Mask
Pemiliknya ya bukan Kitsu
Chapter 5
Minato Uzumaki menggeser kursi di ruangan yang ia tempati, sedikit menarik nafas dan menyenderkan punggung lebarnya serta menatap kertas laporan di tangannya, ia sedikit dipusingkan dengan beberapa tulisan disana.
"Belakangan ini semakin banyak pemberontakkan yang terjadi, ini cukup buruk mengingat satu minggu lagi akan ada acara kenaikan tingkat di sekolah."
Suara pria itu sedikit lelah, otak jeniusnya berputar memikirkan masalah-masalah yang semakin banyak mengancam kedamaian kerajaan. Pemberontakan yang dilakukan oleh beberapa kelompok terus didapati disekitar kerajaan, meski pihaknya juga sudah menangkap beberapa kelompok dan menghancurkan organisasi mereka, namun nyatanya mereka seperti kecoa, bukannya semakin sedikit seusai dimusnahkan, malah sebaliknya.
Mungkin karena terlalu fokus melatih Menma, Karin dan juga Naruko dalam mengembangkan kemampuan mereka, Minato menjadi sedikit lengah akan keadaan sekitar kerajaan, dan itu buruk. Karena kelengahan dirinya inilah yang sedikit banyak menyumbang masuknya penyusup ke daerah kerajaan sampai merenggut nyawa Hiruzen Sarutobi.
Mencoba memijit pelipisnya, Minato kembali memandang tumpukan kertas di depannya.
"Kurasa ini tidak bisa dibiarkan berlanjut, aku harus mengubah beberapa hal dan mengevaluasi semuanya."
"Itu tidak perlu, Minato-san. Aku bersedia membereskan keroco-keroco ini setelah kau menyerahkan anak itu."
Suara berat menggema dibalik bayangan gelap disudut ruangan, membuat Minato membulatkan matanya terkejut. Iris biru itu menajam dengan tatapan awas setelah mata sosok misterius tadi terbuka. "Nfufufu, tenanglah Minato-san, aku tidak akan menyerangmu seperti 16 tahun lalu, saat ini aku tidak tertarik."
Minato menggertakan giginya, mengeluarkan sebuah pisau bercabang tiga dan memasang sikap siaga. "Berhentilah berpura-pura! Apa yang diinginkan golongan hitam sepertimu disini?!"
"Sudah kubilang kan, aku ingin anak itu, anakmu." Iris mata emas bersinar dalam kegelapan, bergerak melirik Minato yang tengah menatapnya tajam.
"Jangan bercanda!"
Sssss
Suara gemerisik terdengar nyaring setelah Minato dengan kecepatan cahaya menyerang sosok misterius tadi dengan tebasannya. Mata Minato menelisik, mendecih ketika mengetahui sosok tadi telah menghilang dan digantikan oleh sebuah bangkai ular besar.
"Cepat seperti biasa, tapi terlalu biasa untuk menyerangku."
Iris emas kembali muncul disudut ruangan lain bersama siulet bayangan hitam, menatap santai Minato yang telah menciptakan line magic di tangannya. Sosok itu mendesah melihat kekeras kepalaan Minato. "Berhentilah, Minato-san. Kau memang bisa mengalahkanku dalam kecepatan, tapi dalam teknik..." Ruangan itu tiba-tiba memberat seiring berubahnya lantai menjadi hitam legam. Lengan-lengan muncul dari dalam lantai dan langsung mengekang sosok Minato hingga pria itu tidak dapat bergerak. "… aku lebih unggul."
"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu, tidak tertarik lebih tepatnya. Yang kuinginkan hanya anakmu."
"Aku tidak akan menyerahkan Menma padamu, O-"
"Menma? Nfufufu~sepertinya kau salah mengira, aku tidak tertarik dengan bocah arogan itu."
"A-apa?"
Sosok itu tertawa lepas, bayangan gelap yang menyelimuti lantai ruangan perlahan menghilang bersamaan dengan memudarnya sosok itu.
"Keadilan, keadilan, dan keadilan. Aku hanya ingin memberikan hal itu pada anak malang yang telah kau buang Minato-san. Uzumaki Naruto, aku ingin mengambil permata yang telah kau timbun dengan kotoran lumpur itu, aku ingin melihat permata itu bersinar ditanganku dan jika saatnya tiba, aku akan menyinari kalian dengan cahaya dari permataku."
Minato terpaku dalam kebingungan, otaknya bekerja lebih cepat daripada biasanya dalam mencerna perkataan sosok tadi. Pertanyaan mengapa sosok itu sangat menginginkan Naruto yang memiliki cacat aliran Mana membuat Minato sedikit merasa aneh,. Bagaimana seorang seperti dia bisa tertarik dengan anak bungsunya? Apa yang spesial dari anaknya itu?... Minato mengesampingkan semua pertanyaan, menciptakan line magic disekitar telinganya, ia mencoba menghubungi seseorang.
"Crow, Bawa Naruto kehadapanku."
Ya, sepertinya dia tidak mengetahui tentang keberadaan Naruto saat ini.
-Naruto Side-
Kota Tenguu merupakan kota terdekat sebelum kota Britain, berada beberapa kilometer disebelah timur kota Britain membuat siapapun yang akan berkunjung ke kota legenda itu harus melewati tempat ini. Dikelilingi oleh hutan yang dipenuhi oleh Beast berbahaya, membuat kota Tengu menjadi satu-satunya jalan teraman menuju kota Britain. Maka tidak mengherankan jika para pengelana maupun pemburu harta karun akan ramai berada di kota ini karena tujuan yang sama. Selain cawan suci, Britain sendiri juga dikenal menyimpan berbagai harta rampasan perang di jaman Raja Arthur.
