Mask
Disclaimer : Semua chara adalah milik pencipta mereka
.
Chapter 4
Naruto terus memandang dua wizard tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya ke arah lain, merasakan sedikit keanehan dimana ada 2 wizard anggota divisi pengintaian datang kemari dan memakai seragam khas Shcool Of Kingdom.
'Mereka bersekolah disini?'
Bertanya dalam batinnya, pemuda itu lantas semakin menaikkan alis heran ketika dua wizard yang bertemu dengannya kemarin masuk ke kelasnya. Jujur saja Naruto tidak mengerti akan hal ini, karena mengingat dua wizard tadi adalah anggota pengintaian yang harusnya sudah ada sertifikat tersendiri bagi mereka tanpa harus mendapat sertifikat disekolah. Mungkinkah ada hal khusus bagi mereka datang kemari ataukah ada pengikut golongan Satan di sekolah ini? Tidak, itu tidak mungkin.
Sekolah ini dilindungi langsung oleh sihir pengekang milik Senju Hashirama, yang mana memiliki pertahanan mutlak sekaligus pertahanan terkuat yang dia ketahui sampai saat ini. Jadi kecil kemungkinan bisa menembusnya kecuali golongan satan memiliki sihir memanipulasi ruang-waktu seperti Minato.
"Naruto-kun~."
Pemuda yang merasa terpanggil itu mengadahkan kepalanya, menyimpan segala macam perkiraan tadi dan memandang sosok Wizard yang mencondongkan wajah ke arahnya. Merespon itu dengan pandangan biasa sebelum dia beralih memandang wizard lain yang berdiri malas dibelakang rekannya.
"Maa.. Maa, aku sudah datang dari jauh untuk bertemu denganmu, dan malah ini respon yang kau tunjukkan? Naruto~kun?"
"Berhentilah memanggilku seperti itu, kita bukan teman."
"Are, kita memang bukan teman tapi, kita kan tunangan."
Perkataan singkat yang berhasil membangkitkan kegaduhan masal melanda kelas Knight tingkat satu, dimana seorang pecundang seperti Naruto memiliki tunangan cantik dan dari yang dilihat adalah seorang wizard kuat tingkat 5. Naruto beranjak berdiri dan mematung singkat.
"Maaa... Aku hanya bercanda, hehe~"
Celetuk perempuan bernama Haku itu sembari menjulurkan lidahnya dengan pandangan lucu, dan tanpa sadar itu membuat semua menarik nafas lega. Akan tetapi berbeda dengan wajah Naruto yang tidak terlihat karena tertutup poni pirangnya, beberapa detik dia terdiam sebelum mengambil tas kasar dan menggeser kursinya.
"Ne, Naruto-kun mau kema-?"
"Kau baru saja menghancurkan moodku yang sebelumnya berada di tingkat 70 persen berubah ke 20 persen akibat tingkah mengesalkanmu." Ujar Naruto dingin dan berlalu begitu saja, sedikit tatapan ia berikan pada Pakura yang memandangnya datar sebelum benar-benar keluar dari kelasnya. Sepeninggalan Naruto, Haku hanya diam mematung, wajahnya menggelap dengan sebuah senyum kecil.
"Ternyata susah ya, untuk mendekatinya."
Pakura yang mendengar ucapan Haku hanya mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya.
"Jika kau seagresif itu, kambingpun akan menjauh darimu, Haku."
"Ne!!! Jangan berkata seperti itu, Pakura!"
Pertengkaran kecil dan saling mengejek terjadi di kelas tersebut, dan para murid hanya dapat memandang dua gadis itu tanpa berkedip, selain tidak mau mengganggu, mereka juga tidak ingin melewatkan pemandangan dua gadis cantik yang nyasar ke tempat mereka.
Kembali pada Naruto yang dengan raut wajah bosan berjalan melewati beberapa kelas, dia sedikit mengambil nafas. "Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan, tapi aku harus tetap waspada." Ujar Naruto pelan. Matanya mengedar melewati beberapa tatapan meremehkan yang tertuju padanya, Naruto sendiri tidak merasa terganggu akan hal itu, sudah kebal mungkin.
Langkah demi langkah membawa Naruto menuju tempat lebih jauh, tempat yang akan menjadi tujuannya saat ini. Yeah, daripada dia tetap berada di kelas yang membosankan dan bertemu dua wizard dari divisi pengintai itu lagi, ada baiknya dia pergi mencari beberapa informasi yang berguna mengenai Holy Grail.
