BLOODLINE,

A Midorima Shintarou x Akashi Seijuurou fanfiction by midoakas, based on Ariana Grande's - Bloodline.

Contains suggestive theme for this chapter and HEAVY NSFW to build up sexual tension between the two. Aged up characters, age gap because i fw younger top x older bottom dynamic. Boss!Akashi, College student, intern!Midorima but he's kinda depressed and a bit suicidal here idk (ily tho). Welcome back midoakas. [emot hati]

Last but not least, happy reading!

.


Jam di ponselnya baru menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Midorima merasa dunianya telah runtuh.

Mungkin terdengar berlebihan, namun otak cemerlang yang biasa ia bangga-banggakan seolah kehilangan fungsi kerja. Ketakutan dirundung oleh suara hatinya yang menjerit tanpa henti, meminta pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan sampai membawanya pada situasi seperti ini. Situasi yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, dan hal itu membuat Midorima ingin mengubur diri hidup-hidup. Atau otaknya saja, tidak masalah. Yang penting, ia bisa mengubah jalan hidupnya dari ketika ia membuka mata di pagi hari ini.

Kini otak sialannya itu sedang Midorima paksa untuk kembali bekerja, mereka ulang kejadian apa atau apa yang telah ia lakukan sebelum sampai di sini. Ia tidak lupa memanjatkan doa yang biasa dimohonkannya setiap malam sebelum tidur. Ia bangun pagi-pagi sekali bahkan ketika matahari belum terbit dan membersihkan tempat tidur, sprei abu-abu yang semula ia gunakan sudah berganti warnanya menjadi cokelat muda. Ia sudah sarapan sambil duduk di depan televisi yang menyiarkan Oha Asa, tayangan ramalan kesukaan yang tidak boleh ia lewatkan setiap harinya. Ia sudah membawa boneka penguin besar yang kini terpuruk di kakinya, benda keberuntungan Cancer yang berada di peringkat lima hari ini dan harus ia bawa jika tidak ingin tertimpa sial.

Lalu, apa? Apa yang salah?

Midorima selalu bertanya-tanya mengapa orang-orang begitu skeptis terhadap ramalan. Sudah tak terhitung berapa kali mereka mengolok dengan mengatainya kolot, halu, terlalu banyak imajinasi, dan segelintir perkataan menyakitkan lainnya. Padahal, bagi Midorima, ramalan itu bukan sekadar omong kosong. Sejauh yang dia alami, tayangan Oha Asa yang setiap pagi dia saksikan selalu memberikan ramalan yang akurat. Jika peringkat keberuntungannya tinggi, harinya akan berjalan mulus. Jika rendah, ia tinggal mengikuti anjuran membawa lucky item, dan semuanya akan tetap terkendali. Mungkin itu salah satu dari sekian alasan karena Midorima sering membawa benda-benda aneh yang menjadi benda keberuntungannya tiap kali bepergian.

Akan tetapi, kali ini, Midorima merasa keberuntungan tidak berpihak padanya—pun dengan Dewi Fortuna yang seakan tutup mata dan tutup telinga melihat penderitaannya.

Sepeda motor yang ia kendarai tidak sengaja menabrak bagian belakang sebuah mobil ketika berhenti di persimpangan jalan. Midorima tidak tahu apa yang merasukinya hingga bisa teledor dan lalai mengerem motor, atau mungkin ia hanya mengantuk karena tumpukan tugasnya di kuliah kedokteran hanya memberikan waktu sekitar dua jam sehari untuk tidur. Pengendara itu tampak terkejut ketika turun dari balik kemudi dan mendapati bemper belakangnya penyok, namun tatapan matanya berubah saat melihat Midorima yang berdiri kaku dengan keringat dingin yang membanjiri pelipis hingga tangannya.

Apakah ia prihatin? Apakah ia marah? Midorima tidak tahu, namun pertanyaan pertama terdengar lebih logis karena pria itu pasti melihat kantung matanya yang tebal dan rambutnya yang acak-acakan.

Dengan takut-takut Midorima menoleh ke arah pria itu, sepertinya pekerja kantoran karena setelan jas dan kemejanya terlalu necis untuk dikenakan saat bersantai. Tidak tampak tua, tapi juga terlalu muda untuk berasumsi jika jarak umurnya tidak jauh dari Midorima. Midorima menelan ludah, kebingungan bagaimana ia harus bersikap sementara pria itu masih tampak enggan memulai pembicaraan.

Ibu akan mengomel jika tahu ia telah bertindak sembrono dengan menabrak mobil orang meskipun secara tidak sengaja, ayah akan kecewa padanya jika tidak bertanggungjawab, dan adiknya

"Apakah kau tidak apa-apa?"

—dan pertanyaan dari pria itu membuat Midorima makin kebingungan.

Dari sekian banyak daftar skenario dadakan yang ia bayangkan, ditanyai 'apakah kau tidak apa-apa' oleh seseorang yang baru saja ia tabrak mobilnya tidak masuk ke dalam urutan.

"Tentu, aku baik-baik saja." Midorima akhirnya membuka suara. Bola mata Midorima bergulir ke sudut, melirik bemper belakang mobil yang penyok akibat ulahnya. Tidak terlalu parah, namun pasti memaksanya merogoh kantung terdalam jika dimintai ganti rugi. Midorima tidak ingin orang tuanya mengetahui hal ini, juga tidak ingin membuat mereka terlibat dalam masalah. Ini murni kesalahannya, Midorima harus menghadapi dengan dagu terangkat berani karena tidak ingin membuat ibu mengomel dan ayahnya kecewa, dan adiknya— "dan untuk mobilnya, aku juga tidak masalah jika harus dimintai ganti rugi, nodayo."

Tidak masalah? Dan suara hatinya menjerit tidak terima, tidak masalah? Kepalamu yang bermasalah, dasar bego!

"Aku bahkan belum mengatakan apa pun tentang ganti rugi, bukan begitu?" Kata pria itu sambil terkekeh pelan, dan Midorima merasa cukup bersyukur karena merasa tidak sedang dicemooh, "tapi syukurlah jika kau baik-baik saja. Jangan khawatir, mobil ini adalah mobil dinas kantor dan sudah dilindungi oleh asuransi."

Ada sedikit rasa lega yang menyambangi hati Midorima setelahnya, namun ia masih belum ingin menyerah untuk terlihat bertanggung jawab, "bahkan untuk dibayar separuhnya?"

Pria itu tampak kebingungan karena Midorima justru menawarkan jasa. Membayar separuhnya? Oleh si pemuda yang tampak seperti anak kuliah (atau sekolah?) yang lelah dengan hidupnya ini?

Midorima mengusap tengkuknya, "aku hanya... ingin bertanggungjawab, nodayo. karena ini murni kesalahanku meskipun sudah dilindungi asuransi atau apa pun itu. Berikan aku waktu satu bulan untuk memenuhinya."

Sekarang kau malah memberikan tenggat waktu? Suara hatinya kembali memaki, si bodoh ini terkadang terlalu percaya diri.

Mendengar perkataan Midorima, pria yang tidak ia ketahui namanya itu hanya tersenyum. Sepertinya ia tidak berminat untuk memperpanjang urusan, atau memang tidak mau berurusan dengan Midorima. Sebelah tangannya merogoh saku kemeja, lalu menyodorkan selembar kartu nama ke hadapan Midorima yang menerimanya dengan sedikit ragu. Matanya menyipit, membaca nama si pria dan nama perusahaan yang tertulis di sana.

Shirogane Eiji,

Chief Operations Officer — AKASHI CORPORATION.

"Hubungi saja aku di nomor itu, untuk saat ini aku masih ada urusan jadi tidak bisa berlama-lama." Kata pria itu, yang baru saja Midorima ketahui namanya sebagai Shirogane Eiji, lalu mengulurkan tangan untuk minta dijabat, "sebelumnya terima kasih karena telah menawarkan diri untuk bertanggung jawab, tuan...?"

"Midorima." Midorima menyahut cepat, tangannya balas menjabat Shirogane dengan sedikit terburu-buru, "Midorima Shintarou. Terima kasih sebelumnya, Tuan Shirogane."

Shirogane hanya tertawa, lalu melambaikan tangannya untuk berpamitan kepada Midorima. Ibu akan mengomel jika tahu ia telah bertindak sembrono dengan menabrak mobil orang meskipun secara tidak sengaja, ayah akan kecewa padanya jika tidak bertanggungjawab, dan adiknya

"Shin-chan, apa menurutmu Shinya tidak akan marah jika tahu bonekanya ditelantarkan begini saja di bawah kakimu?"

—dan adiknya akan marah jika tahu boneka penguin kesayangan yang Midorima culik secara diam-diam dari kamarnya diletakkan secara sembrono di lantai kantin fakultas yang kotor.

