"A-apa yang ka-kau katakan?"

Aku tidak mendengar jawaban apapun dari dia, 'bisakah kau membunuhku?' Pertanyaan macam apa yang diajukan padaku?!

Aku yang akan kembali melakukan protes sangat terkejut ketika Naruto menyodorkan sebuah pisau aneh padaku, tanpa aku sadari tanganku tiba-tiba bergerak menerimanya. "Ini... Apa?" Tanyaku memandang wajah Naruto.

"Bunuh aku dengan itu."

Aku terdiam membeku. Membunuhnya? Dengan pisau ini?

Aku...

"Selama ini Ayah, Ibu, Menma, Karin dan juga kau tidak mengingikanku, bukan? Sekarang aku beri kau sebuah kesempatan untuk melenyapkanku, Naruko."

Naruto... Aku sebenarnya, Ak-ku...

"Tidak perlu ragu, tikam jantungku dan semuanya akan selesa-"

"TIDAK!"

"Apa kau ragu? Kenapa kau harus ragu?"

"Aku tidak mau,"

"Kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan? Melenyapkanku, menghilangkanku dari muka bumi ini dan keluarga Uzumaki tidak harus menanggung malu? Ayo, bunuh aku."

"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MAU! KENAPA, KENAPA KAU MEMAKSAKU?!" Aku berteriak tanpa kendali, mataku terpaku pada mata biru kusamnya. Aku tidak tahu, tapi aku merasa sakit. "Maaf~" ujarku dan menundukkan kepala.

"Kau tidak mau membunuhku? Jadi, aku yang akan membunuhmu?"

Bola mataku membelalak dan reflek mengadah kembali, kulihat dia sudah memegang satu buah pisau aneh dan mengarahkan pada leherku. Aku merasakannya, tatapannya, tangannya, semuanya... Dia...

"Aku akan membunuhmu, Naruko."

.x.

Mask

Semua memiliki pencipta masing-masing.

.x.

Naruto menurunkan kunai miliknya dan mengembalikan ke balik seragam Academy yang dia gunakan, sedikit mendengus kecil ia memandang Naruko yang juga menatapnya teduh. "Aku bingung dengan sikapmu ini-" Naruto berhenti dengan ucapannya dan lantas menarik nafas melihat saudarinya yang terisak pelan. Dia tidak merespon atau menolak ketika Naruko menyembunyikan wajah di seragam miliknya.

"Maaf," disela isakan yang masih terdengar, Naruko masih mencoba mengatakan hal yang sama berulang kali. "K-kau pasti membenciku, ji-jika dengan membunuhku kau bisa merasa lebih baik maka bunuh aku, aku akan menerima sebagai balasanmu."

Naruto tidak merespon dan hanya berdiri terpaku, bukan bingung akan melakukan apa, atau terlalu gugup. Hanya saja dia memberikan waktu agar Naruko meluapkan apa yang dirasakannya.

"Aku yang terlalu bodoh sampai mengikuti mereka menjauhimu dan menutup mata tentangmu. A-aku... A-aku-hiks~"

"Bagaimana aku bisa membencimu, orang yang berarti untukku." Ucap Naruto membalas pelukan dari kakak kembarnya. "Sebesar apapun kau membenciku, sekuat apapun kau mencoba membohongi perasaanmu, pada akhirnya aku akan tetap mengerti bagaimana dirimu. Kita sudah bersama bahkan sebelum kita lahir, takdir yang menjerat kita adalah takdir yang sama," Naruto melepaskan pelukan Naruko dan menarik dagu kembarannya agar mengadah menatapnya, ia menyatukan dahi dengan Naruko dan menatap mata violet itu dalam., "sejauh apapun, sesakit apapun, aku dapat merasakan itu darimu, begitu pun sebaliknya."

Untuk sekarang biarkan seperti ini, Naruko pikir ini adalah saat paling membahagiakan untuknya, saat dimana dia dapat kembali dekat dengan Naruto. Perasaan hangat yang dia rasakan sekarang, menguapkan segala perasaan berat yang dia pikul selama ini. Rasa bersalah, gelisah dan juga kesepian yang dia rasakan, semua menghilang.

Sekarang, Naruko tidak memerlukan apapun lagi.

"Yap! Saudara-saudara, bagaimana kelanjutan kisah antara sepasang anak kembar ini? Saksikanlah dibioskop kesayangan anda dengan film berjudul 'Cinta Terlarang sang Uzumaki'!"

Tapi dengan tidak etisnya semua moment itu hancur ditangan Uchiha Sasuke yang duduk dibelakang mereka tanpa merasa bersalah sedikitpun, bahkan ia mengucapkan hal tadi dengan tampang tembok yang Naruto tahu itu tidak akan menambah kesan komedi pada ucapannya.

"Hoy, pantat ayam, kenapa kau ada disitu ha?"

"Yang harusnya bertanya itu aku, idiot. Kenapa kau main cinta-cintaan dengan saudari kembarmu sendiri? Apa kau terlalu ambisius untuk bermain dengan saudarimu sendiri? Dan bisa dikatakan ini Incest, kan?" Ujar Sasuke dengan pose termenung berpikir, dan hal itu membuat sebuah sepatu melayang indah mengenai wajahnya.

"Khhh~" Naruto mendengus penuh kemenangan,

"Kisama! Kau merusak wajahku, idiot!" Sungut Sasuke Uchiha dengan cap merah berbentuk sepatu diwajahnya.

"Siapa yang kau panggil idiot, idiot?"

"Tentu kau idiot!"

"Kau yang idiot."

"Uchiha tidak ada yang idiot, justru kaulah yang idiot!"

"Baka-Otoutou,"

"Berhentilah memanggilku seperti itu atau kau akan merasakan neraka Tsukuyomi!" Dan entah mengapa nada Sasuke mulai menggelap dan juga wajah itu berubah horor.

"Dan aku akan membalasmu dengan Ittou Shura?" Begitu pula Naruto yang mengeluarkan semacam gulungan dari balik seragamnya, dua orang itu saling adu pandang dengan tatapan bengis.

"Sasuke-kun, N-Na-Naruto? Anu," Naruko yang tidak mengerti mencoba menarik perhatian mereka berdua, dan itu cukup berhasil dimana keduanya menoleh ke arah dirinya. "Kalian, saling mengenal?"