Beralih dari itu dan fokus pada Naruto yang sedang memegangi perutnya yang terus berbunyi sedari tadi, iris matanya bergerilya mencari tempat yang mungkin menyediakan makanan untuk menahan lapar yang melanda perutnya. Hampir 3 hari waktu yang dia butuhkan agar sampai di tempat ini, melewati beberapa kota sebelum ia sampai di kota Tenguu. Cukup lama, dan Naruto sendiri tidak tahu jika perjalanan ke Britain akan selama ini.
Tapi, lupakan itu dulu, yang lebih penting adalah mengisi perut yang terus merengek ini. Mata Naruto berhenti pada sebuah tempat makan lumayan besar ditengah kota itu, sedikit tersenyum sebelum melangkah ke tempat itu. Kebetulan sekali dia dapat menemukan tempat makan ini, karena dia fikir kota Tenguu hanya menyediakan beberapa tempat penjualan senjata, penginapan dan spot makanan tidak menarik seperti yang sudah ia lewati tadi. Yah, walau itu wajar mengingat kota ini hanya sebagai kota singgah saja.
Saat memasuki tempat itu, iris biru Naruto berbinar melihat berbagai makanan tersedia di sebuah etalase besar di depan sana. Segera setelah dia masuk, seorang pelayan wanita menyambutnya sopan.
"Selamat datang, Goshujin-sama. Silahkan duduk dan kami akan menyediakan keperluan anda."
Naruto mengangguk sebagai jawaban, berjalan menuju tempat kosong pada salah satu sudut tempat itu. Naruto mendudukkan tubuhnya dan memandang keluar santai.
"Tenguu dan Britain, kurasa membutuhkan waktu satu hari lagi untuk memulai pencarian Holy Grail di titik pertama. Hahhh~kemungkinan besar akan cukup lama aku berada disini nanti."
Ucap Naruto yang mengarahkan tatapan ke atas, alis Naruto tertarik ke atas ketika katana miliknya sedikit mengeluarkan energi hitam sebelum sosok human form Murasame muncul di sampingnya. Naruto menggeleng, entah berapa kali dirinya melarang Murasame untuk mengubah bentuk fisiknya, bukan apa-apa, Naruto hanya takut ada orang lain yang melihat hal itu. Karena bagaimanapun banyak wizard kuat disekitar sini, ia hanya takut Murasame akan menjadi incaran para wizard yang haus akan kekuatan.
"Murasame, bisakah kau berhenti berubah wujud ditempat seperti ini? Bukan apa-apa, aku hanya takut para wizard akan melihatmu dan terjadi hal merepotkan."
Ucapan Naruto mengubah ekspresi awal Murasame, gadis yang merupakan senjata kerajaan itu mengembungkan pipi kesal dan membuang muka ke arah lain.
"Itu salah Goshujin-sama sendiri yang belum bisa meningkatkan link ke tahap lanjut, dan membuat aku harus bertransformasi kewujud manusia untuk dapat berkomunikasi dengan Goshujin-sama."
"Tetap saja, harusnya kau tidak berubah ditempat ramai seperti ini, terlalu berbahaya."
"J-jadi Goshujin-sama tidak mau aku berubah dan menemani Goshujin-sama? Dasar kejam-kejam-kejam!"
Sekali lagi Naruto membuang nafas melihat sifat kekanakan dari gadis roh disampingnya ini, walaupun ada sedikit rasa kesal didalam benak Naruto, namun ia juga tidak dapat berbohong bila kehadiran Murasame menjadi sebuah warna tersendiri di dalam keseharian Naruto yang suram. Selain Irina, ia jadi memiliki teman lain yang bisa mendengarkan setiap keluh kesahnya. Sedikit tersenyum kecil, ia mengacak surai hitam murasame.
"Lebih tepatnya aku tidak ingin kau ada dalam masalah dimana para wizard akan memperebutkanmu."
Mata sang gadis itu berkedip setelah mendengar jawaban Naruto.
"Yah, mau bagaimanapun aku tidak ingin terjadi hal yang membuatku repot. Kau tahu sendiri jika kekuatanku sekarang masih ada di bawah kan, murasame."
"Ya... Aku tahu."
"Maka dari itu, aku ingin kau berhati-hati karena aku masih lemah. Kau yang mengatakan sendiri jika kekuatanmu akan semakin kuat mengikuti tuannya, jadi selama aku masih lemah, kau juga akan sama denganku yang artinya saat ada wizard kuat menyerang kita nanti, kita tidak akan dapat berkutik. Jika hanya aku itu tidak masalah, namun bila kau kembali terkurung dalam katana dan harus menunggu lagi karena aku, itu-"
Ucapan Naruto terhenti ketika tiba-tiba wajah Murasame berubah gelap saat menatapnya, mata hitam itu nampak berair dan mulai muncul isakan kecil dari gadis itu. Err. .. Apa dia salah bicara atau apa?
"Murasame, k-kau kenapa?"
"Goshujin-sama no baka,"
"Errr, ???"
"Baka-baka-baka-baka-baka-baka-BAKA!"
Naruto tidak tahu harus berbuat apa, sesekali dia tertawa hambar ke arah pengunjung yang baru datang ketika melihatnya dengan tatapan tajam. Sial, mereka salah mengira!... Naruto mencoba berbisik pada murasame untuk menghentikan tingkahnya yang memukul-mukul lengannya, namun niat itu terhenti kala murasame malah mendongakkan kepalanya dan menatapnya penuh luka.
Ya ampun, dia tidak paham akan keadaan seperti ini.
"Aku... Tidak suka saat Goshujin-sama mengatakan hal itu, asal Goshujin-sama tahu, setiap apa yang ada dalam hati Goshujin-sama dapat aku rasakan berkat link yang kita miliki. Dan saat mengatakan hal tadi, Goshujin-sama merasakan luka yang dapat kurasakan, aku... Tidak mau merasakan hal itu, perasaan Goshujin-sama terlalu menyakitkan."
