"Olah [mana]mu lebih keras Gaara, jangan biarkan Shukaku mengambil alih kesadaranmu."

Aku mengikuti instruksi dari ayah yang mengucapkan hal tadi dari pinggir lapangan latihan klan Sabaku. Aku sentuh kembali permukaan tanah dan kembali mengalirkan [Mana]. Perlahan kulihat tanah disekitarku berdesir, dapat kurasakan ketika komponen tanah dilapangan berubah menjadi buliran pasir yang mulai mengudara.

Aku mendengus senang, kusatukan pasir disekitarku membentuk sebuah tombak trisula kecil melayang dibelakang tubuhku. Dalam hitungan detik, tombak buatanku melesat meluncur jauh menghancurkan apapun yang berada dalam jalur terjangannya.

"Bagus. Pengendalianmu terhadap pasir sangat bagus, dan juga control [mana] mu terhadap Shukaku semakin meningkat. Pertahankan itu."

Ayah mengucapkan hal itu dan berjalan menjauh. Aku menarik nafas dan tersenyum kecil. Bangga.

"Itu, Gaara-sama."

"Dia memang yang terbaik di klan Sabaku, diumurnya yang masih muda dia berhasil mengontrol Shukaku yang ada dalam tubuhnya."

"Benar-benar anak yang jenius."

Aku mendengus mendengar pujian-pujian datang padaku saat berjalan di area klan. Mereka patut melakukan itu karena keberuntungan klan yang memilikiku, anak jenius yang dilahirkan dalam klan Sabaku.

Aku sempurna. Itu adalah satu kepercayaan yang aku miliki. Aku adalah yang terbaik dan semua patut tunduk pada kekuatanku, tanpa terkecuali. Tapi...

Crashhh!

Bunuh!

Bunuh!

Bunuh!

"Argggh!"

Aku bergetar dalam kebingungan setelah menghancurkan tubuh seorang pengawalku dengan pasir. Warna merah masuk dalam mataku, dan potongan tubuh membuatku mual setengah mati. Aku... Jijik... Aku... Apa yang kulakukan?!

Bunuh!

Suara ini? Kenapa suara Shukaku begitu melekat dalam otakku?

Bunuh semuanya!

Crattts

"Ga-gaara-sama! Arggg!"

Aku menatap kosong potongan tubuh didepanku, walaupun jijik namun, entah kenapa aku, merasa senang.

"Ga-Gaara! Kau hilang kendali, sadarlah Gaara!"

Aku menoleh kebelakang dimana ayah datang dengan pasir emas menguar membentuk pillar diselilingnya. Ku edarkan pandanganku ke atas, ke sudut tempat tengah kota Suna dan melihat puluhan prajurit telah membidikkan busur panah padaku.

"Gaara?!"

Ah, Ayah memanggilku.

"Sadarlah! GAARA!"

Bunuh dia.

Perkataan itu muncul dalam otakku, dan dengan senang hati aku mengiyakan perkataan itu saja, seolah tidak dapat berfikir lagi.

Hancurkan dia.

"Mati."

Dengan satu kata itu, puluhan jarum pasir mencuat dari dalam tanah dan menembus tubuh prajurit yang tidak beruntung. Hujan darah dapat kurasakan dan itu membuatku tertawa senang. Sebenarnya, apa yang terjadi?!

"Seal."

Bisikan halus dapat kudengar dibelakangku, sebelum dapat merespon, tiba-tiba sebuah sihir penyegel muncul pada tubuhku. Pandanganku memudar... Aku...

Terbangun dalam kamar yang biasa aku tempati, kutolehkan pandangan ke arah lain lalu menatap tanganku. Apa semua tadi hanya mimpi?

Sudahlah... Aku mengenyahkan pemikiran tadi dan menurunkan kakiku dari kasur. Mungkin saja memang benar tadi hanya mimpi, mimpi yang sangat buruk.

Berjalan keluar dari dalam kamar, aku susuri lantai mansion dan menuju area latihan. Seperti biasa, aku akan melatih lagi tubuhku dan mengontrol [mana] Shukaku. Sesampai di area latihan, hal aneh menyambutku. Semua menatapku benci, dan tidak sedikit yang melempariku dengan batu. Aku sangat marah, namun juga bingung... Mengapa mereka melakukan ini?

"Pergi dari sini, monster."

Perkataan mereka sangat membuatku kesal. Monster?! Siapa yang monster?!

"Setelah membunuh puluhan orang kau masih biasa saja?! Benar-benar monster!"

Membunuh? Siapa yang membunuh siapa?!

"Aku, tidak mengerti maksud kalian." Aku mengatakan itu, tapi mereka semakin bertambah marah.

Dari tatapan itu.., dan dari cara mereka memperlakukanku. Apakah, kejadian tadi bukan mimpi? Apa aku memang telah membunuh orang?!

Segala Pertanyaan itu terjawab setelah mendengar ucapan dari mereka bahwa semua tadi bukan mimpi... Semua nyata... Dan aku, adalah monster.

Semua pujian perlahan sirna menjadi cacian. Pandangan kagum berubah menjadi kebencian.

Keluargaku menjauhiku karena rasa takut, ayah sama sekali tidak memperhatikanku seperti dulu.

Kenapa, semua menyalahkanku?!

Kenapa?!

""Karena kau bodoh.""

Suara ini, Shukaku?!

""Kau menyadarinya, eh. Bodoh,""

"Kau yang melakukan ini kan?! Kau yang membunuh orang-orang itu?!"

""Ya, memang. Aku memasuki tubuhmu dan mengendalikanmu.""

Aku terkejut mendengarnya Dan menggeram marah. Gara-gara dia, aku dibenci keluargaku. Gara-gara dia, aku dianggap monster!

""Hahaha... Kau bodoh ya. Mereka memang tidak tulus.""

"Kau, apa maksudmu!? Tentu saja mereka tulus! Mereka keluargaku!"

""Bodoh. Khakhakhakha... Apa keluarga akan bertindak seperti itu pada keluarganya sendiri? Apa mereka akan mengucilkanmu atas perbuatan yang kau lakukan tanpa mendengar penjelasanmu? Afufufu, kau lucu sekali.""

Aku terdiam mendengar ucapan Shukaku. Aku mengingat kembali saat dulu aku begitu disanjung, aku dihormati. Tapi, setelah saat itu, semua berubah tanpa aku tahu kenapa Mereka semua berubah...

