Chapter 94

Setelah istirahat makan siang di luar forge, Lefiya dan Shirou kembali ke dalam. Udara hangat matahari siang yang menyentuh kulit mereka digantikan oleh dinginnya logam dan aroma khas dari besi yang baru ditempa. Shirou dengan cekatan memasukkan kotak bekal kosong dan termos yang telah mereka gunakan ke dalam tas yang ia bawa sejak tadi. Sementara itu, Lefiya berdiri di dekat meja kerja Shirou, matanya tertuju pada kerangka sepeda yang kini terlihat lebih lengkap.

Ia mendekati sepeda itu dengan rasa penasaran. Pedal dan gir sudah terpasang rapi, menambah kesan kokoh pada kerangka logam yang sebelumnya terlihat kosong. "Sudah sejauh ini, ya?" gumam Lefiya pelan, suaranya hampir tenggelam di tengah keheningan forge.

Shirou yang telah selesai merapikan tasnya, ikut mendekat. Ia menatap sepeda itu dengan ekspresi puas namun tetap serius. "Hampir selesai," katanya. "Sekarang tinggal rantai, rem, dan kerangka roda."

Lefiya memperhatikan Shirou yang begitu tenang dan terampil, lalu ia menundukkan kepala, merasa usahanya tak seberapa dibandingkan apa yang dilakukan Shirou. "Kau tahu," ujarnya pelan, "rasanya seperti aku tidak terlalu membantu. Kau pasti bisa menyelesaikan semuanya sendiri tanpa aku."

Shirou menoleh ke arahnya, lalu menggeleng tegas. "Tidak, Lefiya," katanya dengan nada serius. "Aku tidak bisa membuat sepeda ini tanpa bantuanmu. Justru aku ingin menunjukkan betapa pentingnya peranmu di sini."

Perkataan Shirou membuat Lefiya mengangkat wajahnya, matanya yang biru penuh rasa ingin tahu. "Benarkah?" tanyanya.

Shirou berjalan mendekati cetakan ban luar sepeda yang berisi hasil eksperimen Lefiya. Dengan hati-hati, ia mengangkat ban luar yang sudah kering tetapi masih kasar dan polos dari cetakan itu dengan tangan kanannya. Sambil melakukannya, ia meraih sebuah ban sepeda buatan pabrik yang ia proyeksikan sebelumnya dari bawah meja alchemy Lefiya dengan tangan kirinya.

"Lihat ini," kata Shirou sambil menunjukkan kedua ban tersebut pada Lefiya. Ia menatap ban buatan pabrik di tangan kirinya, lalu mengaktifkan Structural Analysis. Matanya berkilat sejenak saat ia menganalisis struktur dan komposisi ban itu hingga ke detail terkecil. Setelah selesai, ia memfokuskan energinya pada ban kasar hasil slime Lefiya. Dengan suara pelan namun mantap, ia menggunakan Alteration magecraft, memakai blueprint dari ban buatan pabrik untuk mengubah ban polos itu menjadi persis seperti ban di tangan kirinya.

Dalam sekejap, ban polos itu berubah bentuk, lapisan kasarnya menjadi halus, tekstur dan detailnya menyerupai ban buatan pabrik. "Selesai," ucap Shirou, memutar ban itu di tangannya untuk memastikan presisi.

Lefiya menatap hasil itu dengan mulut sedikit terbuka. "Wow…" gumamnya penuh kekaguman. Namun, setelah itu ia menunduk sedikit, ekspresinya berubah sedih. "Kalau kau bisa melakukan itu, kenapa tidak langsung menggunakan magecraft-mu saja pada slime tadi? Kenapa aku harus repot-repot menghabiskan waktu membuat bahan bakunya?"

Shirou tersenyum kecil dan meletakkan ban itu di meja. "Itu karena aku tidak bisa," jawabnya dengan nada yang jujur namun hangat. "Kemampuan Alteration-ku terbatas. Aku tidak bisa langsung mengubah bangkai slime menjadi ban seperti ini. Tapi eksperimen alchemy-mu, Lefiya, adalah kunci dari semua ini. Kau yang berhasil mengubah slime menjadi bahan baku yang bisa kugunakan. Tanpamu, aku tidak akan bisa menyelesaikan ini."

