Mask
AU, Gaje, Smart!Naru, Eyd tidak sempurna, Etc.
Sebuah tulisan dari Author baru.
Note : sebelumnya, terima kasih atas dukungannya semua, terutama yang telah Fav, Foll maupun mereview fic ini. Pertama, ini bukanlah Isekai, bukannya kalau Isekai itu adalah dimana tokohnya terlempar atau berada di dunia baru? Jadi, saya menganggap jika ini bukan lah Isekai, karena dicerita saya, tempat ini adalah tempat asli naruto #CMIIW
Kedua, Tentang Alurnya yang menurut senpai kecepatan, saya berterima kasih atas kripiknya senpai, saya sangat berterima kasih, karena Senpai mau memberikan pengarahan pada saya, dan saya akan, berusaha untuk memperbaikinya.
Mungkin dua hal ini dulu yang saya sampaikan, selebihnya mungkin dibawah atau tidak, next chapter.
Fix! Story Begin's
Let's go_
-Chapter 2-
Naruto mengingat betul akan peristiwa empat tahun lalu dimana dia berada diumur 12 tahun, saat dia merasakan apa namanya memperingati hari kelahiran dan juga dimana 12 tahun lalu Kushina Uzumaki pernah berjuang dalam hidup mati untuk melahirkan dirinya. Naruto fikir, kasih sayang seorang ibu itu memanglah sempurna, seburuk apapun anaknya pasti sang ibu akan terus menyayanginya.
Tapi anggapan itu seperti semu belaka, seperti ya, anggaplah seperti sebuah kaca yang dilempar oleh sebuah batu dan langsung pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang mustahil untuk dirakit kembali begitu saja. Dan hal itu adalah hal yang paling menyakitkan seumur hidupnya, sangat-sangatlah mustahil untuknya melupakan peristiwa 4 tahun lalu dimana ibunya sendiri berteriak keras padanya dan mengutuk keras dia hanya karena dia meminta sebuah ucapan selamat ulang tahun. Padahal, jika itu saudaranya pastilah tanpa dimintapun akan ada sebuah perayaan besar sebagai perayaan.
Mungkin saja, semua akan berbeda jika dia terlahir dengan bakat hebat seperti 3 saudaranya, mungkin saja dia akan mendapat perhatian lebih dari orang tua, klan dan juga masyarakat hingga dia dapat berdiri berdampingan bersama saudaranya. Namun Naruto tahu, kata 'Mungkin saja' itu hanyalah perkataan dari seseorang yang begitu mendambakan perhatian dan kasih sayang, seperti dirinya 4 tahun lalu.
Akan tetapi nampaknya dia juga harus bersyukur, karena pada saat yang sama dia bertemu dengan seseorang yang telah merubah segala sudut pandangannya, membuat ruang kosong dalam hatinya terisi dengan sendirinya oleh sebuah kekuatan bernama tekad karena nasehat juga perkataan halus yang sosok itu ucapkan. Naruto yang saat itu masihlah anak-anak mulai mengerti apa makna keteguhan dan juga kekuatan dari sebuah tekad, dan hal itulah yang menjadikan mentalnya sekuat baja dalam menahan semua cacian merendahkan yang selalu jatuh padanya.
Naruto belajar banyak hal dari orang itu, mulai cara bertarung tanpa harus bertumpu pada Mana dan juga memanfaatkan kelemahannya sebagai kekuatan terbesar miliknya. Empat tahun terakhir bukanlah hal mudah untuk merubah dia yang dulu menjadi sosok dirinya sekarang, membutuhkan sebuah proses panjang dan juga perjuangan keras hingga dia bisa menerima sebuah benda berharga dari orang yang telah dia anggap guru itu.
Seorang Lord Wizard petinggi dari Kingdom Of Magic yang telah rela untuk meluangkan waktu menemani seorang anak yang dicap gagal oleh klan dan orang tuanya sendiri, membimbingnya bahkan telah menganggap dirinya sebagai seorang anak biasa tanpa memandang klan maupun kekurangannya..Dia menjadi Idola dari Naruto, sebuah panutan juga pemberi harapan pada orang gagal seperti dirinya.
'Di dunia ini tidak ada anak gagal, Naruto-kun. Semua diciptakan atas kekurangan dan kelebihan mereka masing-masing."
Perkataan lembut dari orang yang telah dia anggap sebagai sosok ayah membuat dirinya merasa diakui oleh Seorang Wizard terkenal, Lord Sarutobi Hiruzen.
