Keesokan paginya, Naruto merasakan sensai hangat di wajahnya. Sinar matahari menancar diatas wajahnya. Burung berkicau dan angun bertiup manja.
Baru sejenak keheningan Ia rasakan, tiba-tiba,
"Naruto! Bangun! Kalau kau tak kunjung bangun akan nenek seret kebawah!"
Tsunade berteriak. Kedengerannya memang seperti hiperbola, tapi yakinlah jika Tsunade yang mengatakan, hal itu pasti benar.
Naruto pun terjatuh dari kasur, is terbangun dan berlari tertatih-tatih menuju kamar mandi.
Ia menyalakan shower dan segera membilas dirinya. Air dingun pun mengenai kulit kepalanya yang terasa panas. Sensasi yang sangat is sukai.
Ia berjalan menuju meja dan melahap telur ceplok dan nasi hangat yang Tsunade buat untuk nya.
Hinata sedang membantu Tsunade mencuci piring dan alat masak yang dipakai untuk memasak.
Naruto menghentikan makannya dan beranjak bangun, ia menatap makanan Hinata yang belum disentuh, kelihatannya sudah dingin.
Ia menghampiri Hinata dan menyentuh bahunya.
Hinata tersentak.
"N-Naruto…" Ia terbata.
"Hei, makanlah saja. Biar aku yang lakukan." Naruto tersenyum hangat.
"O-oh baiklah…" Hinata mengangguk dan mencuci tangannya. Ia menghampiri meja dan duduk untuk makan.
Naruto kemudian mencuci alat masak yang Hinata pakai dan mencuci piringnya.
Setelah Hinata selesai sarapan, Naruto pun mengambil piringnya dan mencucinya.
"Ah, tidak perlu Naruto…" Hinata menahan tangannya.
"Tidak apa-apa Hinata, lagian kau yang memasak." Naruto tersenyum dan tertawa.
'Lelaki ini…' Batin Hinata, kemudian ia tersenyum lembut.
"Terimakasih Naruto."
Naruto menghentikan gerakannya ketika melihat senyuman lembut Hinata. Wajahnya terlihat sangat menawan.
"Naruto! Cepat berangkat hari ini kau ada misi bukan? Eh- Sepertinya kalian perlu privasi…"
Tsunade tersenyum dan tertawa kecil sembari meninggalkan mereka.
"Nenek!" Wajah Naruto merah padam, begitu juga dengan Hinata.
Tsunade tertawa dan pergi menunggalkan ruang makan.
"M-maafkan nenekku, ia memang selalu seperti itu." Naruto menghela nafas sembari menggaruk kepalanya.
"Tidak apa-apa Naruto…" Hinata mengangguk.
"Aku pergi dulu Hinata, aku ada misi bersama Shikamaru hari ini…"
Hinata mengangguk. "Aku akan berlatih bersama timku. Hati-hati Naruto."
Naruto tersenyum dan menggangguk.
"Tentu saja." Ia meringis dan pergi.
Malam sudah larut ketika Naruto pulang ke rumah. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian menjalankan misi bersama Shikadai, yaitu membahas strategu dengan Nanadaime. Ia membuka pintu dengan perlahan, mencoba tidak menimbulkan suara. Namun, begitu ia masuk, aroma teh hangat menyambutnya.
Hinata duduk di meja dengan teko kecil di hadapannya. Ia tersenyum lembut.
"Selamat datang, Naruto."
Naruto menggaruk kepalanya, sedikit canggung. Ia masih belum terbiasa dengan kehangatan seperti ini. Sejak kecil, tak ada yang menunggunya pulang.
"Eh… Aku pulang," katanya, lalu mendekat.
Hinata menuangkan teh ke dalam cangkir dan menyodorkannya kepadanya.
"Kau pasti lelah. Minumlah, ini akan menghangatkan tubuhmu."
Naruto mengambil cangkir itu dengan ragu. Tangannya bersentuhan dengan tangan Hinata, dan ia refleks menariknya. Wajahnya sedikit memerah.