Ia menoleh ke sumber suara, ke arah Takao Kazunari yang baru saja bangun dari posisi membungkuk untuk mengambil boneka penguin dari kaki Midorima. Kedua tangannya menepuk perut penguin yang sedikit berdebu, lalu meletakkannya di atas meja. Berhadapan dengan Midorima yang jadi ingin memencet paruh panjang itu sebagai pelampiasan emosinya.

"Takao." Akhirnya Midorima bicara, kepalanya masih berkedut dan ototnya mengencang. Atensinya beralih pada Takao yang duduk di seberangnya, tampak kebingungan sambil menyedot jus jeruk yang sejak tadi ia genggam, "aku perlu bantuanmu, nodayo."

"Tumben sekali?" Tanya Takao, menyedot jus jeruknya sekali lagi, "bantuan apa?"

"Aku baru saja menabrak mobil seseorang hari ini dan harus bertanggung jawab, nodayo." Takao hampir menyemburkan jusnya ketika Midorima merepet dalam sekali tarikan napas, "apa kau tahu bagaimana cara menghasilkan banyak uang dalam waktu satu bulan?"

"Kau ini gila, ya?" Bukannya menjawab, Takao malah berbalik mengatainya. Jus jeruk yang semula ia genggam diletakkan bersebelahan dengan si penguin, "meskipun ini masih sedikit lebih baik dari menghamili anak orang, tapi menghasilkan banyak uang hanya dalam satu bulan? In this economy? Apa kau tidak memberitahu kedua orang tuamu?"

"Tidak." Midorima menggeleng, merasa sepertinya ia tidak perlu mengatakan jika sebenarnya mobil yang ia tabrak telah memiliki asuransi untuk sedikit mendramatisir, "ayah dan ibu tidak akan membantu bahkan jika aku memberitahunya, nodayo. Kesalahanku, harus aku yang tanggung sendiri."

"Hmm." Takao manggut-manggut tanda mengerti. Satu tangannya digunakan untuk menopang dagu di atas meja, sementara matanya tampak menerawang jauh untuk membantu Midorima berpikir, "apa ya, Shin-chan? Aku tidak terpikirkan apa pun selain jadi penipu online shop atau jual foto telanjang."

"Kau yang gila." Semprot Midorima, berusaha memahan amarah ketika Takao justru tertawa kencang. Meski begitu, baik otak dan hatinya saling berebut untuk meyakinkan diri bahwa menjual foto telanjang tidak akan—atau akan terdengar menggiurkan untuk dilakukan dalam situasi mendesak seperti ini, "apa tidak ada pilihan lain yang lebih logis untuk dilakukan, nodayo?"

"Mana aku tahu? Hanya itu yang lewat di pikiranku ketika kau bertanya." Kata Takao, santai. Telunjuknya bergerak mengetuk dagu, lalu menatap Midorima yang kini menyilangkan kedua tangannya di depan dada, masih tampak kesal atau justru mulai tertarik dengan ide foto telanjang, "apa kau tidak punya informasi atau kontak apa pun dari korbanmu yang mungkin bisa aku telaah?"

"Ada. Sebentar." Midorima merogoh saku celananya, mencari kartu nama Shirogane Eiji untuk ia serahkan pada Takao yang langsung menerimanya. Kepala lelaki itu meneleng ke sisi, membaca deretan kalimat yang tertera di kartu nama itu, dan raut mukanya yang tampak terkejut membuat Midorima menaikkan kedua alis, "ada apa, nodayo? Hanya itu yang ia berikan padaku."

"Akashi Corporation? Apa kau bercanda?" Takao letakkan kartu nama itu di atas meja dengan cepat, nyaris seperti menggebrak karena terdengar debuman keras yang terdengar setelahnya, "mengapa kau baru mengatakannya? Kau ingat kakak sepupu-ku si Izuki Shun itu? Ia sudah dari lama bekerja di sana, apa kau mau aku minta bantuan padanya?"

"Izuki Shun?" Midorima mengernyit, merasa asing dengan nama itu meski bisa samar-samar ia ingat Takao sering menceritakan Shun-nii, Shun-nii, dan Shun-nii kepadanya. Shun-nii kakak sepupu Takao yang itu bekerja di Akashi Corporation, lalu? "Sepertinya aku ingat, nodayo. Tapi bagaimana caranya ia bisa dimintai tolong?"

"Kau bilang saja ingin dibantu magang di sana." Ujar Takao, terdengar santai meski rasanya Midorima telah terbantai, "seingatku Akashi Corporation membuka beberapa slot magang untuk mahasiswa setiap bulan, dan kebetulan Shun-nii yang mengurusnya. Gaji yang didapatkan juga setara upah minimum, ini yang membuat persaingan di sana sangat ketat karena mahasiswa miskin seperti kita bisa mendapat uang banyak di tengah gempuran magang tanpa bayaran."

"Begitu, ya?" Midorima bergumam, hatinya tersentil ketika Takao mengatakan mereka adalah mahasiswa miskin tanpa tedeng aling-aling. Meski kebutuhannya sehari-hari masih lumayan tercukupi dari kiriman ayah, membayar reparasi mobil yang ditabraknya secara mendadak tentu membuat mentalnya terguncang. Jadi, supaya ia masih bisa hidup dengan tenang tanpa bayang-bayang rasa bersalah, Midorima merasa harus menurunkan egonya, "sebetulnya aku tidak punya pilihan lain dan kau tahu itu, nodayo. Boleh aku minta kontak Shun-nii mu itu?"

"Kau bertingkah seolah ingin melamarnya saja." Takao kembali terbahak, ponsel yang semula masih tersimpan ditarik keluar dari saku celana. Mencari nama Shun-nii di daftar kontak, lalu menyodorkan layarnya ke arah Midorima untuk mencatat nomornya, "bilang saja kalau kau dapat nomornya dariku, ia pasti mengingatmu dengan baik. Dan ya, tolong jangan katakan padanya kalau aku memberi saran padamu untuk menjual foto telanjang karena aku masih belum mau digantung ibu."

Tergantung, Midorima memutuskan untuk tetap mengatakannya dalam hati sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada Takao. Sebagai gantinya, ia hanya mengangguk setelah menyimpan nomor Izuki dan melempar senyum kecil ke arah Takao, "tentu saja, nodayo. Terima kasih atas bantuannya."

-x-

Dinilai dari postur wajah, warna rambut, bahkan dari perilaku dan cara bicaranya, Midorima tidak perlu melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa Izuki Shun yang sekarang sedang mengoceh sambil menemaninya berjalan keliling kantor ini adalah benar masih memiliki hubungan darah dengan Takao.

Mereka memang pernah bertemu beberapa kali, namun hanya sekadar saling bertukar sapa atau basa-basi tanpa obrolan lain yang lebih intens. Midorima menghubungi Izuki setelah ia dan Takao berpisah di kantin fakultas beberapa waktu lalu, dan Izuki menyanggupi untuk membantunya mendaftar magang di Akashi Corporation dengan ramah. Izuki bilang, Midorima cukup beruntung karena slot mahasiswa magang di sana belum terisi penuh, namun ia juga perlu penyesuaian ekstrim karena jurusan kuliahnya terlalu jauh dari apa yang akan ia lakukan di periode magang nantinya. Namun Midorima merasa tak perlu mengkhawatirkan hal itu, Izuki telah memastikan bahwa ia akan membantunya bertahan, setidaknya sampai sebulan ke depan.

Takao bilang, Izuki bisa memanfaatkan otak encer kawannya itu. Jadi, apa salahnya mencoba?

"Menurutku, bidang yang paling aman kau tempati nantinya adalah sosial media, Midorima." Izuki kembali bicara, kali ini mengganti topik dari bagaimana ia bisa bekerja di Akashi Corporation menjadi bidang apa yang bisa mahasiswa kedokteran seperti Midorima tempati nantinya. Midorima menunggu, menyimak dengan penuh khidmat, "hanya perlu kamera dan kemampuan menulis untuk copywriting, kurasa aku bisa mempercayaimu untuk yang satu itu. Tim social media specialist Akashi Corporation adalah yang terhebat dalam pembuatan konten, kau bisa mengecek sosial media kami jika butuh pembuktian."

Midorima manggut-manggut, ia telah melakukannya. Sebelum memutuskan untuk sungguhan datang kemari, Midorima merelakan jam tidurnya untuk melakukan riset dadakan tentang Akashi Corporation itu; mulai dari kapan mereka berdiri, dalam bidang apa mereka bergerak, juga beberapa fakta bahwa rupanya mereka memiliki peranan yang cukup penting di negara ini. Panggil Midorima katrok, terserah, ia tak peduli. Yang jelas, ia ingin cepat-cepat mulai bekerja dan menjalankan tugasnya sebagai pria muda yang bertanggung jawab.

