Chapter 89
Alarm berbunyi nyaring, mengusik keheningan pagi di dalam kamar yang masih gelap. Elfy, seorang manusia dengan rambut cokelat gelap yang dipotong pendek, mengerang kesal dari atas ranjang bertingkat. Ia menggeliat, mencoba menutupi telinganya dengan bantal, namun suara alarm itu terlalu mengganggu untuk diabaikan. Dengan setengah membuka matanya, ia memanggil nama teman sekamarnya dengan nada lesu.
"Lefiya! Lefiya, matikan alarmmu!" serunya, suaranya terdengar serak karena baru bangun.
Namun, panggilannya tidak langsung direspons. Lefiya, yang masih terlelap di ranjang bawah, hanya menggumam tidak jelas dalam tidurnya. Elfy menatap ke bawah dengan ekspresi campuran antara kesal dan putus asa. "Kenapa kau pasang alarm sepagi ini? Bahkan matahari belum terbit!" keluhnya, sambil menjulurkan kepalanya dari sisi tempat tidur untuk memastikan Lefiya mendengarnya.
Akhirnya, Lefiya mulai bergerak, mengusap matanya yang masih terasa berat. Dengan malas, ia meraih alarm yang terus berbunyi dari meja kecil di samping tempat tidurnya, lalu mematikannya. "Maaf, maaf, Elfy," katanya dengan suara pelan, suaranya masih terdengar mengantuk.
Elfy hanya mendengus sebelum kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal, mencoba melanjutkan tidurnya yang terganggu. Sementara itu, Lefiya menguap panjang, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia bangkit dari tempat tidur, tubuhnya terasa berat karena masih terlalu pagi. Namun, niatnya sudah bulat untuk memulai hari lebih awal.
Setelah meregangkan tubuh sebentar, Lefiya mulai melepas pakaiannya, mengganti piyamanya dengan handuk yang disampirkan di bahunya. Dengan langkah ringan namun masih setengah tertidur, ia berjalan menuju kamar mandi. Begitu pintu kamar mandi tertutup, suara air mulai mengalir, mengisi keheningan yang kembali menyelimuti ruangan.
Sambil mandi, Lefiya mulai bersenandung kecil, nadanya ceria meski suaranya masih pelan. Ia merasa semangat membayangkan apa yang akan terjadi hari ini. "Hari ini aku akan menemani Shirou lagi...," gumamnya di sela-sela lagunya, senyum tipis menghiasi wajahnya. Dalam pikirannya, ia memutar bayangan Shirou yang fokus menempa, wajah seriusnya, dan percakapan hangat mereka.
Harinya baru dimulai, namun Lefiya sudah merasakan antusiasme memenuhi hatinya. Meskipun masih gelap di luar, Lefiya tahu bahwa ini akan menjadi hari yang menyenangkan.
Sambil menggosok tubuhnya dengan air hangat, Lefiya terus bersenandung riang, senyumnya tak henti-henti menghiasi wajahnya. Ia teringat percakapan semalam dengan Shirou. Mereka berdua tengah berbincang santai di ruang tamu ketika Shirou mengungkapkan kebiasaannya bangun sebelum subuh.
"Aku biasanya memanfaatkan waktu subuh untuk mengajar Magecraft untuk Riveria," kata Shirou sambil menyesap teh hangat. "Tapi karena Riveria sedang menginap di rumah temannya selama beberapa hari, aku tetap bangun pagi untuk menjaga ritme. Tidak baik mengubah kebiasaan baik hanya karena ada perubahan kecil."
Mendengar hal itu, Lefiya tanpa ragu menawarkan dirinya. "Kalau begitu, bagaimana kalau aku menemanimu ke forge lebih awal? Kita bisa memulai lebih cepat!" katanya penuh semangat.
Shirou sempat terkejut, tetapi senyumnya kemudian menghiasi wajahnya. "Kalau kamu tidak keberatan bangun sepagi itu, tentu saja. Aku tidak keberatan ditemani," jawabnya.
Mengingat percakapan itu, Lefiya tak bisa menahan rasa senangnya. Hatinya terasa melambung. "Aku pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini," gumamnya sambil menutup keran air dan meraih handuk.
Setelah mengeringkan tubuhnya, Lefiya berdiri di depan cermin kecil yang terpasang di kamar mandi. Ia mengenakan kaos sederhana dengan gaya khas Elf, yang memberikan kesan anggun namun tetap nyaman. Rambut cokelat terang miliknya ia tata dengan gaya high ponytail, seperti kebiasaannya sehari-hari.
