Mask
Sebuah tulisan dari Little Kitsu
...xXx...
Kota Genzo tengah dalam keadaan ramai saat ini, para penduduk maupun pengunjung dari kota lain berhenti hanya untuk melihat salah satu putra dari klan ternama di kota Genzo tengah berada ditengah kota bersama adiknya. Namun bukan itu yang menjadi titik utama pertanyaan dikepala mereka, melainkan sosok asing berjubah hitam dengan tali sihir pengikat tengah diiring bersama rombongan itu.
Sementara Naruto sendiri tengah mendecih kesal, sangat kesal. Pandangannya sama sekali tidak lepas dari perempuan bernama Ravel Phenex. Sungguh, jika dia bebas saat ini maka ia akan langsung mencekik perempuan itu. Bagaimana dia tidak sekesal ini? Sosok Ravel yang berakting seolah dirinya adalah pria bejat yang telah menghamili dia dan membuat Naruto berada dalam masalah gila ini!
Jangankan menghamili, merasakan ciuman saja dia belum!
"Maafkan aku, tapi kau satu-satunya yang bisa menyelamatkanku."
Naruto mengabaikan bisikan Ravel padanya, ia lebih memilih menatap perempuan itu dengan senyum psico.
"Aku akan benar-benar menghamilimu nanti, perempuan aneh." balasnya berbisik, dan Ravel yang mendengar hal itu sontak merinding dan menjauh dari Naruto.
...xXx...
Chapter 8
Ruangan besar lengkap dengan beberapa tempat khusus untuk orang khusus. Singgasana ukuran lumayan besar menjadi tempat duduknya seorang pria baya dengan jubah berbulu tebal. Mata pria itu menatap datar sosok pemuda pirang yang merupakan anaknya lalu ke arah belakang pemuda itu dimana anak perempuannya sedang menundukkan kepala.
"Raiser. Jelaskan apa maksudmu?" Tanya pria baya tersebut tegas, iris emas pria itu mengarah pada Naruto yang memandang seisi ruangan tenang. "Dan siapa dia?"
Raiser Phenex membungkukkan badannya hormat, memerintahkan para pengawalnya untuk menyeret Naruto ke depan, kehadapan sang Ayah.
"Dia adalah pemuda yang telah menghamili Ravel, ayah." Ungkap Raiser memandang tajam Naruto dan dibalas hal sama oleh pemuda itu. Mereka saling tatap penuh aura permusuhan sebelum sosok ayah Raiser menepak wajahnya kasar. Pria itu sedikit merutuki kebodohan anak lelakinya yang kelewatan.
"Begitu mudahnya kau dibodohi adikmu, Raiser?" Suara ayah Raiser terdengar lelah. Beruntung ruangan ini hanya ada dirinya dan mereka, jadi dia tidak terlalu malu karena tidak ada yang melihat kebodohan anaknya. "Adikmu tidak hamil, Raiser. Sama sekali tidak, bahkan orang bodoh pun akan tahu jika Ravel sudah berbohong padamu."
Ucapan sang ayah membuat Raiser mengedipkan matanya tidak mengerti, ia balikkan tubuhnya melihat sang adik yang tengah membuang wajah ke arah lain. Raiser kembali pada sang ayah dan menatapnya bertanya. Sementara pria itu mendesah pelan, menjetikkan jarinya dan memicu hilangnya tali sihir yang membelenggu tubuh Naruto.
"Sekarang, pergilah Raiser. Uruslah kompetisi yang akan klan Phenex lakukan."
"Tapi ayah,"
"Lakukan perintahku."
Perkataan final dari sang ayah membuat Raiser terdiam sebelum mendecih kesal. Membalikkan badannya dan memerintahkan pengawalnya, ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Naruto dan Ravel bersama sang ayah. Naruto meregangkan otot tubuhnya sesaat, ia tatap pemimpin klan Phenex didepannya datar.
"Terima kasih." Ujar Naruto singkat dan berbalik berniat meninggalkan ruangan besar itu. Belum sempat ada 5 langkah dia berjalan, pemimpin klan Phenex membuka suaranya membuatnya terhenti sebentar.
"Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu, anak muda?"
Naruto melirik kebelakang, tepatnya ke arah Ravel yang memandang sendu ke bawah. "Sebenarnya aku ingin menampar wajah putrimu itu, tapi setelah kuamati ternyata dia sangat menyedihkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi, kurasa kau sudah membuat suatu kesalahan yang berimbas pada putrimu sendiri."
Ravel Phenex menatap terkejut Naruto, mereka berdua saling memandang dalam. Ravel dapat melihat perasaan empati yang pemuda itu tunjukkan lewat matanya, dan dia tidak tahu kenapa pemuda itu menunjukkan hal tersebut. Ravel bergeleng kepala dilanjutkan mengalihkan pandangan pada ayahnya.
"Aku adalah Lord Phenex, pemimpin klan Phenex dan juga ayah Ravel. Jika boleh, aku ingin mengobrol denganmu sebentar, anak muda." Pria itu berujar penuh wibawa, sementara Naruto tidak menjawab namun tetap berdiri diam disana. Pemuda itu mendesah pelan, entah mengapa perasaannya yang sangat penasaran membuat dirinya diam ditempat, dia ingin segera pergi ke kerajaan tapi, Gah!!! Pandangan perempuan bernama Ravel itu begitu menyedihkan, Naruto tidak tahu mengapa tapi hatinya seolah tidak mau melihat kesedihan itu ada diwajah Ravel. Selain itu, Wajah Ravel sangat mengingatkan dia dengan orang itu.
Tch!
Naruto berbalik kesal, ia kesal terhadap dirinya yang memiliki rasa empati seperti ini. "Ini karena Doktrin yang Hiruzen-san berikan padaku." Batin Naruto. Lord Phenex tersenyum kecil.
"Jadi kau bersedia?"
