Tiga hari berlalu begitu saja tanpa terasa. Pagi ini, akhirnya Naruto terbangun setelah kondisinya pulih sempurna. Terima kasih pada kekuatan penyembuh Holy Grail dan juga Murasame, jika dia tidak memiliki dua kekuatan itu, mustahil Naruto akan dapat sembuh secepat ini.
Semenjak tiga hari itu juga Naruto tidak tahu apa yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri. Jadi...
"Haaa?!"
Teriakan keras menggema di tempat menyerupai ruang rapat yang menghadirkan Lord Phenex, Raiser dan juga Ravel yang duduk bersimpuh pada lantai kayu. Sementara Naruto yang memasang raut wajah bodoh itu menatap mata biru Ravel.
Cewek kampret ini...
"Apa-apaan ini? Ikut denganku?"
"Ya, Naruto-san. Karena Gaara telah membatalkan pertunangan dengan Ravel, maka sebagai penggantinya kaulah yang harus menikahinya."
Tunggu! Perjanjiannya tidak seperti itu, kan? Lagipula mana bisa dia menikah dengan Ravel? Oh, Kami-sama!
"Mau tidak mau kau harus menikah dengan Ravel, atau paling tidak kau harus membawa Ravel pergi bersamamu."
Naruto beralih pada Raiser yang baru saja mengeluarkan suara. Si ayam kate ini, seenaknya saja memberi pilihan yang aneh seperti itu. Menikah atau membawa pergi Ravel? Pilihan konyol macam apa itu?!
Naruto menarik nafasnya tenang.
"Aku hanya berjanji menyelamatkan Ravel dan membantumu untuk memberi kebahagiaan pada Ravel. Tapi tidak untuk menikah, kan?"
Sesuai perjanjian memang harusnya itulah yang terjadi. Bukan tentang penikahan atau apa. Namun, rupanya Lord Phenex punya pemikiran lain, pria paruh baya itu menarik nafas dan menatap putrinya yang hanya menunduk dalam.
"Tapi masalahnya, Ravel ingin pergi ke kerajaan pusat bersamamu."
Naruto memasang wajah malas pada Ravel, dan perempuan itu semakin salah tingkah ketika pandangannya bertemu dengan Naruto.
Perempuan ini benar-benar...
"Tenang saja. Soal biaya hidup aku akan menanggung semuanya, lagipula dengan nama keluarga Phenex, Ravel tentu sudah terjamin kehidupannya. Aku hanya meminta padamu untuk membawanya ke kerajaan pusat, karena jika dia tetap berada disini, pasti akan menimbulkan kericuhan tentang Ravel yang melanggar Tradisi klan."
Naruto terdiam sesaat mencoba kembali mempertimbangkan permohonan ketua klan Phenex itu. Jika hanya membawa Ravel ke kerajaan, sepertinya tidak masalah. Lagipula dia juga tidak dirugikan akan hal ini.
"Baiklah jika memang aku hanya harus membawa Ravel ke kerajaan pusat, kurasa itu tidak masalah."
Jawaban itu yang Lord Phenex harapkan.
"Terima kasih. Aku akan menyiapkan perlengkapannya."
Naruto tidak membalas perkataan Lord Phenex, pemuda itu hanya menatap kepergian Lord Phenex dalam diam dan beralih setelah melihat ayah Ravel tadi telah meninggalkan ruangan bersama Raiser. Keadaan semakin hening dengan Ravel yang tidak tahu harus mengatakan apa. Melihat itu, Naruto mendesah pelan.
"Ya ampun..."
.x.
Mask
Story By Kitsu-chan.
Pairing : ?
.x.
Chapter 10
Kembali ke kerajaan pusat.
"Aku lelah, bisakah kita beristirahat dulu?"
"Sebentar lagi kita sampai, hanya harus melewati hutan ini dan kita akan mencapai gerbang Kerajaan."
Perempuan bersurai pirang itu membuang nafasnya. Bila diingat hampir seharian mereka berjalan menuju tujuan mereka, kerajaan pusat. Wajar jika dia mengeluhkan hal tersebut pada pemuda yang berjalan di depannya dengan tas ransel besar yang berisi barang bawaannya.
Jangan salahkan dia! Sebelum berangkat ayahnya juga akan mengikut sertakan pengawal dan juga kuda untuk dirinya. Tapi karena Naruto menolak dan mengatakan jika hal itu terlalu merepotkan, maka ayahnya juga tidak ada pilihan lain. Sebagai gantinya, Naruto bersedia membawakan semua barangnya. Jadi jelaskan, itu bukan kesalahan dia?
"Aku yang dari tadi membawa barangmu saja tidak mengeluh, dan kau yang hanya berjalan biasa mengeluhkan kelelahan?"
Twitch!
"B-baka! Jika bukan karena kau juga, kita tidak akan kelelahan seperti ini, tahu!"
"Ya, ya, ya.. Kau dan sifat bangsawanmu."
Ravel merengut kesal, menyipitkan kedua matanya menatap punggung Naruto. Pemuda ini, benar-benar menyebalkan!
