"Huu..." Naruto menarik nafas singkat dan langsung membuka matanya yang sempat terpejam, iris merahnya mengendik kebelakang dimana semua orang tengah menatapnya.

"J-jangan sombong kau!"

Krngggggg!!!!

Bunyi rantai bergerincing memenuhi ruangan, Menma sendiri menatap kaget ke depan dimana Naruto dengan mudahnya menangkap rantai khusus miliknya. Tidak ada pergerakan berarti dari Menma dan segera setelah itu tubuhnya tertarik ke depan akibat tarikan kuat yang dilakukan Naruto.

"Sialan!"

Buaaakh!

Tubuh Menma terpental membentur dinding kamar Naruko, retakan terjadi disana bersama tubuh Menma yang berdiri sambil menekan bibirnya. Luka sobek yang dia alami akibat pukulan kuat Naruto membuat Menma meringis pelan, pemuda itu mengadah dan memandang penuh kedengkian pada adiknya.

"Kalian berdua hentikan! Dan kau Narut-"

"Kenapa harus kuhentikan, Ibu?" Naruto menggerakkan kepalanya kebelakang, menatap penuh luka pada Kushina yang amat terkejut akan respon yang didapatnya. "Bukankah kau ingin anak yang kuat?"

"Dasar sampah kau Naruto!"

Sedikit memiringkan tubuhnya, sebuah hantaman lutut diberikan Naruto pada perut Menma yang datang menerjang.

"Ohookk!"

Naruto membiarkan tubuh itu tersungkur di atas permukaan lantai, dia mendengus kasar lantas menendang wajah Menma hingga tubuh itu berbalik terjengkang kebelakang. Perbedaan kecepatan fisik dan juga power yang mereka berdua miliki terlampau jauh, jadi jika Menma berfikir dapat menyerang Naruto yang terlatih dengan kemampuan fisik maka dia salah besar.

"Menma! Naruto, hentikan!"

"Cerewet, [Curse]!"

Gunggg!!!!!

Lingkaran yang sama kembali muncul membelenggu semuanya, tidak ada yang dapat bergerak dan membeku pada posisinya. Naruto mulai melangkah pada Menma yang terkekang segel Curse, ia berjongkok disamping wajah kakaknya itu dan menatapnya datar.

"Lawan aku secara adil!" Ujar Menma yang tetap berusaha bergerak meski hasilnya nihil. 'Tubuhku mati rasa?! Sihir ini!? Kisama!

Sedikit dengusan dikeluarkan oleh Naruto, lalu menarik surai hitam Menma hingga kepala itu mendongak menatap dirinya. Mata violet bertemu iris merah Naruto yang menatap rendah Menma, ", apa kau sudah melihat perbedaannya?" bisik Naruto sinis lengkap dengan seringaian yang membuat Menma semakin kesalbawah rpedaan kekuatan yang sekarang kita miliki? Dulu aku memang sangat lemah hingga kau dapat memukuliku setiap saat, tapi sekarang? Bahkan menyentuhku pun kau tidak sanggup, lucu bukan?" ucapan Naruto cukup menohok Menma yang tidak dapat bergerak sedikitpun. Tapi, "Release... Kau ingin aku melawanmu secara adil? Aku akan lakukan. Sekarang, lawan aku, disini, saat ini juga!"

Segel itu terlepas, namun hanya untuk Menma dan tidak yang lainnya. Semua tatapan terlihat terkejut, tapi hal itu tidak mempengaruhi Naruto sama sekali dan tetap memasang posisi bertarung.

"Majulah."

Menma terdiam dengan pandangan kebawah, tanpa ada yang dapat menyadarinya, sedikit seringaian dikeluarkan oleh Menma. "Sebuah kesalahan," Dua lingkaran sihir terbentuk disamping kiri dan kanan Menma, berbeda dengan [line] biasa, lingkaran yang dia keluarkan kali ini memiliki tulisan mantra yang sangat rumit.

"Menma! Hentikan!!" Minato berteriak gelisah, "Jika kau melakukannya, kau tidak hanya akan membunuh Naruto tapi juga kita semua!"

"Berisik!" Hardik Menma penuh amarah, pemuda itu sama sekali tidak memperdulikan peringatan sang ayah. "Aku akan menghancurkanmu dengan sihir terkuatku!"

Naruto tidak merespon ancaman Menma, dia hanya berdiri tenang dan mengamati lingkaran sihir saudaranya yang mulai menunjukkan penggumpalan energi.

"AKAN KUHANCURKAN KAU SAMPAI HANCUR BERKEPING-KEPING!"

"Menghancurkanku? Bahkan menggoresku pun kau tidak akan sanggup,"

"Ha?"

Keadaan itu kembali sunyi. Menma yang membelalak ditempat dengan dua lingkaran sihir masih aktif, dan juga Naruto yang entah sejak kapan telah berada dibelakangnya dengan pisau khusus tergenggam ditangannya.

"Itu..." Kushina bergetar, ia melirik sang suami yang juga menatap Naruto terkejut.

"Hiraishin?" Beo Minato yang tetap tidak mempercayai kecepatan yang digunakan Naruto. Tapi, walaupun begitu,

"Aaarrggg!!!"

Menma tersungkur mencengkram bahu yang sobek akibat sabetan Naruto, kecepatan yang tidak dapat ia lihat. Pemuda itu melirik kebelakang disela rasa sakit yang mendera tubuhnya, dan saat itu juga, matanya menatap penuh kebencian.

Melihat seseorang yang diremehkan, yang selalu ia anggap sampah itu kini menatapnya rendah, semua itu membuat Menma sangat merasa dihina, apalagi di depan keluarganya sendiri.

Disisi Naruto yang melihat hal tersebut dengan pandangan tidak peduli, mengambil nafas singkat dan melepas semua [curse] yang dia tanamkan. Selanjutnya dia beralih pada Kushina yang berlari menolong Menma, namun ditolak oleh saudaranya yang masih mencoba berdiri dan melawannya walaupun dengan kondisi tangan lumpuh sebelah.

"Jangan kira aku akan kalah begitu saja! AKU TIDAK AKAN MENYERAH PADA SAMPAH SEPERT-"

"Hm...?"

Naruto menatap Minato setelah pria itu memukul tengkuk Menma dan membuatnya pingsan.