Menurut Sasuke pertanyaan yang diajukan padanya itu terlalu konyol, setelah melihat interaksi yang ia dan Naruto lakukan bukannya sudah cukup untuk menyadari jika mereka cukup 'dekat'? Yah tapi, rasanya dia tidak terlalu menyalahkan Naruko karena selama ini dia juga tidak terlihat dimuka umum bersama Naruto, apalagi mengingat dia adalah salah satu murid berbakat yang telah berada di tingkat 9 maka akan aneh bila Sasuke dekat dengan Naruto.

Tapi, rasanya itu tidak terlalu penting mengingat Sasuke telah mengenal anak bungsu Uzumaki itu dari kecil. Namun karena Naruto yang bersikeras agar Sasuke menjaga jarak darinya ketika berada dimuka umum, maka mau tidak mau dia harus menurutinya.

"Aku dan Naruto mengenal sejak usia kami 10 tahun."

"Tidak, tepatnya aku yang menemukannya sedang menangis setelah dikalahkan Itachi-san." Koreksi Naruto dengan memasang tampang biasa.

"Sudah kubilang mataku kemasukkan debu!" Ujar Sasuke mencoba mengelak, pemuda itu meraih kerah seragam yang Naruto kenakan dan dengan wajah memerah memandang Naruto.

"Wajahmu saja memerah, masih mencoba mengelak saja." Balas Naruto tetap dengan senyum mengejek.

"Kisama!"

Untuk pertama kalinya Naruko melihat senyum Naruto, itu sangat berbeda dengan apa yang ia lihat terakhir kali. Lantas kapan dia melihatnya? Entahlah, selama ini yang dia lihat hanyalah Naruto yang berwajah dingin, Naruto yang acuh ketika orang lain mencaci, Naruto yang diam ketika mendapat perlakuan tidak adil, dan parahnya dia juga ikut andil kedalam semua peristiwa itu, dia hanya dapat diam dan mengikuti.., dia yang hanya ketakutan jika hal serupa menimpa dirinya.

Sampai tanpa Naruko sadari itu membuat dinding diantara mereka.

Naruko menyesal, tentu saja setelah semua ini dia menyesal. Tapi, Semudah inikah Naruto menerimanya kembali?

Bukan tidak senang, dia amat sangat senang tapi, ia rasa akan lebih sulit Naruto untuk memaafkan dia setelah semua ini.

Jika bisa, dia ingin seperti ini selamanya, bersama Naruto sudah cukup untuk Naruko meneruskan semua ini. Tapi, mungkinkah semua ini akan bertahan? Perasaannya sendiri merasa jika semua ini akan segera berakhir.

"-Minggu depan adalah Turnamen kenaikan tingkat gelombang kedua dimulai, kau cukup beruntung karena namamu berada diurutan terakhir dan mendapat giliran yang cukup memberimu waktu sekitar 9 hari untuk persiapan."

Turnamen kenaikan tingkat? Oh-Naruko baru saja mengingatnya, jika tidak salah karena ada beberapa hal, Acara wajib itu dibagi menjadi 3 gelombang, dan seingatnya ada nama Naruto didalam daftar murid gelombang kedua. Untuk acara pertama telah selesai dilakukan minggu ini dimana ada 50 murid yang menuju tingkat 9 dan akan menghadapi ujian kelulusan, dan Naruko adalah salah satunya.

Juga dia khawatir dengan Naruto saat ini, karena tidak main-main lawan pertamanya adalah wizard yang terbilang kuat dengan kekuatan sihir tinggi, jika tidak salah dia adalah murid tingkat 7 yang menguasai sihir petir dan telah memasterinya. Juga, teknik berpedang yang sangat terkenal dikalangan para murid di Academy ini.

"Yah aku tahu, dan ini cukup merepotkan, aku sengaja berlama-lama di kota Britain agar tidak mengikuti acara bodoh seperti ini. Tapi kenyataannya? Entah ini takdir atau apa yang jelas aku tidak menyukainya." ujar Naruto sembari menarik tubuhnya untuk bersandar di dinding. Mata birunya memandang ke langit kembali dan mengingat sebuah selembaran yang dia terima dari Itachi tadi pagi. "Touka Toudou, dia lawan yang cukup kuat dan juga merupakan ketua Kedisiplinan Academy, harus aku akui pihak dewan sekolah sangat pintar untuk menyingkirkanku secara halus."

"Yah, dia agak merepotkan, lagipula selama ini dia berada ditingkat 7 karena dibeberapa pertandingan dia melakukan WO, entah apa yang dipikirkan wanita itu."

"A-anu, Na-Naruto, bukankah lebih baik kau mundur dari pertarungan? Kupikir jika kau mundur melawan Touka, kau masih bisa mengikuti Academy ditingkat 1."

Naruto memandang kembarannya sejenak lalu menutup matanya tenang, sedangkan Sasuke memilih mengambil sikap dingin akan ucapan dari Naruko. Sasuke merasa jika disini hanya perempuan itu yang tidak mengerti bagaimana sikap Naruto-ie-sebenarnya diapun tidak terlalu dapat mengikuti apa yang diinginkan Naruto.

Pemuda itu terlalu misterius walaupun mereka telah mengenal cukup lama.

"Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan sekolah atau menjadi murid disini, tapi kurasa sedikit memberi pelajaran pada para Dewan itu juga tidak masalah." Ujar Naruto dengan sedikit kekehan kecil.

"Apa maksud-" Naruko mengalihkan tatapan pada Sasuke yang menyodorkan sebuah kertas padanya. Sebuah tulisan nomor tercetak dan pada bagian depan kertas itu tertulis nama asing. "Ini, kupon-Tunggu! Jangan bilang!"

"Yah, aku meminta Sasuke untuk mengikuti judi gelap yang diselenggarakan beberapa kalangan atas pertandinganku dengan Touka, dengan mempertaruhkan seluruh uang yang aku miliki pada judi ini."

Tunggu! Judi gelap? Bukankah itu dilarang?

"Aku menggunakan identitas keduaku untuk melakukan taruhan ini, kau tahu benar kan aku cukup ahli dalam sihir ilusi." Jelas Sasuke yang mengetahui benar apa maksud dari tatapan Naruko.

"Aku tidak tahu ada hal seperti itu." Ujar Naruko yang masih tidak paham akan hal yang cukup asing baginya.