""Manusia memang seperti itu. Mereka akan menganggapmu pahlawan saat mereka mau menganggapmu saja, tapi setelah itu... Fuh-mereka akan membuangmu setelah mereka menganggap kau tidak berguna.""

Tidak... Tidak, mereka tidak seperti itu!

""Ayahmu, mengabaikanmu. Kedua kakakmu menjauhimu karena rasa takut mereka dengan adik kecilnya. Dan klanmu? Khakhakha, jangan bergurau, mereka menganggapmu Monster bukan? Si Gaara sang pembunuh, afafafa.""

Aku... Tidak ingin mendengarnya tapi., Shukaku, memang benar.

""Jadi, kenapa kau menjadi manusia saat mereka memanggilmu Monster? Kenapa, kau tidak menjadi monster yang sebenarnya? Kenapa kau mau berlatih untuk melindungi mereka jika sudah kuat nanti? Kenapa kau tidak berlatih dan kuat untuk dirimu sendiri?""

Shukaku... Dia, benar.

""Sekarang, jadilah seperti apa yang mereka katakan. Hiduplah untuk dirimu sendiri, dan bertarunglah untuk dirimu sendiri!""

Ya... Aku akan hidup, aku akan bertarung dan bertahan untuk diriku sendiri! Sekarang, tidak ada Sabaku Gaara, tapi... Sekarang, Aku akan menjadi monster seperti yang mereka katakan!.

.xXx.

Mask

Sebuah cerita imajinasi Author.

Rate T

Warning! : Mungkin Ooc, Gaje, Membosankan, Au, Smart!Naru!, Gabungan dari unsur beberapa sumber.

...x...

Chapter 8

Perebutan Ravel Phenex!

Tribun penonton terlihat hening, seolah terbawa oleh aura tenang dari kedua peserta di Arena Kuzaku. Naruto yang sedang melihat sosok Gaara dihadapannya terlihat tidak bergerak sedikitpun.

"Sabaku. Itu klan yang cukup terkenal di ibukota kerajaan, dan klan Sabaku juga merupakan klan bangsawan atas dari desa Suna. Lalu, kenapa kau mengikuti acara ini? Bukankah lebih baik klanmu meminta langsung pada tetua Phenex dan melamar Ravel-san secara formal?"

Gaara menanggapi ucapan Naruto dengan sedikit terkekeh.

"Kenapa katamu? Hmmm... Karena mungkin akan lebih menyenangkan jika aku bertarung seperti ini. Urusan klan itu membosankan, dan asal kau tahu aku melakukan ini atas keinginanku sendiri."

Naruto mengernyitkan dahi tidak mengerti akan perkataan pemuda dihadapannya.

"Sebagai pewaris klan, aku berhak menentukan siapa yang akan aku jadikan pendampingku, kan? Dan aku mengikuti ini karena aku rasa Ravel Phenex pantas menjadi pendampingku. Lalu, kau sendiri, mengapa kau mau menjadi pilihan Lord Phenex menghadapiku? Sebagai info, aku telah membantai sebagian peserta dipenyisihan, jadi tidak masalah juga jika aku membunuhmu."

Iris shappirenya menatap Gaara lalu mengadah ke arah tribun atas. Wajah khawatir Ravel Phenex terlihat jelas dari sini, dan itu membuatnya sedikit tertawa. Hey, mereka baru kenal kemarin malamkan? Dan juga Ravel tidak tahu mengenai namanya sebelum ini. Tapi kenapa gadis itu malah terlihat khawatir?

Pertemuan yang konyol tadi malam mungkin telah membebaninya. Kheh... Bodoh..., Naruto menurunkan pandangannya dan kembali pada Gaara. Dari balik kain hitam miliknya, Naruto menarik sebilah pisau (kunai )yang dia desain sedemikian rupa disela kekosongan waktunya.

"Sebenarnya ini juga menyulitkan untukku, tapi mau bagaimana lagi. Aku... Tidak mau melihat kesedihan diwajah Ravel-san. Melihatnya saja... Aku sudah tahu jika dia terpaksa melakukan ini."

Ucapan lantang Naruto begitu mengejutkan Ravel yang berada di tribun khusus. Merasa tersentuh akan sosok asing yang rupanya cukup mengerti dirinya.

Sedikit memainkan pisau khusus. Naruto tersenyum ramah pada Gaara.

"Maka, walaupun kau mendapatkan Ravel sebagai istrimu kelak, tapi kau tidak bisa mendapatkan hatinya nanti. Dan aku, ingin mencegah hal itu."

Naruto melempar satu pisau ke arah Gaara. Pasir hidup bergerak membentuk dinding menahan serangan Naruto. Gaara yang ada dibalik dinding pasir itu mendengus memikirkan kembali perkataan Naruto. Iris jadenya melirik terkejut ke arah kanan dimana dua buah pisau yang sama terlihat disana, lesatan terukur mengakibatkan salah satu kunai membentur kunai lain dan membuatnya berbelok arah kekepala Gaara.

Pewaris klan Sabaku itu hanya diam, pasir yang mengandung kekuatan Shukaku otomatis berpindah dan mengitari dirinya. Naruto melihat hal itu dengan mata menyipit.

"Aku akan mencoba sekali lagi."

Usai membisikkan perkataan itu, Naruto berlari memutari tubuh Gaara. Sementara Gaara memandang itu datar, bahkan tanpa bergerakpun dia dapat menahan serangan Naruto. Pasir hidup miliknya selalu bergerak cepat membentuk perisai ketika pisau Naruto mengarah padanya.

Naruto menghentikan gerakan di sebelah kiri sosok Gaara. "Akan kutambah kecepatanku." dengan itu Naruto melesat zig-zag, ia kembali menarik satu pisau khusus dan melemparnya ke arah Gaara. Naruto tersenyum kecil saat pasir Gaara kembali bergerak. Sedikit menghentikan langkah kakinya, Naruto menarik kelima jarinya.

Krrttttt

Semacam tali transparan melayang-layang di hadapan Gaara. Pemuda Sabaku itu membulatkan matanya melihat tali tipis yang nampak berbahaya tadi berputar-putar disekelilingnya sebelum melilit tubuhnya. Gaara bertindak cepat, dia memutar tubuhnya dan melapisi seluruh tubuh dengan pasir miliknya.

Naruto berjongkok sembari kelima jarinya menarik benang khusus miliknya agar tetap melilit tubuh Gaara.

"Kau terlalu sombong sampai tidak menyadari benang khusus yang ku untai disetiap seranganku. Kunai-kunai tadi hanyalah pengalihan, dan aku memutari tubuhmu juga membawa tujuan agar kau fokus padaku dan aku dapat menautkan benang ini sesuai pola yang kuinginkan."

