"Kekuatan Murasame? Aku tidak terlalu berharap ini tapi, dia juga menggunakan kekuatan dari Forbidden. dan ini belum cukup, aku berharap lebih."

Kinpatsu melirik kebawah dimana tubuh Kyuubi dikekang oleh segel curse milik Naruto, dia mendengus melihat itu lantas beralih pada Naruto yang berada dibawahnya dan juga pasukan bayangan yang dia ciptakan.

"Murasame tidak berlaku pada bayangan, dan juga selama aku tidak menggunakan [Mana, aku akan tetap aman." Observasi yang dilakukan Kinpatsu pada Naruto juga membuahkan hasil dan cukup berguna. Tentu saja, dia tidak akan melawan seseorang tanpa persiapan matang, walaupun itu hanya seorang wizard yang di anggap lemah. "Kutukan Murasame memang mutlak, tidak ada yang dapat lepas dari itu kecuali pengguna mereleasenya. Tapi, kelemahannya juga cukup banyak, hmm~jika diperbaiki lagi, dia dapat menjadi Knight sekaligus wizard pengguna curse paling hebat."

Kinpatsu melompat turun, terjun bebas dari kepala Beast itu dan menapak dihadapan pasukannya. 'Dan ketika itu tercapai, aku akan menggunakannya sebagai-'

.x.

Mask

Semua memiliki pencipta masing-masing.

.x.

Chapter 12

Barisan pertahanan di sekitar hutan kematian terlihat siaga, dipimpin oleh satu pria bernama Danzo dan juga sosok berambut hitam panjang yang berdiri santai menatap kubah besar di tengah hutan. Danzo menaikkan sebelah tangannya dan memberikan kode pada pasukannya.

"Unit pengintaian, mundur."

"Ha'i."

Beberapa pasukan khusus mengambil jarak dari wilayah hutan, menyisakan barisan Knight dan juga wizard yang saling pandang tidak mengerti mengapa Danzo menarik mundur pasukannya.

"Danzo-sama, mengapa anda menarik pasukan?"

"Ya, kenapa anda menariknya?"

Beberapa wizard bertanya padanya, dan pria itu hanya memandang ke depan dengan serius, "karena walaupun kita mencoba menembus Pelindung itu, kita tidak akan berhasil. Aku menggerakkan Divisi pengintai ke basis pertahanan Kerajaan dan akan menciptakan barrier disekitarnya. Sementara kalian, Divisi Knight, mundurlah ke baris pertahanan dan lindungi Divisi pengintai dari kemungkinan terburuk."

Danzo mengambil nafasnya tenang, disaat semua petinggi tidak ada maka terpaksa dia harus memimpin seluruh Divisi. Jujur saja dia akui, kejadian ini cukup mengganjal, mengapa Kyuubi dapat lepas ketika semua yang dapat menanganinya sedang pergi? Mungkinkah rencana klan Uzumaki untuk melakukan kudeta? Tapi itu tidak mungkin karena Danzo dapat memastikan sendiri jika klan itu sama sekali tidak tahu akan hal ini.

"Fufufu~Azazel ada didalam sana." Orochimaru menyeringai senang, pria bermata ular itu sendiri baru saja merasakan adanya pancaran [mana] acak dari dalam kubah, dan salah satunya milik rekannya, Azazel. "Dia juga sudah tahu, otaknya memang mengagumkan. Dan juga..."

Dzinggg!!!!!!!!!!!

"A-apa ini?!"

"T-tubuhku tidak dapat bergerak!"

Orochimaru tertawa kecil disela tubuhnya yang telah tertandai oleh semacam segel curse. ".. Curse~Fufu." ia sendiri tidak mengetahui jika akan ada pengguna curse ikut bertarung, dan dari tipe ini Orochimaru juga dapat menyimpulkan jika ini adalah curse milik Murasame.

"Mungkinkah, bocah itu?" Danzo bergumam penuh tanya, tetap tenang walaupun dia tahu tubuhnya tidak dapat bergerak sekarang ini. Mata coklat pria itu bergerak dan mengetahui jika batas dari jangkauan curse hanya sampai di barisan para knight di garis depan. "Para wizard, mundur."

"Tapi Danzo-"

"Mundur! Jika kalian masuk ke mari bukan membantu, kalian hanya akan membuat repot yang lain." Tegas Danzo pada wizard yang mencoba membantahnya. Sekarang ini, dia tidak tahu apa yang terjadi jadi menghindari jatuhnya banyak korban akan lebih baik. Danzo mengambil nafasnya pelan lantas melirik Orochimaru. "Ini diluar perkiraanku,"

"Fufufu, tapi kau bilang anak itu? Apa kau mengenal pengguna curse ini?"

"Dikatakan kenal itu tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Dalam kematian Hiruzen, dia meninggalkan teka-teki cukup banyak dengan beberapa dokumen penting dan juga perkamen misterius. Salah satunya mengenai bakal calon penerus Sarutobi klan, dan juga dua muridnya."

"Murid, aku tidak percaya dia mengangkat seorang murid."