Naruto menghela nafasnya pelan, dia memaklumi Naruko yang tidak mengerti tentang hal semacam perjudian seperti ini. Yah, tapi menurutnya itu wajar karena hal ini juga berlangsung sangat rahasia, hanya beberapa kalangan elit atau yang dapat dikatakan bangsawan saja yang tahu mengenai perjudian.

Bisa dikatakan perjudian seperti ini hanya sebuah hiburan bagi mereka yang memiliki uang berlebih. Tapi bagi Naruto, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengumpulkan dana, lagipula untuk melanjutkan hidup ia juga perlu uang.

Memanfaatkan kelemahannya untuk kemenangannya-khukhu, dia akan kaya setelah ini.

"Lalu, berapa yang kau taruhkan?" Naruko kembali bertanya dan memandang kedua pemuda itu, ia melihat Sasuke yang mendengus dan menatap Naruto yang terdiam sejenak.

"Sepuluh ribu keping emas." Jawab Naruto yang sangat mengejutkan kakak kembarnya.

Sepuluh ribu keping emas adalah uang yang sangat banyak, dan dilihat dari sistem judi ini maka jika Naruto menang uang yang akan didapatkan Naruto sekitar 98 ribu keping emas! Itu adalah uang yang sangat banyak jika dihasilkan dalam satu kali tarik.

"Kita sudahi saja pembahasan mengenai hal ini, dan Naruto,"

"Yah, aku tahu kau datang kemari pasti ada sesuatu yang perlu kau sampaikan." Naruto mengubah pembicaraan menjadi serius, memandang sang kakak sejenak ia kembali membuka suara. "Jadi?"

"Kepala sekolah sudah memberi keputusannya padamu, dan kudengar dari beberapa hari sebelum penyerangan yang dilakukan orang bernama Kinpatsu itu, dia selalu mencarimu." Ujar Sasuke menatap Naruto.

"Mungkin dia ingin memberiku sesuatu." Canda Naruto sedikit terkekeh namun segera mendapatkan respon bentakan dari Sasuke.

"Aku serius, idiot!"

"Ya, ya, ya, aku juga tahu, tapi seperti yang kukatakan tadi, aku tidak peduli dengan sekolah atau hal lain yang menyangkut tentang ini,"

"Haaah~aku tidak mengerti dengan apa yang menjadi jalan pikiranmu."

Melihat kedua pemuda yang terlihat cukup akrab itu membuat Naruko merasa sedikit jengkel, walaupun dia tahu dia tidak berhak atas perasaan ini tapi entah mengapa dia juga ingin lebih dekat dengan adik kembarnya. Naruko meremat ujung seragam yang ia kenakan, rasanya dia masih melihat ada sebuah tembok yang menghalanginya dengan Naruto sekarang.

Tidak mau, dia tidak mau seperti ini!

"Naruto, aku-"

"Aku akan menemui kepala sekolah."

... Tapi semua itu harus kembali dia tahan, melihat Naruto yang berbalik entah mengapa kembali membuatnya terasa sakit. Naruko hanya kembali menunduk, dan kini air mata hampir terjatuh dari kelopak matanya.

"Jika ada waktu, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat."

"Eh?"

Di depan sana, dia melihat Naruto yang berhenti disamping tubuh Sasuke dan tengah memandangnya.

"Itu pun jika kau ada waktu-"

"Besok!"

Naruto terdiam sesaat lalu tersenyum kecil sebelum kembali berjalan menuju arah pintu keluar. "Baiklah, aku akan menjemputmu besok."

"HA'I!"

Sasuke berjalan dibelakang Naruto, menatap punggung pemuda itu lalu membuang nafas.

"Kupikir kau membenci keluargamu, tapi rupanya tidak semua ya... dasar."

-x-

Naruto menggelengkan kepalanya sendiri ketika melewati beberapa kerumunan, dia tidak dapat menghitung lagi berapa sindiran juga ucapan kasar yang terus mencoba menjatuhkan dirinya. Tapi, walaupun begitu dia tidak ambil pusing akan apa yang mereka katakan. Hanya saja dia tidak habis pikir mengapa para murid lebih suka membicarakan kelemahan orang lain daripada memperbaiki diri mereka sendiri.

Dengan seragam Academy yang ia kenakan juga bagian lengan yang terlihat terbawa angin, Naruto sedikit menoleh ke samping kanan dimana tengah tersaji para murid tingkat 6 yang sedang latih tanding di area lapangan sekolah. Disudut lain Naruto dapat melihat sosok Irina yang nampak tengah berkonsentrasi pada ayunan pedangnya.

Naruto tersenyum mengetahui hal itu dan tetap berjalan menuju ruangan kepala sekolah, tanpa disadarinya, Irina sendiri terlihat terhenti dari pelatihannya dan menatap sosok Naruto yang berjalan tenang.

"Naruto-kun?"

"Shidou Irina! Tetap Fokus!"

"H-ha'i!"

-x-

Berdiri tenang di depan sebuah ruangan megah, Naruto yang terlihat malas itu mengambil satu langkah untuk masuk ke dalam. Sedikit sapaan dia lantunkan sebelum sepenuhnya masuk ke dalam ruangan itu.

"Permisi, kudengar anda mencari saya." Tanpa berbasa-basi dan langsung membungkuk hormat, Naruto memberikan sapaan pada seorang wanita dewasa yang terlihat agak tidak suka dengan kehadiran dirinya.

"Rupanya kau," respon wanita itu agak malas.

Naruto menegakkan tubuhnya dan menatap wanita pirang yang tengah duduk di dibelakang meja besar itu datar. Iris birunya bergeser ketika ia mendapati murid lain yang berada di dalam ruangan selain dirinya. "Oh, anda juga disini, Sistine-sama." Sapanya dingin.

Perempuan berambut putih itu mengangguk singkat tanpa berani memandang wajah Naruto, kedua tangan itu sendiri meremat ujung seragam sebagai bentuk kegugupan. Naruto tidak memperdulikan hal itu dan memilih menatap wanita pirang yang menjabat sebagai kepala sekolah itu.

"Jadi, ada keperluan apa hingga anda mencari saya, Tsunade-sama?" Tanya Naruto dan direspon dengan sebuah sodoran kertas dari Tsunade. Tidak butuh waktu untuk Naruto mengerti dan ia langsung membaca tulisan dalam kertas itu. "Oh, ini ya."

