Shirou perlahan melepaskan genggamannya dari tangan Lefiya, memberi gadis itu ruang untuk kembali ke posisinya sendiri. Lefiya menatap pistol yang ada di tangannya dengan penuh kekaguman dan sedikit rasa takut. "Senjata ini... sangat kuat," gumamnya, masih terkejut dengan kekuatan yang baru saja ia rasakan. "Tapi tadi kau bilang, senjata ini bisa menimbulkan masalah besar. Apa maksudmu?"
Shirou menghela napas sebelum menjawab, "Masalahnya adalah pembuatan senjata seperti ini sangatlah rumit dan hampir mustahil dilakukan di tempat seperti forge kita. Senjata ini membutuhkan teknologi yang jauh lebih maju dari apa yang kita miliki di Orario."
Lefiya memiringkan kepalanya, penasaran. "Maksudmu... bagaimana cara membuatnya? Apa ada sihir tertentu yang digunakan?" tanyanya sambil memeriksa Desert Eagle di tangannya, jari-jarinya menyusuri permukaannya yang halus dan desainnya yang tampak canggih.
"Tidak," jawab Shirou sambil menggeleng. "Senjata ini tidak dibuat dengan sihir, melainkan dengan mesin di pabrik-pabrik besar. Di duniaku, ada fasilitas yang dirancang khusus untuk memproduksi senjata seperti ini secara massal."
Mendengar itu, mata Lefiya melebar. "Diproduksi massal? Jadi... ada banyak orang yang memiliki senjata seperti ini di duniamu?" tanyanya, suaranya penuh keterkejutan.
"Benar," Shirou mengangguk, tatapannya serius. "Senjata api seperti ini cukup umum di duniaku, terutama di negara-negara tertentu."
Lefiya langsung merasakan bulu kuduknya berdiri. Membayangkan ribuan, bahkan mungkin jutaan orang, berjalan-jalan dengan membawa senjata mematikan seperti ini membuatnya merasa ngeri. "Itu... mengerikan," bisiknya, memandang pistol di tangannya dengan rasa gentar yang baru.
Shirou mengalihkan pandangannya ke pohon yang penuh lubang akibat tembakannya tadi. "Tapi itu bukan satu-satunya masalah," katanya, suaranya berubah menjadi lebih berat. "Menurutmu, apakah senjata seperti ini akan efektif digunakan untuk melawan monster di Dungeon?"
Lefiya terdiam sejenak, merenungkan pertanyaan itu. Ia membayangkan skenario di mana senjata ini digunakan melawan kobold, goblin, atau bahkan minotaur di lantai-lantai awal Dungeon. "Aku rasa... untuk monster di lantai awal seperti goblin atau kobold, mungkin cukup efektif. Bahkan mungkin bisa melawan minotaur, tergantung pada kecepatan dan akurasi tembakannya," jawabnya pelan. "Tapi... untuk monster yang lebih kuat di lantai menengah atau bawah, aku rasa senjata ini tidak akan cukup."
Shirou mengangguk setuju. "Tepat sekali. Pistol seperti ini diciptakan untuk melukai atau membunuh manusia biasa, bukan monster yang diberkahi kekuatan supernatural seperti di Dungeon. Jika digunakan melawan warga sipil di duniaku, senjata ini bisa sangat mematikan. Tapi melawan monster atau bahkan petualang yang memiliki falna, pistol ini mungkin tidak akan cukup kuat," jelasnya dengan nada serius.
Mendengar itu, Lefiya kembali memandangi pistol di tangannya, tapi kali ini dengan rasa takut yang lebih dalam. Rasanya seperti dingin yang menjalar dari logamnya langsung ke kulitnya. "Jadi... senjata ini lebih cocok untuk membunuh manusia daripada monster?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
"Benar," jawab Shirou tanpa ragu.
Lefiya merinding, lalu dengan hati-hati mengembalikan pistol itu kepada Shirou. "Aku rasa aku tidak ingin menyentuh benda ini lagi," katanya dengan suara pelan, ekspresinya campuran antara ketakutan dan kekecewaan.
Shirou menerima pistol itu dari tangan Lefiya, lalu menatapnya sejenak sebelum berbicara dengan nada serius. "Masalahnya bukan hanya pada senjata ini saja, tapi pada dampaknya," katanya. "Jika aku benar-benar memutuskan untuk menempa pistol seperti ini dan menggunakannya secara terbuka, aku yakin para penempa di dunia ini, terutama mereka yang berbakat, hanya dengan melihatnya saja sudah bisa mendapatkan ide untuk menciptakan sesuatu yang serupa."
