"Oh, wajah yang bagus. Aku cukup terkejut melihatmu tadi, tapi-heh, bahkan kau hanya Knight biasa."
"Hola~aku menghargai pujianmu."
Dua orang itu tetap terdiam dalam posisi awal tanpa gerakan sedikitpun, saling menganalisis lawan yang mereka tahu adalah musuh yang cukup kuat.
"Aku hanya ingin Sistine-hime mati, jika kau ikut campur maka aku juga tidak akan segan-segan terhadapmu." Pria itu mengangkat sebelah tangannya dan menciptakan katana berwarna emas dari sebuah lingkaran sihir.
Naruto menyipitkan matanya melihat itu. 'Materialnya sama seperti panah tadi, tapi tetap saja itu keras.'
"Kau belum mengerti juga ya, tapi aku mengerti karena mungkin kepalamu keras seperti emas itu."-'Aku tidak ingin menggunakan Murasame ditengah kota seperti ini, selain itu ada Sistine juga yang melihatku. Hanya perlu menahannya beberapa menit sebelum prajurit wizard-Knight kerajaan datang, mungkin masih dapat aku lakukan tanpa skill yang menguras staminaku.'
"Aku tidak ada waktu untuk ini!"
Ginnn!!!!!!!
Keberadaan lawan yang menghilang dalam sekejap membuat indra Naruto berkerja cepat, iris biru yang bergerak liar terhenti dan melirik ke samping atas kanannya. 'Dia cepat!' Naruto menundukkan badannya membuat tebasan musuh mengenai udara kosong setelah sebelumnya berusaha menebas habis lehernya.
Pria itu menyeringai senang, selanjutnya dia menciptakan lingkaran sihir dibawah kakinya-tepat mengarah pada dada Naruto.
"Menciptakan sebuah line dibawah kaki?! Kuso!" Naruto mati langkah, dia tidak dapat melakukan apapun dalam posisi ini.
Jdummm!!!
"NARUTO!"
Kepulan asap mengepul akibat hasil hancurnya titik dimana Naruto berada, Sistine yang melihat itu berteriak histeris.
Pria berjubah melompat lambung sebelum kakinya memijak pada reruntuhkan kios yang hancur, dia yakin jika serangan kejutan tadi cukup untuk membunuh pemuda yang dia anggap sok itu. Namun, entah mengapa saat ini dia tidak yakin jika lawannya berhasil dia kalahkan.
Slashhh!
Pria itu langsung menciptakan sihir pertahanan untuk memblokir sebuah katana yang mengincar dirinya, meski cukup terkejut dia kembali memfokuskan pandangan ke arah musuh yang masih sedikit tertutup oleh kepulan debu.
"Kau, aku yakin sudah mengenai jantungmu tadi." Pria itu bertanya heran melihat bagaimana Naruto berhasil selamat dari serangan kejutannya.
Sementara Naruto yang telah berdiri bebas memandang tajam musuh didepannya, dia melirik dada sebelah kanan dimana ada luka goresan disana. 'Pertahanan Abnormal, hal yang kupelajari dari seni beladiri berpedang. Baiklah, aku akan mulai serius kali ini.' Naruto kembali mengambil posisi bertahan, 'Selanjutnya...'
Musuh mendecih setelah merasa Naruto mengabaikannya, kembali merangsek maju mengikis jarak antara pemuda itu. "Terima ini!"-Tusukan beruntun dia lakukan, dan beberapa kali berhasil menggores kulit wajah juga merusak pakaian Naruto, namun itu belum cukup karena pemuda di depannya ini masih bisa menyamai kecepatannya, 'dia cukup gesit, tapi sudah cukup sampai disini!' Gerakan terakhir berupa tebasan vertikal dilakukan pria itu setelah melihat Naruto menghindari serangan yang dia lesatkan, 'kena kau!' Menyeringai penuh kemenangan karena merasa kemenangannya sudah diujung tanduk.
Naruto melihat laju senjata berwarna emas siap membagi tubuhnya kapan saja, tidak ada gerakan berlebih namun selanjutnya dia telah sepenuhnya menghilang dan membuat keterkejutan tercetak diwajah penguntit itu.
"Bagaimana bisa?" Tanya pria tersebut keheranan.
"Blade Steal, aku bisa memahami pergerakanmu melalui sebuah pengamatan, kau merupakan penyihir yang menggunakan Mana untuk memperkuat tubuh dan mempercepat gerakan, kau juga mempelajari ilmu berpedang meskipun masih tergolong amatiran tapi dengan sihir pendukung tadi kau terlihat seperti ahli ilmu pedang. Selain itu kau juga bisa memanipulasi udara, menciptakan gaya dorong yang kuat untuk menyerang juga memanipulasi elemen tanah agar menjadi senjatamu." Naruto muncul dari arah belakang musuh dan berjalan menuju katana yang tergeletak setelah dimentahkan oleh sihir pelindung. "Tapi, sudah cukup sampai disini. Kau bisa pergi sekarang atau akan menderita lebih jauh lagi, lagipula prajurit kerajaan juga akan sampai disini dalam beberapa menit."
"Baiklah, aku mengaku kalah, tapi pertama beritahu aku namamu." Pria itu menurunkan kesiagaan dan tanpa berbalik membalas perkataan Naruto yang sedikit mengendurkan penjagaannya.
"Naruto, itu namaku."
"Naruto, ya. Baiklah, akan aku catat namamu... Disebuah batu nisan!"
Trankk!
"Namaku Kidoumaru! Ingat baik-baik di alam sana, bocah!"
Dua benda keras beradu menimbulkan bunyi berdenting, kedua pasang mata berbeda tatapan saling menatap lawan. Tidak ada kata mundur dari mereka dan semua ditentukan sekarang, misi yang diterima pria bernama Kidoumaru harus segera dituntaskan atau jika tidak, nyawanya yang akan dia taruhkan.
Naruto dapat melihat ketetapan dari mata hitam yang kini dapat dia lihat akibat hoddie yang terbuka dan memperlihatkan wajah asli musuhnya, jujur saja bagi Naruto ini cukup merepotkan tapi mengingat dia sudah terlanjur masuk ke dalam masalah ini, jadi apa boleh buat. 'Hanya kapasitas Mana nya saja yang berada di Rangking A, tapi keahliannya masih sama seperti Sistine atau wizard tingkat 9 lainnya. Baiklah, Teknik Kenjutsu pertama, Suten.'
Kidoumaru menjaga jaraknya, memundurkan tubuhnya sendiri dan memasang posisi waspada melihat musuhnya mengalami perubahan tingkat intensitas fokus tubuhnya, itu dapat dia lihat dengan jelas dimana tatapan mata biru itu berubah kosong. Melirik kebelakang Naruto dimana target yang dia incar sedang menatap pemuda pirang yang ia lawan saat ini, 'Aku akan berpura-pura melawannya dan menjadikan gadis itu target, waktu ku tidak banyak lagi!' Pancaran Mana menyentak dari tubuh Kidoumaru dan membentuk sebuah busur panah emas, warna kulit pria itu sedikit berubah menghitam kusam. "Tein no juin!"