"Harusnya memang seperti itu, kan? Sebenarnya kau adalah calon suamiku, dan harusnya kau juga wajib membawakan semua barangku, seperti itu. Dan lagi, aku memang anak bangsawan, jadi wajar jika aku meminta perlakuan khusus!"
"Perlakuan khusus, hm. Itu kata yang sangat ambigu bagiku, H..I..M..E."
Mata Ravel berkedip-kedip lucu, wajahnya pun berkerut mencerna ucapan Naruto barusan. Ravel sendiri semakin tidak mengerti ketika Naruto mulai terkekeh aneh.
"Apa kau mau aku menggendongmu juga? Atau, kau ingin aku membelaimu sebagai perlakuan khusus?"
Blush!
Wajah Ravel memerah sempurna. Bahkan dia yakin wajahnya terlihat sangat memalukan sekarang.
"B-b-b-b-baka! Bukan itu maksudku!"
"Hoooh? Lalu, apa aku harus menciummu? Atau apa? Ah, aku berfikir untuk benar-benar menghamilimu seperti yang kubilang tempo hari."
Wajah Ravel berubah horror seketika.
"Me-menghamili? Me-meng-menghamili?!"
"Tidak. Hanya bercanda, kau juga bukan perempuan idamanku."
Jika ada yang tahu bagaimana rasa kesal yang merasuk ke dalam diri dan membuat kita ingin memukul seseorang sesegera mungkin, maka seperti itulah yang dirasakan Ravel sekarang. Ucapan frontal Naruto benar-benar membuat Ravel kesal, sangat kesal!
"Lagipula, walau umurmu sudah 16 tahun, tapi tubuhmu tidak menggoda sama sekali."
Bang!
Seperti itulah suara tembakan yang membuat Ravel shok setengah mati.
"Dada rata dan tubuh pendek. Khh, mereka akan menyebutku Lolicon jika berhubungan denganmu. Dan itu, akan menjadi akhir memalukan untukku."
"Hoy, sebab apa kau dipanggil lolicon jika berhubungan denganku?"
Pertanyaan bernada gelap dapat Naruto dengar agak jauh dibelakangnya. Itu membuatnya sedikit tersenyum menyeringai. Kapan lagi dia bisa melepas penat dengan menggoda habis seorang perempuan? Apalagi seorang anak bangsawan seperti Ravel. Khukhukhu...
Sedikit senyum tanpa dosa tercetak. Di mata biru itu, Ravel dengan tampang suram melihat sebuah cahaya jahil yang mengarah padanya.
"Ya karena kau pendek!"
"Dasar kau!!!!!!!!!"
Perjalanan itu setidaknya menjadi sedikit berwarna. Pertengkaran-pertengkaran kecil yang membuat mereka saling mengerti satu sama lain.
.Scene Break.
Penelitian Ilmu Gaib. Nama sebuah pelajaran ekstra di sekolahan. Meski itu merupakan pelajaran ekstra, namun anggota yang mengikutinya terlampau sedikit. Mungkin karena tidak ada yang tertarik dengan kegiatan klub itu atau ada hal lain. Sejauh ini, hanya empat orang Wizard dan Knight yang menjadi anggota, dan menjadi 6 setelah beberapa hari lalu ke datangan dua wizard kembar.
Ruangan klub juga dibuat khusus, gedung di sudut sekolahan yang diberikan pada ketua klub. Tempat yang luas sebenarnya, terdiri dari empat ruangan utama yang sebelumnya hanya ada 2.
Pada salah satu ruangan yang digunakan untuk para anggota klub yang ingin bersantai, duduk seorang Akeno yang sedang menyesap teh hangatnya. Di sudut lain, juga ada seorang lelaki bersurai putih yang membaca buku tebal. Violet Akeno sedikit berputar lelah, merutuki anggota klub yang hobi membaca di depannya. Jika dia lihat, pemuda itu telah membaca buku tanpa bersuara selama 4 jam, kurang lebih. Apa mata pemuda itu tidak lelah atau bagaimana sih?
"Vali-san. Apa kau tidak lelah membaca buku itu seharian? Aku saja lelah melihatmu membaca terus menerus,"
Akeno bersuara sambil menyesap tehnya. Respon berupa gumanan didapat perempuan itu.
"Selama aku belum mendapatkan sesuatu yang kucari, aku tidak akan pernah berhenti. Kau tahu." Balas wizard itu dengan sedikit melirik Akeno.
"Memang apa yang kau cari?"
Akeno bertanya heran. Cukup aneh melihat seorang Vali mencari sesuatu sampai seserius itu. Hampir setiap hari yang dia temukan adalah Vali si kutu buku yang akan menggunakan waktunya untuk membaca buku-walau saat ini dia juga sedang membaca buku tapi, mendengar jika wizard muda itu sedang mencari sesuatu maka dia cukup heran.
"Tidak biasanya kau mencari informasi dari buku. Yang ku tahu kau hanya suka membaca fiksi saja."
"Ini berbeda. Selama beberapa hari aku bertanya pada beberapa wizard maupun guru tentang hal ini, tapi tidak ada yang tahu tentangnya."