He? Benarkah? Naruto bahkan tidak tahu jika link yang mengubungkan dirinya dengan murasame akan sampai pada tingkat berbagi perasaan. Memang benar ketika dia mengatakan hal tadi, dirinya merasakan sedikit nostalgia masa lalu saat bersama Naruko dulu, sedikit mengingat jika dia juga mengatakan hal yang hampir sama seperti yang dia katakan pada murasame.
Tapi, sungguh, dia sendiri juga tidak mau masa lalu itu kembali teringat dikepalanya. Lagipula siapa yang mau mengingat hal seperti itu.
"Goshujin-sama, teringat saudari Goshujin-sama, kan. Aku bisa melihat itu dalam ingatan Goshujin-sama."
Naruto mengambil nafas tenang, wajahnya tersenyum sedikit lalu mengelus kepala hitam murasame. Jika memang [link] dapat mengoneksikan ikatan sampai sejauh ini, maka mulai sekarang Naruto juga harus mengendalikan fikirannya untuk tetap tenang. Naruto tidak mau jika ada orang lain yang merasakan perasaan menyiksa seperti miliknya, tidak, cukup dirinya saja.
"Cukup sampai disini saja, aku berjanji akan lebih menjaga fikiranku." Ujar Naruto pelan, matanya bergerak kesamping saat mengetahui seorang pelayang datang ke arahnya. "Yosh! Waktunya kita memesan makanan!"
Murasame terdiam sembari menatap Naruto, meski dia mendengar hal itu dari tuannya, namun ia juga tahu jika Naruto hanya menghiburnya. Murasame tahu bahwa [link] miliknya dan Naruto belum lama tercipta. Akan tetapi, tidak perlu memakan waktu banyak bagi Murasame untuk mendalami apa yang dirasakan tuannya. Karena sejak awal [link] memanglah sebuah magic alami yang menyatukan seseorang dengan senjata seperti dirinya.
Tapi, untuk sekarang Murasame harus percaya pada tuannya, karena apapun yang akan terjadi pada tuannya nanti, sudah tugas Murasame untuk melindunginya.
...X...
Hari berganti , dan tidak terasa Naruto telah berdiri di depan gerbang pintu masuk kota Britain. Manik biru itu menatap ke atas dimana sebuah tulisan kuno terpajang di sebuah tugu besar, mengalihkan tatapannya pada wilayah sekitar dan dapat ia lihat beberapa prajurit berbondong masuk ke dalam kota,. Naruto mengendikkan bahunya sebelum mengikuti beberapa prajurit masuk ke dalam kota Britain.
Berjalan sambil mengedarkan arah pandang ke sekelilingnya, Naruto yang menenteng pedang kutukan Murasame itu berhenti saat melihat sebuah kerumunan di persimpangan kota. Alis matanya terangkat, merasa sedikit tertarik dengan keramaian itu dan mulai mendekat. Menerobos beberapa orang yang berdesak-desakan, diakhir tujuan itu Naruto dapat melihat dua orang yang sepertinya adalah dua sosok penyebab keramaian ini.
"Hentikan pencarianmu terhadap Holy Grail, bocah. Atau aku akan menikmati tubuhmu lalu mencincangnya menjadi potongan dadu kecil?"
Pria besar berotot yang sedang mengacungkan kapak raksasa ke arah perempuan bersurai raven itu mengeluarkan sebuah ancaman yang membuat perempuan raven panjang tadi tersenyum tipis, iris mata sayu itu entah mengapa membuat semua yang memandang langsung akan terhipnotis dengan sendirinya. Sedikit menjilat bibirnya sensual, perempuan tersebut memasukkan telunjuknya ke dalam mulut.
"Ara~bagaimana jika aku tetap tidak mau?"
Sebuah dengusan dan seringai kejam muncul dalam sekejap di wajah pria besar tadi, bersamaan angin yang menghembus di tempat itu, pria berotot tadi telah memotong jarak dengan sang perempuan di depannya. Ayunan kapak siap membelah tubuh sang gadis, dan semua menatap hal itu dengan mata membola.
Trankkkk!
Angin berhembus pelan menerbangkan helaian pirang yang muncul begitu cepat di dalam perkelahian itu. Katana yang masih terbungkus dalam wadahnya menahan kapak besar dari bawah, menggunakan kedua tangannya dan menambah daya dorong pada kakinya, pemuda bernama Naruto itu mendorong pria besar tadi sebelum melakukan gerakan cepat dan melayangkan tendangan tumit pada wajah pria tadi hingga tersungkur kebelakang.
"Aku paling tidak suka, kekerasan. Apalagi, itu dilakukan pada seorang wanita."
Perempuan bersurai raven tadi terdiam melihat datangnya Naruto, kecepatan yang cukup mengejutkan dirinya dan membuat sensor mana miliknya hampir tidak dapat mengikuti gerakan pemuda tadi. Iris mata ungu violet itu meneliti penampilan Naruto yang tak asing dimatanya, sepertinya..., dia pernah melihat pemuda ini,. Perempuan tersebut terhenyak ketika mata biru itu menatap tubuhnya intens...
"Ara.. Ara... Jangan memandangiku seolah aku sedang bugil seperti itu, pemuda-san. Aku malu~"
Naruto yang mendengar nada manja dari sosok yang dia kenal itu menaikkan alis tidak mengerti, namun itu tidak bertahan lama setelah nalurinya berteriak keras. Naruto bergulung ke samping, menghindari serangan kapak besar yang menghancurkan permukaan tanah disekitarnya. Menormalkan tubuh dan mengadahkan kepalanya hanya untuk melihat raut bengis yang sedang di arahkan padanya. Naruto beranjak berdiri.
"Senpai, aku dengar dari pria kelebihan otot ini, kau sedang mencari Holy Grail. Apa... Itu benar."
Tanya Naruto tanpa menatap perempuan yang mengernyitkan dahinya karena Naruto memangil senpai. Apa, pemuda ini mengenalnya? Ataukah jangan-jangan dia...