Tsunade menaikkan alisnya tertarik. "Respon itu, apa kau sudah memperkirakan ini akan kau terima, bocah?" tanya Tsunade menatap pemuda itu.

"Tentu, tercatat sebagai murid terburuk cepat atau lambat aku pasti akan menerima ini." balas Naruto santai sembari meletakkan kertas itu kembali. Tsunade mendengus mendengar jawaban dari Naruto dan menyodorkan sebuah pena pada pemuda itu.

"Jika begitu, tanda tanganni pernyataan tersebut."

"Tunggu, Tsunade-Nee! Kau tidak bisa mengambil keputusan seperti itu tanpa persetujuan dewan!" salah satu perempuan disana mencoba menghentikan Tsunade.

"Akan kulakukan." Ujar Naruto mengambil pena yang disodorkan padanya dan segera menandatanganinya.

"Tunggu,! Kau."-Tentu saja itu membuat Sistine terkejut!

"Ini adalah pernyataan yang kau inginkan, bukan Tsunade-sama? Aku akan keluar dari sekolah ini jika aku kalah dan tidak dapat naik ke peringkat yang lebih tinggi, dan juga hak atasku sebagai wizard muda akan dicabut dari statusku."

Tsunade menyeringai senang dan menyimpan kembali kertas itu ke dalam sebuah dokumen dan kembali menatap Naruto. "Apa kau memang sudah menyadarinya, bocah? Asal kau tahu, beberapa bulan ini aku terus berpikir untuk mengeluarkanmu dari sini, tapi berterima kasihlah pada Jiraiya yang terus membujukku untuk mengurungkan niat. Jadi, untuk menghormati Jiraiya aku memberikan kertas pernyataan itu padamu."

Naruto diam tidak menjawab dan hanya menunduk menyembunyikan ekspresi, dia tahu menangani Wizard angkuh seperti Tsunade, bila dia melawan otomatis itu tidak akan menyelesaikan masalah atau bahkan akan membuatnya memburuk.

"Mungkinkah statusku sebagai murid yang tidak dapat melakukan apa-apa ini, dapat merusak nama baik Acdemy sihir?" Tanya Naruto dengan tetap menunduk, sementara disampingnya Sistine tengah memandangnya lemah.

"Kau tidak perlu bertanya tentang hal itu lagi, bukankah semuanya juga sudah jelas?" Jawab Tsunade menyilangkan ke dua tangannya.

"Nee-sama! Kau berlebihan!" kali ini Sistine kembali membuka suara, dia sendiri tidak habis pikir bagaimana Tsunade bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan Status saja. Andaikan Tsunade tahu jika Naruto adalah pemegang Murasame bahkan memiliki kemampuan Rank-S, maka sudah dipastikan Tsunade tidak akan mengambil keputusan ini.

Tapi sayangnya...

'Sebagai permintaanku, rahasiakan mengenai kekuatan dan juga apa yang aku miliki, bersumpahlah atas nyawa kalian jika kalian tidak akan mengatakan hal apapun tentangku.'

Permintaan dari Naruto tidak dapat ia langgar, dia telah bersumpah atas nyawanya untuk menyimpan rahasia ini. Rasanya itu tidak adil, mengapa pemuda itu mau menyembunyikan kemampuannya? Kenapa dia tetap diam mendengar semua cacian itu?

Greett!!!

Ini semua membuatnya sangat kesal.

Naruto mendecih pelan dan membuat dua perempuan disana reflek menatapnya, wajah itu kini berhadapan dengan Tsunade dan dalam sekejap mata telah memangkas jarak dengan wanita itu. Berdiri membungkuk pada meja besar, Naruto mengambil dagu Tsunade agar terpaku menatap matanya langsung.

"Dengarkan aku baik-baik, Kepala Sekolah." Suara baritone yang terkesan penuh ancaman dan juga sikap yang sangat bertolak belakang dengan Naruto biasanya, membuat dua wanita itu terkejut bukan main. Untuk Tsunade, perempuan itu tidak sanggup menggerakkan tubuhnya sendiri, dia tidak tahu mengapa tapi ini seperti ada yang sedang menahan gerakan tubuhnya.

Disisi Sistine ia juga tidak dapat melakukan apapun, bahkan mulutnya pun terkunci tanpa dapat bergerak. Sebelum ini dia tahu Naruto akan bergerak, untuk ukuran wizard tingkat 9 adalah hal mudah untuknya membaca pergerakan lawan, dan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan dia telah menciptakan sebuah lingkaran sihir ditangannya, tapi...

'Naruto, dia menanamkan curse lewat lingkaran yang kusiapkan. Apa, ini jebakannya agar aku tidak mengganggu?' Batinnya menebak.

Naruto mendengus kecil dan membiarkam dua perempuan itu terdiam terpaku akibat kutukan Murasame. "Kau bisa mendesakku, menjelekkanku hingga terus mengatakan apapun yang kau suka tentangku. Tapi ingat ini baik-baik, kepala sekolah. Tidak akan pernah ada Monster yang tetap diam ketika ketenangannya sudah diusik."

Untuk beberapa saat Naruto menikmati moment dimana Tsunade menunjukkan wajah kosong, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada membuat seseorang yang telah meremehkannya kini harus menelan ludah mereka sendiri. Sungguh tidak ada kepuasaan lain, apalagi ketika Tsunade bergetar pelan berusaha memberontak dari tekniknya.

'Akan kubuat kalian mengakuiku dan berbalik memihakku, sampai pada akhirnya akan kutunjukkan sebesar apa hal yang dapat aku lakukan pada kalian semua.' Ujar Naruto membatin.

"Heh... Menyedihkan ketika melihat cucu dari seorang Raja tidak dapat melakukan apapun." Naruto melepaskan cengkraman pada dagu Tsunade dan berucap mengejek, berjalan pelan dengan sebelah tangan masuk ke dalam saku pakaian sebelum dia melepas sihir yang dia gunakan.

"Kau! Apa yang kau lakukan, bocah bodoh! Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa, huh?!" Tsunade menggeram marah, [Mana] besar keluar dari dalam tubuhnya sebagai bentuk bahwa dia tidak menerima perlakuan dari Naruto.

"Sudah cukup! Nee-sama! Kumohon tahan amarahmu!"

"Jangan ikut campur Sistine! Dia sudah kurang ajar padaku, dan sebagai kepala sekolah aku harus menunjukkan apa akibat dari ketidak sopanannya itu!"

