Disclaimer : Dynasty Warriors belongs to KOEI. The canon characters belong to God. I only own the OC and the story. Happy reading.

Chapter 6 : The First Secret


Namun tidak hanya itu rupanya isi peninggalan dari Mama. Selain cakram, terdapat juga sepucuk surat yang kertasnya sudah menguning. Begini isi surat itu.

Putriku Yue.

Kalau kau sudah membaca ini, berarti usiamu sudah menginjak 20 tahun. Sungguh Mama berharap bisa melihatmu tumbuh besar, menemanimu di waktu-waktu sulit maupun bahagia, mendengar keluh kesahmu, dan berlatih perang bersamamu dan Papa. Bukankah kita seharusnya bisa menjadi keluarga kecil yang bahagia?

Tapi, takdir tidak mengizinkan hal itu terjadi. Maafkan Mama harus pergi sangat cepat, bahkan sebelum kau menyadari kalau kehadiranmu begitu berarti di dunia ini. Papa dan Mama sangat menyayangimu, Yue. Mama yakin, suatu hari nanti kau bisa menjadi seseorang yang lebih hebat daripada kami.

Satu hal yang perlu kamu tahu. Hidup tidak selalu sesuai dengan apa yang kau inginkan. Ada banyak kenyataan yang pahit, begitu juga yang manis. Ingatlah bahwa itu yang membuat hidup menjadi seimbang. Tidak apa untuk bersedih, namun jangan larut di dalamnya.

Berjuanglah, Yue. Mama selalu ada dan hidup di hatimu.

Sun Renxian.

Titik-titik air jatuh membasahi kertas yang sudah menguning tersebut. Pandanganku memburam ditutup oleh air mata. Aku seolah bisa merasakan kehadiran Mama disini. Membaca tiga paragraf pertama, tenggorokanku mulai tercekat. Namun, air mataku tidak bisa dibendung lagi ketika melihat nama penulis surat itu.

Sun? Sun Renxian? Tulang-tulang kakiku serasa hilang dari tempatnya. Aku bisa jatuh kapan saja, tapi Permaisuri menahan bahuku yang sudah bergetar hebat.

Ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Pasti ada orang lain dengan nama yang sama. Ini hanyalah kebetulan yang mengejutkan. Pastilah begitu. Sungguh mustahil kalau ternyata aku…

Apakah ini jawaban mengapa aku dan Kaisar memiliki warna mata yang sama?

"Permaisuri, apakah benar aku…."

"Bukti apa lagi yang kau inginkan?"

"Tapi kalau begitu… kenapa aku baru mengetahui ini semua sekarang? Apakah salah jika sejak dulu aku tahu ibuku adalah adik Kaisar? Kenapa tidak ada yang pernah menceritakannya padaku?"

Selama ini, yang kutahu soal ibuku adalah dia seorang warga desa biasa yang kebetulan bertemu Papa. Dan detik ini, baru kusadari cerita itu ternyata fiksi. Ibuku bukan warga desa, ibuku seorang putri!

"Cerita yang akan kaudengar setelah ini akan merubah segala sudut pandangmu. Tenanglah dahulu," kata Permaisuri, ia mengusap bahuku lembut. "Zhu Yue, bukan tugasku untuk menjawab pertanyaanmu. Aku hanya diberi kepercayaan untuk memberikan peninggalan ini kepadamu. Maafkan aku, tapi bukan aku yang bisa menjawabnya. Tapi kalau kau butuh sesuatu, aku akan selalu bisa kau andalkan."

Permaisuri berjalan meninggalkanku sendirian bersama peninggalan itu. Aku merasa kehilangan tulang yang menyangga kakiku, seakan bisa ambruk kapan saja.

Papa. Aku harus segera mencarinya.

Dengan sedikit tergesa namun tetap hati-hati, kubawa peninggalan itu bersamaku kembali. Di perjalanan, Ling Zhao dan Lu Feng menyambutku. Namun tidak kuhiraukan keduanya, ada sesuatu yang lebih penting saat ini.

"Zhu Yue! Katanya kau mau mentraktir kami! Jangan coba-coba menghindar!" suara Lu Feng terdengar. Sekilas kulirik dia mengaduh karena disikut oleh Ling Zhao. Baguslah si strategis muda itu bisa membaca keadaan.

"Papa!" aku membanting pintu dengan kasar. Papa menghampiriku, tidak terlihat terkejut sama sekali, namun aku bisa menangkap kesedihan di wajahnya.

