Mask
Sebuah ide cerita dari Kitsu dengan meminjam beberapa chara dari pemilik mereka.
...xXx...
[Forbidden Magic] adalah sihir yang paling misterius di dunia ini. Misterius yang dikatakan dalam hal ini bukanlah sebuah sihir yang paling kuat dan langka, melainkan potensi dari [Forbiddden Magic] yang sangat sulit diprediksi. Dikerajaan, telah tercatat lebih dari 1000 wizard yang memiliki kemampuan ini dan mendapat jalur khusus ke dalam School Of Magic karena potensi mereka yang dianggap menjanjikan oleh pihak kerajaan.
Akan tetapi, satu persatu pemilik [Forbidden Magic] menunjukkan hasil nol besar dimana mereka hanya menguasai sihir biasa. Sampai pada akhirnya, murid pemilik [Forbidden Magic] mulai terlihat biasa dan tidak menonjol. Mereka yang dikatakan berbakat dan memiliki sebuah potensi besar pun harus rela tersingkir dan menjalani kehidupan biasa.
Penyebab pasti yang mengakibatkan terhambatnya potensi sihir [Forbidden] belum terpecahkan... Sampai nanti, seorang anak akan menunjukkan sebuah potensi terbesar dari [Forbidden Magic].
Chapter 6
Tekanan [Mana] kuat yang berasal dari Yamai menggetarkan permukaan tanah dalam goa itu. Pencahayaan yang hanya berasal dari ratusan benda bernama Crystal bersinar menerangi tempat itu. Naruto dengan tangan bergetar mencoba tetap berdiri dalam menghadapi intimidasi dari Yamai, berusaha agar tubuh itu tidak roboh karena tekanan kuat yang seolah menambah gravitasi pada tanah yang dia pijak. Iris biru Naruto tetap fokus ke depan, sebisa mungkin tetap tenang menghadapi roh kuat di depannya.
Yamai bukan roh sembarangan, Naruto tahu itu. Gelar sebagai Dewa Badai penguasa petir dan angin membuat Yamai begitu terkenal di dalam buku legenda Dewa. Dan itu buruk jika memang legenda dalam buku itu adalah kenyataan. Naruto mengingat kembali rencana Akeno-senpai yang akan mengirimnya ke dalam dan mencari Holy Grail sementara Akeno dan Issei akan menghadapi dua putri Yamai. Sebenarnya Naruto dapat menolak itu karena ia sendiri tahu jika disebuah tempat ada si kembar Yamai, maka ditempat itu juga dipastikan ada ayah mereka, sosok Yamai sang Dewa Badai.
Namun jika dia mengatakan hal itu, kemungkinan besar Akeno akan mengubah rencananya, dan Naruto tidak mau itu terjadi. Jika mereka menghadapi musuh bersama, bukan tidak mungkin Naruto hanya akan melihat mereka berdua beraksi dan akan menjadi seorang penonton bodoh. Tidak, dia butuh lebih banyak tantangan untuk maju, memang jika mereka bertiga bersama maka kesempatan mendapat Holy Grail akan semakin besar, tapi sebatas itu Naruto juga tidak memiliki kesempatan untuk terus mengasah kemampuannya.
Sungguh, dia tidak akan bergantung pada siapapun dan tidak akan pernah memanfaatkan siapapun! Dia pasti, pasti akan melampaui semuanya dengan usaha kerasnya sendiri.., Naruto meninggikan Murasame setinggi kepala, tangannya menyilang membentuk .
Naruto tidak ingin bicara karena dia tahu sosok Yamai tidak akan pernah mendengar sebuah negosiasi, jadi tidak ada pilihan lain selain menyerang. Kalah atau menang, itu akan menjadi urusan nanti, dan Naruto siap menerima apapun resikonya. Naruto mulai bergerak cukup cepat, membuat pola Z dalam serangannya, Naruto mencoba menebas Yamai dari samping. Tidak ada gerakan sedikitpun dari Yamai, dewa itu hanya menyeringai dan dalam gerakan sangat cepat menendang tubuh Naruto.
"Guahhh~"
Berteriak kesakitan setelah meluncur lurus ke belakang dan menghantam dinding goa, Naruto meludahkan darah yang datang dari tubuh dalamnya lalu menatap Yamai tajam. Gerakan yang sangat cepat.., itu sudah diperkirakan Naruto, dia tidak bodoh untuk tidak mengetahui kekuatan lawannya. Iris biru Naruto bergerak kesisi samping Yamai yang terlihat memiliki sedikit celah. Kembali bergerak cepat, Naruto menggunakan bebatuan goa untuk melompat tinggi menuju langit-langit goa, kedua kakinya melemas sebelum menegang diiringi sebuah terjangan ia lakukan ke arah Yamai.
Sedikit mendengus kecil, Yamai membalikkan tubuhnya dan menahan Murasame yang terarah padanya dengan tangan kosong. Mereka berdua saling menatap singkat sebelum sosok Yamai dikejutkan oleh Naruto yang melepas Murasame dan jatuh ke hadapannya. Postur tubuh tinggi Yamai membuat Dewa badai itu hanya dapat menunduk sebelum pukulan keras Naruto jatuh pada perut berarmornya. Yamai terseret beberapa meter, tidak jauh karena Yamai hanya sedikit terkejut akan apa yang dilakukan Naruto. Iris mata abu itu terpejam dan kembali terbuka senang.
"Gerakanmu cukup gesit juga ya, anak muda." Ujarnya dengan senyum licik dan ditanggapi pandangan tanpa ekspresi oleh Naruto yang sedikit terengah setelah menangkap kembali Murasame.
"Tapi, jika kau mengira hal itu cukup untuk melawanku, maka kau salah besar."