Naruto menarik kaki kirinya kebelakang memasang kuda-kuda menyerang, dengan sebelah tangan ia memposisikan katana menyilang di depan tubuh. "Aku mulai~" Dalam satu tarikan nafas Naruto lenyap seketika meninggalkan debu mengepul sebagai bekas pijakannya, kembali terlihat di hadapan Kidoumaru, Naruto sedikit mengubah letak kakinya dan menebas perut lawan.
Sayangnya Kidoumaru tidak tinggal diam dan memilih menggunakan busur emasnya sebagai penghalang, "hanya ini?"
"Tidak-" Naruto mengubah tebasan menjadi tusukan mengarah pada leher musuh, tapi lagi-lagi dapat dihindari dengan mudah oleh Kidoumaru. "Suten."
"A-apa?!"
Kidoumaru segera mengambil jarak mundur dan menapak dengan tatapan terkejut, di depannya berdiri Naruto yang masih memasang posisinya. Dia mengusap lehernya sendiri dimana terdapat luka gores cukup dalam dan menyebabkan darah menetes membasahi telapak tangannya.
"Teknik Kenjutsu pertama, Suten. Adalah teknik pedang kuno yang aku pelajari dari buku sejarah ilmu pedang, teknik ini cukup berbahaya dimana memanfaatkan kecepatan dan dorongan angin sebagai serangan utama. Saat ini, Suten milikku dapat menjangkau jarak sekitar 10cm dari bilah pedang, jadi walaupun kau menghindarinya sedikit kau masih akan tetap terkena tekanan angin tipis yang aku buat." Ujar Naruto tanpa mengubah sikap menyerang.
'Tch! Sial, aku tidak tahu ada teknik berpedang seperti ini.' Kidoumaru mengangkat busur emasnya dan membidik Naruto sebagai target, tiga lingkaran sihir memunculkan tiga anak panah yang langsung melesat maju. 'Tapi percuma saja, secepat apapun, kau tidak akan dapat menahan tiga anak panah sekaligus, dan akan kumanfaatkan kesempatan itu untuk membunuh Sistine!' Kidoumaru kembali membidik dan kali ini Sistine sebagai targetnya. "Matilah!"
"Teknik Kenjutsu Kedua, Hiken."
Tes!
Dalam penglihatan Naruto, semua yang ada disekitarnya terlihat melambat bahkan tetesan keringatnya dapat dia lihat menetes ke atas tanah, begitu pula lesatan anak panah Kidoumaru yang terlihat melamban. Teknik kedua yang dia gunakan ini termasuk ke dalam teknik pertahanan dimana dia dapat memusatkan energi ke dalam indra yang dia ingin, mempercepat kinerja saraf hingga membuat semua reflek bergerak lebih cepat. Jika normalnya Reflek Manusia bekerja diantara kisaran 0,5 detik maka saat ini dia berada di kisaran..,
"M-m-mustahil! Gerakan apa itu?!"
0,01 detik.
Naruto mengambil nafas tenang seiring cahaya putih yang bersinar di dadanya, kini Holy Grail bekerja memulihkan Staminanya. Beruntung Naruto memiliki Holy Grail sekarang, meningkatkan reflek dalam satu waktu cukup menguras stamina apalagi ketika dia harus berusaha fokus untuk melindungi Sistine.
"N-naruto, k-kau juga bisa menggunakan Hiraishin?"
"Maaf mengecewakanmu, tapi aku hanya menikatkan reflek dan juga gerakanku saja, ini termasuk seni berpedang kuno. Mengherankan melihat murid berbakat sepertimu tidak tahu tentang teknik ini." Naruto memberikan lirikan kebelakang setelah menjawab pertanyaan gadis itu.
"T-tapi, itu tadi-"
"Daripada itu lebih baik kau menggunakan sihir pelindungmu." Potong Naruto lalu kembali fokus pada Kidoumaru, "Menangkis serangan cepatnya saja sudah cukup sulit, apalagi aku juga harus melindungimu juga."-mungkin terdengar kasar namun Naruto tidak akan berbohong, kekuatan musuhnya cukup besar kali ini, walaupun dia bisa saja menggunakan Killing Fall 2 kali lagi atau menggunakan Kenjutsu andalannya 1 kali, tapi akan sangat merepotkan jika dia kehabisan tenaga sementara musuhnya masih hidup.
Apalagi Naruto juga merasakan ada tekanan lain selain dari Kidoumaru, dan kemungkinan besar itu adalah musuh juga. 'Ah! Jangan-jangan!'
"Kisama! Padahal yang lain sudah mengulur waktu menahan para menjaga, tapi kau ini benar-benar mengesalkan!" Kidoumaru mengeratkan genggamannya pada busur emas miliknya, emosinya benar-benar memuncak sekarang. Masalahnya jika dia mundur saat ini maka itu akan melukai harga diri tuannya, dia tidak ingin hal itu terjadi.
Karena tuannya lah Kidoumaru bisa memiliki kekuatan ini, memiliki kekuasaan dan kebebasan ini. Karena tuannya yang sudah memungutnya dari jalananlah yang memberinya tekad untuk melayani tuannya, meski dengan nyawanya dia akan rela jika itu untuk tuannya!
'Khh! Kuso! Akan kubuat kau benar-benar menyesal sekarang!' Kidoumaru menarik busur panah emas miliknya, tekanan kuat mengalir memenuhi busur panah itu.
Benar dugaan yang dia fikirkan, beberapa saat lalu dia mengira ada hal aneh mengapa prajurit kerajaan tidak segera bertindak. Kemungkinan besar mereka juga ditahan oleh rekan pria itu, tapi itu sudah tidak pentieg karena Kidoumaru akan kalah ditangannya.
"Ini akan berlangsung sia-sia, aku tidak ingin membunuhmu tapi jika terpaksa aku harus membuatmu sekarat."-Kembali menyiapkan katananya, Naruto bersiap menghadapi serangan balasan itu. "Pijami aku kekuatanku, Intetsu."
"Milion Rain!"
"Percuma!"
Blarrr!!!!!!!!!!!
Blarrr!!!!!!!!!!!
Ledakan demi ledakan terjadi ditempat itu, dan hanya sebuah bayangan putih yang terlihat, tubuh Naruto seperti menghilang sesaat dan kembali di tempat awalnya berdiri.
"Mustahil! Bagaimana bisa?! BAGAIMANA KAU MELAKUKANNYA?!"
Tanpa menggubris teriakan frustasi lawan, Naruto menarik katananya kebelakang sekali lagi. "Bersiaplah... Kidoumaru-san!"
"AKU TIDAK AKAN KALAH!"
Dentuman beruntun menghancurkan bangunan yang dilewati Naruto, terus dan terus anak panah menghujani pergerakan Naruto tanpa henti seperti hujan yang tetap mengikuti kemanapun dia bergerak. Namun hal itu sama sekali tidak membuat gerakannya terhenti, jarak semakin menipis dan ledakan tetap berlanjut.
Naruto bergerak menyamping setelah menebas satu anak panahnya, memutar tubuh dan dalam gerakan lamban sebuah anak panah berada didepan wajahnya. "Maaf, tapi aku yang menang." Anak panah itu tidak terlepas namun sebaliknya terurai menjadi butiran tanah bersama busur yang digenggam Kidoumaru.