Ketidak sopanan? Benarkah wanita pirang ini mengatakan hal itu? Sungguh Naruto ingin tertawa dibuatnya.

"Seorang pendidik dilarang menggunakan sihirnya kepada murid jika bukan untuk pembelaan diri, pelatihan, atau hal mendesak yang telah disetujui oleh Raja, kau pasti ingat peraturan itu, kan? Artinya jika kau menggunakan sihir dan melukaiku, peraturan itu pasti akan menjeratmu." Ujar Naruto seraya membuka pintu ruangan, ia melirik kebelakang dimana Tsunade mulai menurunkan intensitas Mana miliknya. "Jangan sampai mencari musuh yang tidak dapat kau kalahkan, Tsunade-sama. Karena itu, benar-benar merepotkan."

"Bocah tengik!"

'""Permainan emosi yang cukup menarik, Goshujin-sama.'""

Naruto tersenyum setelah keluar ruangan kepala sekolah.

"Jika dalam hal sihir aku kalah darinya, tapi tidak dengan mental dan akalku." Ujar Naruto membalas pujian yang diberikan Murasame padanya.

""'Muuu~Goshujin-sama semakin pandai untuk melemahkan mental lawan, saya suka!'""

"Kekuatan memang perlu, tapi untuk mengalahkan mereka aku juga harus menggunakan otakku. Lagipula memberikan pelajaran pada wanita itu memang diperlukan agar kepalanya tidak meledak."

""'Muahahaha! Anda lucu sekali, Goshujin-sama! Tapi daripada itu, saya rasa dibandingkan kepalanya, yang akan meledak dahulu adalah dadanya!' Murasame tertawa lepas didalam alam pikiran Naruto.""

"Kau hanya iri karena kau tidak memiliki dada sebesar miliknya, kan?" Timpal Naruto dengan senyuman mengejek, dan tentu itu mendapat respon berupa teriakan kesal dari roh pedang itu.

"""Goshujin-sama NO BAKA!!!!"""

"Ahahaha~"

-Change Scene-

Aliran [Mana] keluar dari tubuh Akeno, merambat keluar dan perlahan membentuk dua lingkaran sihir ditangannya, sebuah gumpalan petir terlihat memercik pelan sebelum terlontar ke depan dalam bentuk sambaran kuat. Lima garis acak tercipta di daerah lapangan latihan yang berada dibelakang gedung penetian ilmu sihir.

"Kenapa tidak mau membentuk garis lurus? Apa mantraku salah?" Ujarnya penuh keheranan, dia menggeleng pelan dan mengambil nafas sejenak. "Aku harus mencoba lagi!"

Hal yang sama dilakukan Akeno dimana dia kembali mengambil fokusnya, dua kilatan petir sama kembali menyambar area itu.

"Tetap tidak bisa," gumannya lemah.

"Akeno-san? Kau sedang melakukan apa?"

"Menebak, apakah kau sedang melatih kendali sihirmu, Akeno-chan?"

Si kembar itu menghampir Akeno yang terlihat sedikit kelelahan.

"Ya, aku mau membentuk petirku agar dapat menyerang pada satu titik." Akeno meremat kedua tangannya sendiri, semenjak kejadian itu dia tidak berhenti berlatih, tapi sepertinya perkembangannya sangat tidak signifikan. Ia sendiri cukup bingung untuk mempelajari sihir miliknya, selain sulit ia kadang harus mengeluarkan Mana berlebih untuk membentuk suatu serangan, bisa dibilang dia sangat payah akan hal pengendalian Mana.

"Bertanya, apa maksud Akeno-chan seperti ini?"

Yuzuru mengangkat sebelah tangannya, membiarkan sebuah lingkaran sihir muncul dan menciptakan percikan listik bertekanan tinggi. Beberapa saat kemudian, sebuah garis petir muncul dan menghancurkan satu pohon besar yang memang diincar oleh Yuzuru.

Akeno berkedip tak percaya dan langsung menatap perempuan berambut jingga tergerai itu penasaran. "Bagaimana kau melakukannya?!"

"Menjawab, aku tidak tahu. Aku hanya mengalihkan semua energi dan juga fikiranku ke dalam sebuah serangan yang kuinginkan." Jawab Yuzuru seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Yuzuru dan aku bisa mengendalikan angin serta petir sesuka kami." Timpal Kaguya dengan senyum bangga.

Akeno merasa tidak percaya, dia yang bahkan harus bekerja keras untuk mengendalikan petir miliknya harus kalah dengan dua Yamai bersaudara ini? Meskipun mereka adalah anak dewa, tapi tetap saja itu tidak adil!

"Kupikir karena pokusmu yang selalu berpindah, Akeno-senpai."

Tunggu, Suara ini?!

"Naruto-sama~!"

"Oy! Oy! Henti-"

Brukkk!!!!

Naruto meringis pelan setelah menerima pelukan dari kedua Yamai bersaudari ini, akibatnya ia yang tidak dapat menahan bobotnya dan juga dua gadis itu membuat Naruto terjengkang kebelakang.

"Ne, Naruto-sama! Kami merindukanmu~hue!"

"Menyetujui! Saya juga merindukan Naruto-sama!"

"Yuzuru, Kaguya, lepaskan aku." Ujar Naruto yang sedikit kewalahan dengan tingkah si kembar.

"Tidak! Naruto-sama sendiri sudah melanggar janji, sebagai hukuman kami akan memeluk Naruto-sama seharian!" Ujar Kaguya sedikit kesal,

"Hum hum, bau Naruto-sama sangat wangi."

Naruto sendiri hanya dapat pasrah sambil membuang napasnya maklum, lagipula dia sendiri juga yang melanggar janji untuk segera menemui mereka berdua setelah ia sampai di ibukota. Belum lagi masalah kemarin yang benar-benar membuatnya cukup sibuk.

"Tolong mengertilah, lagipula aku juga tidak ingin mengingkari janjiku, kalian tahu, ini semua diluar kendaliku." Kata Naruto mencoba meyakinkan mereka berdua.

Kaguya mendelik dan menatap mata Naruto tajam, menimbulkan kekagetan tersendiri untuk pemuda yang sama sekali tidak paham akan tatapan itu.

"Huh, Naruto-sama no baka!"

"Harum, harum."