"Tidak usah berfikir senpai, kita memang dari daerah yang sama yaitu School Of Kingdom di ibukota kerajaan. Awalnya kufikir itu tidak mungkin tapi setelah kuingat, ternyata kau memang senpai hentai yang selalu menempel pada seorang pemuda Knight bernama Hyoudou Issei."
Wajah terbengong, mata melotot dan pipi merona hebat terjadi pada perempuan tersebut. Penyebab yang tidak lain adalah ucapan frontal dari Naruto yang mengatakan dirinya hentai membuat dia malu setengah mati, apalagi ditengah keramaian seperti ini. Sedangkan Naruto yang melihat senpai itu tidak menunjukkan gelagat akan menjawab mulai menarik nafas tenang setelah mengikatkan Murasame kepunggungnya.
"Berani-beraninya kau mengganggu acaraku bocah!"
Naruto tidak bergeming sedikitpun, ketenangan yang ia tunjukkan mempengaruhi keadaan sekitar dimana semua orang terdiam membisu, bahkan untuk perempuan yang ia panggil senpai. Ketika pria itu berniat menyerangnya, Naruto terlebih dahulu bergerak cepat dan melayangkan satu pukulan yang menyerang titik vital pria tersebut, membuat pria itu terhempas menabrak bangunan sekitar sebelum berakhir tergeletak tak sadarkan diri.
Tarikan nafas dilakukan Naruto, mengabaikan tatapan kagum yang diberikan untuknya, Naruto berjalan mendekati senpai yang masih berdiri di tempat semula. Wajah perempuan itu tidak dapat ia lihat karena tertutup oleh bayangan rambut ravennya.
"Akeno Himejima, Wizard tingkat 6 yang menguasai [Holy Thunder] dimana dapat memanipulasi mana menjadi petir putih dan menguasai sebuah karya Tuhan [Mirror] yang bisa membuat bayangan maya atau klon dari sebuah benda. Senpai sangat terkenal di sekolah karena sihir unik yang senpai miliki, dan senpai mungkin mengenalku, aku adalah Naruto dari kelas Knight tahap 1."
"Baka..."
"Eh?"
"Dasar BAKA!!!!"
Sebuah [line magic] terbentuk di tangan Akeno, percikan-percikan kilat listrik terkumpul didalam [line magic]. Naruto yang sama sekali tidak mengerti akan apa yang terjadi menatap Akeno ngeri,.. Apa yang sudah dia perbuat?! Apa?! Apa?!!!
"T-tunggu senpai,"
"Jawablah perasaanku, [Holy Thunder]"
"Senpai! Itu berbahaya! Huaaa! Sial! Senpai, hentikan! Huaaa!"
Berlari dan melompat ke sana kemari dan tertawa-lupakan-menghindari terjangan petir putih yang nampak amat berbahaya, Naruto berteriak panik begitu juga semua orang yang terimbas petir nyasar. Semua kerumunan melarikan diri, namun tidak dengan Naruto yang kurang beruntung karena terjebak di antara empat [line magic] berwarna putih.
"S-senpai, aku hanya menyapamu saja, kumohon jangan bunuh aku!"
"Nfufufufu~"
"S-senpai?"
"Rasakan ini, [Holy Thunder]!"
"Oh, S-sial."
...X...
Meringis pelan saat Akeno Himejima membalut luka yang ada di tangannya dengan sebuah kain kasa, Naruto memandang sebal gadis yang merupakan senpainya disekolah kerajaan itu. Wajah cantik yang hanya tersenyum tanpa dosa menanggapi tatapan kesalnya membuat mood Naruto semakin drop.
"Senpai mau membunuhku, kan?"
Pertanyaan ini adalah ketiga kalinya yang ia tanyakan pada Akeno, dan seperti sebelumnya Akeno hanya tertawa hambar. Apa-apaan itu?! Setelah mau membunuh orang, beginikah sikap yang harus ditunjukkan? Tch, perempuan ini memang seperti rumor yang beredar, dia memiliki sifat Psico.
"Maafkan dia, Naruto-san. Senpai memang seperti itu, dia akan menyerang siapapun yang mengatainya hen-"
"Teruskan dan kau akan menjadi perkedel asap, Issei-kun."
Naruto terdiam memandang interaksi perempuan dan lelaki di depannya. Sebenarnya, ia sedikit berterima kasih pada pemuda bernama Hyoudou Issei itu, berkat issei, ia terhindar dari sengatan [Holy Thunder] milik Akeno. Tapi, siapa sangka juga, ternyata bukan hanya dirinya yang mencari Holy Grail dari kerajaan. Dua orang ini rupanya juga sedang mencari benda keramat itu.
Yah.,. Sepertinya pencarian agak sedikit sulit nanti, apalagi Naruto juga mengenal dua orang yang merupakan anggota klub disekolahnya itu. Naruto juga tahu akan dua orang ini, hey, siapa yang tidak mengenal Hyoudou Issei dan Akeno Himejima? Tercatat sebagai murid berbakat dari yang berbakat dan merupakan pemegang senjata Tuhan.
Hyoudou Issei Knight pemegang senjata Tuhan yang tercatat sebagai 13 senjata terkuat dibumi, sebuah senjata yang konon dapat memporak-porandakan dunia jika dalam kondisi penuh. Entah siapa yang menciptakan senjata ini, sejak dulu sejarah hanya menamainya senjata Tuhan karena memang kekuatan diluar akal sehat yang mereka miliki.
Sementara Akeno Himejima, dia yang Naruto tahu merupakan Wizard berbakat yang menguasai sihir elemen langka yang dapat memanipulasi petir putih sebagai serangan. Selain itu, Akeno juga memiliki satu senjata Tuhan, walau tidak masuk sebagai 13 senjata berbahaya, namun kekuatan benda itu juga cukup menyusahkan. [Mirror] nama senjata Akeno yang Naruto tahu, fungsi utama senjata itu sendiri adalah menyalin sesuatu-tepatnya membuat klon dari sebuah benda yang memiliki kemampuan sama. Misalnya, seperti jika Naruto membuat klon dari murasame yang memiliki kekuatan sihir kutukan, maka klon itu juga akan memiliki kekuatan yang sama. Namun, sayangnya klon dari [Mirror] hanya dapat bertahan beberapa menit saja.