"Maaf. Maafkan kakakmu yang seperti ini,"

"Tidak perlu meminta maaf, tanpa kau ucapkanpun kau pasti tahu apa jawabanku." balas Naruto dengan nada rendah dan mulai berbalik. Sebelum keluar dari tempat itu, Naruto sempat berhenti beberapa saat dan kembali melirik Minato dan Kushina. "Selama 11 tahun hidupku sebelum ini, aku selalu menyaksikan kebencian dari klan ini terhadapku, kemuakkan yang keluargaku sendiri berikan. Dan aku sudah terbiasa dengan itu."

Keadaan dikamar tersebut cukup Hening, Minato, Kushina maupun Naruko sendiri bungkam akan perkataan Naruto. Sementara Azazel dan juga Irina tidak tahu harus melakukan apa, karena dari yang terlihat pun ini adalah masalah internal di keluarga Uzumaki, dan mereka sama sekali tidak memiliki hak untuk ikut campur.

Naruto menghela nafasnya dan berjalan keluar... "Jadi, seterusnya tetaplah seperti itu, tetap dengan kebencian yang kalian tunjukkan padaku karena..."

Dan entah mengapa, kalimat terakhir yang dikatakan Naruto begitu menusuk mereka semua.

"Aku akan membenci kalian dengan kadar yang sama."

.

Mask

Semua memiliki pencipta masing-masing.

Beberapa saat setelah usai dengan pertengkaran dingin yang dia lakukan pada keluarganya,. Naruto berjalan perlahan keluar dari daerah mansion yang pernah memberikan beberapa kenangan padanya.

Beberapa kali dia juga menjumpai penjaga yang dimiliki oleh klan, namun itu dirasa bukanlah hal yang perlu dia tanggapi. Menggunakan kemampuan curse yang sebagian besar telah dia pahami, dia membekukan seluruh penjaga klan agar tidak mengganggunya tadi.

Tentu itu bukanlah hal mudah, tubuhnya seperti akan hancur kali ini-sungguh. Rasa perih dan juga beberapa rasa terbakar melanda tubuhnya, dan puncaknya adalah ia harus jatuh berlutut ditengah jalan kawasan Uzumaki.

"Sepertinya, aku terlalu memaksakan diri." Naruto berguman miris disela rasa sakit yang dia rasakan, sedikit mencengkram dada kirinya ia kembali mencoba berdiri. "Aku tidak mau berada disini." Tubuh itu berjalan lagi, namun baru beberapa langkah ia kembali kehilangan kesadaran.

.x.

Akhir-akhir ini terasa merepotkan.

Itulah yang dipikirkan Naruto. Tenggelam dalam alam bawah sadarnya sendiri, Naruto memandang seorang Murasame yang terbaring lemah di atas balok hitam besar. Mata pemuda itu sendiri menatap langsung wajah Murasame yang terlihat begitu tenang.

Melihat hal ini tentu Naruto merasa bersalah, karena penyebab Murasame mengalami kehabisan Mana seperti ini adalah karena dirinya yang menyerap terlalu banyak Mana milik Murasame. Naruto bahkan sempat lupa jika besar mana dan kekuatan roh pedang legendaris itu mengikuti dirinya, yang artinya Mana milik Murasame disini juga sama lemahnya dengan tuannya.

Setelah puas dengan hanya memandangi Murasame, Naruto kini mengambil tempat duduk disamping roh itu. Sedikit mengadah ke atas dimana hanya ada warna gelap disana, Naruto kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi.

"Sihir yang akan digunakan Menma tadi, apakah itu Forbidden?" Guman Naruto bertanya, dia sendiri cukup bingung akan elemen yang di gunakan Menma tadi. Menurut yang ia lihat selama ini, ia cukup mengetahui tentang basis kekuatan keluarganya, tapi setelah melihat Menma tadi sepertinya dia harus menarik perkiraannya lagi.

Harus dia akui memang, keluarga Uzumaki itu memiliki kekuatan yang hebat. Minato yang mampu memanipulasi dimensi ruang waktu dan menguasai banyak jenis sihir, Kushina yang telah memasteri sihir khusus klan, Karin yang juga memiliki kemampuan seperti ibunya, Menma dan juga... Naruko.

Naruto tidak terlalu yakin tapi, mungkinkah kembarannya itu memiliki kekuatan yang sama sepertinya?

"Menyebalkan!" Pemuda itu mengusap kepalanya kasar, merasa frustasi sendiri ketika kembali memikirkan tentang orang-orang itu. Irisnya mengedar dan kembali pada Murasame.

Naruto kembali membuang nafas berat.

"Semua ini terlalu berat untukku."

Masalah masalah yang ia hadapi beberapa waktu ini memang cukup sulit, dan itu juga cukup mengganggu mentalnya. Naruto merasa fisiknya mulai melemah dan kepalanya yang terasa seperti terus ditekan, dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.

"Arrgg!! Aku bisa gila!"

Dan akhirnya dia hanya mampu mengacak surai pirangnya (lagi).

"Goshujin... Sama."

"Kau baik-baik saja, Murasame?" Tanya Naruto tenang dan menyentuh kepala bersurai hitam itu.

"Hum... Hanya saja [mana] ku belum sepenuhnya terisi."

"Begitu, kah..."

Keadaan di sana cukup hening, Naruto yang hanyut dalam pikirannya dan juga Murasame yang menatap tuannya dalam.

"Goshu-"

"Maafkan aku, Murasame."

Roh itu membungkam mulutnya dan menunggu Naruto melanjutkan perkataannya.

"Karena aku yang tidak dapat mengendalikan diri, kau menjadi seperti ini." Ujar Naruto pelan, dan keadaan kembali hening.

"Ie~bukankah saya sudah mengatakan jika semua yang saya miliki sekarang adalah hak Goshujin-sama? Sejak awal, saya lah yang telah memilih Goshujin-sama sebagai tuan, jadi apapun resiko yang akan saya terima nanti, akan saya terima."

"Murasame, kenapa... Kau memilihku?" Tanya Naruto tetap dengan ketenangan yang dirinya miliki, pemuda itu sama sekali tidak menatap Murasame, bahkan tanpa merespon pergerakan roh yang beberapa waktu belakangan telah menemaninya itu.