"Kurasa tidak masalah."
Ravel Phenex tidak mengerti sama sekali dengan pemuda di belakangnya ini. Ravel telah membawa pemuda itu dalam masalah dan membuatnya menjadi korban sang kakak, membuat pemuda itu malu karena diarak bak kriminal oleh pengawal kakaknya. Ravel kira dengan itu sudah cukup untuk membuat pemuda itu memiliki dendam padanya. Tapi...
Ah... Tidak mungkin.
Ravel mengenyahkan semua fikiran positif dalam otaknya tentang Naruto. Mengubah wajahnya menjadi tanpa ekspresi, dia mulai berjalan keluar ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Naruto menatap hal itu biasa, seolah tidak tertarik sama sekali dengan sikap dari perempuan yang menurutnya sedikit seenaknya. Tapi, dibalik itu Naruto juga tahu jika perempuan tersebut tengah menyembunyikan sesuatu dalam hatinya.
Dan hal itu yang membuat Naruto tertarik berada disini. Naruto menarik nafasnya lalu menatap ke arah Lord Phenex.
"Jadi?" Pertanyaan singkat Naruto membuyarkan tatapan kosong Lord Phenex, membuat pria baya bersurai pirang panjang itu mendesah pelan dan menatap Naruto.
"Aku..."
...xXx...
Naruto keluar ruangan ditemani oleh Lord Phenex, mereka berjalan ke arah kiri dan mengobrol singkat.
"Anda sudah mengerti, bukan, Naruto-san?" Tanya Lord Phenex tanpa mengalihkan pandangannya. Naruto mengangguk sebagai jawaban.
"Ya. Tapi, kurasa masalah anda akan sangat rumit nanti. Jika pihak luar maupun tetua klan Phenex mengetahui ada orang luar yang ikut campur, bukannya itu akan bertambah sulit nantinya? Seperti yang anda tahu, aku ini orang asing dan sangat riskan jika kau meletakkan semuanya padaku." Ujar Naruto serius.
"Tentang tetua, aku yang akan menangani mereka. Aku akan memasukkanmu sebagai pilihanku, jadi itu tidak masalah selama tidak melanggar aturan. Dan aku mempercayakan ini padamu, karena hampir semua anggota klan menyetujui ide dari tetua. Sementara aku sebagai seorang ayah, tidak bisa melihat putriku menjadi bahan taruhan seperti itu, namun aku juga tidak dapat menghentikannya karena jelas dalam tradisi jika setiap putri dari klan Phenex harus punya seorang calon pendamping di usia 16 tahun. Aku tidak bisa menolak ini, karena jika aku menolak maka aku juga akan mencederai tradisi yang telah ada. Anda pasti juga mengerti posisiku, kan."
Naruto kembali mengangguk. Meskipun dia bukanlah pewaris klan ataupun pemimpin klan, tapi Naruto masih dapat memposisikan diri jika berada dipihak tertentu. Naruto mengerti tentang dilema yang dihadapi Lord Phenex, jujur saja, meski dia belum mempercayai pria itu sepenuhnya, namun ia tetap menerima tawaran dari Lord Phenex.
Dia tahu ini gila, tapi ia akan tetap mengikuti kata hatinya.
Naruto menatap lurus kedepan. "Yah, jika anda dapat mengatasinya, aku tidak masalah." Ujarnya pelan.
"Terima kasih. Aku tahu ini menyulitkanmu, dan sebagai gantinya jika kau berhasil nanti, aku pasti akan memberimu imbalan."
"Itu tidak diperlukan, Lord Phenex. Aku tidak membutuhkan apapun saat ini."
"Tapi tetap saja, aku yang merepotkanmu ini harus memberimu sesuatu. Aku sedang memikirkan untuk memberimu air mata Phoenix sebagai awal kerja sama kita."
Naruto tersenyum menanggapinya, hanya mengangguk kecil hingga Naruto tiba di pertigaan kecil yang memisahkan beberapa ruangan tertentu.
"Aku hampir lupa. Anda bisa menggunakan ruangan di ujung lorong ini. Itu merupakan ruangan untuk tamu klan Phenex, dan tenang saja, para maid juga akan datang untuk memenuhi kebutuhananda. Dan maaf, aku hanya bisa mengantar anda sampai disini, selanjutnya anda bebas melakukan apapun disini. Tapi, tolong diingat, besok anda harus bersiap-siap karena acara akan dilaksanakan pagi hari." Lord Phenex berkata sembari menatap Naruto yang tengah mengedarkan pandangan ke setiap tempat dikastil ini. Tersenyum tipis, Lord Phenex segera kembali membuka suara mengejutkan Naruto yang terlalu fokus memperhatikan keadaan sekitar.
"Aku pamit dulu, Naruto-san. Selamat menikmati tempat ini."
Sedikit terkejut, Naruto secepat mungkin membungkukkan kepalanya hormat. "Baiklah, Phenex-san." Balasnya dan kembali menegakkan tubuh menatap sosok Lord Phenex yang tertawa kecil sebelum meninggalkan dirinya.
""Apa Goshujin-sama yakin dengan keputusan Goshujin-sama?""
"Murasame?"
""Aku sedikit ragu dengan ucapan pria itu, bisa saja dia membohongi Goshujin-sama.""
Naruto membisu mendengar perkataan Murasame dikepalanya. Memang kemungkinan yang dikatakan Murasame bisa besar kemungkinan terjadi. Disini dia adalah orang asing dan tidak pernah bertemu dengan Lord Phenex sebelumnya, dan tiba-tiba saja pemimpin klan itu meminta bantuannya adalah hal yang cukup tidak wajar. Tapi, setelah dia mengingat kembali tatapan mata itu... Tatapan mata kosong dari seorang perempuan itu, Naruto tahu... Bahwa keputusannya ini tidaklah salah.
