Kitsu In

.x.

Dari berbagai hal di dunia ini, semua memiliki sisi negatif dan juga positif yang berpadu sempurna dan seimbang. Sifat buruk, dan juga sifat baik, semua seperti sebuah paduan dari dua sisi tanpa manusia dapat membuang sebagai sifat alami mereka. Namun, aku merasa semua itu hanya omong kosong yang dikatakan oleh Hiruzen Sarutobi.

Semenjak kecil, dimulai saat umurku 5 tahun aku hanya mengerti sisi buruk yang ditunjukkan oleh keluargaku sendiri. Diskriminasi yang mereka lakukan padaku membuatku sakit dan tidak berdaya. Beragam penolakan disertai siksaan batin dan juga fisik kuterima sampai umurku menginjak remaja, dan semua itu tidak lain hanya karena intensitas [mana] ku yang sangat rendah.

Aku memang menyadari betul bilamana seorang wizard dengan [mana] rendah atau nol akan dianggap pecundang di mata semua orang, itu semua tidak lepas karena mereka hanya akan mendapat sebuah kedudukan rendahan yang mereka anggap menyedihkan. Tapi, walaupun memang benar aku juga tahu tidak semua orang menganggap begitu.

Terlahir di dalam Klan Uzumaki, klan yang merupakan klan dengan status tinggi dikerajaan tentu membuatku bangga, ya itupun hanya pada awalnya saja. Kenyataan yang terus menghantamku hanya karena kekuranganku membuatku sadar jika nama klan tidak dapat membuatku kuat.

Sebenarnya luka yang kualami sepanjang waktu ini sangatlah menyakitkan, itu seperti racun yang menggerogotiku secara perlahan, dan parahnya racun itu kudapat dari keluargaku sendiri. Aku memiliki 3 saudara, 2 perempuan dan salah satunya adalah kembaranku serta 1 adalah lelaki. Diantara mereka, aku merasa hubunganku dengan kembarankulah yang paling erat.

Meskipun aku selalu sendirian sepanjang waktu, namun melihat dia dikelilingi dengan kebahagiaan sudah membuatku senang. Aku tidak akan egois untuk memaksa semua memperhatikanku, karena aku sendiri juga sadar jika dimata mereka aku hanyalah sampah. Dan itu memang benar... Aku hanya sampah, tapi, bahkan sampah sepertiku pun masih saja menganggap mereka sebagai keluargaku, terutama kembaranku.

Naruko, adalah namanya. Hampir terdengar sama dengan namaku, bahkan wajah kami pun memiliki kemiripan sempurna saat kecil, perbedaannya pada menginjak usia remaja wajahku berubah menjadi lebih tegas dan Naruko berubah lebih lembut. Walaupun wajah itu selalu terlihat dingin, aku tetap menganggapnya sangat manis.

Sampai ketika semua berpuncak pada hari kelahiranku dan juga Naruko. Pada saat itu, ibu kami, Kushina Uzumaki mengadakan pesta besar untuk merayakannya-ralat-merayakan hari kelahiran Naruko. Mansion kami diubah dan didekor sedemikian rupa, balon, dan yang lain. Semua nampak mewah dan itu untuk Naruko seorang.

Ketika itu, aku berjalan pada ibu yang sedang duduk di kasur setelah selesai dengan acara mereka, tentu saja tanpa aku karena aku terkunci di dalam kamarku saat pesta itu berlangsung. Menma, Karin, dan Naruko terlihat sangat gembira, mereka membuka kado yang diberikan para rekan Ayah, dan kulihat juga ibu dan ayah tertawa bahagia melihat mereka.

Aku tersenyum, dan masuk begitu saja tanpa permisi, tapi.., kukira itu wajar saja karena aku anak mereka juga, kan? Aku beranikan diri menyapa mereka lembut juga sopan... Tapi,

"Ada apa?"

Entah mengapa ibu sangat tidak suka melihat kehadiranku.

"B-bolehkah, aku meminta hadiahku?"

Permintaan itu aku kira wajar saja karena ini juga hari kelahiranku, lagipula aku juga ingin perhatian mereka barang sedetik. Namun memang impian itu kadang menyakitkan., dengan kasar wanita itu mendorongku, entahlah apa yang membuatnya terlihat marah... Aku tidak tahu,

"Tempatmu itu ada di luar, kau hanya noda yang menempel pada klan jika terus berada disini!"

Perkataan itu sangat kejam, aku mengerti betul apa yang ibu maksud dan aku hanya dapat menunduk sedih.

"Sadari posisimu!"

Posisi?! Dalam hal ini apakah aku salah meminta sesuatu dari ibuku sendiri?! Apakah itu salah, meminta perhatian dari keluargamu sendiri?!!!!

Pertanyaan itu hanya meledak di kepalaku tanpa aku dapat mengeluarkannya. Aku menangis, dan disela itu semua aku melirik pada Menma yang menyeringai, pada Karin yang menggelengkan kepalanya dan pada Naruko, tidak, dia menatapku sendu.

Ada apa?!!! Bukankah kau juga senang?!

"Aku,"

"Pergi dari sini, kau membuat ibu marah!"

Dengan itu Menma menyeretku kasar dan mendorongku keluar kamar Naruko. Aku terpaku sesaat, dan kusadari kedatangan Manaci-san dan mulai mengulurkan tangannya padaku. Aku terdiam, sungguh! Aku...

"Selamat ulang tahun, Naruto-chan!"

Tidak, Manaci-san! Kau salah.., aku bukanlah anggota keluarga ini. Semua perlakuan mereka telah membuka mataku, aku memanglah bukan anggota keluarga ini.

Aku sama sekali tidak menanggapi Manaci-san dan memilih berjalan keluar dari tempat ini. Air mataku menetes, terus mengalir tanpa dapat kukontrol. Pertanyaan yang terus menggangguku, dan juga membebaniku tentang siapa jati diriku sebenarnya. Dijalanan setapak Kerajaan aku dapat melihat banyak orang berlalu lalang, bahkan dikeramaian pun aku tetap merasa kesepian seperti ini.

Aku pernah mendengar jika hubungan seorang anak kembar akan memiliki hubungan batin yang kuat, lantas apakah Naruko juga akan merasakan kesedihanku ini?

