Naruto menarik nafasnya, lelah. Jujur saja dia tidak mengerti mengapa pria berambut merah ini menyerangnya, dan lagi,..
"Bisa jelaskan kenapa raut wajah kalian terlihat sangat santai? Aku tadi hampir mati, loh." Tanya Naruto yang merasa bahwa anak dan ayah dibelakangnya hanya diam dan malah menghawatirkan rumput halaman.
"Karena aku tahu kau dapat menghindari serangan dari Gremory-san dengan mudah." Jawab Sasuke malas.
"Mudah? Kau fikir meningkatkan gerakkan tubuh sesingkat itu mudah?"
"Entahlah, aku tidak tahu mengenai teknikmu."
Sedikit mendecih kesal Naruto menarik katana perak miliknya dan menatap Sirzech kalem. "Kita ini baru bertemu, Gremory-san, jadi kuharap kau tidak akan melakukan percoban pembunuhan seperti ini lagi." Kata Naruto sembari menyimpan katana miliknya.
Pewaris tahta klan Gremory itu tertawa lepas, sangat berbeda jauh dengan sang adik yang memandang penuh tanya pada Naruto. 'Aku yakin kakak tadi menggunakan kekuatannya, tapi mengetahui pemuda itu dapat menghindarinya dengan mudah... siapa dia sebenarnya?'
"Maaf, maaf Naruto-san. Aku hanya penasaran tadi~ahahaha."
Naruto menggelengkan kepalanya heran, bisa-bisanya pria itu mengatakannya dengan mudah setelah berniat akan membunuhnya. "Salah sedikit saja aku bisa mati karena kekuatan pemusnahmu tadi."
"Oh?" Sirzech merespon dan matanya menyipit, begitu pula Rias yang sedikit terkejut mendengarnya. "Aku tadi hanya membuat sihir kejut saja, kau tidak akan sampai terbunuh kok." Ujar Sirzech.
"Sihir kejut? Jangan berbohong, Sirzech-san, dilihat bagaimanapun sihirmu tadi sangat berbahaya."
"Ahahahaha, iya, aku mengerti. Sebagai permintaan maafku, akan aku gunakan semua kekuatanku pada serangan selanjutnya." ujar Sirzech dengan menggarung bagian belakang kepala. Sementara keempat orang yang lain hanya mampu menepuk kepala mereka sendiri.
"Aku tidak menganggap itu sebagai permintaan maaf." Balas Naruto sweatdrop.
.x.
MASK
Rate T to M
Semua memiliki pecipta masing-masing
.x.
Setelah sedikit 'sambutan' didapatkan oleh Naruto dari Sirzech, mereka semua akhirnya memutuskan untuk mengobrol bersama di taman belakang ini. Sebenarnya, Naruto tidak berniat ikut ke dalam pembicaraan ini tapi melihat tatapan memelas (tajam) yang diberikan Sasuke padanya, mau tidak mau ia harus ada disini.
"Jadi Naruto-san mengambil aliran pedang karena tidak dapat melakukan sihir?" Sirzech bertanya heran, apalagi melihat Naruto dalam satu kali pertemuan pun dia dapat menyimpulkan jika pemuda itu kuat.
"Sebenarnya aku juga bisa melakukan sihir, hanya saja aku cuma dapat menggunakan dasarnya saja." balas Naruto sembari menggaruk sebelah pipinya gugup, 'lebih tepatnya karena ada Murasame dan juga Holy Grail yang memiliki Mana dan dapat aku gunakan.'
"Tapi, melihat teknik berpedangmu tadi aku cukup yakin jika kau itu cukup kuat. Apalagi setelah mendengar jika kau dapat mengelabui Itachi-san yang notabenya adalah wizard Rank-S."
Naruto membuang nafas menanggapi itu, "Aku hanya sedikit mengetahui cara kerja sihir ilusi, jadi bukan hal rumit untuk mengetahui celah untuk keluar."
Sirzech menaikkan alis tertarik, begitu juga Rias dan juga Fugaku yang tersenyum mendengar penjelasan Naruto. Selama ini Fugaku selalu tidak mengerti mengapa Naruto dapat beberapa kali lolos dari ilusi yang diberikan Itachi ketika berlatih, tapi agaknya kebingungan itu akan segera terjawab sekarang.
Sementara disisi lain Sasuke menatap datar Naruto, namun walau begitu dia juga cukup tertarik mendengar pejelasan Naruto.
Naruto menarik nafasnya kembali lalu menatap Sirzech dengan mata birunya. "Ilusi yang selalu digunakan Itachi-san adalah Ilusi biasa yang memiliki jangka waktu pengaktifan dan juga beberapa syarat khusus. Pertama, aku harus mengeluarkan Mana agar diganggu oleh Mana milik pengguna, tapi syarat ini gagal karena basik kemampuanku adalah fisik. Maka, syarat selanjutnya juga diperlukan, pengguna ilusi harus melakukan kontak denganku, lewat mata, jari atau jika pengguna lebih handal maka dia dapat menggunakan ilusi tanpa harus melakukan kontak, namun ini cukup beresiko dimana penggunanya harus fokus untuk mempertahankan ilusi dan membuat pergerakannya terbatas."
Naruto mengangkat tangan kanannya ke depan dan mengodekan angka dua dengan jarinya. "Kelemahan ilusi ini ada dua, pertama tidak dapat digunakan pada target dengan mana lebih besar, dan kedua pada target yang memiliki tingkat kepekaan terhadap Mana dan juga kehadiran, Hawa membunuh, atau gerakan lainnya. Dan aku adalah tipe yang kedua, dengan tidak dapat membentuk sihir untuk mendeteksi maupun bertahan dari serangan musuh membuatku berlatih keras. Aku menajamkan indraku ke tahap yang lebih tinggi dan dapat meningkatkannya dalam satu waktu, seperti mata dan pendengaran yang dapat aku tingkatkan sampai dapat merasakan kehadiran dalam jarak 100 meter."