"Maka aku bertanya, apa yang kau cari." Ulang Akeno dan kembali menyesap teh hangat miliknya.
"Keberadaan dari pedang iblis, Gram dan juga pedang cahaya, Excaliburn."
Alis Akeno terangkat tertarik. Dua pedang yang disebutkan oleh Vali bukanlah pedang sembarangan, itu adalah dua etinitas yang sangat dicari di dunia ini. Semua tidak luput karena kekuatan hebat yang dibawa dua pedang itu.
Ex-caliburn yang ditulis memiliki kekuatan magis besar. Kekerasan tiada tandang bahkan melebihi material Adamantium yang digadang adalah material terkeras di dunia. Bahkan, diceritakan juga siapapun yang membawa Ex-caliburn bersama sarungnya ke medan tempur, maka tidak akan ada darah menetes dari tubuhnya. Meski begitu hebat, tentu saja seseorang yang membawanya juga harus bisa menampung kekuatan itu.
Berbeda dengan Ex-caliburn, pedang iblis Gram memiliki kekuatan lain. Space-time magic, begitu cerita yang beredar mengenai pedang ini. Dapat membuka sebuah ruang waktu, atau dapat disebut dimensi, dapat memotong waktu musuh dan juga memiliki tingkat level di atas Rank-A. Sebuah benda yang tidak mungkin dimilik murid seperti Akeno. Tapi mungkin pengecualian untuk Vali. Selain kuat karena memiliki banyak varian sihir, Vali juga memiliki kemampuan dalam hal persenjataan.
Srupppp
Akeno mengambil nafas setelah kembali menyesap teh. "Kurasa jika kau mencari dua senjata itu, sangatlah mustahil."
"Itu juga berlaku untuk Holy Grail. Keberadaan benda itu juga sangat tidak mungkin ditemukan untuk wizard sekelasmu dan Hyoudou Issei. Tapi, kalian juga mendapatkannya kan?" Sahut Vali tenang dan kembali membuka lembaran selanjutnya. "Lalu, kemana knight yang kau katakan akan kemari itu? Kau bilang dia akan datang kemari setelah acara kenaikan tingkat, kan? Ini sudah hampir 3 hari setelah acara itu, dan kulihat tidak ada knight yang kemari." Sambungnya tanpa memandang Akeno.
Ah, mengenai itu Akeno juga bingung harus mengatakan apa. Yang dikatakan Naruto sebelum ini adalah dimana pemuda itu berjanji akan kembali setelah Ujian dilaksanakan, tapi nyatanya sampai sekarang Naruto belum juga menampakkan diri. Akeno berfikir mungkin saja ada halangan yang menyebabkan pemuda itu terlambat, lagipula jika dihitung, perjalan dari ibu kota ke Britain hanya memerlukan waktu 3 hari, itupun paling lama.
"Aku juga tidak tahu, sampai sekarang ini dia juga belum menampakkan diri."
"Kemungkinan kau ditipu. Mana ada seseorang yang mau diteliti kekuatannya dengan sukarela? Hanya orang bodoh yang menerima itu."
Ucapan Vali memang ada benarnya. Namun, dengan keberadaan Yuzuru dan juga Kaguya yang katanya telah menjalin kontrak dengan Naruto, bukankah itu sudah cukup untuk Naruto menepati janjinya? Tapi Tidak heran juga jika Vali mengatakan hal itu, karena dia juga tidak memberitahukan apapun pada Vali.
"Dan tentang dua roh yang kau bawa itu, siapa sebenarnya mereka?"
Eh?! Darimana Vali tahu?!
"T-t-t-tunggu! Darimana kau tahu?!"
"Dari responmu." Vali tersenyum licik menanggapi wajah cengo Akeno, dia menutup bukunya dan lantas memandang lekat perempuan itu. "Jadi, apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"
Ah-begitu rupanya. Akeno termakan jebakan Vali, dan secara tidak langsung juga membeberkan identitas Yamai bersaudara itu, khh-seperti yang dia tahu_otak wizard ini memang sangat licik.
"Dasar kau Vali." Akeno tersenyum sebelum kembali melanjutkan. "~sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini secara sepihak dan menunggu Naruto-kun datang. Tapi, mengingat kekerasan kepalamu, apa boleh buat."
"Lalu?"
Akeno membuang nafasnya dengan mata terpejam. "Dua roh itu sebenarnya adalah roh yang telah menjalin kontrak dengan Naruto-kun." Ujar Akeno membuka matanya, lalu ia menatap Vali sejenak. "Awalnya, seperti yang kuceritakan sebelumnya, kami tidak sengaja bertemu di Britain dan setuju untuk mencari Holy Grail bersama. Mereka menghalangi kami ketika akan mengambil Holy Grail. Oh, dan mungkin kau tahu roh bernama Yamai?"
Vali mengangguk sebagai jawaban. "Ya.. Roh yang mendapat gelar Dewa Badai karena dapat mengendalikan Petir dan juga Angin dengan sangat ahli."-Tapi, Vali juga sedikit tidak mengerti kenapa Akeno menambahkan dewa itu ke dalam pembicaraan. Atau, mungkinkah, "roh itulah yang menjaga Holi Grail?"