Namun kenangan itu seolah runtuh, hancur menjadi serpihan kecil yang melukai Naruto. Ia, berduka hari ini, orang yang telah dia anggap ayah itu berpulang menghadap sang Kuasa serta meninggalkan dirinya untuk selamanya. Menangis?, tidak-bukan itu yang terlihat, dikerumunan tengah kota yang tengah berada pada suasana duka itu dia hanya dapat mematung dengan memandang foto sosok itu dalam diam.
"Lord Sarutobi telah meninggal, beliau meninggal dalam insiden dimana penyusup golongan Satan berhasil masuk keistana dan meracuni minumannya."
Perkataan dari komandan pasukan kerajaan itu menggema, banyak dari kerumunan mengutuk aksi yang dilakukan golongan penjahat itu, sebuah geraman dilakukan semuanya sebagai bentuk kemarahan yang sangat pada kelompok itu. Tapi, tidak dengan Naruto yang hanya menatap kosong ke depan sebelum dia memilih berbalik dan berjalan menembus kerumunan, hanya beberapa saat hingga selanjutnya ia telah menghilang tenggelam dalam lautan manusia-Wizard disana.
Seorang pria berdiri di samping rangkaian bunga duka dengan pakaian Yukata putih dan juga perban menutup salah satu tangannya sampai batas bahu, iris coklatnya menatap kerumunan rakyat yang tengah berduka atas meninggalnya seorang Hiruzen Sarutobi yang merupakan sosok petinggi kerajaan sekaligus kakaknya.
Danzo Sarutobi, Saudara kandung dari Hiruzen Sarutobi itu memandang lurus ke depan dan memperhatikan kumpulan warga yang tengah dalam keadaan hening memanjatkan doa pada sang dewa untuk kakaknya. Namun, Danzo tidak memperhatikan hal itu dan sibuk mengedarkan atenshi ke semua penjuru hingga pada akhirnya mata coklatnya terhenti saat bertemu dengan punggung seseorang bersurai pirang dengan setelan Blazer khas School Of Kingdom.
Lingkaran sihir muncul disamping telinganya, sangat samar sampai tidak akan ada yang dapat mengetahui jika muncul lingkaran sihir yang memang dia ciptakan untuk berkomunikasi dengan seseorang.
"Arah jam 1, rambut pirang."
"Dimengerti."
Danzo menghilangkan sihir yang dia gunakan lalu membuang nafas pelan sebelum memandang ke atas langit datar. "Apa yang kau sembunyikan dariku, Hiruzen?"
-Break-
Buk!
Buk!
Buk!
Pukulan cepat melayang ke arah batang pohon besar yang berada di depan gubuk kecil itu, suasana suram dengan awan gelap di langit seolah mewakili perasaan dari Uzumaki bungsu yang kalut atas wafatnya seorang Hiruzen Sarutobi. Tangan kokohnya berkelit dan memukul batang pohon yang selalu dia gunakan untuk berlatih itu, menggunakan kecepatan yang cukup untuk membuat seseorang kewalahan dalam mengatasi pukulannya, ia berakhir mendaratkan pukulan keras sebelum sekelebat ingatan terlintas dibenaknya.
"Memukullah menggunakan otak, bukan otot."
Buk!
"Tetaplah fokus dan tenangkan fikiranmu karena fikiran yang tenang akan dapat membuat pukulanmu menjadi lebih sempurna."
Buk!
Krrr!
Batangan kayu itu semakin terkikis oleh pukulan-pukulan Naruto, sebuah cekungan yang hampir menembus sisi lain dari batang kayu itu sendiri membuktikan bagaimana serangan yang didapat batang kayu begitu besar. Tidak berhenti dan semakin mempercepat pukulannya, pandangan sedingin es itu semakin menajam dengan gemeletuk rahang yang semakin terkatup rapat.
"Amarahmu itu tidak akan berguna dalam pertempuran."
Sekelebat kilas balik dimana Sarutobi melatih dirinya muncul bagai kaset rusak yang terus terulang, berputar secara abstrak di dalam kepalanya dan membuat dia semakin kalut. Pukulan Naruto melemah seiring pandangan dingin itu berubah menjadi tatapan sendu dengan air mata menetes dari kelopaknya, kali ini dia tidak dapat menahan kesedihan yang dia tanggung.
Naruto mengusap kelopaknya kasar, "Aku tidak mengerti maksudmu mengapa mau melatih diriku ini, A-aku.," Dia bahkan tidak tahu akan kelanjutan dari ucapannya, dia terlalu larut dalam duka bahkan untuk berfikir jernih.
Tap!
Kehadiran seseorang mengejutkan Naruto, ia berputar kebelakang dan menatap sosok yang baru saja hadir disini, hal yang cukup mengejutkan karena tidak ada yang pernah tahu akan tempat ini kecuali Hiruzen, selain itu Hiruzen sendiri juga berjanji tidak akan pernah memberitahukan lokasi ini pada siapapun.