"I-itu sangat hebat, walau kau tidak dapat menggunakan sihir, tapi kau bisa merasakan kehadiran dalam jarak sejauh itu?" Rias berkata dengan wajah kagum, kebanyakan dari knight yang dia lihat adalah kekuatan fisik yang berada diatas normal, tapi pemuda ini tidak begitu, dia seperti menggunakan semua kemampuan tubuhnya untuk mengalahkan gagasan bahwa sihir adalah segalanya. Naruto itu, entah mengapa Rias merasa dia begitu hebat dengan pengamatannya itu.
"Sebenarnya tidak begitu, aku ini hanya menggunakan kemampuan fisikku saja, dan semua orang juga dapat melakukannya jika mengerti bagaimana tubuhnya bekerja." Ujar Naruto beralih pada Rias, ia mengingat kembali bagaimana beberapa teori tentang kinerja tubuh manusia hingga dia dapat membuat beberapa teknik pedang yang menjadi andalannya saat ini. "Seperti halnya detak jantung, jika kau dapat meningkatkannya dan mengaturnya secara berkala, kau akan dapat mempercepat gerakan tubuhmu. Beberapa hal di dalam tubuh kita yang dapat kita picu untuk meningkatkan detak jantung dan memompanya lebih cepat. Seperti teknik yang aku gunakan tadi, Hiken, merupakan perwujudan dari rasa takut, cemas dan juga waspada, namun aku dapat menenangkan fikiranku hingga dapat mengubah semua perasaan itu menjadi kekuatanku."
"Apa maksudmu, semua teknik yang kau gunakan berasal dari jantungmu?" Tanya Sirzech yang terlihat belum paham.
"Ie," respon Naruto dengan sebuah gelengan. "50 persen memang dari jantungku, berupa pernafasan dan juga peningkatan reflek. Tapi, beberapa persen lainnya juga terletak pada fisikku, percuma jika aku memiliki reflek baik tapi fisikku buruk, kan?"
"Hm, hm, kau benar." ujar Sirzech memyentuh dagunya, "akan sia-sia jika reflekmu cepat tapi otak dan juga fisikmu tidak dapat menyeimbanginya. Menurutku itu hanya akan menjadi pedang bermata dua yang akan melukai dirimu sendiri."
"Tenang saja, Sirzech." Fugaku tersenyum kecil seraya tangan kirinya mengacak surai pirang Naruto, "dua bocah ini adalah kebanggaanku, tidak ada yang dapat mengalahkan mereka selama aku yang melatihnya, hahaha." ucapnya dengan nada tinggi, hal yang sama terjadi pada Sasuke yang sedikit mendecih mendengar ayahnya memujinya. Sedangkan Naruto hanya sedikit tersenyum kecil mendengar itu.
Sirzech melihat pemandangan didepannya teduh, mengetahui bahwa ternyata image Uchiha yang selama ini dia dengar ternyata salah sungguh membuatnya senang, jadi kemungkinan untuk menyerahkan Rias ke tangan yang tepat sudah ia dapatkan. Hijau-biru itu memperhatikan tingkah Sasuke yang akan menjadi calon adiknya, beralih pada Naruto yang tengah menanggapi Fugaku dengan ucapannya sebelum berakhir pada Rias.
Melihat wajah adiknya yang bersemu merah itu membuat dia tersenyum tipis. "Apa kau sudah menerima pertunangan ini, Rias?"
"A-ah,"
Tentu saja melihat respon gugup yang dia dapatkan membuat pria itu menyipit, perubahan ekspresi dari Rias begitu tiba-tiba juga cukup aneh untuknya,-bukankah tadi dia memperhatikan Sasuke? Atau,
"Jangan bilang k-"
"Gendut, kau terlalu banyak memakan dango tadi!"
Semua perhatian teralih ke arah dalam mansion.
"Aku hanya memakan 5 tadi!"
"Itulah yang namanya berlebihan, gendut!"
Kedua gadis yang saling tatap dengan pandangan glare sama sekali tidak memperhatikan sekitarnya, dibelakang mereka sendiri tengah tersenyum lelah sosok Mikoto-nampaknya mereka sudah membuat Mikoto menyerah dalam menghadapi sikap keras kepala mereka.
Naruto menepuk kepalanya sendiri, 'membawa mereka benar-benar merepotkan, apalagi.,.' Kali ini dia beralih pada Sasuke, "... Apa-apaan tatapan mupengmu itu, Idiot!?"
.x.
Persembunyian Serikat Satan
Bagian Utara Kerajaan, Base bawah tanah.
Dua orang yang berjalan menuruni anak tangga yang hanya disusun atas batu-batuan dengan pencahayaan obor yang sedikit temaram, salah satu sosok perempuan membawa bola kristal ditangannya. Dahi perempuan itu berkerut.
"Tiga anggota suara belum masuk dalam 'penglihatanku', apa mungkin mereka tertangkap oleh pasukan sihir?"
gumannya sedikit merasa aneh, karena semenjak misi gagal semua anggota yang turut serta ke dalam misi itu diharuskan mundur.
Pembunuhan anggota inti keluarga kerajaan, dan Senju Sistine adalah yang pertama dalam penargetan tuan mereka. Selain itu masih ada 6 anggota lain yang menjadi target setelah ini, tapi sayangnya Kidoumaru yang menjadi eksekutor didalam misi ini gagal dan membuat mereka harus menyusun strategi baru.
"Ne, Kimimaru?"
"Aku tidak tahu, yang terpenting adalah kau sudah memberitahu mereka untuk mundur."
"Aku sudah mengirim sinyal pada mereka lewat Orb milikku, tapi kau tahu sendiri mereka sangat berbeda dengan Kidoumaru. Mereka terlalu pongah dan terkesan akan melakukan tindakan sesuai dengan apa yang mereka mau, aku tidak masalah dengan itu tapi, aku sedikit khawatir mereka akan mencari pembunuh Kidoumaru dan membalas dendam. Kau tahu walaupun keras kepala tapi solidaritas dari 4 suara sangat disukai oleh tuan kita." Perempuan berwajah cantik itu menghilangkan bola kristal ditangannya dan memandang punggung pria di depannya.
