Disclaimer : Dynasty Warriors belongs to KOEI. The canon characters belong to God. I only own the OC and the story. Happy reading.

Chapter 8 : New Fact

Tambahan usia karakter (di tahun 208) :

Ling Tong & Lian Shi : 20


Saat seusia Mama, yang ada di pikiranku sehari-hari hanyalah berlatih bersama Ling Zhao dan Lu Feng atau bagaimana cara mengalahkan beberapa musuh dengan sekali tebas. Sedangkan Mama sudah harus memikirkan pernikahan dengan orang yang tidak dicintainya untuk kepentingan kerajaan, menyedihkan bukan?

Meski berarti masih keturunan keluarga kerajaan, aku sangat beruntung karena hidupku tidak diatur-atur. Aku benci peraturan, aku benci ketidakbebasan.

Jangankan peraturan demi kepentingan orang lain, peraturan untuk keamanan diri sendiri seperti tidak bermain terlalu jauh dari kastil saja kadang kulanggar bersama Lu Feng.

Yang ternyata adalah keponakanku. Konyol, bukan? Fakta bahwa Putri Sun Shi adalah sepupuku membuatku merasa dunia ini sudah gila.

Sudah lewat hampir 2 jam sejak Papa mulai bercerita. Namun setelah bagian yang terakhir, Papa terdiam. Kurasa ia mulai lelah. Baiklah, aku maklum. Sepertinya menceritakan masa lalunya menguras banyak energi. Pastilah berat menjadi Papa.

"Istirahat dulu saja, Pa. Ceritanya bisa menunggu."

Sebenarnya banyak sekali yang ingin kutanyakan, tapi melihat kondisi Papa, aku menjadi tidak tega. Ia terlihat begitu sedih. Pernikahan itu, yang belum kutahu jadi atau tidak, pastilah menghancurkan hati Papa begitu dalam. Tidak pernah aku melihatnya sesedih itu selama 20 tahun aku hidup.

"Baiklah." Papa memegangi kepalanya, seperti orang banyak pikiran.

Aku keluar dari kediamanku, hanya untuk mendapati dua bocah tengil yang sangat dekat denganku berada di depan. Sorot cemas tampak dari wajah Ling Zhao, bertolak belakang dengan Lu Feng yang tampak tidak mengerti apa-apa.

"Ada apa?" tanya Ling Zhao.

"Sesuatu yang gila."

"Apa? Kau ternyata tidak punya uang untuk mentraktir kami?" gurau Lu Feng. Aku paham betul kalau ia hanya bercanda, namun Ling Zhao menyikutnya keras.

"Aw! Santai sedikit, Ling Zhao!"

"Kalian tahu, ternyata peninggalan ibuku yang diberikan oleh Permaisuri, ternyata menjelaskan siapa ia sebenarnya."

"Dan?"

"Dan—oh, aku tahu kalian tidak akan percaya—tapi ibuku adalah mendiang Putri Sun Shang Xiang."

"Aku percaya." Suara Ling Zhao. Tentu saja dia percaya, kami selalu mempercayai satu sama lain.

"Apa?! Bukannya Putri Shang Xiang menikah dengan Kaisar Shu terdahulu?! Jangan mengada-ada!" protes Lu Feng, yang tidak membuatku terkejut. Sudah kuduga kalau orang tuanya pasti bercerita kalau Mama adalah istri Liu Bei, yang masih belum kutahu apakah faktanya benar begitu. Segalanya masih terasa samar dan abu-abu.

Kata demi kata meluncur dari mulutku, tidak lupa kutunjukkan bukti surat dari Mama yang dari tadi masih kubawa. Lu Feng menganga, tidak mau mempercayai fakta bahwa aku adalah bibinya. Ling Zhao tidak banyak menyela, namun dia sepertinya sedang memikirkan kemana cerita ini akan berakhir.

"Putri jelas memiliki banyak teman di Wu, termasuk ayah-ayah kita." Begitu kesimpulan yang diambil Ling Zhao. Setelah ceritaku selesai, Lu Feng turut merespon.

"Siapa itu Gan Ning? Kalau Zhou Yu aku masih tahu karena Ayahku pernah bercerita dia adalah strategis di Wu."

"Berdasarkan cerita dari Ayah, Gan Ning itu teman dekatnya yang pernah membunuh kakek. Konyol, bukan? Aku juga tidak tahu bagaimana orang yang membunuh kakek bisa bersahabat dengan Ayah. Tapi dia sudah meninggal di peperangan Yi Ling, saat kita masih kecil. Aku sendiri hanya melihatnya 1-2 kali, itupun aku sudah lupa seperti apa dirinya."

"Oh, aku baru tahu," kataku. Sungguh, aku juga tidak pernah melihat Gan Ning yang tadi disebut Papa, dan juga tidak terlalu berniat mencari tahu. Ada banyak sekali Jenderal di Wu, kau tahu. Mana mungkin aku hafal semuanya.

"Aku belum tahu bagaimana kelanjutan cerita ini, tapi aku yakin terjadi hal besar yang membuat identitas Putri disembunyikan begitu lama darimu," kata Ling Zhao lagi.

"Pasti begitu. Dan alasan itulah yang harus aku sangat ingin tahu."

Sebenarnya, aku memikirkan sebuah kemungkinan. Tapi buru-buru kutepis pikiranku itu. Tidak mungkin. Aku tahu Papaku adalah orang yang bermoral. Begitu juga Mama. Tentu saja, dia seorang bangsawan.

