Mask

Sebuah cerita dari Little Kitsu

...xXx...

Sinar matahari menyeruak masuk ke dalam indra matanya, membangungkan kelopak mata dan terbuka menampilkan sepasang iris biru jernih yang menyejukkan. Wajah tampan tanpa cacat itu berkerut mencoba beradaptasi dengan udara pagi yang menyapanya. Sedikit meregangkan tubuh dan mengacak surai pirang berantakan miliknya, dia beranjak berdiri dan menatap sekeliling. Pemandangan pepohonan yang dia lihat membuatnya sedikit tersenyum damai.

"Sudah pagi ya? Tidurku terlalu nyenyak, yah... Tapi itu wajar mengingat kejadian tempo hari." Ucap Naruto, dia beralih menatap lengan kirinya yang menghilang. Jujur saja, dia masih belum terbiasa jika melihat kondisinya saat ini, agak merasa risih. Naruto mengesampingkan hal itu dan mengambil sebuah kain hitam di dalam tas kecil yang dia bawa, segera, ia mengenakan kain lebar layaknya jubah tersebut untuk menutupi keadaan lengannya.

Selesai dengan hal itu, Naruto terdiam sejenak sebelum ia mengambil katana miliknya dan menyematkan kepunggung. Pencarian Holy Grail telah usai, berakhir dengan keberhasilan tinggi dimana dia mendapatkan kekuatan cawan itu untuk dirinya. Beruntung, Akeno dan Issei tidak terlalu mempersalahkan hal itu karena ia telah menjelaskan jika dia juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba Holy Grail berada dalam tubuhnya. Namun tetap saja, mereka tetap membutuhkan benda yang berada dalam tubuh Naruto untuk membuat laporan. Maka sebagai timbal balik, Naruto akan datang ke tempat Akeno dan Issei agar mereka dapat meneliti Holy Grail, dengan beberapa syarat tentunya.

Sementara Yuzuru dan Kaguya yang telah menjalin kontrak dengannya ikut pergi bersama Akeno dan Issei. Atas perintahnya, dua saudara kembar itu akhirnya mau ikut ke kerajaan dan tinggal bersama Akeno untuk sementara waktu. Sebenarnya dirinya bisa saja ikut Akeno pulang bersama dengan magic teleportasi milik Akeno, tentu itu akan menghemat waktu. Tapi, ia menolak hal itu dan memilih pulang dengan cara normal, meski semua protes kecuali Murasame. Namun untungnya dia dapat membuat alasan dengan masih adanya urusan yang perlu dia lakukan agar mereka mau menurutinya.

"Hahhh~"

Naruto membuang nafasnya, sebelum ia melangkah pelan dan kembali menyusuri jalanan setapak menuju kota selanjutnya dan pulang ke kerajaan.

...X...

Chapter 7

Bisikan dan juga kikikan kagum dikeluarkan para siswi School of Magic, mengarahkan satu pandangan yang sama yaitu pada tiga gerombolan kelompok paling terkenal disana. Seperti hal lumrah yang terjadi, gerombolan pemuda itu berjalan dengan wajah mengadah, sombong. Kelompok yang menamai diri mereka Six Supernova itu memiliki 6 anggota inti yang berasal dari 6 klan terkenal. Uzumaki, Uchiha, Hyuuga, Ootsutsuki, Pendragon, dan juga pemimpin mereka yang berasal dari klan Sarutobi.

"Aku sudah tidak melihat Arthur, Sasuke dan Konohamaru selama lebih dari seminggu, sebenarnya mereka kemana?" Menma Uzumaki, pemuda berambut merah itu menoleh ke arah teman disampingnya yang memiliki surai putih bergelombang bernama Toneri Ootsusuki.

"Entahlah." Jawab pemuda dari klan Ootsusuki, sebuah klan yang memiliki hubungan langsung dengan leluhur mereka.

"Aku mendapatkan kabar jika mereka sedang menjalankan perintah dari klan." Pemuda bersurai hitam menyahut, matanya menatap kedepan.

"Benarkah, Neji?" Tanya Menma terkejut.

"Ya, Hiashi-sama yang mengatakan padaku ketika di Dojo kemarin. Konohamaru sedang menyelidiki sebuah kelompok di beberapa tempat diluar kerajaan bersama kakak tertuanya. Sementara Sasuke pergi untuk membahas pertunangannya dengan klan Gremory yang masih diperdebatkan, dan Arthur sedang menyelidiki kejadian aneh pada batu sejarah peninggalan King Arthur." Jawab Neji. Sementara yang lain menatapnya keheranan.

"Darimana kau tahu sampai sedetail itu, Neji?" Toneri bertanya, ia penasaran bagaimana Neji mengetahui kegiatan klan lain sampai sedetail ini. Karena yang Toneri tahu, setiap kegiatan klan itu hanya boleh diketahui oleh anggota klan. Sementara Neji mendengus kecil.

"Tentu saja aku tahu, klan Hyuuga telah menjalin hubungan dengan klan mereka. Kami saling mempercayai dan berkerja sama untuk meningkatkan ekonomi klan dan memperkuatnya." Ujar Neji angkuh dan dibalas tatapan bosan oleh Menma.