Akeno mengangguk kecil. "Benar. Dan Yuzuru juga Kaguya itu adalah anaknya."
Oke... Vali semakin tidak mengerti sekarang. Lalu, walau Yuzuru dan Kaguya adalah anak Yamai, apa hubungannya menjalin kontrak dengan si Naruto itu?
"Aku tidak tahu kenapa dua roh itu menjalin kontrak dengan Naruto, juga tentang bagaimana Naruto mengalahkan Yamai, dia tidak mengatakan apapun."
Vali menyentuh dagunya, wajah ikemen itu berkerut dalam berfikir.
"Naruto itu, bukankah dia Knight tingkat satu? Yang menurut rumor, dia adalah calon terburuk sepanjang sejarah."
"Ya, itu memang dia. Tapi, aku juga tidak yakin jika rumor itu benar. Bahkan, yang aku lihat dia memiliki kemampuan yang cukup untuk berada di tingkat 4 atau 5, belum lagi fakta jika dia berhasil mengalahkan Yamai dan mendapatkan Holy Grail." ujar Akeno menerawang. Dia sendiri cukup kagum dengan Naruto, bagaimana pemuda itu menyembunyikan kekuatannya dan bertingkah sebagai murid lemah yang bahkan dilabeli sebagai yang terburuk?
Sementara disisi Vali. Tertawa kecil setelah mendengar ucapan Akeno, Vali mengacak surai peraknya gemas. "Menarik. Sangat menarik. Aku ingin menemuinya segera dan mencoba seberapa menariknya dia. Darahku sampai berdesir karena senangnya."
Menatap penuh curiga pada Vali, itu yang dilakukan Akeno. Dari ucapan pemuda itu, Akeno tahu apa yang ada di otak si maniak itu.
"Jangan bilang, kau mau bertarung dengannya, Vali." Selidik Akeno dengan pandangan menyipit.
"Tentu, tentu. Apalagi kalau bukan itu."
Tidak heran dan juga Akeno tidak perlu terkejut akan jawaban Vali. Dia cukup mengenal pemuda itu, luar maupun dalam. Walaupun terlihat tenang, Vali merupakan wizard dengan nafsu bertarung tinggi. Meskipun Akeno juga tahu jika pemuda itu hanya akan menantang seseorang yang sudah membuat Vali merasa penasaran, tapi-tetap saja jika dibiarkan maka...
"Kau akan berlebihan, aku tidak mengijinkan." Terakhir Akeno lihat Vali menantang seseorang adalah sekitar 2 tahun lalu, dimana pemuda perak itu menantang Issei Hyoudou yang pertama kali bergabung dengan Klub Ilmu Gaib. Semua berakhir buruk jika kalian bertanya. Karena apa? Tentu saja karena-
"Kau tidak dapat mencegahku, lagipula aku juga ingin melihat kekuatan dari Holy Grail." Vali menaikkan alis angkuh. Bibirnya melengkung ke atas tersenyum.
Gawat!!!-Akeno memekik dalam hatinya setelah melihat senyum tipis dari seorang Vali. Itu hal yang sangat gawat, bahkan Akeno ingat berapa kali Vali tersenyum seperti itu!!!!
"Vali, kau..."
Brakkkk!!!
"Akeno-chan!"
"He?"
Dua pasang mata mengarahkan pandangan secara reflek. Menatap langsung seorang Hyoudou Issei yang membuka pintu klub spontan.
"Kadal merah, bisakah kau membuka pintu dengan lebih tenang?" Ujar Vali stoic dan menatap datar pada Issei.
"K-kau! Kubilang hentikan sebutan itu padaku, dasar penggila pantat!"
Twich!
Urat muncul di dahi Vali sebagai ekspresi kekesalannya. Akeno mendesah pelan, mau bagaimanapun kedua makluk ini memang tidak dapat akur. "Hah~" Akeno membuka kelopak matanya, memandang Issei sebelum membuka suaranya. "Jadi, ada apa Issei?"
Mengubah kembali raut wajahnya lebih serius, dan itu membuat alis Akeno terangkat naik. Apa yang membuat Issei jadi sepanik ini? Pertanyaan itu akan terucap, akan tetapi Issei terlebih dahulu memotong ucapannya.
"Yuzuru-san dan Kaguya-san, mereka-"
.x.
Adalah hal wajar bagi Naruto merasa senang dengan pulang kembali ke kerajaan ini. Jika dihitung pun, agaknya dia tidak terlalu lama juga pergi keluar daerah kerajaan, mungkin sekitar dua minggu? Dia pun juga tidak tahu berapa hari tepatnya dia pergi.
"Hah,"
Dan juga, dengan meninggalkan ujian kenaikan tingkat begitu saja, agaknya itu akan menjadi akhir baginya bersekolah disana. Ah, tapi ya sudahlah, mau dikata apapun dia juga yang salah. Dan lagi, bukankah dengan begitu dia jadi tidak harus membuat alasan untuk keluar darisana?
