.
"Papa menyuruhku kesini untuk menemui Anda. Maaf jika menunggu lama, Permaisuri."
"Pertama, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Tidak terasa, kau sudah tumbuh menjadi gadis yang pemberani dan cantik. Waktu kau masih bayi, aku sering menggendongmu."
Whoaa, memangnya sespesial apakah aku sehingga Permaisuri sering menggendongku dulu?
Aku tersenyum kikuk. Tentu saja aku kaku, jarang sekali aku bisa bicara empat mata dengan Permaisuri seperti sekarang ini. Namun, seketika perhatianku tertuju pada sebuah benda bulat berwarna emas yang sedang dipegang Permaisuri. Astaga, apakah ini kado ketigaku hari ini? Langsung dari Permaisuri? Luar biasa.
"Tidak perlu heran. Ibumu adalah sahabat terbaikku, tentu saja aku sering membantu mengurus anaknya."
Papa tidak pernah cerita tentang ini.
"Sayangnya, ia tidak berumur panjang. Aku menjadi salah satu yang paling sedih saat ia pergi. Begitu juga dengan Papamu, dia benar-benar seperti kehilangan harapan hidup. Akan tetapi, sebelum pergi, ibumu menitipkanku sebuah peninggalan."
"Peninggalan?" mataku otomatis tertuju pada benda bulat berwarna emas itu.
"Iya, peninggalan yang boleh diberikan saat usiamu sudah menginjak 20 tahun. Peninggalan itu bisa menjelaskan semua yang kau perlu tahu." Diserahkannya benda emas itu, yang ternyata sangat berat sehingga aku hampir menjatuhkannya.
Permaisuri tertawa melihatnya, membuatku semakin merasa malu saja.
Pada awalnya, aku memang sudah menebak-nebak isi benda itu. Sempat aku berpikir bahwa itu adalah perhiasan, kemudian lebih absurd lagi, lukisan keluarga. Tapi isi yang sebenarnya membuatku menganga secara tidak kusadari.
Itu… isi benda itu… adalah sepasang senjata. Senjata yang bentuknya seperti milik Jenderal Ding Feng, hanya saja lebih kecil. Senjata ini biasa disebut cakram.
Kalau berkenan untuk memberikan kritik, saran dan komentar lewat review, saya akan sangat menghargainya.