Tatapan Naruto semakin waspada ketika angin mulai berkumpul disekeliling tubuh Yamai. Mata Naruto membulat sempurna dan segera mengedarkan pandangan ke segala sisi, mencari sosok Yamai yang tiba-tiba menghilang. Reflek Naruto bergerak cepat dan menahan tebasan angin dari arah samping.
"Fafafafa... Kau cukup cepat juga ya, anak muda. Tapi, bagaimana dengan ini?"
Suara tanpa wujud itu mengiringi serangan angin padat membentuk sebuah pisau yang menyerang Naruto dari arah belakang. Merespon cepat, Naruto yang hanya mengandalkan naluri bertarungnya itu mengayunkan Murasame seirama dengan datangnya serangan, menepis setiap pisau angin dan beberapa kali bergerak menghindari serangan yang lolos dari tebasannya.
Namun walaupun begitu cepat dia mengayunkan Murasame untuk menghadang pisau angin, serangan yang datang tiada henti itu juga membuat staminanya cukup terkuras. Beberapa luka juga menggores pakaiannya dan menembus kulit, menyebabkan luka sayat yang cukup banyak diterima tubuhnya. Naruto mendecih disela ringisan perih yang dia alami, dia jatuh berjongkok dengan Murasame menjadi penahan tubuhnya, darah segar merembes dari pakaian yang telah terkoyak itu.
'Kekuatannya sangat hebat, sial!'
Naruto membatin kesal, dan tetap waspada terhadap sekitarnya karena Naruto tidak tahu kapan Yamai akan menyerang lagi. Luka yang dia terima saat ini cukup parah, bahkan ia merasakan perih hampir disemua tubuhnya. Darah yang terus merembes keluar juga memperburuk keadaannya.., sial! Jika begini dia pasti akan tamat bahkan sebelum sempat mendapatkan Holy Grail!,
"Fafafa~Menyerah, anak muda?"
Naruto memandang sosok Yamai yang berdiri angkuh diatas pusaran tornado kecil di depannya. Tatapan meremehkan dia terima, tatapan yang paling tidak dia sukai... Tapi, walaupun begitu, memang luka ini sudah cukup untuk membuat orang sepertinya menyerah. Naruto terkekeh dalam batin, bahkan ia sendiri yang menginginkan sebuah tantangan seperti ini, tapi kenapa dia juga menyerah semudah ini...
Naruto menundukkan kepalanya lelah, membiarkan tetes demi tetes darah membasahi tanah. Jika mendapatkan kekuatan semudah membalikkan telapak tangan, bukankah itu akan mudah? Tidak ada diskriminasi atas nama bakat, tidak ada yang akan dikucilkan seperti dirinya dan tidak akan ada yang merasakan sakit seperti dirinya?
Bukankah, itu akan memudahkan semuanya?
Dan, bukankah itu semua hanya... Mimpi?
Naruto tertawa pelan membuat alis Yamai berkerut heran, dewa badai itu sendiri tidak dapat melihat wajah Naruto karena tertutup oleh bayangan rambut pirang Naruto. Bibir pemuda itu tidak menunjukkan kesakitan atau apapun yang menggambarkan keadaannya saat ini, hanya ada bibir datar dan wajah yang menunduk. Baru kali ini Yamai mendapatkan lawan seperti Naruto yang sama sekali tidak menunjukkan wajah takut, sombong maupun keserakahan yang sering dia temui dari setiap wizard yang datang mencari Holy Grail. Dan itu, membuat senyum seringai diwajah Yamai semakin kentara.
"Ini, pertama kali aku bertemu orang sepertimu yang tidak memiliki nafsu menggebu seperti para pencari lain. Fafafa~aku semakin semangat untuk menyiksamu."
Yamai mengeluarkan Mana diseluruh tubuhnya, aura yang hampir memenuhi ruangan goa dan menggetarkan tempat itu. Perlahan, kilatan petir mulai berkilat di sekelilingnya, semakin besar sebelum semua aura tadi lenyap masuk kedalam tubuhnya. Yamai membuka mata yang sebelumnya tertutup rapat, perubahan terjadi pada bola matanya yang berubah menjadi biru sepenuhnya.
"KANMURU!"
Teriakan keras mengiringi hilangnya tubuh Yamai, dan dalam kecepatan kilat ia telah berada dihadapan Naruto yang langsung menatapnya terkejut.
"Selamat datang di nerakaku, Anak muda."
...X...
Gunnnn
"Heh... Kau mengatasi sihirku dengan memberikan sihir lain yang memiliki kriteria sama dan tingkat [mana] yang sama juga untuk melenyapkan efeknya? Cukup pintar." Kaguya melayang mundur kebelakang, disusul oleh Yuzuru yang juga melompat ke sampingnya setelah beradu pukulan dengan Issei.
"Kita tidak bisa terus seperti ini, Issei-kun." Akeno berucap dengan tetap mempertahankan dua [line magic] di kedua tangannya. Issei menatap Akeno sebentar dan menurunkan tangan bercakar atau bisa disebut Gauntlet miliknya.
"Kau benar." Balas Issei singkat dan menarik perhatian Akeno, perempuan itu beralih menatap Issei dan menaikkan alis heran.
"Issei-kun, jangan bilang kau akan menggunakannya?" Tanya Akeno takut.
"Tidak, itu berlebihan jika hanya untuk melawan dua perempuan itu. Maksudku, kita akan menyerang lebih agresif lagi, aku punya sedikit rencana tapi ini akan bergantung padamu, Akeno-senpai."
Dua orang itu berbincang lirih beberapa saat sebelum Akeno mengangguk aneh. Yuzuru dan Kaguya mengernyit saling pandang, tak lama mereka memunculkan lima [line magic] putih dengan logo elemen angin ditengah.
"Kau mengerti, kan Akeno-senpai?" Tanya Issei merendahkan tubuhnya, "Jika senpai mengerti, maka ini akan menjadi pertarungan yang singkat." Sambung Issei dan menatap Akeno serius. Akeno tersenyum kecil sebelum mengubah [line magic]-nya berada di atas permukaan tanah.