Midorima gatal ingin memukul dirinya sendiri setelah memikirkan hal itu.

"Meski begitu ya, Midorima. Kau tetap harus menghadap bos untuk memastikan akan ada di bidang mana kau bekerja nantinya." Kali ini Midorima menoleh, kedua alisnya bertaut keheranan mendengar perkataan Izuki.

"Bos?" Ulangnya, dan Izuki tergelak, "tentu saja! Memang kau pikir tangan siapa yang berhak mengatur segala hal di perusahaan? Bukan aku, tahu. Tapi bos, si presiden direktur itu. Namanya Akashi Masaomi, namun ia sudah pindah ke perusahaannya yang lain. Yah, kau tahu lah, tipikal orang kaya yang punya ribuan perusahaan di bawah tangan mereka. Jadi, posisinya digantikan oleh anaknya yang juga menjabat sebagai presiden direktur di sini."

"Begitu?" Gumam Midorima, masih berusaha mencerna penjelasan yang Izuki berikan secara tiba-tiba padanya. Dengan kurang ajar, pikirannya mulai berkelana membayangkan seperti apa sosok anak dari Akashi Masaomi yang menggantikan posisinya itu. Pasti ia sudah tua, mukanya keriput, usianya berkisar antara empat puluh sampai lima puluh tahun—

"—dan ia sangat keren, untuk ukuran orang seusianya. Bahkan ia masih lebih muda dariku, kau tahu?" Izuki melanjutkan, sepertinya tahu Midorima sedang mengejek bosnya mati-matian di dalam hati. Midorima spontan mengusap lehernya sambil tersenyum canggung, berharap semoga Izuki tidak menganggapnya telah memikirkan sesuatu yang aneh, "ia selalu sulit ditemui karena sibuk, namun tetap digandrungi oleh para pegawai atau bahkan anak magang perempuan di sini. Aku tidak bisa mengelaknya, sih. Ia tampan, berkarisma, pandai, dan hebat dalam segala hal. Tidak heran Akashi Masaomi-sama memberikan jabatan dan mempercayakan perusahaan ini secara cuma-cuma padanya."

Izuki berbelok ke sebuah koridor, dan Midorima mengikutinya. Mulutnya masih tertutup, telinganya semakin awas. Ia ingin mendengarkan penjelasan Izuki tentang bosnya secara lebih mendetail.

"Tapi ya, Midorima. Kupikir kau perlu berhati-hati padanya." Mereka berhenti di depan sebuah pintu, dan Midorima baru sadar jika tujuan awal Izuki memang membawanya kemari. Ia dan Izuki bertemu di lobi karena kakak sepupu Takao itu menawarkan diri untuk menemani Midorima melakukan tur singkat berkeliling kantor supaya memudahkannya beradaptasi saat periode magang dimulai.

Namun mendengar perkataannya tadi, Midorima merasa tangannya berubah menjadi dingin. Berhati-hati? Apa maksudnya?

"Hei, mengapa kau jadi tampak ketakutan seperti ini?" Izuki tergelak, satu tangannya terulur menepuk-nepuk bahu Midorima yang kini merasa tubuhnya membatu, "tidak apa-apa, maksudku ia sangat perfeksionis dan terkadang sedikit mengintimidasi. Akan tetapi, selebihnya ia orang baik. Aku hanya ingin berpesan supaya kau tidak melakukan hal-hal di luar nalar yang nantinya bisa mempermalukanku, karena aku meminta secara langsung padanya supaya kau bisa masuk. Jangan lupa katakan padanya kalau kau masih ada jadwal kuliah dan ingin menyesuaikannya dengan jadwal magangmu, kemarin ia juga sempat berencana untuk menjadikanku mentormu nantinya. Jadi, kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan begitu?"

Midorima menahan napas ketika dilihatnya Izuki tersenyum, "nah, akan ku tinggal kau di sini, oke? Seijuurou-sama sepertinya sedang ada di ruangan. Setelah itu, kau datang saja ke ruanganku. Kau sudah hafal letaknya, 'kan?"

Kepala berambut hijau itu mengangguk kaku, berusaha berperang melawan batin untuk menahan Izuki supaya tidak meninggalkannya di sini. Tapi tidak, ia tidak ingin mempertaruhkan imej-nya di depan Takao karena pasti Izuki akan menceritakan hal ini pada adik sepupunya itu untuk dijadikan bahan tertawaan. Sebagai gantinya, Midorima menghela napas yang tadi sempat ia tahan. Mencoba menenangkan diri dan memanipulasi pikirannya kalau ia akan baik-baik saja tanpa Izuki.

"Tentu saja, Izuki-san. Terima kasih atas bantuannya." Midorima tarik kedua sudut bibirnya ke atas untuk memaksakan sebuah senyuman, "tapi—toilet. Aku perlu ke toilet terlebih dahulu sebelum bisa menemuinya, nodayo."

"Astaga, baiklah. Kau sekarang ini persis sekali dengan aku yang baru pertama kali bekerja di sini dulu, seperti berkaca pada diri sendiri." Izuki mengibaskan tangannya, memberi perintah pada Midorima untuk bergegas. Midorima mengangguk, tubuhnya berputar membelakangi Izuki setelah membungkuk penuh hormat. Samar-samar, ia masih bisa mendengar Izuki menyerukan semangat padanya sesaat sebelum menutup pintu toilet.

Semangat, Midorima! Aku percaya padamu!

Midorima masih bertanya-tanya bagaimana caranya untuk percaya pada diri sendiri.

Ia kembali ke hadapan pintu ruangan yang sempat Izuki sebut sebagai 'keramat' saat mereka masih berkeliling kantor tadi. Sesuai dugaan, Izuki sudah menghilang dari sana. Mungkin kembali ke ruangannya? Mungkin pergi ke kafetaria untuk membeli minuman atau makanan karena Izuki cerita ia tidak sempat sarapan pagi? Midorima tidak tahu. Namun yang jelas, keringat dingin yang makin membanjiri tangan dan wajahnya membuat Midorima ingin kabur saja dari kenyataan.

Ketuk pintu tiga kali, kalau tidak ada jawaban langsung masuk saja, itu kata Izuki. Satu tangannya terangkat, mengetuk pintu ruangan itu dengan penuh keraguan. Ketuk sekali, tidak ada jawaban. Ketuk dua kali, masih belum ada jawaban. Hampir ia layangkan ketukan yang ketiga—

"Masuk."

Sebuah suara yang menyahut dari dalam ruangan membuatnya sedikit terlonjak. Midorima memejamkan matanya rapat, pintu yang tertutup ia dorong dengan tangan yang semula digunakan untuk mengetuk, dan udara dingin dari dalam ruangan menyambutnya ketika melangkah masuk. Cahaya lampu yang begitu terang membuat Midorima terpaksa menyipitkan mata, dan hal itu membuat pandangannya jatuh ke arah seorang lelaki yang tengah duduk di satu-satunya di meja di ruangan itu.

Inikah dia, si putra Akashi Masaomi yang Izuki ceritakan secara panjang lebar? Siapa namanya tadi, Seijuurou?

Lelaki yang tengah menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja itu menautkan alis, merasa asing dengan Midorima yang masuk ke ruangannya dengan gelagat salah tingkah. Berdiri kaku beberapa langkah di depan mejanya sambil membawa... apa itu? Gantungan kunci berbentuk kepala kambing?

"Apa kau bersedia untuk memperkenalkan dirimu terlebih dahulu, tuan?" Lelaki itu berbicara, suaranya terdengar lembut, dan benar kata Izuki, sedikit mengintimidasi. Midorima membungkukkan tubuhnya dengan sigap, memberi hormat dan menunjukkan kalau ia berada di sini untuk tidak bermain-main, "aku Midorima Shintarou, anak magang yang dititipkan oleh Izuki Shun-san selama sebulan di sini, nodayo. Mohon bantuannya, Akashi-sama."

Tidak ada jawaban, dan Midorima masih mempertahankan posisi membungkuknya. Kira-kira, apa yang sedang bosnya lakukan di depan sana? Apa ia tertawa? Apa Midorima harus bersikap lebih sopan dengan bersujud di bawah kakinya?

"Midorima Shintarou, ya?" Midorima mengerjap ketika namanya dipanggil. Ia berdeham, lalu membawa tubuhnya untuk kembali berdiri. Matanya bertemu dengan sepasang iris merah yang menawan, senada dengan rambutnya yang tampak halus jatuh di dahi, dan mulut Midorima hampir terbuka untuk menjawab ketika Akashi melanjutkan kalimatnya, "yang beberapa waktu lalu menabrak mobil dinas Shirogane Eiji, dan menawarkan diri untuk membayar separuh dari total biaya ganti rugi meskipun mobilnya sudah ditanggung oleh asuransi?"