"Yah, faktanya memang seperti itu. Dia mengangkat seorang pemuda payah bernama Naruto, dan juga mempercayakan Murasame padanya."

Orochimaru terdiam untuk beberapa saat dengan masih tubuhnya terikat curse, mata ular itu sama sekali tidak bergerak dan hanya terpaku berfikir. Sepengetahuan Orochimaru, katana Murasame itu bukan katana biasa dan hanya akan diwariskan oleh pemilik sebelumnya sebagai tanda bahwa pemilik itu mempercayakan semua tanggung jawab pada penerus.

Dalam hal ini Hiruzen adalah pemilik Murasame sebelumnya dan telah memberikan pada Naruto, jadi bukannya itu juga memiliki artian bahwa Hiruzen juga mempercayakan tanggung jawabnya pada si Naruto itu? Orochimaru melirikkan matanya kebawah melihat segel yang membekukan tubuhnya, ini sebenarnya adalah kali pertama dia melihat curse dari Murasame secara langsung.

Mengapa demikian? Karena sudah beberapa abad setelah Murasame dimiliki klan Sarutobi, katana itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Bahkan dari yang dia dengar, klan Sarutobi pun juga tidak dapat menggunakan Murasame. Tapi, pertanyaannya adalah jika tidak ada satupun orang dari Sarutobi mampu menggunakan Murasame, mengapa si Naruto itu dapat menggunakannya?

"Apa, si Naruto ini berasal dari Sarutobi?" itulah pertanyaan mendasar yang terlintas di otak Orochimaru tentang siapa sebenarnya Naruto. Sudah jelas dia mengetahui dari segel curse ini memang milik Murasame, dan siapapun yang dapat menggunakannya pastilah bukan wizard sembarangan.

Namun gelengan kepala Danzo membuat alis Orochimaru berkerut, jawaban dari kawannya itu sama sekali tidak membuatnya puas.

"Haku dan Pakura telah menyelidiki identitasnya, dan hasil ini sangat mengejutkan..." Mata coklat Danzo membuka, mengalihkan lirikan pada Orochimaru dan memberi tatapan serius pada pria itu. "... Pemuda itu merupakan anak bungsu dari Minato-dono."

Orochimaru mendengus kasar, anak dari seorang lord terkenal dan menguasai Murasame sampai seperti ini memanglah sangat menarik baginya. Tapi mengenai hal sepenting ini mengapa Danzo harus mengerahkan dua anggota dari Divisinya? Apa yang disembunyikan Minato sampai dia harus merahasiakan anaknya itu?

"Menarik sekali."

Walau begitupun Orochimaru tidak peduli akan masalah keluarga dari anak bernama Naruto itu.

'Mungkin saja dia bisa menerima kekuatan itu, ya, dengan kekuatan mengendalikan curse seterampil ini, Dia pasti dapat menangani efek itu. Khukhu, aku akan membicarakan ini dengan Azazel.'

-Naruto Side-

Wushhhhh

Angin berhembus menerbangkan dedaunan yang gugur juga mengusir debu penghalang pandangan mata. Kinpatsu yang berdiri tenang tanpa terpengaruh lingkaran curse yang di pijaki, pria itu tertawa pelan memandang Naruto.

"Dia, kenapa tidak terpengaruh?" Akeno yang terus mencoba menggerakkan tubuhnya merasa heran dengan yang dia lihat.

"Dia tidak menggunakan [mana]nya, mungkinkah,"

"Kau benar, anak buah Michael. Curse milik Naruto dan Murasame itu bekerja dengan memasukkan tanda ke dalam tubuh kita. Seperti contoh tebasan pada pedang itu yang mengandung curse, [mana] dari pedang Murasame juga mengandung curse." ujar Azazel menjelaskan sekaligus memotong perkataan Dulio.

"Azazel benar, tapi aku juga baru melihat yang seperti ini. Menanamkan curse hanya dengan mencampurkan sedikit mana pada target, itu benar-benar kekuatan yang hebat, dan mengingat itu adalah Murasame, aku bisa menambahkan jika kekuatan ini sudah menyentuh level S." Ujar Michael menambahkan.

Akeno ternganga tidak percaya, lirikan matanya kembali pada Naruto yang mulai bergerak menegakkan tubuhnya. "Inikah, yang mereka sebut Wizard terburuk?"

Issei yang mendengar gumanan Akeno mendengus pelan, jujur saja dia sendiri juga terkejut akan hal ini.

"Aku tidak tahu akan apa yang kau katakan tapi, kufikir dari semua wizard dikerajaan, dialah yang paling berpotensi." Ujar Azazel serius

""Iri...na...""

Suara berat Naruto mengalun mengerikan di dalam hutan kematian, mata hitam legam pemuda itu sendiri menatap kosong pada Kinpatsu yang berdiri menantang. Akeno kembali tersenyum miris, Irina, dia cukup mengenal gadis berambut coklat itu. Knight tingkat 5 yang memiliki sifat Childish.

'Apa ini yang membuatmu mengalami [Lost, Naruto-kun? Sebenarnya, apa hubunganmu dan seberapa penting dia untukmu?'