"Aku paham. Langsung saja kita lakukan."
"Apapun rencana kalian, itu tetap tidak akan berhasil."
Puluhan jarum angin termuntahkan dari dalam [line magic ] milik Yuzuru juga Kaguya, menyerang ke arah Hyoudou Issei dan Akeno. Perisai otomatis melindungi Akeno dari serangan itu, dan dengan kecepatannya Issei telah menghilang dari sana dan muncul dibawah dua roh itu. Mengetahui musuh bergerak, Yuzuru mengubah sebagian arah jarum angin kebawah mengujani Issei.
Sedikit menyeringai senang, Issei kembali bergerak kearah dinding goa dengan beberapa liukan tubuh menghindari jarum angin milik Yuzuru. Issei menekuk lututnya dan menjadikan dinding goa sebagai tolakan untuknya melompat keudara, membuat dua Yamai bersaudara itu panik dan mengarahkan semua serangan ke arah Issei. Puluhan serangan mengarah ke arah pemuda itu yang tidak memiliki pelindung atau apapun yang dapat menahan serangan.
"Aktifkan sekarang! Senpai!"
Teriakan Issei memicu senyum Akeno muncul diwajahnya. [Mana] yang sebelumnya fokus untuk membentuk pelindung itu kini berubah dan membentuk lubang teleportasi didepan Issei, membuat serangan Yuzuru dan Kaguya mengenai udara kosong. Kedua putri Yamai membalikkan tubuh mereka terkejut mengetahui Issei telah berada dibelakang mereka dengan pukulan terarah pada Yuzuru.
"Kyaaaaa~"
"Yuzuru!?"
"Giliranmu."
Suara datar Issei membuat tubuh Kaguya bergetar sebelum jatuh kebawah dimana tubuh Yuzuru berada. Belum genap 5 detik, kubah sihir pengekang mengurung tubuh dua putri Yamai, membuat gerakan mereka menjadi sangat terbatas. Akeno tersenyum senang mengetahui rencana sederhana Issei berhasil, iris violet Akeno menatap ke arah Issei yang mendarat disamping sihir pengekang ciptaannya.
"Aku kira itu tidak akan berhasil mengingat aku begitu payah dalam membuat rencana penyerangan, tapi mungkin karena beruntung atau memang kalian yang terlalu cerobohlah dan membuat semua menjadi lebih mudah." Ujar Issei memandang dua tubuh terikat sebuah sihir pengekang berbentuk kubah.
"Issei-kun, kita harus cepat. Aku merasakan energi kuat yang sangat mengerikan." Akeno berlari kecil menghampiri rekannya, menatap serius Issei dan segera meneruskan langkah kakinya setelah mendapatkan anggukan dari Issei.
"Bertanya, apakah tidak apa-apa kita membiarkan mereka mengganggu ayah?" Yuzuru yang dalam keadaan berbaring melirik Kaguya.
"Tidak apa-apa, karena aku juga ingin melihat..." Mata Kaguya menyipit, menggerakkan kepalanya kesamping menatap saudarinya dengan senyum senang. ", kematian mereka."
...xXx...
Kembali pada Naruto yang menahan rasa nyeri diseluruh tubuh akibat sengatan petir yang mengontak tubuhnya. Iris matanya sama sekali tidak bergerak dan hanya membola dengan pandangan kosong, katana Murasame miliknya telah jatuh ketanah dan menyisakan Naruto yang berdiri dengan kepulan asap berasal dari tubuhnya.
Brukkk
Tidak dapat bertahan lebih lama, Naruto telah tumbang setelah mengalami serangan begitu hebat. Sosok Yamai berhenti dan melayang di udara, kilatan petir kecil terlihat memercik disekitar tubuh sang Yamai. Pandangan dewa badai itu nampak tenang.
"Kau hebat juga, anak muda. Dapat menahan begitu banyak serangan petir yang kulayangkan." Ucap Yamai.
Naruto sama sekali tidak menanggapi pujian Yamai, ia coba menggerakkan kedua tangannya, menekan dan menahan tubuhnya sebelum berjongkok setelah berhasil menggenggam Murasame. Yamai menaikkan alisnya tertarik melihat kegigihan pemuda didepannya itu.
"Menyerah saja dan pasrah, biarkan aku membunuhmu secara perlahan, fafafa."
Tawa aneh Yamai membuat Naruto mengangkat wajah, iris birunya menatap Yamai lemah. Bibir pucat juga banyaknya darah dari luka yang dia alami membuktikan jika keadaan Naruto saat ini tidak baik, sangat tidak baik. Tapi...
"Kau berjanji?"
"ya, aku janji."
"Kalau begitu, janji kelingking!"
"Janji ini adalah janji Tuhan! Siapapun yang melanggarnya, jarinya akan putus!"
... Dia sudah mengikat janji. Walau resiko ini lebih besar daripada kehilangan jarinya., dia... Tidak akan mengingkari janjinya!
Yamai mendesah pelan melihat Naruto kembali berdiri dan mengacungkan katananya, sebelah tangan pemuda itu sendiri terkulai lemas disamping tubuh karena luka parah yang dialaminya.
"Keras kepala."
Yamai berucap lirih sebelum menghilang dalam sekejap mata, bergerak dalam kecepatan kilatnya, Yamai menciptakan satu pedang angin yang langsung memotong lengan kiri Naruto.
"Argggggg!!!"
"Haha.. Hahaha... Hahahahaha! Teriakanmu sangat membuatku bersemangat!"
Rasa sakit luar biasa dirasakan Naruto... Begitu sakit.., sangat sakit! Mata birunya bergetar memandang potongan lengannya yang berada ditengah ceceran darah miliknya. Nafas Naruto terengah, entah bagaimana caranya ia tetap bertahan dari penderitaan itu hingga masih dapat berdiri disana, walaupun tubuhnya tengah bergetar hebat sekarang ini.