Lefiya memandangnya, mata birunya berkilauan. Kata-kata Shirou begitu tulus sehingga membuat dadanya hangat, meski ia masih sedikit kelelahan. "Terima kasih, Lefiya," tambah Shirou, tersenyum padanya dengan senyuman yang penuh kehangatan dan penghargaan.

Melihat senyuman itu, Lefiya merasakan sesuatu yang sulit ia ungkapkan. Hanya ini yang aku butuhkan, pikirnya. Senyuman itu. Jika ini adalah hasil dari semua kerja keras yang kulakukan, maka aku puas. Ia membalas senyum Shirou dengan lembut, merasa bahwa usahanya akhirnya berarti.

"Yosh!" Lefiya menepukkan kedua tangannya dengan penuh semangat, mencoba mengusir rasa lelah yang sempat menghantuinya. "Saatnya mencoba lagi!" katanya dengan suara lantang, matanya kembali bersinar dengan tekad. Di sudut ruangan, Shirou yang lanjut untuk memeriksa suhu logam di tungku besi mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat antusiasme Lefiya, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.

Lefiya berjongkok di samping meja alchemy-nya, mengambil ban dalam buatan pabrik yang disimpan di bawahnya. Dengan hati-hati, ia merasakan tekstur elastis bahan tersebut di antara jari-jarinya, mencoba memahami sifat-sifat yang perlu ia tiru. "Aku harus meningkatkan elastisitas tanpa mengorbankan kekuatannya," gumamnya pada dirinya sendiri. Ia memutar otaknya, memikirkan rasio slime yang mungkin tepat untuk eksperimen berikutnya.

Setelah menyusun rencana, Lefiya mengangkat tangannya, mengarahkan ujungnya ke lantai di bawah meja. Dengan suara yang lembut namun mantap, ia mulai merapal mantra, "I wish upon the name of Wishe. Ancestors of the forest, proud brethren. Answer my call and come to the plains. Connecting bonds, the pledge of paradise." Lingkaran sihir emas kembali muncul, memancar lembut di bawah kakinya, mengelilingi meja alchemy dengan sinar yang memberikan kesan magis.

Lefiya mulai bekerja, menuangkan slime yang sudah ia siapkan ke dalam wadah alchemy, lalu menambahkan campuran cairan katalis yang telah disesuaikan. Ia memutar tuas alat ekstraksi dengan hati-hati, mendengarkan suara pelan tick tick tick dari alat tersebut. Ia memperhatikan bagaimana bahan tersebut berubah bentuk, warnanya sedikit lebih gelap dibandingkan percobaan sebelumnya. "Bagus," bisiknya, matanya terpaku pada proses reaksi di hadapannya.

Namun, ketika hasil akhirnya dikeluarkan, Lefiya mengernyit. Bahan yang dihasilkan terlalu lentur. Ia mencoba menariknya, dan bahan itu malah memanjang seperti permen karet. "Hmm… ini terlalu lemah," katanya, merasa kecewa. Tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa frustrasinya. Ia mengambil sepotong kecil slime tersebut, meniupnya perlahan. Dengan cepat, bahan itu mengembang membentuk balon yang mengkilap.

Di seberang ruangan, Shirou yang sedang menyambung bagian rantai sepeda melirik ke arah Lefiya. Melihat gadis itu asyik bermain dengan balon slime, ia tersenyum kecil, merasa geli dengan kelakuannya. "Kau seperti anak kecil, Lefiya," candanya ringan.

Lefiya menoleh dengan balon slime yang sudah cukup besar di tangannya. "Ini terlalu lemah untuk ban dalam. Tapi setidaknya... mungkin bisa digunakan sebagai mainan?" katanya, tertawa kecil sambil melanjutkan meniup balonnya.

Tiba-tiba, suara DUAR! memenuhi ruangan ketika balon slime itu meledak, membuat Lefiya terkejut dan sedikit melompat mundur. Wajahnya seketika berubah merah, dan ia memberikan senyuman canggung ke arah Shirou. "Hehe… setidaknya, bahan ini memiliki fungsi lain," katanya mencoba menghibur dirinya sendiri.