Lefiya mengerutkan kening, mencoba memahami maksud Shirou. "Maksudmu... seperti penempa dari Hephaestus Familia atau Goibniu Familia?" tanyanya dengan nada ragu.
Shirou mengangguk. "Ya, mereka adalah contoh yang paling mungkin. Penempa seperti itu memiliki kemampuan luar biasa. Bahkan jika mereka tidak bisa membuat replika yang persis sama, mereka pasti bisa menciptakan senjata dengan konsep yang mirip. Dan aku yakin, penduduk dunia ini suatu hari nanti akan menemukan teknologi seperti senjata api dengan cara mereka sendiri. Tapi..." Shirou berhenti sejenak, menatap Lefiya dengan serius. "Aku tidak ingin mempercepat proses itu. Aku tidak ingin menjadi alasan senjata seperti ini digunakan untuk perang antar manusia."
Lefiya terdiam sejenak, memikirkan dampak yang dikatakan Shirou. Ia akhirnya mengangguk pelan, menyadari bahaya yang mungkin terjadi. "Benar juga," gumamnya. "Ares Familia saja menggunakan magic sword dari keluarga Crozzo untuk menghancurkan hutan-hutan Elf. Kalau mereka memiliki pistol seperti ini..." Lefiya menggigit bibirnya, matanya dipenuhi kekhawatiran. "Dampaknya bisa jauh lebih buruk."
Shirou tersenyum tipis, meski tanpa keceriaan. "Itu sebabnya, rencana kita untuk menempa senjata dari duniaku sepertinya harus dibatalkan," ujarnya sambil memudarkan Desert Eagle di tangannya. Senjata itu perlahan larut menjadi partikel prana yang memudar di udara, begitu pula earmuff yang tadi digunakan Lefiya.
Lefiya terdiam, merenungkan apa yang baru saja terjadi. Pikiran tentang bahaya senjata dari dunia Shirou terus berputar di kepalanya. Namun, ia juga merasa lega Shirou cukup bijak untuk tidak memperkenalkan teknologi ini ke dunia mereka. Tanpa berkata apa-apa, Lefiya mengikuti Shirou kembali ke arah forge, matanya menatap punggung pemuda itu yang terlihat penuh beban tanggung jawab. Dalam hati, ia merasa kagum sekaligus prihatin. "Shirou benar," pikir Lefiya. "Kekuatannya bukan hanya soal kemampuan yang hebat, tapi juga kebijaksanaan untuk memilih kapan harus menggunakan kekuatan itu."
Mereka berdua melangkah masuk kembali ke dalam forge, tetapi Shirou dengan cepat menyadari ekspresi Lefiya yang tampak murung. Mata gadis itu tertunduk, dan bibirnya sedikit mengerucut, jelas menunjukkan bahwa pikirannya masih terganggu oleh pembicaraan mereka sebelumnya tentang senjata dari dunia Shirou.
Melihat hal itu, Shirou menghentikan langkahnya dan berkata dengan nada lembut, "Lefiya, bagaimana kalau kita istirahat sebentar? Sepertinya kamu butuh waktu untuk menenangkan diri." Ia meraih tas kecil yang ada di meja dan menatapnya dengan perhatian.
Lefiya mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. "Baiklah. Mungkin udara segar akan membantu," jawabnya pelan sambil mengikuti Shirou keluar.
Mereka berjalan menuju kursi panjang yang terletak di depan forge, di bawah bayangan pohon yang rindang. Matahari pagi yang perlahan semakin tinggi memancarkan sinarnya yang hangat, menciptakan suasana yang tenang dan damai. Shirou duduk lebih dulu, membuka tas kecilnya, dan mengeluarkan salah satu kotak bekal mereka yang berisi roti kukus. Dengan santai, ia membuka tutupnya dan mengambil salah satu roti, lalu menggigitnya perlahan.
Lefiya duduk di sampingnya, sedikit lebih dekat dari biasanya, dan mengambil salah satu roti kukus yang tersisa. Ia menggigitnya dengan lembut sambil menatap ke depan, lalu mengalihkan pandangannya pada Shirou. "Shirou," panggilnya tiba-tiba, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu, "apakah tak ada senjata dari duniamu yang hanya efektif untuk melawan monster saja?"