Kinpatsu menghela nafas pelan. Cukup, dia mulai bosan sekarang... Sebelah tangannya terangkat, mengomando pasukan bayangan miliknya bergerak maju. "Sebelum menghadapiku, habisi mereka dulu." Sepuluh prajurit hitam bergerak cepat, dan Naruto sama sekali tidak merespon.

Ketika tebasan pertama datang, Naruto bergerak menyamping dan menyabetkan Murasame memotong habis kepala bayangan itu dan membuatnya melebur di udara.

Serangan kedua datang dari arah samping, namun itu belum cukup untuk memojokkan Naruto dalam keadaan [Lost]. Pemuda itu berlari secepat kilat dan berada di hadapan dua bayangan milik Kinpatsu, katana kembali menebas dan membagi dua tubuh itu dalam 4 bagian.

Naruto sama sekali tidak menghentikan gerakannya, pandangan kosong itu hanya terpaku pada Kinpatsu. Reflek yang dia andalkan membuatnya dapat membalikkan serangan para makluk hitam Kinpatsu.

"H-hebat..." Akeno berguman takjub melihat gerakan yang dilakukan Naruto, dalam hal ini dia dapat melihat pergerakan Naruto yang meningkat berkali-kali lipat dari biasanya.

"Apa itu?" Dulio bertanya setelah melihat sinar putih yang datang dari dada Naruto. Sementara Michael sendiri terpaku dengan itu.

"Tidak mungkin..."

Azazel menyeringai tertarik. "Holy Grail."

Akeno dan Issei terdiam, karena mereka memang mengetahui tentang Naruto sebagai pemilik Holy Grail.

Kembali pada Naruto yang sedikit terdiam terpaku dengan wajah mengeras, bola mata hitam itu sendiri membulat sempurna bersama pandangan kosong mengarah ke bawah dimana sebuah pedang hitam berhasil menembus perutnya.

"Melawan bayangan itu saja kau sudah kewalahan, bagaimana jika kau melawanku nanti?" Kinpatsu bersidekap di hadapan Kyuubi yang masih terkekang curse. Mata emas itu melihat ke depan dimana tersisa satu pasukan ciptaannya yang berhasil menyerang Naruto. Tapi, ia yakin jika pemuda itu sama sekali tidak merasakan apapun.

Keyakinan itu terbukti setelah Naruto menggenggam pedang yang menembus tubuhnya, meremat keras dan membuatnya hancur lebur. Tanpa menunggu lebih jauh, Naruto berbalik dan menendang kepala itu hingga hancur.

"Fafafa, persis seperti psikopat."

Naruto tanpa memperdulikan ucapan Kinpatsu kembali berbalik, sebelah tangannya terangkat dan seketika Murasame yang terjatuh di belakangnya melayang sebelum melesat dan tergenggam erat ditangannya.

""Irina...""

Satu langkah kecil dimulai, dan dalam langkah selanjutnya Naruto telah berada di hadapan Kinpatsu dan siap menebas pria itu kapan saja.

"Menarik."

Shhhh!!!!!!!!!!!

Tubuh Kinpatsu musnah sebelum Naruto menebasnya dengan Murasame, membuat serangan itu sendiri mengenai udara kosong.

"Terlalu lambat."

Buakkh!!!!!!!!

Tubuh Naruto terpelanting ke samping, terseret beberapa meter sebelum dapat kembali menormalkan tubuhnya. Sebuah serangan tak kasat mata membuatnya terpaku waspada.

Shhhh!

Kemunculan yang sama sekali tidak menandakan hawa kehadiran membuat Naruto tidak dapat mengantisipasi serangan, terpaksa kepala pemuda itu terantuk keras kebawah dan membuat permukaan tanah sedikit hancur. Serangan Kinpatsu belum berhenti, terlihat di atas kepala Kyuubi sendiri Kinpatsu menyentuh kepala beast itu dengan telapak tangannya.

"Curse yang hanya mempengaruhi gerakan dan [Mana] tapi, untuk ukuran Beast seperti Kyuubi, itu belum cukup."

Mana hitam dan juga biru terkumpul di moncong beast tersebut, membentuk semacam gumpalan energi padat yang terlihat sangat berbahaya. Permukaan tanah terangkat, dan getaran hebat terjadi di tempat itu. Semua menatap tidak percaya pada Kyuubi, namun tidak dengan Naruto.

Berlari dengan sesekali meliuk menghindari bongkahan tanah yang melayang di hadapannya, Naruto melompat ke udara dan mengarahkan satu tebasan pada leher sang Beast. Kinpatsu tertawa keras, sebelah tangannya terangkat ke depan.

"Kau fikir aku akan membiarkannya, Naruto?!"

Dgggg!!!!!!

Mata hitam Naruto membulat sempurna, dan tidak ada waktu untuk menyadari apa yang sedang terjadi karena tubuhnya telah terhempas keras kebelakang. Terpental sebelum menabrak pelindung yang Kinpatsu ciptakan, muntahan darah Naruto keluarkan akibat serangan ini.

Tapi... Itu belum selesai karena Kinpatsu tengah mengacungkan tangan disana bersama bola energi yang telah terbentuk sempurna.