Sebelum keluar, ia memoleskan sedikit makeup tipis, sekadar untuk membuat wajahnya terlihat segar. "Harus terlihat cantik untuk Shirou," pikirnya dalam hati sambil tersenyum malu pada bayangannya sendiri di cermin. Setelah memastikan penampilannya sempurna, Lefiya berjalan keluar dari kamar mandi.
Turun ke lantai satu, ia langsung menuju dapur. Shirou sudah ada di sana, mengenakan celemek dan tengah memotong roti untuk sarapan anggota Loki Familia. Lefiya tersenyum lebar melihatnya. "Shirou, aku sudah selesai mandi. Apa yang bisa kubantu?" tanyanya ceria, siap membantu tugas dapur mereka seperti biasa.
Shirou menoleh, sedikit terkejut melihat Lefiya yang sudah rapi dan segar. "Oh, pagi, Lefiya. Kau terlihat... bersemangat hari ini," ujarnya dengan nada hangat.
"Karena kita akan ke forge lebih awal hari ini, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu," balas Lefiya sambil mengambil pisau untuk memotong buah. Dalam hatinya, ia senang melihat perhatian Shirou meski hanya dari komentar kecil.
Dengan suasana dapur yang hangat dan penuh semangat, mereka berdua mulai menyiapkan sarapan bagi anggota Loki Familia, menjadikan awal pagi mereka lebih bermakna.
Pagi yang masih sunyi menyelimuti Manor Loki Familia, hanya suara pisau yang memotong bahan makanan dan panci yang berdenting di dapur yang terdengar. Shirou dan Lefiya tampak sibuk bekerja sama, mempersiapkan sarapan untuk anggota Familia mereka.
"Lefiya, adakah yang ingin kau tambahkan untuk menu hari ini?" tanya Shirou sambil mengaduk panci berisi sup hangat.
Lefiya yang sedang mengiris buah-buahan menggeleng kecil. "Sepertinya sudah cukup. Dengan roti, sup, steak dan buah, aku yakin semua akan puas," jawabnya sambil tersenyum.
Setelah semua hidangan selesai disiapkan, Lefiya meraih selembar kertas dan pena untuk menuliskan pesan. "Aku pikir, kita harus meninggalkan catatan untuk meminta tolong pada seseorang agar menghangatkan sarapan ini dan membersihkan dapur setelahnya," katanya sambil mulai menulis. Namun, ia terdiam sejenak, tampak kebingungan.
Melihat Lefiya termenung, Shirou bertanya, "Ada apa? Kenapa berhenti menulis?"
Lefiya mendesah kecil. "Aku bingung siapa yang harus kutuju. Rasanya tidak enak meminta tolong pada siapa pun di pagi hari seperti ini."
Shirou mengangkat bahu sambil melipat celemeknya. "Kenapa tidak minta tolong pada teman sekamarmu, Elfy? Bukankah dia biasanya membantumu?"
Lefiya langsung menggeleng cepat. "Aku sudah mengganggunya tadi saat alarmku berbunyi. Dia pasti akan kesal kalau aku memintanya lagi." Wajahnya menunjukkan rasa bersalah.
Setelah berpikir sejenak, Lefiya tersenyum lebar. "Aku tahu! Aku bisa minta tolong pada Alicia, Melina, atau yang lain di Fairy Force. Mereka pasti tidak keberatan." Dengan semangat, Lefiya menyelesaikan tulisannya, memastikan setiap kata tersusun rapi dan sopan.
"Baiklah, pesan ini kutinggalkan di tengah meja makan agar mereka bisa langsung melihatnya," katanya sambil menaruh kertas itu di tempat yang strategis.
"Baiklah, selesai. Ayo, Shirou, kita pergi ke forge sekarang," ajak Lefiya dengan semangat, menarik lengan Shirou untuk segera beranjak.
Namun, Shirou menghentikan langkahnya sejenak, wajahnya terlihat berpikir. "Tunggu sebentar. Aku rasa kita harus menyiapkan bekal makan siang dulu. Selain itu, lebih baik kita sarapan sekarang daripada nanti bolak-balik ke sini," ujarnya dengan nada bijak.
Lefiya mengangguk pelan, setuju dengan saran Shirou. "Kau benar. Kalau begitu, mari kita makan dulu," katanya sambil mengambil dua piring dan mengisinya dengan makanan yang telah mereka siapkan.