"Ya ya ya, aku tahu tentang itu, menjadi pewaris kepemimpinan klan itu memang merepotkan." Decak Menma. Ia memutar matanya bosan dan kembali memandang Neji dengan raut wajah berubah. "Dan berbicara tentang pewaris klan, apakah Teme benar-benar akan dijodohkan dengan pewaris Gremory itu? Kudengar juga pewaris klan itu sangat cantik dan sexy, apa itu benar?" Menma bertanya antusias, sedangkan Neji mendecak kesal dan Toneri yang mendesah pelan melihat sifat penuh gairah Menma mulai keluar.

"Sasuke tidak akan menikahi pewarisnya, karena pewaris sah itu jatuh pada kakak dari Rias Gremory, Sirzech. Dan untuk jawaban selanjutnya, aku memilih tidak akan menjawab karena malas meladenimu."

"Tch, kau tidak asik Neji!"

"Hn."

Melihat pertengkaran dua temannya membuat Toneri sedikit tersenyum kecil, iris mata biru salju itu bergerak ke arah lain. Alisnya sedikit berkerut bingung melihat dua siswi berperawakan sama dan memiliki wajah sama persis tengah tertawa bersama perempuan bersurai raven yang dia kenal bernama Akeno dari klub Ilmu Gaib.

"Apa mereka anak baru yang digosipkan oleh para lelaki di kelas?" Tanya Toneri yang tetap menatap ke arah tiga gadis itu tertarik, perhatian dua temannya juga memandang ke arah yang sama.

"Kurasa iya, mereka sangat asing., ini kali pertama aku melihat mereka." Neji menanggapi santai.

"Hmm, kufikir hanya gosip saja, tapi memang akan ada anak baru ya, dan dari logo yang mereka gunakan, mereka ada ditinggat yang sama dengan kita, tingkat 6." Sambung Menma dan nampak berfikir sejenak, "Aku jadi penasaran seperti apa kekuatan mereka."

Toneri menanggapi ucapan Menma dengan mendengus pelan, ketertarikan akan dua perempuan itu membawa langkah Toneri berjalan mendekat, dan itu membuat Menma serta Neji menaikkan alis mereka melihat kelakuan Toneri yang mulai kambuh. Memilih diam, keduanya akhirnya berjalan mengikuti Toneri dari belakang.

Disisi lain, dua perempuan yang menjadi perhatian seorang Toneri itu tengah merengut kesal akibat ucapan Akeno. Mereka yang merupakan dua roh dan tengah menjalin kontrak dengan Uzumaki Naruto itu membuang muka ke arah lain bersamaan.

"Naruto-sama pasti tidak akan lama! Dia bilang akan menemui kami setelah acara kenaikan tingkat!"

"Menyetujui, Naruto-sama pasti menepati janjinya!"

Kedua roh itu menyilangkan kedua tangannya, sebenarnya ditengah itu mereka juga was-was akan ucapan Akeno yang mengatakan jika Naruto akan terlambat datang dikarenakan perjalanan yang tidak terprediksi. Tapi, tetap saja mereka yakin Naruto akan menepati janjinya, karena jika tidak, maka jari Naruto akan putus! Itu adalah janjinya.., Sementara Akeno terkekeh geli melihat dua roh yang ternyata memiliki sisi lain yang cukup unik untuk digoda ini, ia sendiri sedikit senang akan perubahan dua roh ini.

"Ara.., ara..,"

Suara khas Akeno keluar sebagai bentuk kesukaannya terhadap tingkah kedua Yamai sister ini. Ide memasukkan kedua roh ini ke dalam sekolah memanglah ide bagus, mengingat dua perempuan itu juga belum pernah merasakan suasana seperti ini. Yah, hitung-hitung untuk menenangkan dua perempuan ini juga karena setelah mereka pulang ke Kerajaan, mereka berdua selalu menanyakan Naruto. Hell! Entah apa yang dilakukan pemuda itu sampai dua roh ini begitu lengket padanya...

Hah... Tapi, apa boleh buat, memang pemuda itu adalah misteri, dan itu menarik seseorang untuk mengikuti bahkan memberikan kepercayaan padanya. Seperti yang terjadi pada Akeno sendiri, saat pertama bertemu di Britain tempo hari, entah mengapa Akeno merasa ada sebuah ilusi yang membuatnya merasa begitu tertarik dengan pemuda itu. Awalnya, Akeno memanglah menganggap hal itu sebagai sebuah delusi yang ada dalam otaknya, namun setelah agak mengenal dia, Akeno sedikit menyadari jika memang dia tertarik dengan pemuda itu.

Ya ampun, sebenarnya apa yang dimiliki Naruto sampai bisa menarik dia dan kedua Yamai bersaudara ini?

"Selamat pagi..."

Iris Akeno berkedip setelah tersadar dari lamunannya, dia menatap sosok Yuzuru dan Kaguya yang mana tangan mereka tengah digenggam oleh seorang pemuda tampan bersurai perak. Tatapan Akeno berubah datar, terutama ketika melihat Menma yang tengah menatapnya dengan seringaian.

"Ah.. Selamat pagi juga, em.."

"Toneri Ootsusuki, pewaris sah klan Ootsusuki."

Yuzuru dan Kaguya saling memandang sebelum mengendikkan bahu mereka tidak mengerti. Lagipula, bagi ukuran perempuan yang baru keluar sarang untuk pertama kali seperti mereka, mana tahu mereka tentang perlakuan khusus yang diberikan dari seorang pemuda yang sedang merangkul pinggang mereka ini, Eh! Tunggu!?