Shirou menghentikan pekerjaannya sejenak, mendekat dengan senyuman lembut. "Kalau kau membuat balon yang lebih besar dan kuat, Lefiya, itu bisa jadi balon udara," katanya mencoba menghiburnya.

Lefiya menatapnya dengan bingung, kepalanya sedikit dimiringkan. "Balon udara? Apa itu?"

Shirou tersenyum kecil, lalu menjelaskan dengan nada hangat. "Di dunia asalku, balon udara adalah alat terbang. Mereka dibuat dari bahan yang cukup kuat untuk menahan tekanan udara panas. Dengan udara panas yang dihasilkan, balon itu bisa mengangkat keranjang besar dan membawa orang terbang di langit. Rasanya seperti melayang di atas angin."

Mata Lefiya membulat mendengar penjelasan itu. "Terbang di langit? Itu terdengar luar biasa!" katanya penuh semangat. Ia menatap bahan slime di depannya, pikirannya mulai berputar memikirkan kemungkinan baru. "Aku ingin mencobanya!"

Namun, Shirou mengangkat tangan, memberi isyarat agar Lefiya menenangkan diri. "Tunggu dulu," katanya. "Kita harus tetap fokus. Ban dalam sepeda adalah prioritas utama. Balon udara bisa jadi proyek berikutnya setelah ini selesai."

Lefiya mengangguk dengan semangat yang tetap tinggi. "Baik, kapten!" katanya sambil tersenyum lebar. Dengan semangat yang diperbarui, ia kembali ke meja alchemy-nya, siap untuk eksperimen berikutnya.

Di tengah denting-denting logam yang menemani suasana forge, Lefiya masih sibuk dengan eksperimennya di meja alchemy. Ia mengulang lagi proses yang sama, kali ini lebih berhati-hati dengan rasio slime dan katalis yang digunakan. Setelah hasilnya keluar, ia meniup bahan tersebut dengan penuh harapan, tetapi tak jarang bahan itu malah meledak atau bahkan tak bisa mengembang sama sekali. Ia menghela napas panjang, tapi kemudian menggembungkan pipinya dengan tekad baru. "Baiklah, sekali lagi! Aku pasti bisa!"

Dari kejauhan, Shirou yang sedang memeriksa kelurusan kerangka roda sepeda mencuri pandang ke arah Lefiya. Ia tak bisa menahan senyum saat melihat gadis itu bersikap seperti anak kecil yang sedang bermain, terutama ketika Lefiya meniup balon slime kecil dan meletuskannya dengan ekspresi kecewa. "Kau sangat gigih, Lefiya," gumamnya pelan, suaranya nyaris tertelan suara api di tungku.

Menjelang sore, akhirnya Lefiya berhasil membuat bahan baku yang ia rasa mendekati harapannya. Kali ini, ketika ia meniup hasil eksperimennya, bahan tersebut mengembang menjadi balon yang kokoh dan elastis. Wajah Lefiya bersinar penuh kemenangan. "Akhirnya!" serunya dengan semangat. Ia mengambil ban dalam buatan pabrik dari bawah meja, membandingkannya dengan hasil buatannya sendiri. Rasanya, bahan yang ia buat kini hampir setara.

Ia membawa hasil eksperimennya ke arah Shirou yang tengah membuat kerangka roda sepeda. "Shirou! Aku berhasil!" serunya, memegang bahan itu seperti piala kemenangan.

Shirou menoleh, meninggalkan pekerjaannya sejenak. Ia mengambil bahan itu dari tangan Lefiya dan menatapnya dengan penuh minat. "Baiklah, biar aku periksa," ujarnya sambil memejamkan mata sejenak. Vwoom, energi magecraft-nya terasa menyelimuti bahan itu saat ia menggunakan Structural Analysis. Ketika selesai, Shirou membuka matanya, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kerjamu luar biasa, Lefiya. Ini sudah hampir sempurna."

Mendengar pujian itu, Lefiya merasa hatinya berdebar. Pipi elf muda itu memerah, tapi ia hanya bisa tertawa kecil untuk menutupi kegembiraannya. Kalau seperti ini terus, aku bisa menjadi lebih baik hanya untuk mendapatkan pujiannya... pikirnya, membayangkan senyuman Shirou setiap kali ia berhasil.