Ada jeda yang diambil dan Akashi manfaatkan hal itu untuk menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum mengejek sementara Midorima merasa kakinya sudah hampir meleleh dan ia ingin segera menyatu dengan lantai, "besar juga nyalimu, datang kemari untuk mencari uang supaya bisa membayar ganti rugi mobil di perusahaanku."

Midorima sungguh hampir memukul dirinya sendiri.

Ia menelan ludah, kebingungan harus bicara atau bersikap seperti apa. Haruskah ia sungguhan bersujud? Haruskah ia pura-pura kerasukan supaya Akashi panik dan membiarkannya pergi? Astaga, mengapa rasanya ia menjadi tidak normal? Mengapa rasanya bumi di bawah kakinya bergetar?

"Tapi tak apa, aku menghargai tanggung jawab dan ketangguhanmu dalam menghadapi sebuah masalah." Bahu Akashi mengedik, diraihnya sebuah map yang berisi berkas milik Midorima dari atas meja. Map itu Midorima serahkan pada Izuki untuk diberikan pada Akashi beberapa hari sebelum ia datang kemari, untuk screening, katanya? Akashi menarik keluar selembar kertas dari dalam map, yang Midorima yakini sebagai biodata pribadinya karena air muka bosnya itu terlihat menjadi sedikit lebih serius, "Midorima Shintarou, mahasiswa kedokteran semester lima dari Universitas Shutoku? Sesungguhnya kau membuatku kebingungan, bahkan sejak Izuki berkata padaku jika ia ingin memasukkan saudaranya kemari sebagai anak magang. Apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa kedokteran di sini?"

Saudara. Izuki menyebutnya saudara di depan Akashi. Midorima memutar otak, mencoba mengingat-ingat apa yang Izuki katakan padanya tadi supaya bisa dijadikan petunjuk untuk menjawab, "sosial media. Aku bisa bergabung dengan tim sosial media Akashi Corporation karena cukup mahir menggunakan perangkat editing dan pembuatan konten, nodayo."

Akashi mengangkat alis, tampak tidak tertarik dengan jawabannya. Namun, Midorima bisa lihat sebuah senyuman yang kembali muncul di sudut-sudut bibir lelaki itu, "padahal kau bisa bilang ingin bergabung dengan tim kesehatan perusahaan daripada repot-repot bergabung dengan tim sosial media, tapi baiklah, karena kurasa Izuki yang mengajarimu untuk mengatakan hal itu, aku akan membiarkannya karena aku akan jadikan dia mentormu nanti."

Midorima berteriak dalam hati, meminta maaf pada Izuki karena belum sepuluh menit ia berada di sini dan Akashi mungkin sudah bisa menarik kesimpulan kalau ia terlihat aneh. Akashi masih membaca data dirinya dengan seksama, sementara Midorima rasanya sudah ingin kabur untuk kembali ke toilet dan bersembunyi di dalam bilik.

"Ku dengar kau masih ada jadwal kuliah juga. Jadi, bagaimana caramu untuk mengatur jadwal magang di sini?"

Itu pertanyaan lain yang Akashi berikan untuknya, dan Midorima sudah menyiapkan jawabannya tanpa perlu berpikir panjang, "aku hanya berkuliah di hari Senin dan Kamis, jadi aku bisa datang kemari pada sisa tiga hari dalam satu minggu, nodayo."

Akashi mengangguk sekilas mendengar penuturannya, lembar kertas itu ia kembalikan ke dalam map dan menaruh atensinya pada Midorima yang masih berdiri kaku di tempat. Hal itu membuat Midorima mengutuk dalam hati, kakinya mulai terasa pegal. Apa ia tidak diperbolehkan duduk di hadapan bosnya ini?

"Itu," jari telunjuk Akashi mengarah ke depan, menunjuk sebuah benda yang berada dalam genggaman tangan kiri Midorima. Gantungan kunci berbentuk kepala kambing yang menarik perhatiannya ketika lelaki tinggi berambut hijau itu masuk ke ruangannya, "apa?"

"Ini?" Midorima mengangkat gantungan kuncinya, dan Akashi mengangguk, "ini benda keberuntunganku. Menurut Oha Asa, Cancer berada di peringkat enam hari ini, jadi aku harus membawa gantungan kunci berbentuk kepala kambing supaya tidak tertimpa sial, nodayo."

Lalu hening. Pendingin ruangan yang menderu menjadi satu-satunya suara yang menimpali perkataan Midorima. Ia kebingungan, air muka Akashi sama sekali tidak menyiratkan ekspresi untuk menyikapi penjelasannya. Apa ia salah bicara? Midorima keheranan karena ia jadi sering mempertanyakan diri sendiri.

"Oha Asa? Benda keberuntungan?" Yang tidak disangka, Akashi justru tertawa. Midorima bisa merasa pelipisnya berkedut. Separuh tidak terima karena ia lagi-lagi ditertawakan karena kepercayaannya terhadap ramalan, dan separuhnya lagi tidak percaya karena Akashi yang sedang tertawa itu bisa-bisanya tampak begitu elegan dan mempesona, "dan apa itu imbuhan di belakang kalimatmu setiap kau selesai bicara? Nodayo? Juga jari-jarimu yang dililit perban? Kau ini lucu, ya?"

Andai saja orang yang mengejeknya bukan Akashi, Midorima sudah bisa memastikan kalau orang itu akan habis kepalanya ia injak. Tidak hanya satu, tapi tiga kebiasaannya disebutkan secara berurutan. Belum lagi, Akashi menyebutnya lucu.

Lucu. Midorima jadi gatal ingin menjungkir balikkan meja.

"Sebenarnya aku masih ingin bertanya tentang beberapa hal mengenai kesiapanmu untuk magang di sini secara lebih lanjut, tapi sayangnya aku tidak punya banyak waktu." Akashi berdiri dari duduknya, dan Midorima jadi tahu kalau postur tubuh bosnya ini bisa dibilang... kecil? Pucuk kepalanya bahkan tidak melewati bahu Midorima. Jadi, siapa yang lucu di sini sekarang?

Lucu. Midorima sudah tak bisa lagi menghitung berapa kali ia ingin menganiaya diri sendiri sejak masuk ke ruangan ini. Lucu sekali.

"Aku akan menyerahkan sisanya pada Izuki." Akashi berjalan memutari meja, lalu berhenti di hadapannya. Kepala berambut merah yang mendongak itu membuat Midorima tertunduk, dan mata mereka bertemu. Tenggelam dalam kelamnya sepasang manik sewarna rubi yang menatapnya intens, dan Midorima tersentak ketika tubuhnya terhuyung ke depan. Iris merah Akashi menjadi berjarak semakin dekat dengan Midorima ketika kerah kemejanya ditarik untuk membungkuk, sementara jarak di antara wajah mereka terkikis menyisakan beberapa sentimeter saja.

"Apa kau tahu siapa namaku?" Akashi, yang bertingkah seolah ia tidak baru saja menarik kerah kemeja Midorima untuk membungkuk dan mendekat padanya, bertanya.

Midorima terdiam. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa mendengar hembusan napas Akashi yang rupanya ingin bersaing dengan pendingin ruangan.

"Akashi?" Jawabnya hati-hati, "Akashi-sama."

Akashi kembali tersenyum, kali ini tampak puas. Satu tangannya turun secara diam-diam, menepuk selangkangan Midorima yang terperanjat. Hampir terjungkal jika tangan Akashi yang masih berada di kerahnya tidak mencengkeramnya kuat-kuat.

"Akashi Seijuurou-sama." Ada suara resleting yang dinaikkan tepat setelah Akashi berhenti bicara. Midorima masih terdiam, sepasang iris hijaunya membelalak kaget ketika sebuah remasan diberikan pada selangkangannya, pelakunya tangan Akashi yang sepertinya masih enggan lepas dari sana, "dan kau tahu, Midorima Shintarou-kun? Menghadap atasanmu sambil memamerkan celana dalam adalah perbuatan yang sangat tidak sopan. Aku akan bicara pada Izuki untuk mengajarimu beberapa hal terkait kesopanan, termasuk pentingnya menggunakan resleting celana dengan baik dan benar saat berada di lingkungan kerja."

Cengkeraman di kerahnya terlepas dan Midorima sungguh hampir terjatuh jika tak pandai mengendalikan keseimbangan diri. Akashi sudah menghilang dari tempatnya semula, berjalan dengan derap langkah angkuh menuju pintu, meninggalkan Midorima yang masih sesak napas di tengah ruangan. Jejak tangan Akashi masih terasa di selangkangannya.