Toneri yang merangkul pinggang kedua gadis itu menyeringai senang, ternyata target yang dia incar memang mudah. Oh, ayolah, dikenal sebagai pemilik kekasih terbanyak di sekolah ini, siapa yang tidak mengenal gelar itu dari seorang Toneri? Dan untuk mendapatkan dua perempuan ini, tentu akan sangat mudah baginya. Toneri mengeluarkan senyum tipis menawannya, ia menatap kedua temannya yang sedang menyeringai padanya.

"Dengan begini, apakah kalian mau menjadi kekasih dari pewaris klan terhe-"

Buakkh!

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Toneri terlebih dahulu terlempar kebelakang setelah mendapat pukulan double dari Yuzuru dan Kaguya. Pemuda itu meludahkan darah yang keluar dari dalam bibirnya yang sobek, pandangannya langsung terarah pada sosok Kaguya dan Yuzuru yang juga menatapnya penuh amarah. Sementara dibelakang mereka, Menma dan Neji sedang terdiam, mereka juga terkejut dengan kejadian yang baru pertama kali dialami oleh mereka, karena biasanya jika Toneri melakukan hal sama pada wanita lain, tentulah mereka akan langsung melonjak kegirangan bahkan tanpa perlu Toneri mengatakan sesuatu. Tapi ini? Mereka sedikit terkejut.

Lalu, apa yang dilakukan Akeno setelah melihat ini? Tentu saja, dia tengah menahan tawa setengah mati.

"Beraninya... Beraninya kau melakukan itu pada kami." Tatapan Kaguya menajam dengan sebuah [line magic] muncul di tangan kananannya, hal yang sama dilakukan Yuzuru dimana dia membentuk dua buah pedang angin di kedua tangannya. Intensitas [mana] mereka meningkat, membuat beberapa keretakan dilantai yang mereka pijaki.

"Marah, kau telah membuat kesalahan." Nada kosong penuh ancaman dari Yuzuru entah mengapa membuat Toneri sedikit bergetar, aura yang mereka keluarkan telah melebihi tingkatan yang mereka miliki, dengan tekanan [mana] ini, harusnya mereka berada di tingkat 7 atau mungkin 8!

"Tunggu! Kalian ini kenapa? Aku ini Toneri, dan tidak ada yang pernah menolakku sebelumnya!"

Kaguya Yamai mendengus pelan, [line magic] ditangannya semakin membesar dan mengeluarakan sebuah percikan petir. "Kami tidak peduli siapa dan makluk apakah kau ini, karena tidak ada yang berhak menyentuh kami kecuali Naruto-sama!"

Semua mata membulat mendengar sebuah nama yang keluar dari mulut Kaguya, bahkan para murid saling pandang dengan tatapan bertanya pada teman mereka sendiri. Tidak ada bedanya dengan para murid, Toneri, Neji dan terlebih Menma menajamkan mata mereka. Menma maju untuk menyentuh pundak Kaguya, namun itu dihentikan oleh Akeno yang menampar tangannya dan menatap Menma datar.

"Minggir kau, jal*ng!" Desis pemuda itu merasa terganggu akan kehadiran Akeno, sementara untuk Akeno sendiri hanya menatap dirinya sinis. Beruntung, Suasana panas itu segera terhenti karena kehadiran seorang Wizard berpangkat guru yang datang ke arah mereka. Seorang pria besar berwajah mesum dengan surai putih panjang hadir disana, plus bersama senyum kecil diwajah pria itu.

"Kau memang tidak ada kapoknya ya, Toneri-kun."

Toneri mendecih kesal dan menegakkan tubuhnya, berbalik tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, pemuda itu berlalu dengan rasa malu bersamanya. Mengetahui itu, dua anak Yamai menonaktifkan kekuatan mereka, menurunkan kapasitas [mana] sebelum tersenyum sinis menatap Toneri.

"Laki-laki putih gila, berani sekali menyentuh kita."

"Menyetujui, hanya Naruto-sama yang boleh menyentuh kita!"

Guru bernama Jiraiya itu menaikkan alisnya tertarik melihat bagaimana nada dua perempuan itu memanggil nama Naruto dengan hormat, namun dia mengabaikannya dan lebih memilih memandang Menma yang masih terpaku saling tatap dengan Akeno. Ia berdehem agak keras, dan menarik perhatian Menma yang terkejut akan kehadirannya.

"Sudah selesai, Uzumaki Menma?"

Tanpa menanggapi ucapan Jiraiya, Menma yang menatap Akeno mulai berjalan menyusul teman-temannya, namun sebelum itu ia membisikkan sesuatu pada Akeno hingga raut wajah perempuan itu sedikit mengeras. Akeno menghembuskan nafas sejenak lalu memandang Jiraiya dan membungkukkan tubuhnya, sedikit menarik tangan Kaguya dan Yuzuru, Akeno pergi dari tempat itu setelah meminta maaf pada Jiraiya karena telah membuat keributan.

Jiraiya menarik nafas melihat kelakuan para murid, sedikit menggeleng maklum, ia kembali melanjutkan langkahnya.