Katana itu menembus perut Kidoumaru dan tanpa di perintah pria tersebut lantas terbatuk darah, kedua lututnya tidak dapat menahan beban akibat rasa sakit yang dia terima dari luka diperutnya, Kidoumaru jatuh berlutut dengan kedua tangan mencengkram bilah katana Naruto. "B-bagaimana, aku bahkan sudah membidikku tadi-Ohok!"
Naruto menarik katananya tanpa pandang bulu, ia menatap datar Kidoumaru yang terbatuk-batuk dan sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. "Kecepatan, Reflek dan otak, aku mengandalkan mereka. Sejak kecil aku tidak dapat menggunakan sihir karena kapasitas Mana milikku yang terlampau rendah, maka dari itu aku terus mempelajari teknik sihir, apa yang membuat mereka spesial, dan mengapa banyak orang yang sangat memuja sihir. Hampir separuh hidupku ini kugunakan untuk berlatih semua ilmu yang ada, beladiri, Kenjutsu, sihir dan juga sejarah dunia ini. Mudahnya adalah, aku mempelajari apa yang digunakan lawan agar aku bisa menang."
Jadi begitu ya, pantas saja dia kalah. Pemuda itu jauh lebih bekerja keras daripada dirinya yang hanya bertumpu pada tuannya. "Aku, mengaku kalah."-Mungkin sekarang dia akan ditangkap oleh prajurit kerajaan, bahkan saat ini dia dapat mendengar suara bergemuruh dari arah Istana.
"Naruto, bukan?"
"Ya."
"Bisa aku meminta sesuatu padamu?" Kidoumaru berujar pelan dan tetap menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Ya, apapun asal tidak merepotkan." Jawab Naruto.
"Bisakah kau membunuhku?"
Itu… permintaan yang cukup buruk karena dia berencana untuk menanyakan tentang siapa yang memerintah pria itu, siapa tahu ini ada hubungannya dengan apa yang dikatakan orang bernama Kinpatsu itu. Tapi, sebagai seorang yang menjunjung harga diri dia juga tidak dapat menolak permintaan dari seorang Kidoumaru, meski dia baru saja melawannya tapi Naruto tahu jika tekad Kidoumaru sangat kuat.
Ya ampun~
Naruto menarik katananya ke udara sebagai jawaban permintaan Kidoumaru, lagipula jika pria itu ditangkap oleh pihak kerajaan maka dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Sebenarnya, dia juga tidak dapat mempercayai kerajaan.
"Terima kasih,"
Naruto merespon datar Kidoumaru. "Aku akan menebas kepalamu, jadi bersiaplah."
"Tunggu, Naruto! Jangan bunuh dia, dia bisa menjadi informasi yang penting!" Sistine berlari dari arah belakang, akan tetapi Naruto tidak memperdulikan hal itu.
"Sebagai tanda terima kasih, akan aku beritahu sesuatu padamu. Kerajaan ini, akan segera diserang oleh Serikat Satan, dan pemimpin kami menginginkan kekuatan dari senjata kerajaan terkuat."
"Ya, aku tahu tapi.., Aku tidak peduli,"
"HENTIKAN! NARUTO!"
Crashhhh!!!!
-x-
Wilayah Timur Kerajaan
"Kidoumaru, tewas." Seorang perempuan dengan surai hitam melirik kebelakang dan menatap seorang pria yang memejamkan matanya tenang. "Bagaimana selanjutnya?" Perempuan hitam itu menghilangkan sebuah bola kristal yang sebelumnya berada ditangannya.
Kelopak itu terbuka dan menunjukkan iris hijau jade menatap ke arah jalanan kerjaan yang dipenuhi oleh penduduk yang mengarahkan satu pandangan ke pusat kota, sepertinya Kidoumaru mendapatkan lawan yang tangguh-itulah fikirnya. Tapi, Sekarang sudah terlambat untuk misi yang harus mereka tuntaskan. "Hah~" Menghela nafas berat, pria itu melangkah menuju gang gelap diantara bangunan penduduk.
"Kita kembali, Raynare. Panggil yang lain dan lekas mundur sebelum para Lord datang."
"Wakatta."
'Rencana B, kah.'
Mask
Semua memiliki pencipta masing-masing.
Chapter 17
Mengerjap beberapa kali dan mengangkat tangan, menatap sendiri telapak tangan miliknya sebelum beralih melirik atap kamar yang dia tempati. Uzumaki Naruto bangun setelah mengalami kejadian yang cukup rumit tadi malam, dan jika diingat kembali, Kidoumaru adalah manusia pertama yang dia bunuh.
Rasanya sangat mendebarkan... Berat, dan juga sedikit merasa aneh. Ini adalah pengalaman pertama dia mencabut nyawa seseorang, jadi rasanya itu cukup wajar. Namun sekarang ini dia seperti bisa membunuh lebih mudah tanpa keraguan, itu mungkin pilihan terburuknya tapi tidak ada yang tahu kapan dia harus membunuh lagi.
"Hah, lupakan. Lebih baik aku berlatih dulu sebelum pergi ke tempat Sasuke, lalu menjemput Naruk-o."
Ah-benar juga, dia baru ingat bahwa harus menjemput Naruko-err tapi dimana? Bodohnya dia yang tidak memberikan lokasi pada kembarannya itu, apa dia harus ke distrik Uzumaki-Tidak! Mustahil.
"Sudahlah, aku fikirkan nanti." dengan itu Naruto beranjak turun dari kasur kecilnya dan berjalan menuju kamar mandi. "Yare-yare, satu hari hari lagi dengan aktifitas ini itu." ujarnya malas.
Srekk!
"Yos-Are?"
"U-u-u-u-u-u-ummmmmu..."
"Tunggu! Sejak kapan ada perempuan setengah telanjang ada dikamar mandiku?"-Naruto tahu dia harus tenang dan melupakan fakta ada seorang gadis yang ada di hadapannya sekarang, ini juga bukan salahnya, ya! 100 persen bukan salahnya! "Naruko, bisa kau jelaskan?"
"S-s-s-s-setidaknya keluar dulu, BAKA!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
.x.
"Itte, te..." Naruto mengusap pipinya yang terlihat agak mengalami memar, luka lebam sedikit merusak kulit mulus wajahnya. Salahkan Naruko yang sekarang sedang duduk di tepi kasurnya dan menundukkan wajah tanpa berani menatapnya, yah~siapa sangka saudarinya itu memiliki tenaga sebesar ini.
"Maaf, a-aku terlalu terkejut tadi." Sesal perempuan itu dengan meremat sedikit rok pendek yang dia kenakan. Naruto memutar mata melihat itu,
"Bersikaplah biasa saja, aku tidak suka kecanggungan ini." Ujar Naruto malas dan berhenti mengusap dahi, dia membuka bajunya sendiri dan Naruko membelalak melihat itu.
"N-Naruto, a-a-apa yang mau kau lakukan?" Tanya Naruko yang telah mengalami tingkat kematangan tinggi. "K-kita i-ini saudara loh."
"Apa yang kau fikirkan, Baka-Hentai. Aku hanya akan mengganti bajuku." Naruto mengabaikan raut setengah lega juga kecewa?-lupakan. Pemuda berjalan menuju lemari kecil yang berada di pojok ruangan.