"Lalu apa yang harus aku lakukan setelah ini?"
Naruto bertanya pelan. Dia sendiri tidak tahu harus kemana terlebih dahulu. Mungkin, ke sekolah kerajaan terlebih dahulu? Atau, ke Gereja tempat Michael berada dan berterima kasih pada Priest itu? Dan lagi, dia juga yakin jika Irina berada disana, sekalian bertemua sahabatnya itu juga tidak buruk. Tapi, dia juga harus menemui si kembar Yamai, Naruto sudah berjanji pada mereka.
Tunggu!
Dia lupa akan hal itu!
"Oh, oh.. Ini gawat! Gawat! Kaguya dan Yuzuru pasti marah sekarang!" Kekhawatiran menimpa Naruto, bulu roma pemuda itu bergidik ngeri membayangkan dua pasang mata si kembar Yamai yang memandangnya tajam. "Uh... Aku juga hampir lupa." Naruto sendiri melirik kebelakang, mendapati Ravel yang sedang mengagumi keramaian ibu kota kerajaan.
"Oy, oy. Kau seperti tidak pernah melihat kota saja."
Ravel sedikit tersentak kaget, beralih pada Naruto lantas mengalihkan pandangan ke arah lain sedikit kesal. "M-mau bagaimana lagi, i-ini juga pertama kalinya aku ke tempat ramai seperti ini dengan bebas."
"Hm... Apa maksudmu dengan 'bebas'?" Tanya Naruto tidak paham akan ucapan Ravel.
"Y-ya, kau tahu sendiri aku adalah putri dari ketua klan Phenex, jadi aku tidak dapat keluar wilayah seenaknya."
Naruto ber-oh-ria. Harusnya dia juga tahu akan itu, mengingat dia juga pernah berurusan dengan klan itu. Naruto menghela nafas singkat, kembali menoleh kebelakang. Tatapan kesal yang mengarah pada hal lain, namun Naruto juga tahu jika itu tidak serius. "Itu wajar sih, kau anak bangsawan juga."
"K-kau! Memang menyeb-"
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat, yah, setelah menitipkan barangmu yang banyak ini. Mungkin ke stand-stand khusus di ibukota kerajaan. Tapi, aku tidak berjanji dapat menemanimu dalam waktu lama. Karena kita juga harus menuju ke tempat yang kau kugunakan untuk tinggal, dan juga aku ada keperluan dengan beberapa orang." Yah, pada akhirnya Naruto harus mengalah juga, menemani Ravel sebentar mungkin tidak masalah, baru setelah itu dia akan menemui Michael di Gereja.
"Terima kasih."
"Ha?"
Naruto mengorek sendiri telinganya, menatap curiga ke arah Ravel yang mengalihkan tatapan ke samping. Wajah gadis itu sedikit memerah, sekarang Naruto cukup tahu jika perempuan di belakangnya ini memang cukup manis. 'Gah!? Pikiran macam apa ini?!' Yah, Naruto sendiri juga tidak tahu.
.x.
"Woahhh!!!!"
"Woahhh!!!"
"Woahhh!!!"
Naruto menutupi wajahnya sendiri dengan malunya. Merutuki kelakuan childish dari Ravel yang telah melampaui batas Over! Berlarian kesana kemari dan tertawa, dan entah bagaimana pendiskripsian ini mengarah pada lirik lagu-lupakan!
Sedari tadi, Naruto tidak tahu sudah berapa tempat yang dicap dengan kata 'woahhh' dari Ravel. Mungkin sepuluh? Atau, lebih? Kuso! Dia benar-benar malu sekarang.
"Naruto-san! Aku mau ini! Ini!" Ravel berteriak kegirangan sambil menunjuk ke arah salah satu stand apalah itu.
"Mereka sepasang kekasih ya?"
"Kurasa, dilihat dari tingkah mereka saja sudah jelas."
"Terlihat cocok, wahh, si perempuan juga sangat manis, dan bajunya juga bagus, apa dia dari keluarga bangsawan?"
"Aku tidak tahu juga, tapi pemuda itu juga terlihat tampan, entah kenapa aku seperti melihat kembaran Lord Minato."
Sialan!
Naruto berjalan menjauhi kumpulan warga yang sedang membicarakannya dengan raut kesal. Bisa-bisanya mereka menjodohkannya dengan Ravel, hell no!
"Tch, aku tidak menyangka akan semengesalkan ini. Lagipula, apa mereka tidak punya otak? Menggunjing seseorang dengan nada keras seperti itu? Jelas terdengarlah!" bersungut kesal, Naruto menghampir Ravel yang tengah menepuk-nepuk tangan kegirangan. "Apa?" tanyanya malas.
"Itu! Itu! Aku ingin boneka pisang itu?"
He? Alis Naruto terangkat naik heran. Ia lihat ongokan boneka pisang besar yang tergantung dengan tulisan 'hadiah utama'. APANYA YANG HADIAH UTAMA!? Orang bodoh pun juga tidak akan mengambil hadiah konyol seperti boneka pisang itu, lain halnya jika yang dimaksud adalah sebuah permata langka atau senjata hebat.