Semoga saja, tidak.

Aku berhenti di depan sebuah tempat makan, Yakini-Q itulah namanya. Aku dapat melihat beberapa orang makan secara lahap dari tempatku berdiri sekarang, aroma daging terbakar dan juga lelehan bumbu yang membuatku tanpa sadar menegukkan ludahku. Aku lapar, seharian ini aku belum memasukkan apapun ke dalam mulutku.

"Huhhh,"

Aku mengeluh pelan, apa mau dikata walau aku lapar namun aku juga tidak memiliki sedikitpun uang. Simpanan yang aku dapat dari Manaci-san juga berada di rumah, dan itu adalah pikiran terakhir untukku kembali sekarang. Aku berniat melangkah pergi, namun segera kutahan karena ada seseorang yang memanggilku.

Aku berpaling untuk melihatnya, selanjutnya kudapati seorang pria dewasa dengan jenggot tersenyum padaku. Tentu saja aku bingung, darimana dia tahu namaku dan memanggilku disini? Aku tidak kenal dengannya dan juga sama sekali belum pernah mendengar tentangnya.

"Ano... Anda siapa?" Aku bertanya sambil menggaruk kepalaku sendiri, tapi anehnya pria itu malah tertawa. "Apakah ada yang lucu?"

"Tidak ada, nak. Hanya saja melihatmu menatap para pengunjung itu rasanya sungguh lucu." Pria itu berkata sambil berjalan mendekat padaku, sementara aku menghela nafas kecil..., yah, itu juga kulakukan karena aku lapar.

"Apa kau mau makan? Akan kutraktir untukmu jika kau mau."

Benarkah? Aku sungguh senang jika itu benar tapi kurasa akan terlalu aneh, mengapa ada orang yang bahkan aku tidak kenal mau memberikanku makan gratis?

"Ano, aku minta maaf, tapi sepertinya kita tidak saling kenal dan kurasa akan aneh jika anda memberiku makan gratis seperti ini." Aku mencoba menolak dan mulai berbalik, "tapi terima kasih, aku menghargai kebaikan anda." Kataku dan berbalik pergi, orang itu terlihat baik tapi aku juga tidak boleh terlalu percaya.

"Kenal dan tidak kenal itu hanya masalah waktu, Uzumaki Naruto-kun. Itu tergantung mengenai bagaimana kau menerimanya. Ah~dan aku menemuimu hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun."

Aku menghentikan langkahku kembali dan berbalik menatap pria itu. Dengan wajah penasaran aku melihat dia, dan dia hanya tertawa dan memasuki tempat makan itu.

"Kemarilah, aku ingin mengobrol denganmu."

Hal ini cukup aneh menurutku, tapi itu tidak jadi masalah sekarang. Dengan langkah kecil kuikuti pria itu masuk kedalam Yakini-Q.

Dan malam itu, adalah titik awal hidupku yang baru. Hidup tanpa bayangan keluarga yang membencimu, dan juga...

.x.

Mask 13

Semua memiliki pembuat masing-masing

.x.

"Tutup mulutmu, Menma, atau aku yang akan merobek mulut busukmu itu!"

Semua terkejut mendengar nada teramat sinis juga penuh ancaman itu keluar dari bibir tipis Naruko, bagi Minato dan Kushina mereka yang cukup terkejut tak mampu mengeluarkan kata-kata. Sedangkan Menma sendiri yang merasa sangat terhina mengepalkan tangan kuat dan menatap adiknya tajam.

"Ingatlah kau bicara dengan siapa, Naruko!" hardik pemuda berambut spike itu tajam.

"Aku tahu betul siapa yang kuajak bicara. Seorang pemuda bodoh yang kalah dariku dan hanya mengandalkan nama klan sebagai alasan kearoganannya." Ucapan datar Naruko memang terdengar datar namun itu begitu menusuk. Menma sendiri tidak dapat mengontrol emosinya, mengingat dia begitu tempramental itu dapat dipahami. Mengeluarkan tiga [line] dan mengeluarkan beberapa rantai khusus, dia berniat menyerang Naruko namun segera dihentikan oleh Naruko yang dengan mudah menghancurkan rantai menma dengan rantai parsial miliknya. "Parsialmu belum dapat mengalahkan parsialku, Menma. Kau hanya membuang [mana] jika kau melawanku."

"Dasar adik bodoh! Kurang ajar sekali kau pada kakakmu, ha?!"

Naruko sedikit mendengus mendengar ucapan Menma. "Katakan, apakah aku pernah memanggilmu kakak?" pertanyaan menohok itu begitu mengejutkan semuanya, bahkan bagi Karin yang memang cukup mengenal baik Naruko. Memang apa yang dikatakan Naruko tidaklah salah karena selama ini dia tidak pernah memanggil Menma dengan sebutan kakak, tapi apakah itu juga mengartikan jika Naruko tidak pernah menganggap Menma sebagai saudara?

"Ingatkan aku, adik bodoh. Jika tidak ada aku yang mau mengorbankan nyawa untuk mengambil tanaman Akar Naga itu, kau pasti mati karena kerusakan Mana. Jadi kau harus bert-"

"Jika memang kau rela melakukan hal itu untukku, kau pasti tidak akan pernah mengungkitnya." Suara Naruko terdengar sangat lirih dan juga seperti tertahan, kedua tangan itu terkepal sangat erat dengan geraham bergemeletuk.

"Sebenarnya, bukan Menma-sama yang mencarikan tanaman langka itu. Menma-sama tidak pernah mencari tanaman itu, bahkan dia sama sekali tidak peduli pada keadaan Anda. Sebenarnya, Naruto-samalah yang mencarikan tanaman itu. Saat anda sakit, Naruto-sama melihat anda dari balik pintu kamar dengan wajah khawatir, dia bahkan menangis dan mengatakan padaku 'Manaci-san, Onee-chan sangat kesakitan, aku tidak tega, apa tidak ada obat yang bisa membuat Onee-chan sembuh?'..., Naruto-sama menanyakan hal itu, sebenarnya waktu itu anda terjangkit sebuah virus langka dimana [mana] anda akan lumpuh jika tidak segera disembuhkan, saya sudah katakan padanya dulu agar tidak khawatir karena para pengawal sudah mencarikan obat."