"Holy Grail, benarkah ada benda seperti itu?"
Naruto berhenti berjalan setelah menggumankan hal tersebut, kepalanya bergerak kesamping tepatnya ke arah koridor divisi Wizard. Iris biru itu terpaku pada beberapa kelompok remaja yang tengah asik tertawa, beberapa gadis juga lelaki nampak saling menggoda dan terkekeh ringan.
"Tidak biasanya dia berkumpul dengan kelompok itu."
Naruto menghentikan aktifitasnya dan melanjutkan langkah kakinya, wajah yang tadinya terlihat kesal itu mulai menunjukkan perubahan dengan sedikit senyum menghiasi wajahnya. Entah apa yang dia lihat, tapi yang jelas itu membuat sedikit perasaan senang dalam dirinya.
-Change Scene-
King Arthur, adalah raja bijaksana yang memimpin wilayah timur Britain berabad-abad yang lalu sebelum Gread War terjadi. Sebuah legenda yang selalu diingat oleh beberapa pengikut setianya, dan juga prajurit-prajurit sejati yang dia miliki. Namun walau tertulis sebagai kisah legenda, beberapa bukti nyata tentang keberadaannya tidak dapat dipungkiri lagi oleh para Wizard maupun manusia.
King Arthur diceritakan sebagai sosok raja adil dan selalu tanggap dalam menanggapi setiap masalah, terutama pada saat ketika kemunculan para Wizard yang begitu mengagetkan rakyatnya. King Arthur begitu bijak dan mengambil langkah negosiasi dengan para Wizard untuk tidak saling membenci dan memberikan beberapa wilayah kosong bagi mereka.
King Arthur merupakan anak hasil hubungan raja Uther Pendragon dengan permaisuri Ygern dari Cornwall, namun dikarenakan hubungan mereka berada di luar nikah membuat King Arthur sendiri tidak memiliki hak untuk meneruskan tahta Britain dikarenakan hubungan tidak resmi itu.
Raja Uther yang mengantisipasi hal ini membuat sebuah sayembara dimana dia bekerja sama dengan salah satu Wizard untuk membuat pedang yang hanya bisa digunakan sesuai kriteria yang raja Uther inginkan. Raja Uther Pendragon mengatakan jika siapapun yang dapat mencabut pedang suci dari batu keajaiban maka orang itu berhak menduduki tahta kerajaan.
Banyak dari para prajurit berbondong mengikuti sayembara namun semua gagal karena sihir kuat yang melekat pada pedang itu, hingga pada akhirnya hanya satu orang yang mampu melakukannya, yaitu King Arthur yang merupakan darah daging raja Uther sendiri. Berkat itu, King Arthur mendapatkan kembali hak yang memang harusnya menjadi miliknya, dan mendapatkan gelar Pendragon dari raja Uther.
Tahun berganti tahun dan kerajaan Britain semakin makmur, raja baru King Arthur akhirnya menikah dengan seorang putri bernama Guinevere. Dalam pemerintahan King Arthur sendiri dibentuk sebuah perkumpulan antara kesatria paling hebat yang disebut Knight of Round Table, tujuan dari kelompok ini adalah melakukan sebuah pencarian benda paling misterius di dunia, sebuah cawan yang digunakan oleh Yes*s dalam jamuan terakhir, Holy Grail.
Begitu lama dan banyaknya perjuangan King Arthur dan para kesatria hebat dalam mencari Holy Grail, tidak terhitung berapa nyawa yang telah melayang dalam perjalanan ini hingga pada akhirnya King Arthur dan tiga kesatria lainnya berhasil membawa pulang Holy Grail setelah puluhan tahun mencarinya.
Dengan melawan nafsu serta keinginan jahat yang menggoda para kesatria dalam bentuk wanita anggun untuk melupakan tujuan mereka, King Arthur dan tiga kesatria lain yang bertahan yaitu Garahal, Perceval dan Bors, mereka pulang dengan penuh kebanggan dan juga tangis bahagia. Dengan ditemukannya Holy Grail yang membawa kekuatan besar, Britain sekali lagi menambah kemakmuran mereka.
Akan tetapi, semua mulai berubah ketika King Arthur mendapati permaisurinya memiliki hubungan terlarang dengan kesatria kerajaan bernama Lancelot. Kesedihan, kemarahan dan juga kekecewaan beraduk menjadi satu. Belum lagi anaknya sendiri yang menentang sistem kerajaan dan berniat merebut Holy Grail dari tangannya.