Naruto mengesampingkan keterkejutan itu, dia sendiri memandang penuh bahaya pada dua orang berjubah hitam yang menutupi seluruh tubuh mereka kecuali tangan mereka yang memakai cincin berbentuk sama. Naruto mengobservasi hal itu dan meneliti dari informasi yang dia peroleh sebelum dia mulai menyadari siapa dua sosok ini.
"Divisi pengintai, apa yang kalian inginkan?" Naruto berujar rendah, ia cukup tahu mengenai salah satu Divisi yang diperintah saudara dari Hiruzen ini, sebuah Divisi khusus untuk mengintai beberapa wilayah yang memiliki kemungkinan adanya golongan Satan, Divisi yang memiliki ciri khas yaitu memakai benda yang sama di anggota tubuh mereka yakni cincin berbentuk kobaran api di jari mereka,
"Uzumaki, Naruto?"
Naruto semakin mengernyit tidak mengerti setelah salah satu sosok disana bersuara menyebut namanya, dan anehnya dia mengetahui marganya, mungkinkah mereka suruhan Minato yang diutus untuk menghabisi dirinya? Mungkin saja mengingat 'ayah'nya yang merupakan Jenderal di kerajaan dan memiliki komando atas pasukan kerajaan, pasti dia yang mengirim mereka untuk mengakhiri hidupnya,; Naruto mengumpat dalam hati saat memikirkan itu.
"Uzumaki Naruto-"
Panggilan itu berhenti ditengah karena si pemilik suara tersentak akan kedatangan Naruto dari udara, berbekal pukulan yang siap dilayangkan, pemuda itu menerjang salah satu dari mereka. sosok yang diserang Naruto sedikit menggerakkan tubuh kesamping, membiarkan Naruto menerjang lurus kebelakangnya sebelum berguling dipermukaan tanah.
"Uzumaki Naruto-"
"Bantu aku, Murasame!"
Naruto yang telah menggenggam katana Murasame memandang mereka berdua tajam, menarik gagang Murasame sebelum kembali melesat ke arah dua makluk tadi. Naruto mencoba berlari zig zag memotong jarak antara mereka dan melakukan sedikit tipuan mata dimana dia bergerak kekiri dan menyerang mereka dari samping.
Salah satu sosok yang berpostur lebih pendek mengangkat tangan kesamping, darisana muncul lingkaran sihir ukuran sedang yang memicu munculnya dinding es tebal melindungi mereka dari tebasan Naruto.
Sedikit terkejut, Naruto menarik Murasame dan melompat kebelakang. "Magic descent : Ice Element? K-kau anggota klan Yuki?!" Tanya Naruto terkejut karena setaunya klan itu telah runtuh beberapa tahun lalu ketika salah satu anggota mereka memilih bergabung dengan anggota Satan dan membunuh semua anggota klan.
Sosok yang dimaksud terdiam sesaat dan menatap rekannya sebentar, membuang nafas pelan sebelum ia membuka hoddie yang menutup kepala. "Aku adalah Haku, anggota Divisi Pengintaian dan sekaligus anggota Yuki yang selamat dari insiden 10 tahun lalu."
Seorang perempuan, setidaknya itu yang dapat Naruto simpulkan setelah melihat wajah cantik sosok itu. Naruto tetap bersiaga, walau perempuan itu telah menunjukkan wajah dan identitas, namun tidak ada yang menjamin jika dua Wizard ini tidak akan menyerangnya.
"Tenanglah sedikit, Uzumaki Naruto." Rekan Haku bersuara, melakukan hal sama seperti Haku, dia juga melepas Hoddie miliknya. "Namaku Pakura, dan Kami tidak akan macam-macam karena kami hanya akan berbicara denganmu."
Naruto terdiam melihat keduanya, gesture tubuh santai yang mereka perlihatkan setidaknya cukup untuk Naruto menghentikan serangannya dan menyarungkan kembali Murasame, karena walaupun pertarungan mereka dilanjutkan tentu saja sudah dipastikan siapa yang akan keluar menjadi pemenang. Naruto mendengus dalam hati dan berjalan santai menuju gubuk kecilnya setelah melewati dua wizard tadi.
"Kami datang atas perintah Danzo-sama-"
"Cukup, aku sudah tau akan siapa atasan kalian. Sekarang, suasana hatiku sedang buruk, jadi tidak perlu menambahkan sesuatu yang membuatku semakin memburuk."
Naruto memanggul tasnya setelah mengikatkan Murasame dibelakang punggungnya, ia melangkah ke depan dan akan melewati dua wizard tadi jika saja Haku tidak menghentikan dengan menahan bahunya.