Disela itu Naruko terus memperhatikan saudaranya, tatapannya terpaku pada lengan kiri yang terlihat sangat menyedihkan dimatanya. Beberapa bekas luka sayat dipunggung dan juga pinggang yang kemungkinan tidak akan pernah hilang, iris violetnya mengabur setelah Melihat langsung keadaan itu. 'Seberapa besar penderitaan yang dia jalani?' Dia tahu hanya melihatnya saja tidak dapat mengukur seberat apa hal yang sudah dialami Naruto.
"Aku berencana menjemputmu nanti, tapi kenapa kau yang malah datang kemari, lagipula darimana k-oy, apa yang kau lakukan?" Naruto seketika bergidik geli saat Naruko mendekat dan menyentuh dada telanjangnya.. Oke ini agak memalukan, lagipula apa-apaan tatapan sayu itu? "Hentikan, kau membuatku risih." Ujar Naruto menangkap sebelah tangan Naruko.
Naruko merespon dengan menatap langsung mata biru adiknya, "Apa ini luka ketika kau mencari Akar Naga untukku?"
Naruto terdiam sesaat sebelum melepas tangan kakaknya dan kembali mengenakan pakaian atasnya, "Ya, saat itu aku dikira seorang penyusup oleh klan Yamanaka, dan karena panik aku malah melawan mereka." Jawabnya seraya memakai sebuah jubah hitam yang menutupi tubuhnya dilanjutkan berjalan pelan menuju arah kasur dan berjongkok mengambil sesuatu dari bawah tempat tidur itu.
"Maafkan aku, karena sama sekali tidak menyadari jika itu kau."
Kembali mengambil nafas lelah mendengar gumanan penuh penyesalan itu, Naruto menarik semacam kotak dari kolong kasur dan mengambil dua buah Toolsbag kecil. "Jangan membahas hal itu, aku malas membicarakannya." Setelah mengatakan hal tersebut Naruto berjalan menuju Katana hitam yang terpajang di dinding ruangan dan menyembunyikan dibalik jubahnya.
"Aku sudah selesai, sebaiknya kita pergi sekarang." Ujar Naruto memandang Naruko.
Tarikan nafas tenang sebelum perempuan itu memasang senyum tipis. Mulai sekarang dia tidak akan membahas hal lalu pada Naruto, jika perlu dia akan menyimpan itu sendiri sebagai penyesalan dirinya. Saat ini dia harus menikmatinya, kedekatan dengan Naruto yang dulu pernah dia buang.
"Ha'i!" Naruko berlari kecil menyusul adiknya yang telah berjalamd lebih dahulu. "Ano, kita mau kemana?"
"Distrik Uchiha."
-x-
Ravel Phenex sedang dalam keadaan Mood Down dan mencoba menaikkan dengan berjalan kaki di area sekitar kerajaan, beberapa kali dia terlihat mendesah melihat beberapa pasangan berlalu lalang melakukan hal yang sama.
"Kudengar malam tadi Sistine-sama diserang pemberontak."
Sistine? Pemberontak? Apa maksud dari remaja-remaja yang memakai baju sama itu?
"Benarkah? Lalu?"
"Dan kudengar si pecundang menyelamatkannya."
Pecundang?
"Itu pasti berita bodoh, tidak mungkin si bodoh Naruto menyelamatkan Sistine-sama, pasti keadaannya yang terbalik, hahaha."
Si bodoh, Naruto? Maksud mereka Uzumaki Naruto? Orang yang telah menyelamatkan dia dari perjodohan klan? Tidak, tidak, ini pasti Naruto yang lain.
"Kemarin aku melihat dia datang kesekolah, dan kau tahu-Pff! Tangan kirinya hilang!"
Deng!
"Kau serius? Memang apa yang terjadi?"
Ravel melihat pemuda-pemuda itu memasang wajah antusias, mengetahui Naruto yang memang adalah orang yang sama dan fakta bahwa para remaja itu tengah menjelekkan penyelamatnya sungguh membuat Ravel geram.
"Mana kutahu, paling juga dia sudah frustasi karena tidak dapat menjadi wizard... Hahahah."
"Hahahahaha, payah sekali."
Grettt!!!!!
Baru kali ini Ravel merasa benar-benar marah, dia bukan tipe orang yang akan melawan ketika dirinya dihina, tapi melihat seseorang yang telah membantunya dilecehkan seperti ini sangat membuatnya kesal. Apalagi mereka yang tidak tahu apapun tentang Naruto!
"Naaaaaruuuuu!"
Eh?
"Berhentilah berteriak seperti itu, Naruko. Kau membuatku malu."
"Kejam! Kau tidak mengatakan apapun"
"Aku sudah bilang kita akan mengunjungi Sasuke karena dia membutuhkan bantuanku."
"Tapi bukannya kita akan b-b-b-berkencan?"
"Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu, mungkin telinga dan otakmu yang sudah tidak berfungsi."
"M-matte! Eh-Ada apa Naru...to?"
Ini tidak seperti yang Ravel kira dimana akan bertemu Naruto disini, dan parahnya dia bersama seorang gadis yang dilihat dari manapun sangatlah menawan dengan rambut pirang-merah itu. "Naruto?" Ravel mencoba memanggil pemuda itu dan direspon helaan nafas oleh Naruto.
Naruko memandang dua remaja itu bergantian,"Anu, Naruto? Dia siapa?" tanyanya menunjuk sosok Ravel.
"Dia Phenex Ravel, dia-"
"-Calon istri Naruto."
Naruto merespon cepat dengan menjitak kepala kuning bodoh itu-tunggu! Ada tiga kepala kuning disini.
"Jangan mengatakan hal aneh, bodoh!" ujar Naruto menatap Ravel tajam sementara perempuan itu berbalik dan mencoba menendang tulang keringnya namun gagal.
"MENYEBALKAN! Kenapa kau meninggalkanku sendiri di gereja!? Kau tahu sendiri jika aku tidak tahu daerah disinikan, Baka!" Ravel bersungut kesal dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Tatapan sebal itu dapat Naruto mengerti dan hal wajar bagi Ravel karena memang ini adalah kesalahannya, namun saat ini dia tidak ingin bertengkar dengan siapapun atau mencari sebuah perhatian. Naruto menyadari ada beberapa tatapan yang mengarah pada dirinya dan juga Naruko, dan itu berasal dari murid Academy Kerajaan.
"Si pecundang? Kenapa kau bisa bersama dengan Naruko-Hime?!"
Dan ini adalah hal terakhir yang dia inginkan, sebuah masalah.
"Naruko-hime, sebaiknya anda menjauh dari dia, dia itu hanya wizard lemah yang tidak memiliki Mana, anda akan malu jika berjalan dengan dia!" Salah satu murid maju dan membungkuk di hadapan Naruko lalu melirik pada Naruto tajam seolah tengah mengintimidasi lewat pandangan.
"Kis-"
"Ravel, tenanglah."
Mengambil tindakan pencegahan Naruto mengangkat tangannya mengintruksi Ravel agar tidak terpancing, akan merepotkan jika murid-murid itu melukai Ravel atau hal buruk lainnya.
"Naruko-hime!? Sebaiknya hime-sama menuruti perka-"
"Siapa kalian yang berani memerintahku?"