Mereka duduk bersebelahan di meja makan, menikmati sarapan hangat yang mereka masak sendiri. Suasana pagi itu terasa damai, dipenuhi percakapan ringan dan tawa kecil, sebelum mereka melanjutkan hari yang panjang di forge.
Setelah selesai menikmati sarapan, Shirou dan Lefiya segera beranjak mempersiapkan bekal makan siang mereka. Lefiya dengan cekatan mulai mengemas beberapa roti dan buah-buahan ke dalam kotak bekal, sementara Shirou berdiri di sudut dapur, tampak sibuk dengan sesuatu yang lain.
"Apa yang sedang kau lakukan, Shirou?" tanya Lefiya dengan nada penasaran, melirik ke arah tangannya yang mulai memproyeksikan sebuah benda berbentuk silinder.
Shirou tersenyum tipis sambil menunjukkan hasil projeksi itu kepada Lefiya. "Ini termos. Alat ini berguna untuk menjaga suhu air tetap dingin atau panas," jelasnya singkat. Ia kemudian membawa termos itu ke dekat keran dan mulai mengisi air.
Lefiya meletakkan roti terakhir ke dalam kotak bekalnya, lalu mendekat untuk melihat lebih jelas. "Aku belum pernah melihat benda seperti itu sebelumnya. Jadi airnya tetap dingin meskipun lama?" tanyanya penuh rasa ingin tahu sebelum lanjut ke pekerjaan lain.
"Ya, tapi aku punya trik tambahan," kata Shirou sambil mengambil napas sejenak. Dengan tangan yang terampil, ia memproyeksikan sebuah magic sword kecil dengan elemen es. Pedang itu hanya sebesar telapak tangannya, cukup untuk masuk ke dalam termos.
Lefiya yang sedang memeras jeruk di dekatnya menghentikan aktivitasnya sejenak untuk memperhatikan. Matanya berbinar kagum saat melihat pedang es itu mulai membekukan air di dalam termos. "Kau bahkan bisa menggunakan magecraft seperti ini untuk hal-hal sehari-hari, Shirou. Luar biasa sekali," ujarnya, terdengar tulus.
"Ini hanya memanfaatkan apa yang bisa kulakukan," jawab Shirou dengan rendah hati. Setelah air di dalam termos membeku, ia menyerap kembali pedang es itu menjadi prana. Kemudian, ia melirik Lefiya yang masih memegang mangkuk kecil berisi perasan jeruk. "Bisakah aku minta air jeruk itu sekarang?"
"Oh, tentu!" Lefiya langsung menuangkan air jeruk itu ke dalam termos dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang tumpah. Setelah selesai, ia tersenyum lebar. "Jadi nanti kita akan minum jeruk peras dingin saat di forge, kan? Pasti segar sekali!"
Shirou mengangguk sambil menutup termos itu rapat-rapat. "Itu rencananya. Kita harus tetap terhidrasi sepanjang hari," katanya sembari memasukkan termos dan kotak bekal mereka ke dalam sebuah tas kecil yang ia siapkan.
Lefiya mengangguk puas, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Aku suka rencanamu, Shirou. Dengan ini, kita siap untuk menempa seharian!" katanya penuh semangat.
Shirou tersenyum kecil melihat antusiasme Lefiya. "Ayo kita berangkat sebelum waktu kita habis hanya untuk memuji jeruk peras dingin ini," candanya, membuat Lefiya tertawa kecil sebelum mereka melangkah keluar dapur bersama.
Saat matahari baru saja memunculkan sinarnya dari balik cakrawala, Shirou dan Lefiya berjalan beriringan menuju forge yang terletak di belakang Manor Loki Familia. Lefiya, dengan semangat pagi yang tampak tak terbendung, sesekali melompat kecil di samping Shirou, membuat langkah mereka terasa lebih ringan.
"Pagi ini terasa indah sekali, ya, Shirou! Aku merasa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan," ucap Lefiya sambil tersenyum lebar, memandang Shirou yang tampak tenang di sisinya.
Shirou hanya mengangguk, mengamati kegembiraan Lefiya yang seakan menular. "Semoga saja begitu," jawabnya singkat, meskipun sudut bibirnya sedikit terangkat melihat keceriaan Lefiya.
Sesampainya di forge, Shirou membuka pintu kayu tebal itu, membiarkan Lefiya masuk lebih dulu sebelum mengikutinya. Begitu berada di dalam, ia segera meletakkan tas kecil yang ia bawa ke atas meja di sudut ruangan. Forge itu masih sunyi, dengan tungku yang belum dinyalakan dan peralatan yang tertata rapi di tempatnya.