"Bijudama."

Ginn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kaboom!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Semua mata menatap tak percaya, dengan serangan seperti itu mereka yakin, sangat yakin jika pemuda itu seratus persen akan mati.

"NARUTO!!!!!"

Kepulan asap mengepul disekitar pelindung menutup semua pandangan untuk melihat apa yang terjadi. Cukup lama mereka semua terpaku, dan kembali dikejutkan dengan memudarnya lingkaran curse milik Naruto.

"Hilang?" Beo Dulio lalu menatap Kyuubi di depan, tidak ada waktu yang dia buang dan pemuda itu lantas menciptakan beberapa lingkaran sihir.

"Jangan gegabah, Dulio." Michael memperingatkan dengan menahan bahu pemuda itu. Matanya kemudian beralih pada Kyuubi, lalu pada arah dimana Naruto berada terakhir kali. "Meski kecil, aku masih dapat merasakan kehidupan dari Naruto-san, kemungkinan itu berkat Holy Grail."

"Maa... Menarik, Michael. Dan berhubung semua [mana]ku telah kembali, maka biar aku urus si Baka-Kin. Kau dan juga anak buahmu, tahan Kyuubi, lagipula Curse yang melilit kita telah menghilang saat ini, dan itu artinya 'kita' semua dapat menggunakan kekuatan penuh." Ucap Azazel berjalan kedepan, mata coklat madu memandang pada Kinpatsu yang bersidekap angkuh. "Aku sudah meneliti kekuatanmu, Baka-Kin. Dan itu juga cukup merepotkan untukku,. Jadi, mari kita lihat sampai mana kemampuan [Forbidden] milikmu itu."

Beragam [line] magic berwarna hijau terang bermunculan dibelakang tubuh Azazel, dihitung pun itu akan menghasilkan jumlah puluhan yang akan menyentuh angka ratusan. Dari dalam sana mulai bermunculan senjata mirip tombak bermata satu.

"Hoo," Kinpatsu terkekeh senang, tidak perlu mengubah posisi untuk meladeni Azazel. Kyuubi yang telah terbebas mengarahkan moncongnya pada Azazel. "Kau memanipulasi dimensi penyimpana, eh? Menyimpan berbagai senjata dan menggunakan [line] dalam skala besar untuk menyerang. Memang kau adalah Wizard tipe penciptaan yang terbaik, Azazel."

Giinnnn!!!!!!!!!!!

Gumpalan mana Kyuubi kembali memusat, kini dalam skala yang lebih besar mengarah pada Azazel dan yang lain.

"Heh, ya. Tapi tidak hanya itu." Azazel mendengus dengan mengomando semua senjata melesat ke arah Kyuubi, disaat bersamaan Bijudama juga melesat ke arahnya.

"[Light]-"

Kilatan cahaya muncul berlawanan dengan Bijuudama dan membelokkan serangan itu ke udara_menembus pelindung milik Kinpatsu sebelum terjadi ledakan besar di udara. Azazel melirik temannya dan tersenyum kecil. "Kerja bagus, Michael."

"Yah, aku akan melindungimu dan membuat celah serangan."

Kinpatsu memandang datar hal itu dan melirik ke tempat dimana Naruto berada sebelum menggerakkan kembali tangannya. "[Jikkan]"-Bunyi dengungan keras datang bersamaan dengan berhentinya serangan Azazel di udara.

"B-berhenti?! Apa yang terjadi?" Issei yang sedari tadi diam dikarenakan kehabisan [mana] akibat dari menembus pelindung mulai menunjukkan kepulihan. Irisnya menatap terkejut ke depan dimana serangan Azazel dapat dihentikan tanpa perlu musuh melakukan gerakan berlebih.

Azazel yang masih berfokus pada pertarungan kembali mengangkat tangannya, "itu adalah kekuatan dari Kinpatsu. Dia dapat memanipulasi waktu disekitarnya." ucap Azazel serius, dalam pertarungan seperti dia harus fokus pada musuh. Azazel menjentikkan jarinya, memicu lingkaran sihir di atas Kinpatsu.

"It-itu."

Kinpatsu mengadahkan kepalanya dan mendengus melihat serangan tengah jatuh ke arahnya. "Hoooh... Sebuah, Meteorit?" Kinpatsu beralih pada Azazel yang telah mengubah gerakan tangannya, pelindung tercipta mengelilingi beberapa orang tersebut. "Bukannya kau terlalu gegabah, Azazel? Menarik sebuah benda langit sebesar ini kemari, kau bukan hanya akan membunuh dirimu sendiri tapi juga menghancurkan semua area hutan kematian."

"Itu bayaran yang setimpal untuk nyawamu, Kinpatsu. Orang sepertimu memang layak mendapatkan serangan kuat dariku." dibalik kubah ciptaannya, Azazel berucap serius.

"Kau gila, Azazel," guman Michael antara mengejek dan juga tak percaya atas tindakan temannya ini. "Lalu, bagaimana dengan Naruto-san?"