"Jika benar kau menyayangiku, kau tidak akan pernah mengungkit masalah tentang mencarikanku akar naga. Semua itu hanya karena kau ingin dilihat sebagai seorang pahlawan saja, seorang yang akan dipandang paling hebat." kelopak mata Naruko terbuka, beralih pada sosok Naruto yang berada dibelakang punggung ayahnya. Wajah tampan itu terlelap damai, dan Naruko sendiri baru menyadari jika Naruto memiliki wajah yang hampir sama dengannya. "Faktanya, bukan kau yang mencarikan akar naga, tapi, Naruto lah yang mencarikan itu untukku."

Menma membeku ditempat dengan pandangan membulat. 'Darimana dia tahu?' itulah pertanyaan yang terlintas langsung dikepalanya. Apakah Manaci? 'pasti dia! Tidak ada yang tahu bahkan Karin-nee jika aku berbohong telah mendapatkan akar naga untuk Naruko dulu. Si wanita tua sialan itu, harusnya aku menutup mulutnya!'

"Maa, maa, bisakah kalian hentikan ini? Kami datang bukan untuk melihat masalah keluarga kalian."

Azazel yang datang bersama Irina dan Yamai bersaudara memotong perdebatan antara dua saudara itu, ia merasa hal ini tidaklah pantas ditunjukkan kepada mereka. Lagipula Azazel datang kemari juga karena ingin menjelaskan kejadian tadi dan melihat perkembangan kondisi Naruto secara langsung.

"Ada baiknya jika dia dibawa ke kamar untuk istirahat, kita membicarakan hal ini dikamar Naru-" Minato menghentikan ucapannya_ dia termenung sesaat. Dia, tidak tahu kamar Naruto berada dimana.

Itu memang keanehan yang sangat tidak mungkin terjadi, mengingat ini adalah rumahnya, paling tidak Minato ingat beberapa kamar yang menurutnya penting. Tapi, dimana kamar Naruto? Selama ini, anak bungsunya tidur dimana, dan kenapa dia baru menyadarinya?

Beberapa dari mereka memandang bingung Minato yang tiba-tiba dia berfikir, mereka tidak tahu jika pria itu tengah mencoba mengingat dimana Naruto beristirahat. Namun tidak semuanya bingung dengan kelakuan Minato, bagi kembaran anak bungsunya, ekspresi yang ditunjukkan sang ayah lebih dari cukup untuk membuatnya menyadari kebingungan yang dialami ayahnya.

Naruko mendesah pelan lantas menatap Minato."Kita bahas di kamarku saja, ayo ikuti aku." ujarnya dan berjalan ke lantai atas. Menggunakan kamarnya memanglah pilihan yang sangat tepat, dia tidak bisa membiarkan orang lain tahu kenyataan pahit tentang Naruto lebih dari ini, kenyataan jika bahkan pemuda itu harus tidur di gudang sebagai tempat istirahat.

.x.

Irina tidak berhenti memandang khawatir sosok Naruto yang bertelanjang dada, ia berulang kali meremat tangan kanan Naruto yang berbaring di sebuah kasur besar milik saudari kembar pemuda itu. Iris violetnya beralih pada salah satu lengan Naruto, melihat bahwa lengan itu telah menghilang dan menyisakan sebagian yang nampak utuh membuat Irina merasa bersalah. Harusnya jika dia dapat menahan Naruto agar tidak mencari Holy Grail, maka semua ini tidak mungkin terjadi.

"Mendengar penjelasanmu, kurasa kau masuk ke dalam Ilusi buatan Kinpatsu, dan juga kalian berdua." Minato berkata pelan setelah Irina selesai dengan cerita bahwa perempuan itu sama sekali tidak tahu tentang apa yang terjadi, begitu pula dua gadis kembar yang juga mengalami kejadian serupa. "Apakah, kalian memiliki hubungan khusus dengan Naruto?" tanya Minato kembali.

"Menjawab, Naruto-sama adalah tuan kami."

"Hum! Kami mengabdi pada Naruto-sama sebagai perjanjian kontrak."

Minato terdiam berfikir, lalu matanya beralih pada Irina yang terdiam. "Lalu, kau?"

"Aku.," Irina sendiri tidak tahu hubungannya dengan Naruto disebut apa. Teman? Mungkin saja karena dia merupakan teman sejak beberapa bulan lalu. Sahabat? Itu juga bisa disebutkan mengingat Irina mengetahui hampir semua tentang Naruto, kebiasaan, sifat, hobi, semua Irina tahu. Tapi, apakah demikian?

Irina ingin mengakui jika Naruto adalah kekasihnya, hatinya terus berteriak untuk mengatakan itu...

"..aku sahabatnya."

... Tapi ia tidak dapat mengatakannya, Irina tidak ingin memaksakan keegoisannya untuk mencap Naruto sebagai kekasihnya. Irina ingin Naruto yang mengucapkan itu, karena mau dikatakan apapun perasaan Irina akan tetap sama, dia akan tetap menyukai Naruto.

"Itu hal wajar mengingat orang itu adalah Kinpatsu." Azazel mulai membuka suaranya, ia menatap ke depan serius. "Dia adalah Wizard dengan teknik sihir tinggi dan juga pemikiran yang sangat baik. Semua perencanaan yang dia miliki sangat bagus dengan tingkat keberhasilan tinggi. Kemungkinan, dia sudah mengawasi Naruto sejak lama, kenyataan bahwa dia dapat mengetahui orang yang sangat berarti bagi Naruto dan menjadikannya umpan untuk membangkitkan kemampuannya adalah hal yang wajar. Tapi, aku rasa dia juga tidak tepat sasaran. Irina ini, bukanlah sosok 'paling' berarti yang dimiliki Naruto."

Irina mengernyit tidak suka dan mendelik pada Azazel, pernyataan 'serba tahu' milik Azazel membuatnya sangat tidak suka. Memangnya siapa dia? Bahkan Irina mengenal lebih jauh Naruto daripada dia.