"Terima kasih…" ujarnya pelan.
Hinata hanya tersenyum, lalu bangkit.
"Aku akan menyiapkan air panas untuk mandimu."
Naruto ingin mengatakan bahwa ia bisa melakukannya sendiri, tapi Hinata sudah berjalan pergi. Ia menatap punggung istrinya, merasa aneh dengan perhatian yang diterimanya. Bukan karena ia tidak menyukainya—hanya saja, ini baru baginya.
Tiba-tiba, suara gemerisik terdengar dari jendela belakang. Instingnya langsung siaga. Ia menaruh cangkir dan bergerak ke arah suara itu.
Bayangan bergerak di luar jendela.
Naruto menyipitkan mata dan hendak membuka jendela untuk memeriksa, tetapi tepat saat itu—
CRASH!
Sebuah batu dilempar dengan kuat, menembus kaca jendela dan menghantam lengan Naruto.
"Ugh!" Naruto mengerang, mundur selangkah. Ia merasakan perih di kulitnya—sebuah luka gores tercipta akibat pecahan kaca yang tajam.
"Naruto!" Hinata segera berlari ke arahnya, ekspresinya berubah khawatir saat melihat lengannya berdarah. Namun, Naruto justru mengambil batu yang jatuh ke lantai.
Ada sesuatu yang dibungkus di sekelilingnya—secarik kertas.
Dengan cepat, Naruto melepaskan ikatan dan membuka kertas itu. Tulisan tangan kasar tergores di atasnya:
"Kalian seharusnya tidak menikah. Ini baru awal. Kami akan datang lagi."
Ekspresi Naruto berubah serius.
Hinata mengaktifkan Byakugan, matanya segera menyapu area sekitar. Dengan suara pelan tapi penuh ketegangan, ia berkata, "Ada seseorang yang bergerak menjauh… dari arah hutan."
Naruto mengepalkan tinjunya.
"Kalau begitu, kita tidak bisa santai-santai. Aku akan menghadapi mereka."
Namun sebelum ia bisa bergerak, Hinata sudah berdiri di sampingnya, tatapannya tegas.
"Kita akan menghadapi mereka bersama."
Naruto terdiam sejenak, lalu mengangguk. Luka di lengannya masih berdarah, tapi ia tidak peduli. Ancaman ini bukan hanya untuk dirinya—ini adalah peringatan bagi mereka berdua.
Di luar, bayangan kembali bergerak. Ancaman sudah ada di depan pintu mereka.
Hinata berlari di belakang Naruto, cakra kyuubi menyisip keluar dari tubuhnya.
Hinata menyaksikan sejumlah cakra yang amat sangat banyak keluar dari tubuh Naruto.
'Dia..sangat kuat' Batin Hinata.
"Hinata, apakah kita masih bisa mengejar mereka?"
Hinata mengangguk, "Kita hampir mengejarnya!"
"Baiklah!"
Mereka pun berlari dengan cepat dan berhasil mengejar sang penyusup.
"Tunjukan dirimu!"
Teriak Naruto.
"Disana!" Hinata menunjuk keatas pepohonan.
Naruto pun melompat keatas dan mengeluarkan jutsu kage bunshinnya.
Sang penyusup tersenyum.
"Kalian berhasil mengejarku, hebat sekali."
Ia tertawa lebih kencang.
"Apa maumu?!" Naruto berteriak.
"Kalian para Uzumaki meracau saja!" Ia berteriak.
"Ah jadi ini sang putri Byakugan yang ternama itu…? Menyusahkan sekali jadinya ketika kau menikahi lelaki dengan sebuah rubah ekor sembilan didalamnya."
Sang pria berdecih.
"Kau menyia-nyiakan mata indah mu itu, nona Hyuuga. Matamu bukan milikmu. Bersiaplah kehilangan penglihatanmu dalam kegelapan."
Sang pria itu membuka sebuah portal dan melompat pergi.
"Aku tidak bisa melacaknya lagi."
Hinata mengerenyitkan matanya, berusaha mencari pria itu dengan byakugannya.