"Itu bagus, jika mereka mati maka akan semakin sedikit orang bodoh di dalam serikat ini." Jawab Kimimaru dingin, "lagipula Rarnare, kau tidak perlu mencemaskan mereka. Aku yakin mereka bertiga lebih dari cukup untuk menghadapi seorang Lord sekalipun, apalagi kau ingat betul dengan apa yang ditanamkan tuan pada mereka berempat." Sambung Kimimaru tanpa berbalik, sambil membuka pintu pada ujung terbawah tangga, ia melirik pada Raynare. "ingatlah, siapa kita."
Raynare melihat dan mengikuti rekannya memasuki ruang utama markas ini, iris matanya bergerak lurus ke depan dan
mendapati siulet seseorang yang berdiri dihadapan mereka.
"Jadi kalian sudah kembali, Raynare, Kimimaru."
"Ha'i, Kokaibel-sama."
xXx
"hah, hah, hah, sialan!"
Naruto membungkam sendiri mulutnya, jujur saja dia tidak mengerti dengan Uchiha yang satu ini.
"Kuso!"
Entah berapa kali Sasuke mengumpat, dan Naruto masih saja bungkam.
"Kau benar-benar, brengsek Naruto."
Oke, ini sudah masuk ke tahap keterlaluan, Naruto sudah bersiap menarik katana barunya kapan saja dari balik jubah yang dia pakai.
"kau, benar-benar kawan terbrengsek!" Sasuke mengatakan itu dengan wajah memerah,
"Oi,"
"URUSAI!"
Dan teriakan itu menarik seluruh perhatian mereka yang sedang bersantai di taman belakang, melihat hal itu Naruto memberikan glare pada Sasuke.
"Sejak kapan," Sasuke kembali menatap Naruto mata hitamnya, berkata mendesis dengan berbisik disebelah telinga sahabatnya. "sejak kapan kau bersama gadis itu?!"
Naruto mengusap wajahnya kasar kali ini.
Semua disebabkan penyakit aneh Sasuke yang kambuh secara ajaib ini, dan pemicunya adalah,
"Kau lucu sekali, Ravel. Ahahaha~"
Ya, Phenex Ravel.
Memang Naruto akui bahwa keteledorannya kali ini adalah murni kesalahannya, dia lupa jika Sasuke memiliki ketertarikan aneh dengan gadis seperti Ravel, atau bisa dibilang-Sasuke adalah penyuka wanita bertubuh mungil.
Ini memang memalukan, bahkan untuk Naruto sendiri yang notabenya tidak memiliki kedekatan khusus terhadap Sasuke dimuka umum. Yah, siapa yang sangka jika salah-ah ralat- beberapa anggota klan Uchiha memiliki sifat aneh ini
"Lepaskan aku dan berhenti membuat wajah nafsu seperti itu,IDIOT!" Bentak Naruto dan menarik tubuhnya sendiri kebelakang, ia membenahkan kerah jubah yang sebelumnya ditarik oleh Sasuke.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa aku kalah darimu? Sial! Sial! Sial!"
Penyakitnya ini memang sudah sangat parah-fikir Naruto melihat Sasuke yang terus mengumpat dengan pandangan kosong.
"Anu,Naruto apa aku bisa meminta janjimu kemarin?"
Naruto terdiam sesaat melihat Naruko datang menghampirinya. Pemuda itu beralih menatap Ravel yang tersenyum, err~tapi kenapa dia tersenyum?
Melupakan itu dan beralih pada bibi Mikoto yang tertangkap matanya, ia dapat melihat wanita itu mengacungkan ibu jari padanya~darisini, Naruto belum mengerti mereka melakukan gelagat aneh itu tapi dia tahu telah terjadi sesuatu antara mereka.
"Baiklah, kita akan pergi sekarang."
Naruto berjalan mendahului dan melupakan Sasuke yang masih saja memasang wajah masam, dia membungkuk pada Fugaku dan yang lainnya. "Aku akan pergi bersama Naruko untuk beberapa saat, maaf sebelumnya telah merepotkan bibi Mikoto."
"Tidak apa, lagipula senang rasanya bisa berbelanja besama."
"Jika tahu, aku akan mengikut sertakan Rias untuk ikut." Timpal Sirzech menanggapi ucapan wanita itu.
"Tidak apa, kurasa Rias-chan dan juga Ravel-chan bisa ikut membantuku nanti selama Naruto pergi."
Naruto menatap Ravel, "apa kau tidak apa-apa? Atau kau ingin pul-"
"Tidak, aku tidak masalah, apalagi kau juga harus datang karena bibi Mikoto mengundang kita untuk makan malam." Ravel tersenyum meyakinkan Naruto, ia berikan lirikan pada Naruko. Dia sadar akan keberadaannya, dan dari pembicaraan tadi dia harus membiarkan kedua saudara ini menghabiskan waktu, 'lagipula aku bisa meminta janji Naruto lain waktu.' batin Ravel.
Melihat itu tentunya membuat Naruto mendesah pasrah, sebetulnya dia juga merasa sedikit tenang dengan sifat Ravel yang tidak terlalu cerewet seperti wanita lain.
"Baiklah, aku menitipkan Ravel disini dan akan kembali malam nanti."
Sebaiknya Naruto segera pergi sekarang, dia harus menyelesaikan urusan yang hanya hari ini dapat ia selesaikan karena mulai besok dia akan disibukkan oleh utusan dari pihak kerajaan yang ingin mengawasi dan melatihnya. Naruto tidak tahu seperti apa kepribadian orang itu, jadi setidaknya dia harus tetap waspada apalagi mengingat tentang penyerangan malam tadi dan pesan yang disampaikan Kidoumaru padanya.
'Aku akan menyingkirkan masalah ini dulu, dan akan menghabiskan waktuku bersama Naruko. Aku merasa akan ada hal besar yang akan terjadi nanti, dan kemungkinan dia akan ikut terlibat.' batin Naruto dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan taman belakang Uchiha bersama Naruko dibelakangnya.