"Tolong beri aku waktu untuk sendiri dulu. Aku masih… terguncang," kataku. Ling Zhao mengangguk mengerti, begitu juga Lu Feng. Syukurlah dia tidak ribut.

Menjauh dari kedua sahabatku, aku terus berjalan dengan tatapan kosong menuju koridor istana yang selalu sepi. Jarang sekali orang yang lewat sana, aku tidak akan terganggu.

Namun ternyata dugaanku salah karena Paman Lu Xun berada di sana. Sedang bermain dengan para merpati yang terlihat menyukainya. Gurat-gurat terlihat di wajahnya yang sedang tersenyum, menjadi tanda bahwa ia sudah tidak muda lagi.

Kuputuskan untuk mencari tempat lain, namun terlambat karena strategis itu berhasil menyadari keberadaanku.

"Yue."

"Iya."

"Selamat ulang tahun."

"Terima kasih Paman."

"Ada apa kau kemari? Kau terlihat suntuk."

"Ah, tidak apa. Aku hanya ingin mencari udara segar."

"Apakah kau masih belum menerima fakta yang sebenarnya?"

"Kalau kau berada di posisiku, tidakkah kau butuh waktu untuk menerima semua kegilaan ini, Paman?" tanyaku dingin.

"Hidup selalu penuh kejutan."

"Tapi tidak sesinting ini," tandasku. "Paman, kalau aku boleh tahu, adakah cerita soal Mama yang kau tahu? Apa ia pada akhirnya menikahi Liu Bei?"

Paman Lu Xun mengangguk, membuat lututku seketika lemas.


Lu Xun sedang mengunjungi makam pamannya, Lu Kang, ketika siang itu Sun Shang Xiang bersama Lian Shi juga datang ke tempat itu. Namun, yang mereka kunjungi adalah makam Sun Ce yang selalu dipenuhi bunga.

"Kakak," suara Sun Shang Xiang terdengar parau. Mudah mengetahui bahwa Sang Putri sedang dalam kondisi yang tidak baik. "Aku merindukanmu." Ia mulai terisak. Lian Shi mengusap punggungnya.

"Quan menikahkanku dengan seorang pemimpin kerajaan seberang. Kak, kau harus tahu, usianya sama dengan Ayah! Kurasa Quan sudah gila karena kau tinggal terlalu cepat. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang."

Tidak menghentikan ceritanya, Sun Shang Xiang melontarkan sebuah kalimat yang membuat Lu Xun tersenyum tipis.

"Aku memang ingin menikah, tapi tidak di usiaku yang sekarang. Aku masih ingin berperang, bermain bersama sahabat-sahabatku. Kalau pun menikah, aku ingin menikahi pria yang kucintai. Ce, dia benar-benar mirip denganmu. Ia baik hati,berani dan bisa melindungiku. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Quan tidak akan pernah mengizinkanku bersamanya. Dia memintaku untuk menikahi sesama bangsawan."

Sudah kuduga, batin Lu Xun. Detik itulah ia mendengar isakan Putri yang semakin keras.

"Lian Shi, aku mencintainya."


Ling Tong menatap babi hutan yang terkapar di depannya dengan malas. Sore itu, ia ditemani Lu Xun dan Gan Ning berburu hewan liar. Sekaligus mencari udara segar di luar istana, kalau kata Gan Ning. Tapi mantan perompak itu justru lebih banyak melamun. Seharusnya Zhu Ran ikut, namun ia tengah disibukkan dengan aktivitas yang paling mereka hindari—disuruh membersihkan perpustakaan oleh Lu Meng. Yah, memang pemuda bertubuh pendek itu sedang apes sehingga tidak bisa ikut bersenang-senang.

"Hei, semangat sedikit! Aku bahkan sudah berhasil membunuh 3 babi!" kata Ling Tong sambil melempar ranting pada Gan Ning yang tidak terlalu bersemangat.

"Kau agak lesu akhir-akhir ini. Apa kau sakit?" tanya Lu Xun.

"Jangan bertanya padaku seperti itu, Boyan! Kau terdengar menggelikan!" Gan Ning sewot.

"Tak kusangka Gan Ning yang patah hati bisa selesu ini. Kalau kau berada di medan perang, kau bisa kalah! Hei, sebentar lagi perang di Chi Bi. Sebaiknya kesampingkan dulu masalah hatimu itu," ledek Ling Tong.

"Tutup mulut! Aku tak butuh ocehanmu!"

"Patah hati memang menyakitkan." Ling Tong masih berceloteh.

"Argh! Kalau saja si tua Liu Bei itu tidak—" ucapan Gan Ning terhenti karena Lu Xun berusaha mendekapnya.

"Tenanglah. Orang-orang Shu masih berada di wilayah kita. Jangan sampai kecerobohanmu terdengar oleh mereka dan membuat aliansi kita retak."

"Bukankah itu bagus? Pernikahan akan dibatalkan kalau begitu."

"Jangan egois, Gan Ning. Kita masih membutuhkan mereka untuk perang di Chi Bi."


"Bagian cerita ini mungkin menurutmu tidak penting, Zhu Yue. Tapi aku rasa kau perlu tahu setiap detail dalam kisah kedua orang tuamu."

"Aku mengerti," jawabku. Sebagian kecil cerita yang diceritakan oleh Paman Lu Xun mungkin terasa tidak penting, tapi itu membuka fakta lain. Ternyata, dalam satu waktu, ada 3 pria sekaligus yang jatuh hati pada Mama.


Terima kasih sudah membaca. Jika berkenan, tinggalkanlah review berupa komentar, kritik atau saran ^^