"Sial mereka melarikan diri." Naruto berdecih dan melompat turun dari pohon.
"Naruto…Tanganmu…" Hinata melihat tangan Naruto yang terluka.
"Ah tidak apa-apa Hinata, sebentar lagi luka ku akan pulih." Terkekeh dan menenangkan Hinata.
"Lagi pula ini hanya luka kecil, jadi kau tidaj perlu khawatir." Naruto tertawa kecil.
Hinata mengambil sebuah pleseter dari kantongnya dan menutup lukanya dengan itu.
"Terimakasih Hinata." Naruto tersenyum.
"Tentu saja."
Mereka pun kembali pulang.
Hinata melihat bathtub di kamar mandi yang telah ia isi dengan air panas, sekarang telah dingin.
Ia pun menguras nya dan mengisinya kembali dengan air panas.
Naruto melepas ikat kepala dan jaketnya. Ia melihat Hinata yang sedang mengisi bathtub dengan air panas.
'Dia terlalu rajin' Naruto menghela nafasnya dan menghampiri Hinata.
"Kau tahu kan kalau kau tidak perlu melakukan itu?"
"Ah, tidak apa-apa…kau pasti letih karena misi tadi." Hinata tersenyum dan menutup kran air nya.
"Terimakasih."
Hinata pun pergi membersikan pecahan kaca yang ada di lantai.
Setelah Naruto selesai mandi, ia mendapati Jiraiya yang sedang merokok di balkon.
"Eh Naruto, apa yang terjadi dengan jendela di dapur?" Tanya Jiraiya.
"Sepertinya…ada yang tidak senang dengan pernikahan antara aku dan Hinata kakek."
Jiraiya menatap Naruto, "Apa? Memangnya kenapa?"
Naruto kemudian menceritakan semuanya kepada Jiraiya.
"Wah…ini berbahaya, terutama untuk Hinata."
Jiraiya memegang dagunya dan berpikir keras.
"Kira-kira siapa yang mengirimnya ya?"
Naruto menghela nafasnya.
"Aku khawatir akan keselamatannya."
Jiraiya tersenyum. "Apakah aku mendengar dengan benar? Kau mulai peduli dengannya." Jiraiya tertawa, Naruto yang kesal memukul perut Jiraiya.
"Aku tidak pernah dipedulikan seperti ini kakek…"
Naruto melamun.
"Kau selalu pergi bertapa dan berlatih, dan nenek selalu lembur karena menjadi Hokage dan setelah pensiun, ia selalu berada di rumah sakit. Aku selalu makan ramen instan dan mandi dengan air dingin karena tidak sabar."
Naruto tersenyum lembut.
"Maafkan kakek Naruto, mungkin kakek kurang menghabiskan banyak waktu denganmu."
Naruto menggelengkan kepalanya, "Tidak apa kek, aku mengerti."
Jiraiya mengangguk. "Lindungilah dia, Naruto."
"Ya, aku ingin melindunginya."
Jiraiya tersenyum dan tertawa bangga.
"Ngomong-ngomong di kediaman Uzumaki ada sebuah rumah kosong milik mendiang inu dan ayah mu. Kalian bisa tinggal disana jika kalian mau."
Naruto menatap jiraiya.
"Jika aku pergi, siapa yang akan menjaga Hinata? Lebih baik tinggal disini karena ada nenek dan kakek."
Jiraiya tertawa, "Kau tidak salah, tapi Hinata tidak selemah itu Naruto, dia kan seorang Hyuuga."
"Aku tetap khawatir." Naruto memalingkan wajahnya.
"Yasudah, pindahlah jika kalian sudah siap. Sementara itu, kenapa kalian masih tidur terpisah? Pindahlah ke kamarnya."
Wajah Naruto merah padam.
"Eh anu…"
Jiraiya meringis, "Oh jadi kalian belum-"
"Kakek!" Naruto berteriak.
...
Halo semuanya, akhirnya author bisa update lagi, kalau ada yang kurang kalian bisa kasih saran ya!