"Lepas." Ujar Naruto sembari melirik Haku dingin,
"Tidak sampai kau mendengarkan kami!"
"Lepas!"
"Dengarkan kami dulu!"
Naruto menampar tangan Haku kasar, tanpa memandang perempuan itu ia berlalu dengan wajah keras.
Pakura yang melihat hal tersebut mendesah pelan, hilang sudah cara baik-baik yang akan mereka gunakan, karena dengan melihat kekerasan kepala pemuda itu, maka cara kedua harus dilakukan. Pakura membentuk sebuah Line Magic di punggungnya, tiga Line Magic nampak tercipta dan memunculkan tiga bola berapi yang terasa begitu menyengat. "Haku, bantu aku." Pakura memandang Haku yang langsung mengangguk mengerti dan menciptakan satu line Magic di tangannya.
"Ini peringatanku yang terakhir, Uzumaki Naruto!"
Naruto menghentikan langkahnya, membentuk kepalan tangan hingga kuku tangan itu memutih. "Sudah kukatakan, aku tidak ingin mendengar apapun!"
"Baiklah, terpaksa kami melakukan hal ini, Haku!"
"Mengerti!"
Naruto mendecih kesal, melempar tasnya sembarang arah lalu ia menarik gagang Murasame dan menahan Haku yang berada didepannya dengan sebuah pedang es. Dalam keadaan beradu pedang, keduanya saling menatap dalam diam sebelum Naruto menghentikan pandangannya dan melompat mundur.
"Line Magic : Fireball!"
Naruto melirik kesamping kanan dan kiri dimana dua bola api menyerangnya dari dua arah, sedikit menekuk lututnya lalu melompat ke udara, membuat dua serangan tadi menabrak satu sama lain dan menciptakan ledakan cukup besar. Belum berakhir, Naruto terpaksa membulatkan matanya melihat sosok Haku yang telah berada di atasnya dengan menebaskan pedang es padanya.
Reflek Naruto bergerak cepat dan menahan tebasan itu dengan Murasame, namun itu belum cukup karena tetap saja, tebasan biasa akan kalah jika beradu dengan tebasan menggunakan Mana yang terkonsentrasi. Tubuh Naruto meluncur keras kebawah, menghantam permukaan tanah itu sendiri hingga darah ia muntahkan ke udara sebagai damage yang dia terima,
"Tch!" Berdecih mengetahui dirinya kalah begitu mudahnya, apalagi dalam beberapa serangan saja, ia bertanya-tanya, Apakah, semua latihannya belum cukup? Lalu, untuk apa dia berlatih jika pada akhirnya dia tetap jatuh seperti ini? "Dengan kau mati, kau menunjukkan sendiri bahwa semua ini tidak ada gunanya, Hiruzen. Semua yang kau katakan padaku hanyalah omong kosong!"
Kedua perempuan tadi dapat mendengar teriakan putus asa dari Naruto, keadaan menyedihkan yang hanya dapat mereka lihat dari pemuda itu. Saat ini, mereka bahkan bingung mengapa Sarutobi Hiruzen memberikan Murasame pada pemuda menyedihkan seperti Naruto, karena sejatinya Murasame adalah pedang kerajaan yang amat berharga dan hanya boleh dimiliki anggota Sarutobi saja. Akan tetapi, menurut informasi dari pimpinan mereka, ternyata Murasame telah diberikan pada salah seorang murid dari Hiruzen yang berasal dari klan Uzumaki.
Ketika melihat Naruto, mereka sudah tahu jika bakat wizard dari anak itu berada pada tingkat nol, jauh dari bayangan mereka sebelum melihat sendiri sosok Uzumaki Naruto dengan mata mereka sendiri, dan itu artinya Naruto secara tidak langsung telah mempermalukan nama baik Uzumaki sebagai salah satu klan elit di dunia. Tapi, bagaimana anak seperti ini bisa mendapatkan kepercayaan dari sosok Hiruzen? Sungguh mereka tidak mengerti akan pemikiran wizard itu.
"Sudah kukatakan, kami hanya ingin bicara." Pakura berucap pelan, dan disusul ucapan dari Haku.
"Kami hanya ingin menyampaikan pesan yang diberikan Hiruzen-sama untukmu." Sahut Haku dan mengeluarkan sebuah surat dari dalam jubahnya.
Sementara Naruto segera menarik tubuhnya, menahan dengan bertumpu pada Murasame dan memandang keduanya. "Apa yang kalian maksud?"
"Pertama, Kami akan menyampaikan kebenaran tentang kematian Hiruzen-sama dan sebuah pesan untukmu."
"Kebenaran?"