Gaara melirik kearah benar kuat yang melilit tubuhnya. "Benang ini, terbuat dari bahan khusus, jika kulepaskan pasirku, maka benang ini juga akan memotong tubuhku." Gaara mengadah pada Naruto dan melihat pemuda itu tengah berdiam diri dan melihatnya. "Heh, dalam hal ini kau juga tidak dapat menyerangku, bukan? Tanganmu itu harus menahan benangnya agar dapat terus melilitku."

"Tidak. Tentu aku bisa menyerangmu."

Gaara membulatkan mata mendengar jawaban Naruto. Melihat sendiri bagaimana Naruto semakin menarik kelima jarinya dan membuat lilitan semakin menembus perisai pasir miliknya.

"Aku memahami sistem pasir milikmu. Walau terlihat seperti kau hanya diam tidak bergerak, namun sebenarnya kau menggunakan sedikit gerakan untuk menggerakkan pasirmu. Dan sekarang, kau tidak dapat bergerak karena kau terbelenggu dalam pasirmu sendiri, dan jika kau merelease perisai pasirmu maka kau juga akan langsung terpotong oleh benang khususku ini."

"Hehh, apa kau fikir semudah itu mengalahkanku?"

Gaara mendelik pada Naruto lantas menyeringai kecil.

"Lihat dibawahmu."

Naruto mengikuti arahan dari Gaara dengan memandang kebawah, alisnya sedikit mendelik melihat tempat yang dia pijaki perlahan semakin menjorok kebawah. Sial! Ini pasir penghisap... Tapi bagaimana bisa?!

"Aku bukan hanya bisa memanipulasi pasir, tapi juga dapat mengubah beberapa unsur tanah berpasir menjadi pasir seutuhnya. Bukan hanya gerakan, aku juga dapat memanipulasi pasir hanya dengan mengalirkan [mana] milikku dan Shukaku."

"Kau cerdik juga, Sabaku." Puji Naruto dan menatap Gaara. "Tapi, dengan begini kau juga akan terseret kedalam bersamaku karena aku sedang mengikatmu."

"Tidak masalah, aku hanya cukup membungkus diriku dengan pasir dan keluar dengan mudah."

Sialan...

Naruto mengumpat, merasa kesal sekaligus bingung saat mengetahui lawannya bukan hanya memiliki kekuatan tapi juga memiliki kecerdasan dalam keadaan terdesak. Dengan membuat pasir hisap dibawah kaki Naruto sekarang bukan hanya membuat Gaara mengcounter serangan Naruto, namun juga membuat pemuda berdarah Sabaku itu berada diatas angin sekarang.

Jika Naruto melepaskan ikatan pada Gaara, maka saat itu juga Gaara pasti akan menyerangnya mengingat lawannya itu akan dapat menggunakan tangan yang menjadi basic pengendalian pasirnya. Tapi jika Naruto tidak melakukan itu dan mencari jalan lain, maka perlahan dia juga pasti akan terhisap kedalam pasir ini. Apa boleh buat...

"Benar-benar merepotkan."

Naruto melepas benang yang terkait pada jari-jarinya, secepat itu juga dia menarik satu kunai dan melempar ke arah dinding arena Kuzaku. Naruto sedikit mendecih ketika matanya melihat tangan Gaara bergerak. Menarik kaitan benang khusus yang ada balik kain hitamnya, Naruto membawa tubuhnya tertarik keudara. Bersamaan dengan itu, sulur pasir Gaara mulai terbentuk dan mengikuti arah gerakan Naruto.

Naruto mendarat pada dinding arena Kuzaku. Hanya seperkian detik sebelum dia kembali bergerak mengudara.

Bhoom!

Naruto menoleh kebelakang dimana pasir Gaara menghancurkan dinding tadi dan menimbulkan keretakan disana. Dengan kekuatan itu, dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika serangan Gaara mengenainya.

""Gunakan [curse, Goshujin-sama, kau tahu betul jika Goshujin-sama juga dapat menggunakan [curse] milikku sesuka hati,""

Naruto menapak dan dilanjutkan berlari menghindar. Tatapannya masih fokus pada Gaara yang terus menggunakan sihir pengendali pasir untuk menyerangnya.

"Aku juga akan melakukan itu, tapi bagaimana aku menyentuhnya jika mendekat saja tidak bisa?"

""Beri aku sedikit waktu Goshujin-sama, aku akan mencari kelemahannya."" Mendengus kesal, Naruto kembali melambung tinggi menghindari pasir Gaara yang datang dari bawah tanah.

"Kau fikir aku sedang apa dari tadi."

Di udara, Naruto terjun ke bawah dengan iris birunya memandang kebawah. Sosok Gaara yang begitu tenang membuatnya menaikkan alis heran. "Kenapa dia diam saja?" Bisiknya tak mengerti. Lain cerita dengan Gaara, pemuda itu tersenyum penuh kemenangan. Menggerakkan tangan ke atas memicu pilar pasir menjulang berputar mengelilingi Naruto.

"Sabaku Kyu..."

Dngggg!

Suara berdebum berbunyi diudara saat pilar pasir tadi menyatu membungkus tubuh Naruto. Kini, semua dapat melihat sebuah bola pasir besar berisi Naruto didalamnya yang mulai memadat dan mengecil.

.x.

"Ayah?! Hentikan pertarungan ini!" Ravel berteriak histeris di tribun khusus, memandang ayahnya yang juga tengah was-was menatap ke arena. Sihir yang merupakan andalan dari seorang Sabaku Gaara telah mengunci semua pergerakan Naruto, dan jika telah seperti ini, maka pemuda itu akan...

"Ayah!"

Lord Phenex tersentak dan memandang putrinya yang tengah terisak pelan.

"Kumohon, sudahi saja semua ini! Aku akan menikah dengan Sabaku! Aku akan menikahinya tapi, hentikan pertarungan ini!"

"Ravel..."

Isakan kecil keluar dari perempuan itu. Kembali melihat ke arena gelisah, ia remat besi pembatas tribun sebagai pelampiasan rasa takutnya.

"Aku... Aku tidak mau ada orang lain yang terluka karena aku., terutama dia, aku, tidak menginginkan itu. Bila takdirku memang harus seperti ini, maka aku akan-"

"AKU DAPAT MENDENGARNYA BODOH!"