"Hati-hati gendut!" Teriak Ravel sambil menjulurkan lidah mengejek tanpa tahu jika hal itu membuat pemuda yang sedari tadi memperhatikannya tersenyum aneh.
X
X
X
Waktu semakin Sore, dan matahari akan bersembunyi beberapa waktu lagi, Naruto sudah cukup lelah hari ini, siapa sangka menemani Naruko bisa semelelahkan ini? Dan jika dilihat lagi ternyata kakak kembarnya itu memiliki sifat yang cukup kekanakan, entah Naruko terlalu bersemangat atau memang gadis itu sudah memilikinya sejak lahir? Karena seingatnya juga Naruko itu lebih manja dari dirinya walaupun ia terkenal sebagai Prodigy Uzumaki.
"Apa kau tidak lelah terus menatapi liontin itu?"
Naruto bertanya dengan memandang Naruko aneh, semenjak tadi-setelah gadis itu merengek meminta sebuah kalung ber liontin dengan bentuk bunga matahari-dia sama sekali tidak melihat Naruko melakukan hal lain selain memandangi kalungnya, ia tidak tahu jika saudarinya itu sangat menyukai kalung seperti.
Bagi Naruko sendiri, merupakan hal yang sangat berharga baginya mendapatkan benda ini dari Naruto. Dia berjanji tidak akan membuat benda ini cacat, rusak bahkan hilang. Dia pasti akan menjaga kalung ini dengan nyawanya, karena itu pantas untuk benda ini.
"Naruto?"
Pemuda itu melirik Naruko yang berjalan disampingnya. "hm?" responnya singkat.
"Apa, kau," suara Naruko tercekat ditenggorokkan, dia tidak sanggup merusak suasana ini dengan pertanyaannya. ",anu, t-tidak jadi." tambahnya meralat ucapannya, dan itu mendapatkan respon aneh dari Naruto.
"Oh, ya Naruto? Kita akan kemana setelah ini?" Naruko mengubah topik pembicaraan.
"Mungkin, ke hutan kematian."
"Ha?!"
Naruto tahu akan mendapatkan respon ini, hutan kematian adalah tempat yang telah mendapat predikat buruk dimata semua orang, termasuk wizard junior seperti Naruko. Tapi, dia juga bersyukur akibat mitos-mitos buruk yang beredar ditelinga masyarakat membuat tempat itu terjaga dari jamahan manusia hingga dia dapat leluasa berada disana.
Semua orang yang tidak tahu hanya beranggapan jika Hutan Kematian merupakan tempat yang berbahaya yang mana dihuni oleh berbagai macam beast-meski itu benar. Tapi, bagi yang sudah mengetahui benar tempat itu layaknya Naruto, mereka akan menemukan sesuatu yang hebat.
X
"S-sugoi,"
Itulah respon yang Naruto dapatkan, pemuda itu tersenyum melihat kakaknya yang menatap berbinar padang bunga lavender luas yang terbentang di hadapannya. Suara kicauan burung di sore hari, angin yang membelai wajah terasa sangat menenangkan. Tempat ini adalah bagian terdalam dari Hutan kematian, akan dapat ditemukan setelah melewati beberapa kilometer dari perbatasan, tapi karena ketakutan itu sendiri membuat tempat ini tidak terjamah manusia.
Naruto sendiri menemukan tempat ini saat dia menyusuri hutan kematian lebih dalam, semenjak 1 tahunan yang lalu dia menjadikan tempat ini sebagai tempat pelepas stres. Karena suasana yang begitu damailah yang membuat padang lavender ini sangat cocok untuk beristirahat selepas berlatih.
'Cukup lamaaku tidak kemari," batin Naruto seraya mendudukkan tubuhnya, sembari matanya memperhatikan wajah Naruko yang berbinar.
"Tempat ini sangat tenang, aku sampai ingin tinggal disini." Ujar Naruko.
"Jika kau ingin ditelan Beast, silahkan saja. Lagipula dimalam hari tempat ini akan dipenuhi oleh Beast Rank-A keatas."
Naruko menatap horor setelah mendengar ucapan dari saudara kembarnya.
"Ahahaha, aku bercanda, tidak perlu memasang wajah seperti itu." Tawa Naruto menciptakan kerucutan dibibir saudarinya, ia agak menikmati suasana ini terutama ketika Naruko ada didekatnya.
"Ne, Naruko., Nee-chan." Naruto berguman pelan dan mengadah ke atas melihat beberapa burung yang tengah mencari tempat bersarang. "Aku, rasanya merasa sangat senang saat berada di dekatmu." Dia berkata jujur tanpa ada hal yang dia sembunyikan, Naruto cukup mengerti bahwa tidak ada gunanya dia membohongi perasaannya lagi.
"Aku begitu membenci klan, membenci Minato dan Kushina yang merupakan orang tuaku, Menma dan Karin sebagai kakakku. Aku hanya memilikimu ketika semua orang menjauhiku, kita selalu tertawa waktu kecil dulu, berbagi luka dan penderitaan bersama, saat itu aku benar-benar merasa cukup untuk tetap bertahan hidup asalkan kau bersamaku, itu... lebih dari cukup."
Naruko diam mendengarkan.., tubuhnya bergetar menahan tangis yang siap pecah kapan saja.
"Tapi semua hancur ketika kau memilih berada dipihak mereka dengan ikut menjauhiku, saat itu aku benar-benar hancur, rasanya seperti melihat bagian diriku sendiri yang menolak keberadaanku. Aku terpuruk, tapi beruntung ada Hiruzen-san yang datang dan memberiku sebuah harapan, walaupun sangat sedikit tapi aku tetap berusaha meraih harapan itu. Beberapa tahun berlalu dan aku tetap menyimpan kebencianku kepada kalian hingga aku sadar, sebenci apapun aku pada kalian, takdirku akan tetap sama, aku merupakan bagian dari kalian tidak peduli bagaimanapun aku menolaknya. Tapi tetap saja walau begitu, aku tidak dapat menganggap Uzumaki sebagai keluargaku lagi."