"Oh iya, Shintarou?" Midorima dengan cepat menoleh ketika Akashi yang sudah berada di ambang pintu memanggilnya. Lelaki itu tersenyum geli, satu tangan mendorong pintu dan sepasang iris merah yang tadi berjarak sangat dekat dengannya mengerling jenaka, "aku lebih suka warna hitam dibanding putih."

Pintu ditutup, dan Midorima jatuh terduduk di atas kakinya.

Dadanya naik turun, jantungnya berdegup dengan tidak santai. Hari pertama magang di Akashi Corporation dan bertemu dengan Akashi Seijuurou-sama adalah dua hal teratas yang memang ingin ia lakukan hari ini, namun kebiasaan buruknya yang sering lupa menaikkan resleting tidak masuk hitungan karena telah menyeret Midorima jatuh ke dalam malapetaka yang tidak ia duga. Tangannya yang masih gemetar terulur meraih gantungan kunci berbentuk kepala kambing yang terpental beberapa jengkal darinya, sementara hatinya merutuk sarat penuh kebencian terhadap Oha Asa yang terhitung sudah dua kali mempermainkan nasibnya.

Sialan, Midorima kelepasan mengumpat ketika merasakan celananya berangsur jadi sempit. Oha Asa sialan, ramalan sialan, resleting sialan!

Sekarang apa? Bertahan satu bulan di sini sesuai periode magangnya dengan bayang-bayang telapak tangan Akashi yang dengan kurang ajar telah meraba dan meremas selangkangannya? Melecehkannya di hari pertama ia masuk sebagai anak magang? Midorima mendengus sebelum memaksa dirinya untuk bangkit berdiri. Celananya sempit dan Midorima tidak ingin menjadi manusia cabul yang bisa onani tanpa rasa berdosa di tempat kerjanya sendiri. Sialan.

Pokoknya, Akashi Seijuurou memang sialan!

-x-

Takao menyusul Midorima ke kantor saat jam pulang kerja karena memiliki urusan dengan Izuki, dan Izuki berbaik hati menawarkan tumpangan untuk sepasang sahabat karib itu pulang ke rumah. Midorima tentu tidak menolak, ia langsung menerima tawaran itu dengan senang hati. Rasanya ia sudah terlalu lelah hanya untuk berjalan atau menaiki angkutan umum, energinya terkuras habis, dan bekas remasan Akashi Seijuurou di selangkangannya membuat itunya kembali berkedut.

Midorima hampir membenturkan dahi ke jendela mobil Izuki jika suara Takao tak menginterupsinya lebih dulu, "hei, Shin-chan. Daripada diam dan terlihat depresi begitu, apa kau tak ingin bercerita pada kami tentang pengalamanmu di hari pertama magang?"

Aku memang depresi. Midorima menelan omongan itu mentah-mentah, lalu berdeham dan menegakkan badan. Jok belakang mobil Izuki ia kuasai sendirian, dan Midorima gatal ingin bertanya apakah ia boleh mengambil posisi berbaring di sana karena sungguh rasanya ia lelah sekali.

"Tentu saja semuanya berjalan lancar." Jawab Midorima, terdapat sedikit keraguan dalam suaranya dan ia berharap baik Izuki maupun Takao tidak menyadari hal itu. Jemarinya meremat kaleng minuman kacang merah yang baru ingat tengah ia genggam sedari tadi, "Izuki-san membimbing dan mengajarkanku banyak hal, mulai dari tur keliling kantor sampai tugas-tugas yang mungkin akan aku lakukan nantinya, nodayo."

"Kawanmu itu sungguh hebat loh, Kazu." Izuki tertawa dari balik kemudi, mobilnya membelah jalanan malam yang masih ramai oleh lalu lalang kendaraan, "rupanya ia telah mengetahui beberapa informasi umum tentang tempat ia bekerja nantinya, karena... yah, tentu saja aku tidak bisa membiarkannya berkeliaran di kantor begitu saja, 'kan? Ia membuatku cukup kagum."

Midorima sadar jika kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum bangga, "terima kasih atas pujiannya, Izuki-san."

"Lalu, bagaimana pertemuan pertamamu dengan Seijuurou-sama tadi pagi?" Izuki bertanya lagi, dan Midorima yang sudah hampir mendekatkan kaleng minuman ke mulut mendadak membatalkan niatnya. Ia diam sejenak, ujung jemari bergerak mengetuk kaleng sementara batinnya menimbang-nimbang. Midorima belum menemukan jawaban ketika Izuki melanjutkan, "ia sungguhan orang baik, 'kan? Tidak perlu takut padanya, Seijuurou-sama bukan tipikal bos kejam yang sering kau lihat di drama-drama."

Mendengarnya, Midorima mendengus. Entahlah, ia merasa Izuki sedang membual, atau memang Seijuurou-sama yang tengah dibanggakannya itu sungguhan orang baik dan gemar menolong sesama. Dalam sudut pandang Midorima, Seijuurou-sama adalah orang mesum yang bersembunyi di balik topengnya yang elegan dan lemah lembut.

Kau tidak bercerita kalau bosmu itu orang cabul! Midorima jadi ingin mengatakannya keras-keras, namun sayang suaranya justru tertahan di tenggorokan.

"Omong-omong, Midorima. Seijuurou-sama sempat datang ke ruanganku sebelum kau kembali." Midorima mendongak ketika Izuki memanggilnya, dan pandangan mereka bertemu di spion tengah. Sambil menunggu, Midorima sesap kembali minumannya yang tadi sempat diabaikan, "kata Seijuurou-sama, ia ingin menjadikanmu sebagai asisten pribadinya selama periode magang—"

BRUUUUSH.

"Astaga, Midorima?!"

"Shin-chan?!"

Namanya kembali dipanggil, kali ini penuh penekanan karena Izuki dan Takao sama-sama memekik saat Midorima menyemburkan minuman dari mulutnya. Ia batuk keras, tersedak dan tenggorokannya terasa sakit sekali. Untung saja Izuki tidak mengerem mobilnya secara mendadak, atau mereka akan terlibat tragedi serius yang melibatkan Midorima kembali menjadi tersangka utama. Tidak mau! Ia hanya ingin hidup tenang dan perkataan Izuki barusan terdengar sebagai malapetaka baru baginya.

"Maaf, maaf. Aku tidak apa-apa, hanya tersedak. Akan aku bersihkan ini nantinya, Izuki-san punya tisu?" Midorima spontan mengoceh, berusaha menyembunyikan rasa paniknya. Takao sungguhan menoleh ke belakang untuk memastikan apakah ia baik-baik saja, dan Izuki memelankan laju mobilnya supaya bisa mengawasi Midorima kembali melalui spion tengah.

"Santai saja, aku memang berpikiran untuk mencuci mobil malam ini." Jelas Izuki, lalu menoleh ke arah Takao yang juga tengah menatapnya dengan raut kebingungan. Midorima masih diam di belakang mereka, tarikan napasnya terdengar berat dan... sedikit kacau? "Midorima, kau sungguhan tak apa?"

"Aku tidak apa-apa." Midorima menjawab cepat, kepalanya terasa sakit dan otot-otot di wajahnya mengencang, "Izuki-san, apa alasan Akashi-sama ingin menjadikanku asisten pribadinya? Bukankah ia juga punya wakil presdir?"

"Kalau untuk alasan yang itu, aku juga tidak tahu." Bahu Izuki mengedik, sedikit merasa janggal karena Akashi juga tidak menyampaikan alasan, "seingatku wakil presdir lebih sering bepergian dibanding dirinya. Baru kali ini ia ingin menarik anak magang sepertimu menjadi asisten pribadi, jadi kupikir kau mendapat perlakuan spesial?"

Ada hening yang mengudara di antara mereka sesaat sebelum Izuki kembali bicara, "Kazunari memberitahuku kalau kau yang menabrak mobil Shirogane-sama waktu itu."

Kali ini pandangan Midorima yang bertemu dengan sepasang iris legam Takao di spion tengah, dan ia bisa lihat jika kawannya itu tengah menyunggingkan cengiran tanpa dosa. Midorima jadi ingin meremas kaleng di tangan dan menuangkan isinya ke wajah Takao.

"Jadi dari situ, aku menarik kesimpulan kalau ia ingin mengawasimu secara pribadi." Lagi-lagi bahu Izuki mengedik, stir mobil dibanting ke kanan dan Midorima sadar kalau mereka sudah hampir dekat dengan rumahnya, "tapi jangan khawatir, aku tetap membantu mengawasimu meski kau akan lebih sering bersama Seijuurou-sama daripada aku selama sebulan nantinya."