"Kheh... Masih tidak menyerah juga. Baiklah.. Bagaimana dengan ini?"
Yamai mengangkat sebelah tangan menciptakan satu [line magic] besar di atas tubuh Naruto yang langsung mengeluarkan satu sambaran petir yang membuat tubuh Naruto mengalami luka bakar hebat dan tumbang secara mengenaskan di permukaan tanah gua itu. Yamai tertawa keras melihat itu, wajah psico miliknya menghadap ke langit gua seolah sangat menikmati penyiksaan yang dia lakukan. Mata Naruto masih sedikit terbuka, hanya gambar blur yang membuat dirinya semakin merasa jika kematian telah begitu dekat padanya.
"Irina... Ma..af...kan... A...ku."
"Mengapa kau begitu menginginkan Holy Grail, nak. Apakah karena kekuatan untuk menguasai yang benda itu miliki?"
Suara berat yang tiba tiba ada dikepalanya ini... Naruto sama sekali tidak dapat mengeluarkan suaranya, namun hatinya berteriak keras menjawab pertanyaan itu, walau ia tidak tahu suara siapa ini.
"Kau anak yang menarik, nak. Tapi, bisakah aku mempercayaimu?"
"A...ku... Tidak but...uh k...epercayaanmu. A...ku, han...ya memperca...yai tu...juanku."
Bibirnya bergerak pelan, mengeluarkan suara lara yang begitu menyiksa, bahkan hanya untuk mendengarnya. Suara itu kembali memenuhi kepalanya.
"Dan kepercayaan apa itu?"
"Kekuatan... Untuk menepati janjiku."
Suara itu menghilang sejenak, sebelum digantikan suara kekehan nyaring dan sebuah pendar putih menyilaukan masuk ke dalam fikiran Naruto.
"Menarik sekali, nak. Dengan ini, mungkin penantianku akan berakhir." Ujar suara tersebut. "Aku mempercayakannya padamu, nak. Sebuah kekuatan yang dapat kau gunakan untuk memenuhi janji yang kau ucapkan itu."
...X...
"Hah, kufikir akan asik, tapi ternyata kau mati semudah ini." Yamai mendesah bosan memandang tubuh Naruto dibawahnya, beberapa kali menendang-nendang kepala pirang itu berharap jika masih akan ada nafas tersisa disana. Merasa tidak ada apapun tanda kehidupan dari Naruto, pada akhirnya Yamai menghentikan apa yang tengah dia lakukan dan berjalan santai menjauh dari tubuh pemuda itu."Wah, aku merasakan dua keberadaan makluk hidup lagi. Fafafa... Ini memang hari keberuntunganku kan." Ujar Yamai.
"Mau kemana kau, pak tua."
"Hah?!"
Cahaya putih menyelubungi tubuh Naruto yang telah berdiri sempurna dengan Murasame tergenggam erat di tangannya. Perlahan, namun pasti luka bakar ditubuh Naruto mulai menghilang tanpa menyisakan apapun kecuali pakaian yang tidak pantas lagi disebut pakaian. Lengan kiri yang terus mengeluarkan darah mulai tertutup sebelum terhenti dan meninggalkan lengan buntung Naruto. Kelopak mata itu terbuka, dan menatap tajam Yamai yang tengah terkejut akan kejadian ini.
"Selamat Goshujin-sama. Kau telah mendapatkan Holy Grail sekaligus meningkatkan kemampuan [link] kita." Suara lembut dikepalanya yang berasal dari Murasame membuat Naruto menaikkan alisnya. "Akan kujelaskan nanti, dan fokus saja pada Yamai itu, Goshujin-sama."
Naruto menatap Yamai, memang benar, dia harus mengalahkan dewa badai ini terlebih dahulu. Jika begitu..., Naruto mengangkat Murasame setinggi dada, salah satu kakinya menekuk mengumpulkan kekuatan pada kakinya.
"Kekuatan [Curse] ku saat ini adalah melumpuhkan, hanya membutuhkan satu goresan itu cukup untuk menanamkan [Curse] milikku." Tegas Murasame dalam kepalanya, dan Naruto mengangguk mengerti.
"Aku akan menyimpan pertanyaan tentang [link] nanti." Balas Naruto serius.
Yamai menyeringai senang, lima [line magic] tercipta di kedua tangannya dan memuntahkan kilatan petir besar. "Jangan berlagak kau, anak muda. Aku memang tidak terlalu mengerti akan apa yang terjadi, tapi aku akan tetap membunuhmu!" Teriak Yamai semangat. Sedangkan Naruto bergerak zig zag menghindari serangan petir yang mengarah padanya. Muncul pada satu sisi, sebelum berpindah ketempat lain, Naruto berhenti disamping Yamai dan menyabetkan Murasame.
Merasa targetnya menghindar, Naruto kembali bergerak mengikuti pergerakan musuh. Kecepatan yang semakin cepat membuat Yamai sedikit kesulitan melihat pergerakan lawan. Naruto yang melihat kebingungan Yamai langsung saja memanfaatkan kelengahan roh berjuluk dewa badai itu, ia melempar Murasame lurus ke wajah Yamai.
"Jangan kira kau bisa melukaiku dengan pedang murahan itu!" Teriak Yamai menciptakan topan angin kecil yang mementalkan katana Murasame. Namun, karena pandangannya sedikit terhalang akibat topan kecil yang dia buat, Yamai terlambat menyadari sosok Naruto yang telah berada di belakang bersama Murasame ditangannya.
"Killing Fall~"
Jrashhhhh!
Bayaran sebuah lengan cukup setimpal bagi Naruto dimana lengan kirinya juga telah menghilang karena serangan sang dewa, iris matanya melihat ke arah Yamai yang melayang rendah di depan sana dengan lengan buntungnya. Naruto menarik nafas dan memandang tangannya sendiri.