Ya ampun, walaupun mereka roh tapi tetap saja juga merepotkan. "Baiklah, sebagai permintaan maaf aku akan mengajak kalian berkeliling nanti, lagipula aku juga belum menanyakan kenapa kalian berada di Shi no Mori kemarin."

"Hmm.. Kalau itu kami juga tidak tahu, tiba-tiba saja ada pria aneh yang menghampiri kami-"

"-Dan kami tertidur."

'Akhirnya aku bisa mengalihkan pembicaraan.' Kekeh Naruto membatin dan segera berdiri setelah merasa tidak ada lagi beban yang menindihnya. "Baguslah jika kalian baik-baik saja-ah, Akeno-senpai! Kulihat tadi senpai terus mengeluarkan sihir petir, dan kudengar juga senpai ingin menciptakan serangan kuat dengan itu." Mengalihkan ke topik utama yang ingin dia bahas, Naruto berjalan mendekat pada Akeno dan diikuti si kembar Yamai yang mengekorinya.

Akeno termenung beberapa saat sebelum kembali mengangkat tangan kanannya. "Aku, sudah mencobanya berkali-kali tapi tetap saja petirku melebar, sepertinya aku memang tidak berbakat memanipulasi petir suci ini." Ujar Akeno dengan nada sedikit kesal.

Naruto mengetahui itu dan memasang wajah tenang, "Masalahnya bukan pada bakat, tapi otakmu. Kau tidak memakai imajinasi yang merupakan komponen penting untuk mengeluarkan sihir, dan terpaku pada ambisi untuk menciptakan sebuah serangan fatal, benar bukan?."

"Te-tentang itu, aku~"

Menggerakkan telunjuk kanannya, Naruto mengintrupsi Akeno untuk diam. "Sihir saat ini dan sihir dahulu sangat berbeda, jika dulu para wizard harus melafalkan mantra agar dapat melancarkan sihir, tapi seiringin berjalannya waktu hal itu terus tergerus akan perkembangan-perkembangan sihir di dunia ini, sebagai contoh adalah sihir tipe elemen, [Thunder Bolt]. Itu adalah tipe elemen petir yang dahulu sering digunakan para wizard..'"

"…Normalnya, ada mantra untuk mengeluarkan sihir ini seperti, 'Wahai Roh petir, keluar dan mendentumlah, [Thunder bolt]' itu adalah cara normal wizard dulu dalam mengeluarkan sihir. Tapi, apa kau tahu perbedaan efek serangan sihir kuno dengan sihir sekarang ini, senpai?" Naruto berhenti menjelaskan dan memberi sedikit pertanyaan pada seniornya itu.

"Tidak, aku belum pernah mempelajari tentang itu." Jawab Akeno.

"Sebagai contoh, ano-Murasame, berikan aku sedikit [Mana]" Aliran Mana dapat dia rasakan mengalir dari dalam tubuhnya dan Naruto mengangkat lengan kanannya, "Pertama kita coba dengan sihir biasa, seperti-Thunder Bolt!" Aliran listrik biru memencar dari lingkaran sihir kecil yang muncul dari telapak tangan Naruto. "Itu adalah sihir tanpa pelafalan mantra, dan sekarang dengan mantra-Wahai roh petir, keluarlah, dan mendentumlah [Thunder bolt]" sedikit bunyi bergemerisik terdengar nyaring sebelum...

Boooommmm!!!!!!!!!

.., Tanah di depan mereka hancur oleh serangan petir yang digunakan Naruto.

"Itu adalah perbedaan antara sihir yang digunakan wizard leluhur dengan sihir kita, saat ini aku lihat standar para wizard sudah menurun drastis. Mereka lupa jika sihir tidak digunakan untuk berperang, saling hina dan menjunjung persaingan. Mungkin kata-kataku ini terdengar naif namun, leluhur kita menggunakan sihir dengan tujuan untuk memahami hati manusia." Menarik tangannya pelan dan memgambil nafas menghadap Akeno melihat bagaimana perempuan itu terbengong dengan tampang lucu, Naruto tertawa kecil sebelum kembali memasang raut serius.

"Naruto-kun, bagaimana kau bisa memakai sihir?"

"Apa maksudmu?"

"Bukannya kau tidak memiliki Mana?"

Naruto mengernyit mendengar pertanyaan yang diajukan Akeno. "Tentu saja tidak, aku memiliki Mana hanya saja sangat sedikit dan tidak dapat membentuk [Line, tapi berbeda untuk sekarang. Aku meminjam Mana milik Murasame dan membuat sihir, kupikir seperti itu."

"Ano, Naruto-sama? Bagaimana Naruto-sama meminjam Mana milik sebuah pedang? Bukankah itu berbeda?" Sahut Kaguya yang tidak memahami maksud masternya.

"Ha!, ha!, mohon jelaskan, Naruto-sama." Timpal Yuzuru sembari mengangguk-angguk antusias'.

"Tidak, aku tidak akan menjelaskan sekarang karena akan memakan waktu lama," tolak Naruto membuat kedua Yamai itu memasang wajah kesal. "Jadi, senpai bisa mencoba mempraktekkan apa yang aku katakan tadi." Naruto dapat melihat perempuan itu sedikit berjengit kaget sebelum memandangi tangan sendiri.

"Apa, aku bisa?"

"Yakinlah, bukankah kau adalah pemilik petir suci yang sangat hebat? Tentu kau pasti bisa melakukannya, aku yakin itu."

Pemuda itu benar, kenapa dia bisa ragu akan kekuatannya sendiri? Dia adalah Himejima Akeno, satu-satunya pengguna petir suci yang masih hidup! Dia tidak akan mengecewakan leluhurnya dengan menyerah semudah ini!

"Aku akan melakukannya, akan kukuasai kekuatan ini dan melampaui semua pengguna petir suci sebelumnya!" Akeno mengangkat tangannya penuh keyakinan.

"Yosh! Aku akan membantu sebisaku!"

"Aku juga!"

"Menyemangati, aku juga akan membantu Akeno-san!"

-xXx-

Malam hari telah tiba, matahari yang sudah tenggelam beberapa waktu lalu mengakhiri segala aktifitas yang dilakukan manusia dan hanya menyisakan kegiatan malam yang akan mereka gunakan untuk melepas penat, entah itu tidur, berkumpul bersama keluarga maupun menikmati dengan menyusuri ibukota, sama seperti yang Naruto lakukan sekarang.