Murasame mencoba memposisikan diri disamping tubuh tuannya, namun karena fisik yang ia gunakan saat ini terlihat kecil maka dirinya harus sedikit mengadah agar dapat melihat ekspresi Naruto sebelum membuang nafasnya berat.

"Apa ya?"

"Aku merupakan Wizard terbuang karena tekanan [mana] yang sangat kecil, bahkan menciptakan lingkaran sihir aku tidak mampu. Sementara kau, senjata legendaris yang mampu membunuh hanya lewat goresan kecil, pedang dengan sihir kutukan terkuat dikerajaan. Tapi, mengapa setelah kau memiliki semua gelar itu, kau malah memilihku?"

"Menurutku, karena Goshujin-sama adalah Goshujin sama."

Naruto beralih memandang roh perempuan itu tidak mengerti.

"Aku menyukai Goshujin-sama yang tetap berlatih keras walaupun orang lain mengatakan bahwa anda akan tetap gagal, aku menyukai Goshujin-sama yang dengan percaya diri mengatakan 'Aku akan menjadi kuat!' Saat orang lain mengatakan 'Kau anak lemah'. Aku menyukai semua yang ada pada Goshujin-sama, tatapan biru itu, sikap yang tenang, dan juga..." Murasame berhenti dan menyentuh dada Naruto, roh itu tersenyum kecil menatap sang tuan yang terdiam mendengarkan. ".. Keteguhan yang Goshujin-sama miliki."

Naruto terkekeh mendengar ucapan Murasame, sedikit mengacak surai hitam roh yang menghuni alam bawah sadarnya, ia kembali memandang ke atas. "Perkataanmu tadi sangat indah, tapi faktanya aku ini hanya seorang pendendam."

"Wajar saja, Goshujin-sama mengalami penderitaan yang diterima dari keluarga sendiri, aku cukup mengerti jika itu dapat menimbulkan beban mental yang berkumpul dan membentuk perasaan benci yang Goshujin-sama miliki sekarang. Tapi, aku yakin jika Goshujin-sama juga tidak membenci mereka semua."

Naruto mengubah ekspresi wajahnya, sejujurnya dia tidak mau membicarakan topik ini. Tentang saudari kembarnya...

"Aku memang tidak dapat membencinya, sekuat apapun aku membenci keluargaku tapi aku tetap tidak dapat melihat Naruko dengan kebencianku. Aku hanya kecewa padanya yang membohongi dirinya sendiri." Ucap Naruto dingin dengan tangan mengepal cukup erat, beberapa tahun dia memutuskan untuk menjauh dari Uzumaki dan dia tidak lagi memperhatikan Naruko. Tapi apa yang dia lihat tadi sungguh berbeda..

Sejak kapan Naruko memiliki wajah seperti itu?

"Apakah dia menderita?"

"Saya tidak tahu tapi, tatapan itu seperti ingin mengatakan sesuatu pada Goshujin-sama."

Naruto menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Murasame. "Aku tidak berpikir seperti itu, tapi sudahlah, tidak terlalu penting." Ujarnya kemudian. "Ada yang aneh?" Sambungnya cepat ketika menyadari tatapan yang diberikan Murasame padanya.

"Ie, hanya sedikit heran melihat anda begitu tenang setelah semua yang terjadi, apalagi mengingat tubuh anda tergeletak diluar sana."

Murasame mengatakan itu dengan nada sedikit heran, dia mengira akan melihat Goshujin-sama nya menujukkan sikap emosional tapi ini kebalikannya.

"Aku hanya memikirkan tentang kekuatan Forbidden yang aku miliki, jika benar kekuatanku seperti itu, bagaimana aku melatih diri nanti. Dan mengenai tubuhku, aku bisa mempercayakan pada orang yang menemukanku."

Melihat tatapan Naruto, Murasame sama sekali tidak membantah, lagipula sepenuhnya dia percaya pada tuannya. Dan mengenai kekuatan yang Naruto miliki, ia agak merasa bersalah karena telah menyembunyikan semuanya.

"Maafkan saya, Goshujin-sama."

Sesal Murasame dan hal itu membuat Naruto memandangnya aneh.

"Maaf untuk apa?" Tanya Naruto menatap Murasame.

"Tentang kekuatan Forbidden Goshujin-sama." Sesal Murasame tanpa membalas pandangan heran yang tuannya tunjukkan. "Jika saya mengatakan tentang apa yang saya ketahui mengenai kekuatan Goshujin-sama, maka hal ini tidak akan terjadi, dan Goshujin-sama juga tidak harus menunjukkan kekuatan pada mereka."

Murasame tahu lewat jalinan link yang mengikatnya bahwa sebenarnya tuannya ini tidak ingin berurusan dengan beberapa pihak, dan itu termasuk klan Uzumaki. Seandainya Murasame mengatakan tentang kekuatan yang dimiliki Naruto, mungkin saja dia dapat mencegah kejadian ini terjadi.

Dia pikir dengan tidak mengatakan pada Naruto dan membuat pemuda itu mengetahui tentang potensi kekuatannya akan membuat Naruto lebih mengerti tentang bagaimana dirinya. Murasame berharap bahwa tanpa dia Naruto akan berkembang dengan kemampuannya sendiri.

Tapi, ternyata dia salah. Murasame lupa jika Naruto hanya pemuda yang naif, ia lupa jika Naruto tidak memiliki cukup pengalaman mengenai sihir seperti dirinya yang telah hidup selama ratusan tahun sebagai roh.

"Aku malah berterima kasih dengan itu."

"Ha, a-apa maksud Goshujin-sama?" Tanya Murasame yang memandang Naruto heran.

"Berkat kau yang tidak memberitahuku mengenai kekuatan Forbidden ini membuat aku mengerti tentang kekuatanku sepenuhnya."

Tunggu, bukankah itu...

"Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu, Murasame. Dan sekarang sudah saatnya aku menggasah kekuatan yang telah ada dalam tubuhku,." Naruto mengucapkannya dengan pandangan tegas, dan itu cukup membuat Murasame terkejut. "Setelah itu, akan aku ubah tatanan dunia dengan kekuatanku!"

.x.

