Disclaimer : Dynasty Warriors belongs to KOEI. The canon characters belong to God. I only own the OC and the story. Happy reading.
Chapter 9 : Feelings
Hai, ternyata ada kesalahan yang saya buat dalam Chapter 7. Diceritakan bahwa Sun Shang Xiang akan menikah dalam hitungan hari. Padahal, peraturan pernikahan pada zaman Dinasti Han tidak seperti itu. Umumnya, seorang pemimpin seperti Liu Bei dapat menikahi seseorang setelah 6 bulan sejak ia memutuskan untuk menikah, bukannya selama seminggu.
Jadi, ada sedikit bagian di Chapter 7 yang saya edit ^^
By the way, tampilan fisik Zhu Yue adalah persis seperti di cover. Gimana? Mirip nggak sama ibunya? Beda rambutnya aja ya, hehe. Semoga menikmati chapter ini.
Aku ingat salah satu kejadian paling mengerikan dalam hidupku. Terjadi 13 tahun lalu, pasca peperangan Yi Ling. Saat itu, aku yang masih kecil sedang sibuk bermain dengan Lu Feng kecil yang masih berusia 4 tahun. Kami sama-sama menunggu ayah masing-masing pulang. Tidak ada kecemasan sama sekali di benak kami saat itu.
Sampai para pasukan Wu pulang membawa kemenangan. Kabar baik ini disambut sangat baik dan kemenangan itu dirayakan dengan berpesta di istana pada malam hari. Ketika rombongan prajurit kembali, yang aku cari pertama adalah Papa, karena aku sudah sangat rindu padanya. Ditinggal Papa selama dua malam membuatku tidak bisa tidur nyenyak.
Namun, alangkah terkejutnya aku ketika melihat Papa dengan luka di sekujur tubuhnya dan kondisinya menunjukkan bahwa dia bisa mati kapan saja. Bibirnya sobek, salah satu lengannya diperban, jalannya tidak sempurna, apalagi wajahnya benar-benar pucat. Persis mayat hidup. Melihatnya langsung membuatku menjerit dan menghambur ke pelukannya sambil menangis.
"Papa! Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak apa, sayang. Papa hanya kurang hati-hati."
Kurang hati-hati? Kalau kupikirkan saat ini, kalimat itu hanyalah berusaha menghiburku. Papa pasti hampir kehilangan nyawanya di peperangan itu, dan untungnya tidak terjadi.
Barulah beberapa tahun kemudian aku tahu, bahwa setelah Papa melancarkan serangan api yang legendaris itu, ia bertarung dengan Jenderal Zhao Yun. Dan hasilnya adalah, Papa berhasil dikalahkan. Untungnya, Papa berhasil kabur sebelum tombak Zhao Yun benar-benar mengoyak tubuhnya.
Entah kenapa tiba-tiba aku teringat kejadian ini. Mendengar masa lalu Papa membuatku mengenang beberapa potong kejadian di masa lalu.
"Zhu Yue…?" panggil Paman Lu Xun.
"Ah, maaf Paman."
"Kau sudah kupanggil 4 kali. Baik-baik saja? Ada sesuatu yang kau pikirkan?"
"Aku hanya tiba-tiba teringat saat Papa pulang dari Yi Ling."
Paman Lu Xun tersenyum tipis. "Saat itu, tangisanmu benar-benar kencang sekali dan memancing perhatian hampir semua orang. Tidak ada yang bisa membuatmu diam, bahkan Zhu Ran sendiri. Kau baru diam ketika sudah kehabisan tenaga dan tertidur setelahnya."
"Itu kenangan yang mengerikan. Aku seharusnya bersyukur Papa masih hidup. Ling Zhao bilang, Jenderal Gan Ning meninggal disana. Aku tidak bisa membayangkan kalau ia punya anak yang masih kecil saat itu."
"Ling Zhao bilang begitu?"
"Iya."
"Yi Ling memang setengah mengerikan meskipun Wu berhasil memenangkannya. Perang itu menjadi tanda berakhirnya aliansi Wu dan Shu. Zhu Ran sebenarnya sudah tidak punya tenaga untuk melarikan diri saat itu. Namun, dia mengingatmu. Ia berusaha untuk tetap bertahan hidup demi dirimu. Beruntung, saat itu Ling Tong datang tepat waktu untuk membantunya kabur. Terlambat 5 menit saja, kau tidak akan melihat Zhu Ran lagi."
Aku menunduk lesu. Begitu besar kasih sayang Papa. Aku malu karena belum bisa membalas segala pengorbanannya.
"Kau tahu Yue, setelah peperangan di Lu Kou, Zhu Ran menghajarku telak sekali."