Lefiya yang sejak tadi mengamati Shirou, akhirnya angkat bicara. "Jadi, Shirou, apa kau sudah punya rencana mau menempa apa hari ini?" tanyanya sambil memiringkan kepala, ekspresi penasaran terlihat jelas di wajahnya.
Shirou menghela napas pelan, menyandarkan tangannya ke meja. "Sejujurnya, aku masih berpikir. Ada terlalu banyak ide di kepalaku," jawabnya jujur, meski nada suaranya terdengar sedikit ragu.
Dalam hatinya, Shirou bergelut dengan pilihan yang membanjiri pikirannya. Berbeda dengan kebanyakan orang yang baru belajar menempa dan sering kali kebingungan karena kurangnya pengetahuan, ia justru menghadapi dilema yang sebaliknya. Dengan Unlimited Blade Works, ia memiliki akses ke begitu banyak blueprint senjata dan perlengkapan dari berbagai belah dunia. Masalahnya bukan kekurangan ide, melainkan terlalu banyaknya pilihan sehingga sulit menentukan mana yang harus ia buat.
Lefiya yang tidak menyadari pergulatan pikiran Shirou, memiringkan kepala lagi dan menatapnya. "Hmm, kalau begitu… kau akan ganti baju dulu, kan? Kalau iya, aku akan keluar dulu," katanya sambil berpura-pura cuek, meskipun dalam hatinya ada keinginan kecil untuk mengintip otot Shirou seperti sebelumnya.
Shirou tersenyum kecil mendengar ucapan Lefiya yang tampaknya masih terpengaruh kejadian sebelumnya. "Tidak, kali ini pakaian yang kupakai adalah hasil projeksi, jadi tidak masalah jika rusak. Aku tidak akan membuatmu merasa tidak nyaman," jelasnya dengan nada tenang.
"Oh…" Lefiya tampak lega, tapi ada sedikit rona merah di pipinya yang ia coba sembunyikan dengan berpaling cepat. "Baiklah, kalau begitu. Aku akan membantu apa saja yang kau butuhkan," katanya dengan semangat, mencoba mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri.
"Terima kasih, Lefiya," jawab Shirou sambil mulai mempersiapkan peralatan di meja. Dengan Lefiya di sisinya, ia merasa sedikit lebih yakin bahwa hari ini akan menghasilkan sesuatu yang berharga.
Shirou menatap meja tempat ia meletakkan peralatan menempa, matanya menyapu perlahan berbagai alat yang tertata rapi di sana. Meski semua sudah siap, ia masih tampak ragu untuk memulai. Dengan helaan napas kecil, ia akhirnya menoleh ke Lefiya. "Lefiya, aku butuh saranmu. Setelah berhasil menempa busur kemarin, rencanaku adalah secara bertahap mencoba menempa senjata yang lebih kuat. Tapi sekarang aku bingung harus memulai dari mana."
Lefiya mengangguk, mendukung rencana Shirou tanpa ragu. "Itu rencana yang bagus. Dengan pengalaman lebih banyak, kau pasti akan semakin terampil." Namun, mendadak ia teringat sesuatu—perkataannya sendiri kemarin tentang keyakinannya bahwa Shirou akan menciptakan sesuatu yang unik. Sebuah ide muncul di benaknya. Dengan senyuman kecil, ia menatap Shirou. "Bagaimana kalau… kau mencoba menempa senjata dari dunia aslimu?"
Shirou mengerutkan kening, tampak sedikit terkejut. "Dunia asalku?" gumamnya, seakan baru terpikir tentang hal itu.
"Iya!" jawab Lefiya dengan penuh antusias. "Duniamu lebih maju dalam hal teknologi, kan? Aku penasaran, senjata seperti apa yang biasa digunakan orang-orang di sana. Bukankah itu akan menarik untuk dicoba?"
Shirou menggaruk kepalanya, tampak bingung sekaligus ragu. "Huh… Ini bisa jadi ide yang menarik, tapi juga mungkin membawa masalah besar."
Lefiya memiringkan kepalanya, menatap Shirou dengan ekspresi penuh penasaran. "Masalah besar? Apa maksudmu, Shirou?"
Shirou menghela napas, tampak bimbang sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Kalau begitu, ikut aku sebentar. Aku akan menunjukkan sesuatu," katanya singkat sambil melangkah keluar dari forge, mengisyaratkan Lefiya untuk mengikutinya.