Istana kerajaan (Meeting Room)

Atas insiden beberapa waktu lalu, para tetua kerajaan dan juga kepala klan utama melakukan pertemuan mendadak. Karena kejadian 16 tahun yang juga didalangi sosok yang sama membuat semua pihak waspada, tentu saja agar mereka dapat mengantisipasi rencana dari orang yang paling ditakutkan untuk mengancam kedamaian mereka.

Sayangnya, pertemuan kali ini tidak dihadiri oleh beberapa tokoh penting seperti Hashirama dan juga Tobirama senju selaku penguasa dikerajaan ini. Sebagai gantinya, pihak Senju mengirim penerus mereka untuk melakukan rapat ini.

Di sudut paling terlihat pada ruang pertemuan itu duduk seorang remaja perempuan yang teramat cantik dengan surai putih perak tergerai. Tatapan remaja itu terlihat serius, sangat pantas jika dia adalah anak dari seorang Tobirama senju yang memiliki watak hampir sama, serius hampir disetiap waktu.

"Semua sudah hadir, walau beberapa kepala klan yang tidak dapat hadir dikarenakan tengah menjalankan kunjungan klan saya rasa tidak masalah untuk memulai rapat ini." Shikaku Nara sebagai moderator mengucapkan kata pembuka, ia pandang satu persatu kepala klan sebelum mengambil nafas. "Tidak perlu saya beritahu, pasti kalian mengerti benar mengapa rapat ini terjadi."

"Sebelumnya aku sudah mengatakan agar kepemilikan Kyuubi berpindah ke tangan pemerintah, dengan begitu maka semua pihak akan memasang dan tidak terjadi kecolongan seperti 16 tahun lalu. Tapi, karena Minato-dono mengatakan bahwa klannya sanggup menyimpan kunci Kyuubi dan banyak dari kalian semua mendukungnya, maka aku memilih diam." Perwakilan dari Sarutobi klan melirik Minato yang duduk berseberangan dengannya setelah membuka percakapan diruangan in, pria berperban itu mendesah lelah dan menyesalkan kelengahan Minato. "Tapi apapun yang akan aku katakan sekarang tidaklah penting karena bagaimanapun juga Kyuubi sudah berpindah tangan, bukankah begitu Minato-dono?"

Minato tidak dapat menjawab pertanyaan itu, karena ia memang salah dalam hal ini.

"Pria yang hanya bungkam saat dirinya disudutkan, hmp! Uzumaki memang menyedihkan, klan tinggi yang berubah menjadi klan lelucon." Pemuda dibelakang Danzo menyahut pelan, didalam ruangan seperti ini memang apapun dapat dikeluarkan, termasuk sebuah pendapat dari pribadi masing-masing.

Minato yang mendengar cemoohan dari heiress Sarutobi hanya mampu menahan kekesalannya, ia tidak dapat menunjukkan emosinya disini, tidak jika dia ingin menjaga kehormatan dan juga kewibawaannya. Pria itu membuka kelopak matanya dan menatap Konohamaru tenang. "Perkataan anda sangat tidak sopan, Konohamaru-san. Apakah seperti ini penerus klan Sarutobi? Sangat tidak pantas." Ujar Minato dan melirik Danzo.

"Tch, Kisama-"

"Diam, Konohamaru! Jaga ucapanmu atau kau hanya akan membuat malu nama Sarutobi!" Hardik Danzo tegas sambil memberikan lirikan pada anak kakaknya itu.

"Cih!"

Minato tersenyum puas melihat hal itu.

"Baiklah, Minato-dono, adakah yang ingin anda sampaikan?" Shikaku kembali membuka suara bertanya, dan itu disambut anggukan oleh Minato.

"Sebelum saya dari perwakilan Uzumaki memulai pembicaraan, Izinkan saya meminta maaf atas nama klan karena kejadian ini." Minato mengambil nafas sejenak, dan ia kembali melanjutkan. "Masalah ini memang bersumber dari satu orang saja, sosok Wizard berkemampuan Forbbiden memanipulasi ruang dan waktu, sosok Wizard dengan kekuatan yang kita asumsikan setara dengan Hashirama-sama, dia adalah Kinpatsu. Pertama kali muncul, dia mengincar Menma karena kemampuan Forbidden yang dapat memanipulasi [Mana] bayangan atau sering kita sebut sebagai [Meiton] (Dark Release)-"

"Tunggu! Kau tidak mengatakan jika anakmu dapat memanipulasi Meiton pada kami?! Kau tahu betul kengerian apa yang bisa dia dapat dan juga resiko besar yang mungkin terjadi jika dia tidak mendapatkan penanganan khusus, Minato-dono?!" Salah satu kepala klan menatap Minato tajam.

Sementara Minato mendesah pelan, "Aku tahu, tapi aku bisa menjamin jika Menma dalam kontrol yang sangat baik."

"Maaf menyela, tapi ucapan Inuzuka-dono ada benarnya. Meiton merupakan sebuah Mana Yin, artinya itu cukup berbahaya dan dapat mengancam penduduk karena mengambil sisi gelap alam."

"Aku tahu itu, Hyuuga-dono. Untuk alasan itu aku akan menjelaskannya dilain waktu, dan akan kembali pada pembahasan utama kita. Mengenai Kinpatsu, mengapa dia kembali? Itu adalah hal yang perlu kita semua ketahui."

"Bukankah sudah jelas, dia memburu Kyuubi?" Danzo kembali memotong penjelasan.

"Itu salah satu yang dapat aku sampaikan, tapi ada beberapa hal lagi yang dia inginkan, terutama adalah dia menginginkan Revolusi dunia." Jawab Minato serius hingga membuat hampir semua orang disana berkerut bingung.

"Revolusi?"

"Apa maksudnya?"

Pertanyaan yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Minato itu sama sekali tidak dapat memuaskan semuanya. "Saya juga tidak tahu, tapi satu yang pasti jika menyangkut Kinpatsu maka hanya kehancuran yang akan kita dapat."

Fugaku mengambil nafas tenang, perwakilan dari klan Uchiha itu memandang Minato intens sebelum membuka suara. "Itu terlalu mengada-ngada, Minato-dono."

"Apa maksud anda, Fugaku-dono?"