"Apa kau yakin? Itu hanya boneka pisang." tanya Naruto meyakinkan, dan Ravel mengangguk semangat.
"Ya! Aku mau itu!"
"Tch! Kenapa kau terlihat sangat menginginkan itu? Dilihat bagaimanapun dan dari sudut manapun boneka itu sama sekali tidak menarik."
"Hm, mungkin karena boneka itu mengingatkanku padamu."
Naruto berekspresi datar untuk itu, entah dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dilihatnya wajah dengan senyum milik Ravel. "Aneh sekali."
"Ya, dengan begitu aku bisa menyiksa boneka itu, huahahahaha."
Twich!
Berapa kalipun Naruto membayangkan sisi manis dari Ravel, pasti itu akan
Langsung hancur seketika. Ekspetasi yang dia bayangkan, memang tidak seindah kenyataan yang ada.
"Jadi, apa kalian mau bermain, atau hanya bertengkar disini, anak muda?"
Naruto beralih pada pemilik stand. Perawakan pria tambun dengan rambut botak, tatapan mata sipit itu seolah meremehkan Naruto. Memejamkan mata tenang, sebelum membuka kembali dengan wajah memandang pemilik Stand. "Untuk mendapatkan boneka pisang itu, apa yang harus kulakukan?" ujar Naruto bertanya. Ini juga adalah pertama kalinya dia bermain hal seperti ini.
Pria itu tersenyum licik. "Mudah. Kau hanya perlu merobohkan piramida kaleng itu dengan tiga bola yang disediakan. Jika kau berhasil merobohkan semua kaleng dalam tiga kali lemparan, maka kau bisa memiliki boneka itu. Yah, itupun kalau kau bis-"
"Berikan bolanya."
Naruto berucap serius memotong ucapan sang pria, memberikan beberapa keping uang sebelum dia menerima tiga buah bola kecil berwarna biru. Naruto mendesah pelan, melirik ke samping dimana wajah Ravel sangat menantikan hadiah yang akan diterimanya. "Tch." Dia sedikit mengambil jarak dengan papan penghalang, mata birunya fokus pada empat tingkat kaleng yang ada di depannya. Harusnya, dengan keakuratan yang dia miliki dan pelatihan yang dia jalani, ini akan mudah kan. Baiklah...
Lemparan pertama dilakukan Naruto. Jarak yang dia ambil cukup untuk membuat sebuah momentum guna menjatuhkan semua kaleng itu dalam satu kali lempar. Jika pemilik stand ini jujur, maka harusnya semua kaleng itu akan jatuh. Namun sayangnya,
"Satu kali gagal."
Naruto melongo melihat lemparannya gagal, dan hanya mengenai satu kaleng saja. "K-kenapa bisa?" gumannya aneh, ia sendiri sudah memperkirakan jika jarak dan juga kekuatan lemparannya sangat tepat. Tidak, pasti ada hal lain! Sekali lagi!
"Dua gagal."
Oke, memang ada yang tidak beres disini. Kenapa saat dia melempar kebawah, arah yang terjadi malah sebaliknya? Naruto menyipitkan matanya, lemparan ketiga, dia harus lebih teliti kali ini.
"Ini lemparan terakhirmu loh, anak muda."
Naruto bisa melihat seringaian licik kecil di wajah pria tambun itu, namun, semua juga akan berakhir disini, Naruto yakin itu!
"Sialan!"
Naruto menggebrak papan penghalang di stand itu, sudah 5 kali dia membeli percobaannya, dan dihitung dari jumlah bola maka dia sudah menghabiskan 15 buah lemparan. Dan sialnya , dari semua percobaan itu tidak ada yang berhasil. Ravel melihat itu dengan pandangan bingung, antara sungkan dan juga merasa bersalah pada Naruto yang terlihat sedikit frustasi. Semua juga salahnya, meminta hal yang aneh pada Naruto tanpa pikir panjang. Memangnya, dia ini siapa? Seenaknya saja meminta Naruto untuk mendapatkan hadiah itu untuknya?
"N-naruto-"
"Sekali lagi."
Ravel terdiam, wajahnya terlihat tidak mengerti saat Naruto beralih menatapnya dengan mata biru itu. Detakan jantungnya sedikit berpacu, Ravel sendiri tidak mengerti mengapa dia menjadi gugup seperti ini.
"Aku pasti akan mendapatkan itu untukmu!"
Ketegasan itu, seperti yang dia lihat beberapa waktu lalu saat Naruto melawan Gaara. Sementara Naruto, kembali beralih pada pemilik stand yang hanya tertawa kecil saja.
"Ini adalah yang keenam, anak muda."
"Aku akan mendapatkannya, aku yakin itu!"
Kembali tiga buah bola berada ditangannya. Iris birunya menatap serius kedepan, 'jika Murasame benar, maka cara ini pasti berhasil.' tangannya membawa tiga bola itu masuk ke dalam kain hitam yang menutupi tubuhnya, sedikit menarik nafas tenang dan menutup matanya. Dalam satu detik, Naruto kembali membuka matanya, saat itu juga tiga buah bola terlempar hampir bersamaan.