Dua pemegang senjata Tuhan dan merupakan murid kerajaan yang berbakat, dua orang ini sangat berbahaya jika menjadi musuhnya. Apalagi, mereka juga memiliki tujuan yang sama yaitu mencari Holy Grail, dan itu menandakan mereka adalah musuh saat ini. Ya... Walau bagaimanapun Naruto tidak ingin dua orang ini menjadi musuh, dengan semua kekuatan yang mereka punya, pasti itu akan sangat menyulitkannya.
"Naruto-san, apa kau juga mencari cawan suci?"
Ah, sial. Belum satu menit dia memikirkan hal ini, tapi pertanyaan dari Akeno malah membuatnya semakin bingung apakah akan menjawab atau tidak. Naruto menghela nafasnya pelan, jika memang mereka menganggap musuh, apa boleh buat.., sepertinya dia harus jujur.
"Ya, aku mencari Holy Grail juga. Dan dari yang kudengar dari pria tadi, Akeno-san juga mencari benda itu."
"Ara, memang benar sih, aku dan Issei mencari Holy Grail juga."
"Jadi, kita bermusuhan ya? Dan asalkan senpai tahu, walau harus melawan kalian, tekadku sudah bulat untuk mendapatkan Holy Grail, apapun yang akan terjadi aku harus mendapatkan benda itu."
Ujar Naruto tenang, tubuhnya tetap duduk di kursi dan menatap Akeno. Dua orang didalam ruangan itu terdiam sesaat, saling menatap sebelum mereka tertawa lepas, membuat dahi Naruto berkerut tak mengerti. Apa yang lucu dari ucapan Naruto?
"Sebenarnya, aku dan Akeno-senpai mencari Holy Grail karena kebutuhan klub." Ujar Issei sambil masih terkekeh pelan, ia memandang Naruto dengan mata coklat mudanya. "Kau pasti tahu, kan? Jika setiap klub disekolah diharuskan memiliki laporan kegiatan sesuai tujuan dari klub itu. Dan karena klub kami memiliki tujuan dalam meneliti hal gaib, baik itu [mana] maupun benda-benda seperti Holy Grail, jadi mau tidak mau kami juga harus membuat laporan tentang itu. Awalnya, kufikir akan membuat laporan mengenai senjata roh, tapi karena hal itu sangat sulit didapatkan mengingat pihak kerajaan telah memberikan hak milik senjata pada klan, maka kami memilih opsi selanjutnya yakni mencari Holy Grail."
Terdiam setelah mendengar perkataan Issei, Naruto beralih menatap Akeno yang menepuk pundaknya pelan.
"Tenang saja Naruto-kun, kami tidak akan menjadi musuhmu. Kita bisa mencari Holy Grail bersama-sama jika kau mau, dan kita bisa menggunakan benda itu bersama-sama. Ah, mengenai itu, memang kau akan menggunakan Holy Grail untuk apa?" Tanya Akeno penasaran, sama halnya seperti Hyoudou Issei yang menatapnya penuh minat.
"Aku... Membutuhkan Holy Grail untuk memperbaiki sistem manaku yang cacat, mungkin kalian juga sudah mengetahui jika aku tidak memiliki mana yang cukup untuk membentuk [line magic, maka dari itu aku ingin memperbaikinya dengan Holy Grail."
"Ah, aku pernah mendengar juga kalau Holy Grail memiliki kekuatan yang mampu meningkatkan [mana] dengan cara meminum air suci dari cawan itu, mungkin setelah kita mendapatkannya nanti, Naruto-kun bisa menggunakannya."
Senyum Naruto terbentuk di wajahnya, ia tidak menyangka jika dua orang ini begitu baik. Meskipun dia juga sudah tahu jika dua orang ini tidak pernah memandang status seseorang dari kekuatan, tapi tetap saja.., dia tidak menyangka masih ada saja orang baik selain Hiruzen dan Irina. Dan dengan tawaran ini, mana mungkin Naruto bisa menolaknya?, dia tidak bodoh untuk menolak tawaran besar di depan mata, ia membutuhkan kekuatan untuk mencari cawan itu, dan lagi.., sepertinya Issei dan Akeno tahu lebih banyak dibandingkan dia.
"Aku tidak masalah mencari Holy Grail dengan kalian, sebaliknya aku malah senang ada orang yang mau membantuku."
"Hahahaha, tenang saja Naruto-san, aku dan kelompokku tidak pernah memandang seseorang dibawah kami, dan menganggap semua orang memiliki hak yang sama. Dan lagi, kulihat kau adalah orang yang menyenangkan, jadi tidak ada salahnya kan jika kita berteman."
Naruto tertegun mendengar hal itu, oke... Ini cukup riskan, ia memiliki trauma tersendiri dengan kata 'teman' itu. Selalu dikucilkan dan dikhianati oleh orang-orang yang dipercayai membuatnya waspada dengan orang yang mengatakan 'teman' padanya. Tapi, untuk sekarang ia akan bersikap biasa dan tetap waspada, karena bagaimanapun kebaikan mereka, itu tidak menjamin bahwa mereka tidak akan berkhianat.
Issei mengernyit melihat Naruto diam sebelum menjabat tangannya yang terangkat. Issei tahu akan pemuda ini, kebiasaan dan juga gosip yang menyangkut Naruto. Mungkin saja, Naruto belum mempercayai mereka mengingat hampir seluruh sekolah begitu membencinya. Issei sendiri juga pernah mendengar bahwa salah satu Princess sekolah dekat dengan Naruto selama beberapa hari, tapi semua berakhir ketika pemuda itu malah dikhianati dengan dalih bahwa mendekati Naruto hanyalah sebuah taruhan. Issei tahu semua itu.