Sementara itu, dengan Akeno yang menarik tangan Yuzuru dan Kaguya, ia menghentikan langkah kakinya dan berbalik memandang kedua perwujudan roh didepannya serius. "Yuzuru, Kaguya. Kalian harus berhati-hati mulai sekarang." Ujar Akeno dan mendapatkan perhatian khusus dari dua perempuan didepannya. "Setelah Toneri mengincar kalian, maka saat itu juga kalian akan berada dalam masalah yang menyusahkan. Toneri bukanlah pemuda biasa yang mana setelah terjadi penolakan akan menjauh atau berusaha mendapatkan kalian secara baik-baik. Dia adalah salah satu pemuda terburuk dari yang terburuk dalam pandanganku, dia akan melakukan apapun, untuk kesenangannya."

"Bertanya, apakah dia seburuk itu?"

Akeno terdiam lalu menggeleng pelan, ia menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah langit dimana warna biru dan sedikit awan bergerak pelan disana. "Tidak, ada yang lebih buruk. Dia, adalah Menma dan Konohamaru." Akeno terhenti sejenak sebelum ia menggeleng pelan dan kembali memandang Yuzuru dan Kaguya. "Pokoknya kalian hati-hati dengan orang-orang itu, mengerti?"

Kedua perempuan itu mengendikkan bahunya, berakhir dengan mengangguk paham mereka mengacungkan jempolnya ke arah Akeno.

"Tenang saja, kami ini hanya milik Naruto-sama!"

...X...

Beralih tempat, terlihat disebuah ruangan kamar cukup luas dengan dinding berwarna coklak kayu, seorang pemuda berambut kecoklatan tengah menatap sebuah tongkat hitam-emas yang tergantung di dindingnya. Pemuda itu membaringkan tubuh ke kasur besarnya, menutup mata dengan lengan kiri, ia sedikit menyeringai.

"Naruto, kah? Serius ayah? Kau berikan Murasame padanya?" Guman Konohamaru bertanya sendiri, ia tertawa kecil sebelum merubah ruangan itu menjadi sunyi senyap akibat dia yang tiba-tiba membisu tanpa suara.

"Melupakan Asuma-nii, dan malah memberikannya pada si payah itu? Kau memang pantas disebut ayah paling tidak berguna." Konohamaru kembali tertawa sendiri sebelum membuka matanya dan mengangkat sebelah tangannya. Sebuah getaran aneh terjadi dimana tongkat hitam-emas tadi bergetar hebat dan berpindah kedalam genggaman Konohamaru. "Tapi, mungkin kau akan lihat nanti, walau kau beri senjata itupun, wizard sampah akan tetap menjadi sampah." Tatapan matanya berubah datar, sebuah kebencian yang menyeruak kedalam hatinya telah merusak akal sehatnya. Dan itu, akan menjadi sebuah petaka bagi target yang menjadi sasaran kebenciannya.

Konohamaru menyentakkan tongkatnya, tubuhnya langsung beranjak berdiri.

"Akan kuhancurkan murid andalanmu itu, hancur... Sampai dia akan menyesal telah dilahirkan kedunia ini."

...Scene Break...

Malam hari ini cukup hening dikediaman Uzumaki dimana dimeja makan hanya ada dua suami-istri yang tengah menikmati makan malam mereka dengan tidak nyaman. Meja yang selalu dipenuhi oleh tawa Menma, Karin dan Naruko itu kini nampak hening dengan mereka berdua yang melamunkan masalah berbeda.

"Anata?" Kushina memanggil suaminya pelan, mencoba menyadarkan Minato dari lamunannya. Pria pirang itu sedikit terkejut dan menjatuhkan sendoknya, ia memandang Kushina.

"Ada apa, Kushina?" Tanya Minato dengan nada biasa dan kembali mengambil sendoknya. Kushina menghela nafas melihat suaminya, ia tatap kumpulan lauk didepannya tanpa nafsu.

"Apa anak-anak kita baik-baik saja?" Tanya Kushina dan langsung mendapat lirikan dari sang suami.

"Kurasa mereka akan baik-baik saja." Jawab Minato ragu, karena ia sendiri tidak yakin akan ucapannya. Karin yang semenjak kemarin berada dikamarnya, Menma yang entah mengapa terlihat aneh setelah pulang dari latihannya dan Naruko..., oke, Minato sangat khawatir dengan anak perempuan yang satu ini, sudah satu minggu setelah ditemukannya Naruko dalam keadaan [mana] hampir habis di jalanan Uzumaki, anaknya itu sama sekali tidak mau keluar dari kamarnya. Bertanyapun akan sangat sulit karena Naruko selalu menjawab jika dia tidak ingat kejadiannya.

Minato sendiri tidak dapat menyimpulkan apa yang terjadi pada Naruko, ia belum pernah melihat seorang wizard kehabisan [mana] dalam keadaan baik-baik saja seperti Naruko. Setelah mengecek keadaan tubuh Naruko pun dia tidak menemukan keanehan apapun, semua normal, aliran darah, saraf bahkan [mana]nya dalam keadaan baik. Tidak ada sebuah magic apapun yang membuat Naruko menjadi seperti itu, tapi, apa alasannya?.., Belum lagi selesai masalah Naruko, kini datang juga masalah lain dimana anaknya yang lain juga ikut terlibat. Minato tentu saja terkejut, bagaimana seorang seperti dia mengincar Naruto.