Neraka, dan Midorima timpali ucapan itu dengan berteriak dalam hati. Hidupku akan berubah menjadi neraka!

"Baiklah, kita sampai." Izuki menghentikan laju mobilnya tepat di depan pagar rumah Midorima. Tubuhnya berputar ke belakang, pun dengan Takao yang juga memberikan atensi penuh padanya, "jangan lupa kau masih harus masuk besok, pukul sembilan pagi dan jangan coba-coba untuk datang terlambat, mengerti?"

Midorima tersenyum masam, lalu menaikkan posisi kacamatanya yang entah sejak kapan melorot dari hidung. Ia mengangguk, membenturkan kepalan tangan pada Izuki yang menunggunya untuk melakukan fist-bump lalu beralih pada kepalan Takao yang dari raut wajahnya tampak masih bertanya-tanya.

"Tentu saja, aku mengerti." Midorima memutuskan untuk tersenyum sekali lagi, sementara satu tangannya bergerak untuk membuka pintu mobil. Rasanya ia ingin segera menyatu dengan kasur dan berhibernasi sampai lima tahun ke depan, "terima kasih untuk tumpangannya, Izuki-san dan Takao. Hati-hati di jalan dan sampai bertemu besok pagi."

Izuki tergelak, lalu melambaikan tangan pada Midorima yang sudah beringsut turun dari mobilnya, "sampai bertemu besok pagi, Midorima!" dan pintu ditutup.

Ia tidak ingin bertemu Izuki atau siapa pun, termasuk Akashi Seijuurou besok pagi. Namun, Midorima sadar bahwa ia sudah terlanjur jatuh ke dalam lubang neraka dan tidak ada celah baginya untuk melarikan diri.

Mau tidak mau, suka tidak suka, Midorima mendapati dirinya menduduki salah satu kursi di dalam ruang kerja Akashi Corporation keesokan harinya. Ruangan ini khusus diperuntukkan kepada anak-anak magang yang sedang ingin beristirahat, dan Midorima cukup menghargainya karena mereka bisa menyantap makanan atau minuman ringan yang disediakan secara gratis. Melihat dari berbagai sisi, perusahaan ini memang yang terbaik. Tidak dengan bosnya yang—mungkin hanya menurut Midorima—menyebalkan.

"Selamat pagi! Anoo, apa kau Midorima Shintarou dari Shutoku?"

Suara yang barusan memanggil Midorima itu milik seorang perempuan berambut merah muda, yang sedang merangkul lengan lelaki berambut biru muda di sampingnya. Warna rambut mereka mengingatkan Midorima pada gula-gula permen kapas yang sering adiknya beli di pasar malam. Tampak manis, tapi juga menyilaukan. Midorima jadi menyipitkan mata ketika menyadari jika sepasang bola mata perempuan itu berbinar ketika pandangan mereka bertemu. Silau sekali.

"Benar, aku Midorima Shintarou dari Shutoku, nodayo." Midorima berdeham, sedikit gugup karena diajak berkenalan oleh orang asing yang sudah mengetahui namanya, "apakah ada yang... bisa aku bantu?"

"Tidak kok!" Perempuan itu tertawa, ia mengibaskan tangan yang tidak digunakan untuk merangkul si biru muda, "santai saja, kami mendengar desas-desus kalau ada anak magang baru dari kedokteran Shutoku. Namanya Midorima Shintarou, tubuhnya tinggi dan rambutnya hijau," Midorima mengernyit karena deskripsi itu sedikit terlalu detail untuk ukuran desas-desus tentang dirinya, "kami penasaran, karena setahu kami kedokteran Shutoku itu hebat sekali, dan kau orang pertama yang mengambil magang di sini. Omong-omong, perkenalkan. Aku Momoi Satsuki dari Universitas Touou, ia Kuroko Tetsuya dari Universitas Seirin, dan kami—"

"Dan kami tidak berpacaran." Si rambut biru muda yang sedari tadi hanya diam menyela dengan cepat, dan Midorima dibuat terkejut ketika perempuan yang mengaku bernama Momoi itu merajuk sambil mengatakan, 'Tetsu-kun hidoi!' Kuroko melempar senyum singkat pada Midorima, lalu mengulurkan tangan sebagai tanda untuk mari mulai saling mengenal satu sama lain, "aku Kuroko Tetsuya, manajemen Seirin. Salam kenal, Midorima-kun."

Midorima tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu membalas jabat tangan Kuroko tanpa bicara. Dua sejoli yang mengaku tidak berpacaran itu kemudian duduk di samping Midorima, terlalu kentara ingin mengajaknya berteman dengan melibatkan lelaki itu dalam obrolan (sebenarnya hanya Momoi yang ramai sejak tadi, karena Midorima yakin jika Kuroko adalah tipe observan yang lebih suka mengamati keadaan ketimbang menyumbang suara). Midorima menanggapi sekenanya, dengan senyum yang ia yakin terkesan dibuat-buat, namun Momoi terlalu baik untuk tidak terlihat sakit hati.

"Omong-omong, Midorin." —Midorin? Midorima mengernyit ketika tahu Momoi tujukan panggilan itu padanya, "kalau boleh tahu, kau magang di bagian apa? Tim kesehatan perusahaan, ya?"

Selain ramai, Momoi juga terlalu banyak ingin tahu. Namun, ia sama sekali tidak menyinggung boneka berang-berang menjadi lucky item Midorima hari ini, pun mengolok imbuhan aneh yang ia tambahkan di akhir kalimat seperti yang dilakukan segelintir orang padanya, termasuk Akashi. Jadi, menurut Midorima, tidak ada masalah untuk menjadi sedikit terbuka dengan Kuroko dan Momoi. Ya, hanya menjadi sedikit terbuka dengan dua kawan baru tidak akan menyakiti siapa pun, 'kan? Toh, setelah periode magang ini selesai, Midorima yakin mereka tidak akan bertemu lagi.

"Aku—" dan perkataannya berhenti di sana, baru ingat kalau memang aku punya posisi apa di sini? Otaknya berputar, mencari jawaban, tidak menemukan klu tentang di posisi dan divisi apa ia bekerja. Tidak ada jawaban selain perkataan Izuki yang terngiang di otaknya kalau 'Seijuurou-sama ingin menjadikanmu sebagai asisten pribadinya selama periode magang' dan 'kau akan lebih sering bersama Seijuurou-sama daripada aku selama sebulan nantinya.'

Tapi itu masih belum benar, 'kan? Siapa tahu Akashi masih akan mempertimbangkannya dan membuat Izuki tampak seperti seorang pembual, 'kan?

Midorima meluruskan pandangannya ke depan. Momoi dan bahkan Kuroko masih menatapnya dengan begitu lekat, seolah menunggu jawaban dan ia tak punya pilihan lain selain menghela napas dan mengikuti jejak Izuki sebagai seorang pembual, "aku akan menjadi asisten Akashi-sama—"

"—APA?" Momoi, dan bahkan Kuroko, berteriak begitu keras sebelum Midorima sempat menyelesaikan kalimatnya. Teriakan mereka memancing beberapa pasang mata dari anak magang yang juga berada di sana, tampak tertarik menyimak keributan itu karena apa yang baru saja si rambut hijau yang aneh itu katakan? Menjadi asisten Akashi-sama? Anak magang dari kedokteran Shutoku yang membawa boneka berang-berang itu menjadi asisten presiden direktur?

"Midorin, aku harap kau bercanda!" Kata Momoi, raut wajahnya terlihat dramatis dan Midorima geli karena ia merasa sedang berada di suatu adegan dalam opera sabun, "jadi kau akan ikut big boss dan ngantor secara terpisah dari kami? Di kantornya yang lain?"

"Big boss?" Kening Midorima berkerut, kebingungan. Siapa yang ia maksud sebagai big boss? Akashi? Kalau tidak salah, Akashi yang itu punya ayah, kan? Siapa namanya... Akashi Masaomi? "Kalau yang kau maksud Akashi Masaomi-sama, tidak, kau salah paham. Aku akan tetap di sini, bersama Seijuurou-sama, nodayo."

Ya Tuhan, Shintarou, rutuknya dalam hati. Yang barusan itu terdengar sangat gay.

"Oh!" Ada kelegaan yang terselip di suara Momoi setelahnya, begitu pula sorot mata Kuroko yang sudah tidak sehoror tadi, "itu lebih baik. Setidaknya kita masih bisa bertemu, iya 'kan, Tetsu-kun? Makan siang bersama saat jam istirahat dan menghabiskan waktu bertiga dengan jalan-jalan sepulang jam kerja terdengar menyenangkan, 'kan?"