"Apa ini penting untuk Goshujin-sama? Ataukah karena perempuan itu?"
Naruto kembali berjalan menyusuri kastil Phenex. Ingatannya kembali pada saat-saat dimana dirinya tenggelam dalam jurang bernama kesepian. Ketika itu, ia merasa kosong, merasa tidak adil dan bahkan terasa seperti sedang sendirian walaupun disekelilingnya ada banyak orang. Dan hal itu semua dapat dia lihat dalam mata Ravel, entah karena apa perempuan itu merasa kesepian, namun Naruto tahu, adalah hal yang penting untuk memberi perempuan itu sedikit semangat agar tidak jatuh seperti dirinya dahulu.
"Tidak seratus persen salah. Hanya saja, aku tidak ingin dia merasakan apa yang kurasakan." Ketegasan dalam nada suara menciptakan kebisuan bagi Murasame. Roh itu hanya dapat mendesah pelan sebelum kembali tertawa kecil mengingat 'kebodohan' seorang Uzumaki Naruto.
...Scene Break...
Tanah latihan milik klan Phenex tengah dalam suasana panas saat ini. Setiap detik, satu bola api berwarna orange termuntahkan dari [line magic] milik pemuda bersurai pirang panjang bernama Raiser Phenex. Beberapa kali juga bola api nampak menghantam bola api lain yang datang dari arah dua orang lain yang berada disana. Hawa panas begitu terasa dan menjadikan ciri khas disini saat anggota klan Phenex berlatih.
Raiser menggerakkan tangan diudara dan memicu sepuluh bola api merangset maju ke depan. Dua pengawal yang membulatkan kedua matanya itu segera menciptakan sihir pelindung. Sayang, itu masih belum mampu menahan gempuran dari sepuluh bola api milik Raiser. Pemuda itu menggelengkan kepalanya melihat dua pengawal phenex terkapar dengan nafas tersenggal.
"Aku kecewa, kalian begitu lemah." Ujar Raiser jengkel, sementara dua pengawalnya segera bangkit dan membungkuk meminta maaf. Iris mata Raiser memutar bosan, dan saat itu dia tidak sengaja melihat sosok Naruto yang tengah melihat latihan mereka dari pinggir area Trainning.
"Hoy kau rambut kuning!" Panggilnya pada Naruto yang ditanggapi tarikan alis heran.
"Aku?" Beo Naruto sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"Ya kaulah! Siapa lagi disini yang berambut kuning?!"
"Sadar diri, rambutmu sendiri juga kuning." Balas Naruto datar, namun ia tetap berjalan mendekat tanpa menanggapi berlebih raut wajah Raiser yang tengah menahan kesal. "Jadi, ada apa?" Tanya Naruto dengan tetap berekspresi tenang. Raiser memandang Naruto sejenak sebelum memberi kode pada pengawalnya untuk menyingkir. Naruto memperhatikan hal itu biasa, namun ia segera membawa tubuh ke udara saat tiba-tiba Raiser melempar satu bola api cukup besar kearahnya. Naruto mendarat sempurna di samping tempatnya tadi, keningnya berkerut ketika Raiser membungkus kedua tangannya dengan sihir api.
"Sparringlah denganku!" Teriak Raiser lantang.
"Apa.., ini paksaan?" Tanya Naruto tenang, ekspresinya bahkan tidak berubah sama sekali. Akan tetapi, lengan kanan dibalik kain hitamnya itu telah menggenggam erat gagang Murasame. Raiser mengangguk mengiyakan dan membuat Naruto sedikit tersenyum kecil. "Baiklah."
Manik Raiser membelalak terkejut saat Naruto telah memangkas jarak dan berada di hadapannya, dengan berbekal gagang pedang Naruto mencoba memukul perut Raiser namun gagal karena pemuda itu telah memundurkan tubuhnya. Naruto tidak tinggal diam, dia kembali bergerak mengudara, menarik Murasame dan menebaskan secara terbalik. Raiser merespon dengan menciptakan sihir pelindung di depannya, dan itu cukup untuk meredam serangan Naruto.
"Agresif sekali, eh?"
Naruto hanya tersenyum menanggapi itu. Mengubah gerakannya, Naruto menggunakan lingkaran sihir pelindung Raiser untuk melompat lebih tinggi. Secepat mungkin, Naruto melempar Murasame ke sisi kosong di depan Raiser.
"Tch,"
Decihan dikeluarkan Raiser, ia sedikit memundurkan tubuh kebelakang dan membiarkan Murasame tertancap di depannya. Sedikit mendengus, ia kembali melirik ke atas mencari sosok Naruto yang ternyata telah menghilang disana. Raiser menurunkan pandangannya, dan melihat sosok Naruto telah mendarat disana. Dengan kuda-kuda kuat, Naruto segera meluncur ke arah Raiser dan memberikan sabetan katana pada pemuda itu setelah ia mendapatkan kembali Murasame.
Raiser kembali menghindar dengan sedikit memundurkan kepalanya..., Sial! Apa-apaan serangan bocah ini?!, Belum sempat ia mengamati kembali Naruto, sebuah tendangan ia rasakan diperutnya. Raiser terdorong kebelakang, terseret beberapa meter sebelum dia berhenti dan memandang Naruto yang masih berposisi menendang. Sungguh, serangan ini benar-benar sangat cepat!
Naruto tersenyum kecil. "Apakah ini kekuatan Holy Grail?" Tanyanya yang telah mengaktifkan [link] dengan Murasame.
""Ya, Holy Grail menyesuaikan dengan tubuh Goshujin-sama. Dalam hal ini, Holy Grail mempercepat pergerakan saraf dan memperbaikinya sesegera mungkin. Teknik ini umumnya digunakan oleh knight level 6. Tapi, karena adanya Holy Grail, itu pengecualian untuk Goshujin-sama. Lagipula, pelatihan yang selama ini Goshujin-sama lakukan sudah cukup untuk membuat gerakan seperti ini."" Murasame membalas dalam kepala Naruto.