Kinpatsu, dia adalah sosok yang menyerangnya 16 tahun lalu dimana dia menargetkan Menma untuk dibawa pasca kelahiran Naruko dan Naruto. Kinpatsu adalah seorang kriminal yang identitasnya dipertanyakan, siapa dia, dari klan mana dan dari golongan apa Minato tidak tahu. Minato hanya tahu, kekuatan Kinpatsu sangat luar biasa, kekuatan yang melampaui kuasa sang dewa. Dia tidak tahu kekuatan apa itu, tapi yang pasti, itu sangat berbahaya.

Dan itu menjadi masalah sekarang, dengan tujuan tidak jelas seperti Kinpatsu akan sangat sulit dia mencari sebuah informasi tentangnya. Apalagi, Kinpatsu selalu bergerak sendiri, dia bisa muncul dan menghilang begitu saja, tanpa jejak dan tanpa tanda apapun. Satu-satunya wizard yang mampu mendeteksi keberadaan Kinpatsu adalah Tobirama Senju, dengan magic [Water Of God] miliknya, Tobirama Senju dapat mengetahui lokasi dari siapapun dengan alat bantu dari benda yang berhubungan dengan target. Tapi masalahnya adalah, benda yang terakhir Minato dapat dari Kinpatsu saat ini telah hilang, sebuah sobekan baju yang dikenakan Kinpatsu saat sosok itu menyerangnya dulu.

Minato sedikit mengumpat dalam hatinya, mengingat beberapa ancaman serius yang terjadi belakangan ini membuat dirinya was-was, apalagi dia adalah salah satu Jenderal tinggi di kerajaan, yang mana keamanan juga merupakan tanggung jawabnya. Dan lagi, test kenaikan tingkat disekolah yang akan dilakukan dua hari lagi semakin menekan dirinya, membuatnya sangat pening.

Anak-anaknya yang bersikap aneh, Ancaman dari Kinpatsu, Ujian tingkat sekolah kerajaan, dan hilangnya keberadaan Naruto dari pengawasan Crow cukup membuat emosi Minato tidak stabil. Minato kembali menjatuhkan sendok makannya dan meremat kepalanya yang terasa berat. Pemandangan itu tentu menciptakan keterkejutan Kushina, dengan segera wanita itu beranjak dan menuju ke arah Minato, menyentuh pundak suaminya lembut dan berkata khawatir.

"Anata, kau tidak apa-apa?!"

Minato mencoba menenangkan fikirannya, kedua tangan terangkat agar para pelayan tidak mendekat. Ia tatap Kushina sejenak sebelum beranjak berdiri, "'Bawa aku ke kamar, Kushina." Ujar Minato dan direspon anggukan pelan oleh istrinya. Semua hanya menatap tuan mereka yang menuju ruangan pribadi tanpa dapat berkata apapun.

Dikamar salah satu anak Minato, Naruko tengah memandang langit malam dari jendela kamarnya dalam diam, mencoba mengingat kembali kejadian dimana terakhir kali dia bertemu dengan adik kembarnya. Hal aneh yang terus menghantui dirinya setiap malam, mimpi aneh yang terus datang kedalam tidurnya. Dalam mimpi yang membingungkan itu, ia selalu mendengar ucapan dari sebuah suara yang ia kenal, suara dari adik kembarnya, Naruto.

Ia tidak mengerti, ia sangat membenci adiknya itu tapi mengapa dia terus memikirkannya? Mengapa hatinya seolah sakit ketika dia membayangkan wajah Naruto?.., Naruko pernah mendengar jika seorang anak kembar akan memiliki sebuah ikatan batin yang kuat, tapi Naruko tidak percaya itu sebelumnya. Menurutnya, itu sama sekali tidak masuk akal, hati seseorang itu berbeda, walau dia dan Naruto kembar tapi mereka memiliki perbedaan yang sangat jauh.

Naruko adalah yang terbaik! Dia selalu dapat mengatasi semua masalahnya sendiri. Dia Prodigy, kebanggan klan Uzumaki dan dielu-elukan sebagai penerus terbaik klan dengan gelar Anak Anugerah Tuhan. Dia bisa menciptakan teknik sihir diusianya yang dini, dia mampu memahami setiap hal baru dengan cepat. Sementara Naruto? Payah dalam [mana, seorang wizard cacat yang bahkan tidak mampu membuat [line magic] dasar, dia sampah dan penerus terburuk di klan.

Naruko menutup wajahnya sendiri, kegundahan yang ia rasakan membuat air mata mengalir kecil dipipinya.

"Aku tidak mengerti dengan semua ini!"

Naruko berguman lirih, kembali ia mengangkat wajahnya dan menghilangkan air matanya pelan. Beberapa saat ia termenung, dan dikejutkan oleh suara berdecit dari arah pintu kamarnya, iris mata shappire bergulir ke arah seorang wanita baya yang masuk ke kamar membawa segelas susu dan makanan pada sebuah nampan.

"Manaci Obaa-san? Aku sudah bilang aku tidak mau makan." Ujar Naruko lirih dengan tetap memandang ke arah jendela. Perempuan yang menjadi teman baiknya itu hanya tersenyum kecil dan meletakkan nampan dimeja samping tempat tidur Naruko, ia berdiri sopan disamping kasur dan memandang gadis yang telah ia anggap cucu itu lembut.