Astaga! Kenapa Papa melakukan itu? Apa yang diperbuat Paman Lu Xun? Aku jadi merasa bersalah. "Kenapa bisa begitu? Sungguh, maafkan Papa. Kadang emosinya memang tidak bisa dikendalikan."
"Sebenarnya aku tidak melihat tindakan Zhu Ran adalah sebuah kesalahan. Ia menghajarku karena gara-gara aku memisahkanmu darinya, kau jadi diserang dan terluka."
Tuh, kan, ini terjadi karena kecerobohanku sendiri. Bukan salah Paman Lu Xun kok!
"Seharusnya aku tidak ceroboh saat itu."
Paman Lu Xun hanya tertawa. "Zhu Yue, kau harus tahu, kau benar-benar putri kesayangan Zhu Ran."
"Papa!" seruku begitu memasuki kediaman kami. Oh, rupanya Papa sedang tidur. Kalau begitu, aku ke kamar saja dulu. Aku merasa begitu lelah, padahal tidak ada aktivitas berat yang kulakukan hari ini.
Ketika melihat kotak berisikan hanfu dari Papa, mendadak aku ingat kalau istri Paman Ling Tong kan, memang penjahit andal. Ia bahkan salah satu dari penjahit terbaik yang ada di Wu. Pastilah hanfuku ini juga hasil karyanya. Luar biasa. Yang aku tahu, pakaian hasil jahitan Nyonya Yan memang mahal-mahal.
Kutatap diriku di cermin. Mata hijau, rambut coklat terang yang panjangnya hampir sepunggung, dengan tubuh yang lumayan tinggi. Sebagai seorang perempuan, aku memang sering dibilang tinggi. Papa pernah bilang, secara fisik aku mirip Mama. Dan kurasa itu benar. Jarang sekali ada kemiripan fisik antara aku dan Papa. Bahkan tinggi kami saat ini sama. Sedikit lagi dan aku bisa melampaui Papa.
Berbeda dengan Ling Zhao yang benar-benar seratus persen Paman Ling Tong. Atau Lu Feng yang wajahnya campuran antara Paman Lu Xun dan Putri Sun Shi. Meski begitu, sekali menatap matanya saja orang akan tahu bahwa ia putra Lu Xun.
Alih-alih mirip Papa, salah satu ciri fisikku malah mirip dengan Kaisar. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, warna mata kami sama.
Alangkah terkejutnya aku ketika sedang asyik bercermin dan tiba-tiba terpantul sosok lain di cermin. Hampir saja hanfu yang ada di genggamanku ini kulempar.
"Papa! Kau mengejutkanku!" seruku, langsung berbalik ke arah Papa yang hanya tersenyum simpul.
"Kau sudah pulang."
"Baru saja," kataku. Hening sejenak, sebelum aku melontarkan sebuah pertanyaan. "Mama itu pasti begitu menarik di masa mudanya, kan?"
"Tentu saja. Kalau kau penasaran seperti apa ia terlihat, ia persis sepertimu. Hanya saja, rambutnya tidak sepanjang kau."
"Aku tahu," jawabku. "Seorang putri yang berhasil membuat dua orang jenderal dan satu raja jatuh hati. Bahkan aku sampai sekarang belum pernah disukai orang."
Papa terlihat terkejut mendengar kalimat terakhir. "Dua orang jenderal? Kau tahu dari mana?"
"Dari Paman Lu Xun. Pasti sulit bukan, menyukai seseorang seperti Mama? Terlebih karena statusnya sebagai seorang Putri."
"Bukan sulit lagi. Dengan memutuskan mencintai Mamamu, aku sama saja dengan bunuh diri," ucap Papa, ia terlihat begitu sedih. "Tapi aku tidak pernah menyesal."
"Yue?" Papa memanggilku.
"Ada apa?"
"Sungguh beruntung menjadi orang yang dicintai Mamamu."
"Aku senang mendengarnya." Aku tersenyum, dan aku serius dengan kalimatku. Kalau Papa bahagia, maka aku juga. Dialah satu-satunya orang yang harus kubuat bahagia sebelum pergi dari dunia ini.
"Mau mendengar lanjutan ceritanya?"
"Tentu."
Menjelang pertempuran Chi Bi, ada sesuatu yang cukup mengejutkan. Yah, setidaknya bagi empat jenderal muda di Wu itu hal yang aneh.
Putri Sun Shang Xiang tidak lagi mengomel dan menangisi pernikahan itu. Alih-alih mengumpat pada kakaknya setiap waktu, ia justru terlihat begitu senang hari ini. Seperti tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya dalam waktu dekat.