Menepuk kepalanya sendiri, Naruto melihat saudarinya telah memunculkan lima lingkaran sihir berukuran besar dibelakang punggung. Harusnya daripada menghawatirkan Ravel, dia lebih menghawatirkan temperamen yang dimiliki Naruko.
"Aku adalah Uzumaki Naruko, dan kalian tidak berhak memilihkan siapa yang harus berada di dekatku!" Hardik perempuan itu dengan suara gelap, "lagipula, murid gagal seperti kalian tidak pantas menghina Naruto yang merupakan pemega-Upppp-Puah!!!!"
'Si bodoh ini, apa dia mau membongkar rahasiaku sebagai pemegang Murasame di depan publik?' Pada akhirnya dia harus menghentikan pertengkaran bodoh ini, setidaknya dia tidak ingin membuat keributan lebih dari ini. Naruto menatap tiga murid Academy itu lalu membungkuk meminta maaf, dan itu membuat Naruko serta Ravel memasang raut terkejut.
"Tunggu, Naruto?!"
"Maafkan aku atas keributan ini, jika bisa, kuharap kalian bisa membiarkan kami dan pergi dari sini." Ini adalah pilihan yang Naruto ambil, demi dirinya sendiri dia harus menunduk sekarang, lagipula dengan kemarahan dari Naruko yang cukup menimbulkan perhatian para penduduk juga membuatnya terpaksa melakukan ini.
"Naruto! Kenapa kau menund-"
"Diamlah, Naruko. Dan untuk semuanya, aku mohon maafkan kami." Naruto memotong ucapan saudarinya dan berjalan meninggalkan murid Academy yang tidak dapat berbicara apapun karena ada Naruko yang menatap mereka tajam sebelum mengekori Naruto.
"Naruto, tunggu! Kenapa kau menarik bocah itu?!"
"Siapa yang kau panggil bocah, ha!?"
Entah berapa kali Naruto terpaksa menarik nafasnya mendengar Naruko yang terus mengoceh, dia berhenti dan melepaskan pergelangan tangan Ravel sebelum kembali melanjutkan langkahnya dan membiarkan dua gadis itu bertengkar dibelakangnya.
"Kau ini sebenarnya siapa? Dan kenapa mengikuti kami?!" Naruko bertanya tajam dan melirik Ravel disampingnya.
"Sudah kubilang aku ini calon istri Naruto! Apa kau tuli?!"
'Ya ampun.' Naruto menepuk dahinya frustasi, dia berhenti (lagi) dan berbalik.
Ptakkk!
"Ittai..."
"Hahaha, rasakan itu boc-Ittai!"
"Sekarang, bisakah kalian diam?" Tanya pemuda itu setelah menjitak mereka bergantian, wajah blanknya juga cukup membantu mengancam dua gadis yang saat ini mengangguk patuh. "Biar aku jelaskan sekali lagi, dia adalah Phenex Ravel, bangsawan keluarga Phenex yang dengan beberapa alasan mengikutiku pulang ke Kerajaan. Dan untuk Ravel, perempuan pirang ini bernama Uzumaki Naruko, dan seterusnya kau pasti tahu siapa dia."
Ravel mengusap kepalanya dan menatap Naruko yang juga melakukan hal sama, memperhatikan wajah cantik perempuan itu dan baru menyadari jika dia memiliki wajah yang hampir sama persis seperti Naruto. Uzumaki, wajah yang memiliki kemiripan...
"Naruto! Dia-"
"Jika sudah tahu sebaiknya diam, aku tidak ingin hal merepotkan terjadi lagi." Naruto memotong ucapan Ravel dingin, dan tentu hal itu mendapat respon tidak mengerti dari perempuan Phenex tersebut. Ravel melirik ke arah Naruko, dan dia hanya mendapati tatapan sayu yang ditunjukkan perempuan itu.
'Etto, apa yang terjadi?' Batin Ravel yang berada ditengah posisi canggung ini.
-x-
Naruto berjalan memasuki distrik Uchiha, tentu masih dengan dua gadis yang mengekorinya dalam diam. Beberapa kali juga dia mendapatkan salam dari anggota clan Uchiha, dan hal itu segera dia balas dengan senyum kecil.
Naruko yang melihat respon anggota klan tentu saja merasa aneh, apalagi yang dia bicarakan ini adalah Uchiha, klan dengan sifat antisosial cukup tinggi. Dan mendapati Naruto begitu diterima disini membuatnya berfikir tentang keberadaan adiknya yang sudah biasa ada disini.
"Anu, Naruto, sebenarnya kita akan pergi kemana?" Tanya Ravel yang tidak mengerti sama sekali akan tujuan pemuda itu-dan juga, kenapa dia jadi mengikutinya?
"Oh, kau belum kuberitahu, kah."
"Daritadi saja kau diam, bagaimana aku bisa tahu." Balas Ravel kesal.
"Ini adalah wilayah klan Uchiha, aku akan menemui salah satu sahabatku." Jawab Naruto yang mengacuhkan nada kesal Ravel.
"Ada urusan apa? Dan juga, apa tidak masalah jika kami ikut menemui Sasuke-kun?" Naruko tahu siapa yang saudaranya maksud, lagipula kemarin dia juga sudah tahu bagaimana hubungan kedua pemuda itu.
"Tidak masalah, lagipula ini hanya undangan non-formal."-'Kurasa.'
"Aku merasa tidak perlu kemari, yah-kurang lebih aku hanya menjadi pajangan saja." Ravel bersidekap dada tetap dengan kekesalannya, dia sendiri tidak tahu kenapa Naruto juga ikut menariknya, lagipula setelah meninggalkannya di Gereja, kenapa dia bersikap biasa saja? Setidaknya Ravel menginginkan permintaan maaf dari pemuda itu, paling tidak satu kata maaf saja. 'Haaah, hanya akan menambah kesal saja jika aku mengharapkan itu darinya.'
Mendengar perkataan Ravel membuat Naruto sedikit melirik kebelakang, "Aku hanya ingin mengajakmu berkeliling kerajaan sebagai tanda maafku, tentu saja setelah aku menyelesaikan masalahku di Distrik Uchiha ini." Ujarnya tetap berjalan, dan setelah mendapatkan jawaban dari Naruto tiba-tiba raut wajah Ravel berubah lebih cerah.
"Hmp! Itu sudah menjadi kewajibanmu!"
Naruko hanya dapat melihat interaksi kedua remaja itu dalam diam, ia lebih suka memperhatikan Naruto yang sangat jarang dia lihat daripada ikut dalam pembicaraan.
.x.
Naruto, Naruko dan juga Ravel berdiri di depan halaman sebuah mansion besar, melepas alas kakinya sebelum mereka memasuki mansion tersebut.
"Ara~Naruto-kun dan, Are? Naruko-chan?" Mikoto yang kebetulan datang dari arah samping menghampiri mereka bertiga.
"Bibi Mikoto, apa Sasuke ada dirumah?" Tanya Naruto setelah membungkuk memberi salam.
"Ya, dia dibelakang bersama Fugaku-kun, Sirzech-kun dan juga adiknya." Jawab Mikoto beralih pada Naruto, "Apa kau ada perlu dengannya? Umm~tapi kufikir Fugaku-kun akan mengunci Sasuke hari ini."