Manaci adalah seorang berdarah Uzumaki campuran, yang mana dia bukanlah Uzumaki murni. Dia telah hidup diklan ini selama Minato masih kecil, dia merawat dan memenuhi semua kebutuhan anggota klan Inti. Uzumaki Manaci berbeda dengan wizard pada umumnya, dia adalah tipe wizard yang sangat membenci pertarungan, dari kecil ia sama sekali tidak menggunakan [mana] untuk bertarung, karena ia fikir, konflik seperti itu sangat tidak penting.

Selain memenuhi kebutuhan para anggota klan inti, Manaci juga merupakan tempat bagi Naruko berbagi cerita. Bagi Naruko, bercerita pada Manaci sangatlah menyenangkan, tidak seperti ibunya yang akan terus membela dirinya walau dia salah, Manaci akan memberikan sebuah nasehat, maupun teguran padanya jika dia memang salah. Jadi tidak heran jika Manaci sangat tahu tentang Naruko, terlebih kondisinya saat ini.

"Apakah ini tentang Naruto-sama lagi?"

Naruko diam tanpa menjawab karena memang perempuan tua itu sudah tahu jawabannya.

"Apa yang Naruko-sama rasakan?"

"Aku..."

"Sakit? Kesepian? Marah? Dan Naruko-sama tidak tahu apa alasannya?"

Naruko memejamkan matanya, ia bergeleng frustasi.

"Apakah, Naruko-sama ingin tahu sebuah cerita dari saudara kembar Naruko-sama?" Manaci berucap pelan, tanpa menunggu balasan Naruko ia menggela nafas pelan dan mulai mengingat memory usang yang pernah dia alami, "Naruko-sama ingat pada waktu Naruko-sama sedang demam saat Minato-sama juga Kushina-sama pergi untuk urusan klan?" Tanya Manaci kembali.

"Waktu itu, aku ingat. Dan Menma yang mencarikan aku tanaman herbal itu." Balas Naruko dan mengalihkan tatapan pada Manaci, "Dan hal itu tidak ada hubungannya dengan si bodoh."

Manaci yang mendengar panggilan Naruko untuk saudaranya hanya menampilkan wajah maklum. "Sebenarnya, bukan Menma-sama yang mencarikan tanaman langka itu." Ujar perempuan tua itu dan memunculkan kerutan diwajah Naruko. "Menma-sama tidak pernah mencari tanaman itu, bahkan dia sama sekali tidak peduli pada keadaan Anda. Sebenarnya, Naruto-samalah yang mencarikan tanaman itu. Saat anda sakit, Naruto-sama melihat anda dari balik pintu kamar dengan wajah khawatir, dia bahkan menangis dan mengatakan padaku 'Manaci-san, Onee-chan sangat kesakitan, aku tidak tega, apa tidak ada obat yang bisa membuat Onee-chan sembuh?'..., Naruto-sama menanyakan hal itu, sebenarnya waktu itu anda terjangkit sebuah virus langka dimana [mana] anda akan lumpuh jika tidak segera disembuhkan, saya sudah katakan padanya dulu agar tidak khawatir karena para pengawal sudah mencarikan obat."

Naruko terdiam mendengar ucapan Manaci.

"Tapi, Naruto-sama terus bertanya dan bertanya dengan wajah panik setelah melihat anda meraung menahan sakit, karena tidak tega akhirnya saya katakan jika anda membutuhkan tanaman 'Akar Naga' milik klan Yamanaka yang berada di wilayah hutan klan Yamanaka. Tanpa berfikir panjang, saat itu Naruto-sama pergi begitu saja. Saya tidak dapat menyusulnya, karena saya juga harus menjaga anda sementara para pengawal sedang berada diperjalanan menuju kediaman klan Yamanaka. Selama 3 jam saya menunggu dalam keadaan was-was, dan pada akhirnya saya bisa bernafas lega setelah mendengar dari salah satu pelayan jika Naruto-sama telah kembali, saya bergegas ke depan dan terkejut akan penampilan Naruto-sama yang dipenuhi luka goresan benda tajam juga lebam hampir diseluruh tubuhnya. Bajunya penuh darah dan bahkan dia mendapatkan luka menganga pada dadanya..."

"Saya menangis melihat hal itu, hati saya mencelos dan berfikir... Bahkan, setelah perhatian yang hilang darinya, dan juga hinaan yang dia terima dari saudaranya, Naruto-sama masih mau memerhatikan anda bahkan mengorbankan nyawanya. Awalnya saya sangat marah kepada para pengawal Yamanaka yang mungkin telah membuat Naruto-sama seperti ini, namun kemarahan saya hilang ketika tiba-tiba Naruto-sama mengeluarkan sebuah tanaman seperti serabut dan tersenyum pada saya. Akan tetapi, dia tidak sempat membuatkan obat untuk anda karena keadaannya yang sangat kritis, dia dibawa kerumah sakit dan setelah itu kembali dilupakan. Beberapa hari dia sadar, dan hal yang pertama dia tanyakan adalah anda Naruko-sama, dia menanyakan keadaan anda apakah baik-baik saja tanpa memperdulikan tubuhnya."