"Ya, Kebenaran tentang kematian yang disebabkan oleh orang dalam, kami masih menyelidiki hal ini namun orang itu begitu cerdik dengan meracuni Hiruzen-sama dengan sebuah Curse Magic milik Satan, kemungkinan, Hiruzen-sama tahu akan hal ini dan mencoba menyelidikinya sendiri mengingat sifat tidak mau merepotkan orang lain yang dia miliki."
Haku menjelaskan dengan nada serius, mengingat setiap detil dari hasil penyelidikan yang dia peroleh. Sebenarnya Haku dilarang mengungkapkan semua penyelidikkan pada orang luar Istana karena pihak istana takut jika hal itu akan membuat panik masyarakat, apalagi mengingat bahwa ancaman dari Satan itu begitu besar, belum lagi beberapa pemberontak yang mulai makin memanas.
Pakura sendiri menatap Haku intens, sebelum dia berbalik dan melihat Naruto yang sedang memasang raut wajah keras.
"Kelompok Satan, Aku pasti akan menghancurkan mereka," desis Naruto dan langsung membuat wajah Pakura heran.
"Jika kau berkata ingin membunuh mereka, itu mustahil karena kelompok Satan bukanlah kelompok orang lemah, mereka adalah penganut Dark Magic dimana itu adalah Magic dengan kekuatan yang dasyat." Pakura menanggapi ucapan Naruto dan memandang pemuda itu datar, "Walau kau memegang senjata kerajaan, Murasame, kau akan tetap dikalahkan bahkan tanpa memerlukan satu pun sihir dari mereka. Jangan berfikir karena kau memegang salah satu senjata terkuat, kau akan bisa menjadi seorang yang superior, kau salah. Karena dibandingkan ketiga saudaramu, kau itu hanya diibaratkan sebuah butiran pasir ditengah samudra."
Naruto merespon ucapan itu dengan raut wajah berubah dingin.
"Begitu, baik. Lalu apa pesan darinya?"
Naruto kembali berkata, ia mulai mendirikan tubuhnya dan menyarungkan Murasame. Mendengar pertanyaan Naruto, Haku menyodorkan sebuah kertas pada pemuda itu dan diterima langsung oleh Naruto.
"Semua pesan beliau ada disana, dan maaf kami harus segera kembali."
Naruto tidak memperdulikan perkataan kedua perempuan itu, bahkan dia hanya memandang kertas ditangannya tanpa ekspresi. "Terima kasih." Ujarnya dan melenggang pergi membuat dua perempuan tadi menatapnya tidak mengerti.
"Aku masih tidak mengerti mengapa Hiruzen-sama menjadikan anak itu sebagai murid."
"Ya, Haku, dibandingkan dia kurasa Konohamaru yang selaku anaknya lebih pantas menerima Murasame dibanding dia."
Haku mengendikkan bahu menanggapi ucapan Pakura, ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru dimana terdapat kerusakan besar terjadi pada tempat itu. Lubang menganga pada sebuah batu, potongan pohon raksasa yang berserakan di sekitar tempat itu serta yang paling mengejutkan adalah dia dapat merasakan sebuah pancaran energi berat setelah Naruto pergi dari tempat itu.
Mata Haku berkedip pelan menyadari suatu hal yang baru saja menghantam kepalanya, dengan sedikit gerakan kepala dia memandang Pakura serius. "Kurasa, aku mulai mengerti mengapa Beliau sampai melatih anak itu."
-Scene Break-
Di mansion megah dengan ruangan besar, tawa sebuah keluarga nampak menggelegar disana, tawa dari beberapa anggota keluarga Uzumaki Minato dan sang istri. Wajah-wajah ceria terlihat cerah dan menambah suasana bahagia pada ruang tempat berkumpulnya keluarga sang Lord Minato.
Para pelayan sibuk berlalu lalang menyiapkan makanan serta keperluan dari tuan mereka, sebuah jamuan besar untuk keluarga Uzumaki telah tersedia lengkap di meja makan panjang disana. Minato Uzumaki, kepala keluarga sekaligus pemimpin klan itu terkekeh mendengar cerita dari anak lelakinya, iris birunya sesekali memandang anak sulung sebagai respon atas ucapan anaknya.
"Naruko-chan! Taruh bukumu dan cepat makan! Menma, berhenti bercanda dan kau juga Minato! Ajari anak-anakmu ini dengan benar!" Wanita cantik berambut merah panjang berkata kesal, dan itu dibalas oleh pemuda bersurai merah spike dengan dengusan malas.
"Iya, Okaa-sama..."