Shirou mengembalikan bahan itu pada Lefiya, menepuk bahunya dengan lembut. "Sekarang, gunakan bahan asli. Aku yakin kau bisa melakukannya," katanya, penuh percaya diri.

"Baik!" jawab Lefiya penuh semangat. Ia mengambil kantong berisi slime asli dari tas di meja. Dengan gerakan yang lebih terlatih, ia memulai lagi proses alchemy-nya. Tangannya bergerak lincah, menuangkan katalis dengan presisi sambil menjaga lingkaran sihir tetap stabil. Kilauan emas dari lingkaran sihirnya tampak lebih cerah, seakan ikut mendukung Lefiya.

Ketika bahan akhirnya jadi, Lefiya meniupnya sekali lagi, dan kali ini hasilnya sempurna. Ia tertawa kecil, merasa lega sekaligus bangga. "Shirou, aku selesai! Bahan ini sudah siap untuk digunakan."

Shirou yang baru saja menyelesaikan memasang rantai sepeda mendekat, membawa cetakan khusus yang sudah ia persiapkan sebelumnya. "Bagus. Tuangkan bahan itu ke cetakan ini," ujarnya, memberikan cetakan berbentuk ban dalam kepada Lefiya.

Dengan hati-hati, Lefiya menuangkan bahan itu ke dalam cetakan. Proses itu membutuhkan konsentrasi agar bahan terdistribusi merata. Setelah selesai, ia menghela napas lega, menyeka keringat di dahinya. "Sekarang tinggal menunggu kering," katanya sambil tersenyum.

Shirou mengangguk puas. "Kerja bagus, Lefiya. Dengan ini, sepeda ini akan semakin mendekati penyelesaiannya."

Lefiya lalu duduk di kursi kayu kecil yang terletak tak jauh dari meja alchemy, memandang ke arah Shirou yang tengah sibuk memasang rem pada sepeda. Denting halus logam bergema setiap kali Shirou mengetatkan baut atau memasang kabel. Tangannya yang cekatan terlihat memutar alat dengan fokus, membuat Lefiya merasa kagum. "Dia benar-benar teliti," pikir Lefiya sambil menopang dagunya dengan tangan.

"Sudah selesai," kata Shirou tiba-tiba, membuyarkan lamunan Lefiya. Ia menepuk-nepuk tangan untuk membersihkan sisa-sisa debu logam. "Sekarang tinggal memasang roda," lanjutnya sambil melirik dua kerangka roda yang tergeletak di lantai.

Lefiya mengikuti arah pandangannya dan langsung mengerti maksudnya. "Roda terakhir, kan? Karena bannya harus dipasang dulu," ujar Lefiya dengan nada setengah bertanya.

Shirou mengangguk. "Tepat sekali. Kalau begitu, mari kita periksa apakah bahan bannya sudah kering," ujarnya sambil berjalan ke meja tempat cetakan ban dalam dibiarkan mengering.

Ia menyentuh bahan tersebut, memastikan teksturnya telah solid. "Sepertinya sudah siap," katanya dengan puas. Shirou mengambil ban dalam buatan pabrik dari bawah meja dan mengangkatnya di satu tangan, sementara tangan lainnya memegang ban dalam hasil slime. Dengan gerakan yang sudah biasa ia lakukan, Shirou memfokuskan energinya. "Trace on," gumamnya pelan. Cahaya lembut melingkupi ban dalam slime, secara perlahan mengubah teksturnya hingga menyerupai ban buatan pabrik.

Namun, saat Shirou memegang ban itu, ia menyadari sesuatu. "Hmm... masih terasa lembek," komentarnya sambil mengangkat ban dalam tersebut untuk diperiksa lebih dekat.

"Kalau begitu, biar aku yang meniupnya!" Lefiya langsung menawarkan diri dengan penuh semangat, berdiri dari kursinya.

Shirou menahan tawa, sudut bibirnya terangkat. "Kau ingin meniup ban dalam ini?" tanyanya dengan nada geli.

Lefiya mengangguk mantap, meskipun wajahnya sedikit memerah karena Shirou tampak terhibur oleh tawarannya. "Y-ya! Aku bisa melakukannya!" jawabnya dengan nada penuh keyakinan.