Suasana menjadi sunyi, Naruko yang terdiam menatap Manaci mengalihkan pandangannya kembali ke arah luar. Entah apa yang difikirkan perempuan itu, yang jelas ia tengah bingung saat ini, antara percaya dan tidak percaya. Naruko membuang nafasnya pelan, tanpa memandang Manaci ia berucap pelan.

"Keluarlah, ManaciObaa-san." Ujar Naruko. Dan perempuan tua itu membungkuk singkat, sebelum pergi keluar ia kembali membuka suaranya.

"Saya yakin Naruko-sama sangat mengerti tentang semua hal, akan tetapi, banyak rahasia dari klan ini yang belum anda pahami. Naruko-sama tidak perlu mempercayai ucapan saya, itu tidaklah penting karena cepat atau lambat anda akan melihatnya sendiri. Sebuah kebaikan besar dari adik anda." Ucap perempuan tua itu sebelum melangkahkan kakinya pergi tanpa melihat ekspresi Naruko. Manaci terdiam dibalik pintu, memikirkan kembali semua perkataannya tadi sebelum menggeleng dengan senyum kecil.

"Cerita yang menarik, Manaci Uzumaki."

Manaci berbalik kebelakang, matanya membulat melihat seseorang dengan topeng putih polos bermata emas tengah bersender di dinding dekat pintu.

"Kau sangat menyayangi Naruto ya, Lalu, bagaimana jika kita berkerja sama untuk membuat anak yang kau sayangi itu menunjukkan kemampuannya?" Tanya Sosok Kinpatsu tersenyum dibalik topengnya.

...xXx...

Naruto Uzumaki tengah menikmati ramen yang ia pesan disebuah tempat makan besar di desa Genzo. Permata birunya itu memandang ke depan dan menatap dengan senyum sosok transform Murasame. Melihat bagaimana roh berwujud gadis cantik itu memakan ramennya dengan mata berbinar juga sesekali meminum kuah berminyaknya. Naruto tidak tahu jika roh juga punya rasa lapar. Dan berkaitan dengan itu, sudah semenjak pertama kali Naruto ingin menanyakan hal ini pada Murasame.

"Murasame, apa roh dari senjata sepertimu bisa memiliki jenis kelamin? Maksudku, cukup aneh bukan, mengingat sebuah perwujudan dari senjata memiliki kelamin?" Tanya Naruto dan membuat Murasame menghentikan acara makannya lalu menatap Naruto berfikir.

"Ada beberapa yang memiliki jenis kelamin ada juga yang tidak. Senjata Kerajaan sepertiku ini memiliki banyak misteri dalam pembuatannya yang mana aku sendiri tidak mengetahuinya. Namun, walau begitu, aku tahu beberapa senjata sepertiku yang memiliki jenis kelamin karena mereka diciptakan atas perjanjian dengan para dewa, mereka disebut senjata biologis. Sementara senjata roh sepertiku aslinya tidak memiliki jenis kelamin, tubuhku saat ini merupakan tubuh dari pengguna pertama sekaligus terakhir sebelum Goshujin-sama yang menjalin [link] denganku."

Naruto terdiam sesaat, matanya bergerak ke atas dan kebawah meneliti setiap jengkal dari tubuh Murasame. Entah dia sadar atau tidak, ternyata Murasame memiliki wajah yang sangat 'moe' itu menurut Naruto. Pipi merona merah alami dan bibir peach tipis, matanya yang sehitam langit malam membuat siapapun yang melihatnya akan terpaku kagum. Naruto sedikit tersenyum mengacak surai pirangnya pelan, ia tatap Murasame lembut dengan wajah ia pangku pada lengan kanannya.

"Aku tidak menyangka, wajah dari pemilik Murasame sebelum aku begitu cantik. Andaikan aku lahir saat itu, mungkin aku sudah jatuh cinta padamu." Canda Naruto dan Murasame menanggapi itu dengan wajah stoic sebelum ia tertawa kecil.

"Muuu~Goshujin-sama, aku tidak menyangka Goshujin-sama pintar merayu. Tapi, andaikan Goshujin-sama mendekati wujudku ini dahulu, maka sudah dipastikan Goshujin-sama akan langsung dibunuh, karena wujudku ini dulu begitu haus akan pertempuran." Ujar Murasame dengan seringaian menakutkan, namun itu sama sekali tidak mempengaruhi raut wajah Naruto yang masih merasa tertarik.

"Hahaha, mungkin saja, kan? Lagipula aku juga tidak tahu seperti apa dirimu dulu." Balas Naruto tertawa, tidak lama kemudian Naruto menutup mulutnya dan berbalik memandang ke arah lain. "Tapi, jika sekarang ini, aku.."

"Goshujin-sama menyukai seseorang?"

Naruto melirik Murasame yang memberinya tatapan bertanya penuh penasaran, ia terkekeh sedikit dan menyandarkan punggung ke kursi yang ia tempati. "Suka? Mungkin saja, tapi lebih tepatnya, aku... Ah, sulit menjelaskannya padamu Murasame, ini sedikit rumit."

"Oh ya? Apakah dia perempuan berambut pirang dengan kalung berbentuk hati yang sempat kulihat didalam fikiran Goshujin-sama?"