Tapi, ia yakinkan bahwa dia tidak akan pernah mengkhianati temannya.
Naruto melepaskan jabatan dengan sebuah senyum kecil, matanya beralih menatap Akeno yang sedari tadi diam dengan tatapan kosong, alisnya berkerut heran. Issei melihat keanehan itu, ia berbalik dan memandang Akeno terkejut. Sepertinya perempuan itu merasakan sesuatu. Issei berjalan mendekat, menyentuh pundak Akeno dan mengejutkan perempuan itu.
"I-issei..."
"Kau merasakan sesuatu?" Tanya Issei serius dan mendapatkan anggukan dari Akeno, sementara Naruto memandang hal itu dalam diam.
"Aku merasakan [mana] suci dari tengah kota, tapi langsung lenyap dan berpindah keutara secara cepat. Tapi, yang aku bingungkan [mana] suci itu kembali menghilang dan muncul lagi di daerah barat, semua itu terus berubah berinterval selama 1 menit." Jelas Akeno yang kebingungan. Mereka terdiam berfikir sebelum Naruto membuka suaranya kembali.
"Ini, seperti Magic ilusi kuno yang digunakan klan Uchiha, mungkin kalian tahu magic illusion [Trianggel]? Kemampuan magic ini sedikit unik, yaitu dengan menempatkan tiga pecahan dari [Mana] dan menyebarkan ketiga titik membentuk segitiga. Jika apa yang dikatakan Akeno-san benar, maka aku bisa menyimpulkan..." Naruto mengambil sebuah alat tulis di balik kantungnya, dan itu sebuah arang. Berjalan pelan ke arah dinding dimana ada peta kota Britain. Naruto menggambar tiga titik di tempat berbeda dan menyatukan menjadi sebuah segitiga miring. "Aku mengambil tiga arah yang ditunjukkan Akeno-san, pusat kota, utara dan barat dan menjadi sebuah segitiga yang cocok dengan teori magic ilusi tadi. Dan seperti yang kutahu, beberapa kesaksian juga mengatakan pernah melihat cawan suci di tiga arah ini yang membuat dugaanku semakin kuat. Jika seperti ini, harusnya posisi [mana] suci yang Akeno-san bicarakan ada disini, dan kemungkinan besar juga [mana] itu adalah pancaran energi dari Holy Grail." Ujar Naruto melingkari sebuah titik bulat di peta itu.
Disisi Akeno dan Issei, mereka menatap Naruto dengan pandangan bertanya. Inikah orang yang disebut pecundang bodoh oleh para murid? Karena bagaimanapun, dilihat dalam hal apapun, cara Naruto menjelaskan opininya tadi begitu berkharisma, dan sama sekali tidak menunjukkan gelagat pecundang bodoh seperti yang tersebar selama ini.
"Kurasa, kita sudah memiliki titik yang harus didatangi. Sebaiknya, jika mau mendapatkan Holy Grail kita harus cepat bergerak." Tegas Naruto yang mengambil Murasame dan mengikatkan pada punggungnya. Akeno dan Issei menatap Naruto terkejut. Hey, ini hampir tengah malam!
"Bukankah lebih baik kita bergerak besok? Ini sudah malam, kau tahu." Ujar Issei yang tidak menyetujui usulan Naruto.
Naruto membuang nafasnya menatap Issei, "[Trianggel] memiliki keunikan tersendiri, Issei-san. Magic itu akan terus berpindah dan menghilang untuk menghindari wizard tipe sensor seperti Akeno-senpai. Untuk sekarang, inilah waktu yang tepat untuk mendapatkan cawan suci."
"Ya, aku juga setuju, yang dikatakan Naruto-kun memang benar. Ini waktu yang tepat."
Issei menatap tak percaya Akeno sebelum mendesah pasrah. Apa boleh buat jika Akeno sudah menyetujuinya.
"Yah, baiklah."
-Change Scene-
Issei tertegun melihat sebuah goa besar di depannya, siapa yang menyangka jika tempat yang terlihat dipeta sebagai kawasan hutan itu merupakan gua besar seperti ini? Apalagi melihat begitu banyaknya rangka manusia tercecer disana, membuktikan jika sudah banyak orang yang datang ke tempat ini, err-terjebak mungkin lebih tepat.
"Banyak sekali rangka disini," Naruto yang berjongkok di depan rangka manusia berucap pelan, matanya terpaku pada sebuah retakan pada batu yang ada dibelakang rangka itu.
"Apa mereka saling serang dan membunuh?" Tanya Issei dan dijawab endikkan bahu oleh Akeno.
"Tidak, kulihat tidak ada bekas pertarungan disini," Guman Naruto pelan dan memungut sebuah anak panah aneh yang terbuat dari emas. "Anak panah ini terlalu bagus untuk ukuran anak panah milik wizard maupun knight seperti kita, dan dari yang kulihat, bekas-bekas disini juga menunjukkan serangan dari satu arah." Naruto merubah pandangan ke depan, menatap langsung ke dalam gua dimana hanya ada hawa sepi didalam sana. Terlalu sepi, itu menurut Naruto.
"Kurasa kita bisa masuk sekarang."
Mata Naruto membulat terkejut melihat Akeno yang melangkah masuk ke dalam gua.
"Akeno-san! Tunggu!"
Terlambat bagi Akeno untuk merespon, baru saja 5 langkah perempuan itu masuk ke dalam gua, ratusan [line magic] bermunculan dari dalam gua dan mengakibatkan tempat itu bercahaya terang. Ratusan anak panah berwarna emas bermunculan dan meluncur mengarah pada Akeno. Dilihat dari sudut manapun, serangan itu tidak dapat dihindari oleh Akeno, mengingat perempuan itu juga merupakan tipe teknik dimana tidak memiliki kecepatan dan ketangkasan seperti Knight.