"Atas dasar apa kau mengatakan itu, aku bahkan lebih mengenal Naruto-kun dibandingkan kau!" Sinis Irina seraya memberikan hawa permusuhan yang dapat dirasakan Azazel, membuat pria itu tertawa renyah. Irina tahu Jika saja Michael tahu bahwa ia telah mengucapkan kata seperti itu maka sudah dipastikan dia akan mendapat teguran dari pembimbingnya itu, beruntungnya Michael dan juga seniornya ikut membantu menenangkan penduduk bersama Akeno juga Issei.

Azazel yang sedang tertawa melihat bahwa perempuan di depannya tersinggung mulai menghentikan tawanya. "Memahami tingkat emosi seseorang itu cukup mudah bagiku, dan aku melihat semua yang dilakukan Naruto tadi dan menyimpulkan sesuatu. Setelah Kinpatsu menunjukkan liontin yang persis seperti milikmu itu dia memang sempat mengalami Lost, namun itu hanya beberapa saat sebelum dia dapat menahan dirinya untuk bertindak lebih jauh."

"Bertindak lebih jauh, maksudmu?" Naruko yang berada dipinggir ranjang miliknya menunjukkan suara, bertanya pada Azazel dan mewakili seluruh pertanyaan yang terlintas dikepala semua orang disini.

Kushina, dia yang merupakan ibu kandung dari Naruto terus memperhatikan pembicaraan dengan berdiri disamping Minato, sambil mata violet tua itu kadang melirik Naruto yang tertidur lelap dengan nafas teratur. Kushina tidak mampu menatap Naruto lebih lama akibat beberapa bekas luka parah yang tercetak ditubuh atletis anaknya, dan yang paling menonjol adalah sebuah luka sayat besar melintang miring di dadanya, apalagi, dengan tangan kiri yang hilang.

Setetes air mata mengalir dipipi putih mulus Kushina, wajah cantik itu berkerut dan segera menghapus air matanya sebelum kembali pada penjelasan Azazel. Namun walau begitu dia sama sekali tidak dapat memperhatikan Azazel, matanya senantiasa terus melirik Naruto tanpa dapat dia kendalikan, seperti seolah matanya itu memiliki kontrol untuk mengawasi keadaan putra bungsunya. Mungkin, ini yang disebut perasaan seorang ibu? Entahlah.

"Setahuku Murasame itu tidak hanya memiliki Curse pelumpuh, dari yang aku ketahui itu hanya bagian kecil dari kekuatannya. Memahami pedang itu memang sangat sulit karena dia memiliki kekuatan yang sangat misterius, tapi satu hal yang perlu diwaspadai saat menjadi musuh Murasame, jangan pernah satu kalipun tergores oleh bilahnya. Karena, satu kali saja kalian terkena tebasan Murasame, dapat dipastikan kalian akan mati." Ujar Azazel serius, dia menatap Irina sejenak dan kembali melanjutkan. "Itu adalah kutukan terkuat Murasame, namun hanya berlaku pada tebasannya saja." Azazel memegang dagunya berfikir, ia mengingat kembali apa yang dilakukan Naruto tadi sebelum menyebarkan curse dengan lingkaran sihir.

"Apa maksudmu, bukannya kau bilang tadi dia menyebarkan kutukan dan melumpuhkan semua makluk hidup di dalam area 3* kilometer?" Tanya Minato pada pria itu.

Semuanya menatap terkejut pada Minato, menyebarkan dan melumpuhkan dengan kutukan dalam area 3 kilometer? Itu bahkan melebihi apa yang dapat seorang Wizard Curse master lakukan, biasanya mereka perlu melakukan beberapa ritual yang cukup menguras mana untuk melakukan curse, itupun hanya pada beberapa orang karena curse juga akan mempengaruhi mana penggunanya. Tapi, benarkah Naruto dapat melakukannya, bahkan dalam area sejauh itu?

"Apa maksudmu area 3 kilometer?" Menma yang sedari tadi bersandar pada daun pintu mulai bertanya, dan itu mendapat respon sinis dari Naruko.

"Hmmm,.. Bagaimana ya, aku mencoba menggabungkan kejadian tadi, teknik yang Naruto gunakan dan perkataan yang Kinpatsu ucapkan di hutan kematian tadi. Saat Naruto melawan Kyuubi, aku mel-"

"Lucu sekali. Apa kau mau bilang si lemah ini yang menghentikan Kyuubi dan memukul mundur musuh itu. Jangan bercanda." Menma memotong sinis dengan masih memasang wajah sombong. Pemuda itu sama sekali tidak mempercayai ucapan Azazel. Perkataan itu juga memunculkan beberapa ekspresi di wajah mereka, terutama Yuzuru dan Kaguya yang seolah tidak terima akan ejekan yang dilayangkan pada tuannya.

"Kenyataannya memang begitu, dia memukul mundur Kinpatsu yang bahkan ayahmu hampir kalah saat melawannya. Bayangkan saja, anak lemah seperti ini berhasil melawan orang yang membuat ayahmu babak belur, meskipun orang itu juga tidak mendapatkan luka serius tapi dia juga mengakui kehebatan Naruto." ujar Azazel sambil melirik Menma yang langsung memasang wajah kesal. Ia terkekeh pelan mengetahui jawaban darinya cukup untuk melukai perasaan Menma, dia tahu tipe seperti apa Menma ini. "Kita kembali pada bahasan awal mengenai mengapa aku bisa tahu Naruto menahan kekuatannya. Seperti yang aku katakan jika Murasame adalah katana dengan kutukan yang bekerja lewat tebasan, dan mengapa Naruto bisa menggunakannya dalam area seluas itu serta memasukkan semua ke dalam curse pelumpuh?. Aku mengira ini seperti apa yang dikatakan Kinpatsu, Naruto menguasai kemampuan Forbidden dan dapat mencuri kekuatan orang lain. Namun menurutku ini tidak seperti mencuri/mengambil, melainkan menyerap. Lalu, mengapa Naruto menahan untuk menyerap kemampuan terkuat Murasame dan menyebarkannya dalam skala besar? jawaban yang paling memungkinkan adalah, Naruto masih menahan untuk menyerap semuanya karena ia tahu apa resikonya."

"Tunggu, menyerap?" beo Naruko yang cukup terkejut akan ucapan Azazel. "Aku, juga pernah terkena hal itu." ungkapnya dan memicu keterkejutan pada keluarganya.