Shirou berhenti mengunyah sejenak, memandang jauh ke arah horizon. Pikirannya memutar berbagai kemungkinan—senjata seperti misil, bom, atau senjata besar lainnya. Namun, ia tahu jawaban itu tidak akan memuaskan Lefiya. "Ada," katanya akhirnya, menatap Lefiya dengan serius. "Ada beberapa senjata dari duniaku yang mungkin efektif melawan monster."
Mata Lefiya langsung berbinar, penuh harapan. "Benarkah? Senjata seperti apa itu?" tanyanya penuh semangat, bahkan tangannya yang memegang roti berhenti bergerak.
Namun, Shirou menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Masalahnya, senjata-senjata itu jauh lebih sulit dibuat daripada pistol. Dan bahkan jika berhasil dibuat, mereka juga lebih efektif digunakan untuk membunuh manusia daripada monster," jelasnya, suaranya terdengar berat.
Harapan yang sempat muncul di wajah Lefiya langsung pudar. Ia menunduk, menghela napas panjang sambil menatap roti di tangannya. "Begitu ya..." gumamnya kecewa, nada suaranya terdengar lesu.
Shirou hanya menatap gadis elf itu dalam diam. Ia tahu bahwa membawa sesuatu dari dunianya ke dunia ini bisa berakhir lebih buruk daripada yang diharapkan, tetapi melihat Lefiya yang kecewa membuatnya merasa bersalah. Shirou lalu kembali menggigit rotinya, berusaha mencari cara untuk menghibur Lefiya tanpa memberikan harapan palsu. Di bawah sinar matahari pagi yang semakin terang, keduanya tenggelam dalam keheningan, masing-masing larut dalam pikiran mereka sendiri.
Setelah menghabiskan roti kukus mereka, Shirou menyandarkan tubuhnya sejenak pada kursi kayu panjang itu, lalu menengadah ke arah matahari yang perlahan naik di langit pagi. "Sebentar," ujarnya tiba-tiba, mengangkat satu tangan untuk menarik perhatian Lefiya.
Lefiya, yang masih termenung, menoleh dengan sedikit bingung. "Ada apa, Shirou?" tanyanya.
Sebagai jawaban, Shirou merapalkan mantra pendek, "Trace on." Dalam sekejap, dua cangkir sederhana muncul di tangannya. Ia menyerahkan satu cangkir pada Lefiya sebelum membuka termos yang mereka persiapkan tadi. Uap dingin keluar dari dalam termos saat Shirou menuangkan jeruk peras ke dalam cangkir mereka masing-masing.
"Ini. Coba, kau pasti suka," kata Shirou sambil menyodorkan cangkir itu ke Lefiya.
Lefiya menerima cangkir itu dengan kedua tangan, mencium aroma jeruk yang segar sebelum meneguknya perlahan. Mata elf muda itu membesar, dan senyum cerah terlukis di wajahnya. "Segar sekali! Rasanya enak, Shirou!" serunya penuh semangat.
Namun, tiba-tiba ekspresinya berubah. Matanya menatap termos yang ada di meja, dan mulutnya terbuka lebar seolah mendapat ide besar. "Ahhhhhh!" teriak Lefiya mendadak, membuat burung-burung yang berada di sekitar beterbangan.
Shirou hampir saja menumpahkan cangkirnya. Ia menatap Lefiya dengan kaget. "Ada apa?! Kau baik-baik saja?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Shirou! Shirou! Shirou!" Lefiya memanggil namanya berulang kali sambil mengguncang lengan Shirou dengan kedua tangannya, wajahnya penuh semangat seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.
"Iya, ada apa, Lefiya?" Shirou menjawab dengan nada sabar meski sedikit kebingungan dengan perilaku Lefiya yang mendadak energik.
Lefiya mengangkat termos dengan kedua tangannya dan berseru penuh keyakinan, "Aku punya ide! Daripada fokus pada senjata dari duniamu, bagaimana kalau kau fokus membuat ini?"
Shirou memiringkan kepalanya, mencoba memahami maksud Lefiya. "Maksudmu... kau ingin aku menempa termos?" tanyanya dengan nada ragu.
Lefiya mengangguk dengan antusias. "Iya! Bukan hanya termos, Shirou! Kau bisa membuat alat-alat canggih lain dari duniamu! Kita terlalu terpaku pada senjata, padahal alat-alat seperti ini jauh lebih aman dan berguna!" serunya dengan mata berbinar-binar.