"Papa berhutang banyak sekali penjelasan kepadaku! Kenapa Papa selama ini tidak pernah mengatakan kalau… kalau…" aku kesulitan melanjutkan kalimatku karena memikirkannya saja membuat air mataku mengalir makin deras."Mama adalah adik Kaisar! Kenapa Papa menyembunyikan identitas Mama dariku?"

Begitu egoisnya aku sehingga tidak menyadari kalau keadaan Papa saat ini tidak jauh lebih baik dariku. Mati-matian ia menahan air matanya untuk menjawabku.

"Sungguh Papa minta maaf," itulah kalimat yang pertama keluar dari mulutnya.

"Ceritakan semuanya!" jeritku.

"Mamamu adalah Putri Sun Shang Xiang, anak dari Kaisar Sun Jian terdahulu, serta adik dari Kaisar Sun Ce dan Sun Quan. Sampai saat ini pun, aku masih begitu mencintainya.."


Jian Ye, 208 AD.

Malam itu, para petinggi Wu dan Shu berkumpul bersama di aula untuk pesta minum sebelum menyerang Cao Cao di Chi Bi. Sun Shang Xiang duduk di sebelah kiri kakaknya, Sun Quan. Sedangkan di sebelah kanan Sun Quan ada pemimpin Shu, Liu Bei.

Tiba-tiba, entah mendapat ilham dari mana, Sun Quan melontarkan satu kalimat yang tidak ia sangka akan menggegerkan satu aula.

"Tuan Liu Bei, adikku ini, sangat menghormati laki-laki yang terhormat dan hebat." Sun Shang Xiang menatap kakaknya dengan aneh. Apa tujuannya mengatakan ini?

"Tapi, sampai sekarang dia belum menikah juga. Jika keluarga Liu dan Sun bersatu, tentunya ikatan kita akan sangat kuat. Tidak perlu lagi mengkhawatirkan ini orang dari Kerajaan mana, tanah Kerajaan siapa."

Hampir, hampir saja Sun Shang Xiang menyemprotkan arak yang sedang ia minum. Dan Putri bungsu itu tidak akan keberatan menyemprotkan arak itu pada wajah kakaknya si pemimpin Kerajaan Wu yang terhormat.

"Apa?!" sentaknya, namun Sun Quan tidak menghiraukannya.

Liu Bei yang melihat semua kejadian ini jadi bingung sendiri. Tampak jelas bahwa sang Putri tidak menyukai usulan ini. "Eh, Sun Quan, sebenarnya sejak istri terakhirku meninggal, aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi.." jawabnya, benar-benar tidak mengerti apa yang ada di kepala Sun Quan. "Tapi…" dipikir-pikir, adik sang Pemimpin Wu ini memiliki daya tarik tersendiri. Dia adalah wanita yang pemberani dan Liu Bei tidak pernah menjumpai wanita seperti itu sebelumnya. Jelas Putri Sun ini wanita yang menarik, dan dia juga masih muda.

"Kau mabuk, kan Quan? Memangnya kau anggap aku ini apa?!" Sun Shang Xiang bertanya dengan nada yang sangat dingin, membuat seisi aula tidak ada yang berani bersuara.

"Apa salahnya? Aku baru saja menemukan pasangan yang cocok untukmu."

"Baiklah!" bentak Shang Xiang. "Tapi, aku akan membawa seratus pasukan bersenjataku untuk menjaga kamarku, dan cobalah untuk masuk kalau kau berani, dan ada lagi…" kalimat itu ditujukan pada Liu Bei, membuat pemimpin Shu itu semakin kikuk. Bahkan Liu Bei tidak tahu dimana salahnya.

Sun Shang Xiang melangkah mendekati Liu Bei. Sang putri mendekatkan wajahnya, hendak membisikkan sesuatu, saat itulah suara salah satu strategis Wu, Lu Su terdengar.

"Tidak! Jangan!"

Terlambat, Sun Shang Xiang bukan hendak membisikkan sesuatu pada Liu Bei. Dia mendekat pada Liu Bei untuk menyerang titik akupunturnya yang berada di leher. Detik itu juga, Liu Bei jatuh pingsan dan segera ditangkap oleh Guan Yu yang sudah menjerit.

"KAKAK!"

Melihat keadaan itu, Sun Quan melotot marah. "Kau!" ia menuding pada adiknya yang keras kepala. "Tidak sopan!"

"Kau tidak pernah belajar menghargaiku, Quan!" setelah mengatakan itu, Sun Shang Xiang berlari keluar dari aula, meninggalkan mereka yang masih panik melihat pemimpin Shu yang pingsan.