Pemilik stand terkejut melihat itu. Satu bola meleset seperti sebelumnya dan mengenai kaleng teratas, diikuti bola kedua yang memiliki jalur berbeda dan mengenai bagian tengah kaleng. Terakhir, adalah bola ketiga...
Prankkk!!!!!!!!!
Pemilik stand itu mengedip-ngedipkan matanya, tak lama dia beralih pada Naruto yang tetap menampilkan ekspresi tenangnya. 'Anak ini, dia menyadari magic-ku?'
""Pria itu menggunakan gelombang[Mana] lurus untuk membelokkan lemparan Goshujin-sama. Meskipun Goshujin-sama menggunakan kecepatan pun tidak akan berhasil, satu-satunya cara untuk menjatuhkan semuanya adalah menembus gelombang [mana] dengan melempar bola berinterval waktu seperkian detik sebelum gelombang itu kembali normal.""
Naruto tersenyum mengingat perkataan Murasame padanya sesaat tadi, berkat roh itu juga dia dapat mengetahui kelicikan yang dilakukan pemilik stand itu. 'Aku aku akan membalasmu nanti, Murasame.'
""Kurasa traktiran ramen tidak masalah, Goshujin-sama.""
'Baiklah.'
Naruto berjalan tenang pada pemilik stand, mengabaikan raut wajah tidak percaya milik pria itu, ia tunjuk hadiah berupa boneka pisang besar. "Aku berhasil, kan? Lalu, mana hadiahku?"
"Baiklah, meskipun aku sedikit takjub tadi, setidaknya kau memang berhasil melakukannya. Ini, adalah hadiahmu."
Tentu saja Naruto dengan senang hati menerima hadiah itu, tidak lupa berojigi sesaat untuk berterima kasih, walau hal yang dilakukan pria itu sedikit tidak baik, tapi Naruto tetap menghormatinya sebagai orang yang lebih tua. Selesai dengan itu, Naruto beralih pada Ravel. Wajah yang terlihat berbinar itu entah mengapa membuat Naruto ikut merasa senang.
"Ini, yang kau inginkan Ojou-sama." ujar Naruto sambil menyodorkan boneka itu.
"Woaaa!!!!"
Naruto sedikit tersenyum melihat kebahagiaan yang ditunjukkan Ravel, meskipun itu hanya sebuah boneka, namun Naruto tahu jika itu sangat diinginkan Ravel. Naruto menatap ke atas langit, mengingat kembali seseorang yang juga pernah ia berikan sesuatu sampai merasa sangat bahagia.
"Terima kasih, Naruto! Aku akan menyimpan ini dengan baik!"
Naruto menunduk, menatap wajah Ravel yang dipenuhi dengan aura senang teramat sangat. Terdiam untuk beberapa saat, sebelum dirinya membalikkan tubuhnya. "Untuk sekarang, kurasa cukup. Lagipula hari semakin sore, aku harus kegereja dulu." ujar Naruto dan mulai melangkahkan kakinya, diikuti Ravel mengekori dari belakang. Perempuan itu menatap punggung Naruto yang masih saja diselimuti oleh kain hitam.
"Apa kau mau berdoa?" tanya Ravel yang memeluk erat boneka pisangnya.
"Tidak, aku mau menemui seseorang."
"Apa, itu perempuan?"
Mengendikkan bahunya acuh, Naruto sama sekali mengabaikan nada aneh yang dikeluarkan Ravel. "Lelaki, kurasa. Dia seorang Priest yang sudah memberitahuku letak sebuah benda hebat, dan aku harus berterima kasih padanya karena berkat bantuannya aku bisa mendapatkan benda itu." Respon Naruto cepat, dan tanpa sadar itu menimbulkan helaan nafas yang dikeluarkan Ravel. "Kenapa memangnya?" sambungnya bertanya.
Ravel tersentak seketika, dia sendiri tak terlalu memperhatikan Naruto dan memilih memandang ke samping. "Tidak, hanya saja aku akan merasa aneh jika kau menemui wanita dengan datang bersamaku, kau tahu itu dapat menimbulkan kesalahpahaman."
Sebenarnya bukan itu alasan yang Ravel maksud, ada suatu hal khusus yang seolah tidak rela jika Naruto menemui seorang perempuan sekarang. Lagipula, harusnya orang yang Naruto temui pertama kali adalah orang yang berharga dulu kan? Jika, Naruto menemui seorang perempuan sekarang, bisa jadi...
Ravel menggelengkan kepalanya, sungguh dia merasa konyol sendiri sekarang! Wajahnya sendiri juga pasti sudah terlihat memalukan sekarang. Uh, ada apa dengannya.. Ravel kembali memandang Naruto, pemuda yang beberapa hari ini menjadi topik utama kesehariannya.
"Untuk sekarang, aku tidak terlalu memikirkan tentang itu, Ravel." perkataan lembut itu mengalun ditelinga Ravel, ini juga pertama kali dia dapat melihat sisi lain dari Naruto. Ravel mengedipkan kedua matanya ketika angin berhembus dan menerbangkan kain hitam serta surai pirang Naruto. Jantungnya berdegup kencang.