Shirou hanya tersenyum. "Baiklah, tapi aku punya cara yang lebih efisien." Ia mengambil pentil yang sudah ia persiapkan dan memasangnya pada ban dalam itu. Dengan gerakan lancar, ia memasukkan ban dalam ke dalam ban luar, memastikan semuanya terpasang rapi. Setelah itu, ia memproyeksi sebuah pompa kecil, yang segera ia gunakan untuk mengisi udara ke dalam ban.

"Pffft… hsss... hsss…" Suara udara yang mengalir memenuhi ban, sementara Lefiya memperhatikan dengan rasa ingin tahu. Ketika Shirou selesai, ia menekan ban dengan tangannya, memastikan tekanannya pas.

Lefiya pun ikut menyentuh ban itu, merasakan teksturnya. "Wow... ini tak terasa berbeda dari ban buatan pabrik," ujarnya kagum, matanya berbinar.

"Dan itulah sebabnya merk kita adalah... Faker," kata Shirou sambil menyeringai kecil. Ia mengangkat ban itu dan mulai memasangnya ke kerangka roda.

"Faker memang nama yang cocok" Lefiya tersenyum kecil, sedikit geli dengan nama itu. Ia membantu Shirou memasang kedua roda yang kini sudah dilengkapi ban pada kerangka sepeda. Mereka bekerja dengan penuh semangat, dan pada akhirnya, sepeda itu pun berdiri tegak, lengkap dengan semua bagiannya.

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan cahaya jingga keemasan yang meredup melukis langit, Shirou menyeka keringat di dahinya dan memandang sepeda yang kini telah selesai dibuat. "Kita berhasil," katanya pelan, tetapi penuh rasa puas.

Lefiya memandang sepeda itu dengan bangga, lalu melirik Shirou. "Ya... kita berhasil," balasnya, senyum manis menghiasi wajahnya.

Setelah itu Lefiya memandang sepeda yang telah selesai dirakit yang masih berwarna besi polos, Lefiya mengerutkan dahi, berpikir sejenak. "Apa kita perlu mewarnainya?" tanyanya, memiringkan kepala sambil menatap Shirou.

Shirou tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada santai, "Terserah kamu, Lefiya. Lagi pula, sepeda ini kan milikmu."

"Eh?!" Lefiya terkejut, matanya membelalak. Ia memandang Shirou dengan ragu. "Milikku? Maksudmu... aku yang akan memilikinya?" tanyanya dengan suara setengah berbisik.

Shirou mengangguk ringan, seolah keputusan itu bukanlah hal besar. "Tentu saja. Kalau aku butuh sepeda, aku tinggal memproyeksinya. Tapi sepeda proyeksi itu hanya bertahan tiga hari sebelum berubah kembali menjadi prana. Sepeda ini berbeda. Ini adalah sepeda asli yang kita buat bersama, jadi lebih baik kamu yang memilikinya," jelasnya dengan nada tenang, tanpa menyadari betapa kata-katanya memengaruhi Lefiya.

Lefiya menundukkan kepala, perasaan haru memenuhi hatinya. "Dia membuat ini untukku," pikirnya, sambil merasakan pipinya memanas. Cintanya pada Shirou semakin tumbuh dalam, tetapi ia mencoba menyembunyikannya.

Sementara itu, Shirou berjalan ke sudut forge dan mengambil beberapa kaleng cat yang tertata rapi di rak kayu. Ia membuka tutup salah satu kaleng, menunjukkan warna cerah di dalamnya. "Mau warna apa?" tanyanya sambil memandang Lefiya.

Berusaha menutupi detak jantungnya yang berdebar cepat, Lefiya mengalihkan fokusnya. "Pink!" serunya tiba-tiba dengan semangat, lebih keras dari yang ia maksudkan. Wajahnya memerah karena sadar betapa antusiasnya suaranya terdengar.

Shirou mengangkat alis sejenak, lalu terkekeh. "Baiklah, pink. Sepertinya kamu benar-benar semangat dengan sepeda ini," ujarnya sambil mempersiapkan kuas dan cat.

Malam telah tiba, kegelapan perlahan menyelimuti forge. Shirou memproyeksikan lentera sihir yang memancarkan cahaya lembut, menerangi ruang kerja mereka. Bersama-sama, mereka mulai mengecat sepeda baru itu.