"Ap-apa maksudmu Naruto menyerangmu?" Kushina bertanya khawatir namun dibalas gelengan oleh Naruko, tanpa sadar ia menghela nafas lega.

"Beberapa waktu lalu, seperti yang kalian ketahui aku tergeletak di jalanan komplek Uzumaki, itu dikarenakan aku kehabisan mana karena diserap oleh sesuatu." dari sini Naruko berfikir jika itu bukan kekuatan Naruto, melainkan kekuatan Murasame karena yang dipegang adalah pedang milik Naruto, "aku rasa bukan Naruto, tapi pedangnya yang dapat menyerap mana,"

"Itu mustahil." Bantah Azazel tegas. "Ada orang yang mengalami nasib sama sepertimu, kau mungkin kenal dengan Akeno Himejima. Dia bercerita padaku jika Naruto juga pernah hampir menyerap habis mananya tanpa dia sadari. Jadi, kemungkinan jika Murasame yang melakukannya itu sangat kecil. Lagipula, jalinan link yang mereka berdua miliki membuat keduanya dapat menggunakan teknik masing-masing. Sial, ini sangat rumit." Umpat Azazel pada akhir kalimatnya. Murasame memanglah senjata yang unik sampai membuatnya sangat tertarik, tapi sekarang ini dia lebih tertarik pada pemuda ini. Kekuatan yang begitu misterius berhasil membuat jiwa penelitiannya berontak.

"Link, dan juga Forbidden yang mampu menyerap energi. Kemungkinan besar yang dapat kusimpulkan adalah, saat Naruto mengalami Lost disaat itu juga kemampuannya bangkit, dia menyerap curse milik Murasame dan melepaskannya melalui sebuah Zona khusus, itu dibuktikan saat tubuhnya dipenuhi simbol curse Murasame tadi. Dan mengenaiNaruko yang meyakini katana Narutolah yang mempunyai kemampuan menyerap, kemungkin Murasame menggunakan kemampuan Naruto dan menyerap Mana Naruko 'yang' secara langsung berkontak dengan Murasame. Mungkinkah begitu, Azazel?" Minato mencoba menebak dan bertanya pada mantan Lord itu, meskipun dia memahami apa yang dimaksud Azazel namun dia belum mengerti betul prinsip kekuatan yang digunakan Naruto.

"Mungkin, tapi memang itu yang aku maksudkan."

"Dan kau juga mengatakan Akeno mengalami hal serupa seperti yang Naruko alami, dan berarti dia tidak mampu mengontrol kekuatannya sendiri."

"Itu juga benar."

Minato terdiam untuk beberapa saat, kekuatan yang dapat menyerap habis mana seseorang tanpa mampu dikendalikan akan sangat berbahaya jika dibiarkan. Melepaskan Naruto berkeliaran di kerajaan tanpa pengawasan memang cukup berbahaya, dia tidak tahu apa mungkin hal serupa akan terjadi pada para penduduk, kemungkinan itulah yang ingin dia minimalisir.

"Aku akan mengawasinya, untuk sekarang biarkan aku yang menjaga Naruto." Ujar Minato serius dan itu disambut oleh ketidak percayaan Menma yang berada di ambang pintu,

"Ayah, apa yang kau katakan?!" Menma berteriak tidak setuju.

Minato mendesah pelan. "Untuk sekarang ini aku ingin memastikan kekuatan Naruto, apakah berbahaya atau tidak dan juga membiarkannya berada disini akan memudahkanku menjaganya."

"Maa,.. Maa, tapi, aku juga ingin menawarinya beberapa hal. Melihat keadaannya membuatku agak risih, jadi kurasa aku harus meminta izin darimu untuk membawanya bersamaku." Ucap Azazel kembali.

"Itu terlalu berbahaya untuknya, aku tidak-"

"Jangan berbicara seolah kau peduli padaku, itu benar-benar menjijikkan." Naruto membuka matanya, ia mengeratkan genggaman tangannya pada Irina dan mencoba bangun dari tempat tidurnya. Cahaya putih bersinar di dadanya, memicu beberapa luka ditubuhnya perlahan menutup, ia mengalihkan pandangannya menatap beberapa anggota keluarga Uzumaki datar. "Seperti yang kukatakan pada Naruko. Klan ini, dan keluarga busuk ini... Aku tidak akan peduli pada kalian lagi,"

"Naruto/Naruto-sama!"

-Change Scene-

Beberapa rombongan berjalan di tengah hutan yang menghubungkan langsung dengan wilayah ibukota kerajaan. Uchiha, mereka adalah rombongan yang merupakan anggota inti dari klan itu, terdiri dari 4 anggota keluarga dengan 3 laki-laki dan 1 perempuan baya juga beberapa pengawal khusus Uchiha. Ditengah rombongan itu sendiri terlihat pria baya yang menatap kedepan dengan pandangan keras, meski begitu semuanya tetap tenang saja seolah tatapan garang seperti itu adalah hal wajar. Pria itu bernama Uchiha Fugaku, kepala klan Uchiha.

"Beberapa hari kedepan rombongan keluarga Gremory akan datang ke Distrik Uchiha sebagai balasan acara tunangan ini. Persiapkan dirimu dan juga bersikap baiklah pada Rias Gremory, ingat! Penyatuan dua klan ini sangat penting Sasuke, ini akan mempererat hubungan wilayah antara dua klan." ujar Fugaku tenang,

Pemuda berambut emo nampak memutar mata bosan, mata onyx itu menatap ke arah lain. Sejujurnya dia tidak terlalu mempermasalahkan pertunangan ini, tapi itu jika yang ditunangkan padanya adalah wanita 'normal' menurut versinya, tapi kenyataannya... 'Perempuan sombong dengan ukuran dada Oversize' itu adalah julukan yang di berikan pada wanita berambut tomat dengan dada kelewat besar itu.

"Kuso!"

"Kau mengatakan sesuatu, Sasuke?"