Shirou terdiam sejenak, memandangi termos yang ada di tangan Lefiya. Dalam hatinya, ia tersentak. Kenapa aku tak terpikir soal itu sebelumnya? pikirnya. Ia terlalu fokus pada senjata karena hampir semua benda yang ada di Unlimited Blade Works adalah senjata. Namun, Lefiya benar—ada potensi besar dalam membawa teknologi dunia asalnya ke dunia ini tanpa harus menciptakan sesuatu yang membahayakan.
"Lefiya..." Shirou akhirnya berkata pelan, senyum kecil muncul di wajahnya. "Kau benar-benar memberikan ide bagus."
Lefiya tersenyum lebar, bangga karena idenya dihargai. "Tentu saja! Aku ini jenius, kan?" godanya sambil tertawa kecil.
Melihat semangat Lefiya, Shirou hanya bisa tersenyum kecil. Ia kembali meneguk jeruk peras dingin di cangkirnya, kini dengan pemikiran baru yang mengubah arah rencananya.
Setelah selesai menikmati jeruk peras dingin mereka, Shirou perlahan memudarkan cangkir yang tadi diproyeksikan, membiarkannya kembali menjadi prana yang lenyap tanpa jejak. Ia lalu memasukkan sisa kotak bekal dan termos yang masih berisi ke dalam tas kecil yang mereka bawa.
Namun sebelum Shirou bisa berdiri, Lefiya menarik lengan bajunya dengan lembut, matanya bersinar penuh semangat. "Shirou, bisakah kamu memproyeksikan alat-alat lain dari duniamu? Aku ingin tahu lebih banyak! Siapa tahu kita bisa memilih alat apa yang pertama kali akan kita buat," katanya dengan nada penuh antisipasi.
Shirou termenung sejenak. Dalam pikirannya, ia memikirkan berbagai benda modern yang bisa ia proyeksikan. Handphone, televisi, komputer… ah, itu terlalu rumit. Struktur internalnya terlalu kompleks untuk aku salin dengan sempurna. Namun, alat elektronik yang lebih sederhana, seperti oven atau rice cooker, mungkin masih dalam jangkauannya. Akhirnya, sebuah ide muncul di benaknya.
"Baiklah, aku akan coba sesuatu yang sederhana dulu," ucap Shirou sambil berdiri. Ia menutup matanya sejenak, mengucapkan mantra yang sudah begitu akrab di lidahnya. "Trace, on." Sebuah kilauan kecil muncul di tangannya, dan tak lama kemudian, sebuah mixer berwarna putih dengan bilah pengaduk logam muncul. Ia mengangkatnya dan menyerahkan benda itu kepada Lefiya.
Lefiya mengambil mixer itu dengan hati-hati, memeriksa bentuknya dengan penuh rasa ingin tahu. "Ini apa, Shirou? Dan untuk apa alat ini digunakan?" tanyanya sambil menyentuh bilah pengaduknya.
"Itu disebut mixer," jawab Shirou sambil tersenyum tipis. "Alat ini digunakan untuk mengaduk bahan masakan, seperti membuat adonan roti atau kue. Dengan ini, kamu bisa mencampur bahan-bahan dengan lebih cepat dan efisien."
Lefiya memiringkan kepalanya, tampak berpikir sejenak. "Oh, begitu. Jadi ini membantu memasak, ya? Menarik! Tapi… bisa tunjukkan cara menggunakannya?" tanyanya penuh harap.
Shirou menggaruk belakang kepalanya, tampak sedikit malu. "Yah… masalahnya, alat ini butuh energi listrik untuk berfungsi," katanya sambil menunjuk kabel dan colokan yang menjuntai dari mixer itu.
Lefiya memandang colokan itu dengan bingung, lalu menatap Shirou. "Listrik? Maksudnya?" tanyanya polos.
Shirou menghela napas ringan. "Listrik adalah sumber energi di duniaku. Dengan itu, alat seperti ini bisa menyala dan bekerja. Tapi di dunia ini, kita tidak punya sumber listrik."
Lefiya tersenyum kecil, lalu berkata sambil terkekeh, "Orang-orang dari duniamu sungguh luar biasa bisa menciptakan alat-alat seperti ini. Tapi Shirou… kenapa kamu memproyeksikan sesuatu yang tidak bisa kita gunakan?"
Shirou menjawab, sedikit merasa bersalah. "Erm… mungkin kita bisa mencoba menggunakan sumber energi lain," usulnya, mencoba mengatasi masalah tersebut.