"Jika memang apa yang akan kita hadapi adalah kehancuran maka harusnya kita sudah hancur, coba kalian berfikir, seorang berkekuatan mengendalikan waktu dan juga ruang sesuka hati, memiliki kendali penuh atas Kyuubi, dan dari yang kudengar dia memiliki organisasi atau semacam perkumpulan yang dihuni wizard-wizard Rank-s. Bukankah dengan semua itu dia dapat menghancurkan kerajaan ini dalam satu jetikkan jari?"

Fugaku menarik nafas dan kembali melanjutkan...

"Mungkin kita berpikir bahwa Hashirama dan juga Tobirama-sama mampu menangani Kinpatsu, atau kekuatan kami klan Uchiha yang mampu mengendalikan seekor Beast dapat mencegah jikalau dia menggunakan serangan Beast. Tapi, kalian lupa jika hanya legenda Uchiha saja yang mampu memaklukkan Kyuubi,."

"Apa maksud anda, Uchiha Madara?"

Fugaku mengangguk membenarkan. "Ha'i, dengan kekuatannya dia mampu mengendalikan Kyubi sesuai kehendaknya, tapi seperti yang anda tahu bahwa beliau menghilang beberapa puluh tahun lalu. Jadi saat ini hanya Hashirama-sama yang mampu menahan Kyuubi, atau paling tidak kita harus menyegel Kyuubi jika Kinpatsu kembali menyerang."

Semua kepala klan terlihat terdiam memikirkan ucapan dari Fugaku, namun tidak dengan Danzo yang sepertinya memilik sebuah rencana lain yang ia persiapkan.

"Kurasa tanpa Uchiha kita masih sanggup untuk menahan gempuran Kyubi jika memang Kinpatsu berniat menggunakannya." Danzo membuka mata tajamnya, ia pandangi raut wajah terkejut dari para kepala klan termasuk juga Fugaku.

"Apa maksud anda?" Minato bertanya pelan sambil mengarahkan pandangan was-was pada Danzo, entah mengapa perasaannya merasa cemas kali ini.

"Tanpa bantuan sihir spesial Uchiha? Apa anda serius?" Sahut Hiashi Hyuuga tidak kalah terkejut.

"Ini juga merupakan topik yang harus kita tuntaskan. Mungkin, beberapa dari kalian juga sudah tahu mengenai sebuah magic [Curse] yang menghentikan pergerakan hampir semua pasukan kerajaan ketika serangan terjadi?"

"Ya, aku juga mendengar itu."

"Tapi tetap saja itu mustahil dilakukan! Curse terlalu berbahaya! Maka dari itu penggunaannya dibatasi oleh Hashirama-sama dan harus menjalani beberapa pelatihan khusus untuk menggunakannya. Lagipula, sihir semacam itu termasuk ke dalam tipe sihir langka."

"Curse," perempuan berambut perak itu bergumam pelan, semenjak tadi dia terdiam dan hanya memperhatikan pembicaraan. Tapi, kali ini ada topik yang membuat dirinya tertarik.

"Sistine-sama, anda tahu mengenai sihir ini?"

"Tentu saya tahu, Danzo-dono. Sihir ini sudah terkenal sejak jaman kakek moyang, dan tipe sihir ini juga yang digunakan Kaguya-sama untuk menyegel kekuatan Satan. Banyak tipe [Curse] di dunia ini dan juga benda yang menyalurkan [curse] juga banyak dibuat, tapi yang paling termasyur adalah Murasame yang memegang gelar One Cut Killing, dan sebuah kebetulan juga benda itu ada di tangan klan anda. Apa, itu berarti anda akan menggunakan Murasame sebagai pertahanan kita? Tapi, aku pikir tidak ada yang mampu menggunakan Murasame, termasuk Hiruzen-dono."

"Memang kekuatan kutukan Murasame adalah yang terkuat, dan tenang saja, saat ini pedang itu telah dapat digunakan."

Tanpa ada yang menyadari, genggaman tangan Konohamaru mengerat. Dia tahu betul apa yang akan dibicarakan oleh pamannya itu, dan ia.. Sangat tidak suka.

"Apakah, Konohamaru-kun yang sudah mengaktifkan senjata itu?" Tanya Sistine menatap Konohamaru, perempuan itu sedikit mengernyit heran ketika melihat wajah gelap salah satu temannya itu. Ya, mereka adalah teman di Academy sihir yang sama, tingkat mereka pun sama, tingkat 9 dan hampir menyandang gelar Wizard Rank-A termuda.

Danzo menggerakkan kepalanya, membantah secara langsung pertanyaan yang diajukan Sistine padanya. "Sayangnya, bukan. Dia-"

"Maafkan saya atas keterlambatannya."

Pertemuan sedikit terhenti setelah dari belakang Fugaku tercetak satu lingkaran teleportasi khas Uchiha, dari sana muncul seorang Itachi yang membungkuk hormat pada setiap perwakilan klan.

"Itachi-san, sangat tidak pantas menggunakan teleportasi ditempat ini." sindir Shikaku selaku Moderator pertemuan kali ini.

"Aku yang bertanggung jawab atas ini, Shikaku-dono." Fugaku merespon datar dan itu mendapatkan beberapa tanggapan tidak suka. Akan tetapi, seakan tidak peduli dengan itu semua, Fugaku kembali membuka suaranya. "Kau sudah membawanya Itachi?" Tanyanya tanpa menatap sang anak.

"Ha'i, kebetulan juga dia sudah sadar." Jawab Itachi dan kembali menciptakan satu sihir teleportasi.

"Apa yang anda lakukan?"

"Tenang saja Shikaku-dono, saya membawa seseorang yang mungkin dapat memecahkan masalah ini."

"Tunggu, itu..."

.x.

Uchiha (Distrik Utama)

Uchiha Shishui, nama itu mungkin akan selalu dikenang sebagai pengguna Teleportasi yang hampir menyamai seorang Lord di usia yang terbilang sangat muda. Bukan hanya itu, dia jugalah satu-satunya wizard dari Uchiha yang mampu menggunakan sihir ilusi tingkat tinggi.

"Hah,"

Namun entah apa yang dipikirkan wizard berbakat itu hingga terlihat cukup gelisah.

"Kau menghela nafas? Tidak biasanya kau bersikap seperti ini, Shisui."