Semua mata kembali membelalak terkejut. Para penonton saling pandang tidak mengerti saat suara Naruto berteriak memenuhi arena Kuzaku. Sementara didalam pasir Gaara, terlihat Naruto yang meringkuk menahan tekanan kuat yang mencoba menghancurkan tubuhnya.

Takdir katanya...

"AKU TIDAK TAHU APA YANG KAU FIKIRKAN TAPI," Semua tenaga ia kerahkan dan mendorong pasir padat Gaara, perlahan terlihat dari luar jika pasir Gaara semakin membengkak. "APA KAU FIKIR AKU MELAKUKAN INI HANYA UNTUK MENYERAH?! JA...NGAN PER,NAH RE...MEH... KAN AKU!"

Dashhhh!

Sabaku Kyu berhasil dipatahkan, dan semua menatap terkejut akan hal itu. Akan tetapi, semua belum berhenti.

Diudara, Naruto menarik Murasame dan langsung melesat setelah menapak tanah. Gaara tersentak menatap Naruto, dengan tergesa ia menggerakkan tangan dan membentuk sihir kembali.

"Suna Shigure!"

"Killing Fall."

Entah berapa kali lagi semua tatapan dibuat terkejut oleh Naruto. Dalam lesatannya, tubuh pemuda pirang itu seperti menghilang menyisakan bayangan samar yang bergerak teramat cepat. Peluru pasir Gaara mengenai udara kosong, dan pemuda Sabaku itu mengedarkan pandangannya.

Dash!

Tebasan muncul dibelakang Gaara, namun pasir hidup miliknya berhasil menahannya. Gaara berbalik kebelakang, akan tetapi serangan berubah arah dari depan. Semua begitu cepat, para penonton juga Lord Phenex di tribun hanya dapat melihat kemunculan Naruto sesaat sebelum kembali menghilang.

"Kecepatannya... Meningkat drastis?" Ravel memandang tidak percaya ke arena, dimana Naruto tengah menghujani Gaara dengan serangan tiada henti. Di sampingnya, Lord Phenex duduk tenang memperhatikan.

"Dia menggunakan semua sistem saraf secara maksimal, membuatnya dapat memiliki kecepatan yang bahkan dapat melebih kecepatan Knight A-Rank. Aku sudah menduga jika dia memiliki sebuah kartu as, dan kemungkinan dia dapat menang dalam acara ini." Lord Phenex bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Ravel dan memberi elusan pada kepala pirang anaknya. "Aku tidak akan memilihkan seseorang yang buruk untukmu, Ravel."

"A-ayah..."

Raiser yang berada pada podium di atas Arena menatap ke pertarungan serius. Tidak, dia tidak terkejut akan kekuatan Naruto namun... Dia dapat melihat, dalam keunggulan yang ditunjukkan Naruto, masih ada yang belum ditunjukkan oleh Gaara. Dan saat ini, itu membuatnya merasakan firasat buruk.

.x.

Krrrrt

Naruto mundur beberapa meter dari hadapan Gaara, tangannya tetap menggenggam Murasame. Nafas sedikit terengah juga peluh membanjiri wajahnya. Walau Holy Grail terus memulihkan tubuhnya, tetap saja Staminanya akan terus terkuras, dan itu buruk melihat Gaara sama sekali belum menunjukkan gelagat kelelahan.

"Apa yang kau dapat, Murasame?"

Naruto bertanya dengan kembali menyambung [link]

"Pertahanannya memang sangat kuat, aku akui itu. Tapi ada beberapa titik lemah yang dia tunjukkan setelah melihat bagaimana cara dia menggerakkan pasirnya tadi. Lihatlah ke bawah, Goshujin-sama, lihat kebawah kakinya."

Naruto melirik kebawah kaki Gaara, dan tidak melihat apapun... Eh tunggu. Ada yang aneh...

"Tidak ada pasir disana? Apa itu titik lemahnya?"

""Untuk sekarang iya. Karena serangan Goshujin-sama yang terarah pada titik biasa, dia menjadi memfokuskan pasir ke sekeliling tubuh. Jika Goshujin-sama ingin menyerang, disanalah titik lemahnya saat ini. Atau jika bisa, Goshujin-sama dapat memfokuskan semua kekuatan kepada kecepatan, ubah semuanya dan maksimalkan kecepatan yang Goshujin-sama miliki.""

"Menyerang bawah kaki hampir mustahil, selain sulit, aku juga tidak memiliki keterampilan untuk menyerang serendah itu."

""Kalau begitu, pilihan lain. Yaitu melepaskan kecepatan maksimal yang Goshujin-sama miliki. Fokuskan semua [mana] yang Goshujin-sama miliki, sekecil apapun itu akan membantu. Arahkan kekuatan Holy Grail pada peningkatan stamina.""

Kedua kakinya menekuk kebawah. Seperti yang dikatakan Murasame, dia mencoba mengalirkan semua energi yang dia miliki ke segi kecepatan. Sebuah pusaran angin mengitari tubuhnya, membuktikan betapa berpengaruhnya fokus yang Naruto lakukan.

""Tapi, resikonya juga cukup besar. Sebaiknya, Goshujin-sama mengikuti perkataanku agar tubuh Goshujin-sama tidak rusak saat menggunakan kecepatan ini.""

.x.

""Aku tidak percaya kau dapat kewalahan melawan Wizard lemah sepertinya, bocah. Kau membuatku malu.""

Gaara terdiam mendengar ejekan bernada berat yang berkumpul di kepalanya.

""Gunakan kekuatanku, dan segera bunuh dia. Tunjukkan siapa kita sebenarnya.""

Tidak ada tanggapan suara dari Gaara, namun sebagai respon ia kembali menggerakkan kedua tangannya. Wajah Gaara berubah kosong tanpa kehidupan. Disekitarnya, tersembur pasir dalam jumlah terlampau banyak hingga terlihat seperti air bah menjulang tinggi.

"Kau mulai menyebalkan. Suna Shigure."

Peluru pasir kembali dikeluarkan Gaara. Kali ini, dalam jumlah ratusan mengarah lurus ke depan menutup semua ruang gerak.

"Dengan ini, selesai."

"Jangan terlalu yakin."

"Gahh?!"

Naruto menatap lurus tubuh Gaara yang berhasil ia pukul sebelum pasir pelindung aktif.

""Dengan kemampuan Goshujin-sama saat ini, menggunakan pedang hanya akan membuat konsentrasi Goshujin-sama terbelah. Sementara, jangan gunakan aku, tapi gunakan fisik Goshujin-sama untuk memberinya [curse].""