Setelah dia selesai dengan urusan serta janji-termasuk memberikan informasi mengenai Holy Grail pada Akeno-dan berakhir dengan dirinya menemani Yuzuru juga Kaguya menghabiskan waktu sore sebagai ganti atas keterlambatan dia menemui mereka. Naruto cukup bisa menahan nafas ketika dua roh wanita itu memintanya untuk menemani mereka berdua berbelanja, bahkan Naruto tidak tahu jika dua roh itu amat sangat suka menghabiskan uang dengan cara sangat biasa itu.

Terlebih lagi, siapa yang mengajari mereka?

Ya ampun,

"A, anu~"

Naruto berhenti berjalan dan mencari asal suara yang ia yakin ini tidak terlalu asing, terus mencari hingga dia menemukan seorang perempuan berambut perak tergerai dengan pakaian cukup terbuka, sebuah sepatu dengan kaos kaki hitam selutut juga rok putih sepaha yang sebagian tertutup mantel berwarna putih tebal yang mana memiliki harga mahal jika dilihat dari bentuk juga permata yang menghiasinya.

Naruto mengendik acuh dan berbalik melanjutkan langkahnya.

"N-Naruto, t-tunggu dulu!" Panggil perempuan itu mengikuti langkah kaki Naruto.

"Kurasa aku tidak memiliki urusan dengan anda, Sistine-sama." Tanpa menggubris perempuan yang berlari menyusulnya, Naruto tetap berjalan dengan tangan berada di dalam saku.

"Aku ingin bicara denganmu!"

"Aku tidak perlu mendengarnya."

"Kubilang tungg-Ittai!"

'Perasaan ini,'

Naruto mendelik ke arah belakang dimana Sistine mengusap dahi yang beradu dengan punggung setelah dia berhenti mendadak, "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya dingin dan dijawab anggukan oleh Sistine.

"Anu, Naruto, tentang Tsunade-Nee yang..."

'Berat, aku merasakan perasaan yang berat dari arah timur. Murasame, apa kau merasakannya juga?' Naruto mengoneksi batin dengan roh yang menghuni tubuhnya dan tidak mendengarkan Sistine sama sekali, perasaannya kini lebih terfokus pada sebuah tekanan tipis namun begitu berat yang sekarang dia rasakan.

""di Arah jam 2, aku merasakan Mana yang terkumpul disatu titik dengan stabil."" Ujar Murasame setelah memperlebar sensoriknya.

'Apa itu orang berlatih? Atau mungkin pertarungan kecil-bukan, latihan atau pertarungan tidak mungkin setenang ini, tekanan ini seperti tengah mengincar sesuatu, dia berkonsentrasi.' Naruto memandang jauh ke arah dimana dia dapat merasakan hawa berat itu, tepat disebuah Menara pusat yang terletak sangat jauh dari tempatnya sekarang. Untuk sesaat Naruto tidak dapat mengetahui apa yang terjadi, namun hanya beberapa detik kemudian sebuah pantulan mengkilap yang datang dari arah Menara membuatnya membelalak terkejut.

""Itu, Panah Sihir!""

"Menunduk! Sistine!"

"Eh?"

Grep!

Naruto menarik nafas seraya membuka matanya, matanya menajam melihat sebuah anak panah emas yang berada di dalam genggamannya. Beruntung dia sempat menggunakan Killing Fall untuk mempercepat gerakan refleknya hingga dapat menangkap anak panah itu tepat beberapa mili sebelum ujung lancip menyentuh kepala belakang Sistine.

"Tepat waktu." ujar Naruto pelan sembari meremat anak panah itu sampai patah.

"N-N-N-Naruto? A-a-a-a-apa yang kau lakukan?"

Naruto sungguh tidak mengerti apa maksud gadis ini, tentu saja dia menyelamatkannya, memang apalagi? 'Aku menyelamatkanmu, bodoh! Memang apa pikirmu?' batinnya kesal,

"A-a-a-ak-aku bert-terima kasih t-t-t-tapi, k-k-k-kau me-me-memelukku terlalu erat."

'Tentu saja kau harus berterima kasih padaku, lagipula-loh! Memeluk?' Naruto secara reflek menundukkan kepala kebawah, tapi hal itu malah memperburuk suasana karena secara bersamaan Sistine juga mengangkat kepalanya.

"A-a-a-aku se-senang d-dengan in-ini, ta-tapi kau tidak boleh melakukan ini ditempat umum,"

"K-kau salah paham, a-aku hanya menyelamatkanmu d-dari seorang penyerang!" Sial! Kenapa nada bicaranya berubah jadi gagap?! Dan apa-apaan wajah memerahmu itu?!

""Yare-yare."" Sementara itu, Murasame hanya dapat menggelengkan kepalanya melihat kejadian itu.

-Scene Break-

Melupakan kejadian tadi dan lebih memilih melanjutkan acara jalan-jalannya, Naruto tidak henti-hentinya harus menahan kesabarannya.

"Naruto, kau mendengarku?"

-Semua karena keberadaan gadis perak yang mengikutinya sejak tadi, Naruto tidak tahu apa yang ada dipikiran gadis itu sampai mau terus mengikutinya. Ah! Sial, dia benar-benar kesal sekarang!

Tapi daripada itu, dia lebih heran dengan penyerangan yang dilakukan pihak misterius tadi, sebenarnya apa yang diincar dari Sistine? Apakah mungkin karena dia anak dari petinggi kerajaan, itu sudah pasti namun Naruto tidak mengira sedikitpun jika ada orang yang mampu membidik dari jarak sejauh itu.

"Jadi, apa kau mau?"

'Selain bidikannya yang terbilang akurat, Mana yang dimasukkan ke dalam senjata itu juga tetap stabil.'

"Naruto?"

'Jika kuperkirakan, wizard penyerang tadi masuk ke dalam Rank-A, artinya dia lebih hebat dibandingkan Sistine yang merupakan murid Academy tingkat 9.'

"NARUTO!"

"Ah?"

Naruto sedikit terkejut mendengar teriakan Sistine, menatap perempuan perak itu dan mendapati raut kesal tengah terpatri diwajah cantiknya.

"Apa kau tidak mendengarkanku? Sedari tadi kau melamun."