Shisui tidak perlu melihat kebelakang, ia tahu betul suara yang telah akrab di indera pendengarannya ini.

"Ayah, kupikir kau mengikuti pertemuan itu."

"Fugaku sudah mewakili klan, lagipula Itachi juga ikut andil dalam pertemuan itu."

"Begitu,"

"Apa ada yang kau pikirkan, Shisui? Dan bagaimana misi terakhir yang kau jalankan?"

Shisui melepaskan sepatu khusus yang dia gunakan, sedikit mendesah pelan ia melirik ayahnya yang berdiri dibelakangnya. "Ini pasti akan sedikit mengejutkan untuk kita," ujarnya dan menyangga tubuhnya dengan kedua tangan, mata hitam itu memandang ke atas dimana bulan tengah ada dalam bentuk sempurna malam ini. "Ayah tahu mengenai organisasi yang menyebut mereka sebagai penerus Rezevim?"

Uchiha Kagami mengangguk mengiyakan, tentu dia tahu organisasi yang beberapa bulan terakhir ini mencoba menerobos pertahanan kerajaan. "Apa kau mengetahui informasi tentang mereka? Atau apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?"

"Aku sedikit beruntung karena berhasil membawa informasi ini ke dalam desa, jika aku salah mengambil tindakan disana pastilah nyawaku akan melayang saat itu juga."

Selama beberapa minggu ini Shisui mendapatkan misi keluar daerah dan mencari informasi mengenai organisasi yang mengancam kerajaan, alhasil, ia berhasil menyusup ke dalam satu organisasi yang beberapa waktu lalu menyerang kerajaan. Sebagai pasukan pengintai yang telah berpengalaman dalam penyusupan, Shisui dapat dengan mudah masuk ke dalam organisasi itu dan mengumpulkan beberapa informasi.

"Aku berhasil mengetahui rencana yang akan mereka lakukan, dan itu termasuk menyerang kerajaan untuk mendapatkan beberapa senjata kita dan mengambil sebuah benda yang disimpan oleh Hashirama-sama."

"Maksudmu?"

"Senjata kerajaan yang mampu mengendalikan Es."

"Mustahil. Apa mereka berpikir itu akan dapat dilakukan dengan mudah? Kerajaan kita adalah tempat paling aman untuk menjaga sesuatu, kita memiliki banyak Wizard kuat yang menjaga basis pertahanan."

Shisui mengambil nafasnya sejenak, sebenarnya ia juga terkejut akan kekuatan asli mereka.

Pemuda itu melirik ke arah kakinya dan mendapati bahwa seekor kucing peliharaannya sedang menggesek kakinya menggunakan kepala berbulu lembutnya., "tapi ayah, kualitas akan dapat mengalahkan kuantitas sebanyak apapun itu" Jawab Shisui sambil memberikan elusan pada kucing itu. "Aku sendiri berharap Hashirama-sama akan mengambil keputusan yang tepat setelah ini."

"Shisui..."

Mata lembut Shisui menajam dan pandangan itu mulai terlihat amat serius.

"Karena, seseorang yang kita takutkan berada dipihak mereka."

.x.

Teritori Luar Kerajaan Pusat

Tapak kaki mengalun pelan ditengah suara hewan malam di kawasan terluar dari kerajaan pusat, menilik lebih dekat maka akan dapat terlihat siulet seseorang yang berjalan pelan menuju sisi lain tempat itu. Dari arah air terjun yang berada didepan hutan, telah menunggu sosok pria dengan tampilan cukup mengerikan.

"Datang juga kau," Gumanan pria itu seolah menyambut kedatangan seseorang yang mulai keluar dari balik bayangan hutan.

"Kontrak tetap kontrak, bukan?"

"Fufufu, kau memang pengertian sekali, Kinpatsu-san."

Panggilan itu membangkitkan tawa dari balik topeng polos, sosok Kinpatsu yang keluar dari hutan mulai mendekat ke arah pria yang tengah berdiri ditepi air terjun.

"Kau sudah membuat beberapa kegaduhan rupanya, tidak kusangka kau melakukan hal itu pada penduduk kota Kiri." Kinpatsu terkekeh pelan dan berhenti berdiri dibelakang pria itu.

"Mereka pantas mendapatkannya, lagipula hal itu cukup menyenangkan." respon pria tersebut bersama tawa sinis yang keluar dari bibirnya.

"Dasar gila, kau meracuni ribuan penduduk dengan racun mematikan dan tanpa menyesal menurunkan pasukanmu untuk menguasai mereka, membantai, dan juga memusnahkan tempat itu. Ckckck,"

"Tch! Urusai, cepat berikan kontrak itu, Kinpatsu! Aku tidak peduli dengan pendapatmu itu, aku hanya ingin kontrak itu ada padaku!"

"Kau memang tidak sabaran ya," ujar Kinpatsu lalu mengambil sebuah gulungan dari balik jubah yang ia kenakan. "Ini, Kontrak Kyubi yang kau inginkan."

Gulungan itu berpindah tangan, tanpa berbalik pria tadi menyeringai senang melihat sebuah gulungan kontrak telah ada ditangannya. "Bagus! Bagus sekali! Dengan ini aku bisa menghancurkan kerajaan terkutuk itu dan mengambil senjata terkuat!"

"Heh..." Mengabaikan pemandangan itu, Kinpatsu mulai berbalik meninggalkan pria yang terlalu bersemangat setelah mendapatkan kontrak darinya. "Sebagai seseorang yang sekarang membantumu, aku hanya ingin mengatakan beberapa kata padamu,"

"Apa itu?"

"Jangan terlalu gegabah dalam bertindak, terkadang kau tidak tahu senjata yang kau gunakan itu akan berhasil atau tidak."

"Tch! Simpan peribahasamu saat aku menaklukan kerajaan itu, Kinpatsu."

Keangkuhan dapat dilihat dengan jelas oleh Kinpatsu, ia sama sekali tidak merespon ucapan pria itu dan lebih memilih memasuki portal hitam yang telah ia persiapkan.

"Terserah padamu, dan semoga kau beruntung."

.x.

"Itachi-san, apa maksudnya ini?" Shikaku bertanya, ia memandang Itachi dan seseorang yang berada disamping Itachi bergantian. "Kenapa anda membawanya kemari?"