"Tidak ada, aku hanya ingin mengambil benda yang kutitipkan pada Sasuke."
"Hummm, begitu. Ah-tapi kebetulan sekali ada Naruko-chan disini, dan juga etto~"
"Ravel, Phenex Ravel. Aku adalah calon istri Naruto."
"Calon istri ya-TUNGGU?! APA?!"
Lagi-lagi mulut yang tidak dapat dikontrol itu harus membuat Naruto memberi penjelasan (lagi), "Dia hanya berkhayal saja, bibi. Tidak perlu kau hiraukan." Ujar Naruto, "dan juga bibi Mikoto, bisakah kau mengajak Naruko dan juga Ravel selama aku menemui Sasuke? Yah sekaligus mengajari mereka bagaimana menjadi istri yang baik." Naruto menatap Mikoto penuh harap, dan langsung dibalas dengan semangat oleh wanita tersebut.
"Tunggu Naruto, apa maksudnya? Kau bilang kita akan menghabiskan waktu bersama hari ini, kan?" Naruko mencoba mendelik tak suka, namun segera direspon dengan sedikit senyuman oleh Naruto.
"Hanya sebentar saja, lagipula kau pasti menyukai bibi Mikoto. Jaa..." Naruto melambaikan tangannya dan berbalik memasuki Mansion itu.
"Tunggu, Naruto!"
"Sudahlah, gendut. Naruto tetap akan meninggalkan kita tidak peduli kau merengek seperti apapun. Ne, sekarang... Etto, bibi Mikoto, em, kita akan melakukan apa?" Ravel menatap Mikoto penasaran, dia cukup mengerti dan tidak terlalu memprotes Naruto yang menitipkan mereka pada wanita ini, lagipula... Belajar jadi istri yang baik?
Blush!
'Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Jangan termakan kata-katanya, hiraukan saja! Ingatlah, aku seorang Phenex!'
"Ara, ara~Kau manis sekali, Naruto beruntung jika kau menjadi istrinya." Ujar Mikoto sembari memasang wajah bersinar, sementara Ravel? Tentu saja wajah gadis itu semakin memerah.
"M-m-m-m-m-mana mungkin aku dengan si baka itu!"
"Ara~kau tidak mau? Hm, baguslah. Aku berfikir akan menjodohkan Naruto-kun dengan anggota klan Uchiha."
"A-a-apa? Tidak! Tidak akan kubiarkan! Naruto itu... N-Naruto itu..."
"Naruto itu, apa?" Mikoto bertanya dengan wajah penasaran, perempuan itu cukup menikmati wajah Ravel yang memerah seperti tomat. Sepertinya wanita itu memiliki sifat yang cukup jahil.
"P-pokoknya tidak akan kuijinkan Naruto menikah dengan orang lain!"
"Ahahaha~kau lucu sekali Ravel-tan," Mikoto tertawa lepas sembari mengusap kepala kuning yang telah memerah sempurna itu. Melirik kebelakang dan mendapati Naruko yang terdiam melihat mereka, wanita itu sedikit tersenyum kecil, 'Saudara kembar itu memang sulit dimengerti.'
"Ne, Naruko-chan, maukah kau ikut menemani bibi belanja? Kurasa Naruto-kun akan sedikit memakan waktu, tentu saja kita akan pergi bertiga. Bagaimana, Ravel-chan?"
"A-aku sih tidak masalah."
"Yappa, lalu bagaimana dengan Naruko-chan?"
Untuk Naruko yang dipandangi dengan mata penuh harap, ia tidak sanggup menjawab dengan alasan lain selain mengangguk dan mendapat respon senang dari Mikoto. Tapi sebenarnya dia juga tidak masalah dengan ini, lagipula dia yakin saudaranya akan menepati janji.
"Ayo, Ravel-chan dan Naruko-chan."
"Ha'i/um."
.x.
"Taman belakang bersama Gremory? Jadi tunangan Sasuke benar-benar datang. Aku jadi penasaran bagaimana rupa dari tunangan si ayam itu."
Naruto menyusuri lantai kayu ditempat utama keluarga inti Uchiha itu, sedikit melamun dan tanpa menyadari ada orang lain yang berjalan ke arah berlawan denganya.
"Ah!"
Pemuda itu mengadah dan menatap seorang gadis-mungkin lebih tua darinya-sedang menatap dirinya penuh tanya. "Rambut merah?" gumannya setelah melihat surai panjang yang tergerai itu.
"Maaf, anda siapa?"
Sekali lagi fikiran Naruto terbuyar dan kembali fokus pada wajah gadis itu, setelah dia perhatikan, dari pakaian yang digunakan perempuan ini terlihat jelas bahwa dia dari keluarga bangsawan, dan lagi kulit sebersih itu pastilah sering melakukan perawatan.
Oh benar, Naruto lupa jika dia harus memperkenalkan diri.
"Naruto-desu. Kau?" menatap langsung mata blue-green itu, Naruto lantas berbalik bertanya padanya.
"A-ah, Salam kenal, Naruto-san. Saya Rias Gremory, etto... C-calon tunangan dari Uchiha Sasuke."
Perkenalan yang Naruto kira cukup wajar, tapi dia lihat ada sedikit keraguan ketika perempuan ini memperkenalkan diri sebagai calon tunangan dari Sasuke. Naruto fikir ada sedikit masalah yang juga terjadi antara keluarga Gremory juga, dia sangat yakin mereka juga mempermasalahkan pertunangan ini sama seperti Sasuke.
"Dan lalu, kenapa kau ada disini? Ini bagian depan Mansion dan merupakan tempat pribadi pemilik rumah." Tanya Naruto setelah menyadari gelagat aneh dari seorang Rias Gremory.
Dengan sedikit tersipu malu, Rias sedikit menundukkan kepalanya kebawah. "Ma-af, a-aku tidak tahu jika ini daerah pribadi, jika begitu saya mohon pamit kembali."
Naruto sedikit memperhatikan tingkah laku dari Rias sebelum perempuan itu membungkuk dan berjalan ke arah yang sama dengannya, rupanya sebagai anggota keluarga kaya gadis itu memiliki sifat kikuk juga. "Yare-yare," dan dia mulai mengikuti sosok Rias dari belakang.
""Aura yang aneh bukan, Goshujin-sama?""
Ini suara Murasame, dalam tiga-atau mungkin dua hari ini Naruto tidak mengaktifkan link miliknya, setelah pertemuan dengan para petinggi itu dia semakin membatasi link yang dia gunakan. Tentu saja termasuk menggunakan (Curse).
'Murasame, apa kau sudah merasa baikan?'
"Ha'i, Mana milik saya sudah sepenuhnya pulih."
Di dalam Mindsape terlihat sosok Transform Murasame tengah duduk tenang dan mengayun-ngayunkan kedua kakinya. Mata sekelam langit malam itu tiada henti memperhatikan Rias yang muncul di dalam penglihatan tuannya.
'Kau mengatakan aura yang aneh? Apa maksudmu, milik Gremory-san?' Naruto kembali mengoreksi ucapan Murasame yang mengatakan tentang aura aneh tadi.
""Ha'i, tapi itu wajar bagi klan Gremory yang memiliki kekuatan hebat."" Ujar Murasame kembali.