"Kekuatan apa ini? Aku merasa tenagaku seperti mengisi kembali." Tanya Naruto heran, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Harusnya, menggunakan Killing Fall akan menguras tenaganya, tapi... Sekarang ini dia seperti memiliki tenaga yang cukup untuk melakukan Killing Fall sekali lagi.
"Itu kekuatan murni dari Holy Grail, Goshujin-sama. Sebuah [Healing Magic]" Ujar Murasame.
"apakah sebuah sihir penyembuh?"
"Ha'i, sebenarnya aku berbohong tentang Holy Grail, kemampuan benda ini sebenarnya adalah regenerasi, bukan untuk peningkatan [Mana]. Tapi, jangan pernah meremehkan kekuatan dari Holy Grail, Goshujin-sama. Holy Grail memiliki kemampuan yang sangat hebat, dia akan mengisi ulang [Mana, tenaga bahkan menyembuhkan luka dengan sangat cepat bahkan Goshujin-sama juga dapat menjadi [Healing Master] dengan memanfaatkan Holy Grail." Ujar Murasame dikepalanya, suara itu tertahan sebelum kembali menjelaskan. "Sedikit saja untuk penjelasannya, suara yang tadi Goshujin-sama dengar adalah suara dari [Curse] yang ditanamkan oleh seorang wizard sahabat Arthur Pendragon. Sebuah [Curse] unik seperti milikku, namun bedanya, jika [curse]-ku digunakan untuk memberikan kematian mutlak, Curse yang ada di dalam Holy Grail memiliki sebuah kekuatan penyembuh mutlak. Jadi, apapun dan bagaimanapun kondisinya, Holy Grail akan mampu menyembuhkannya dan sekarang, benda itu ada didalam tubuh Goshujin-sama, tentu dengan bayaran setimpal."
Naruto mendengarkan perkataan Murasame, memikirkan setiap ucapan roh katana itu sebelum membuang nafas dan memandang ke depan serius. "Aku mengerti sekarang. Jadi, dengan adanya Holy Grail dalam tubuhku, aku bisa memiliki kekuatan ini. Begitu ya., aku paham."
"Baru kali ini aku melihat ada yang dapat melukaiku," Yamai menatap lengannya sendiri lantas beralih memandang Naruto. Tatapan mata abu itu berubah serius setelah merasakan [mana] yang dia kenali ada didalam tubuh Naruto. "Tidak salah lagi, kau telah mendapatkan Holy Grail." Ujar Yamai pada akhirnya. Naruto sendiri hanya diam, dia juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba saja hal aneh ini menimpanya.
Yamai mendengus kasar, tubuhnya perlahan melayang turun dan terduduk dengan wajah mulai melunak. Dari lengan kanan buntungnya, muncul tulisan kanji hitam yang terus merembet ketubuhnya dan mengekang semua pergerakan yang dia lakukan. Yamai terdiam dan hanya dapat melirik Naruto yang ada di hadapannya dengan Murasame terangat diudara, siap menebas kepalanya. Yamai terkekeh pelan, sungguh dia tidak menyadari jika anak muda itu memiliki sebuah katana legendaris yang baru saja memberikan kutukan pada tubuhnya.
"Murasame, kah." Bisik Yamai pelan membuat gerakan Naruto terhenti untuk menebas kepala dewa badai itu. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, Murasame. Memilih orang lemah ini sebagai tuanmu." Ucapan Yamai membuat Murasame yang ada di dalam mindscape Naruto menggeram marah, merasa tidak terima akan hinaan yang diterima tuannya. Berbeda dengan Naruto, pemuda itu menarik katananya dan menatap penuh tanya.
"Kau tau tentang Murasame?" Tanya Naruto, dan Yamai hanya tertawa mendengar hal itu.
"Kau fikir aku ini siapa, anak muda? Aku adalah Yamai, penguasa angin dan petir yang telah hidup ribuan tahun bahkan sebelum Great War terjadi."
Naruto mendengus mendengar perkataan Yamai. "Kau memang dewa, tapi sifatmu tidak mencerminkan seorang Dewa. Haus darah, membunuh bahkan menyiksa korbanmu, kau tidak lebih dari orang tua psikopat penunggu Holy Grail dan memanfaatkan itu untuk melampiaskan kesenanganmu."
"Kau salah persepsi, anak muda. Hal yang sesungguhnya adalah, jiwaku yang sebenarnya sudah lama mati karena kehilangan energi akibat kutukan yang menyatu denganku dan Holy Grail. Disaat-saat terakhirku, aku menggunakan Holy Grail untuk menambah daya hidupku, dan itu berhasil-sangat berhasil. Aku bertahan dari kematian dan hidup lama menjaga Holy Grail, dan untuk menemaniku menjaga benda yang ada dalam tubuhmu itu, aku memecah inti [mana]ku menjadi 3 bagian yaitu, milikku, dan dua anakku, Yuzuru juga Kaguya. Darisanalah mereka tercipta."
Naruto mengernyit tidak mengerti, memecah inti [mana]? Bisakah itu dilakukan, mengingat jika inti itu terpecah maka akan terjadi ketidak seimbangan akan pemiliknya?..., Ah, benar juga..
"Apa karena hal itu kau menjadi haus darah seperti ini?" Tanya Naruto pelan.
Yamai sedikit tertawa menanggapi. "Ya benar."
"Lalu, kenapa kau tidak menyatukan kembali inti [mana]-mu dan mengembalikan dirimu seperti dulu?"
"Tidak bisa kulakukan, karena jika aku menyatukan kembali [mana]-ku maka Yuzuru dan Kaguya akan lenyap, aku tidak mau mereka hilang karena aku sangat menyayangi mereka. Mereka adalah anakku, dan aku akan melakukan apapun agar mereka tetap hidup."