"Harga itu cukup untuk membunuh Kinpatsu, dia adalah ancaman nyata untuk dunia ini, Michael. Hari ini dia melepaskan Kyuubi, dan kita tidak tahu apa yang direncanakannya lain kali, jadi jika hanya mengurangi 1-2 nyawa aku akan mengambilnya."

"Kau?! Bagaimana bisa mengatakan hal itu?! Ada Naruto di luar pelindung ini! Dan dia-"

"Hentikan ocehanmu, nona. Sudah jelas aku mengambil keputusan ini untuk kepentingan semua penduduk Kerajaan, atau bahkan Dunia. Keadaan saat ini sangatlah buruk dengan beberapa pemberontakan yang terjadi, kelompok Satan pun kurasa akan segera memulai pergerakan jika dilihat dari keadaan dunia saat ini. Belum lagi jika Kinpatsu ini masih saja terus berkeliaran, bahkan jika ada yang mendengar betapa mudahnya Kinpatsu melepas Kyuubi, sudah pasti banyak pihak yang akan menyerang Kerajaan karena mereka berfikir bahwa keamanan kerajaan sangat lemah." Azazel memikirkan ini beberapa saat yang lalu, menurutnya tindakan ini memang sudah tepat. "Aku berfikir untuk kepentingan semua orang, bukan hanya diriku saja."

Akeno tidak mampu berkata apapun lagi, karena apapun yang dikatakan Azazel tidak salah. Keadaan yang makin memanas ini memungkinan keadaan seperti jaman dahulu kembali terulang. "Tapi," Akeno mengeratkan kepalan tangannya... Ia benar-benar bingung sekarang.

"Buka pelindungnya."

Semua memandang kebelakang, dan itu juga menarik perhatiaan Akeno.

"Issei..."

Pemuda berambut coklat itu menarik tubuhnya sendiri dan mengangkat sebelah tangannya. Segera sinar kehijauan menyeruak, menutupi sebelah tangannya yang kini terlihat berubah menjadi sebuah sarung tangan merah berkilau dengan permata hijau dipunggung tangan.

"Naruto, walau beberapa hari aku mengenalnya, aku sudah sangat menaruh hormat padanya. Terserah kalian mau melakukan apa, tapi cepat buka pelindungmu, jika harus mati, aku akan mati bersama Knight hebat seperti Naruto!"

"Is-Issei..."

Kinpatsu terdiam dengan masih bersidekap dada, kembali mata emas itu melirik ke atas dimana batu besar meluncur ke arahnya. Jarak yang semakin dekat tidak membuatnya gentar sedikitpun, bahkan ia malah tersenyum kecil. "Satu..." Suara itu menghitung jarak waktu mundur, entah apa yang dia tunggu... "Dua..." jarak itu semakin dekat, bahkan hanya tinggal beberapa puluh meter sebelum akhirnya menghilang tanpa bekas, menyisakan semua pandangan membelalak. ",dan tiga."

"Apa yang terjadi?" Akeno berguman heran.

"Ini..." Michael tidak dapat lagi mampu bersuara, tidak, ia cukup terkejut dengan hal ini... "Lord Minato.."

Stapp!!!!!

"Azazel,aku tidak menyangka kau akan bertindak sejauh ini. Tapi, bukankah kau tidak berfikir akan keselamatan para penduduk?" Minato yang tiba-tiba ada dihadapan mereka semua mendelik kebelakang, pria yang masih mengenakan armor kebanggannya itu tidak percaya akan kelengahan Azazel. "Harusnya kau berfikir sebelum bertindak, dia sudah melepaskan pelindung disekitar hutan kematian ini dan menjebakmu untuk melancarkan serangan skala besar." Kepala kuning itu berbalik menatap Kyuubi.

Bersyukur dia tepat waktu, dan agaknya dia harus berterima kasih pada Kushina yang segera menghubunginya lewat sihir komunikasi. Sebelum datang kemari tadi ia tengah bertemu dengan beberapa pimpinan daerah lain dan berdiskusi mengenai penyatuan wilayah, namun setelah Kushina mengatakan bahwa ada beberapa masalah menyangkut klan Uzumaki dan juga tentang Kyuubi yang lepas dari segelnya, ia terpaksa menghentikan pertemuan dan datang kemari dengan Hiraishin.

Tidak ada waktu untuknya berfikir atau bertanya pada Kushina, Minato sangat tahu kekuatan Kyuubi itu seperti apa. Beast itu bahkan dapat menghancurkan kerajaan dengan mudah. Tapi, ia cukup terkejut akan kehadiran Kinpatsu disini dan menjadi dalang pelepasan Kyuubi-ini adalah perkiraan paling kuat untuknya.

Minato sedikit lega akan keadaan kerajaan yang dalam keadaan baik-baik saja walaupun ada beberapa penduduk yang terluka akibat kepanikan. Dia juga sudah menemui Danzo di luar area dan menanyakan keadaan, namun setelah melihat serangan besar berupa meteorit itu ia lantas langsung kemari dan membuang serangan itu.

"Beruntung saja aku sempat menandai beberapa tempat luas ketika aku melakukan kunjungan, jadi aku bisa membuang serangan itu agar tidak berdampak pada makluk hidup." Minato menarik sebuah katana dari sihir penyimpanan, ia menarik nafas sekali lalu memandang Kinpatsu dingin.