Peperangan besar dalam sejarah sebelum Great War terjadi, dimana Ayah dan anak saling berebut kekuasaan dan mempertahankan keyakinannya. Namun karena beberapa kesatria hebat memihak anaknya, terpaksa King Arthur mundur karena habisnya pasukan yang dia miliki.
Dengan berbekal Holy Grail, King Arthur menemui kaum Wizard dan meminta pertolongan untuk membunuhnya dan menanamkan sebuah Curse magic pada Holy Grail dengan darahnya,Hingga pada akhirnya setelah Curse Magic aktif, Holy Grail tiba-tiba lenyap, seolah menghilang ditelan bumi tanpa jejak sedikitpun.
Dimulai dari sini, pertikaian-pertikaian antara Manusia-Wizard dimulai hingga melahirkan masalah yang begitu besar yaitu peperangan. Manusia pengikut King Arthur yang terkena hasutan anak King Arthur menjadi membenci pihak Wizard karena dianggap sebagai pembunuh dan juga perebut Holy Grail.
Holy Grail sendiri sampai saat ini masih belum ditemukan, dan menjadi misteri tersendiri bagi semua orang maupun pengikutnya.
Naruto menutup buku yang menyinggung masalah Holy Grail, sebuah sejarah dari dunia yang menceritakan terbentuknya clan Pendragon. Dari cerita ini sendiri Naruto jadi memahami, bahkan orang semasyur King Arthur juga memiliki kisah kelam yang begitu menyakitkan. Naruto tidak dapat membayangkan bagaimana jika dia berada di posisi King Arthur. Dikhianati, bahkan oleh anak, istri serta kesatria kepercayaannya sendiri.
Menyenderkan punggungnya pada kursi yang disediakan perpustakaan dan menatap ke atas santai. Jika bahkan saksi terakhir yang melihat keberadaan Holy Grail saja tidak mengetahui keberadaan dari cawan itu, bagaimana dia akan menemukannya? Apakah harus bertanya pada klan Pendragon saja, mengingat ini adalah sejarah tentang keluarga mereka? Tidak, itu tidak mungkin... Dari cerita ini juga dibuktikan jika klan Pendragon sendiri juga tidak mengetahui letak Holy Grail, jadi tidak mungkin mereka akan tahu...
"Aku menemui jalan buntu." Itulah perkataan putus asa yang digumankan Naruto, bahkan dari beberapa referensi di buku yang dia baca, tidak satupun dari buku-buku itu yang dapat memberikan petunjuk untuknya. Naruto jupa tidak tahu harus memulai dari mana, ini sama saja dengan dia berdiri ditengah-tengah tembok besar yang sedang mengurungnya.
"Ohayou, Naruto-san."
Mata Naruto sedikit terbuka dan melirik ke depan, dapat dia lihat satu sosok perempuan tengah berdiri di depannya dengan sebuah senyum tipis. Ber oh ria setelah mengetahui siapa yang menyapanya, Naruto kembali memejamkan mata. Sedangkan perempuan bersurai coklat tergerai itu tersenyum kecil dan duduk di depan Naruto.
Iris Violet gadis itu menatap judul buku yang ada di meja Naruto dan berbinar setelah mengetahui apa yang tengah dia lihat. Buku yang selama ini dia cari, dimana dalam buku itu sendiri bercerita tentang sejarah keluarga klan tertua dikerajaan, Pendragon.
"Kau membaca buka Legend Of Arthur King, Naruto-san?"
Naruto hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan gadis tersebut, tanpa mengubah posisinya dia menyodorkan bukunya pada perempuan itu.
"Kau mau membacanya? Baca saja, aku sudah selesai."
"B-benarkah? Woahh! Terima kasih Naruto-san, kau tahu!? Aku sudah mencari buku ini selama hampir 2 minggu,"
Naruto mengangguk sebagai jawaban tidak peduli, ia tetap memejamkan mata mencoba sekali lagi mencari jalan keluar atas masalahnya. Terus berfikir hingga pada akhirnya dia menyerah dan menghembuskan nafas berat, matanya kembali terbuka dan memandang gadis di depannya.