Sedikit tertarik dengan pembicaraan ini, Naruto memperhatikan punggung Rias. 'Kekuatan hebat?'
Murasame berdehem mengiyakan, menjentikkan jarinya dan sedikit mengalirkan Mana miliknya, roh pedang itu memberikan informasi mengenai detail keluarga Gremory kedalam ingatan Naruto. Hal itu tentu saja membuat kepala pemuda itu berdenyut akibat menyesuaikan informasi yang dia dapatkan.
"Sirzech Lu, cifer?"
"Eh..?"
Naruto terpaku menatap Rias yang berhenti tiba-tiba dan memandangnya penuh kecurigaan.
"Darimana, kau tahu julukan kakakku?" Tanya Rias tajam. Tatapan itu sangat berbeda dengan yang tadi dia tunjukkan. 'Tidak ada yang pernah menyinggung nama Lucifer karena semua kepala klan tahu jika kakak sangat membenci julukan itu. Tapi, setelah sekian lama mencoba dilupakan, kenapa pemuda ini bisa tahu? Atau mungkin memang disini mereka menganggap klan Gremory seperti itu?'
"Maaf, aku hanya teringat perkataan seseorang yang pernah menyinggung masalah Sirzech-san." Naruto tanpa
memperdulikan Rias kembali meneruskan langkah kakinya melewati tubuh itu, Naruto sendiri baru mencerna informasi yang diberikan Murasame padanya.
"Tunggu." Rias mencoba menarik jubah yang Naruto gunakan dan membuat pemuda itu berhenti dan melirik padanya. "Bisakah, kau tidak mengatakan julukan itu lagi?"
"Tidak masalah, lagipula aku tadi hanya terkejut mengetahui bahwa Sasuke mendapatkan calon istri dari keluarga Gremory. Yah, lagipula semua itu juga tidak ada gunanya untukku."
Menatap mata biru yang terlihat sangat tenang dan selanjutnya Rias melepaskan pegangannya, "Terima kasih atas pengertiannya."
"Hm."
"Anu, Naruto-san."
"Ya?"
Menunggu tanggapan dari perempuan yang sekarang mengekorinya ini membuat alis Naruto berkerut penuh pertanyaan.
"Etto, sebenarnya. Kenapa kau jalan searah denganku?"
Kali ini Naruto harus menahan agar tidak Sweatdrop melihat perempuan berambut tomat ini.
.x.
"Ne, Naruko-chan, apa kalian berdua sudah berbaikan?" Mikoto menoleh pada Naruko yang berjalan sambil menenteng keranjang anyaman.
"Apa, maksudnya?" Naruko mengerti betul akan apa yang ditanyakan oleh Mikoto, setelah melihat sendiri interaksi antara Naruto dengan wanita itu pun dia dapat menyimpulkan dengan jelas.
Mikoto tahu apa yang terjadi dengan Naruto secara jelas, karena selain fakta bahwa hubungan Mikoto dengan kembarannya terlihat sangat baik, hubungan Mikoto dengan ibunya pun terbilang sangat dekat. Beberapa kali perempuan Uchiha itu datang ke Distrik Uzumaki. Karena bukan rahasia lagi jika ibunya dan Mikoto memiliki ikatan persahabatan yang cukup kuat.
"Naruto itu orang yang sangat kuat, aku bahkan kagum dengan keteguhan hatinya."
"Etto, apa aku harus pergi?" Ravel mengatakan ini dengan agak canggung, dia tahu jika pembicaraan ini sudah menyangkut hal serius. Sebagai seorang putri bangsawan dia sudah diajari agar tidak menguping pembicaraan orang lain, tidak sopan-katanya.
"Tidak perlu, Ravel-tan.Kau itu merupakan orang berharga bagi Naruto, jadi mengetahui sedikit masa lalunya itu tidak masalah." Ujar Mikoto dengan senyum lembutnya.
"Masalah? Apa, ini termasuk sikap si gendut dan Naruto tadi?" Tanya Ravel dengan intonasi nada keheranan, raut wajahnya pun terlihat sangat penasaran. Namun entah mengapa pilihan kata yang dia ucapakan membuat Naruko merasa kesal. "Aku tahu kalian adalah saudara kandung.., itu juga dapat dilihat secara jelas dari kemiripan wajah kalian, tapi, aku melihat respon dari beberapa orang tadi, sepertinya mereka tidak tahu hubungan kalian." Ravel menatap Naruko yang mengalihkan pandangannya, merasa bahwa dia tidak akan mendapat jawaban dari perempuan itu, Ravel akhirnya memilih meminta jawaban dari Mikoto.
"Ravel, apa., kau tahu tentang Mana dan apa peran Mana dalam kehidupan kita para wizard, terutama bagi kita yang berasal dari klan bangsawan?" Mikoto bertanya dengan nada lembut.
"Mana merupakan energi utama semua wizard untuk membentuk sihir, dan untuk peran serta hubungan dengan klan kurasa adalah hal yang mutlak, Wizard yang tidak dapat mengendalikan mana dan membentuk sihir akan dianggap sebagai produ-k-A-a-apa maksudnya, Naruto itu tidak memiliki mana?" Ravel berbalik bertanya dengan raut shok.
"Ya, Dan dia juga berasal dari klan Uzumaki. Berasal dari klan besar dan memiliki 3 Saudara Prodigy adalah hal terburuk yang pernah Naruto rasakan. Dan Ravel, apa-kau tahu bagaimana rasanya jika saudara bahkan ayah dan ibumu tidak menganggapmu? Yang lebih buruk, mereka terus mencoba menyingkirkanmu?"
Ravel melirik ke arah Naruko dengan tatapan tajam, bahkan dia sendiri tidak sanggup menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Mikoto. Yang benar saja, saudara dan juga orang tua yang tega melakukan itu demi hal bodoh, adalah mereka yang benar-benar tidak memiliki hati!
"Aku bahkan tidak dapat menjawab pertanyaan anda, Mikoto-san. Tapi.," Ravel mengingat kembali beberapa hal, dan ini mengenai bagaimana hubungannya dengan sang kakak, Raiser. Meski terkadang mengesalkan, membuat amarahnya meningkat ke dalam tahap tertinggi, namun ada beberapa hal yang Ravel tahu bahwa seorang saudara akan tetap memiliki sebuah ikatan. Sebenci apapun, mereka tetap tidak dapat memungkiri bahwa ikatan darah ada didalam diri mereka. "Kurasa tidak ada yang mengerti apa yang dirasakan Naruto selain saudarinya sendiri."
Mikoto tersenyum menanggapi jawaban Ravel dan memberikan perhatian pada Naruko yang tetap tidak berani mengangkat kepalanya. Dijalanan yang menghubungkan dengan pusat Ibu kota kerajaan, dua perempuan yang melihat bagaimana Naruko terisak pelan.
Mereka tahu jika perempuan itu membutuhkan waktu, dan mereka berdua hanya melalui jalanan itu dalam diam.
.x.
"Sasuke, Fugaku-san dan juga, Gremory-san. Selamat siang." Naruto sedikit membungkuk hormat, dibagian belakang mansion yang memiliki area rumput yang cukup luas itu tengah menatapnya tiga sosok lelaki.