Gzz, Naruto menahan rasa kesalnya, ia memaksakan sebuah senyum dan menjadi senyum aneh yang ia arahkan pada Murasame. "Sudah kubilangkan, Ber-hen-ti mem-ba-ca a-pa yang ku-fi-kir-kan!" Naruto berujar dengan mengeja beberapa kalimat terakhir, sementara Murasame hanya cengengesan tanpa dosa sembari menjulurkan lidahnya mengejek.

Sedikit mendesah pasrah, Naruto mengubah perhatiannya ke arah sudut lain tempat makan ini, keributan tengah terjadi disana dan dari perkiraan Naruto sepertinya keributan yang dibuat oleh keluarga bangsawan, itu terlihat dari pakaian mereka yang terkesan sangat mewah. Naruto menarik alisnya sebelum mengendikkan bahu tidak peduli dengan keadaan itu dan melanjutkan acara makannya.

"Sudah kubilang! Aku sedang menemui calon pendampingku!"

"Ditempat ini?! Tempat miskin seperti ini!? Kau gila hah?!"

Perempuan bersurai pirang bergelombang dengan mata biru keunguan itu menggertakkan giginya kesal, saling tatap dengan mata pria pirang didepannya, ia mendecih kesal dan kembali berteriak sampai membuat semua perhatian tertuju padanya. Termasuk Naruto yang menyeruput kuah ramen di depannya.

"Kakak yang gila! Aku memang mau menemui calon suamiku disini!"

Naruto melihat pertengkaran itu sembari memakan ramennya, seolah tengah menonton drama yang cukup menarik.

"Lalu... Mana calon suamimu?"

Naruto dapat melihat wajah gadis cantik bangsawan tadi berubah kaku, dari sana sendiri dapat Naruto simpulkan jika wanita tadi tengah mencari cara untuk menolak sebuah perjodohan. Tidak aneh memang jika klan besar selalu menjodohkan putra-putri mereka sesuka hati, apalagi jika itu dapat menaikkan tingkat ekonomi maupun kekuasaan klan. Mereka bahkan tidak terlalu peduli akan perasaan anak-anak mereka, karena mereka merasa cinta itu hanyalah sebuah kata tidak berguna. Hmm.. Walau tidak semua klan sih.

Beruntung Naruto tidak mengalami nasib yang sama.

"Dia adalah calon suamiku."

Eh...? Naruto terbengong, ia terlalu shok dengan hadirnya perempuan bangsawan yang tengah berseteru tadi ke tempatnya dan memeluk lengan kanannya erat. Iris birunya melirik kebawah tepat pada kepala kuning yang juga mengarahkan pandangan mata penuh cinta padanya... Hah?!

"T-tunggu! T-tunggu! Apa maksudnya in-"

Pertanyaan Naruto terhenti saat melihat sebuah [line magic] besar ditangan pria pirang di depan tempatnya. Berniat meminta bantuan, dirinya mengarahkan pandangan ke arah Murasame, dan sialnya roh itu telah kembali kewujud katana kepunggungnya. Sialan, kau Murasame! Dasar penghianat!

"Jadi, kau yang telah menghamili adikku?!"

"Tunggu?! Menghamili?! Apa maksudnya?!" Naruto berucap dengan memandang perempuan disampingnya panik, namun sang perempuan itu malah menangis dan memegangi perut ratanya.

"A-ayahmu tidak mengakuimu, nak.. Hiks.."

Cewek kampret!

"Pengawal! Bawa dia ke Kastil Phenex, hadapkan pada Ayah segera agar dapat diadili karena telah menodai adikku!"

Mata Naruto membulat seketika, belum sempat ia melakukan pergerakan, tubuhnya telah terkurung dalam tali magic yang berpendar kuning api. Beberapa pengawal berbadan besar membopong tubuhnya.

"Hoy! Tunggu! Ini salah paham, hey, hey!"

Sepertinya, masalah baru akan dimulai. Masalah dengan salah satu klan besar di dunia, klan Phenex sang lambang keabadian.

-Cut-

Uwahhhh, Beruntung dapat menyelesaikan ini tepat waktu., muu~

Ehmmm, untuk bahasan kali ini, Kitsu akan meringkas beberapa yang Kitsu anggap pertanyaan yang sangat perlu diketahui. Dan bahasan pertama adalah mengenai tangan Naruto yang menghilang, well, saya memang tidak mengatakan akan kembali tapi, saya juga tidak mengatakan tidak akan kembali, kan? Jadi tunggu saja, karena mengenai lengan kiri Naruto ini nanti akan saya cari tahu dari beberapa sumber yang mungkin akan cocok dengan rangka yang saya buat. Buat para Readers, berdoa aja tangan Naruto akan kembali, tehee~

Kedua, mengenai Konohamaru Dark atau...? Sepertinya kalian udah tahu jawabannya diatas kan? Saya membuat disini dia menjadi seumuran dengan Naruto, dan dari penampilan saya mengambil potongan dimana dia pas muncul di persiapan pernikahan NaruHina, mungkin udah pada tahu, yakan.., tentang Duo Yamai saya lewati, karena kalian tahu sendiri dari penjelasan diatas jika mereka memiliki wujud nyata alias human.

Mungkin itu dulu, karena yang lain jika saya jelaskan akan memberitahukan sebagian besar rencana cerita yang akan Kitsu buat aka Spoiler, dan itu tidak asik.

Sampai disini, dan sampai jumpa minggu depan,.

Kitsu-Out