Pemuda itu mengendikkan bahu menanggapi pertanyaan ayahnya. "Tidak, tidak ada." ujarnya santai, namun tidak dengan otaknya yang terus mengumpati nasib sialnya. Meskipun itu tidak terlalu sial bagi orang lain. Memang dia akui, wajah dari Rias Gremory memanglah cantik, kulitnya mulus tanpa cacat dan lagi tubuhnya yang sangat bagus membuat siapapun akan bertekuk lutut saat bertemu dengan dia-tapi itu pengecualian untuknya!

Dia yang selalu bermimpi mendapatkan seorang Ojou-chan Kawai dengan wajah imut dan juga rambut Twintails panjang, tubuhnya yang standar dan juga mata berwarna biru cerah yang menatapnya ala kucing meminta makan. Suaranya yang lembut saat dia memanggil Sasuke dengan sebutan ONII-CHAN! Hooo, dia begitu mendambakan wanita seperti itu... Tapi kenyataannya?!

'Jika Tuhan benar-benar ada, aku pasti akan langsung mengeluh karena ketidak adilan ini!'

Sasuke menghela nafasnya pasrah, lagipula dia juga tidak bisa terus bermimpi akan hal bodoh seperti itu. Yah, memang ada wanita yang seperti bayangannya? Tentu saja tidak, kadang kenyataan itulah yang membuat dirinya tersenyum masam.

Tapi berbeda dengan kakaknya, Sasuke merasa dia lebih beruntung dari sang kakak yang harus dijodohkan dengan perempuan dalam klan. Bukannya dia mengakui jika perempuan dalam klan Uchiha itu buruk, lihat saja ibunya Mikoto, menurutnya ibunya itu sangatlah cantik lebih dari cantik dan beruntungnya memiliki sifat lembut. Namun bukan itu yang menjadi masalah, kebanyakan klan Uchiha memiliki ego yang tinggi dan juga ambisius entah itu perempuan atau lelaki, walaupun kadarnya berbeda tetap saja tidak bagus.

Meski begitu dia percaya pada kakaknya jika kakaknya pasti akan memiliki pendamping yang baik, ya setidaknya yang dadanya lebih besar dari Rias Gremory! Karena bagaimanapun kedua saudara ini mengidap penyakit yang sama, yaitu penyuka wanita kawai, jadi jika Itachi mendapatkan wanita yang lebih 'ganas' baru Sasuke akan bersyukur!

"Jangan menatapku seperti itu, Sasuke." Uchiha Itachi yang sedari tadi menatap lurus ke depan berbalik menatap Sasuke, sementara adiknya itu tetap memasang pandangan bertanya padanya. "Ada apa?" tanya Itachi pada akhirnya.

"Apa kau sudah menemukan calon istrimu, Aniki?"

"Sudah."

Oke, Sasuke cukup terkejut akan hal ini, sejak kapan kakaknya ini memiliki calon istri? Mata hitamnya kini beralih pada sang ibu, berharap meminta penjelasan dari Mikoto.

"Kakakmu memang telah melamar seseorang dari klan Uchiha, Sasuke. Dia tidak mengatakan padamu karena katanya ingin membuat kejutan padamu." ujar istri dari Fugaku itu.

"Kejutan?" beo Sasuke yang belum memahami maksud dari ibu dan kakaknya ini, ia kembali beralih pada Itachi. Dan... Firasatnya memburuk! Mengapa Itachi malah tersenyum padanya?

"Aku sangat... Lebih beruntung darimu Sasuke, maaf ya,"

Tunggu?! Mungkinkah?!

"Maaf mengganggu perjalanan anda Uchiha-sama." kedatangan sosok penjaga perbatasan kerajaan melalui lingkaran sihir mengejutkan mereka, terlihat beberapa pengawal Uchiha memasang sikap siaga. Namun mereka hentikan setelah mengetahui ada sebuah logo di baju mereka yang merupakan logo pasukan kerajaan.

"Ada apa?" Fugaku maju ke depan dan bertanya serius.

"Kami diminta oleh Danzo-sama untuk memberikan pengawalan pada penduduk yang masuk ke dalam kerajaan. Dikarenakan ada masalah yang cukup besar dan kerajaan agak mengalami guncangan, Danzo-sama memerintahkan semua ketua klan yang tergabung dalam Serikat Ibukota untuk mempersiapkan pertemuan malam nanti,"

"Untuk apa pertemuan itu? Dan masalah apa?" Itachi maju kedepan dan berdiri disamping ayahnya.

"Ada insiden pelepasan Kyuubi oleh pihak Asing, dan Danzo-sama menduga hal ini adalah perbuatan Perkumpulan sebuah Organisasi baru yang meneror beberapa wilayah kerajaan_atau kemungkinan terburuk adalah kelompok Satan." Jawab wizard bertopeng polos itu.

Itachi menaikkan alisnya, "pelepasan Kyuubi?"

"Ha'i. Kami juga menemukan mayat Uzumaki Manaci sebagai pemilik kunci melepaskan Kyuubi, dan setelah diselidiki lebih lanjut ada energi mana yang mempengaruhi segel Kyuubi. Penyebab juga belum dipastikan apakah Uzumaki sengaja melepas Kyuubi atau tidak, tapi tuduhan itu sedikit dihentikan dan akan dibahas pada pertemuan bersama orang yang telah menghentikan Kyuubi."

"Apakah itu Minato?" tanya Fugaku, karena setahu dirinya hanya Minato, Hashirama dan juga Tobirama Senjulah yang mampu menahan Kyuubi.

"Bukan, tapi orang lain." Jawab wizard itu.

"Siapa?"

"Maaf tapi itu dirahasiakan oleh Danzo-sama dan yang lain, hanya beberapa orang yang tahu."

Fugaku termenung berfikir untuk beberapa saat sebelum kembali menatap wizard kerajaan didepannya. Pria itu mengambil nafas pelan, "baiklah, kau boleh bergabung dengan rombongan kami."

"Ha'i, maafkan saya jika ini membuat anda tidak nyaman, karena beberapa Divisi juga sedang mengawasi wilayah disini."

"Ya, tidak apa."

Setelah mengatakan itu Fugaku kembali berjalan diikuti rombongan klan juga salah seorang wizard kerajaan yang berjalan dibelakang rombongan, wajah tenang itu sedikit terlihat berfikir dengan Fugaku yang memejamkan matanya.

"Ayah..."

