Disclaimer : Dynasty Warriors belongs to KOEI. The canon characters belong to God. I only own the OC and the story. Happy reading.
Chapter 10 : Into the War
Perang di Chi Bi.
Melihat puluhan kapal yang berjejeran di tengah laut yang tenang beserta ratusan prajurit yang siap tempur berbaris rapi membuat bulu kuduk Sun Shang Xiang merinding. Jantungnya terasa berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya. Bukan hanya karena ini peperangan besar yang menentukan masa depan Wu, namun karena apapun hasilnya nanti, ini akan menjadi perang terakhirnya di Wu.
Bukan Sun Shang Xiang berharap kerajaannya kalah, namun pernikahan sialan itu jelas batal apabila Wei memenangkan peperangan ini. Sang Putri menggelengkan kepalanya. Tidak, ia tidak boleh egois. Ini semua demi kerajaannya, demi masa depan Cina. Aliansi Wu dan Shu tentu saja akan sangat berpengaruh demi mengalahkan Wei. Saat ini bukan waktunya untuk memikirkan diri sendiri, tetapi orang-orang di kerajaannya. Begitulah yang selalu diajarkan oleh mendiang kakaknya Sun Ce, yaitu sebagai pemimpin kerajaan, yang diutamakan adalah isi kerajaan itu sendiri.
Meskipun begitu, Sun Shang Xiang masih belum ingin berbicara dengan Sun Quan. Belakangan ini, ia seringkali melewatkan makan bersama, atau seringkali menghindar saat Sun Quan terlihat. Tentu saja Shang Xiang tidak pernah membenci kakak keduanya itu. Dari kecil, ia justru lebih dekat dengan Sun Quan karena jarak usianya yang tidak jauh. Bahkan saat kematian Sun Ce, Shang Xiang memastikan bahwa ia terus berada di sisi Sun Quan karena nampaknya sang pemimpin Wu itu hampir gila dan bisa bunuh diri kapan saja. Berbagai cara ia lakukan untuk meyakinkan kakaknya itu bahwa ia bisa memimpin kerajaan ini menjadi lebih baik, karena Sun Shang Xiang tahu, Sun Quan sama unggulnya dengan Sun Ce, hanya saja dalam hal yang berbeda.
"Tuan Putri." Sebuah suara membuyarkan lamunan Shang Xiang yang masih saja menatap kapal-kapal.
"Zhou Yu. Ada apa?"
"Apabila rencana Zhuge Liang untuk mengatur arah angin berhasil, besar kemungkinan kita menang. Aku sudah memberi tahu Sun Quan mengenai rencanaku. Ia mengkhawatirkan keselamatanmu dalam rencana ini, tapi aku bisa pastikan kau akan selamat sampai kembali di Wu."
"Tentu saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku bisa mengurus diriku sendiri. Lantas, apa yang perlu kulakukan pada perang nanti malam?"
"Untuk saat ini semua sudah terkendali. Lakukan saja sesuai yang aku dan Zhuge Liang perintahkan padamu, kau dan Gan Ning akan berada di sisi timur nanti malam untuk menghancurkan gerbang timur Wei. Kalian tidak akan banyak berada di kapal."
"Baiklah."
Saat Zhou Yu berbalik, ia tidak sadar bahwa putri muda di belakangnya itu menyunggingkan senyum puas.
Sang mantan perompak mengusap tangan yang bergetar itu dengan penuh kelembutan. Rasanya begitu hangat, begitu menenangkan, dan mampu membuat si empunya tangan mengusir rasa gugup yang menguasainya.
"Kau aman bersamaku."
"Aku tahu, hanya saja aku sedikit cemas."
"Soal apa?"
"Gan Ning." Gadis itu menggenggam balik tangan sang pemuda. "Tidak bisakah setelah perang ini berakhir, kita lari saja? Memulai hidup baru yang lebih tenang."
"Hei, tenanglah Putri. Jangan membuat keputusan berdasarkan emosi. Hal itu justru akan menambah masalah. Kita bukannya hidup tenang, justru akan menjadi buronan dan dicari oleh seluruh Wu. Jika rencana Zhou Yu berhasil, aku akan mencari cara agar kita bisa bersama setelahnya. Mungkin kita perlu bersabar selama beberapa waktu, tapi bukankah itu sepadan?"
Bukan kata-kata Gan Ning yang berhasil membuat Sun Shang Xiang tenang, namun dekapan lelaki itu yang sukses membuatnya merasa aman, merasa tenang dan damai.