Tanpa ragu, Lefiya segera mengekor di belakang Shirou, rasa ingin tahunya semakin besar. "Apa yang ingin kau tunjukkan, Shirou?" tanyanya sambil mempercepat langkahnya agar sejajar dengannya.
Shirou hanya tersenyum samar, tidak langsung menjawab. "Kau akan segera tahu. Tapi, kuharap kau tidak terkejut," katanya sambil memimpin jalan mereka menuju tempat yang akan membuat Lefiya semakin terkejut dengan dunia yang tidak ia kenal.
Shirou dan Lefiya melangkah menuju sebuah lapangan rumput kecil di depan forge. Di tengah lapangan itu, berdiri sebuah pohon besar yang kokoh, daunnya yang lebat bergoyang perlahan tertiup angin pagi. Lefiya melirik Shirou, penasaran apa yang ingin ditunjukkan oleh pemuda itu.
"Baiklah, perhatikan ini," ujar Shirou seraya mengangkat tangannya dan menggumamkan sesuatu dengan nada rendah. "Trace on."
Di depan mata Lefiya, sebuah benda berbentuk aneh muncul di tangan Shirou, berkilauan sesaat sebelum berbentuk solid. Itu adalah sesuatu yang Lefiya belum pernah lihat sebelumnya—hitam dan putih, berbentuk ramping namun terlihat berat. Shirou memandangi benda itu sejenak, mata coklatnya menyipit.
Pistol itu bukan sekadar senjata biasa. Sebuah Desert Eagle. Bentuknya yang ia projeksi berasal dari blueprint yang tertanam dalam Unlimited Blade Works milik Archer—salah satu kenangan dari kehidupannya dahulu. Kini, dengan kekuatan yang diwariskan padanya, Shirou bisa membuat ulang senjata itu nyaris sempurna.
Lefiya melangkah mendekat, matanya membulat penuh rasa ingin tahu. "Shirou… benda apa itu?" tanyanya, telinga elf-nya bergerak sedikit, tanda ia benar-benar tertarik.
Shirou mengangkat senjata itu sedikit, memperlihatkannya kepada Lefiya. "Ini adalah senjata dari dunia asalku. Kami menyebutnya pistol," jelasnya, sebelum mengambil posisi menembak dengan satu tangan. "Tapi ini bukan senjata biasa. Aku akan menunjukkan bagaimana cara kerjanya."
Sebelum Lefiya sempat bertanya lebih lanjut, Shirou mengarahkan pistolnya ke arah pohon besar di depan mereka. Ia menekan pelatuknya.
"Bang! Bang! Bang!"
Suara keras bergema di seluruh lapangan, begitu mengejutkan hingga burung-burung yang bertengger di pohon itu beterbangan dengan panik. Tiga tembakan itu meluncur sempurna, melubangi batang pohon dengan lubang kecil namun dalam.
Shirou menurunkan pistolnya, matanya menyapu hasil tembakannya. Tangannya tetap stabil, tidak sedikit pun bergetar meski ia hanya menggunakan satu tangan. Ini berbeda dari Archer di masa lalunya saat dia masih hidup, pikir Shirou. Saat itu, ia harus memperkuat tubuhnya dengan Reinforcement untuk bisa menembakkan Desert Eagle ini tanpa goyah. Tapi aku… berkat Falna, tubuhku jauh lebih kuat daripada dia.
Dengan rasa puas, ia menoleh ke arah Lefiya, ingin mendengar pendapat gadis itu. Namun, ia terkejut mendapati Lefiya tampak pucat, kedua tangan mungilnya menutup telinga erat-erat.
"Lefiya!" panggil Shirou dengan nada khawatir, memudarkan pistolnya kembali menjadi prana. "Apa kau baik-baik saja?"
Lefiya membuka matanya perlahan, telinganya masih terasa berdengung. "Apa… apa itu selalu sekeras itu?!" tanyanya dengan nada gemetar, menatap Shirou dengan wajah bingung sekaligus cemas.
"Ah… maaf, aku lupa kalau suaranya mungkin mengejutkanmu," ujar Shirou, menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. "Ini memang senjata yang sangat keras. Aku seharusnya memperingatkanmu dulu."
Lefiya hanya bisa mengangguk pelan, masih memproses apa yang baru saja terjadi. "Senjata duniamu... benar-benar menakutkan," gumamnya lirih.