Naruto membuka matanya, menurunkan sebelah kakinya dan mengangkat sebelah tangan mengacungkan Murasame. "Apa kau sudah lelah, Ayam?" Tanya Naruto dengan nada setengah bercanda, lagipula ini hanya latihan jadi dia tidak akan benar-benar serius. Raiser menegakkan tubuhnya, ia menjentikkan jarinya dan memunculkan sepuluh lingkaran sihir dibelakang tubuhnya.
"Apa kau bercanda? Aku baru akan serius sekarang, duren! Majulah [Fireball]"
Naruto sedikit menyeringai mendengar jawaban Raiser. Naruto melompat lalu menebas satu bola api diudara. Menapak sejenak, Naruto memutar tubuh kesamping dan melaju lurus ke depan, tubuhnya meliuk menghindari beberapa serangan sebelum berhasil berada disamping kiri Raiser. Naruto akan memukul sisi samping dada Raiser, namun terhenti dan sedikit terkejut melihat seringaian diwajah lawannya.
Menghentikan serangan, Naruto melompat mundur dan berguling beberapa kali sebelum berhenti dan langsung memandang Raiser tajam. Cukup terkejut ia rasakan ketika Raiser mengubah bola apinya menjadi gelombang api besar yang siap memanggangnya hidup-hidup.
"Dia benar-benar mau membunuhku."
Wooshhh
Kobaran api menelan sosok Naruto. Sementara Raiser memandang hal itu dengan senyum kemenangan. Tidak ada yang bisa selamat dari gelombang api yang menutup semua pergerakan, Raiser yakin dengan itu cukup untuk membuat luka lumayan parah ditubuh Naruto. Yeah.. Setidaknya ia cukup puas dengan pembalasan atas rasa malu di depan ayahnya tadi.., Sekian detik terlalut dalam keheningan, Raiser dikejutkan oleh Naruto yang keluar dari kobaran api tadi dalam keadaan baik-baik saja, bahkan pemuda itu masih dapat berekspresi tenang.
"Bagaimana bisa?"
Sementara dengan Naruto, dia sedikit bernafas lega, ia memandang Murasame yang berada ditangannya. 'Beruntung Murasame menciptakan selubung khusus tadi, jika tidak maka si ayam idiot ini pasti akan tahu tentang kepemilikanku sebagai pemegang Holy Grail'
""Aku menantikan traktiran dari Goshujin-sama.""
Oke, ia tarik kembali fikirannya tadi.
"Menarik."
Naruto kembali memfokuskan pandangan ke arah Raiser, tetap waspada jika saja Raiser kembali menyerang.
"Kau bertahan dari gelombang api dan tidak mengalami luka sedikitpun, hebat."
"Kita sudahi saja latihan ini, ayam. Aku ada keperluan esok hari." Ucap Naruto pelan. Sedikit mendesah lelah melihat Raiser yang kembali mengeluarkan sihir, Naruto mengangkat Murasame ke udara. Sebuah bola api lumayan besar kembali menyerang Naruto, namun dengan santai Naruto menebaskan Murasame tepat ke titik tengah bola api Raiser, menyebabkan dua jalur berbeda terbelah disamping Naruto. "Aku bilang sudah cukup, aku harus menyimpan tenagaku untuk besok." Naruto mengulang kembali ucapannya, menyarungkan Murasame dan membalikkan punggungnya. "Kau hebat, ayam. Sangat hebat dalam pengendalian sihir elemen." Puji Naruto berjalan menjauh. Sedangkan Raiser terdiam, ia menatap punggung Naruto yang terbalut kain hitam. Entah sadar atau tidak, semenjak ia bertemu dengan Naruto tadi belum pernah ia melihat Naruto melepas kain hitam yang menutupi tubuhnya itu. Raiser mengendik acuh, ia pandang ke atas langit malam di desa Genzo.
"Besok ya."
...xXx...
Naruto berjalan tenang menuju kamar yang telah disediakan Lord Phenex untuknya. Berjalan pelan tanpa menciptakan suara sedikitpun, Naruto sedikit dikejutkan oleh sosok Ravel Phenex yang tengah bersandar di dekat pintu kamar dan memandang kedatangannya datar. Setelan dress serta rambut pirang yang diikat twintail mirip bor itu nampak aneh dimata Naruto.
"Kurasa, kebutuhan air didesa Genzo masih tercukupi..." Celetuk Naruto sembari memandang Ravel tenang. Menanggapi ucapan Naruto dengan wajah bertanya, mimik tidak mengerti yang ditunjukkan Ravel membuat Naruto mendengus geli. ".., Jadi tidak perlu tukang bor untuk menggali sumur baru, kan?" Pertanyaan mengejek Naruto yang ditunjukkan pada rambut anehnya membuat wajahnya memerah malu, ia mencoba memukul Naruto namun terlebih dahulu Naruto telah masuk ke dalam kamar.
"Hoy! Idiot! Buka pintunya!!!"
Ravel menggedor-gedor pintu kamar Naruto.
"Buka!"
"Cepat buka!"
"Buka atau aku akan mendobraknya!?"
"Tch! Baiklah! Awas kau!"
Ravel menarik kakinya, bersamaan dengan itu ia mencoba mendobrak pintu kamar Naruto. Namun naas, Naruto telah membuka pintu itu, membuat dirinya terjengkang kebelakang dan bokongnya mencium lantai, menciptakan rasa berdenyut pada bokongnya.
"It-ittai..." Ravel merintih sakit, mengusap pantatnya sendiri dan beralih memandang Naruto. "Bantu aku, bodoh!" Ujar Ravel kesal karena Naruto hanya berdiri sambil menatapnya. Pemuda didepan Ravel memutar mata malas, ia sedikit berjongkok didepan Ravel lalu menyentil dahi perempuan itu pelan.