Naruto terdiam mendengar ucapan Yamai, tatapan matanya berubah menjadi kosong dengan air mata mulai keluar dari pelupuknya. Yamai, Naruto tidak pernah mengira dewa penguasa badai itu merupakan sosok ayah yang sangat penyayang. Tanpa sadar Naruto menggenggam Murasame semakin erat. Pemuda itu tersenyum kecil dan menyarungkan Murasame kepunggungnya, iris birunya memandang Yamai yang masih termenung di depannya.
"Aku tidak menyangka kau begitu menyayangi kedua anakmu itu, Yamai. Dan maafkan aku juga karena telah mencap dirimu sebagai dewa psikopat gila."
"Hahaha... Lupakan itu, anak muda. Aku juga bersalah karena telah menyebabkan tanganmu putus." Yamai berucap menyesal setelah mendapatkan kembali akal sehat secara penuh. "Kekuatan yang kubagi pada kedua anakku juga yang menyebabkan aku hilang akal untuk sesaat. Jadi sebisa mungkin aku memerintahkan Yuzuru dan Kaguya untuk mencegah adanya makluk yang datang kemari menemuiku, aku hanya takut hal sepertimu tadi terus terulang. membunuh dan terus merasa senang, itu bukan sifatku."
"Aku baik-baik saja, kau tahu, cukup beruntung karena kau hanya memotong tangan kiriku dan tidak keduanya. Jika itu terjadi, maka tamatlah riwayatku untuk menjadi orang hebat." balas Naruto sedikit bercanda untuk mencairkan suasana serius, dan Yamai hanya menanggapi perkataan Naruto dengan senyum kecil.
"Siapa namamu, nak?"
Naruto terdiam sejenak, sebelum ia nyengir dan memukul dadanya memperkenalkan diri, "Aku.. Adalah Uzumaki Naruto!" Ujar Naruto lantang, Yamai sedikit tertawa mendengarnya.
"Kau memang anak yang menarik, dan juga kulihat kau membawa sesuatu yang besar."
"Aku tidak mengerti, kau dan Murasame mengatakan hal yang hampir sama dan itu membingungkan. Kenapa kalian berbelit-belit, dan tidak mengatakan apa yang kalian maksud dengan hal besar itu?" Naruto berucap setengah kesal, ia menggeleng-gelengkan kepala tidak paham akan fikiran para roh ini.
"Hal besar itu harusnya memang kau ketahui dengan sendirinya, Naruto. Tidak semuanya dikatakan secara gamblang, Murasame telah melakukan hal yang benar dengan tidak mengatakan apapun padamu. Sebenarnya aku cukup terkejut mendengar ucapanmu mengenai Murasame, tapi itu menjadi biasa jika memang kalian telah menjalin [Link," Yamai terdiam sejenak, lantas melirik Naruto dengan mata abunya. "Uzumaki Naruto, aku akan memberimu sesuatu untuk mengganti lenganmu yang hilang. Tapi sebagai gantinya, aku hanya memohon satu hal padamu."
Naruto mengubah pandangannya serius dan menatap Yamai yang mulai mengeluarkan sebuah cahaya kebiruan dari dalam tubuhnya.
"Ini akan sangat berguna jika saatnya telah tiba nanti, kau pasti akan membutuhkannya."
-Scene Break-
Akeno dan juga Issei berlari secepat yang mereka bisa, melewati beberapa bebatuan sebelum mereka sampai pada sebuah tempat seperti aula besar dengan cahaya biru terang dibeberapa titik. Mata mereka beredar dan berhenti ketika melihat potongan tangan serta bekas darah di permukaan tanah gua. Akeno menutup mulutnya mengetahui lengan siapa yang tengah mereka lihat, sedangkan Issei memandang itu dengan pandangan kosong.
"Anu, kalian sedang lihat apa ya?"
Sebuah suara baritone dari samping mengejutkan mereka, sontak menoleh dan menemukan sosok Naruto yang tengah duduk di bebatuan besar dengan pakaian hitam ketat menutupi tubuhnya, kaos tanpa lengan yang dikenakan Naruto itu juga memperlihatkan lengan buntung Naruto.
"Na...na..Naruto-kun?"
Menatap mereka berdua dengan tatapan lelah, Naruto melompat kehadapan mereka berdua sebelum kembali memandang keduanya. "Ya, ini aku."
Seolah masih tidak percaya, Akeno menyentuh pipi Naruto dan menariknya pelan membuat sang empunya mengaduh pelan. Akeno menggelengkan kepalanya sebagai tanda keheranan, lalu matanya beralih pada lengan kiri Naruto.
"Naruto-kun, lenganmu?" Akeno bertanya pelan dan direspon Naruto dengan cengiran kecil.
"Yah, kurasa ini sepadan dengan yang kudapatkan." Balas Naruto mengangkat tangan kanannya, dari telapak tangan itu sendiri muncul sebuah cahaya putih bersih membentuk semacam benda. Dan setelah cahaya menghilang, kini terlihatlah sebuah gelas piala emas dengan beberapa permata biru gelap dan ruby merah menghiasinya. Mata keduanya membelalak terkejut, tidak salah lagi, ini, Holy Grail!
Akeno melompat girang dan menyentuh Holy Grail, namun belum ada 5 detik ia menyentuh benda itu, semacam kekuatan aneh seperti tengah menyerap [mana] miliknya, membuat tubuhnya sedikit melemas sebelum Naruto menyangga tubuh Akeno dengan dadanya. Naruto menghilangkan kembali Holy Grail dan menyentuh bahu Akeno.
"Akeno-senpai?! Senpai tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir.
"Apa yang terjadi?" Issei bertanya disela kekhawatirannya, ia menatap Akeno yang seolah kehilangan tenaganya sebelum melihat ke arah Naruto.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya Holy Grail menyerap [mana] milik Akeno-senpai dan mentransfernya padaku."