Setidaknya itulah yang dilihat oleh Gan Ning, Lu Xun, Zhu Ran dan Ling Tong saat keempatnya berada di paviliun istana. Nanti malam, perang di Chi Bi akan berlangsung. Meski Sun Shang Xiang sudah dilarang oleh banyak orang untuk ikut berperang termasuk Sun Quan, tentu saja semua nasihat itu diabaikan olehnya. Bukan Shang Xiang namanya kalau tidak keras kepala
"Aku senang kau bisa ceria kembali, Shang Xiang," kata Lu Xun, meski di benaknya terdapat ratusan pertanyaan.
"Kenapa kau hari ini? Pernikahannya dibatalkan?" tanya Gan Ning, setengah berharap.
"Atau jangan-jangan kau mulai membuka hati untuk Liu Bei? Meskipun sudah tua, dia tidak jelek-jelek amat sih," terka Ling Tong sembarangan.
"Tutup mulut, Ling Tong. Tidak seharusnya kau menghina Tuan Liu Bei seperti itu." Meskipun menjawabnya dengan sangat tenang, Sun Shang Xiang tetap bisa menangkap keterkejutan dari keempat temannya itu. Lantas ia melanjutkan.
"Ini hari-hari terakhirku bersama kalian. Aku harus menikmatinya sebelum berkenalan dengan teman-teman baru di Shu nanti." Ketika mengatakan itu, Shang Xiang terlihat gembira dan baik-baik saja, seolah pernikahan itu hanyalah sebuah kunjungan ke Shu untuk mencari teman main baru.
Zhu Ran mulai merasa ada yang tidak beres. Tapi ia belum tahu kenapa.
"Ada satu kabar buruk untukmu, Gan Ning." Sun Shang Xiang tersenyum tertahan, membuat yang lain penasaran.
"Mendengarmu menikah saja sudah kabar buruk," ungkap Gan Ning kelewat jujur. "Tapi mari kita dengar kabar buruk berikutnya. Pasti tidak seburuk pernikahanmu."
"Zhou Yu dan Zhuge Liang mengizinkanku ikut berperang nanti malam, tapi dalam pengawasanmu."
"Kabar buruk apanya? Ini sih kabar baik! Ternyata strategis Shu itu ada gunanya juga."
Melihat Gan Ning yang terlalu jujur begitu, kecil kemungkinan Sun Shang Xiang tidak menyadari kalau lelaki bertato ini menaruh hati padanya.
"Seharusnya aku pergi bersama Tuan Liu Bei, tapi setelah Zhou Yu dan Zhuge Liang berunding, akan lebih aman kalau aku bersama salah satu Jenderal Wu saja."
Zhu Ran mengernyit bingung. Sejak kapan Sun Shang Xiang betah memanggil Liu Bei dengan sebutan Tuan? Terasa begitu janggal. Dan bagus sekali, dengan begini akan makin banyak kesempatan Gan Ning untuk bersama Shang Xiang.
"Oh ya teman-teman, jangan lupa untuk tetap menjaga sikap di depan orang Shu. Aku tidak ingin sahabat-sahabatku dicap buruk hanya karena beranggapan Tuan Liu Bei bukan lelaki yang benar untukku."
Sudah pasti ada yang salah. Zhu Ran melirik ke arah Lu Xun hanya untuk mendapatkan raut curiganya yang khas. Gan Ning dan Ling Tong, entahlah apa dua idiot itu menangkap kejanggalan dari kalimat Sun Shang Xiang atau tidak. Rasanya sih tidak, melihat ekspresi mereka yang shock berat seperti baru saja bertemu arwah Sun Jian. Gan Ning yang paling terkejut. Bahkan ia terlihat bisa mati kapan saja.
Masih dengan senyuman yang terlihat begitu hangat, Sun Shang Xiang melanjutkan. "Gan Ning, bisa ikut aku sebentar? Zhou Yu memintaku untuk membawamu menghadap."
"Eh? Aku? Ada apa?"
"Sudah, ikut saja. Dan yang lain, sampai nanti ya?" dengan begitu, berlalulah Sun Shang Xiang sambil menggenggam tangan kiri Gan Ning yang kebingungan. Keduanya menjauh, bergerak keluar paviliun untuk menemui Zhou Yu katanya.
Tapi Zhu Ran tahu bahwa mereka tidak menemui sang strategis. Bagaimana ia bisa tahu? Tentu saja dengan mengikuti keduanya secara diam-diam. Awalnya Zhu Ran memang berniat mencari Sun Quan, tapi mengingat Zhou Yu yang sedang bersama sang pimpinan Wu, seharusnya ketiganya searah. Alih-alih ke ruangan Zhou Yu, Gan Ning dan Sun Shang Xiang justru pergi ke arah koridor tersembunyi yang ada di dekat ruang makan.
Tempat itu selalu sepi kalau bukan jam makan, jadi sepertinya mereka memang sedang tidak ingin diganggu. Namun karena terlanjur penasaran, Zhu Ran jadi mengikuti mereka dari jarak sejauh 5 meter.