Naruto kembali bergerak, dalam penglihatannya, semua nampak berjalan lambat, bahkan Gaara yang mencoba menggerakkan tangan.

Naruto menangkap sebelah tangan Gaara dan membuat keterkejutan teramat sangat dimata pemuda Sabaku itu.

"Bagaimana, Puaah-"

Tidak memberikan waktu sedikitpun, pukulan lutut Naruto telah mengenai perut seorang Gaara. Air ludah nampak memuncrat saking kuatnya tendangan itu.

"Tunduklah."

Gunnn!

Tanah mencekung kebawah akibat Naruto yang membanting tubuh Gaara. Disekeliling kedua pemuda itu terlihat gerakan pasir yang terhenti di udara setelah sebelumnya akan menyerang Naruto.

"Ohokkk-"

Batuk darah dari Gaara membuat konsentrasi pengendaliannya terbelah. Rintikan hujan pasir mengelilingi keduanya, Gaara yang masih terbaring dengan gentong pasir dibelakangnya sedikit mengalami keretakan hanya dapat terpaku diam. Mengabaikan segala rutukan Shukaku yang memerintahkan untuknya melepas segel. Tapi, bagaimana dia dapat melepas segel? Hampir semua tubuhnya ia rasakan tidak dapat bergerak, hanya bola mata dan bibir saja yang dapat dia gerakkan.

Dia... Sudah kalah.

Terdiam sesaat dengan pukulannya masih bersarang pada gentong Gaara juga sebuah lambang kanji hitam legam yang tercetak di seluruh tubuh Gaara. Naruto perlahan berdiri, memundurkan tubuhnya dengan sedikit sempoyongan sebelum jatuh terduduk bersama muntahan darah yang ia keluarkan.

""Goshujin-sama? Goshujin-sama baik-baik saja?!"" Teriak Murasame dalam mindscape, roh katana itu dapat merasakan jika tuannya tengah dalam keadaan gawat sekarang. ""Tenanglah Goshujin-sama, semua sudah selesai.""

"Aku... Adalah Sabaku Gaara! AKU TIDAK MUNGKIN KALAH DARIMU!"

Sedikit tertatih Naruto berdiri dan berjalan menuju arah musuh. Dia berdiri di hadapan Gaara, hingga pemuda itu dapat melihat kakinya yang tepat di depan wajah. Gaara melirikkan mata ke atas dan memandang Naruto sinis.

"Kau, juga mengalaminya. Aku dapat melihat hal itu lewat tatapan yang kau berikan padaku."

Gaara berkedip tidak mengerti akan arah pembicaraan yang dilontarkan Naruto. Iris jade memandang Naruto yang sedang tersenyum kecil sambil menatap ke arah tribun.

"Kau lihat, para penonton yang bersorak atas kemenanganku?" Naruto bertanya pelan. Mendengar berbagai pujian dan juga sorakan tertuju padanya. Tapi... "Mereka hanya sekumpulan orang munafik, Gaara. Aku mengingat betul bagaimana orang-orang itu begitu meremehkanku tadi."

"Lalu apa masalahnya?! Aku sama sekali tidak peduli akan hal itu!"

Sambil menghela nafasnya, Naruto mulai berjongkok dan mengarahkan tatapan pada Gaara, memandang langsung mata itu dengan iris biru samudra miliknya.

"Aku juga tidak peduli." Tukas Naruto dan menciptakan kernyitan didahi Gaara. "Aku tidak peduli akan pujian, sorakan dan juga pandangan mereka terhadapku setelah ini. Terserah mereka akan menganggapku apa, aku tidak peduli. Aku, peduli terhadap Ravel, dan juga kau."

"Apa maksudmu?"

"Kebencian yang kau bawa, dan kesedihan yang Ravel simpan. Aku ingin kalian melepasnya. Semua hanya racun yang akan membawa kalian dalam kehancuran."

"Apa urusanmu? APA URUSANMU DENGAN HAL ITU?! AKU HIDUP HANYA UNTUK DIRIKU SENDIRI! TIDAK PERLU KAU MENGATAKAN HAL KONYOL SEPERTI ITU KARENA AKU TIDAK AKAN TERPENGARUH."

Naruto menatap Gaara dalam. "Lalu, kenapa kau berteriak?" pertanyaan singkat Naruto membungkam Gaara.

Kenapa dia berteriak? Gaara bahkan tidak tahu kenapa dia bisa seemosi ini.

"Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Ak_Couggt~" Naruto kembali terbatuk darah, tubuhnya serasa mati rasa dan tidak mampu untuk menahan kesadarannya lebih lama lagi. Naruto dapat mendengar Murasame yang berteriak khawatir.

Naruto kembali menggerakkan tangan kanannya, menyentuh kepala Gaara. "Aku melakukan apa yang aku percayai. Dan sekarang, terserah padamu."

Brukkkk!

Kegelapan menelan kesadaran Naruto, membawa pemuda itu tenggelam ke dalam alam bawah sadar. Semua penonton menghentikan sorakan mereka, memandang bingung ke arah Arena dan melihat pertarungan itu...

Raiser mendesah di atas podium sebelum ia menarik nafasnya.

"Pemenangnya... SABAKU GAARA."

Hening.

Tidak ada suara apapun.

Semua tenggelam dalam kebingungan mereka.

Ravel Phenex terdiam tidak percaya, sementara Lord Phenex hanya dapat membuang nafas berat. Diarena Kuzaku, Gaara yang terlepas dari [Curse] Murasame mulai berdiri, memandang kosong tubuh tergeletak Naruto di hadapannya.

"Yang kau percayai? Apa yang kau percayai?"

-Scene Break-

""Bodoh,""

Perkataan itulah yang pertama kali dapat Naruto dengar. Iris birunya perlahan membuka dan memandang kesekeliling. Gelap, itu yang dapat dia katakan, tapi abaikan itu karena tidak terlalu penting.

"Murasame?" Naruto bersuara pendek setelah melihat wajah cemberut roh penghuni pedangnya.

""Hmp!""

Kernyitan muncul di wajah Naruto. Ah, daripada itu dia lebih penasaran akan kejadian yang menimpa setelah duel dengan Gaara tadi. Naruto menghela nafas pendek, matanya kembali berkeliling menyusuri tempat yang bernuansa gelap ini.