Naruto mendecih kesal, jarak antara dirinya dan Akeno terlalu jauh dan membuatnya tidak sempat bergerak ke arah wanita itu. Disela keadaan mendesak itu, cahaya menyilaukan keluar dari tangan kiri Issei. Sebuah sarung tangan besar mirip cakar berwarna merah menyelimuti lengan Issei sebelum pemuda itu bergerak dengan kecepatan tinggi ke depan Akeno, ia mengangkat tangannya, dan darisana muncul sebuah [mana] terkonsentrasi dalam bentuk bola.
"Dragon Shot!"
Gelombang ledakan melesat lurus ke depan, memusnahkan semua anak panah yang melesat ke arah mereka sebelum meledak di dalam goa menciptakan getaran hebat di permukaan tanah. Naruto menatap terkejut hal itu, sebuah teknik pemusnah yang sangat besar. Inikah benda yang dikatakan senjata Tuhan? Sangat hebat..
Naruto menghela nafas dan bejalan ke arah mereka berdua yang terlihat masih tenang, Naruto tertawa miris. Apa yang harus dia khawatirkan dari dua orang berbakat ini? Dengan melihat kekuatan mereka dan kekuatannya, justru yang harus dikhawatirkan adalah dirinya. Issei melihat kebelakang dimana Akeno dalam keadaan baik baik saja, ia menghilangkan sarung tangan bercakar miliknya dan berbalik memandang Naruto.
"Kau tidak apa-apa, Naruto-san?"
"Yah, aku baik-baik saja. Dan kusarankan kalian lebih waspada, karena kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di depan sana."
Issei mengangguk setuju, begitu pula Akeno yang sedikit merasa bersalah karena hampir mencelakai teman-temannya.
"Terima kasih, Issei, Naruto-kun. Dan maaf aku sudah merepotkan kalian."
Naruto terdiam dan memandang Akeno dengan senyum kecil, "Tidak, harusnya aku yang berterima kasih karena kalian mau mendengarkanku. Dengan keadaanku sekarang, aku hanya dapat membantu dengan otak dan pengamatanku."
"Tidak, Naruto-san. Tanpamu yang menjelaskan tentang tempat ini, mungkin kami masih harus memerlukan waktu lama untuk mencari tempat ini."
"Ya, Issei benar, jangan terlalu memaksakan diri Naruto-kun."
Tersenyum sebagai jawaban, Naruto mulai kembali fokus ke dalam gua sepi itu. Semacam pencahayaan dari dalam membuat dirinya mengernyit pelan, berniat maju dan melangkah lebih dekat, Naruto berhenti dan menyilangkan kedua tangannya ketika sebuah tornado kecil menghantam tubuh Naruto, membuatnya terpental kebelakang dan menabrak bebatuan keras.
"Naruto-san/Naruto-kun!"
Naruto bangkit dibantu oleh Akeno dan Issei, iris birunya menatap ke depan dimana dua siulet mulai terlihat mendekati mereka.
"Ada penyusup ya, sudah lama sejak 10 tahun lalu ya, Yuzuru."
"Menjawab, Kau benar Kaguya."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Menjawab, Tentu saja seperti kata ayah. Musnahkan."
Dua sosok gadis berpakaian ala putri bangsawan muncul di depan Naruto, wajah cantik dan surai jingga terlihat sama yang dapat menyimpulkan jika dua sosok ini adalah anak kembar. Mereka tertegun sejenak ketika bertemu pandang dengan Naruto sebelum tatapan mereka berubah tajam.
Issei dan Akeno memasang sikap siaga, sementara Naruto menatap mereka serius. Elemen angin dan juga dua gadis kembar, mungkinkah... Mata Naruto berubah tajam dan menarik Murasame, ia maju kedepan dan berdiri di hadapan Akeno serta Issei, membuat dua orang itu terkejut.
"N-naruto-kun?"
Naruto mengabaikan cicitan Akeno yang memanggil dirinya. Ia tidak menyangka jika akan ada roh kuat yang menghadang perjalanan mereka. Naruto mendecih pelan dan tetap waspada.
"Naruto-san, apa yang kau lakukan?" Tanya Issei yang tidak paham mengapa Naruto memasang pose bertarung, sejujurnya ia tengah memikirkan cara berdiplomasi dengan dua perempuan itu dan mengambil jalan tengahnya. Ia tidak terlalu suka menyelesaikan semua dengan kekerasan. Naruto mengambil udara singkat dan memasang kuda-kuda tanpa menggubris pertanyaan Issei karena fokus tinggi yang dia gunakan.
"Issei-san dan Akeno senpai, mereka adalah roh yang menjalin kontrak dengan wizard sebagai roh penjaga. Mereka terkenal akan kesetiaan mereka dalam menjaga sesuatu sampai kontrak itu habis, dan jika mereka ada disini, berarti itu menandakan bahwa mereka tengah menjaga sesuatu yang sangat berharga. Bukan begitu, Yamai bersaudara?" Ujar Naruto yang diakhiri pertanyaan tajam pada dua gadis disana. Dua sosok itu menyeringai senang.
"Kagum, tidak kusangka kita sangat terkenal."
"Hehehe, kau benar Yuzuru. Dan kau pemuda-san, aku akan memberi hormat padamu karena telah membuat kami merasa senang. Kami adalah Yamai bersaudara, namaku Kaguya dan dia adikku Yuzuru. Atas perintah ayah yang menjalin kontrak dengan Wizard bernama Ikuse, kami diperintahkan untuk membunuh siapapun yang berniat mengambil Cawan suci milik Arthur Pendragon."
Naruto mengeratkan genggaman pada Murasame, matanya terpaku pada dua Yamai yang mulai melayang dengan tornado kecil mengangkat tubuh mereka.
"Maaf, tapi kurasa perjalanan kalian cukup sampai disini." Ucap Kaguya Yamai sambil menciptakan puluhan [line magic] di depannya.