Lefiya memegang dagunya, berpikir sejenak. "Hmm… mungkin kita bisa menggunakan energi dari magic stone. Tapi, aku rasa itu terlalu rumit untuk percobaan pertama kita," ujarnya sambil meletakkan mixer di atas kursi. "Mungkin lebih baik kita fokus pada alat-alat yang tidak membutuhkan energi, seperti termos tadi. Itu lebih sederhana dan bisa langsung digunakan."
Shirou mengangguk setuju. "Kamu benar. Menggunakan sesuatu yang praktis dan sederhana mungkin langkah awal yang lebih baik," katanya, mulai memikirkan alat-alat lain yang bisa mereka coba ciptakan. Lefiya tersenyum, merasa lega bisa membantu Shirou memikirkan arah yang lebih masuk akal untuk proyek mereka.
"Kalau begitu, kenapa tidak termos saja yang kita buat pertama kali?" tanya Shirou sambil memiringkan kepala. Ia mencoba memastikan bahwa pilihan pertama mereka akan sederhana namun tetap bermanfaat.
"Hmm, boleh saja," jawab Lefiya sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, lalu melanjutkan dengan nada penuh semangat, "Tapi... aku ingin sesuatu yang lebih wah! Lebih keren! Sesuatu yang bisa membuat teman-teman di Loki Familia terkejut saat melihatnya nanti!"
Shirou terdiam, memproses permintaan Lefiya. Yang keren, ya... pikirnya sambil membayangkan benda-benda besar dan luar biasa dari dunianya. Sekilas, bayangan pesawat jet dan tank melintas di benaknya, tetapi ia segera menggelengkan kepala. Itu terlalu rumit. Proyeksi saja tak mungkin bisa kulakukan, tapi menempanya di forge? Itu mustahil.
Pikirannya kemudian beralih ke masa lalunya. Ia teringat pada sepeda motor milik pak tua Raiga Fujimura, seorang yakuza yang sering meminta bantuannya untuk memperbaiki mesin itu. Sepeda motor mungkin lebih masuk akal, pikirnya. Aku rasa aku bisa memproyeksinya, tapi lagi-lagi, menempanya akan jadi tantangan besar. Forge sederhana ini tidak akan cukup untuk membuat sesuatu seperti itu.
Lefiya yang memperhatikan Shirou tenggelam dalam pikirannya mulai merasa sedikit tidak enak. Ia takut permintaannya terlalu membebani Shirou. Dengan nada lembut, ia berkata, "Kalau terlalu sulit, tidak masalah kok, Shirou. Sesuatu yang lebih sederhana juga tidak apa-apa."
Kata-kata Lefiya itu seperti pencerahan bagi Shirou. Ia tersentak dari lamunannya. Sesuatu yang lebih simpel? Kalau begitu, kenapa bukan sepeda saja? pikirnya. Ide itu terasa jauh lebih masuk akal. Ia yakin sepeda sederhana bisa diproyeksikan dengan mudah dan cukup realistis untuk ditempa di forge.
Akhirnya, Shirou mengangkat wajahnya, tersenyum kecil pada Lefiya. "Aku rasa aku tahu alat yang cocok untuk kita buat. Sesuatu yang sederhana, tapi tetap keren," katanya dengan penuh keyakinan.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Lefiya penasaran.
Shirou mengulurkan tangannya ke depan dan dengan suara rendah, ia merapal mantra, "Trace On." Dalam sekejap, sebuah sepeda sederhana muncul di hadapan mereka. Sepeda itu berwarna putih bersih, memiliki desain minimalis dengan hanya sepasang roda gigi. Di bagian depannya terdapat sebuah keranjang kecil, menambah kesan praktis.
Mata Lefiya membulat penuh kekaguman. Ia menatap sepeda itu tanpa berkedip, seolah-olah benda itu adalah harta karun dari dunia lain. "Apa... apa ini, Shirou?" tanyanya, suaranya penuh keheranan.
"Ini disebut sepeda," jawab Shirou sambil menepuk pelan kerangkanya. "Alat ini digunakan untuk bepergian. Kamu tinggal mengayuh pedalnya, dan kamu bisa bergerak lebih cepat daripada berjalan kaki."
"Wah... ini terlihat sangat menarik!" kata Lefiya dengan suara penuh antusias. Meskipun ia belum sepenuhnya memahami cara kerjanya, ia merasa alat ini memiliki potensi besar. "Apakah kita bisa membuatnya di forge?"