"Tidak, kau salah Goshujin-sama. Yang menyerap [mana] perempuan itu bukanlah Holy Grail, melainkan Goshujin-sama sendiri." Murasame menyahut dari dalam kepalanya. Tapi, kesampingkan itu dulu, yang terpenting adalah kembali kekota dan mencari penjelasannya setelah semua kembali normal.
Akeno menyentuh kepalanya yang terasa berat, violetnya menatap Issei dan kembali menegakkan tubuhnya. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing." ucap Akeno menenangkan kedua lelaki disana, ia kembali memandang Naruto menuntut penjelasan.
"Apa yang sebenarnya terjadi Naruto-kun? Kau berhutang penjelasan pada kami."
Naruto yang mendengar ucapan Akeno menghela nafas pelan sebelum memandang ke tempat lain di gua itu. "Aku akan menjelaskannya tapi, ada hal yang harus kulakukan terlebih dahulu." Tepat setelah Naruto mengucapkan hal itu, dua tornado angin muncul disana, membawa dua perempuan kembar melayang diudara sebelum menapak ke atas tanah dan memandang keseliling.
"Ayah?" Kaguya berteriak mencari sang ayah, namun tidak ada jawaban sedikitpun. Mata kedua anak yamai itu menajam ketika Naruto datang kehadapan mereka dengan tangan kanan merogoh sebuah gulungan kecil dari saku celananya.
"Ini, pesan dari ayah kalian." ujar Naruto melemparkan gulungan putih itu pada mereka berdua. Yuzuru yang menerima gulungan segera membukanya, mata mereka membulat sempurna dan menatap Naruto yang memandang mereka datar.
"Ti...dak mungkin." Yuzuru mematung tidak percaya, ia jatuh terduduk dengan gulungan berisi sebuah tulisan merah terjatuh pada permukaan tanah, membuat Kaguya juga membulatkan matanya melihat isi dari gulungan tersebut.
"Ayah... Kenapa?" Hal yang sama terjadi pada Kaguya, tubuh dua anak dewa badai itu bergetar sebelum terisak pelan. Gulungan merah yang menunjukkan kepindahan kontrak dari pemilik sebelumnya kepada sosok pemuda dihadapan mereka dimana harus ada pengorbanan yang diperlukan. Karena kontrak perjanjian ini adalah kontrak kuno yang akan mengikat siapapun, maka hanya bisa terputus jika pembuat kontrak telah mati.
Dan itu artinya...
"A-ayah... Ayah??? AYAHHH??" keduanya berteriak keras, aliran [mana] tidak beraturan membuat getaran hebat mengguncang gua, langit-langit mulai mengalami keretakan dan berjatuhan sedikit demi sedikit.
"Naruto! Kita harus pergi!" Issei berteriak keras, berdiri di lantai [line magic] teleportasi milik Akeno. Namun Naruto tidak mengindahkan perkataan Issei, ia hanya melirik pemuda itu dan memberikan tatapan seriusnya.
"Kalian pergilah! Aku akan menyelamatkan mereka!"
"Jangan BODOH! NARUTO! HOY!"
Terlambat bagi Issei karena Naruto telah berlari ke arah Yuzuru dan Kaguya yang masih dalam lingkupan [mana] milik mereka. Issei mendecih, ia berniat menyusul Naruto namun segera ditahan oleh Akeno dengan menarik tangan pemuda itu.
"Kita harus pergi, Issei-kun!"
"Tidak senpai! Naruto, dia..."
"Percayalah padanya, dia tidak akan mati semudah itu!"
Terdiam membisu, pemuda tersebut hanya mampu menuruti kemauan senpainya. Cahaya dari [line magic] mulai membuat mata Issei terpejam, disela reruntuhan itu, ia hanya berharap akan ada keajaiban yang didapatkan oleh Naruto.
...xXx...
Brukkkk
Memandang sekeliling yang mana mereka telah berada di bagian luar gua, Yuzuru dan juga Kaguya Yamai menatap tubuh bersimbah darah milik Naruto yang berdiri dihadapan mereka. Nafas pemuda itu tersengal dan jatuh berlutut, perlahan setiap luka ditubuh Naruto mulai bersinar terang sebelum menghilang sepenuhnya.
"K-kenapa kau menyelamatkan kami?" Kaguya bertanya heran.
"Marah, harusnya kau meninggalkan kami di dalam saja!" Kini giliran Yuzuru yang berteriak. Naruto yang masih tersengal itu memandang keduanya, sedikit tersenyum dia menepuk kepala mereka bergantian.
"Karena aku telah berjanji pada ayah kalian, agar selalu merawat dan menemani kalian sebagai kontrak yang dia buat. Dan percayalah..." Senyum Naruto semakin teduh, membuat dua Yamai di depannya membelalak terkejut. "… Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku."
"Kau,... Akan menjaga kami?"
Naruto mengangguk pelan.
"Bertanya, apa kau serius?"
Naruto tertawa dan mengacungkan kelingkingnya ke arah mereka, hal yang sama dimana Irina selalu melakukan ini jika menginginkan sebuah janji. "Ini adalah janji Tuhan, jika aku melanggarnya, maka jariku ini akan putus." Ujar Naruto dengan senyum dibibirnya. Dua putri Yamai itu memandang Naruto layaknya anak kucing sebelum menerjang tubuh pemuda itu hingga terjengkang kebelakang.
"Hiks~"
Dan Naruto hanya membiarkan dua Yamai bersaudari ini melampiaskan kesedihan padanya, membiarkan tangisan dari dua saudari itu mengalir membasahi bajunya. Permata biru Naruto mengadah ke atas dan terpejam tenang, tubuhnya sangat lelah tapi, keberhasilannya hari ini memang sepadan dengan harga yang harus dia bayar. Dan setidaknya, masalah ini telah selesai disini.