"Menyetujui, Kalian harus mati." Sahut Yuzuru yang melakukan hal sama. Sedangkan Naruto mengeratkan rahangnya sebelum dikejutkan oleh tepukan dipundaknya, iris biru itu melirik ke samping dimana Akeno tengah tersenyum ke arahnya.
"Naruto-kun, aku punya rencana yang bagus."
Dahi Naruto berkerut tidak mengerti dan beralih pada Issei yang juga tengah tersenyum ringan, ia menurunkan Murasame.
"Percayalah pada kami." Ujar Issei selanjutnya dan memunculkan sarung tangan merahnya kembali. Naruto menatap itu dalam diam.
"Ayo serang, Yuzuru!"
"Ya."
Jarum angin muncul dari dalam [line magic] dan menghujani posisi Naruto secara beruntun, ledakan demi ledakan terjadi dimana itu terus menggetarkan permukaan tanah di dalam gua. Debu mengepul menutupi tempat itu setelah serangan dua Yamai terhenti, beberapa detik Yamai bersaudara menantikan hasil dari serangan mereka. Kernyitan terkejut tergambar di dahi dua gadis roh itu saat melihat pendar cahaya dari [line magic] bersinar dari dalam debu, dan perlahan mereka dapat melihat sebuah kubah putih yang menutupi musuh mereka dari serangan. Tatapan dua perempuan roh itu menajam seiring mereka menyadari sesuatu.
Issei tersenyum dibalik kubah ciptaan Akeno, ia menatap ke udara dimana dua Yamai tadi tengah menatap mereka tajam.
"Dimana pemuda pirang tadi?"
Pertanyaan itu sukses mencetak senyum kemenangan di bibir kedua murid School of Kingdom, Akeno menghilangkan kubah energinya dan menciptakan satu [line magic] ditangannya. "Kalian meremehkan kami, aku adalah wizard teknik yang mana hampir semua jenis sihir aku kuasai, tidak sulit untuk mengirim Naruto-kun kedalam sana dengan teleportasi." Ujar Akeno bangga, namun kebanggaan itu sirna saat kekehan Kaguya dan tawa kecil Yuzuru terdengar ditelinganya.
"Apa kau fikir setelah berhasil melewati kami kau akan bebas? Tidak, kalian salah."
Issei dan Akeno mengernyitkan dahi mereka.
"Mengingatkan, sebenarnya kami diperintahkan ayah untuk menghadang penyusup agar tidak masuk kedalam karena sebuah alasan, yaitu ayah kami yang akan menyiksa penyusup jika dia berhadapan langsung dengannya sampai mati."
Mata keduanya membulat sempurna, jika benar begitu, maka Naruto dalam keadaan bahaya! Sial!
Akeno merutuk dalam hati, ia salah mengambil langkah, jika begini maka, tidak waktu untuk berfikir! Akeno berlari menyerang, ia harus menyusul Naruto segera!
Swushhh!
Sebuah angin menerpa keras tubuh Akeno hingga terhempas kebelakang, beruntung ada Issei yang menangkap tubuhnya untuk menghindari benturan. Mereka menatap dua Yamai yang sedang menyeringai ke arah mereka.
"Kalian tidak akan bisa lewat lebih dari ini."
Akeno mendecih kesal, dengan begini dia hanya dapat percaya pada Naruto dan berharap pemuda itu bertahan sampai mereka datang membantu. 'Naruto-kun, tunggu kami. Kami pasti akan membantumu.'
...X...
Naruto terengah dengan tatapan kosong, efek dari teleportasi membuat kepalanya pening. Ia mengambil nafas tenang sebelum sebuah suara mengejutkannya.
"Kau hebat juga, berhasil melewati dua putriku itu."
Naruto mengadah ke depan, dimana seorang pria berumur 30 tahunan tengah menatapnya dengan bola mata abu gelap. Surai orange panjang pria itu terayun seiring langkah pria tersebut yang mulai mendekat. Tatapan awal santai perlahan berubah menjadi tatapan mengerikan dengan seringai kejam diwajahnya.
"Tapi, aku senang karena akan bisa menyiksamu sampai mati, khekhekhe!"
Pandangan Naruto menajam!
Sial!
-Cut-
Balasan Review!
Hai! Kali ini, Himejima Akeno yang akan menjawab beberapa Review yang sudah mampir ke kolom.. Nfufufu...
Apakah holy grail ini yang termasuk dalam unsur fate the series. Mungkin bisa ditambahkan unsurnya dari the lord of the ring, world craft, dan juga unsur game breath of fire : Nfufufu-Tidak pemuda-kun, Kitsu-san mengambil ide ini atas cerita dari cawan suci dan kesatria meja bundar, jika pemuda-kun mau tahu lebih lengkap, silahkan Search. Terima kasih sudah mampir, dan saran itu akan saya fikirkan~Nfufufu
konohamaru jadi dark thor? Oh ya thor, aku mau kasih saran mainstream nih... HAREM THOR,. INCEST NGGAK APA APA..,. Gitulah... Ara.., ara, Anda sangat mesum ya, pemuda-san. untuk Konohamaru-san, akan dilihat pada Chapter 7-8.
Krern thor,dan apa nanti Naruto memiliki mana thor?dan kalau bisa pair Harem ya thor,dan SEMANGAT TE Fufu, Naruto-kun udah punya mana, tapi dalam tingkat sangat rendah, dan untuk ini, bisa dibilang Naruto-kun akan tetap memiliki tingkat mana seperti sekarang. jadi tunggu saja.
ada pairingnya gk sih naruto?
Kok alur gitu2 doang ..
Apa gk ada romancenya? Nfufufuu, Tenang saja Pemuda-san, pair akan muncul kok. tapi, kalo memang tidak ada, aku siap menjadi pasangan Naruto-kun,
Ara~Sepertinya sampai disini saja ya, Minna-san. dan karena Saya akan melawan dua Yamai-maka sesi jawaban akan saya tutup... Bubye Minna, sampai jumpa lagi, Nfufufu~