Shidou Irina, adalah salah satu yang Naruto kenal sebagai Knight berbakat di sekolah ini, namun walau begitu satu hal yang membuat Naruto tidak risih ketika Irina berada di dekatnya adalah sifatnya yang amat ramah dan tidak pernah memandang status maupun derajat seseorang. Naruto cukup tahu hal itu karena dia sangat tertutup jika menyangkut dengan hal berinteraksi dan akan menyelidiki siapapun yang mendekatinya, bukan hanya masalah masa lalunya yang cukup buruk, namun ia juga tidak ingin percaya begitu saja pada orang yang datang meminta sebuah jalinan pertemanan padanya.
Naruto pernah melakukan hal bodoh itu satu kali dimana salah seorang perempuan yang berasal dari kelompok 'elit' datang dan berkata hal-hal aneh untuk mendekatinya, dan saat itu Naruto sangatlah idiot untuk memahami jika sebuah ikatan itu tidak mudah untuk digapai. Saat dirinya telah percaya dan menaruh harapan besar, dengan begitu mudahnya kepercayaan itu dihancurkan oleh orang itu.
Tidak ada perasaan apapun ketika dia mengalami hal itu karena memang dia sudah mengerti mengapa dia diperlakukan seperti itu. Tidak-Naruto tidak akan protes, hanya saja dia akan menjadikan ini sebuah pembelajaran untuknya di masa depan bahwa, kepercayaan itu memang harusnya berharga mahal.
Lantas, mengapa dia begitu mempercayai Shidou Irina hingga bahkan dia menerima gadis berambut coklat itu menemaninya membaca buku di perpustakaan atau melakukan hal lain di luar sekolah? Itu karena Naruto tahu jika masa kecil Irina juga penuh penderitaan. Irina semenjak kecil hidup menggelandang, mengais sampah hanya untuk mengisi perutnya serta mempertahankan nyawa demi menghadapi kehidupan menyedihkan ini.
Hingga pada akhirnya Irina ditemukan oleh seorang Wizard baik hati yang dengan senang hati membelikan rumah kecil juga melatih dirinya dalam ilmu bertarung. Seseorang yang sama yang juga telah memberikan dirinya sebuah arti dan alasan mengapa dia hidup. Dan sekali lagi, Naruto ditunjukkan dengan kebesaran hati seorang Hiruzen Sarutobi.
Naruto juga baru mengetahui hal ini beberapa bulan lalu, dimana Hiruzen mengajak dirinya untuk berlatih tanding dengan salah seorang muridnya. Dan ya, seperti yang diketahui sekarang ini, ternyata murid lain itu adalah sosok Irina Shidou yang juga merupakan teman sekelasnya dulu, namun karena peningkatan Irina lebih menonjol, jadilah Irina meninggalkan dirinya dan terus naik sampai tingkat 5 di divisi Knight. Sementara dirinya? Tentu saja, masih di tingkat 1.
Sebenarnya jika Naruto mau, dia dapat mengejar Irina dengan kemampuannya saat ini, bahkan lebih. Tapi, ia merasa itu akan percuma mengingat ia merasa belum pantas berdiri disana. Ia ingin lebih, kekuatan yang lebih besar untuk membuat dirinya berdiri ditempat paling atas. Untuk saat ini, ia tidak terlalu pusing memikirkan tentang status, hal itu hanya sebuah bonus untuknya jika telah mendapatkan kekuatan yang hebat.
"Dibuku ini juga diceritakan tentang Holy Grail, wah~aku tidak menyangka cawan itu juga ada kaitannya dengan klan Pendragon."
Irina berucap takjub, melihat halaman dimana tergambar sebuah cangkir mirip piala berada ditengah-tengah kumpulan kesatria Britain. Mata violet itu bersinar senang dan menoleh ke arah Naruto ketika pemuda itu membuka suaranya.
"Kau tau tentang Holy Grail?"
"Tentu saja, Holy Grail adalah cawan yang digunakan' Yes*s untuk menjamu para pasukan sebelum beliau di salib."
"Lalu apa kau tau mengenai-tidak tepatnya, apa kau sedikit petunjuk tentang benda ini?"
Nada serius yang digunakan Naruto membuat alis Irina tertarik heran, perempuan itu sedikit merasa aneh dengan tingkah Naruto yang seolah tertarik dengan Holy Grail. Walau memang dia juga sedikit banyak tertarik dengan benda ini, namun Irina juga tahu jika mendapatkan benda ini sangatlah mustahil.
"Ano... Apa Naruto-san menginginkan benda ini?" Irina bertanya ragu.