"Naruto, apa yang kau lakukan disini?" Fugaku adalah orang pertama yang merespon sapaan sahabat anaknya, mata hitamnya sedikit menyipit setelah melihat keberadaan Rias dibelakang Naruto. "Rias?" Gumannya dan kembali menatap Naruto.
"Maaf, aku bertemu dengan Rias-san di daerah pribadi Uchiha, aku fikir karena pernikahan Sasuke belum diumumkan secara resmi, maka dia bisa saja dianggap penyusup oleh anggota lain." Naruto yang mengerti pandangan Fugaku menjelaskan semuanya, dia tidak ingin ada kesalahpahaman tentang hal ini. Mata biru laut itu melirik pada Sasuke, "Sebelumnya maaf karena aku datang secara tiba-tiba, aku hanya ingin mengambil benda yang kutitipkan pada Sasuke."
"Benda?" Beo Fugaku melirikkan matanya pada sang anak yang mengambil nafas singkat.
"Line." Sebuah lingkaran sihir kecil muncul, dan Sasuke menarik sebuah benda darisana. "Ini senjata titipanmu, dan ingat dengan bayaranku." Ujar Sasuke melemparkan sebuah katana yang terbungkus sarung berwarna hitam legam.
Naruto tersenyum kecil setelah menerima katana itu, sedikit menarik dan mengintip bilah perak yang tersembunyi di dalam sarung itu. 'Dengan ini aku memiliki dua katana, Intetsu dan juga... Muramasa.' Pedang ini adalah benda yang ia titipkan pada Sasuke. Berawal dari ia mendapatkan bahan mentah yang sangat bagus dan mendengar bahwa ada pandai besi yang sangat handal di daerah barat, sungguh kebetulan bahwa Sasuke juga akan mengunjungi tempat itu dalam acara pertunangannya minggu lalu.
Dan seolah tidak mau melewatkan kesempatan itu dia pun menitipkan materialnya pada Sasuke untuk dibuatkan senjata. Sejujurnya dia dapat memesan senjata lain, tapi ia sangat menyukai katana, hm~sangat sulit jika telah mencintai sesuatu.
""Mou~Goshujin-sama, lalu aku ini apa jika bukan katana?""
Naruto terkekeh mendengar rengekan roh yang ada dalam dirinya ini. 'Kau adalah, apa ya?'
""GOSHUJIN-SAMA!""
'Ahahahaha~gomen, gomen."
"Kau memesan pedang lagi, ya." Fugaku melihat Naruto yang terlihat senang akan pedang barunya, tentu saja itu bukan hal baru karena ia juga sudah cukup mengenal pemuda itu, termasuk senjata favoritnya. "Pedang memang senjata yang bagus, tapi kau juga perlu melatih keterampilanmu yang lain."
"Mana bisa, dia itu hanya maniak pedang saja." Sasuke menyahuti ucapan sang ayah dengan nada malas, itu juga cukup direspon dengan sebuah tawa dari Naruto.
"Aku juga sudah melatih berapa teknik, termasuk teknik senjata Silent Killing dan juga One Killing yang kupadukan dengan kekuatan Killing Fall baruku. Oh, oh! Aku juga sudah membuat pergerakan yang cukup untuk menyawai Shunshin no Shisui! Aku aku menunggu berlatih dengannya lagi!" Ujar Naruto bersemangat sementara Sasuke hanya memutar mata bosan dan Fugaku yang terkekeh melihat semangat yang ditunjukkan Naruto dalam membahas tentang kemampuan juga senjata.
"Apa dia Naruto yang anda bicarakan tadi, Fugaku-Jii" Pria dengan rambut merah sebahu masuk dalam pembicaraan, dia adalah Gremory Sirzech kakak dari Rias Gremory.
"Ya, dia adalah seseorang yang berhasil mengelabui sang master ilusi Uchiha, dia adalah Naruto." Ujar Fugaku dan disambut bungkukkan formal oleh Naruto.
"Salam kenal, Gremory-san, saya juga sudah mengenal tentang anda melalui Fugaku-san."
'Menarik.' Sirzech tersenyum ramah dan mendekat pada Naruto yang menatapnya ramah. "Jadi, kau yang dikatakan bisa menghindari ilusi milik Itachi-kun? Kau pasti sangat hebat." Puji Sirzech.
Sedikit menggaruk kepalanya gugup, sebenarnya Naruto tidak pernah mendaptkan pujian seperti ini sebelumnya, kebanyakan wizard yang bertemu dengannya hanya menganggap remeh karena tekanan Mananya.
"Tidak, aku hanya beruntung karena ilusi Itachi-san memerlukan waktu-?!"
[Power Destruction]
Bledamm!
"Nii-sama?!"
"Ya ampun, Mikoto pasti marah melihat taman belakang rusak seperti ini." Fugaku menepuk kepalanya sendiri, dan Sasuke menyipit melihat cekungan yang ada ditempat Naruto berdiri tadi.
"Nii-sama?! Apa yang kau lakukan?!" Rias berlari mendekat dengan wajah panik, dan sang kakak hanya terkekeh dengan sebuah pendar merah berada di lengan kanannya.
"Aku hanya ingin tahu seberapa cepat dia mampu menghindari seranganku tadi. Dan ini diluar dugaanku, reflekmu benar-benar mengerikan." Sirzech melirik kebalik punggungnya dan merasakan bagaimana sebuah bilah tajam dari katana perak menembus pakaian dan menggores kulit pinggangnya.
"Teknik kenjustsu kedua, Hiken."
CUT-
Yosh! Gomennasai, akhirnya setelah kesana-kemari, saya berhasil mengambil alih ponsel kakak saya, huehehe. Maaf, abaikan itu.
Mengenai chapter ini dan mungkin chapter depan juga saya hanya mengisi dengan hal ringan, seperti nteraksi NaruxNaru, NaruxIrina, NaruxRavel NaruxDuo Yamai.
Mungkin sampai chapter 21 an nanti suasana akan sedikit-sedikit menjadi serius dan klimaksnya akan ada di sekitaran chapter 25 an untuk Season 1.
Sosok Kinpatsu akan sangat jarang keluar disini, jadi tidak perlu menanyakan kemana dia, karena jawabannya adalah, dia akan ada di akhir Season 1.
Lalu, untuk konflik yang memang saya buat setengah-setengah, saya hanya dapat mengatakan... Sabar. Semua konflik sudah saya siapkan sebagai elemen akhir season pertama ini, katakanlah.., akan ada jalan cerita yang menjelaskan semuanya sikap Naruto ini.
Selanjutnya, ada yang bertanya. Thor, Buat Naruto gak memaafkan keluarganya, karena terlalu mainstream. - Seperti itu.
Em, bisa dibilang jalan cerita yang aku buat gak akan seberat dimana Naruto menjadi OP-Dark yang punya dendam kesumat sama keluarganya. Aku hanya akan mengambil realitanya aja., sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.
Dan juga terima buat yang sudah mendoakan Alm.Hp-kun (hiks), saya sangat teharu, bercanda deh-cuma seneng aja kok.
Mengenai pertanyaan Appoclipse-senpai yang bertanya apakah saya anggota FNI, maka jawabannya IYA. Wa saya bernama Fa-Angelic.
Oke, untuk chapter kali ini cukup sampai disini. Sampai jumpa dilain waktu...