Lefiya masih merasa telinganya berdengung, tetapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Ia mengucek matanya pelan, lalu berjalan mendekati pohon besar yang tadi ditembak Shirou. Di sana, ia melihat bekas-bekas lubang menganga di batang pohon, serta sebuah benda kecil dari logam yang tergeletak di dekatnya. Ia membungkuk, memungut benda itu dengan jemarinya yang ramping.
"Ini..." Lefiya menatap logam dingin di tangannya dengan mata membulat. Suaranya sedikit bergetar ketika ia bertanya, "Benda kecil ini yang tadi membolongi pohon sebesar ini?"
Shirou mengangguk, tersenyum tipis. "Ya, itu peluru. Ketika aku menarik pelatuk pistol, peluru ini meluncur keluar dengan kecepatan tinggi dan kekuatan besar. Itu sebabnya bisa menembus pohon seperti tadi," jelasnya, mencoba memberikan penjelasan singkat yang mudah dipahami.
Lefiya menelan ludah, masih terkejut dengan kenyataan bahwa benda sekecil itu mampu membuat kehancuran sebesar ini. Wajahnya tampak tegang, tetapi matanya tetap terpaku pada peluru di tangannya. "Senjata ini… sangat mengerikan," gumamnya lirih.
Shirou tersenyum kecil. "Mungkin mengerikan, tapi kalau digunakan dengan benar, senjata seperti ini bisa menjadi alat yang sangat berguna. Bagaimana kalau aku mengajarkanmu cara menggunakannya?" tanyanya sambil memprojeksikan kembali pistol itu dari prana-nya.
"Eh? Tidak, tidak! Aku tidak mau menyentuh benda semengerikan itu!" Lefiya langsung menggeleng dengan cepat, wajahnya memerah. Namun, sebuah ide nakal tiba-tiba muncul di kepalanya, membuat wajahnya semakin merah. Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berkata pelan, "Tapi… kalau kau yang memegang tanganku untuk menembak, mungkin… aku mau mencoba."
Shirou menaikkan alis, jelas tidak menyangka jawaban itu. "Benarkah? Kalau begitu, ayo kita coba," katanya sambil tersenyum kecil, membawa Desert Eagle itu dan menyerahkannya pada Lefiya.
Lefiya mengambil pistol itu dengan hati-hati, merasa sedikit canggung. "Senjata ini… berat sekali," komentarnya sambil mencoba mengangkatnya dengan kedua tangan.
"Memang. Itu sebabnya kau harus memegangnya dengan benar," jawab Shirou. Ia berjalan ke belakang Lefiya, lalu dengan lembut memegang kedua tangannya yang sedang menggenggam pistol. "Oke, sekarang ikuti arahanku."
Lefiya merasakan kehangatan dari tangan Shirou yang menyentuh tangannya. Jantungnya berdegup lebih cepat, tetapi ia berusaha tetap fokus. Dalam hatinya, ia merasa sangat bahagia bisa sedekat ini dengan Shirou.
"Sekarang, posisikan tanganmu seperti ini," Shirou membimbingnya dengan sabar, memastikan pegangan Lefiya stabil. Setelah posisi Lefiya sudah pas, ia berkata, "Tunggu sebentar."
Shirou memprojeksi sepasang ear muff untuk Lefiya, lalu memasangkannya dengan hati-hati di atas telinganya. Pemasangan itu sedikit sulit karena bentuk telinga Elf yang berbeda, tetapi Shirou melakukannya dengan lembut, memastikan Lefiya merasa nyaman.
"Baik, sekarang sudah aman. Kita mulai," ucap Shirou, kembali ke posisinya di belakang Lefiya. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Lefiya, membantu mengarahkan pistol ke pohon. "Aku akan membantumu menekan pelatuk. Jangan takut."
Lefiya mengangguk pelan, lalu bersama-sama mereka menarik pelatuknya.
"Bang!"
Suara keras terdengar lagi, tetapi kali ini tidak begitu mengganggu karena Lefiya sudah memakai ear muff. Tembakan itu mengenai pohon tepat di tengah. Lefiya melihat hasil tembakannya dengan mata bersinar.
"Aku melakukannya!" serunya dengan penuh semangat, meskipun ia sadar tanpa bantuan Shirou, ia tidak akan bisa.
Shirou tersenyum. "Kau melakukannya dengan baik, Lefiya. Bagaimana, masih takut?"
Lefiya menoleh ke arahnya, wajahnya sedikit memerah. Mungkin… kalau kau selalu membantuku seperti ini, aku tidak akan takut lagi jawabnya dalam hati.