"I-itu, berarti, berarti a-aku,"
"Kenapa kau menangis?" Tanya Naruto heran, ia hanya mengungkapkan isi hatinya saja, kan?
"Jika kau menganggap Uzumaki bukan keluargamu, lalu aku, a-a-apa kau juga, membenciku?"
Naruto tidak menjawab dan hanya memandangi Naruko.
"A-aku berfikir bahwa setelah ucapanmu beberapa waktu lalu, dengan sikapmu yang berubah padaku, menghabiskan waktu bersamaku dan bersenang-senang hari ini, kufikir, kufikir semua akan kembali seperti dulu." diusap berapa kali pun Naruko tetap tidak dapat menghilangkan air mata ini, dia sendiri pun membencinya-membenci dirinya sendiri. "hiks~aku memang bodoh jika menganggap semua akan kembali saat kau berkata bahwa kau tidak dapat membenciku. Aku lupa jika kau adalah Naruto, orang yang aku tinggalkan untuk mencari kebahagiaanku sendiri, aku lupa~hiks~aku lupa jika aku adalah salah satu penyebab penderitaanmu!"
"Jika kau menyadari itu, mulai sekarang berhentilah."
Naruko semakin terisak, semua perasaannya bercampur menjadi satu... berulang kali-berulang-ulang kali dia mengusap kasar lelehan air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Naruko tidak mau jika semua berakhir. Rasa bahagianya hari ini... Apa semua itu semu? apa hanya dia yang merasakan kebahagiaan itu?
Semua ini hanya menjadi kebingungan untuk dirinya. Lantas setelah ini dia harus apa?!
"Berhentilah menangis!"
"A-aku tidak bisa,~hiks~maaf," berapa kalipun, jika dia bisa dia akan menghentikan tangisan ini. Tapi, Naruko tidak bisa, semua terlalu sakit.
"Berhenti meminta maaf, karena itu tidak ada gunanya! Aku akan tetap dengan kebencianku!"
"Hiks~maaf, maaf."
"Berhentilah menunduk, itu membuatku marah!"
"A-aku~" kali ini, lidahnya kelu.
"Dan berhentilah, menjadi kelemahanku."
Dalam terpaan angin hutan, Naruko terus menangis bahkan saat berada dalam dekapan Naruto.
"Berhenti untuk menjadi alasan rasa sakitku dan mulailah menjadi kebahagiaanku, berhentilah menjadi kelemahanku dan jadilah kekuatanku. Karena dari semua yang ada didunia ini, Naruko-Nee adalah segalanya bagiku."
Dan semua luka itu terobati hanya dalam beberapa kalimat yang diucapkan Naruto, tapi entah kenapa tangisan yang ia perdengarkan semakin keras...
X
"Hari sudah malam, Nee-chan."
Beberapa saat kemudian yang telah diisi oleh suara tangis dari Naruko, langit yang mulai menghitam dan menunjukkan bahwa waktu sang surya sudah habis hari ini. Naruto berusaha melepaskan dekapan sang kakak yang cukup erat, menunduk menyamakan tinggi badan dengan Naruko, ia menyatukan dahinya dan menatap langsung mata violet itu tenang.
Naruko tertegun dan masih terisak.
"Sekarang, apakah kau akan bersamaku?" Tanya Naruto lembut dan dijawab dengan anggukan oleh Naruko.
"Mulai sekarang, dan seterusnya."
"Meskipun kau harus meninggalkan Uzumaki, dan meninggalkan semua gelar yang kau miliki?"
"Aku akan melakukannya."
'Bagus.' Naruto sedikit tersenyum kecil dan mengangkat sebelah tangannya ke udara, Naruko yang melihat apa yang dilakukan adiknya berkedip bingung.
"Naruto, apa yang kau lakukan?" Tanya Naruko tidak mengerti, tapi walaupun begitu dia seperti merasakan sesuatu yang aneh. "Naru,.to, tubuhku merasa agak aneh," sambungnya yang agak terhuyung namun tetap tidak melepaskan dekapannya.
"Sedikit lagi, tahanlah." Ucap Naruto yang masih fokus pada apa yang akan dia lakukan. Perempuan itu tidak mengerti namun ia tetap percaya pada Naruto.
Beberapa saat kemudian, Naruto menurunkan tangannya kembali dan menepuk pucuk kepala kuning panjang sang kakak. Tersenyum kecil sebagai balasan tatapan tanya yang diarahkan padanya, Naruto sedikit membungkuk dan mengusap pipi gembil itu.
"Kita pulang, Nee-chan."
"Umm~" Meski tidak mengerti namun Naruko tetap mengangguk dan mengikuti Naruto.
x
Sementara itu dibalik rerimbunan pohon hutan kematian, sosok lelaki aneh dengan dua kepala yang sangat terlihat tidak normal tengah tersenyum penuh ketertarikan. Tubuhnya bergetar pelan dan matanya sedikit melirik ke bawah, pose yang seperti hendak melakukan sebuah serangan dengan dua tangan berada di depan dada. "Aku lengah, sial!" Dia merutuk, namun setelah itu tertawa kecil dan melihat dua target yang dia awasi telah menghilang.
"Sakon, kenapa kau tidak menyerang?"
Lingkaran sihir komunikasi terbentuk ditelinganya.
"Aku terperangkap sihir musuh. Lakukan rencana selanjutnya, target telah dikonfirmasi, Uzumaki Naruko." Pria itu mencoba melepaskan diri dari segel yang terpasang di bawah kakinya namun nihil, dia tidak dapat melakukan apapun dan lebih memilih menyerah. "Lakukan berdua, aku akan menyusul. Gunakan formasi 'Ular'."
"Dimengerti."
xXx
"Tidak apa, aku tidak ada masalah jika kalian gagal."