Minato kembali terkekeh mendengar ucapan Menma yang terkesan ogah-ogahan, dan Karin tertawa renyah. Berbeda dengan yang lain, perempuan bersurai pirang dan merah pada ujung rambut yang duduk berseberangan dengan Menma memandang semuanya malas, iris birunya kembali menatap bukunya.
"Naruko, bagaimana sekolahmu?"
"Hm, biasa, tidak ada yang menarik,"
"Lalu, bagaimana dengan perkembangan dari Rule Magic milikmu?"
Naruko melirik ayahnya seraya menurunkan buku miliknya, topik yang berhasil menarik perhatiannya itu membuat ia mendesah pelan dan memasang raut wajah malas. "Entahlah Tou- sama, akhir-akhir ini aku merasa sedikit bingung, aku tidak tahu kenapa akan tetapi aku merasakan rasa sakit di sini." perempuan Uzumaki itu menunjuk dadanya sendiri, dimana dia merasakan rasa sesak teramat sangat didalam sana.
Dalam beberapa hari ini entah mengapa Naruko merasakan perasaan sedih dan tertekan, dimana dia tidak dapat memikirkan apapun selain rasa ingin menangis. Saat di keramaian pun, dia merasa seperti berada dalam ruang kosong dimana dia sendiri yang berada disana. Lebih buruk lagi, fikirannya hanya terpaku pada seseorang, seseorang yang paling tidak dia inginkan untuk berada difikirannya.
"Paling dia memikirkan si Sasuke-Teme." Celetuk Menma.
Naruko menarik nafasnya singkat dan mulai mengangkat tubuh berdiri, "maaf, aku akan kembali ke kamar, selamatmalam tou-sama, okaa-sama.." Ujarnya berjalan pergi tanpa menghiraukan teriakan sang ibu yang menyuruhnya kembali.Sepeninggalan Naruko suasana menjadi hening, para pelayan pun tidak ada yang berani membuka suara.
"Ada apa dengan adikmu Karin?"
Pertanyaan Minato membuat kernyitan di dahi perempuan berkacamata, ia mengendik pelan sebagai jawaban atas pertanyaan sang ayah. Oh, ayolah, dia bukanlah wizard dengan waktu luang hingga bisa mengawasi semuanya, apalagi adik perempuannya itu, gez! Bahkan dia sendiri tidak mengerti akan jalan pemikiran Naruko sendiri. Karin melanjutkan acara makannya tenang, sedangkan Minato memijit pelipis kepalanya.
"Haaahh~Aku akan berbicara dengannya nanti."
-Mask-
Bersandar pada daun jendela yang mengarah langsung pada pemandangan alam di sekitar Mansion, kamar yang terletak pada lantai teratas dari mansion megah Uzumaki membuat Naruko bisa melihat suasana malam lebih jelas. Ketenangan, itulah yang dia butuhkan karena fikirannya tengah kacau saat ini.
Beban yang tidak tahu darimana asalnya begitu menyiksa, perasaan kesepian yang teramat sangat terus menghantui dirinya. Dan dari semua itu, hal yang lebih mengesalkan adalah dia selalu memikirkan seseorang yang membuat dirinya muak.
Uzumaki Naruto, merupakan saudara-Tidak bukan, bahkan dia tidak akan mengakuinya sebagai saudara. Apa yang akan dikatakan semua orang dan teman-temannya jika dia memiliki saudara seburuk Naruto? Wizard terlemah yang hanya dapat melakukan pekerjaan seorang pelayan sebagai kesibukan dan menghabiskan waktunya hanya untuk melatih tubuh yang Naruko fikir tidak ada gunanya.
Naruko mendengus kesal seraya mengacak surai pirangnya kasar, "Gzzz-mengesalkan," Desah gadis itu, iris biru memandang langit malam lagi untuk beberapa saat sebelum sebuah siulet seseorang mengejutkan dirinya, alis mata mengernyit melihat sosok itu berada di bangunan tertinggi mansion yang merupakan atap dari bangunan ini. "Pencurikah?" Ujarnya dan segera membentuk sebuah Rule Magic di luar kamar, semacam lempengan melayang di hadapannya dan tanpa menunggu lebih lama dia melompat dan menaiki lempengan itu.
Naruko melayang pelan diudara mendekati tempat berdirinya sosok itu, Rule Magic yang menjadi ciri khasnya yaitu dapat membentuk semacam lempengan terbang dia gunakan, berusaha sepelan mungkin berada dibelakang atas sosok itu, Naruko dapat melihat jelas surai pirang yang berkibar kebelakang tersapu angin dan itu membuat Naruko terdiam sendiri saat menyadari siapa sosok itu, hingga pada akhirnya dirinya agak terkejut karena pergerakan dari sosok tersebut yang melirik ke arahnya,
"Kau!?"