"Aku masih harus memperkuat diriku. Untuk meningkatkan derajatku, dan untuk mengetahui, siapa saja yang benar-benar ada disampingku."
Entah kenapa...
"Maka dengan hal itu, aku akan benar-benar tahu siapa saja yang selalu ada untukku."
... Ravel menjadi sangat mengaguminya.
.x.
"Wah, tidak kusangka Gereja di ibukota sangat megah."
Mata berbinar dari Ravel membuat Naruto bergeleng kepala, pemuda itu sendiri tidak tahu sampai kapan Ravel akan berhenti melakukan hal seperti itu. Walau itu juga kewajaran, mengingat Ravel sendiri sepertinya tidak terlalu mengetahui tentang dunia luar. Naruto mengesampingkan hal itu, dan lebih memilih masuk kedalam gereja.
Bau harum sama seperti saat dia mengunjungi Michael bersama Irina menyambut penciuman Naruto. Semua masih sama, hanya saja Naruto dapat melihat Michael tengah berbincang dengan seorang pria. Dari perawakan itu, Naruto bisa menyimpulkan jika pria berambut nyeleneh itu bukan sosok biasa, bahkan Naruto dapat merasakan sebuah tekanan aneh yang membuat dirinya merasa agak tertekan.
"Permisi, Michael-san."
Tidak ingin berlama-lama, Naruto menyapa pria di depan sopan, berjalan mendekat dan sedikit berojigi. Michael yang melihat kedatangan pemuda itu sedikit terkejut, tentu saja, mengetahui fakta jika Naruto kembali dalam keadaan baik-baik saja itu sangatlah mengejutkan.
"Naruto-san?"
"Ha'i. Ini saya, hm, sebenarnya saya hanya ingin berterima kasih pada anda, Michael-san. Karena anda, saya berhasil mendapatkan benda itu."
Ini semakin mengejutkan. Melihat Naruto sehat wal afiat saja sudah membuat Michael tidak percaya, apalagi dengan mendengar jika Naruto mendapatkan Holy Grail? Jika benar, maka Naruto sudah benar-benar berada diluar bayangannya.
"Siapa dia, Michael?" sosok bernama Azazel mendekat, pria itu sendiri merasakan hal aneh ketika pertama kali melihat Naruto. 'Aura ini, aku bisa merasakannya. Magic Curse? Apa dia pengguna Forbidden? Atau-tidak, aura ini terpisah, dibelakang punggungnya, dibalik jubah itu tepatnya.'
Naruto melihat pria itu sekilas, sedikit tersenyum dan membungkuk kecil. "Saya, Naruto, dan dibelakang saya ini adalah Ravel."
"S-salam kenal."
Azazel menyipitkan mata, bukan fakta jika dia mengetahui tentang siapa gadis dibelakang Naruto yang merupakan anggota klan Phenex, tapi fakta jika ada energi mengerikan yang datang dari balik jubah itu. "Apa yang kau bawa dibalik punggungmu, Naruto-san?" tanya Azazel tertarik.
"Eh, hanya pedangku." Naruto menjawab agak terkejut. Lagipula kenapa tiba-tiba pria itu menanyakan apa yang dia bawa? Atau, dia dapat merasakan energi dari Murasame?
"Begitukah, tapi-"
Dzinggg!
Dengan kecepatan luar biasa gila, Azazel datang dengan membawa semacam pedang bercahaya kehadapan Naruto. Dan seakan mengikuti instingnya, Naruto segera menarik Murasame dan menahan tebasan Azazel.
"Azazel?!"
"Naruto!!!!"
Naruto meringis menahan tekanan yang dikeluarkan Azazel, beruntung refleknya terlatih dengan baik, walaupun tidak dapat mengikuti gerakan Azazel, setidaknya dia dapat menangkis serangan pria itu. Naruto sendiri juga tidak tahu kenapa pria itu menyerangnya, seingatnya dia sama sekali belum pernah bertemu dengan Azazel, jadi sangat tidak wajar jika pria itu memiliki dendam padanya.
Disela ketegangan itu, Azazel tertawa renyah dan segera melenyapkan pedang cahaya miliknya. "Maa, maa, tidak kusangka kau adalah murid dari si Monyet itu." ujar Azazel setelah memperhatikan pedang yang dimiliki Naruto.
Naruto menegakkan tubuhnya, dia sendiri tidak mengerti apa yang Azazel maksudkan. "Aku tidak mengerti."
"Hahaha, wajar saja. Biar kuperkenalkan siapa diriku ini, wahai anak muda."
Azazel bersidekap dada, dengan wajah angkuh dan juga senyum kecil yang melekat dibibirnya.
"Aku, adalah Azazel! Mantan Priest kerajaan dan juga mantan Five High Lord yang mengatur divisi penelitian bersama Hiruzen dan juga Danzo Sarutobi!"
-Cut-
Tunggu! Aku tidak bisa mengatakan apapun sekarang, tapi, yang terpenting saya sampaikan permintaan maaf saya karena molornya jadwal.
See u next Chapter!