Zhu Ran dan Lu Xun mulai lelah mengitari seisi kastil hanya untuk mencari Tuan Putri yang keras kepala. Sun Quan yang menyuruh mereka untuk mencari adiknya yang agak kurang ajar itu. Tapi toh baik Zhu Ran maupun Lu Xun tidak keberatan karena Sang Putri sendiri adalah sahabat mereka.

Namun, usaha keduanya tidak sia-sia, karena beberapa menit kemudian mereka menemukan Sun Shang Xiang yang tengah memberi makan burung merpati di dekat taman kastil.

"Shang Xiang! Lihat siapa yang kena getahnya gara-gara kau kabur dari aula!" protes Zhu Ran. Dipikirnya kastil itu kecil atau bagaimana.

Sun Shang Xiang menoleh dengan wajahnya yang dingin. Sepertinya ia dendam sekali pada Sun Quan. "Apa menurutmu aku tidak sopan dan kurang ajar?"

"Kurasa Tuan Sun Quan memang agak keterlaluan, Shang. Tapi pikirkanlah, mungkin menikah dengan Liu Bei tidak seburuk it—" Lu Xun menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan tajam baik dari Zhu Ran atau dari Sang Putri sendiri.

"Kau sudah gila hah, Boyan?!" sentak Sun Shang Xiang marah. Dilemparnya makanan burung merpati itu pada wajah Lu Xun. "Kau pikir aku mau menikahi pria yang usianya sama dengan ayahku, hah?!"

"Lagipula, aku tidak menjamin Shu dan Wu akan damai selamanya meskipun aku dan si tua itu menikah."

"Kau benar, Tuan Putri." Suara itu bukan dari Zhu Ran ataupun Lu Xun. Tidak ada satupun diantara mereka yang memanggil Sun Shang Xiang dengan sebutan Tuan Putri, karena gadis itu membencinya. Suara itu datang dari ahli strategis Wu, Zhou Yu.

"Aku bukan salah satu yang menyetujui usul kakakmu untuk menikahkanmu dengan Liu Bei. Tapi sayangnya, sepertinya kau tidak bisa menghindari hal ini. Meskipun kau membuatnya pingsan, Liu Bei tidak menolak usulan Sun Quan."

"Sun Quan sialan!" Sun Shang Xiang mengumpat, melempar semua makanan burung yang tersisa. "Apa yang ada di otaknya?!"

Zhu Ran dan Lu Xun berusaha menenangkan sahabat mereka yang sudah terbawa emosi itu.

"Maaf Zhu Ran, Lu Xun, bisakah kalian pergi sebentar? Ada yang perlu kubicarakan dengan Tuan Putri."

Lu Xun memberi hormat, mengerti kalau dia harus pergi dari tempat itu. Sedangkan Zhu Ran terlihat heran dan tidak mau menyingkir, tapi Lu Xun berhasil menyeretnya menjauh.

"Hei, lepaskan aku!" Setelah mereka sedikit jauh dari taman, Zhu Ran melepaskan tangan Lu Xun yang daritadi menyeret bajunya.

"Menurutmu, apa yang mereka bicarakan?" tanya Zhu Ran penasaran. Ia masih berusaha menguping, namun gagal karena tidak mendengar apapun.

"Kurasa bukan urusan kita. Bagaimana kalau kita kembali saja untuk mengatakan pada Kaisar Sun Quan bahwa Putri sudah ketemu?" tidak seperti Zhu Ran, Lu Xun justru terlihat tidak peduli ada urusan apa diantara Zhou Yu dan Sun Shang Xiang.

"Lu Xun."

"Hmmm?" Lu Xun tetap berjalan menuju aula diikuti Zhu Ran yang masih terus mengajaknya bicara.

"Bukankah pernikahan ini terlalu tidak masuk akal? Sang Putri hanya dijadikan alat agar Shu dan Wu bisa damai, padahal tidak ada jaminan bahwa dengan begitu kita benar-benar akan membentuk aliansi dengan Shu selamanya."

"Apakah kau mengatakan ini karena alasan pribadi, Zhu Ran? Ataukah kau benar-benar bersimpati dengan Tuan Putri? Beginilah politik. Suka tidak suka, mau tidak mau, apa yang bisa kita lakukan? Bahkan Putri saja tidak bisa menolong dirinya sendiri."

Zhu Ran yang terkenal dengan semangatnya yang begitu membara bahkan tidak punya kekuatan untuk sekadar tersenyum sekarang.


Adegan yang terjadi di aula ini diambil dari film Red Cliff (2008) dimana Sun Shang Xiang menentang usul Sun Quan untuk menikahkannya dengan Liu Bei.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca fanfiction ini. Jika berkenan, tinggalkanlah review yang berisi komentar, kritik maupun saran. ^^