"Bangun sendiri." Balas Naruto beranjak berdiri dan kembali masuk kedalam ruang kamarnya. Ravel merespon kesal, dia mulai berdiri dan mengikuti Naruto masuk kedalam. Di kamar berukuran sedang itu, keduanya saling tatap dalam kebisuan. Ravel yang tidak tahu harus berkata apa, hanya diam dan mematung ditempatnya saat ini.
Naruto memutuskan acara saling pandang itu, tanpa melepaskan kain hitam ditubuhnya, ia menarik dan meletakkan Murasame pada kasur kecil diruangan tersebut. "Apa yang kau inginkan?" Tanya Naruto tanpa memandang Ravel.
"Aku,.., hanya ingin meminta maaf tentang kejadian tadi." Ravel sedikit membungkuk lalu menegakkan kembali tubuhnya dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "Aku... Sudah putus asa dengan masalahku, aku bingung harus melakukan apa. Saat melihatmu tadi, tiba-tiba saja aku berfikir jika kau dapat melepaskan aku dari masalahku. Tapi, sepertinya aku terlalu egois dan tidak memikirkanmu."
Memberi lirikan pada Ravel, Naruto kembali disuguhkan oleh pandangan kosong itu. Pandangan yang membuat semua perasaan berat muncul dalam diri Naruto.
"Tidak apa. Aku mengerti."
Ucapan halus Naruto membuyarkan lamunan seorang Ravel Phenex. Beralih pada pemuda itu, ia dikejutkan oleh sebuah tatapan sendu dari iris samudra yang sedang memandang ke arah langit malam. Ravel tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti mengenai pemuda di depannya ini. Dia terlihat kokoh diluar, namun dari mata itu Ravel dapat melihat sebuah kesedihan yang dia pendam. Sama seperti dirinya.
"Bersyukurlah, kau memiliki ayah yang menyayangimu." Ujar Naruto sedikit tersenyum miris. 'Tidak sepertiku, kau memiliki ayah yang hebat.' Sambungnya membatin. Wajah Naruto berubah tanpa ekspresi dan melentangkan tubuh kekasur, kesamping Murasame.
"Ayahmu sudah menceritakan semuanya. Tentang tradisi klan Phenex dan juga tentangmu."
"Lalu?"
Naruto terdiam sesaat dengan pandangan mengarah ke atas.
"Juga... Kompetisi untuk mencarikanmu pendamping."
Angin malam berhembus meniup kain di jendela, sorot cahaya rembulan menambah pencahayaan diruangan itu. Ravel berdiri mematung.
"Aku tahu itu sulit diterima olehmu, juga ayahmu. Tapi cobalah berfikir tentang posisi ayahmu, dia adalah pemimpin klan dan tidak mungkin dia mencederai tradisi yang telah ada." Naruto menutup mata dengan lengan kanannya,"Kumohon keluarlah, aku sangat lelah hari ini dan harus beristirahat." Ucap Naruto pelan.
Pertanyaan yang makin banyak memenuhi kepala Ravel. Namun dia mengerti jika pemuda itu juga memiliki haknya untuk mengusirnya. Tapi..
"Aku ingin tahu namamu. Sebelum pergi, aku ingin mengetahui namamu."
Naruto sedikit membuka lengan dan meliri Ravel yang sedikit salah tingkah.
"Y-yah, mungkin saja kau akan pergi besok, kan? A-aku hanya ingin tahu namamu sebelum kita berpisah."
Suara perempuan itu sedikit tergagap, sembari matanya mengarah ke luar.
"Kau akan tahu besok."
"Apa maksudmu? Aku hanya ingin tahu-"
"Pergilah, aku lelah."
Ravel membungkam mulutnya setelah suara baritone memotong ucapannya. Helaan nafas keluar dari dalam mulutnya. Segera, Ravel melangkahkan kaki keluar. Sebelum pergi, terlebih dahulu dia berbalik dan melihat Naruto yang tetap tidak bergerak. Ravel tersenyum tipis dan menutup pintu kamar untuk tamu itu.
Pikiran yang melayang jauh membuat Naruto mendesah. Pemuda itu mengabaikan semuanya dan mencoba untuk tidur.
'Dengan ini, mungkin aku akan dikeluarkan dari Sekolah karena tidak mengikuti ujian kenaikan kelas. Tapi, itu tidak masalah.'
-Skip Time-
Anak perempuan dari klan Phenex dikenal sebagai tuan putri dikeluarga mereka, terutama bagi anak perempuan pemimpin klan. Mereka akan dimanja, diberikan apapun kebutuhan dan keinginan mereka seumur hidup. Mereka akan hidup terpandang tanpa harus memikirkan kerasnya sebuah perjuang. Mereka akan selalu terhormat secara martabat karena nama klan Phenex akan selalu membersihkan mereka. Rata-rata perempuan akan senang jika mendapatkan hal semacam itu.
Tapi, tidak bagi Ravel Phenex karena semua itu hanya pandangan masyarakat yang tidak melihat sisi lain klan ini.
Lahir sebagai anak perempuan pemimpin klan membuat Ravel merasa tertekan diusia remaja. Harus belajar hidup sebagai putri seorang bangsawan, tidak dapat melakukan apapun jika tanpa pengawalan. Bahkan hal sepele seperti minum teh pun harus diperhatikan. Semua peraturan yang membuat Ravel jengah. Dia bosan, dia lelah, dan dia.., kesepian. Sebagai anak bangsawan dari klan terhormat, dituntut oleh tetua untuk selalu menjaga kehormatan sebagai seorang putri. Dia dikekang dan tidak dapat melakukan aktifitas seperti anak seusianya.