Di balik pepohonan, seorang misterius terlihat tengah mengamati sosok Naruto. Mata emasnya bergerak menatap Yamai bersaudara sebelum terkekeh pelan. Disampingnya, berdiri sesosok makluk aneh berwarna hitam legam yang mulai menyatu dengan pohon yang menjadi tempat bersembunyinya.
"Bagaimana, Kinpatsu-sama?" tanya makluk hitam tadi.
Sosok Kinpatsu tersenyum dibalik topeng polos yang dia gunakan. "Aku sudah menemui Minato tadi, tapi yah, apa yang kuharapkan dari pria idiot itu, dia bahkan tidak mengetahui jika Naruto memiliki kekuatan seperti ini."
"Kekuatan yang mana maksud anda Kinpatsu-sama? [Link, Holy Grail, ataukah.,"
Kinpatsu menoleh ke arah makluk tersebut, dia mengendikkan bahunya pelan. "Kau sudah tahu, kan. KuroZetzu." angin berhembus menerbangkan dedaunan, dan dalam keadaan itu, Kinpatsu juga makluk yang dipanggil Kurozetzu tadi menghilang menyisakan tempat kosong seperti sebelumnya.
-Cut-
Seminggu? Gak belum ada! Harusnya ini saya up besok senin, tapi karena ada keperluan ya, akhirnya saya update sekarang. Hehehe~
Sedikit membahas chapter ini, sebenarnya saya cukup kesulitan membuat Scene battlenya. Saya udah usaha dan jadinya, ya, seperti itu. Hueee~Maaf kalo tidak bagus alias jelek -_-"
Kenapa Naruto terlihat sangat kuat setelah mendapatkan Holy Grail? dan kenapa sosok Dewa Badai seperti sangat lemah bahkan untuk melawan Naruto? Jawabannya sangat mudah, seperti yang dijelaskan, kekuatan Yamai telah dibagi dengan Yuzuru dan Kaguya, jadi secara tidak langsung itu juga melemahkan dirinya. Dan juga, ada alasan tersendiri untuk ini, mengapa Yamai sosok legenda dewa bisa dikalahkan Naruto, semua itu akan ada penjelasannya.
Misteri kekuatan Naruto juga sudah saya kasih tau cluenya, yaitu di awal dan diakhir Scene gua tadi. Yup! Saya akan menggunakan [Forbidden Magic] sebagai kekuatan utama Naruto, lalu.., apa [Forbidden] itu? Dari namanya sudah jelaskan, sihir ini memiliki sebuah kemampuan spesial pada pemiliknya, sebuah sihir yang berbeda dari yang lain. Tidak berpacu dalam elemen, kutukan dan lainnya, melainkan sebuah sihir yang memiliki potensi berbeda. [Forbidden] disini saya ciptakan memiliki keunikan tersendiri, yaitu akan memiliki kemampuan yang tidak berpacu pada hal mainstream. Seperti contoh, pemilik [Forbidden] dapat memiliki pengendali atas waktu, atau ada yang memiliki kendali atas benda, seperti merubah bentuk atau membuatnya.
Yang jelas, Forbidden ini memiliki kemampuan berbeda dari penggunanya. Dan apa kemampuan Forbidden Naruto? Harusnya jika kalian membaca ini secara lengkap, kalian bisa menebaknya. Sedikit bocoran, saya terinspirasi kekuatan ini dari Charlotte.
Dan apakah ada yang bingung tentang penyebutan [line magic] di ff saya? Jika iya, sedikit pemberitahuan saja jika [line magic] ini sama seperti lingkaran sihir, namun karena saya ingin sesuatu penyebutan baru jadilah lahir nama LINE.
Dan satu lagi, tentang kekuatan Murasame saya bagi atas 4 tingkat. Pertama penyatuan [link, kedua adalah telepati dan juga kekuatan melumpuhkan musuh, ketiga adalah One Cut Killing dan ke 4? RAHASIA. Yang pasti ini akan lama... Oh dan tentang Arc 1 nanti akan berakhir pada penyerangan yang dilakukan tokoh-tokoh tertentu setelah mendalami kekuatan dan juga membentuk sebuah jalinan milik Naruto. Rencana sih saya mau membuat 3 Arc, tapi, liat sajalah nanti.
Dibawah ini ada beberapa Profil yang saya buat dari tiga chara dan kekuatannya, ya, untuk membuat pembaca ngerti apa kekuatan dari masing-masing chara. Cekidot...
Profil...
Uzumaki Naruto
Umur : 16th
Tgl lahir : 10 Oct
Kemampuan :
-Holy Grail : Kemampuan Regenerasi super yang didapatkan Naruto setelah menemukan Holy Grail, Naruto juga dapat mengalirkan energi maupun memunculkan Holy Grail untuk digunakan orang lain atas kehendaknya
-Murasame : Pedang kerajaan yang memiliki kemampuan mutlak [Curse Magic]
-Killing Fall : Kemampuan Naruto untuk mempercepat gerakan dengan Memaksimalkan kinerja otot dengan aliran nafasnya
-Forbidden Magic? : Kemampuan belum diketahui.
Profil...
Akeno Himejima
Umur : 18th
Tgl Lahir : - gak tau we :v
Kemampuan :
-Holy Thunder : Dapat membentuk sihir elemen petir langka, konon petir ini dapat menghancurkan sebuah gunung dalam serangan terkuatnya.
-Teleportasi
-Kekkai pelindung
-[Line Magic : Elemen]
-Senjata Tuhan (Sacred Gear) : Mirror
Profil,...
Hyoudou Issei
Umur : 16th
Born : nte eruh :'v
Kemampuan :
-Senjata Tuhan (Sacred Gear) : Gauntlet sama seperti anime
-Dragon Shot
Mungkin ini dulu, ada kurang lebihnya saya mohon maaf...
Kitsu... OUT!