Midorima tertegun, apa ia sudah dilibatkan menjadi bagian dalam lingkup pertemanan dua sejoli—yang mengaku bukan sepasang kekasih ini? Alih-alih berteman bertiga, rasanya ia justru dijadikan sebagai orang ketiga.

"Itu benar, Midorima-kun." Kuroko yang sejak tadi hanya diam mendengarkan kini bicara, sudut-sudut bibirnya terangkat untuk mengukir sebuah senyum tipis ketika pandangannya bertemu dengan Midorima, "karena kami hanya berdua, dan periode magang kami di sini masih tersisa tiga bulan lagi. Jadi kupikir, ada baiknya jika kita memang berteman."

Orang satu ini ternyata baik juga. Midorima tidak punya pilihan lain selain mengangguk dan membalas senyum tipis itu. Ada hening yang mengudara selama beberapa detik di antara mereka sebelum Momoi kembali membuka pembicaraan, "nee nee, Midorin. Menurutmu, Seijuurou-sama itu orangnya seperti apa?"

Midorima tak bisa menahan rahangnya untuk tidak terbuka. Dari sekian banyak hal yang bisa ditanyakan, mengapa Momoi justru menanyakan hal itu?

"Kupikir ia begitu tampan dan berkarisma, bukan begitu?" Alih-alih membiarkan Midorima buka suara, Momoi malah terkesan menjawab pertanyaannya sendiri, "Tetsu-kun juga tampan, tapi menurutku ia kurang berkarisma—"

"Kurasa itu terdengar jahat, Momoi-san."

"Diam dulu, Tetsu-kun! Aku sedang bicara pada Midorin! Jadi Midorin, menurutmu, apa benar Seijuurou-sama terlihat tampan dan berkarisma?"

Midorima masih diam, otaknya berputar untuk memikirkan jawaban yang tepat untuk diutarakan. Tampan? Memang. Berkarisma? Itu sudah pasti. Cabul? Ia rasa Momoi lupa mengatakannya.

Midorima sudah hampir membuka mulut ketika pintu ruangan terbuka. Seseorang yang mengenakan setelan formal khas kantoran berdiri di sana, sepasang bola matanya tampak menelusuri puluhan anak magang yang berkumpul di dalam ruangan sebelum akhirnya menyerah dan berkata, "apakah ada Midorima Shintarou dari kedokteran Shutoku di sini?"

Kali ini bukan hanya Kuroko dan Momoi yang menatapnya, karena Midorima yakin semua mata sedang tertuju padanya saat ini. Lelaki itu jadi merasa seperti sedang berada di pagelaran Mr. Universe atau apalah nama kontes untuk barisan pria matang yang ingin beradu ketampanan itu.

"Aku Midorima Shintarou dari Shutoku, nodayo." Midorima mengangkat satu tangannya dan bicara kepada orang tadi. Mata mereka bertemu, dan Midorima berharap orang itu salah mengira namanya sebagai orang lain.

Tapi tidak, karena orang itu justru menyunggingkan senyum. Senyum yang tampak lega ketika melanjutkan, "Seijuurou-sama memanggil dan menunggumu di ruangannya."

Midorima bersumpah kalau rasanya ia ingin terjun dari lantai tertinggi di gedung ini.

Terdengar suara kasak-kusuk dari anak magang lain yang berada di ruangan itu, sepertinya menduga-duga untuk apa Midorima dipanggil Seijuurou-sama? Sepagi ini pula. Kuroko dan Momoi hanya diam, menunggu, sementara Midorima tidak memiliki alasan—atau tidak boleh memiliki alasan—untuk menolak panggilan keramat itu.

"Baik, aku akan menemuinya sekarang."

Orang yang tidak dikenalnya itu mengangguk, lalu pergi dari sana setelah kembali menutup pintu. Momoi membenturkan sisi tubuh mereka dari samping setelah itu, tampak bersemangat menunggu Midorima menemui awal kehancurannya, "apa kau bersemangat, Midorin? Aku jadi iri! Aku juga mau bertemu Seijuurou-sama dan bicara hanya berdua dengannya!"

Ya, ya. Aku bersemangat, batin Midorima dalam hati. Bersemangat ingin mati.

"Tidak baik bagimu untuk menunda-nunda, bukan begitu?" Momoi mendorong bahu Midorima setelahnya. Alih-alih menyuruhnya bergegas, ia jadi merasa seperti sedang diusir, "kita bertemu lagi di sini saat jam pulang kantor, ya? Tetsu-kun bilang kalau ia akan menraktir es krim di minimarket dekat sini kalau kita pulang bersama nanti."

"Aku tidak ingat pernah mengatakannya, Momoi-san."

"Kubilang diam dulu, Tetsu-kun! Aku sedang berusaha membuat framing kita sebagai kawan yang baik bagi Midorin! Sudah lah, kita terlalu banyak bicara. Sampai jumpa, Midorin! Jangan lupa ceritakan pada kami tentang apa yang Seijuurou-sama perintahkan padamu nantinya."

'Apa yang Seijuurou-sama perintahkan' yang Momoi bilang tadi terdengar berat dan konyol di saat yang bersamaan. Konyol karena sudah hampir satu menit Midorima berdiri di depan meja Akashi, di ruangannya, dan lelaki itu belum mengucapkan sepatah kata pun sejak ia tiba di sini. Tampak terlalu sibuk berkutat dengan tumpukan berkas yang berhamburan di meja, dan Midorima jadi merasa sedikit prihatin.

Untuk apa prihatin dengan orang kaya? Gumamnya dalam hati. Lebih baik aku prihatin pada diri sendiri.

"Shintarou." Itu hal pertama yang Akashi katakan untuk memecah keheningan di antara mereka. Kepalanya menengadah, sepasang iris merah itu menatapnya tepat di mata. Midorima memutuskan untuk tetap diam sampai Akashi melanjutkan, "sepertinya aku tidak memiliki waktu untuk makan siang. Bisa kau turun ke kafetaria dan membelikanku sesuatu? Kau dapat kartu akses dari Izuki tadi, 'kan? Kau bisa menggunakannya untuk membeli makanan secara gratis dengan itu."

Tidak ada intonasi bernada minta tolong dalam kalimatnya, jadi ini yang Momoi maksud dengan perintahkan tadi. Midorima hanya mengangguk, tahu diri jika ia memang tidak memiliki alasan untuk menolak.

"Bagus. Aku sedang ingin sup tahu dengan karaage dan ebi." Akashi tersenyum singkat, terlalu singkat sampai Midorima tidak yakin kalau ia sungguhan tersenyum padanya, "tidak perlu terburu-buru, langsung naik ke sini setelah mendapatkannya. Kafetaria masih sepi karena belum memasuki jam makan siang, kau sudah tahu letaknya dari Izuki, 'kan?"

"Sudah, Akashi-sama." Midorima terpaksa menjawabnya dengan hormat. Telapak tangan Akashi bergerak menunjuk pintu, itu tangan yang menaikkan resleting celananya di pertemuan pertama mereka, tangan yang sempat meremas selangkangannya, tangan yang— "aku permisi, nodayo." Midorima sadar kalau suaranya sedikit tergagap, namun ia bergegas membungkukkan badan dan melangkah keluar dari sana. Ia harus cepat menghindar sebelum ingatan jahanam itu kembali menguasai pikirannya seperti mimpi buruk.

Midorima kembali dari kafetaria beberapa saat kemudian. Mangkuk sekali pakai berisi sup tahu beserta kondimen karaage dan ebi yang Akashi perintahkan sudah tersaji dengan manis di meja bosnya. Akashi menatap makanan itu dengan raut nihil ekspresi, tampak tidak tertarik, lalu mendongak dan menatap Midorima yang lagi-lagi berdiri seperti suruhan pribadi di hadapannya.

"Shintarou." Itu panggilan kedua yang Akashi tujukan padanya hari ini, "aku tidak suka rumput laut."

Kening Midorima berkerut dalam. Seingatnya, sup tahu itu memang mengandung rumput laut sebagai salah satu bahan pelengkap. Tapi Akashi tidak suka rumput laut, jadi Midorima akan mencatatnya secara mental.

"Lalu?" Lalu Midorima sadar ia menjadi lebih berani (dan kurang ajar) ketika bertanya.

"Tukar." Ujar Akashi, singkat. Terang-terangan menjauhkan mangkuk itu dari hadapannya dan Midorima bisa merasakan jika urat kepalanya berkedut, "tukar dengan sup tahu yang tidak memiliki rumput laut di dalamnya."

Orang ini...

Midorima mengatupkan bibir rapat-rapat, merasa dipermainkan. Akashi bahkan tidak menatapnya, namun Midorima juga sadar kalau ia sedang tidak ingin ditatap oleh sepasang iris merah yang menawan itu. Ia masih diam, berusaha memproses ucapan Akashi sampai suara itu kembali menyebut namanya untuk yang ketiga kali hari ini, "Shintarou, kau dengar aku?"