Dulu, dia tidak pernah kesepian karena sang kakak yang selalu menemaninya. Mengajaknya bermain disela latihannya sebagai seorang anak bangsawan. Akan tetapi, semua itu berubah setelah sang kakak mengenal dunia sihir. Dia semakin menjauh, dan menjauh membuat Ravel hanya dapat memandang punggung sang kakak.
Ravel kesepian.
Ravel membutuhkan teman.
Seseorang yang dapat membagi bebannya, Ravel membutuhkan itu.
Namun, harapan akan kedatangan seorang teman itu semakin menjauh. Tradisi klan yang mewajibkan setiap putri Phenex mendapatkan pendamping diusia 16 tahun membuat Ravel seolah ingin mati, menyusul sang ibu yang terlebih dahulu wafat. Akan tetapi, melihat wajah tua sang ayah, membuat Ravel menumpulkan niatnya, memusnahkan pikiran bodoh untuk menghilangkan nyawanya.
Semua demi ayahnya.. Orang yang paling dia sayangi.
Tapi, dia juga tidak dapat membohongi perasaannya.
Dia, sangat lelah hidup sebagai putri bangsawan.
Siapapun...
Siapapun...
Siapapun...
Tolong Aku...
"Ravel, kau baik-baik saja?"
Lord Phenex melihat putrinya yang tengah meremat pelan gaun yang dia kenakan. Pria itu mengambil nafasnya setelah melihat Ravel hanya mengangguk sebagai jawaban. Sebagai ayah, Lord Phenex mengerti tentang tekanan yang dihadapi putrinya. Dia sangat mengerti hal itu.
Tapi dia juga tidak dapat melakukan apapun, walaupun dia adalah pemimpin klan, namun semua kendali ada ditangan para tetua. Lord Phenex tidak dapat menolak titah dari tetua yang menginginkan sebuah sayembara pencarian calon suami untuk anaknya. Jika saja dia bisa, dia tentu akan menghentikan semua ini tapi bila dia melakukan itu, maka dia juga akan melukai kepercayaan klan.
Mata kuning Lord Phenex teralih pada arah lain. Arena besar Kuzaku, adalah tempat terbesar di kota Genzo dan berguna untuk acara besar seperti ini. Para penduduk diizinkan langsung untuk melihat pertarungan ditempat ini, karena hal itu juga akan menjadi hiburan umum.
'Test?!'
Semacam layar hologram besar muncul ditengah Arena dan menampilkan wajah seorang pemandu acara sebelum berubah fokus ke arah arena.
'Sudah terhubung. Baiklah'
'Selamat datang diacara lanjutan yang dibuat oleh klan Phenex!'
"Uuuuuuuu!"
Teriakan semangat datang dari para penonton yang tidak sabar akan pertunjukkan yang dinanti.
'Dalam acara yang merupakan bakal pencarian calon suami dari anak perempuan Lord Phenex ini. Saya, Gekko Hayate yang telah kembali dipercaya menjadi pengadil dalam acara, resmi menyatakan acara telah dimulai!'
Teriakan kembali terjadi di semua penjuru. Lord Phenex yang duduk pada singgasana khusus melirik anak perempuannya, ingin mengetahui ekspresi macam apa yang ditunjukkan Ravel. Lord Phenex tersenyum kecut mengetahui anaknya hanya menampilkan wajah kosongnya.
'Dalam data yang saya terima, hanya ada 2 peserta yang lolos dalam seleksi para tetua klan Phenex yang dilakukan beberapa hari lalu. Maka, tanpa basa basi lagi, saya akan memulai duel antara mereka untuk memperebutkan putri Ravel!'
.x.
Naruto muncul dengan kain hitam melekat ditubuhnya. Berdiri kokoh disamping Lord Phenex tanpa diketahui Ravel, dia sedikit menarik alisnya melihat salah satu peserta berambut bata dengan gentong besar dipunggung masuk dalam arena.
"Peserta tertangguh menurutku, Sabaku Gaara dari klan Sabaku."
Naruto mendengus mendengar ucapan Lord Phenex. Sementara Ravel sedikit terlonjak kaget mendengar ada kehadiran lain di tempat khusus ini.
"K-kau? Bagaimana..."
"Aku mengundangnya."
Lord Phenex memotong ucapan dari Ravel. Pria itu sendiri tidak terlalu mempermasalahkan wajah anak perempuannya yang menampilkan wajah aneh.
"Apa kau sudah siap?"
Mata biru Naruto mengarah pada arena Kuzaku. Memperhatikan dengan seksama raut tenang pemuda bernama Sabaku Gaara dan mencoba menyimpulkan kekuatannya. Setelah itu, dia mengambil nafas pendek dan menjawab pertanyaan Lord Phenex.
"Tentu. Aku sudah menyetujuinya kemarin."
Ravel bedecak tak paham akan topic yang dilakukan pemuda didepannya dengan sang ayah.
"Apa yang kalian bicarakan sebenarnya?" Tanya Ravel setengah kesal. Lord Phenex hanya diam, dan Naruto tersenyum kecil lalu menatap Ravel.
"Kau akan mengerti sebentar lagi."
Merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, Ravel akhirnya mengalihkan wajah ke arena dengan kesal.
.x.
Sabaku Gaara adalah anak ketiga dari klan Sabaku. Memiliki ciri fisik surai merah bata dan wajah yang cukup tampan. Namun dari itu semua, hal paling menojol darinya adalah gentong besar berbentuk kacang dibelakang punggungnya. Gaara merupakan pewaris sah klan Sabaku, dan dia juga terkenal akan [Magic Descent] yang diturunkan dari ayahya.
[Magic Descent] milik Gaara adalah mengendalikan pasir, ia mampu membuat bahkan memanipulasi pasir ke dalam bentuk yang dia inginkan. Gentong dibelakang tubuhnya juga memiliki fungsi besar, didalam sana, tersegel sebuah Beast rank-S bernama Shukaku yang juga memiliki kemampuan berbasic pasir. Gaara memiliki keuntungan dalam setiap pertempuran, karena kekuatan Shukaku selalu melindunginya dan menjadi tameng terkuat yang dia miliki.