"Apakah kau benar Xingba? Tidak biasanya dia bijak."
"Yah, mungkin berteman dengan Lu Xun berpengaruh padaku."
Keduanya melepas tawa di tengah kondisi perang yang terasa mencekam. Setidaknya itulah yang bisa membuat mereka bahagia saat ini, berada di sisi satu sama lain. Terima kasih pada Zhou Yu dan Zhuge Liang.
Gan Ning tidak bisa melepaskan tatapannya dari mata emerald hijau yang indah itu. Ah, kenapa gadis di hadapannya ini bisa begitu cantik? Tidak heran kalau banyak yang menaruh hati padanya. Namun bukan kecantikan itu semata yang membuat sang mantan perompak sampai jatuh sedalam ini.
Keberanian yang dimiliki gadis itu. Sebagai seseorang yang spontan dan selalu berani menghadapi tantangan, Gan Ning membutuhkan seorang yang dapat mengimbanginya.
"Baiklah, kurasa sudah saatnya." Sun Shang Xiang mengambil kedua cakramnya, bersiap keluar tenda untuk berperang. "Para prajurit sudah menunggu Jenderal mereka untuk segera memberi arah, sedangkan Jenderal itu malah bermesraan disini."
Sebelum menyambar senjatanya, Gan Ning menyempatkan untuk mencium puncak kepala sang putri sekilas. "Yah, mau bagaimana lagi? Kesempatan tidak datang dua kali, Sayang."
Para prajurit sudah menunggu mereka di kapal, siap mengikuti arahan.
"Baiklah! Kita tidak akan mengikuti Huang Gai. Kita akan berlayar ke arah timur dan menunggu saat ketika kapal Wei sudah terbakar. Dengan begitu, pertahanan timur akan lebih mudah dihancurkan."
"Jenderal Huang Gai sudah menuju ke arah Wei, Jenderal!"
"Bagus. Kalau begitu kita berlayar sekarang." Setelah memberi komando, Gan Ning kembali memusatkan perhatiannya pada Sun Shang Xiang. "Tetap di sisiku, ya?"
"Siap, Jenderal!" Sun Shang Xiang meniru cara bicara para prajurit, membuat Gan Ning ikut tergelak.
Sedikit yang mereka tahu, bahwa tawa dan gurauan itu tidak akan bertahan lama.
"Wah, hubungan mereka memang sejauh itu." Aku menggelengkan kepala, masih tidak menyangka jalan ceritanya akan begini. Di seberangku, Papa tertawa melihat reaksiku. "Papa tahu dari mana bagian cerita ini?"
"Gan Ning dan Sun Shang Xiang keduanya teman baik Papa. Seluruh kisah mereka, baik Papa, Lu Xun dan Ling Tong tahu."
"Itu pasti menyakitkan." Aku menunduk. Membayangkan seseorang yang begitu kau cintai ternyata sudah mempunyai hubungan dengan orang lain… astaga, bagaimana Papa bisa menceritakannya dengan tersenyum begitu?
"Dulu memang iya, tapi Papa berdamai dengan keadaan. Karena tanpa masa lalu, tidak akan ada masa kini."
Aku sedikit tidak mengerti, sejujurnya. Tapi kurasa akhir cerita ini akan menjadi jawabannya.
"Cerita Papa lanjutkan besok. Sekarang sudah larut, Zhu Yue." Papa berjalan kembali ke kamarnya. "Selamat tidur, Putriku. Dan selamat ulang tahun. Papa harap di usia yang baru ini kau dapat lebih dewasa dalam bersikap, termasuk dalam menerima kenyataan."
Kalimat terakhir Papa membuatku merinding. Mendengar kisah ini, rasanya seperti mendengar dongeng saja. Padahal, kisah ini berhubungan denganku. Ah, Jenderal Gan Ning. Aku jadi penasaran. Bagaimana reaksinya saat tahu wanita yang dicintainya mempunyai anak dengan pria lain? Andai dia masih hidup. Aku sungguh ingin mengenalnya. Sepertinya dia orang yang menyenangkan.
Kuambil lagi cakram peninggalan Mama yang tersimpan dalam benda bulat itu. Saat kubuka, aku baru menyadari bahwa isinya tidak hanya sepasang cakram dan surat. Ada barang lain di dalamnya.
Sebuah bel.
Maaf udah hiatus lama banget sampai 2 tahun :'D semoga readers tetep enjoy ya sama ceritanya. Saran, kritik dan komentar akan sangat saya hargai! Terima kasih sudah membaca~