Orang ini ternyata banyak mau dan merepotkan.

"Ya, Akashi-sama." Meski begitu, Midorima tetap membungkuk walau suara hatinya menjerit ingin pulang, "aku akan kembali beberapa saat lagi, nodayo."

Kafetaria yang ia jejaki menjadi sedikit lebih ramai dibandingkan yang tadi. Sudah hampir memasuki jam makan siang, dan Akashi memang benar kalau ia harus datang lebih awal jika tidak ingin terjebak bersama ratusan orang yang berjubel kelaparan. Ia berdiri untuk memelototi bibi penjual yang membuatkannya sup tahu pesanan Akashi, memastikan kalau tidak ada sehelai pun rumput laut yang masuk ke dalam sup, dan sebuah tepukan secara mengejutkan mendarat di bahunya.

"Midorima-kun." Midorima menoleh, ia kenal suara ini, "syukurlah aku tidak salah orang. Apa kabar?"

"Shirogane-sama." Midorima berucap tidak percaya, lalu membungkuk pada Shirogane yang kembali menepuk bahunya, "kabar baik," bohong, "senang bertemu lagi denganmu, nodayo." Bohong juga.

"Ayolah, tidak perlu terlalu formal begitu. Posisiku mengatakan kalau aku tak perlu dihormati di sini." Kata Shirogane, terdengar merendah diri, "lalu, apa yang kau lakukan di sini? Magang, ya?"

"Ya, untuk mengisi waktu luang." Bohong lagi. Rasanya tidak mungkin Midorima mengatakan kalau ia mau bersusah payah untuk magang di tengah kesibukan kuliahnya untuk mengganti rugi mobil dinas Shirogane waktu itu. Mau ditaruh di mana mukanya? Bibi penjual menyerahkan mangkuk berisi sup tahu kepada Midorima yang tidak luput dari mata tajam Shirogane, "Midorima-kun suka sup tahu, ya?"

"Suka." Midorima sadar kalau ia menjawab pertanyaan itu tanpa berpikir panjang, "tapi ini pesanan Akashi Seijuurou-sama untuk makan siang. Aku sudah membelikannya tadi, tapi rupanya ia tidak suka rumput laut. Jadi aku turun lagi untuk membelikannya yang baru, nodayo." Ia merasa jadi oversharing ketika selesai bicara, namun sorot mata Shirogane yang seketika berubah seolah menyatakan kalau Midorima seratus persen sedang meracau.

"Midorima-kun?" Panggil Shirogane, hati-hati, "Seijuurou-sama sudah disiapkan katering oleh kantor untuk makan siang setiap harinya."

Huh.

Apa katanya tadi?

Kali ini Midorima yang menatap Shirogane, seolah menuduh 'kau-ini-yang-sedang-meracau-ya-tua?' dengan matanya.

"Tapi mungkin Seijuurou-sama sedang bosan dengan makanan katering." Shirogane tertawa canggung. Terlalu canggung, dan Midorima tahu kalau ia tidak sedang meracau, "terkadang ia terlalu sulit ditebak, bukan begitu? Omong-omong, aku permisi dulu sebelum jam makan siang habis. Kau juga belilah makan siang untukmu, masakan di sini cukup terkenal dengan kenikmatannya untuk ukuran kafetaria sebuah kantor. Sampai jumpa, Midorima-kun."

Satu tepukan terakhir yang Shirogane berikan di bahu Midorima dan pria itu sungguhan pamit undur diri. Meninggalkan Midorima yang masih bergeming di tempatnya, mencoba memproses segala informasi yang Shirogane berikan kalau (1) Seijuurou-sama itu sudah disiapkan katering oleh kantor setiap hari namun bisa jadi hari ini ia sedang bosan memakannya, atau (2) fakta kalau Seijuurou-sama itu orangnya terlalu sulit ditebak. Ia menunduk, menatap mangkuk berisi sup tahu tanpa rumput laut yang masih mengepulkan uap panas di tangannya. Midorima jadi ingin mencelupkan muka ke dalam kuah itu.

Ia. Sungguhan. Dipermainkan!

Beruntung Midorima tidak jadi melancarkan aksi bunuh diri dengan mencelupkan mukanya ke dalam kuah. Sebagai gantinya, ia kembali menghadap Akashi di ruangannya beberapa saat kemudian. Sup tahu tanpa rumput laut itu tersaji di meja Akashi, yang kini tampak puas sampai rela menyingkirkan berkas yang menghalangi mejanya. Tidak ada ucapan terima kasih, dan Midorima bersyukur karena ia tidak ingin Akashi memaksakan diri untuk bersikap baik. Sepertinya benih-benih dendam mulai tertanam di dalam hatinya.

"Bagus." Meski begitu, Akashi tetap memberinya pujian, "Shintarou, kau boleh duduk dan temani aku makan siang."

Sepasang alis Midorima spontan menyatu, "maaf?"

"Kau boleh makan yang ini." Alih-alih menjawab, Akashi justru menggeser mangkuk berisi rumput laut ke arah Midorima yang masih berdiri di depan mejanya, "lalu duduk dan temani aku makan. Aku memiliki beberapa hal untuk dibicarakan denganmu."

Beberapa hal, dan Midorima tahu dengan jelas jika kebebasan berbicaranya dicabut sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini. Jadi, ia menarik kursi di depan Akashi dan mendudukinya, lalu menerima semangkuk sup tahu dengan rumput laut yang disodorkan bosnya itu tanpa melupakan ucapan terima kasih. Akashi tidak menjawab, dan mulai fokus berkutat dengan makanannya. Sepertinya ia memang lapar.

"Begini, Shintarou." Midorima mendongak ketika namanya dipanggil, menatap Akashi yang sedang mengunyah potongan tahu di dalam mulutnya, "kau pasti sudah tahu dari Izuki kalau aku ingin menjadikanmu asisten pribadiku, 'kan?" Kepala berambut hijau mengangguk mengiyakan, "sebetulnya aku punya penawaran spesial. Aku akan menganggap hutangmu terhadap mobil dinas Shirogane lunas jika kau sungguhan menjadi asisten pribadiku, tidak perlu membayar begitu kau mendapat gaji. Dengan begitu, saat periode magangmu sudah selesai nanti, kau bisa menyimpan uang itu untuk dirimu sendiri. Bagaimana?"

Terlalu panjang, tapi Midorima bisa menangkap dengan jelas apa maksud yang ingin Akashi sampaikan. Menyimpan uang hasil gaji dari magang untuk dirinya sendiri. Tidak perlu membayar hutang. Semua itu hanya dengan menjadi asisten pribadi Akashi.

"Tanpa syarat lain?" Midorima bertanya, memastikan. Akashi hanya mengangguk, "tanpa syarat lain."

Menarik.

Akashi menatapnya, dan bola mata Midorima dengan cepat bergulir ke sisi. Sendok yang semula ia pegang kembali diletakkan di dalam mangkuk.

"Baik, aku akan menerima tawaran itu, nodayo." Midorima berujar, terlalu mantap, terlalu percaya diri, terlalu cepat lupa kalau ia sedang berada di neraka yang digenggam oleh tangan Akashi, "terima kasih, Akashi-sama."

Tapi ia hanya seorang mahasiswa yang menjalani hidup dengan pas-pasan. Diiming-imingi kekayaan dan segepok uang dalam sekejap, bagaimana ia tidak tergiur?

"Cukup panggil aku Seijuurou-sama seperti yang lain, aku merasa jika kau juga memanggil ayahku jika menyebut Akashi." Midorima bisa lihat jika sudut-sudut bibir Akashi terangkat untuk mengukir sebuah senyuman, "senang bisa bernegosiasi denganmu. Pekerjaanmu menjadi asisten pribadiku akan dimulai besok pagi."

Tapi, ia tidak tahu mengapa senyum yang Akashi berikan justru membuat keringat dingin membasahi telapak tangannya.

.


— (1/2).

To be continued...

kalau rame lanjut part 2 (BERCANDA YAAA)

anyways, "welcome back midoakas!" we all say in unison. efek kangen BUANGET sama midoaka dan kangen buanget nulis fic soalnya udah lama gak nulis, terbitlah fic yang kepanjangan ini... jadi terpaksa dibagi jadi dua cour aja karena aku... perlu... mempersiapkan mental *lebay*. omong-omong, gimana kabar ffn dan fandom yang udah meninggoy ini? (nangis dikit) semoga fic ini bisa mengobati kerinduan terhadap midoaka, ya! i love and miss you all so much!!! [emot hati] [emot hati]