"Ya, kurasa. Tapi sekarang ini aku menemui jalan buntu dimana tidak ada satu petunjuk tentang keberadaan Holy Grail."
"Memang sih, karena yang kutahu Holy Grail sendiri sudah dilingkupi oleh semangat melindungi dari King Arthur sendiri, dan yang kutahu, King Arthur mati bukan tanpa sebab namun untuk menyembunyikan Holy Grail sendiri dari pandangan nafsu orang jahat."
Naruto mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Menyembunyikan? Apa maksudmu? Kukira itu menghilang karena mau bagaimanapun diceritakan dibuku itu bahwa Holy Grail menghilang setelah Curse magic diaktifkan."
"Memang tidak sepenuhnya salah, semua tergantung dari mereka yang menafsirkan kata menghilang disini. Namun, menurut salah satu pihak Gereja yang memiliki kemampuan seorang Priest, beliau mengatakan pernah datang ke daerah dimana King Arthur terlihat untuk terakhir kalinya. Dan dari sana beliau bisa merasakan sebuah pancaran energi besar yang terpancar ditengah kota, tapi anehnya tidak ada satupun dari penduduk yang mengetahui itu, mungkin karena hati mereka tidak semurni Priest, jadi mereka tidak dapat merasakan eksistensi dari Holy Grail."
Sontak, Naruto yang sedikit mendapat pencerahan itu tersenyum lebar, sungguh rasa senang menyelimuti hatinya. Naruto melompat girang sebelum memeluk Irina yang hanya dapat membulatkan matanya dengan wajah memerah bak tomat.
"Terima kasih Irina! Terima kasih! Dan jika boleh meminta tolong, bisakah kau mengantarku menemui Priest itu?"
Irina yang berada dalam mode blushing itu tidak mampu untuk menjawab dengan suara, hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban sebelum sosok Naruto melepas pelukannya dan menatap Irina.
"Yosh! Aku akan menemuimu di pusat kota di tempat biasa kita bertemu!"
Berjalan cepat menuju arah luar, Irina memandang punggung lebar Naruto dalam diam, wajah yang masih menunjukkan rona merah itu tersenyum lembut sebelum kembali duduk dan membereskan beberapa buku yang akan dia pinjam.
Beberapa jam berlalu setelah pertemuan dengan Irina, kini Naruto berdiri dalam balutan pakaian biasa berwarna hitam gelap dan celana panjang yang senada dengan kaosnya, sebuah kain pendek ia kenakan layaknya jubah menutupi tubuh bagian atas dan juga katana panjang yang tersampir di punggungnya. Naruto yang tengah menunggu sosok Irina di tengah kota itu tidak dapat menghentikan kepalanya untuk bergerak mencari sosok Irina sampai matanya berhenti memandang pada satu tempat.
Di depan sebuah gereja besar, sosok Irina dalam balutan jubah putih bersih melambaikan tangan padanya, memberi kode agar dia datang ke tempat itu. Naruto tersenyum, lantas berjalan agak cepat menyusul Irina.
"Apa Naruto-san sudah lama menunggu?"
Naruto menjawab dengan sebuah gelengan pelan. "Tidak, aku juga baru datang."
Irina tersenyum mendengarnya, namun senyum itu sedikit memudar setelah dia melihat penampilan Naruto yang biasa dia gunakan jika akan pergi untuk waktu yang lama. Irina cukup tahu mengenai pemuda ini, kebiasaan dan juga sifat Naruto sendiri. Jika mengingat kembali keinginan Naruto memiliki Holy Grail begitu besar, apa jangan-jangan pemuda itu akan lansung mencarinya?
"Naruto-san, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Hm? Apa yang kau tanyakan?"
"Ano~apa kau akan mencari Holy Grail setelah kau mengetahui tempatnya?"
"Tentu saja, karena itu tujuanku."
Sedikit terkejut akan jawaban yang diberikan Naruto, perempuan itu mulai mendesah pelan. "Mungkin, setelah kau menemui Priest, kau akan mengubah fikiranmu, Naruto-san." Irina meninggalkan Naruto yang berdiri di depan gereja dengan pandangan anehnya sebelum mengikuti Irina masuk dalam tempat tersebut.
Putih dan wangi, itulah hal yang terlintas dibenak Naruto ketika memasuki gereja besar dipusat kota ini, dia berjalan santai dan matanya tidak dapat berhenti untuk kagum saat melihat beberapa lukisan dinding juga ornamen di gereja tersebut. Kursi yang berjejer rapih juga sebuah lambang salib emas megah berdiri di tempat tertinggi di ruangan ini.