"Yah, karena dia juga merupakan topik yang akan kita bahas sekarang?" Fugaku menjawab pertanyaan tanpa memandang yang lainnya.

"Apa maksud anda, Fugaku-dono? Dan apa hubungan penyerangan Kinpatsu dengan bocah ini?"

Fugaku membuang nafasnya, "kurasa Minato dan Danzo lebih mengetahui tentang ini, atau paling tidak akan kita tanyakan pada Minato yang melihat semuanya walau hanya sesaat, karena aku yakin dia masih memiliki banyak hal yang perlu disampaikan." Ujar kepala klan Uchiha itu rendah.

Minato sendiri sedang ada dalam kebimbangan saat ini. Takut, mungkin saja itu yang ia rasakan saat ini. Suaranya tercekat ditenggorokkan ketika mata biru kosong itu menatapnya datar, wajah yang sama sekali tidak menunjukkan perasaan yang dirasakannya. Minato tidak tahu jika pemuda itu memiliki tatapan yang begitu menusuk seperti sekarang, bahkan dia baru pertama kali ditatap seperti ini oleh seseorang.

Namun, semua itu segera ia hilangkan dan mengambil sikap tenang. Dia adalah seorang Lord, dan tidak sepantasnya dia gugup karena masalah pribadi.

"Dia Uz-"

"Naruto." Ucapan itu sangatlah menusuk dan memotong habis tekat Minato untuk membicarakan tentang jati dirinya. Sedikit mengambil nafasnya, ia tatap peserta perkumpulan itu satu persatu. Merendahkan, kecurigaan, keherana n, kebencian, dan terakhir adalah iris hijau-emas yang menghindar dari pandangannya.

"Jadi, apa maksud kedatanganmu kemari?"

Naruto kembali berhadapan dengan Shikaku lalu mengendikkan bahunya acuh, "Entahlah,"

"Jangan main-main anak muda, kau sedang berada diruang rapat tingkat tinggi! Jadi jaga kesopananmu."

"Hoooh..." Hanya sebuah gumanan yang Naruto keluarkan, ia sendiri menatap seorang pria berperawakan acak dan ia tahu jika pria tersebut adalah pimpinan dari klan Inuzuka, salah satu klan dengan kemampuan fisik diatas rata-rata. 'Pantas saja sikapnya agak liar'

"Kita permudah ini." Danzo mengambil nafasnya setelah melihat tingkah dari pemegang senjata milik klan Sarutobi itu, sebenarnya ini adalah pertemuan pertamanya dengan Naruto karena selama ini ia hanya menurunkan Haku dan Pakura untuk mengawasinya. "Dia adalah murid dari kakakku sekaligus pemilik selanjutnya dari pedang terkutuk, Murasame. Dan dia juga yang telah membuat hampir seluruh pasukanku lumpuh."

"Dengan kata lain,"

"Bisa dibilang dia yang menghadapi Kyuubi dan juga Kinpatsu, benar begitu Danzo-dono."

"Anda benar, Fugaku-dono. Juga ada Azazel dan seorang Priest yang telah menghadapinya secara langsung."

Naruto menguap bosan, jika bukan karena paksaan Itachi yang memintanya datang kemari maka ia tidak akan pernah datang. Lagipula ia terlalu malas untuk meladeni pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan padanya, berurusan dengan petinggi seperti mereka memang merepotkan.

Tapi mau bagaimana lagi jika dia memang masuk ambil bagian dalam kejadian itu, walaupun memang dia terpaksa masuk kedalam masalah terlepasnya Kyuubi karena khawatir dengan keselamatan Irina.

Ah-benar juga, dia sampai melupakan Irina karena masalah ini, juga Yuzuru dan Kaguya yang terlihat bersama tadi. Naruto sama sekali tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan mereka, setelah dia sadar tadi tiba-tiba saja Itachi datang menyeretnya dan hanya mengatakan 'Kau membuat masalah, lagi'

Tch, si keriput ini memang benar-benar menyebalkan.

"Jadi, kau dapat menggunakan pedang terkutuk itu, bocah?"

Naruto sedikit berjengkit kaget. Rupanya dia terlalu banyak melamun, hah~Hari ini memang benar-benar merepotkan.

"Ya."

"Sejauh mana kau dapat menguasainya?"

Naruto mendengus mendengar pertanyaan dari kepala klan Inuzuka, "Hanya orang bodoh yang mengungkapkan sebesar apa kekuatannya." balasnya sengit dan membuat Inuzuka berteriak jengkel.

"Naruto-san, karena anda pemegang salah satu senjata kerajaan maka sudah seharusnya anda memberikan semua spesifikasi kekuatan anda, mengingat untuk mendapatkan hak atas senjata kerajaan sangatlah sulit maka paling tidak turuti peraturan yang ada dan jangan dipersulit. Anda, tidak mau bukan, jika hak Murasame akan kembali pada pihak kerajaan?" tanya Shikaku disertai dengan sebuah ancaman didalamnya, namun bukannya gelisah justru Naruto menyunggingkan senyum pongah.

"Kau dengar itu, Murasame? Mereka ingin mengambilmu dariku."

Tanpa ada perintah dari siapapun, Murasame muncul dalam bentuk pedang dihadapan Naruto. Cahaya hitam menyeruak dan menimbulkan sedikit tekanan yang membuat ruangan terasa berat, sebuah lingkaran sihir kecil terbentuk di bawah ujung Katana dan Naruto tersenyum melihat hal itu.

"Kau!?"

"Apa yang akan kau lakukan, idiot?!"

Naruto membuang nafasnya, "ini bukan kehendakku melainkan Murasame sendiri, kalian bisa lihat dengan jelas bahwa aku tidak melakukan apapun. Tapi, menurut Murasame ancaman yang dikeluarkan Shikaku-san tadi sangat membuatnya marah, jadi jangan salahkan aku jika dia akan menggunakan kutukan untuk membunuh kalian."

Bagi beberapa orang yang melihatnya menganggap bahwa ancaman itu memang nyata, apalagi melihat mana hitam pekat yang dikeluarkan oleh Murasame membuat mereka agak bergetar. Namun, bagi Danzo juga Minato yang memang tahu jika Naruto tidak dapat-tepatnya belum dapat menggunakan Murasame secara penuh hanya memasang sikap biasa.