"Ah sial, dari jarak sejauh ini aku tidak bisa mendengar dengan jelas," gerutu Zhu Ran.
Raut bahagia yang sedari tadi Sun Shang Xiang tunjukkan seketika lenyap, digantikan ekspresi yang teramat sedih. Ekspresi itu, jelas hanya ia tunjukkan pada lelaki di hadapannya ini. Gan Ning awalnya terlihat bingung, namun diusapnya rambut Shang Xiang yang bukannya membuat gadis itu tenang, justru terisak.
"Kau….aku… jujur?" kalimat Sun Shang Xiang tidak begitu terdengar, membuat Zhu Ran merutuk kesal dan memutuskan untuk mendekat sedikit.
"Jadi, maukah kau menceritakan yang sebenarnya?"
"Zhou Yu tidak memanggilmu. Ini hanya akal-akalanku agar bisa berdua saja bersamamu. Aku tidak bisa mengatakan ini di depan yang lain."
"Shang, jawab aku." Gan Ning menangkup kedua pipi gadis itu dan menghadapkan wajah Shang Xiang pada wajahnya. "Apa yang terjadi? Bukannya kau sebelumnya tidak menyetujui pernikahan ini?"
"Kau harus bersumpah padaku untuk tidak menceritakan ini pada siapapun, termasuk Ling Tong dan yang lain."
"Baik, aku bersumpah."
"Aku sampai detik ini tidak pernah menyetujui pernikahan itu. Dan setiap detik yang berlalu begitu menyiksaku. Melihat wajah Liu Bei selalu membuatku muak. Andai aku bisa kabur…" gadis itu makin terisak. Mendadak Zhu Ran teringat malam itu, malam dimana Sun Shang Xiang menangis di pelukannya. Apakah hal yang sama akan terjadi?
Zhu Ran membelalakkan matanya, tentu terkejut dengan pernyataan rahasia ini. Sedetik kemudian ia lebih terkejut lagi ketika menyaksikan sang Putri yang tiba-tiba memeluk mantan perompak kawannya itu sambil menangis terisak-isak.
"Lalu mengapa kau harus berbohong kepada kami? Kami kan juga sudah tahu kalau kau tidak menyetujuinya."
"Zhou Yu," ucapnya. "Zhou Yu mengajakku bekerja sama. Ia juga tidak menyukai Liu Bei. Tapi ia cerdas, ia mempunyai rencana besar yang melibatkanku."
"Zhou Yu berkata padaku untuk menjadikan pernikahan ini umpan. Umpan untuk membunuh Liu Bei di waktu yang tepat. Dengan adanya aliansi ini, Shu akan mempercayai Wu dan percaya bahwa kami tidak akan menyerang. Setelah itu, Wu bisa membunuh Liu Bei dan saat itu aku bisa kembali ke Wu. Karena itu, ia memintaku untuk berpura-pura menyetujui pernikahan ini agar semua berjalan lancar."
"Itu melegakanmu, bukan?" Gan Ning balas memeluk Shang Xiang, membiarkan dadanya dibasahi oleh air mata.
"Tentu. Tapi aku benci semua ini. Kenapa segalanya harus rumit bagiku? Bahkan Sun Quan belum diberi tahu perihal rencana ini. Kita tidak tahu berapa lama waktu yang diperlukan Zhou Yu agar rencananya berhasil. Bagaimana kalau dia gagal? Aku akan tinggal di Shu selamanya. Aku ingin bisa hidup normal, bisa mencintaimu tanpa perlu menyembunyikannya seolah itu aib."
"Aku juga. Menyembunyikan ini semua begitu melelahkan," balas Gan Ning, terdengar lesu. "Aku mencintaimu."
"APA?!" pekikku terlampau kaget. Aku menutup kedua mulutku dengan kedua tangan, masih belum menerima isi kalimat Mama dan pernyataan Gan Ning.
"Hush, jangan berteriak-teriak begitu," kata Papa. Ia tetap tenang ketika menceritakannya. Sepertinya berbeda sekali dengan kondisi dirinya yang penuh keterkejutan saat mendengar semua pengakuan Mama dari jauh itu.
"Ternyata Mama kembali ke Wu, ya? Huh, syukurlah. Aku sudah berpikir bahwa aku anak Liu Bei."
Papa tertawa mendengar kalimatku itu. "Teori yang begitu ngawur. Kesimpulan dari mana itu?"
"Ah lupakan saja Pa. Jangan pikirkan kalimatku, aku hanya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini."
"Tidak apa. Papa mengerti. Boleh Papa melanjutkan ceritanya?"
"Segera lanjutkan sebelum aku mati penasaran."
Terima kasih sudah membaca. Jika berkenan, tinggalkanlah review berupa komentar, kritik atau saran ^^