"Mi-minato-sama! Tolong selamatkan Naruto-kun!"

Tubuh pria itu sedikit menegang mendengar perkataan perempuan dibelakangnya. Selamatkan Naruto? Memangnya ada apa dengan... Anaknya itu? Ataukah, ada Naruto lain?

"Di-dia-Dia-"

"Tunggu, Naruto? Kau mengenalnya?" Minato memotong ucapan Akeno yang terlihat panik, ia memandang Azazel dan memberikan perintah untuk menghilangkan pelindung yang diciptakan pria itu. "Tolong jelaskan apa yang terjadi."

"Itu tidak perlu, kau bisa melihat anakmu itu sendiri Minato. Lihatlah ke arah sana."

Minato mengganti arah pandang pada Kinpatsu, segera ia mengikuti arah yang ditunjuk pria bertopeng itu. Mata birunya menyipit melihat seseorang yang bertelanjang dada disana, beberapa luka parah juga tercetak di tubuh sosok itu... Dan ketika dia mengenali siapa itu.. Matanya membola sempurna.

"Na-Naruto?"

Dia tidak tahu harus bertindak seperti apa, dan bagaimana. Otak jeniusnya seolah membeku melihat keadaan menyedihkan anaknya. Salah satu lengan yang terputus, dilihat dari jenis luka itupun Minato tahu itu diakibatkan oleh semacam benda tajam. Bentuk tubuh sempurna dengan berbagai macam luka disana, membuktikan bagaimana kerasnya hal yang telah dia hadapi.

Pandangan Naruto yang terlihat kosong bersama pendar katana yang dia pegang memenuhi seluruh tubuhnya. Beberapa tanda semacam tanda fuin tercetak di tubuhnya, dan Minato yakin itu bukanlah tanda biasa, apalagi dengan mata hitam legam itu. Minato seperti terhantam sesuatu tepat dikepalanya, pertanyaan begitu banyak berputar dikepalanya.

"Naruto, apa yang terjad-"

""Irina! Irina! IRINA!!!!""

Irina? Minato berkenyit bingung akan nama yang dikatakan Naruto.

"Dia sudah dalam batasnya, tenaganya juga hampir habis karena terlalu banyak menahan kutukan Murasame. Meh, anakmu itu memang sangat hebat Minato, aku bahkan sempat terkejut saat dia mengalami lost." Ucapan Kinpatsu yang berada dikepala Kyuubi membuat Minato semakin bingung, dan itu membuat Kinpatsu tertawa lantang. "Kau tidak perlu kebingungan seperti itu, Minato. Bukannya kau sendiri yang memutuskan untuk membuang Naruto karena alasan bahwa dia payah?"

"Minato-sama? Apa yang dia katakan? Naruto, adalah anak anda?" Hyoudou bertanya heran, jawaban yang ia tunggu begitu juga Akeno membuat mereka penasaran. Sementara Michael dan Azazel, mereka hanya terdiam membisu.

Minato mengeratkan genggaman pada katananya, "ya, dia anakku."

"Hahahahaha... Lucu, sangat lucu." Kinpatsu tertawa terbahak, duduk tenang diatas kepala Kyuubi dan memandang ke arah Minato. "Setelah aku mengatakan tentang kehebatan anakmu, kau langsung mengakui bahwa dia adalah anakmu? Menggelikan."

""Kembalikan Irina!!!""

"Jikkan-"

Tubuh Naruto membeku diudara, tepat dimana pemuda itu bersiap menebaskan Murasame pada Kinpatsu.

"Kau yang hanya mementingkan kekuatan tidaklah pantas memiliki Naruto, dia butuh lebih dari sekedar ayah palsu sepertimu." Sedikit bergerak, Kinpatsu menyentuh kening Naruto. Sebuah pendar mana muncul, dan itu memicu hilangnya kesadaran dari seorang Naruto. "Dia anak yang polos, meski kadang memang keras kepala tapi sifatnya itu memang murni. Bahkan dia tetap peduli dengan seorang keluarga yang telah menyakitinya berkali-kali. Siksaan batin dan juga fisik yang dia alami selama berada di klan Uzumaki telah membuat mentalnya sedikit goyah, tapi beruntungnya ada Hiruzen yang menyelamatkannya."

Minato tidak dapat mengatakan apapun, fakta yang diucapkan Kinpatsu memanglah tidak dapat dia bantah karena memang... Dia tidak tahu apapun tentang Naruto. Menyadari hal ini, entah mengapa membuat kepalanya berdengung.

"Pergilah, aku banyak urusan,""Tapi, Otou-sama apa Otou-sama tidak mau melihat gambar Naru?""Pergilah, Naruto. Aku sedang banyak fikiran.""Ahh, wakatta, kalau begitu Naru akan keluar.""Hn."

Itu adalah kilas potongan yang dia ingat, penolakan dari dirinya untuk memberikan sedikit waktu pada Naruto kecil. Apa, yang dia lakukan selama ini?