Danzo kembali mengambil nafas tenang, "Bisa kau tenangkan senjatamu, Naruto-san?" ujarnya pelan.

Naruto tahu jika Danzo mengerti betul akan tingkat kekuatannya saat ini, itu ditunjukkan dari sikap Danzo yang tetap menunjukkan ketenangan. Sedikit berat hati, Naruto sentuh Murasame dan seketika itu juga tekanan didalam ruangan menghilang sepenuhnya.

"Bagus," Danzo berguman pelan dan kini memandang Naruto serius, "jadi, mari kita lanjutkan pembahasan tadi."

-xXx-

Pagi ini, setelah melewati malam yang cukup panjang ini dan itu serta membuat dirinya cukup kelelahan, Naruto bersyukur dia dapat kembali ke dalam kehidupan normalnya. Berjalan sembari beberapa kali dia menghela nafas melihat beberapa respon murid disekolah sihir kerajaan, agaknya dia harus mempertebal telinganya untuk mengabaikan cemooh an yang kembali dia dengar.

"Tidak ada yang senyaman rumah sendiri, heh? Aku bahkan lebih suka saat ada di Britain daripada disini."

Tapi walaupun begitu dia agak dapat mengambil nafas lega ketika bebeberapa kesepakatan ia peroleh di dalam pertemuan tadi malam, salah satunya adalah mereka tetap tutup mulut tentang kekuatannya dan hanya pihak petinggi yang bisa mengetahuinya, itu dinilai sebagai imbalan atas jasanya yang turut ikut andil besar dalam menghentikan pergerakan Kinpatsu.

Meski dia dapat meminta lebih atas tindakannya tempo hari, tapi ia rasa dia tidak perlu hal lain selain kerahasiaan tentang jati diri juga kekuatannya. Naruto tidak mau repot akan kehebohan yang terjadi nanti jika ada rumor menyebar tentang bagaimana seorang pecundang seperti dirinya dapat melawan Kyuubi.

Selain itu, dari kesepakatan tadi malam ia juga akan mendapatkan pelatihan khusus dari dua orang wizard rank-S dalam rangka menyempurnakan pengendaliannya terhadap senjata kerajaan. Rencananya, dia akan bertemu dengan dua wizard itu tiga hari dari sekarang.

Dan untuk hari ini dia tidak akan terlalu memikirkan masalah itu, yang terpenting baginya adalah...

"Naruko Ojou-sama, kira-kira pelatihan hari ini akan seperti apa?"

"Aku tidak tahu, Tenten-san. Tapi kupikir akan sama seperti minggu lalu."

"Wah, kupikir karena kita semua sudah berada di tingkat 8, Jiraiya-sama akan memberikan pelatihan khusus."

"Ahahaha, mungkin saja Aya-chan."

Senyum dari perempuan yang merupakan kembarannya itu membuat Naruto sedikit termenung, tidak lama setelahnya ia segera tersadar dan melangkah mendekat. Tujuan utama dia datang keAcademy sihir hari ini bukanlah melihat kembarannya saja.

"Aa..."

Suara Naruko tercekat ditenggorokan, pandangan mata biru seorang Naruto menatap dirinya dalam, tidak ada yang tahu maksud dari pemuda yang tengah berdiri di depannya itu termasuk dia sendiri.

"N-Na-Naru.. To." Suara Naruko tergagap dan sama sekali tidak dapat menatap mata saudaranya.

"Hooh," Naruto merespon dengan menatap Naruko dan mengabaikan pandangan menusuk dari arah murid Academy ini.

"N-Naruto, a-aku."

"Ikuti aku."

Walau itu hanya kejadian yang singkat, namun banyak dari para murid yang tidak terlalu paham apa yang sedang terjadi. Si pecundang yang tiba-tiba datang dan menghampiri salah satu Hime-sama di Academy, tentang sikap gugup yang Naruko tunjukkan dalam merespon Naruto.

Sebenarnya, mereka melewatkan apa?

Melupakan itu kita kembali pada sosok Naruto yang berdiri di atas atap Academy, berdiri memandang awan, pemuda itu berbalik ketika menyadari kehadiran kakak kembarannya. Suasana hening untuk sesaat, dan Naruto sama sekali tidak berniat membuka suara, memperhatikan tingkah Naruko yang terlihat sangat tertekan.

"Sudah lama aku tidak melihatmu sedekat ini, Naruko." Ujar Naruto memalingkan wajahnya menatap kembali awan di langit.

Ada perasaan bahagia tersendiri bagi Naruko yang mendengar Naruto menyebut namanya, ia membulatkan keberaniannya untuk memandang wajah itu. Ya! Dia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Naruto!

"Naruto, sebenarnya aku-"

"Kau tahu, ini sakit sekali. Saat kau ikut memperlakukanku seperti sampah, aku... Seakan ingin lenyap dari dunia ini."

Tunggu... Rasa sakit yang selalu dia rasakan, kini... Kembali lagi setelah melihat wajah Naruto.

"Naruko, bisakah, kau membunuhku?"

Deg!!!

-CUT-

Akhir dari Season 1 udah terlhat.., hm, apa ya, kurasa aku gak mau menghabiskan banyak chapter untuk 1 Season, mungkin, ini akan berakhir di chap 25 untuk Season pertama, dan 25 chapter lagi untuk Season kedua.

Umu... Dan maafkan Kitsu yang updatenya sungguh kelamaan, huh~mau gimana lagi, Kitsu sendiri juga sudah mulai masuk sekolah, belum lagi buat ngurus kegiatan ekstra Kouhai-kouhai Kitsu yang imut itu.

Tapi, setelah ini akan Kitsu usahakan update cepat, yah minimal seperti sebelumnya yaitu 1x dalam seminggu untuk mengejar ketertinggalan cerita. Hehe,

Yah, mungkin ini dulu aja yang mewakili Kembalinya Kitsu setelah Hiatus tanpa pemberitahuan, tehe~

Oh! Oh! Dan juga...,

MOHON MAAF LAHIR BATIN YA MINNA-SAN

Saya tahu ini telat banget, tapi saya tetap mau mengucapkannya karena meminta maaf bukan cuma waktu hari raya saja...

Ok, see you in next chapter...