Suara serak mengalun mengerikan di dalam base bawah tanah, memecah keheningan yang sempat terjadi setelah dua anggotanya melaporkan untuk misi yang mereka jalankan. Kimimaru yang tergabung di dalam Serikat Satan menengok ke arah Raynare begitupun sebaliknya.
"Anu, Kokaibel-sama, apa tidak apa-apa membiarkan anggota tim suara?" Raynare bertanya sedikit heran setelah melihat tuannya yang bersikap biasa saja.
"Tidak masalah, akulah yang memberi perintah langsung setelah kalian gagal. Mereka akan melanjutkan misi ke tahap dua, mengeksekusi putri klan besar Uzumaki."
Mata Raynare membulat, ia akan melakukan protes jika saja Kimimaru tidak memberinya tanda untuk diam.
"Apakah anda mengirim tim lain untuk membantu? Jujur saja tuan, dengan keberadaan kami untuk membantu saja kita masih gagal, apalagi hanya mengirim mereka bertiga yang sudah kehilangan satu anggota. Aku dengar yang membunuh Kidoumaru bukan orang sembarangan, dan Raynare sudah mengetahui itu dari Orb miliknya."
"Tenang saja, aku juga sudah mengetahuinya. Dia knight yang cukup hebat." Kokaibel terkekeh licik, iris hitamnya melirik kesamping dimana seorang pemuda bersurai hitam jabrik datang membawa sebuah nampan.
"Dan anda tetap mengirim mereka?" Tanya Kimimaru memastikan dan mengabaikan pelayan dari tuannya itu.
"Tenang saja, aku juga mengirimkan seorang Knight untuk membantu mereka, lagipula mata-mata kita juga mengetahui kekuatan dari pemuda itu." Kokaibel mengambil cangkir yang berisi minuman dari pelayannya, ia tersenyum kecil melihat itu sebelum beralih pada sosok pelayan yang akan pergi dari ruangan itu. "Ini racun yang bagus, aku bisa mati jika meneguk racun ini." Kekeh Kokaibel dan tidak ada yang mengetahui maksud pria itu kecuali pemuda yang saat ini tubuhnya sedikit menegang.
'Dia tahu?'
"Racun apa yang anda maksud, Kokaibel-sama?" Tanya Raynare tak mengerti,
"Minuman anda?" Kimimaru menebak maksud dari tuannya, dia berdiri dan mendekati sang tuan. "Maaf, bisa saya lihat?" Kimimaru mengecek minuman yang disodorkan padanya, sekilas memang tidak ada yang aneh namun bagi Kimimaru yang cukup jeli dia dapat merasakan sedikit keanehan didalam warna air itu. "Racun langka yang diproduksi klan Aburame yang berasal dari serangga nano, kau~jangan-jangan!"
"Mata-mata kerajaan, Uchiha Shisui."
'Mau bagaimana lagi, memang benar-benar hari sialku.' Pemuda itu melempar nampan besi yang dia gunakan dan membentuk lima lingkaran berukuran sedang di depannya. "Katon : Gokakyuu~"
Bledaam!
X
"Bagaimana tubuhmu, Naruko-nee?"
"Terasa lebih baik, tapi apa yang kau lakukan tadi? Manaku seperti tersedot."
Naruto sedikit menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangan, hari sudah sepenuhnya gelap dan beberapa hewan liar juga mulai mengintai mereka, akan tetapi bukan hal itu yang membuatnya terganggu. Naruto kembali pada Naruko yang menunggu jawaban darinya. "Nee-sama, aku tidak akan berbohong sekarang, satu lagi yang ingin aku tanyakan, apa Nee-sama bisa menggunakan sihir pengganda?"
Bunyi 'tik' terdengar setelah Naruto melepas jubah yang ia kenakan dan menyisakan kaos lengan panjang berwarna hitam, tanpa memperdulikan Naruko yang menatap aneh, dia menarik sebuah perkamen dari dalam minibag yang terikat di pahanya.
"Bisa saja, aku dapat menggandakan benda yang telah aku lihat. Tapi, apa maksudnya?" Naruko tetap tidak mengerti.
"Ada musuh datang dari arah belakang kita, totalnya ada 3 tapi aku berhasil melumpuhkan satu wizard yang mengintai kita di padang lavender dengan menanamkan kutukan. Dan tentang keadaanmu tadi adalah, aku mengambil sedikit Mana milikmu untuk pengaktifan kutukan."
Saat berada di padang Lavender tadi Naruto sempat merasakan beberapa hawa membunuh, namun dari beberapa itu hanya satu yang berhasil dia lacak dan lumpuhkan. Ia fikir dengan tidak bertindak mencurigakan akan membuat mereka memiliki waktu untuk kembali, namun itu sedikit meleset. Tapi tidak begitu merugikan karena dengan itu dia jadi memiliki waktu untuk menyiapkan rencananya.
"Mereka memiliki kapasitas Mana ditingkat A, berarti itu ada di atas kita. Tapi aku tidak yakin jika kemampuan mereka akan sama seperti Mana mereka."
"Kau serius, Naruto?"
"Apa aku terlihat bercanda?"
Tidak-Naruko hanya dapat mengatakan itu di dalam batinnya, tapi bagaimana Naruto merasakan mereka sementara dia tidak merasakan mereka? "Apa kita tidak lari saja? Aku bisa menggunakan teleportasi untuk kita berdua."
Pilihan yang Naruko ambil memang ada benarnya tapi dengan melarikan diri maka mereka tidak akan tahu apa tujuan musuh, ini juga mengingatkan dengan pesan Kidoumaru semalam tentang penyerangan Serikat Satan dan senjata kerajaan terkuat. Naruto yakin jika ini ada hubungannya dengan semalam.
"Kau belum dengar tentang kejadian semalam?"
"Semalam?" Beo Naruko dan mencoba berfikir tentang apa yang dikatakan Naruto. "Apa ini tentang insiden ditengah kota?"
"Ya,"
"Lalu apa hubungannya?"
"Jelas ada hubungannya, karena... akulah yang telah membunuh penyusup itu."