"Persiapkan dirimu nanti, Itachi. Kita akan datang dipertemuan itu." Titah kepala klan itu tegas dan dijawab anggukan oleh anak sulungnya. Sementara disisi lain, Sasuke nampak termenung dalam diam, entah mengapa tiba-tiba dia terfirkirkan tentang seseorang.

Mikoto yang menyadari itu berniat menegur, namun terurung karena sang anak telah lebih dahulu mengaktifkan sihir teleportasi khasnya.

"Sasuke?"

"Maaf ayah, ibu. Aku akan pergi kekerajaan terlebih dahulu." ujar pemuda emo itu.

"Tunggu Sasuke!"

Terlambat bagi Itachi untuk menghentikan adiknya, lingkaran berbasis api itu telah menelan habis tubuh Sasuke dan membawanya ke tempat yang dia tuju. Itachi mendesah pelan dan mengusap pelan wajahnya.

"Ya ampun, dia pasti ingin menemuinya lagi."

"Biarkan saja, Itachi. Kita lanjutkan perjalanan."

.xXx.

Sosok Kinpatsu berdiri diam menatap pada Kyuubi yang berada di dalam kekkai khusus, ditempat seperti ruang bawah tanah dengan beberapa akar pohon melintang dan juga sumber air membentang cukup luas. Pria bertopeng itu menghentikan acara menatapnya dan beralih melirik kebelakang saat dirinya merasakan kedatangan sosok lain.

"Kurozetzu, dan... Shiroi Zetzu, kenapa kalian bergabung, apakah ada masalah?" Tanyanya heran dan direspon getaran tanah yang memunculkan makluk mirip tanaman bergerigi. Dua wajah berbeda warna itu memandang takjub pada Kyuubi yang terlihat tertidur pulas di dalam Kekkai.

"Anda sudah berhasil mendapatkan Kyuubi, anda memang hebat." perwujudan dua kepribadian mengeluarkan suara agak berat, itu adalah yang dipanggil Kinpatsu sebagai KuroZetzu.

"Mahahahaha, aku sampai terkagum." kali ini suara dari sosok Shiroizetzu, suara agak nyaring terdengar. Kinpatsu menanggapi hal itu acuh dan lebih memilih kembali memandang Kyuubi.

"Kalian belum mengatakan mengapa kalian bergabung."

Duo Zetzu terkekeh renyah mendengar Kinpatsu yang kembali menanyakan hal itu.

"Saya membutuhkan si putih untuk mencari informasi dan menyusup ke Kerajaan, seperti perintah anda."

Sebuah tawa ringan terdengar menggema di tempat itu. "Lalu bagaimana? Apa mereka mulai panik?" tanya Kinpatsu setelah menghentikan tawanya, nada suara itu terdengar tertarik dengan hasil laporan Zetzu.

"Ya, seperti yang anda tebak. Pak tua Danzo itu segera mengumpulkan para petinggi klan dan juga membuat barrier pasukan disetiap penjuru Kerajaan untuk mengantisipasi tindakan lanjutan seperti yang anda lakukan."

"Dan?"

"Pertemuan dilakukan nanti malam tanpa kehadiran Hashirama Senju dan adiknya karena mereka ada di wilayah lain dan tidak memungkinkan untuk kembali segera. Rencana anda mengacau dan memancing dua Senju bersaudara itu memang berhasil, dan lagi rencana rumit yang anda ciptakan benar-benar membuat pihak mereka kebingungan."

Kinpatsu hanya terkekeh menanggapi hal tersebut, perasaan senang karena semua yang ia susun berjalan lancar memang yang terbaik. "Ini akan menarik, lalu bagaimana dengan Naruto dan keluarganya?"

Zetzu berpikir dengan tangan menyentuh dagu, mengulang beberapa kejadian yang ia dapatkan saat melakukan penyusupan tadi. "Kurasa juga berjalan lancar, dia juga dalam kondisi prima setelah menggunakan Curse sekuat itu pada area hutan kematian, mungkin ini karena Cawan Suci, atau-"

"Bukan hanya itu, sebelum aku pergi aku juga sedikit memicu kekuatan Forbidden dengan Mana Forbidden milikku. Dan karena Naruto menyerap baik manaku, secara tidak langsung dia juga mempercepat proses penyembuhan. Ada hal khusus mengapa Forbidden magic itu dianggap spesial, hanya saja bagi mereka yang tidak mampu mengasah kemampuan dengan baik maka hanya akan terlihat biasa saja."

"Aku tidak mengerti."

Kinpatsu menghela nafas kecil, beberapa kali dia memikirkan tentang perkembangan Naruto dari hari kehari sampai ia menemukan metode yang tepat untuk memicu kekuatan Naruto naik pada tingkat sempurna. Dia bukan seseorang yang bergerak tanpa tujuan, seperti yang diketahui jika Kinpatsu ingin menciptakan sebuah Rovolusi pada dunia ini.

Memang tidak mudah tapi dia sudah menyusun rencana, dan semua telah tersusun rapih. Tinggal menunggu waktu sampai waktu yang dia tunggu datang dan... Boom! Kekacauan besar terjadi, dan dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan.

"Untuk sementara lupakan tentang ini. Dan, apa kau juga tahu tentang pergerakan pemegang King Enma?" Kinpatsu kembali bertanya, kali ini menyinggung sosok yang cukup akan membuat rencana yang ia susun berjalan sempurna.

"Maksud anda, Sarutobi Konohamaru?" ujar Zetzu memastikan, dan itu terjawab lewat anggukan. "Dia tidak dalam keadaan yang baik, dendam karena kecemburuan pada Naruto semakin membesar, bahkan dia sudah sampai pada kemampuan memanggil Roh King Enma itu sendiri. Kemampuan yang dimiliki klannya pun diserap dengan baik olehnya. Saya mengira dalam 1 sampai 2 tahun lagi dia akan mampu untuk melampaui Sarutobi Hiruzen sendiri."

Inilah yang Kinpatsu tunggu, kabar yang paling ia nantikan. Kekuatan dari kebencian itu memang dapat mempengaruhi tekad seseorang, langkahnya tidak salah kali ini, ini semakin bagus.