"Dilihat dari wajahmu, kau mengingatnya ya. Saat dimana kau menolak kehadiran anak bungsumu?" Kinpatsu melompat turun dari atas kepala Kyuubi yang tetap tenang bersama 9 ekornya yang melambai di udara. Pria itu membawa tubuh Naruto tanpa Murasame karena pedang itu telah melebur diudara, menyembunyikan keberadaannya. "'Adalah hal pertama yang perlu kau ketahui, bahwa aku melakukan penyerangan bukan atas dasar dendam pada tempat ini. Tidak, aku sama sekali tidak memiliki niat menghancurkan tempat ini. Aku datang kemari karena ada beberapa hubungan dengan Hiruzen, tentang kematiannya yang cukup aneh dan juga mengenai rencanaku untuk dunia ini."

"Rencana untuk dunia, apa maksudmu?!" Azazel maju kedepan bertanya, ia mengabaikan fakta jika Naruto memiliki hubungan dengan Lord Minato.

"Simple saja, aku menginginkan sebuah Rovolusi."

"Dan Revolusi apa yang kau maksud?" tanya Michael menyelidik.

Kinpatsu tertawa kecil dan menurunkan Naruto dari gendongannya. "Hmm... Apa ya, mungkin dengan memberantas para penguasa bodoh seperti Senju Hashirama."

"A-apa?! Maksudmu kau masuk dalam golongan pemberontak? Kalau begitu, apa maksudmu dengan tidak akan menghancurkan tempat ini tadi?!"

"Apakah aku mengatakan jika aku akan menghancurkan tempat ini dalam rencanaku, anak muda berambut blonde? Tidak, aku hanya akan mengubah tatanan yang diciptakan Hashirama Senju. Pemahaman tentang cinta dan membenci golongan lain, itulah Revolusi yang aku maksud."

Minato yang sedari tadi diam mulai mengangkat wajahnya, "lalu, apa alasan seranganmu kali ini?" tanyanya dengan nada mengancam, dia harus tenang dalam hal ini dan mengesampingkan urusan pribadinya.

"Aku hanya tertarik." Kinpatsu mengalihkan pandangan pada Naruto dan terkekeh kecil. "Kekuatan dari Naruto yang dapat menguasai Murasame dan menjalin Link dengan pedang itu, pemilik dari benda legenda Holy Grail dan juga fakta bahwa dia adalah wizard berkemampuan sama denganku. Aku tertarik untuk merekrut Naruto ke dalam organisasiku, yah, tentu saja setelah aku mengetahui semua potensi dan jika dia memang setuju untuk itu."

"Hanya untuk itu? Untuk uji kekuatan, katamu?!" Dulio menahan keinginan untuk menyerang Kinpatsu, pemuda itu mengepalkan tangan untuk meredam emosinya.

"Hanya, untuk itu katamu? Hahaha, iya, mungkin saja. Asal kau tahu, kekuatan bocah ini sangat tidak stabil kau tahu? Itu dibuktikan, hanya dengan Murasame dia dapat menghentikan hampir seluruh makluk hidup di hutan kematian." Jawab Kinpatsu diiringi dengan tawa kembali. Sedangkan Minato menoleh ke arah Azazel, meminta sebuah penjelasan.

"Kami semua sempat terkena curse dan tidak dapat bergerak, dan aku juga merasakan curse yang dilepaskan Naruto menjalar hampir menyentuh area 3 kilometer lebih." Respon Azazel yang mengerti akan tatapan dari Minato dan membuat keterkejutan bersarang di wajah Lord itu.

'Sejauh apa kau sudah berkembang, Naruto?' Sebagai ayah, Minato telah salah dalam memahami anaknya. Tidak, dia memang tidak pernah memahami Naruto, hanya Naruto.

"Yah, tapi aku tidak menyalahkan kalian. Aku mengerti akan kebodohan pihak kerajaan dalam melihat potensi dari pemilik Forbidden Magic."

"T-tunggu, Forbidden?" beo Minato yang tidak percaya akan ucapan Kinpatsu. Apakah, Naruto juga memiliki kekuatan itu?

"Aku tadi mengatakan pada kalian bukan, dia memiliki kemampuan yang sama sepertiku. Tapi, karena aku belum tahu apa tipe kemampuannya, jadi aku terpaksa menggunakan kejadian ini untuk memancingnya. Huh, kemampuan yang hebat, dia dapat mencuri kekuatan orang lain dengan Forbidden... Aku jadi iri."

Akeno terdiam sesaat., mencuri kekuatan, apa yang dimaksud pria itu Naruto dapat mencuri sebuah mana seperti yang dilakukan pemuda itu padanya saat pencarian Holy Grail?

"Tunggu maksudm-"

"Kita hentikan ini, lagipula tujuanku juga telah tercapai."

"Tunggu!"

Kinpatsu melambaikan tangannya, bersamaan dengan itu sebuah portal besar menelan Kyuubi bersama Kinpatsu, meninggalkan beberapa wizard yang masih berusaha menyerangnya. "Sampai jumpa, diwaktu selanjutnya."