"Kurasa kita bisa mencobanya," jawab Shirou sambil tersenyum. Dalam hati, ia merasa lega karena akhirnya menemukan sesuatu yang tidak hanya memenuhi permintaan Lefiya, tetapi juga realistis untuk mereka ciptakan bersama.
Dengan penuh rasa penasaran, Lefiya berjalan mendekati sepeda yang baru saja Shirou proyeksikan. Matanya memandangi setiap detailnya—dari rangka putihnya yang ramping hingga roda yang terlihat kokoh. "Bolehkah aku mencoba duduk di atasnya, Shirou?" tanyanya dengan suara penuh semangat.
"Tentu saja," jawab Shirou, tersenyum kecil sambil melangkah mundur untuk memberinya ruang.
Lefiya naik ke sepeda itu dengan hati-hati. Ia duduk di sadel, kakinya mencoba meraih pedal yang sedikit di bawah jangkauannya. Namun, karena roknya yang pendek, posisinya membuat paha putihnya sedikit terlihat. Shirou, yang awalnya fokus pada sepeda, tidak bisa menghindari pandangan sekilas ke arah kakinya. Wajahnya langsung memerah, dan ia berdehem pelan sebelum berkata, "Um... Lefiya, mungkin akan lebih baik jika kamu mencobanya lain kali saat memakai celana. Aku khawatir roknya bisa tersangkut atau... ya, tidak nyaman."
Lefiya langsung sadar dan buru-buru turun dari sepeda, wajahnya ikut memerah. Ia merapikan roknya sambil tergagap, "A-Ah, benar juga. Aku tidak terpikirkan itu..." Dalam hatinya, Lefiya tidak bisa menahan senyum kecil, menyadari bahwa Shirou sempat melirik kakinya tadi. Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, pikirnya sambil menahan malu. Aku juga sudah sering curi-curi pandang ke ototnya sebelumnya. Jadi, impas, kan?
Shirou yang merasa suasananya mulai canggung, segera berdehem lagi untuk mengembalikan fokus mereka. Ia mengangkat tangannya dan membuat sepeda itu memudar menjadi partikel prana. "Nanti, saat kita menempa sepeda ini, aku akan mencoba memproyeksikan setiap bagiannya secara terpisah. Dengan begitu, kita bisa menirunya di forge," jelasnya.
"Itu ide bagus," kata Lefiya setuju. Namun, mendadak sebuah pikiran muncul di benaknya. Ia menatap Shirou dengan penuh semangat. "Shirou, apakah alat-alat yang nanti kamu tempa akan diberi merek?"
"Merek?" Shirou terlihat bingung. Ia belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya.
Lefiya mengangguk dengan yakin. "Ya, merek! Agar orang-orang tahu bahwa alat-alat ini adalah hasil kerja keras kita," katanya sambil tersenyum lebar.
Shirou menggaruk belakang kepalanya, merasa ini adalah hal yang di luar keahliannya. "Kalau begitu, apa kamu punya saran untuk namanya?" tanyanya, menyerahkan keputusan pada Lefiya.
Sementara Shirou menunggu jawaban, Lefiya tenggelam dalam pikirannya. Bagaimana kalau kita menamakannya 'Shirou & Lefiya'? Itu terdengar seperti usaha bersama suami istri… Pipi Lefiya mendadak memanas membayangkan nama itu dan ia segera mengusir khayalannya. Lalu, pikirannya teringat pada kesamaan antara dirinya dan Shirou—kemampuan mereka yang "meniru."
"Aku punya ide," kata Lefiya dengan nada yakin. "Bagaimana kalau kita menyebutnya 'Faker'?"
Shirou mengangkat alis, sedikit terkejut sekaligus geli. "Faker, ya? Itu nama yang menarik," katanya, lalu tertawa kecil. Ia merasakan ironi dalam nama itu, karena mereka sebenarnya hanya meniru alat dari dunianya, bukan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Namun, ia tidak bisa menolak logikanya. "Baiklah, kita gunakan nama itu. Merek kita adalah 'Faker.'"
Mata Lefiya berbinar mendengar persetujuan Shirou. "Dan motto kita," tambahnya dengan penuh semangat, "adalah apa yang selalu kamu katakan, Shirou: 'Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa yang palsu tidak dapat melampaui yang asli.'"
Shirou mengangguk, merasa bahwa nama itu, meski sederhana, sangat tepat menggambarkan mereka berdua dan perjalanan yang akan mereka mulai.