"Lalu, Kinpatsu-sama. Bagaimana dengan rencana dari pihak itu? Beberapa saat yang lalu aku melihat mereka mendatangi tempat kita, kupikir mereka serius untuk bekerja sama dengan kita."

Ah, benar juga, karena dia terlalu fokus pada Naruto hingga melupakan kelompok itu. "Aku akan menemui mereka, lagipula ini juga termasuk ke dalam hal yang cukup penting." Kinpatsu mengaktifkan portal teleportasi, sedikit melirik kebelakang pada Zetzu yang melihat dirinya tenang. "Kau hanya perlu mengikuti perkembangan kerajaan, jika saatnya tiba mereka juga akan ikut andil sebagai alat yang akan kugunakan."

"Maa, anda memang cerdik, bahkan memanfaatkan keturunan raja sebagai alat anda, memang ciri khas Kinpatsu-sama."

Zetzu mengatakan itu dengan nada licik, sementara Kinpatsu yang mulai memasuki portal hanya tertawa kecil.

"Yah, karena apapun yang terjadi, aku tidak boleh gagal."

.x.

"Jaga nada bicaramu, kau tahu sedang ada dimana bocah."

Naruto yang saat ini telah sepenuhnya beranjak berdiri hanya menatap ke arah pintu acuh, ia berjalan bersama raut wajah tanpa ekspresi, "Irina, Yuzuru dan Kaguya, apa kalian akan tetap berada disini?" ucapan dingin Naruto mengejutkan tiga gadis itu, segera mereka berlari kecil mengikuti Naruto dari belakang. Untuk Minato dan Kushina mereka tidak mampu mengeluarkan satu katapun, mereka membeku kebingungan.

Naruko yang merasa diacuhkan saudara kembarnya merasa sakit, dia mengepalkan tangan erat sebagai pelampiasan perasaannya. Naruko tidak bisa membiarkan Naruto pergi, tidak sebelum dia meminta maaf atas apa yang telah dia perbuat selama ini.

"Naruto tunggu, aku-"

"Cukup, aku tidak mau mendengar ucapanmu, maupun ucapan kalian. Yang kuinginkan sekarang hanya hidup tenang tanpa ada bayangan ketakutan terhadap kalian." Tanpa menghentikan kakinya Naruto memotong panggilan kakak kembarnya, jujur saja... Hatinya tengah tertekan saat ini.

"Tapi, Naruto! Aku ingin mengatakan sesuatu" Naruko masih mencoba membujuk Naruto, kekeras kepalaan gadis itu akhirnya menghentikan langkah Naruto yang tetap mematung dan saling pandang dengan Menma di depan pintu kamar.

"Mengatakan sesuatu? Kupikir kalian cukup mengatakannya selama 10 tahun." Ujar Naruto sinis dan beralih melirik kedua orang tuanya yang sedikit terkejut akan tatapan yang dia berikan. "Aku tahu kalian hanya menganggapku sampah, itu memang menyakitkan menghadapi fakta bahwa aku dikucilkan oleh keluargaku sendiri. Aku selalu mencoba bertahan dari rasa sakit ini hingga pada akhirnya aku bisa terbebas dari penderitaan itu. Saat ini aku baik-baik saja tanpa kalian, seperti sebelumnya. Maka dari itu, menjauhlah dariku untuk selamanya." ucapan final itu mengejutkan semua orang, terutama Irina dan juga Yamai bersaudara yang melihat sisi lain dari Naruto.

Dilain sisi, Menma dengan keangkuhannya merasa jengah dengan perkataan dari Naruto. Mulai menegakkan tubuhnya, pemuda itu mengangkat sebelah tangannya dan memunculkan tiga lingkaran sihir yang langsung menyerang Naruto dengan rantai khasnya.

"Hentikan! MENMA!"

"MENMA!"

"NARUTO-SAMA/KUN!"

Semua bergerak panik, serangan Menma yang mengejutkan membuat mereka semakin panik, apalagi melihat Naruto yang hanya berdiam diri tanpa menghindar.

"Naruto!!!!"

Semua mata membulat, bahkan mereka tidak mampu mengeluarkan suara mereka. Kondisi Naruto yang belum pulih kini terpaksa menerima serangan Menma, dan parahnya itu mengenai beberapa bagian vital Naruto.

"Sampah sepertinya akan semakin merasa spesial dan besar kepala saat kalian menyanjungnya, aku tidak mengerti mengapa kalian jadi seperti ini dan itu membuatku muak." Menma berucap dengan raut iblis, ia memandang Naruto yang masih berdiri disana sambil memegangi rantai khususnya.

"MENMA! KAU BE-" Naruko berteriak penuh amarah, enam lingkaran sihir muncul dibelakang tubuhnya, namun...

"Saaa, apakah, ini serangan khusus milik klan Uzumaki, Onii-sama?"

Pandangan kedua saudara itu bertemu ketika Naruto mengadahkan kepalanya, dan dalam keadaan itu mata Menma membulat sempurna. Kakinya bergetar melihat mata hitam ber iris merah milik Naruto menatapnya angkuh.

"K-kau, siapa kau?!"

"Pertanyaan konyol. Bukannya kau baru saja menyebutku sampah?"

Dalam satu kali rematan, rantai yang menusuknya hancur tak bersisa, bersamaan dengan itu sinar keputihan muncul menutup luka yang disebabkan oleh Menma. Mata merah itu melihat kembali ke arah Menma.

"Lalu, bagaimana jika kau bermain dengan sampah ini sebentar saja, Onii-sama?"

-Cut!-

Ara... Gomennasai.

Kitsu cuma mau meminta maaf atas keterlambatan Update, mau bagaimana lagi, Kitsu sendiri kadang diserang WB, tapi beruntungnya gak sampai berlarut-larut dan bisa melanjutkan fic ini.

Oh, dan untuk beberapa pertanyaan nanti akan Kitsu jawab langsung, mumpung ada waktu juga, maka silahkan cek Pm masing2 karena mungkin Kitsu udah membalas Review kalian. Dan untuk Akun GUEST, pertanyaan kalian akan Kitsu jawab nanti di chapter 14 pada kolom QaA.

Itu aja dulu, untuk pertanyaan lain akan dijawab pada waktunya. Kitsu pamit undur diri.

Oh! Dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...