Naruto melihat respon saudaranya dingin, sama sekali tidak memperdulikan sosok Naruko yang sedang memandangnya tajam. Pandangannya beralih pada sepucuk surat ditangannya lalu mengadah ke langit, tatapannya berubah damai dengan mata terpejam lembut. 'Terima kasih banyak atas semua yang kau berikan padaku, Sarutobi-san,. Atas waktu dan pengorbanan yang kau lakukan ini, aku berjanji demi dirimu dan juga janji yang kuberikan pada Murasame untuk meraih kemenangan bersama, aku, pasti akan menjadi lebih kuat!'
Diamnya Naruto membuat perempuan itu mengeraskan rahangnya, akan tetapi dalam waktu singkat Naruko menyadari keadaan Naruto yang berbeda daripada hari-hari lalu. Sekarang, Naruko dapat melihat tas lumayan besar tertenteng di pundak Naruto dan sebuah Katana bersarung hitam legam terikat dibelakang punggung. Tunggu... Tas yang dibawa secara misterius juga sebuah katana aneh? Mau apa Naruto membawa benda-benda itu?
Naruko menyipitkan matanya dan menatap Naruto curiga.
"Mau apa kau dengan barang itu, pecundang?!"
Lirikan mata tanpa cahaya diberikan Naruto sebagai respon atas pertanyaan tajam saudarinya, sedikit lama dia mengamati wajah ayu dari Naruko sebelum kembali menatap ke depan dan melompat keluar dari area mansion Uzumaki, Naruto memanggul tasnya dan mulai melangkah dijalanan milik Klan Uzumaki.
"Tunggu! Kau belum menjawab pertanyaanku!"
Naruto terus berjalan tanpa menggubris teriakan Naruko yang telah menonaktifkan Rule Magic spesial dan berjalan dibelakangnya dengan pandangan marah. Setiap panggilan diabaikan oleh Naruto, fikiran yang tidak berada disini atau dengan kata lain ia tengah memikirkan hal lain, yaitu surat dari Sarutobi yang mengatakan masih ada tingkatan kekuatan dari Murasame.
'Tingkatan apa yang dimaksud, dan juga dua wisard tadi mengatakan Murasame begitu special, lalu apa yang membuatnya special? Sarutobi-san juga mengatakan jika aku ingin mengetahui rahasia Murasame, aku harus memahaminya lebih dalam.'
Naruto berfikir keras dengan otaknya, matanya terpejam erat mencoba memahami setiap pesan dari mendiang gurunya itu sebelum ia kembali membuka mata ketika tidak mendapatkan satupun jawaban. Naruto mengangkat tangannya dan memijit pelipis kepalanya yang terasa pening.
'Mengapa kau berbelit-belit, Sarutobi-san?'
Ujar Naruto sedikit kesal dengan sifat gurunya yang memang suka memberikan misteri untuk melatih dirinya, jika memang seperti ini maka terpaksa dia harus ke perpustakaan sekolah untuk mencari info mengenai senjata kerajaan ini. Padahal dia sangat malas untuk pergi ketempat itu karena sebuah alasan, tapi apa boleh buat karena ini juga demi dirinya sendiri.
"Hentikan langkahmu!"
Suara feminim menyadarkan Naruto dari alam khayalan, membawa iris senada dengan laut biru bergerak ke belakang dimana Naruko tengah mengeluarkan Line Magic spesial milik klan Uzumaki untuk mengikat tubuhnya. Sedikit mencoba bergerak, akan tetapi itu percuma karena Line Magic akan semakin mencengkram dirinya semakin erat dan membuat Naruto mengendurkan usahanya.
"Sekarang kau semakin sombong, eh?"
Ujar Naruko seraya mengendalikan rantai untuk membuat tubuh Naruto mendekat ke arahnya, rantai berwarna kuning dan merupakan perwujudan dari Line Magic : Parsial Chain itu berhenti di hadapannya, memberikan akses dua saudara itu untuk saling menatap tajam.
"Lepaskan aku."
Desisan Naruto ditanggapi tawa oleh saudarinya, dengan senyum sinis ia meraih tas yang tergantung pada rantai sihirnya sebelum membuka dan mengernyitkan dahi tidak mengerti setelah melihat isi didalamnya. Naruto hanya memandang hal itu datar, mau meronta pun percuma karena dia tahu jika rantai yang melilit tubuhnya ini tidak akan mampu dia lepaskan.
"Kau.. Untuk apa semua pakaian ini?!"
Naruto mendengus geli mendengar ucapan Naruko.
"Kau sudah tahu betul untuk apa semua itu."
"Bukan itu, bodoh! Tapi apa kau akan meninggalkan keluargamu, hah?!"