"Tidak, tidak ada apa-apa."-Ada baiknya jika Naruto segera mengantarkan Sistine menuju kediaman Senju, dia tidak ingin repot jika terjadi sesuatu dengan gadis ini. Tapi, melihat wajahnya yang terlihat biasa saja membuat Naruto sedikit heran mengapa gadis itu masih tetap tenang. "Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya jika kau ada dalam bahaya karena serangan tadi, tapi melihat raut wajahmu sepertinya kau terlihat biasa saja," Naruto melirik Sistine yang tersenyum kecil.

"Itu sudah wajar, bukan. Lagipula ayahku juga memiliki banyak musuh, mempertaruhkan nyawaku itu sudah hal biasa."

-Naruto tidak mengerti dan tidak mau mengerti apa yang perempuan itu maksudkan, hanya saja jika dia terus berada di luar sini dia takut jika hal yang sama akan terjadi.

"Aku akan mengantarmu ke wilayah Senju, melihat serangan tadi, sepertinya cukup berbahaya meninggalkanmu tanpa pengawalan." Ucap Naruto tanpa menatap lawan bicaranya.

"Apa... Kau menghawatirkanku?"

-Naruto tidak dapat menjawab itu dan lebih memilih diam membiarkan keramaian jalanan ibukota membisukan pembicaraan, dia sendiri memilih untuk tetap berjalan tanpa berniat berbicara lagi. Sementara disisi Sistine dia yang tahu Naruto tidak akan menjawab hanya tersenyum kecut.

'Ternyata kau memang membenciku ya, Naruto.' Batinnya miris dan memandangi punggung tegap Naruto, matanya senantiasa mengikuti pergerakan pemuda itu hingga harus menyipit ketika menyadari sesuatu. "N-Naruto, T-tangan kirimu?"

"Naruto-"

Buaaakhh!!!!

Keramaian itu berubah menjadi teriakan panik dari para warga saat sebuah tubuh meluncur lurus dan melubangi beberapa bangunan sebelum terhenti dan membuat sebuah rumah roboh menimpa tubuh itu. Sistine yang hanya diam terpaku tidak mampu mengucapkan apapun dan hanya menatap bergetar ke arah bangunan yang hancur.

"N-NARUTO?!"

"Dia cukup menggangguku, jika dia tidak menghentikan anak panah itu harusnya tugasku sudah selesai."

Seorang misterius dengan jubah hoddie besar muncul dibalik lalu lalang warga yang panik, beberapa kali dia tidak segan memukul civilian yang mencoba menyerangnya. "Tch! Dasar serangga." Decihnya kesal sembari mengibaskan tangannya yang sedikit berlumuran darah.

"Kau!"

"Hoh, kau mau menggunakan sihirmu? Tapi, jangan harap bisa!"

"-Toudou Hougen!"

-Sistine memunculkan sebuah lingkaran sihir besar di atas permukaan tanah, bersama pandangan benci dia tatap sosok itu dan menggerakkan sebelah tangannya.

"Membekulah!"

"Elemen es, kau memang hebat tapi tidak cukup hebat."-dengan pola gerakan cepat sosok itu melesat menuju arah Sistine, melompat ke kanan serta meliuk cepat menghindari bongkahan es runcing yang mengincar diri. "Terlalu lambat!"

Krak!

Retakan terjadi pada tanah yang dipijaki Sistine sebelumnya akibat dari pukulan yang dilancarkan pria misterius itu, di udara sendiri Sistine memandang musuh tajam. "Reflekmu cukup cepat Hime-sama, sepertinya kau cukup berlatih." Ujar pria tersebut sembari menarik tangan kanannya dan dilanjutkan mengangkat ke depan dada, muncul sebuah tekanan kecil disana. "Meraunglah-"

Sistine membelalakkan kedua matanya, dengan cepat ia ciptakan sebuah lingkaran sihir dan membentuk sebuah pertahan. "Suijinheki!"

Brussh!

Dua tekanan angin bertabrakan dengan dinding air milik Sistine hingga menyebabkan rintikan air menghujani tempat itu, pria itu terdiam sesaat sebelum menyeringai kecil.

"Suiroud-"

Krap!

"Aaakh!"

"Sudah kubilang terlalu lambat."

Keadaan itu cukup gawat dimana Sistine saat ini berada dalam genggaman pria berhoddie, cengkraman yang terlalu kuat membuat perempuan itu tidak kuasa untuk bernafas. Wajah cantik meringis kesakitan.

"Ini tugas yang mudah, kukira akan menarik tapi ternyata hanya anak bangsawan yang lemah." Ejek pria itu mengangkat tubuh Sistine ke udara, "Senang rasanya melihat wajah cantik anda mulai membiru."

"L-l-lep...as." Susah payah gadis itu merai lengan sang pria-ia sudah dalam batasnya.

"Tenanglah, akan kubuat ini cepat selesa-"

Pysuuu!

Dengan reflek cepat pria itu melepaskan cengkraman pada leher targetnya dan melompat kebelakang saat sebuah kilauan melaju lurus dari atas mengincar lengannya,

Jleb!

-Sebuah katana menancap membatasi jarak antara Sistine dan juga musuh, disusul kelebatan cepat yang kini berdiri dengan sebelah kaki di atas gagang katana yang menancap.

Naruto menatap pria yang terkejut akan kehadirannya tajam sebelum beralih pada gadis dibelakangnya yang terbatuk akibat kekurangan pasokan udara. "Ini yang aku maksudkan tadi, Sistine. Kau, dalam bahaya." Sindirnya karena menurutnya ini semua adalah kesalahan perempuan itu-tapi menyalahkannya pun akan sia-sia saja.

"M-maaf." Jawab Sistine lemah dengan masih memegangi lehernya. "Aku memang selalu menyusahkanmu."

'Ya ampun, gadis ini.'-Naruto kembali beralih pada pria itu dan memberikan tatapan dingin. "Maaf, jika boleh tahu kau ini siapa?" Tanyanya sok polos.

"Itu pertanyaan bodoh untuk orang yang akan mati."

Naruto terkekeh sebentar lalu segera mencabut Katana Murasame. "Maaf, tapi tidak akan ada yang mati disini. Akan kukalahkan kau dan menjadikan mainanku!" Atmosfer mulai menurun dan menjadi memberat, Naruto mengambil kuda-kuda menyerang dan siap melancarkan serangan kapanpun.

"Ini kesempatan terakhir untukmu menyerah, Brother!"

-Cut-

Belum dapat membalas Review...

Gomennasai!