Iris jade Gaara menatap Gekko yang berada ditengah arena datar. Beralih ke atas dan menatap sosok Ravel.
"Jadi dia, anak dari Lord Phenex. Cukup cantik."
Hembusan nafas dikeluarkan Gekko Hayate, seorang wizard rank-A itu menatap Gaara lalu ke arah satu peserta lain.
"Zaku Abumi dan Sabaku Gaara, kalian siap?"
Lelaki dihadapan Gaara tersenyum mengejek. Setelan baju tanpa lengan dengan syal berkibar dileher menjadi ciri dari pemuda itu. Keduanya saling pandang tanpa mengucapkan sepatah katapun dan mengangguk bersamaan.
"Baiklah. Duel babak final, dimulai!"
Angin terhembus pelan mengibarkan surai keduanya. Tidak ada yang berniat menyerang terlebih dahulu, mereka hanya saling pandang.
"Menyerahlah."
Zaku mengernyit mendengar ucapan Gaara.
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu jelas apa maksudku. Aku adalah pemenang dalam acara ini, jelas aku yang akan menang."
"Jangan berlagak kau Sabaku!"
"Kau juga pasti tahu, bukan. Aku tidak akan membiarkan musuhku pulang dengan utuh? Beberapa hari kemarin kakakmu Dozu juga telah mati ditanganku, apa itu masih belum cukup untuk klan Abumi?"
Gaara bersidekap dada dengan pandangan angkuh, dia sama sekali tidak terpengaruh akan pandangan benci yang mengarah padanya.
"Maka dari itu, aku menyuruhmu untuk menyerah. Aku tahu klan Abumi mengikut sertakan kalian agar dapat mendapatkan kedudukan sebagai suami dari Ravel Phenex karena klan Abumi merupakan klan kecil. Tapi sayang, kalian tidak memikirkankan kualitas yang kalian miliki. Sejujurnya, aku bingung mengapa Abumi mengirim kecoa seperti kalian kemari."
"Brengsek!"
Dash!!
Zaku mengikis jarak antara dia dan Gaara, menciptakan kepulan debu disepanjang langkah kakinya. Pukulan Zaku arahkan pada Gaara yang hanya menatap itu tanpa ekspresi.
"Keras kepala."
Zrrrr
Pasir tiba-tiba terbentuk didepan Gaara, mengambil wujud dinding yang menghalanginya dari pukulan Zaku.
"Hanya ini?"
Gaara melirik dari celah dinding pasirnya, mata hijau jade itu memandang datar sosok Zaku. Gaara menggerakkan sedikit jarinya, memicu gerakan pada pasir miliknya dan mencuat ke depan dalam bentuk jarum. Zaku segera membawa tubuh kebelakang, terus melompat kebelakang menghindari tusukan jarum pasir yang mengikuti pergerakannya.
"Sabaku Kyuu..." Gaara mengangkat sebelah tangannya, mengubah jarum pasir membentuk sebuah sulur yang mengincar tubuh Zaku.
Zaku berdecih, mendekap tangannya ia mengumpulkan mana di dada. "Daitoppa!"
Terjangan angin menerjang ke arah sulur Gaara. Ledakan kecil terjadi menciptakan debu cukup tebal di arena itu. Zaku menapak tenang, wajahnya terangkat dan sedikit menyeringai senang, walau hanya sesaat.
"Suna Shigure.."
Psyuuu!
Zaku membelalakkan mata hitamnya, ia menyilangkan kedua tangannya dan terlempar kebelakang setelah peluru pasir mengenai telak tubuhnya.
Naruto yang melihat hal itu di atas tribun mencoba tenang meski batinnya sedikit bertanya mengenai bagaimana Gaara memiliki kemampuan seperti itu. Ketenangan Gaara dalam menghadapi situasi begitu terkontrol, dia tidak terburu-buru dalam melakukan tindakan dan menekan mental lawan dengan serangan kejutan. Wizard seperti ini, sangatlah jarang dia temui. Tidak berbeda dengan Naruto, Lord Phenex yang melihat kekuatan Gaara cukup terkejut. Matanya kini beralih ke arah Naruto yang memandang intens ke arah Gaara di arena.
"Sekarang, apa yang akan kau lakukan Naruto?" Batin Lord Phenex.
Murasame yang melihat apa yang masuk kedalam penglihatan Naruto nampak terdiam berfikir. Walau sebentar, tapi dia sempat merasakan sebuah [mana] besar berasal dari gentong dipunggung pemuda bernama Gaara tadi. Tapi, ia cukup yakin jika [mana] yang dia rasakan tadi bukanlah milik manusia.
"Sepertinya, dia memiliki Beast dalam benda itu Goshujin-sama."
"Beast? Jangan-jangan," melihat ke arena kembali, Naruto mendapati pasir milik Gaara mulai membungkus tubuh Zaku. ".. Beast yang memiliki kemampuan mengendalikan pasir. Beast Rank-S, Shukaku."
"Itu benar Goshujin-sama. Tapi, aku merasa dia tidak dapat mengendalikan secara menyeluruh [mana] milik Shukaku."
Naruto kembali menatap kearah Arena.
"Walau begitu... Dia tetap saja kuat."
Kembali ke arena. Zaku yang menempel pada dinding arena mencoba memberontak dari lilitan pasir Gaara yang semakin menyelimuti tubuhnya.
"Aku sudah memperingatkanmu." Gaara berjalan mendekat ke arah Zaku dengan sebelah tangan terangkat mengendalikan pasir miliknya. "Tapi mengingat aku masih memiliki toleransi, maka aku hanya akan menghancurkan kakimu." Zaku membulatkan matanya. Tubuh itu semakin bergetar melihat Gaara mulai menggerakkan tangannya dan seiring itu juga cengkraman pasir dalam di kakinya semakin kuat.