"Tch, sial!" Minato berdecih kesal mengetahui Kinpatsu telah pergi. Tatapannya berubah pada Naruto, sangat miris mengetahui keadaan pemuda yang merupakan anaknya.

"Naruto-kun!"

"Naruto!"

Kedua mata Minato bergerak mengikuti dua muda mudi yang mendekat ke arah anaknya, ia mengetahui dua wizard muda ini. "Tenanglah, dia hanya kehabisan energi saja." ujarnya menenangkan walau ia sendiri juga merasa cemas

Akeno merespon dengan mendelik penuh kebencian, dan itu membuat Minato sedikit terkejut.

"Tenang? TENANG KATA ANDA?! Bagaimana anda dapat setenang itu melihat anak anda dalam keadaan seperti ini?!"

Minato terdiam.

"Meski aku tidak suka pada penyerang tadi, tapi aku setuju dengannya. Naruto, tidak butuh ayah sepertimu!"

"Akeno-senpai, tenanglah!"

"Tch!"

Azazel melihat itu dengan menghela nafasnya, jujur saja ia benci konflik seperti ini.

"Azazel, apa yang selanjutnya kita lakukan?" tanya Michael berjalan mendekat,

"Entahlah, tapi jika memang yang menjadi incaran Kinpatsu adalah Naruto, kita harus menjaganya agar tidak terpengaruh jika orang itu menemuinya lagi." Jawab Azazel dengan nada serius, jika memang benar bahwa kekuatan Naruto sama seperti yang dikatakan Kinpatsu maka mulai sekarang mereka harus memberikan perhatian khusus pada pemuda ini.

"Naruto-sama/kun!"

Tiga suara berbeda datang dari arah dalam hutan, tiga orang perempuan terlihat berlari mendekat dengan raut wajah khawatir. Michael terkejut melihat salah satu dari mereka, begitu juga Akeno dan Issei.

"Irina/Yuzuru/Kaguya?" panggil mereka berbarengan.

"Apa yang terjadi pada Naruto-sama?"

"Bertanya, apa yang terjadi?"

"Michael-sama?"

Kebingungan saling melekat di wajah mereka, dan itu mendapat respon dari Minato yang pada akhirnya mengangkat tubuh Naruto dalam gendongannya. "Semuanya, ikuti aku ke Distrik Uzumaki, kita akan membahas semua disana."

.xXx.

Kushina Uzumaki tengah dalam keadaan dimana rasa cemas menguasai dirinya. Beberapa penjaga Uzumaki terlihat berjaga di ruangan keluarga dari Minato Uzumaki itu. Di hadapannya, terlihat sendiri ketiga anaknya yang juga memandangnya serius.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Kushina pada salah satu penjaganya.

"Semua normal tanpa ada korban jiwa. Kyuubi juga menghilang tanpa jejak."

Semua karena lepasnya sosok Beast itu yang membuat Kushina agak merasa was-was, selain karena Kyuubi adalah familiar klan Uzumaki, tanggung jawab keberadaan Beast itu sendiri juga dimiliki oleh Klan Uzumaki.

"Tenanglah, ibu. Ada ayah yang menangani Beast itu, semua pasti baik-baik saja." Naruko berucap menenangkan, dan itu sedikit membantu meredam kecemasan Kushina.

"Tapi, aku sedikit tidak mengerti mengapa Manaci sampai membuka segelnya." Karin bertanya serius, anak sulung Kushina itu sendiri sedikit merasa aneh dengan kejadian ini.

Menma mendengus tak suka. "Mengapa harus melihat alasannya, penghianat tetaplah penghianat!"

"Manaci-san bukan penghianat, aku tahu itu."

Brak!!!!!

Menma menggebrak meja keras, "apa kau akan membela penghianat?!"

"Kalau iya, kenapa?!" Naruko membalas pertanyaan Menma sengit, ia sendiri sudah muak dengan kekeras kepalaan kakaknya ini. Dua saudara itu saling menatap tajam, namun terhenti ketika suara ayah mereka terdengar memasuki rumah.

Keempat keluarga Uzumaki nampak tergesa menuruni tangga, beberapa mata menatap kehadiran sosok Minato dengan seseorang berada dipunggungnya. Sosok itu tidak terlihaat akibat kepalanya yang tersembunyi dibalik punggung Minato. Namun ketika semua berjarak lebih dekat, mereka terpaku melihat siapa yang ada dalam gendongan ayah mereka.

"Kenapa ada dia, ayah?" Karin bergumam tak suka.

"Minato, apa yang terjadi?" Sahut Kushina agak merasa aneh. "Apa yan-Minato?!" dan selanjutnya Kushina berteriak histeris mengetahui keadaan Naruto yang terbilang sangat menyedihkan.

Menma menyipitkan mata dan memandang penuh kebencian pada Naruto yang berada dibalik punggung ayahnya. "Jelaskan mengapa kau membawa sampah itu, Ayah!"

"Menma, jaga ucapanmu..." bukan Minato, kali ini, Naruko mengucapkan peringatan itu dengan nada yang sangat rendah... "Jika tidak, aku akan merobek mulut busukmu itu!"

-Cut-