Iris biru Naruto mengedar dan terhenti pada seseorang yang tengah berbicara pada Irina di depan sana, Naruto tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan namun Naruto dapat melihat raut terkejut dari sosok itu sebelum memandangnya. Sedikit tersenyum menyapa, Naruto sendiri berjalan mendekat setelah Irina mengintrupsikan tangan agar dia menuju ke sana.
"Jadi, anda pemuda yang bernama Naruto-san?" Seorang lelaki berpakaian serba putih bertanya padanya.
"Ha'i, saya Naruto, teman Irina." Jawab Naruto sopan. Lelaki bersurai pirang itu meneliti wajahnya sebelum lelaki itu mengarahkan telunjuk untuk menyentuh dadanya. Beberapa detik Naruto menatap itu dalam kebingungan, dan semakin tidak mengerti saat lelaki itu mengangguk serta tersenyum lembut ke arahnya.
"Perkenalkan, saya adalah Priest Michael, saya penjaga gereja ini. Dan kudengar anda ingin mencari Holy Grail, apakah benar?"
"Ha'i, saya ingin mencarinya."
"Jika boleh saya tahu, untuk apa?"
Naruto terdiam sesaat lalu tersenyum masam. "Ada seorang temanku mengatakan jika Holy Grail dapat meningkatkan Mana dalam sekejap, aku, ingin meningkatkan Mana-ku dengan itu, Michael-san."
Michael membuang nafas mendengar jawaban Naruto. "Holy Grail tidak dapat digunakan untuk hal-hal seperti itu, Naruto-san. Benda itu sangat suci dan misterius, banyak para Wizard yang bertanya padaku letak Holy Grail dan mereka pergi mencarinya, namun sedikit dari mereka yang dapat kembali itupun dalam keadaan gila."
Naruto sedikit terkejut dan memandang Irina dalam, sedangkan Irina hanya mendesah dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda untuk dia menghentikan pencarian itu. Naruto terdiam berfikir. Seberbahaya itukah sampai seorang priest mengatakan itu? Resiko kematian bahkan yang paling ringan adalah akal sehatnya akan hilang?
Naruto mengepalkan tangannya, keraguan dalam hatinya hanya akan membuatnya melangkah ditempat dan tidak akan pernah berkembang! Tidak! Naruto tidak menginginkan itu, dia harus menjadi lebih kuat apapun resikonya.
"Aku... Akan menanggung resiko itu, Michael-san."
Dua orang didepan Naruto terkejut mendengar jawaban darinya, Michael sendiri menatap mata Naruto dan mencari sebuah keraguan disana namun nihil. Tekad dalam mata itu sudah bulat, dan Michael tidak dapat menggoyahkan hal itu.
"Baiklah jika itu memang keinginan anda." Michael mengubah pandangan mengadi lebih serius. "Tempat tepat dari Holy Grail saya tidak mengetahuinya, tapi dari beberapa kesaksian yang saya lihat ditengah kota Britain, tepatnya di wilayah barat kerajaan ini terdapat sebuah pancaran energi murni yang tersebar disana. Beberapa orang juga pernah bersaksi melihat sebuah cawan emas disekitar pegunungan, ada juga yang mengatakan disekitar gereja dan juga beberapa mengatakan di dekat sebuah pohon terbesar di Britain, tapi setelah di dekati energi itu tiba-tiba menghilang. Anda bisa mencarinya di tiga tempat tersebut, karena tiga tempat itulah yang menjadi titik besar beradanya Holy Grail, sisanya itu tergantung dengan anda karena Holy Grail hanya menjawab tekad kuat dari pencarinya, sama seperti King Arthur dan tiga kesatria lain." Michael menghentikan penjelasannya.
Naruto membungkuk berterima kasih, dengan senyum tipis ia memandang Michael dan sekali lagi membungkuk hormat. "Terima kasih banyak, Michael-san."
"Ha'i. Semoga keberuntungan memihak pada anda, Naruto-san."
Naruto tersenyum kembali, membalikkan tubuhnya dan memantapkan langkahnya. Disatu sisi, Irina menatap Naruto dengan mata berair. 'Mengapa, mengapa setelah mendengar sebuah peringatan dari Michael dia tidak berhenti? Apakah, kekuatan dari benda itu lebih penting?' Irina berlari menyusul Naruto.