"Apa ini tempat dalam fikiranku?" Tanya Naruto dan mengalihkan atensi pada Murasame. Seketika, pemuda itu Sweatdrop saat melihat Murasame memunggunginya dengan duduk disebuah balok-balok hitam yang tersusun sedemikian rupa di tempat tersebut. (Dimensi Kamui)

Naruto mencoba menggerakkan tubuhnya, sedikit merasa aneh karena tubuhnya sama sekali tidak merasakan apapun. Hm, mungkin karena ini tempat yang berbeda maka keadaan tubuhnya juga mungkin akan berbeda, entahlah. Jika tidak begitu, harusnya setelah efek penggunaan kecepatan itu, paling tidak dia tidak dapat bergerakkan?

Gerakan itu... Gerakan yang ia gunakan pada waktu menyerang Gaara. Sebenarnya kekuatan apa itu? Kecepatan yang dia miliki saat itu, benar-benar menakjubkan, bahkan kecepatan Killing Fall tidak ada apa-apanya. Dia yakin, kecepatan yang dia miliki saat itu hampir sama seperti sihir teleportasi milik Minato Uzumaki [Hiraishin]. Tapi, tentu tidak sesimple itu bukan? Pasti akan ada efek samping dari teknik seperti itu..

"Murasame, Apa, terjadi sesuatu denganku?"

Butuh waktu beberapa saat untuk Murasame berhenti dari mode marah miliknya dan memandang Naruto tajam.

"Bodoh!"

Dan Naruto kembali Sweatdrop mendengarnya.

"Goshujin-sama sudah melewati batas yang aku katakan! Jika saja tidak ada aku yang memicu dan mengembalikan Holy Grail ke tahap penyembuhan, maka sudah dipastikan Goshujin-sama akan mati karena kerusakan sel yang parah!" Murasame berkata sambil sesekali menunjuk Naruto, mungkin menunjukkan kekesalannya.

Naruto terdiam. Jujur, dia tidak terlalu terkejut akan dampak yang ditimbulkannya ini, karena walaupun begitu juga teknik yang dia gunakan tadi termasuk teknik kelas tinggi yang bahkan dia yakin tidak ada murid seangkatannya yang dapat mengimbangi skill yang berbasis kecepatan yang baru saja dia gunakan.

""Dan lagi, Kenapa Goshujin-sama menarik [Curse] dari tubuh inang Shukaku itu?!""

Tentang itu...

"Yah, apa boleh buat. Aku berfikir terkadang kekerasan tidak akan menyelesaikan sebuah masalah." Jawab Naruto pelan dan mendudukkan tubuhnya disamping Murasame. Memandang ke atas dengan pandangan berfikir, pemuda itu kembali melanjutkan ucapannya. "Aku yakin. Seorang Sabaku wgaara akan mengerti apa yang aku maksudkan."

Murasame memandang tuannya aneh. Sungguh, fikiran tuannya saat ini sangatlah naif, berbeda dengan tuannya yang dulu dimana semua harus diselesaikan dengan pertarungan. Tapi, mungkin karena sifat naif itulah yang membuat Murasame percaya pada Naruto.

Jika dulu Murasame melihat kehancuran saat bersama sosok tuannya dulu. Dia berharap, akan menemukan sesuatu yang lain pada Naruto. Sesuatu, yang berbeda.

"Dasar Goshujin-sama no baka."

Naruto terkekeh singkat dan menidurkan tubuhnya.

"Hey, Murasame. Berapa lama aku akan tidak sadarkan diri nanti?"

""Dilihat dari kerusakan yang diterima pada beberapa saraf Goshujin-sama, kemungkinan Holy Grail dapat memulihkan tubuh Goshujin-sama selama kurang lebih 3 hari."" Jawab Murasame sambil mengikuti tuannya membaringkan tubuh. Naruto mendengus setelah mendengar ucapan Murasame. 3 hari, kemungkinan menepati janji pada Kaguya dan Yuzuru untuk kembali pada mereka setelah acara kenaikan tingkat memang harus ditunda.

""Beristirahatlah Goshujin-sama.""

Ya. Murasame benar. Saat ini, dia hanya perlu menunggu untuk tubuhnya memulihkan diri.

.x.

Sementara di ruang khusus pemulihan milik klan Phenex, terlihat tubuh Naruto yang terbaring lemah dengan nafas bergerak teratur. Disamping kasurnya sendiri duduk sosok Ravel Phenex yang menatap tubuhnya sendu. Iris kebiruan itu beralih ke bagian tubuh Naruto yang terlihat kurang lengkap.

Saat melihat pemuda itu dibawa ke ruang pemulihan, dia sangat terkejut melihat kenyataan jika ada sebuah kecacatan pada tubuh Naruto. Salah satu tangan dari pemuda itu menghilang. Mungkin itu jugalah yang membuat Naruto terus memakai kain hitamnya, pemuda itu tidak ingin dipandang sebagai orang cacat.

Tapi, itu juga membuktikan bagaimana Naruto telah menjalani kehidupannya. Bahkan dengan keadaannya itu, Naruto masih mampu mendesak dan mengalahkan sosok yang dianggap sebagai wizard terkuat dari klan Sabaku.

Ravel juga tidak menyangka Naruto dapat menggunakan sebuah [Curse]. Magic tingkat tinggi yang hanya dapat digunakan oleh wizard berpengalaman. Tapi, mengapa Naruto melepas [Curse] pada Gaara, itu belum diketahui oleh Ravel. Kemungkinan jika hal itu adalah ketidakmampuan Naruto dalam mempertahankan [curse, atau mungkin kesengajaan Naruto untuk melepaskannya.

Namun untuk apa? Untuk apa Naruto mengalah jika memang harusnya dia bisa menang? Dan, sekaligus melepaskan belenggu ikatan klan yang menjeratnya?

Egois memang. Namun, apakah dia tidak dapat sedikit berharap?

"Ugh~."

Gumanan Naruto membuyarkan lamunan Ravel. Perempuan berdarah Phenex itu memandang wajah Naruto yang terlihat gelisah. Ravel bertindak dengan mengusap surai pirang Naruto, dan entah mengapa itu berhasil sedikit menenangkan dan menghilangkan kerutan di wajah Naruto. Ravel tersenyum melihat hal itu, mendekatkan wajahnya, sebuah kecupan kecil ia berikan pada pipi pemuda yang telah berusaha membantunya.

"Beristirahatlah, Naruto-san." Bisik Ravel lalu berjalan pergi meninggalkan Naruto. Keluar ruangan pemulihan, Ravel dikejutkan oleh sosok Gaara yang menatap kedatangannya datar.

"K-kau?"

"Bagaimana keadaannya?"