Tepat setelah mengatakan hal tersebut, dua orang datang dari atas dan mendarat beberapa meter di depan Naruto yang memang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Naruto, mereka..."
"Siapkan sihirmu, Nee-chan."
Naruko tidak terlalu mengerti namun yang pasti, ini bukan waktunya untuk bertanya. Segera, beberapa lingkaran sihir terbentuk di depan Naruko.
"Uzumaki Naruko, dan... Pembunuh Kidoumaru." Salah seorang dari mereka yang berwujud sosok perempuan berambut merah maju beberapa langkah,
ditangannya telah tergenggam senjata sihir berbentuk seruling.
"Aku tidak bisa menyebut itu pembunuhan karena teman kalian lah yang mencoba membunuh salah seorang putri bangsawan."
"Tidak perlu berbasa-basi, Tayuya. Kita langsung bunuh saja Uzumaki Naruko dan selanjutnya kita balas kematian Kidoumaru." Pria bertubuh tambun memukulkan kedua kepalan tangannya di depan dada, seringai senang muncul diwajahnya.
"Tenang, Jirobo." Tayuya mengangkat sebelah tangannya dan mengintrupsi rekannya untuk bersabar, perempuan itu tidak ingin misi kali ini gagal lagi. "Dari informasi yang tuan kirim, Uzumaki Naruko itu menguasai dua jenis sihir elemen dan mempunyai sihir khusus Parsial Chain, sementara pemuda itu menguasai teknik pedang aneh dan memiliki salah satu senjata top kerajaan, Murasame."
Naruto cukup terkejut, begitupula Naruko.
"Tch, aku benar-benar tidak sabar ingin meremukkan tubuh mereka."
Naruto berdiam sesaat, sejauh ini dia tidak merasakan keberadaan musuh lainnya. Pilihan untuk menyerang adalah hal yang cukup bagus menurutnya, lagipula ada Naruko yang dapat ia andalkan dalam penggunaan sihir. Dan juga, Murasame...
""Jika Goshujin-sama menggunakan Manaku lagi dalam keadaan ini, aku tidak bisa menjamin bahwa Goshujin-sama bisa mengontrol curse untuk kedua kalinya dan itu berakibat pada tubuh Goshujin-sama yang akan menerima efek samping permanen."
... ia sudah berlebihan dalam menggunakan Murasame dalam pertarungan sebelumnya dan ini berakibat pada tubuhnya yang harus diberi jeda untuk menggunakan kekuatan itu lagi, belum lagi kekuatan Holy Grail yang seakan memberontak saat dia menggunakan Mana Murasame.
Sejatinya Mana milik Murasame adalah Mana negatif dan Holy Grail adalah [mana] positif, jika salah satu dari mereka ia gunakan secara berlebih maka itu juga akan berpengaruh pada tubuhnya. Memang sejak awal inilah akibat dari pemilik dua energi berlawan, selama ini efek itu dapat ditekan karena Murasame yang mengontrol aliran [mana] di dalam tubuhnya.
'Aku bisa menggunakan Ittou Shura dalam keadaan mendesak, pertama aku harus menyerang mereka dengan taktik biasa.' Naruto menarik nafasnya dan mencoba tetap tenang, dia mengambil posisi di depan Naruko dan membuka perkamen. Sedikit cahaya tercipta dari dalam perkamen sebelum memunculkan semacam senjata yang cukup unik berbentuk bintang besar, "Naruko."
"Aku mengerti," tidak perlu penjelasan bagi Naruko karena dia sepenuhnya paham.
Tayuya dan Jirobo mengambil jarak dan menyiapkan sihir mereka.
"Oy, Tayuya."
"Mereka datang."
"Fuma Shuriken! Kage Fuusha!" Dengan cepat Shuriken besar melaju mengarah ke depan, dalam beberapa meter puluhan lingkaran sihir membuat satu fuma shuriken berubah ke jumlah puluhan mengarah pada musuh. "Sihir pelindungmu, Naruko!"
"Ha'i!"
Jirobo tersenyum mengejek sebelum kedua tangannya terhentak ke permukaan tanah, langsung setelah itu dinding pertahan berunsur tanah terbentuk menjulang beberapa lapis. Fuma shuriken menghantam pertahanan musuh, dan itu cukup membuat Naruto menyipit.
Srett!
Kelima jarinya bergerak, membelokkan beberapa fuma shuriken dengan benang baja yang telah ia persiapkan sebelumnya. Serangan itu kini berganti dari arah samping.
Trank!
Trank!
Suara benturan besi beradu, namun serangan belum berhenti. Naruko memfokuskan sihir pada lima rantai emas yang muncul dari arah belakang punggungnya, rantai itu berayun seolah memiliki nyawa sendiri dengan bergerak tak teratur.
"Sesuai aba-abaku." Naruto menarik pedang hitam Intetsu dari balik punggungnya dan mengambil kuda-kuda, ia menatap penuh fokus kedepan pada kepulan debu itu.
Wush!
Wush!
Dua bayangan bergerak kesamping.
"Sekarang!" Dan dengan itu Naruto merangsek maju bersama lima rantai emas yang mengincar dua musuhnya.
Tayuya, gadis itu meliukkan tubuhnya menghindari lilitan rantai emas, beberapa kali dia cukup kesulitan melepaskan diri dari ancaman. Lirikan tajam dia berikan pada Naruto yang datang dari udara dan menebaskan Intetsu vertikal kebawah.
Tapi, inilah kesalahan yang ditunggu oleh Tayuya. "Mateki : Mugen Onsa."
Deg!
Waktu seperti terhenti.
Naruko dapat melihat Naruto yang tumbang begitu saja sebelum dapat menebas musuhnya, ia khawatir namun dia tidak dapat melakukan apapun selama mengendalikan rantai ini.
"Rantaimu cukup menyenangkan nona Uzumaki."
Gerakan Jirobo terlalu gesit untuk ia kunci, Naruko berapa kali hampir berhasil namun diluar dugaan Jirobo masih dapat menghindarinya.