"Matte, Naruto-san!"
Pemuda itu berhenti dan berbalik, memandang sosok Irina yang tengah memberikan tatapan tajam padanya.
"Kumohon, lupakan tentang Holy Grail! Kau tahu sendiri jika kau pergi, berarti, berarti, ka-kau akan... " Irina tidak mampu mengatakan lebih jauh, dia sendiri menundukkan kepalanya dalam tanpa berani melihat ke arah Naruto.
Naruto yang melihat itu mendengus geli, entah mengapa baru kali ini dia melihat seseorang begitu menghawatirkan dirinya, membawa semacam perasaan aneh dimana dia merasa sedikit berharga. Naruto mengangkat tangannya, menepuk dan mengelus kepala Irina yang masih menundukkan kepala.
"Tenanglah, aku tidak akan mati semudah itu, lagipula masih ada hal yang belum aku capai."
"Tapi... "
"Irina, aku berjanji padamu, aku akan kembali dengan selamat."
Irina kembali mengangkat wajahnya, iris violet bertemu langsung dengan iris biru Naruto yang menatapnya teduh.
"Kau berjanji?"
"Yah, aku berjanji."
"Kalau begitu janji kelingking!"
Naruto menatap jari kelingking yang disodorkan padanya, sedikit tersenyum dia segera menautkan kelingkingnya dengan Irina. Sambil mengayun-ngayunkan kedua tangan mereka, Irina menyanyikan sebuah lirik yang terlintas didalam kepalanya.
"Janji ini adalah janji Tuhan, siapapun yang melanggar maka jarinya akan terputus!"
Tautan kelingking itu terlepas diiring kekehan Naruto yang merasa sedikit lucu dengan perkataan Irina. Pemuda itu segera berbalik dan melambaikan tangannya ke udara.
"Sampai jumpa Irina!"
"Sampai jumpa, Naruto... Kun."
-Change Scene-
Sebuah pertarungan yang tidak seimbang terjadi pada perdesaan yang disinyalir merupakan tempat persembunyian pemberontak yang menentang sistem kerajaan, dua orang berbeda gender tengah terengah-engah melawan ratusan makluk aneh dengan berbagai macam bentuk. Seorang pria perokok dan memiliki brewok tebal disekitar wajahnya mengarahkan sebuah line magic pada salah satu monster didepannya.
"Ini tidak ada habisnya!" Decak pria brewok yang terus mengompres mana membentuk magic angin yang mencabik habis makluk di depannya, wajah itu nampak memucat seiring habisnya pasokan mana yang ada ditubuhnya. Sementara perempuan yang juga menciptakan magic api untuk menyerang juga mengalami kondisi limit mana.
"Sudah seminggu kita menyelidiki tempat ini dan tidak dapat menangkap anggota pemberontak, aku bahkan tidak sempat pergi ke pemakaman ayah-brengsek!"
Setelah mengumpat kasar, pria itu mengangkat kedua tangannya membentuk satu Line Magic besar yang memuntahkan sebuah angin tornado mencabik semua monster dihadapannya. Pria bernama Sarutobi Asuma itu berlutut menahan tubuhnya, hal yang sama juga terjadi pada perempuan yang merupakan istrinya, Kurenai Sarutobi. Mereka berdua dalam keadaan yang terbilang buruk.
Seminggu, tepatnya 7 hari mereka menyelidiki tempat ini atas perintah sang Raja, selain tempat ini merupakan tempat terpencil di pinggir wilayah kerajaan, pamannya Danzo juga mengatakan jika tempat ini merupakan salah satu markas pemberontak besar yang menamai mereka golongan pahlawan. Atas tugas inilah dia diharuskan menyelidiki lebih jauh mengenai tempat ini.
Dan benar saja, ketika mereka menyamar untuk masuk ke dalam perkumpulan desa ini, mereka dikejutkan dengan apa sebenarnya yang ada di dalam desa. Dan sialnya, sebelum mendapatkan informasi lebih jauh, mereka terlebih dahulu diketahui sebagai mata-mata dan membuat para pemberontak melarikan diri.
Berniat ingin menangkap para pemberontak yang melarikan diri, namun ternyata mereka salah langkah dimana salah satu dari mereka memiliki kemampuan spesial yang merupakan anugrah dari Tuhan. Sebuah senjata hebat yang mengingkari akal sehat makluk hidup dan merupakan senjata terkuat melebih senjata kerajaan.