Ravel terdiam dalam kebingungan. Didalam kepalanya sendiri tengah berputar pertanyaan-mengapa dia disini?- Tidak aneh jika dia berfikiran seperti itu. Dan lagi pemuda itu juga menanyakan keadaan seseorang? Apa Naruto?

Gaara memandang raut wajah cengo perempuan di hadapannya datar.

"Aku menanyakan keadaan lawanku."

Ucap singkat Gaara dan mendapatkan respon cepat dari putri Lord Phenex.

"Di-dia dalam keadaan baik."

Setelah keluar jawaban itu, semua membungkan mulut masing-masing tanpa ada satupun yang berniat membuka suara. Ravel yang agak merasa canggung sedikit meremat gaun yang dia kenakan.

Benar juga, berhubung pemuda yang akan menikahinya disini, Ravel akan mencoba berbicara dengannya untuk menolak perjodohan itu.

"Sabaku-san... Aku ingin berbicara padamu."

Pandangan serius milik Ravel memicu tatapan tajam Gaara terarah padanya. Sekian detik tanpa jawaban, Gaara hanya melengos pergi begitu saja. Dalam 5 langkahnya, pemuda pemilik Beast rank-s kembali menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik, bibir itu bergerak mengucapkan beberapa kata.

"Aku membatalkan pertunangan kita. Ketua klan Phenex dan Lord Phenex juga telah mengetahui tentang hal ini.."

Pandangan Ravel membola, dia tidak dapat bergeming dari tempatnya berdiri saat ini dan hanya mampu memandang punggung Gaara yang mulai menjauh.

"Yang dia katakan memang benar, dia sudah membatalkan pertunangan denganmu."

Ravel mengalihkan arah matanya, kembali dia dapat melihat sosok tidak asing menyapa matanya.

"Onii-sama."

Raiser Phenex mendesah pelan dan beralih melihat Naruto dari kaca yang terpasang di pintu masuk ruang pemulihan. Dia tidak terlalu tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi, tapi dari yang dia dengar dari ayahnya bahwa bocah Sabaku itu telah membatalkan acara tunangan yang akan berlangsung minggu depan.

Ayahnya juga bilang jika awalnya para tetua mengecam keputusan sepihak yang dilakukan oleh Gaara dan mengancam akan mengadukan hal ini pada tetua Sabaku. Akan tetapi, berkat ketenangan Gaara yang mengatakan jika sebenarnya dia telah kalah membuat para tetua sedikit mereda. Apalagi Gaara juga mengatakan Naruto merupakan pemegang salah satu senjata kerajaan yang memiliki kekuatan [curse] hebat.

Raiser sebenarnya juga kurang yakin akan hal itu.

'Sebuah senjata milik klan Sarutobi dari kerajaan pusat. Murasame.'

Sebenarnya seberapa hebat senjata milik Naruto sampai bahkan para tetua pun tunduk akan permintaan Gaara?

"Onii-sama?"

Raiser sedikit tersentak dan langsung menatap adiknya. Raiser tersenyum kecil. Mengusap kepala pirang Ravel penuh kasih sayang.

"Tidak perlu risau. Sekarang, semua akan baik-baik saja."

"Onii-sama..."

"Baiklah, sebaiknya kau temani saja si rambut kuning itu. Aku akan membicarakan beberapa hal dengan ayah."

Melihat kepergian Raiser diam, Ravel menarik senyum kecil dari bibirnya. Akhirnya.. Semua selesai, dia bebas sekarang dan itu berkat Naruto.

"Yokatta~"

Mask

Berjalan ditengah ibukota kerajaan, terlihat 2 pria yang memiliki ciri fisik berbeda sedang melakukan obrolan ringan. Sesekali mereka tersenyum kecil menyapa penduduk yang menyapa.

"Jadi,?" Ungkapan bertanya dilayangkan sosok pria berambut nyeleneh berwarna pirang pada sisi depan dan hitam pada sisi belakang. Mata sewarna dengan rambut depannya itu melirik rekan disampingnya yang menunjukkan seringai aneh di wajah pucatnya.

"Hampir berhasil. Aku hanya perlu seseorang untuk menerima hasil penelitianku." Suara berat pria itu menjawab pertanyaan pria lain.

Azazel dan Orochimaru. Mereka berdua terkenal sebagai wizard Rank-s yang meneliti dan mengembangkan senjata-senjata kerajaan, Biologis maupun non-biologis. Salah satu benda paling terkenal hasil dari dua ilmuan jenius ini adalah permata yang diisi Beast Rank-S bernama Fafnir. Sosok naga berelemen Api dan Tanah yang konon dapat mengimbangi dua Senjata Tuhan yang memiliki Titisan Jiwa Naga surga.

Dan hari ini, mereka ada di kerajaan karena undangan dari Tsunade, salah satu teman lama mereka., dalam rangka menghadiri acara rutin setiap tahun di sekolah itu. Tidak hanya itu, kedatangan mereka kesini sebenarnya juga ingin menguji senjata baru mereka.

Azazel tersenyum kecil dan sedikit tertawa sambil merangkul patnernya.

"Maa... Maa., tidak perlu terburu-buru, kan? Lagipula si tua Danzo itu juga pasti mempertimbangkan permintaanmu."

"Fufufu~Itu pasti. Karena dia tidak akan bisa menolakku setelah dia menerima Transplantasi mata itu dariku."

"Haha, kau memang benar."

Candaan mereka seketika terhenti. Saling pandang satu sama lain sebelum terkekeh melihat dua wizard dari divisi yang dipimpim oleh kawan mereka menghampiri.

"Maa~Seperti biasa, Danzo memang cepat tanggap jika mengetahui kita ada disini."

"Azazel-Sama, Orochimaru-sama. Selamat datang kembali di kerajaan pusat. Tuan Danzo telah menunggu anda di menara Divisi Pengintai."

"Maa, baiklah."

Jawaban itu mengakhiri perbincangan antara Azazel dan anak buah dari Danzo. Segera setelah itu, anggota Divisi Pengintai membungkuk sopan dan menghilang melewati sihir teleportasi.

Azazel menghela nafas sejenak. Sial, dia baru ingat sekarang.

"Kau duluan saja, Ular. Aku akan menemui salah satu temanku."

"Oh. Maksudmu si Priest tampan itu?"

Benarkah, Azazel baru mendengar nada menjijikkan yang dikeluarkan temannya itu?

"Cih. Berhentilah berlebihan dalammemuji seseorang. Kadang itu membuatku ngeri mengingat kalian itu memiliki jenis senjata yang sama."