"Ti-tidak... Hentikan..."
"Sabaku..."
"Ti-ti-tidak... Kumohon! Jangan!"
"Soso."
Crashhh!
Semua penonton yang berada dalam ketegangan menarik nafas mereka berat. Disisi Lord Phenex, ia menghela nafas dan melirik kesampingnya.
Ravel yang hanya dapat berkedip tidak mampu mengatakan apapun, tidak. Dia... Terlalu terkejut.
Sementara Gekko Hayate yang berperan dalam pengadil memandang tubuh Zaku tertarik. Berbeda dengan Gaara yang merespon tidak suka.
"Siapa kau?"
Gaara bertanya pada Naruto yang tiba-tiba berada di arena dan memotong sulur pasirnya, membuat tekniknya gagal dan pasir yang membungkus kaki Zaku jatuh ketanah. Naruto yang berjongkok setelah memotong sulur pasir Gaara dengan Murasame mulai beranjak berdiri. Menatap Zaku yang masih bergetar, lalu ia berbalik berjalan ke arah Gaara sambil menyarungkan Murasame kembali.
"Aku, peserta selanjutnya."
Gaara terdiam sebentar lantas memandang Gekko datar meminta penjelasan.
"Maafkan aku, tapi dalam dataku aku tidak menemukan nama dan profilmu."
"Dia adalah temanku, dan dia datang atas perintah ayah."
Sebuah suara datang dari portal teleportasi yang muncul ditengah arena. Api mulai membakar sedikit tempat itu sebelum memunculkan sosok Raiser Phenex dalam balutan pakaian dengan sedikit armor ditubuhnya.
"Raiser-sama." Gekko berojigi ria, dan Raiser mengangguk tenang.
"Gekko-san, atas perintah ayah, aku akan mengambil alih acara ini. Dan sebaiknya kau bawa Zaku Abumi ke ruang pemulihan, mental tempenya pasti terguncang karena akan kehilangan kaki tadi."
Gekko mengangguk patuh, berjalan menuju arah Zaku diapun pergi dari arena. Raiser membuang nafas dan memandang Gaara.
"Apa-apaan ini, Raiser-san? Kau tahu pemenang dari acara ini telah ditentukan, mengapa kalian seenaknya mengubah susunan yang seharusnya?"
"Maaf sebelumnya. Tapi dalam aturan juga jelas tertulis jika ayah atau saudara dari pihak Phenex dapat menunjuk seseorang untuk berduel dengan para peserta yang telah terdaftar. Dan dia, adalah pilihan Lord Phenex."
Memandang Naruto sekilas, Gaara sedikit tersenyum remeh ketika dia merasakan tekanan [Mana] Naruto yang sangat rendah.
"Kau yakin? Jika memang Lord Phenex ingin mengujiku, bukankah ini malah akan merendahkan martabatku? Coba kau rasakan sendiri, bahkan tanpa kau rasakan kau juga akan mengerti jika dia hanya seorang Knight biasa." Ujar Gaara merendahkan.
"Lalu, apa anda bermasalah dengan itu? Dan bukannya jika memang benar, anda akan sangat mudah mengalahkan dia dan mempersunting adikku."
Mata jadenya terpejam. "Baiklah, jika memang itu maumu. Ayo, cepat mulai dan selesaikan."
Tatapan Raiser beralih ke arah Naruto. Jujur, walaupun dia sedikit terkejut dengan kemampuan Naruto, Raiser ragu jika pemuda itu dapat mengalahkan Gaara. Raiser tidak mengerti, mengapa ayahnya memilih Naruto yang terlihat jelas hanya seorang Knight dan wizard lemah sebagai lawan Gaara yang notabenya adalah pemilik dari Beast Rank-S. Entah antara sudah gila, atau memang ayahnya melihat sesuatu dalam anak ini.
Hah,
"Baiklah. Duel penentuan Dimulai! Naruto melawan Sabaku Gaara!"
-Cut-
Fakta yang dapat diambil dari chapter ini adalah... Peningkatan stamina Naruto yang cukup lumayan naik karena membawa Holy Grail. Kedua, Naruto dipastikan tidak mengikuti ujian kenaikan tingkat karena memang dia seperti tidak terlalu peduli dengan sekolah (liat di chapter 3 Scene Naruto Murasame), disana saya tunjukkan ketidak pedulian Naruto tentang itu. Itu dua hal yang telah pasti terjadi. Dan perlu digaris bawahi, peningkatan yang terjadi pada Naruto hanya masalah stamina, bukan Mana karena sudah kukatan Mana Naruto sama sekali tidak berubah.
Naruto terlalu mudah percaya? Terlalu baik? Well, nanti akan dijelaskan kok.
Untuk beberapa chapter ke depan, saya juga hanya akan berfokus pada peningkatan kemampuan Naruto, jadi jangan bertanya mengapa akan ada beberapa chara baru yang akan masuk nanti.
Berpaling pada Naruko, satu tokoh ini nanti akan saya buat sebagai 'batu pijakan' untuk Naruto mengeluarkan kemampuan sejatinya. Dengan cara apa? Entahlah... Menculiknya? Membuatnya sakit atau lumpuh? Menyadarkannya dan akan berpihak pada Naruto?..., maaa, lihat saja nanti.
Kinpatsu mungkin masih misteri, tujuannya? Ambisinya? Kekuatannya? Itu akan ditunjukkan pada akhir Arc 1 dan itu masih lama.
Sedikit menyinggung tentang lengan Naruto. Calm... Saya udah mengantongi bagaimana nanti nasib tangan buntung ini.
Osh!!! Mungkin itu dulu. Sampai jumpa minggu depan.
Kitsu-out.