Ciprat-ciprat cat menempel di tangan mereka, tetapi keduanya terlalu asyik untuk peduli. "Haha, jangan lupa bagian pegangannya!" seru Shirou, menunjuk stang sepeda.

"Siap pak!" jawab Lefiya dengan semangat, meskipun warna merah di pipinya belum hilang sepenuhnya. Suasana hangat dan penuh kebahagiaan mengisi ruang kecil itu.

Pada akhirnya, Lefiya mengambil kuas kecil dan dengan hati-hati menuliskan sesuatu di badan sepeda. "Faker II," tulisnya dengan huruf-huruf yang rapi.

"'Faker II', ya?" Shirou membaca tulisan itu dengan suara rendah. Ia tersenyum puas. "Bagus sekali. Sekarang sepeda ini benar-benar milikmu."

Lefiya mengangguk, menyembunyikan rasa harunya di balik senyuman cerah. Sepeda itu bukan hanya kendaraan biasa baginya, melainkan kenangan indah yang ia buat bersama Shirou.

Setelah menyelesaikan sentuhan terakhir pada sepeda mereka, Shirou meletakkan kuas cat ke dalam wadah air di sudut meja kerja. Ia mengusap peluh di dahinya dan menatap Lefiya dengan senyum puas. "Sepertinya cukup untuk hari ini. Sudah waktunya kita istirahat."

Lefiya memandang sepeda berwarna pink yang baru saja mereka buat bersama. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit kecewa. "Tapi... aku ingin mencoba sepedanya dulu," ujarnya lirih.

Shirou mematikan lentera sihir yang menerangi forge, membiarkan cahaya itu perlahan berubah menjadi partikel prana yang memudar di udara. Ia melangkah keluar dan menoleh ke Lefiya. "Kalau dicoba sekarang, catnya belum kering. Pakaianmu bakal makin kotor nanti," jelasnya sambil menunjuk noda-noda cat yang sudah menghiasi bajunya.

Lefiya mengikuti Shirou keluar, masih dengan raut sedikit kecewa. Ia menunjuk kaus gelapnya yang sudah penuh bercak-bercak warna, baik dari slime maupun cat pink. "Pakaian ini kan sudah kotor. Jadi tidak masalah!" protesnya sambil menepuk kausnya dengan nada setengah bercanda.

Shirou terkekeh melihat ekspresinya yang gemas. "Tetap saja, lebih baik kita biarkan catnya kering dulu. Lagipula, aku punya rencana lain untuk merayakan keberhasilan kita hari ini," katanya sambil menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang-bintang.

"Rencana apa?" tanya Lefiya dengan nada penuh rasa ingin tahu, langkahnya semakin ringan mengikuti Shirou menuju Manor.

Shirou memasukkan kedua tangannya ke saku dan menjawab santai, "Aku ingin mentraktirmu makan malam. Sebagai perayaan atas kerja keras kita hari ini."

Mata Lefiya berbinar mendengar tawaran itu. "Benarkah?! Aku setuju! Tapi... di mana kita akan makan?"

Shirou berhenti sejenak, memutar pikirannya. "Hmm, sudah seminggu sejak terakhir kali aku ke Hostess of Fertility. Bagaimana kalau kita makan di sana?"

Lefiya terdiam sesaat setelah mendengar nama restoran itu. Ia merasa ada sesuatu yang penting, sesuatu yang harus ia ingat, tetapi pikirannya terlalu kusut untuk menangkapnya. "Hostess of Fertility..." gumamnya pelan, sebelum menggelengkan kepala. "Sepertinya aku melupakan sesuatu, tapi aku tidak yakin apa."

Shirou menatapnya dengan sedikit bingung. "Kalau kamu melupakan sesuatu, mungkin di perjalanan nanti kamu bakalan ingat," ujarnya mencoba menghibur.

Lefiya mengangkat bahu, mencoba tidak terlalu memikirkannya. "Ya, mungkin. Baiklah, Hostess of Fertility! Aku sudah lapar," serunya ceria, menghapus rasa penasaran di pikirannya. Mungkin memang tidak penting, pikirnya, tanpa sadar melupakan janjinya pada Ryuu.