Sedikit terkekeh kecil, dan sungguh itu membuat Azazel takut.

"Sialan! Berhentilah tertawa seperti itu! Kau terdengar seperti kadal san*e!"

"Khukhukhu~baiklah. Sampai jumpa di menara nanti."

Azazel mendecih. Berbelok arah dan menyusuri jalan ke pusat ibu kota. Jika diingat kembali, Azazel sudah cukup lama tidak kemari. Hm,. Sekitar 5 tahunan mungkin. Terakhir kali dia kemari adalah ketika dia mengambil salah satu murid di Sekolah kerajaan untuk dia latih. Sejak saat itu, dia belum pernah datang kembali kemari, bahkan ketika Danzo mengundangnya untuk menghadiri acara khusus lima tahunan yang diadakan di ibukota.

Hm... Jika tidak salah, acara itu adalah kegiatan yang dibuat pihak kerajaan dalam rangka mencari calon prajurit paling potensial untuk menerima senjata kerajaan. Mereka juga akan melatih para calon prajurit untuk menguasai senjata itu. Tapi, kelihatannya tidak berhasil karena kebanyakan dari senjata itu menolak saat akan digabungkan.

Yah, tapi apapun itu, Azazel tidak terlalu peduli. Dia lebih suka meneliti Senjata Tuhan daripada Senjata Kerajaan.

Saat berjalan ditengah keramaian ini, Azazel dapat melihat beberapa perubahan yang cukup banyak terjadi. Mulai dari toko yang semakin banyak juga bangunannya yang menjadi lebih megah. Tempat-tempat bermain seperti mini-game melempar bola, menangkap ikan dan lainnya yang dulu dia ingat hal itu tidak terlalu banyak diminati. Namun sekarang, agaknya hal tersebut telah berubah karena kebanyakan dari anak-anak menyukainya. Bahkan... Sepasang kekasih?

'Dasar kere. Kencan kok mainan ikan? Dimana urat malu kalian?'

Ungkapan merendahan itu hanya tertanam dihatinya. Tapi, sebenarnya hal yang paling mendasar adalah...

... Azazel yang iri karena belum memiliki pasangan.

'Chikuso!'

Umur yang sudah sangat matang, hampir busuk malah. 39 tahun adalah usia yang mana harusnya pria itu telah memiliki anak, atau mungkin cucu?

Wajah Azazel sendiri cukup tampan jika dilihat dari dekat, apalagi postur tubuh tinggi tegap pria itu semakin membuat dirinya menjadi -Hot- dimata para gadis. Tapi sayang, penampilan itu tidak selamanya mencerminkan sifat dari seseorang.

Bila hanya mengenal sekilas. Semua pasti akan mengatakan jika Azazel adalah pria baik dengan ketampanan di atas normal. Tapi dibalik itu, tersimpan aib-tepatnya sifat Azazel yang teramat sangat-sangat mesum!

Pengila Oppai tingkat Max!

Itu adalah jawaban dari orang yang mengenal baik Azazel. Dalam setiap kesempatan, pria itu pasti akan menyempatkan mampir ke pemandian air panas. Bukan untuk menyegarkan badan, melain menyegarkan matanya. Hmm..Tahulah maksudnya.

Sebab dari itulah banyak para wanita yang dikejar Azazel akan selalu menghindar setelah mengenalnya lebih jauh. Yeah... Masa bodohlah.

Kenyitan di wajah Azazel muncul ketika iris matanya melihat siulet seseorang yang sedang membeli bunga di toko kecil. Kedua mata itu lantas membelalak terkejut setelah dia ingat betul siapa yang tengah dia pandang.

"Kau?!"

"Ha-hah? A-Azazel-san?"

-Cut-

Hmmm... Pertama kali Kitsu membaca ulang chapter ini, rasanya seperti ada yang kurang. Lalu, Kitsu baca ulang... Dan Kitsu malah bingung sendiri karena tidak tahu letak kesalahan yang mengganjal ini.

Dan setelah baca keempat kali DAN masih tidak menemukan hal yang ngeganjel tadi, akhirnya Kitsu putuskan untuk up. Meski agak sanksi jika ini akan sesuai harapan.

Dan juga, sedikit ingatan saja untuk para Reviewer yang cuma ngetik 'Lanjut' 'next' atau apalah itu. Sebaiknya hentikan saja, sungguh hal itu hanya akan membuat saya Down. Bukan apa-apa, Kitsu ini hanya penulis 'tanpa' bayaran yang cuma mengharapkan Readers terhibur dengan tulisan Kitsu. Dan untuk akun...

Kids No Terror (Cmiiw), saya sudah memPM kamu. Sebaiknya jika kamu hanya mengotori kolom Review dengan tulisan 'UP', lebih bagus anda menghentikan hal itu.

Mungkin, ada yang berfikir. "Songong amat, udah untung saya mau menulis komentar."

Saya tidak menyalahkan jika ada yang berfikiran seperti itu. Terserah kalian mau berfikir seperti apa, Kitsu tidak menyalahkan. Tapi, tolong dengan sangat. jika tidak ingin menyemangati atau memberikan kritik atau saran, lebih baik tidak REVIEW.

Sekarang kita beralih ke inti chapter ini. Naruto yang terlihat sangat kuat? Tidak yah, Naruto belum sekuat itu. Lagipula lawannya adalah pemilik Beast Rank-s yang merupakan Wizard Terkuat di klan Sabaku. Kitsu memperlihatkan hal itu jelas setelah Naruto mengerahkan semua kekuatan yang dia miliki.

Menyinggung kekuatan. Seperti yang diketahui pada chapter ini, Naruto memiliki kecepatan yang hampir menyamai Thunder Step (Hiraishin) Milik ayahnya, mungkin, teknik ini sekelas dengan Shunshin milik Shisui. Berterima kasihlah pada Holy Grail, karena cawan itu tidak hanya memberikan kesembuhan, melainkan juga kekuatan. Tapi, tetap saja resiko akan selalu ada disetiap munculnya teknik yang hebat.

Muuu~Dan dari chapter ini, petualangan baru Naruto akan dimulai. Ehhh~Sedikit berita gembira saja..

TANGAN NARUTO AKAN KEMBALI!

Huraa!!!

Tepok tangan dong, Tehe~

Tentang tangan itu, sepertinya Readers semua mengerti akan kedatangan Azazel dan Orochimaru??? Ufufufu...

Wait! Stop dulu ah, takut kebanyakan Spoiler nih,

Kitsu-Out