Keluarga? Sungguh lucu melihat Naruko mengatakan hal itu, serasa seperti ingin tertawa-itu yang Naruto rasakan... Pandangan Naruto berubah dari datar menjadi wajah sinis.
"Perkataanmu sangat lucu, sebutkan satu saja kriteria keluarga yang kau lakukan padaku untuk memperjelas ucapanmu tadi, Naruko Onee-sama."
"Jangan bodoh, kau diperlakukan seperti itu karena kau lemah, kau itu adalah noda dalam klan, jadi wajar semua memperlakukanmu seperti itu."
"Jika memang seperti itu, kau harusnya tidak menahanku karena bagaimanapun, kotoran sepertiku tidak pantas berada diantara makluk suci seperti kalian. Kau selalu mengatakan jika aku ini adalah sampah, lalu mengapa kau menahan sampah sepertiku? Bukankah memang seharusnya sampah itu dibuang saja?"
Ucap Naruto membungkam perempuan itu, mereka saling adu tatapan sebelum terhenti dengan
Naruto yang tetap menunggu jawaban dari saudaranya. Beberapa detik terdiam akhirnya Naruko tertawa sebelum berjalan kebelakang Naruto dan menarik Masamune kasar dari punggung Naruto.
"Kau salah jika aku menahanmu, jika kau mau pergi, silahkan saja tapi dalam aturan klan, setelah kau memutuskan hubungan dengan klan, maka semua yang dimiliki klan harus kau kembalikan."
Wajah Naruto mengeras melihat Naruko menyentuh Murasame dengan tangan yang dia anggap kotor itu, sungguh! Demi apapun dia tidak rela jika sahabatnya disentuh oleh perempuan itu! Walau sedikit dan bahkan hanya secuil, Naruto tidak akan pernah mengijinkan.
"Jangan sentuh Murasame-dengan tangan kotormu itu, Naruko!"
"Seperti aku akan menuruti pecundang sepertimu!"
"Kau... Jika kau teruskan! Aku akan menghajarmu!"
Naruko tertawa mendengar ancaman dari adik kembarnya yang terus meronta dalam cengkraman Line Magicnya, sambil tersenyum mengejek ia menarik gagang Murasame, namun baru saja niat itu akan ia lakukan, sebuah pendar hitam menguar dari katana tersebut dan merambat dari tangan Naruko menuju tubuhnya.
"A-apa ini?!"
Naruto sendiri menatap terkejut akan apa yang terjadi, dengan mata kepalanya sendiri dia dapat melihat Naruko melempar Murasame dan berharap pendar hitam tadi lepas. Namun bukannya hal yang diinginkan terjadi, pendar hitam itu semakin menelan tubuh Naruko dan membuat perempuan tersebut tumbang tak sadarkan diri.
Seiring dengan hal itu, rantai yang melilit Naruto terlepas serta membuat tubuhnya jatuh ke jalanan. Iris mata biru Naruto mengernyit, mengedarkan pandangan mencari Murasame yang tiba-tiba menghilang.
"Apakah anda mencari saya, Goshujin-sama?"
"H-ha?"
Naruto tidak dapat berkedip sama sekali setelah melihat gadis bersurai hitam panjang dengan iris mata berwarna hitam gelap tengah memandangnya datar dengan posisi berdiri di depannya. Sementara gadis yang mengerti akan arti tatapan Naruto itu membuang nafas pelan sebelum ia mendekatkan wajahnya pada Naruto dan mengecup bibir pemuda itu singkat.
Kecupan itu membekukan tubuh Naruto, ia tidak tahu harus melakukan apa di dalam keadaan aneh ini selain terbengong dengan tatapan bodoh.
"Mulai sekarang, saya Murasame-sepenuhnya menjadi milik anda, Goshujin-sama."
Dan pandangan bodoh itu berubah menjadi tatapan cengo setelah mendengar perkataan yang tidak dapat dia mengerti sama sekali.
-Cut-
Yosh! Chapter 2 Finish! Terima kasih pada yang telah mereview, fav maupun follow, saya sangat berterima kasih.
Sedikit pendeskripsian mengenai sosok Murasame yang memang Oc disini, kira-kira penampilan sama dengan sosok Kurumi di Date A Life, Murasame sendiri saya ubah menjadi senjata roh yang dapat berubah wujud, untuk kemampuan murasame sendiri masih sama seperti di LN nya AkameGaKiru yaitu membawa sebuah kekuatan kutukan dalam bentuk One Cut Killing.
Itu dulu dari saya, ada kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya masih dalam tahap belajar. Oke, sampai sini dulu dan sampai jumpa di next Chapter!
Berniat Review?