"Omoshiroi!"
Jirobo menunduk membiarkan rantai emas mengenai udara kosong setelah sebelumnya mengincar kepalanya, selanjutnya dia melesat dan memangkas jarak dengan Naruko. Tentu saja untuk ukuran wizard tanpa keahlian bertarung tangan kosong gerakan itu terlampau cepat dan ia telat untuk mengantisipasinya
"Awas perutmu."
Bhuak!
"Kyaaa~"
Naruko terlempar beberapa meter kebelakang akibat pukulan Jirobo yang berhasil menembus pertahanannya, ia terbatuk dengan rantai chakra aktif. "Ukkh~" masih dapat menggerakkan tangannya, Naruko kembali mencoba melilit tubuh musuh.
"Haaah, aku mulai bosan dengan rantai mainan ini."
Kembali, dalam satu kali gerakan Jirobo menghindari serangan Naruko dan melaju ke arah gadis itu. "Dasar lemah."
Buakh!
Jirobo menendang kepala gadis itu dan membuatnya terpelanting menabrak pohon besar disana, pria itu menguap bosan dan berjalan mendekat pada Naruko. "Kukira heiress Uzumaki cukup hebat, tapi ternyata mengecewakan." Tanpa ada rasa iba dia mencengkram kepala kuning Naruko dan mengangkat ke udara. "Hm, setelah dilihat baik baik ternyata kau cantik juga ya, nona Uzumaki." Ujar Jirobo sembari mengendus-endus leher Naruko. "Tapi sayangnya, kau harus mati. Hah~ini memang benar-benar mengecewakan."
Naruko tidak dapat merespon berlebih, matanya telah berkunang-kunang akibat dua serang keras yang tadi menghantamnya. "Na...ru...to." dalam sisa kesadaran ini Naruko hanya memandang ke arah saudaranya yang terbaring kaku. "Na...ruto!"
x
"Kau terlalu ceroboh."
Tayuya berjalan mendekat dengan mateki ditangannya. "Kemampuanku adalah ilusi jarak dekat, dalam areaku kau akan masuk ke dalam ilusiku setelah mendengar suara mateki." Ujar Tayuya menunjukkan seruling yang sempat ia gunakan tadi. "Aku tidak tahu kenapa kau bisa mengalahkan Kidoumaru dengan kecerobohanmu ini, tapi semua akan berakhir setelah kami membunuh Uzumaki Naruko."
Sedikit mengernyit heran, ia mencoba menyentuh tubuh Naruto. "Em?"
Sreeet!
"Ah!?" Tayuya melompat mundur menghindari terjangan fuma shuriken yang mengarah padanya, belum sempat ia memijak tanah sebuah tendangan keras bersarang di punggungnya. "Guhaaa~"
Naruto menatap Tayuya sejenak dan beralih ke arah lain dimana Naruko berada. "Killing Fall~"
Sret!
Jirobo reflek melepas genggamannya pada target untuk menghindari tebasan Naruto, ia melompat mundur dan berhenti setelah beberapa meter. Mata jingganya menatap penuh waspada, 'bagaimana bisa dia keluar dari area ilusi Tayuya-tunggu luka itu?'
Sedikit terengah, Naruto melirik pada Naruko yang sedikit tertatih. "Nee-chan baik-baik saja?"
"Ke-kepalaku pusing, tapi aku bisa menahannya sekarang." Jawab Naruko mencoba menenangkan kekhawatiran sang adik, jujur saja ia tidak dalam kondisi baik-kepalanya sangat pening hingga pandangannya mengabur, dia bahkan tidak dapat melihat Naruto dengan jelas sekarang.
"Minum ini, Nee-chan. Ini air mata Phoenix pemberian Ravel, itu akan langsung menyembuhkan lukamu."
Naruto memberikan semacam botol kecil pada Naruko dan tanpa banyak bertanya langsung meminumnya. Dan benar saja, semua luka dan juga rasa sakit Naruko menghilang.
"Hebat, Naruto, air mata pho-" Matanya membulat, keadaan Naruto bahkan lebih parah darinya. Darah mengucur deras dari perut pemuda itu dan membasahi tanah yang berada dibawahnya. "Naruto, lukamu!?"
"Aku menusuk perutku dengan pisau khusus untuk melepas pengaruh ilusi yang ditanamkan musuh, tenang saja ini akan segera sembuh." Benar saja, luka itu segera menutup berkat Holy Grail.
"Kau memang tidak wajar, aku jadi tidak terkejut jika Kidoumaru bisa kalah darimu." Kali ini Jirobo memasang wajah serius,
"Waspada, Jirobo." Ujar Tayuya yang telah bangkit dan kembali menyiapkan mateki miliknya.
"Ilusimu jadi tidak berguna ya, Tayuya."
X
Sementara itu, ledakan terjadi di maskas bawah tanah milik serikat Satan. Shisui yang menjadi dalang utama kekacauan itu segera berbalik dan mencoba melarikan diri.
"Anda mau kemana, tuan Shisui."
'Kekkai?' Shishui merutuki nasibnya dan berbalik kembali, semua akses telah diblok dan satu-satunya cara adalah mengalahkan pemakai kekkai itu.
Kokaibel keluar dari asap ledakan bersama dua anak buahnya yang dalam keadaan baik.
"Kau lupa dengan siapa yang kau selidiki, Uchiha. Jika Kerajaan memiliki, mata-mata... " perkataan itu menggantung seiring dengan sebuah langkah kaki yang berasal dari arah belakang. "Kami juga memilikinya."
Kali ini Shisui tidak dapat menahan keterkejutannya, siapa yang menyangka jika orang yang paling tidak mungkin bekerja sama dengan serikat satan malah sekarang jadi mata-matanya?
"Jadi, kau menghianati ayahmu sendiri ya." Guman Shishui tidak percaya.
"Maaf saja, aku sudah tidak menganggap pak tua itu sebagai ayahku."
-Cut-
Thanks untuk kalian semua. And see you in next chapter.