Asuma mendecih kesal, mengingat baru beberapa saat yang lalu dia mendapatkan kabar kematian dari pamannya, dan parahnya mereka mendapatkan kabar itu setelah ayahnya meninggal 2 hari yang lalu.
"Sial! Dasar pak tua!"
Kurenai memandang suaminya iba sebelum beralih ke depan dimana potongan-potongan tubuh dari mayat tadi membentuk sebuah clon sendiri dan membuat semakin banyaknya makluk aneh tadi. Kurenai mencoba berdiri, namun gagal karena kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya, Mana dalam tubuh mereka benar-benar dalam keadaan limit.
"Tidak ada gunanya menangisi pak tua itu, Asuma. Bahkan dia lebih memilih muridnya daripada kita."
Ucapan seseorang yang tengah duduk bersila di atap rumah desa mengalihkan perhatian Asuma dan Kurenai. Pemuda berambut coklat panjang dengan jambang membingkai wajah itu menatap ke depan datar sebelum melompat dan menapaki tanah bersama tongkat hitam ditangannya.
"Pak tua tidak tau diri itu bahkan memberikan harta berharga klan untuk muridnya yang harusnya senjata itu hanya bisa dimiliki olehmu yang merupakan pewaris sah klan."
Ucapan pemuda yang terdengar datar itu membuat Asuma terdiam dan Kurenai yang menatapnya sedih.
"Konohamaru-kun, su-sudahlah."
Pemuda bernama Konohamaru itu melirik kebelakang tanpa terganggu oleh berisiknya raungan makluk di depannya, ia memandang kakaknya yang hanya menampilkan raut wajah biasa sebelum kembali menatap ke depan dimana para makluk aneh tadi semakin mendekat. Konohamaru menghentakkan tongkat hitam itu kepermukaan tanah, bersamaan juga muncul keretakan dan sebuah bayangan hitam bulat yang melebar hingga membuat para makluk yang menginjaknya terpaku ditempat.
"Bakar mereka dalam api merakamu, King Enma!"
Bhwoooos!
Semua makluk tiba-tiba terbakar dalam sekejap tanpa menyisakan apapun disana kecuali abu sisa dari makluk-makluk tadi. Konohamaru berbalik dan berjalan mendekati Asuma. "Kita kembali," Ujarnya datar mendahului dua wizard yang menatapnya sedih.
'Ayah, kau telah melukai perasaan anakmu dengan memberikan Murasame yang berharga pada muridmu. Namun, jika memang itu yang kau pilih aku tidak ada pilihan lain selain merebut kembali Murasame dari tangan anak itu.'
-Cut-
Taraaaa~Update!
Entahlah, mengapa saya begitu ngebet menulis chapter ini, tp yang jelas chapter ini sebagai pelengkap chapter kemarin malam. Oh dan saya ingin bertanya.
Tentang chapter kemarin, ada komentar di kolom Review yang mengatakan jika scene chpter kemarin mirip Two punya Phantom-san, jika memang iya, bisakah Readers san menunjukkannya? karena jujur ya, saya sendiri belum pernah membaca keseluruhan dari fic TWO, saya bahkan belum mengikuti alur dari Two dan br membaca fic tersebut di chapter 48-51 kemarin dan belum sempet bc semuanya.
Bukan apa-apa, tapi jengkel juga melihat review yang membanding-bandingkan fic saya dengan fic lain, apalagi saya memang memikirkan alur ini dengan otak saya, kalian tahu. Saya sendiri membaca referensi dari legenda-legenda dan mitos disetiap bangsa untuk ditambahkan ke dalam fanfic saya supaya memberi pengetahuan juga. tapi, ketika selesai dengan tulisan yang membuat saya berfikir untuk menulis sebaik mungkin ini, malah muncul sebuah Revie penghancur Mood Kitsu...
muu~berhenti dulu disini, dan Kitsu akan melupakan hal itu dan menjadikannya pembelajaran. Oke, mengenai Holy Grail, saya cukup berhati-hati dalam menulis legenda di dalam kepercayaan umat beragama ini, saya tidak tahu apakah jika saya menyatakan secara gamblang ini akan menjadi sebuah konten sara atau tidak, jadi mohon maaf jikalau saya sedikit mengubah pendiskripsiannya~
Hanya itu dulu yang dapat saya sampaikan, ada kurang lebihnya saya mohon maaf, Readers-san semua.
Kitsu Out...
