WARNING!!!

Read at your own risk!

...

"Kau siap Hinata?" Tanya Naruto memastikan keduanya sangat menginginkan itu.

"Hmh, iya Naruto." Hinata mengangguk.

"Baiklah, bilang kepadaku kalau sakit."

Naruto membuka kaki Hinata sedikit lebar dan perlahan melesakan kejantanannya kedalam Hinata.

"Terasa aneh…" Hinata mendesah.

"Sial…kau sempit sekali Hinata…"

Naruto mengerang, setelah beberapa lama is menggenggam tangan Hinata dan menciumnya.

"Akan sedikit sakit, bertahanlah."

Naruto melesakkan seluruhnya kedalam Hinata.

Hinata yang merasakan sedikit sakit mengerang jir pelan.

"Ahh…mau berhenti?" Naruto bertanya, walaupun sebenarnya dia berharap Hinata masih mau melanjutkan aktivitas mesum mereka.

"T-tidak mau…lanjutkan…" Hinata melenguh.

"Baik, bertahanlah Hinata." Naruto memegang pinggangnya dengan erat sembari terus mempercepat gerakannya.

"Ah…mmh…uh…" Desahan Hinata terdengar di seluruh penjuru rumah, untung saja Tsunade dan Jiraiya tidak dirumah.

Liang Hinata yang sempit membuat Naruto sedikit kewalahan karena terlalu nikmat.

Naruto mencium leher Hinata dan melenguh.

Ia memoercepat gerakannya, kemudian memijat pinggang Hinata dengan penuh gairah.

"Hinata, kalau seperti ini sepertinya sebentar lagi aku akan keluar…" Naruto mengerang sembari mencumbu leher Hinata.

"Mmh…a-aku juga…" Hinata merintih lembut.

"Hinata jangan terlalu cantik nanti aku tidak bisa menahan diri…" Naruto tertawa nakal.

Naruto mempercepat ritmenya, menarik kaki Hinata dan menyangganya di bahunya.

"Ah Naruto, n-nanti kau keberatan…" Hinata hendak memindahkan kakinya.

"Tidak, tenang saja." Naruto menyeringai dan mencium Hinata.

Naruto melesakan dirinya ke bagian terdalam Hinata, menyentuh rahimnya.

"Ah Naruto!" Hinata berteriak.

"Aku akan keluar Hinata!" Suara Naruto yang lirih dan penuh hasrat bergetar.

"A-aku juga!" Pekik Hinata yang tak henti mendesah.

"Hinata!"

"Naruto!"

Naruto mendekap Hinata dan melumat bibirnya, sembari merasakan cairan hangat mengalir kedalam liang Hinata.

Naruto membuka matanya dan mengecup kening Hinata.

"Hmm, bagaimana? Suka?" Naruto tersenyum.

Hinata yang masih merasa nikmat hanya bisa mengangguk lemah.

Naruto terkekeh. Ia perlahan melepaskan kaki Hinata dari bahunya, kemudian ia mengeluarkan kejantanannya dari liang Hinata.

Ketika lubang itu sudah tidak ada yang mengisi, hasil karya mereka berdua mengalir keluar dari kemaluan Hinata.

Naruto menjilat bibirnya, kembali merasa terangsang, namun ia menahan diri.

"Kau mau mandi dulu, atau-"

Naruto terdiam ketika melihat Hinata mengangkat pantat semoknya, seperti meminta untuk diisi.

"Mmh…Naruto…aku belum puas…." Hinata menatap Naruto penuh gairah.

"Aduh Hinata…kalau kau membiarkanku keluar didalam mu terus lama-lama kau akan hamil…" Naruto memukul pantat kenyal dan mulus itu.

Hinata merintih.

"Naruto…cepat…aku sudah tidak tahan…."

Naruto tersenyum, "Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan membiarkanmu tidur hari ini, Hinata."

Tidak tahu sudah ronde keberapa mereka melakukan itu, Hinata sudah berkali-kali keluar dan klimaks, begitu juga dengan Naruto.

Hinata merasakan rahimnya dipenuhi dengan cairan bercinta Naruto.

"Ah…ya…ngh…Naruto…" Hinata mendesah keras.

Naruto membiarkan sang istri memegang kendali. Ia berbaring di kasur melihat Hinata menghentakan pinggulnya di atasnya.

Naruto meremas payudara Hinata dan memilin putingnya.

"Aku tidak pernah sadar, ternyata dadamu sebesar ini."

Naruto tersenyum nakal.

"Ah…jangan seperti itu Naruto…aku malu…" Wajah Hinata memerah.

"Tch…malu? Kalau malu kenapa masih minta diisi daritadi?" Naruto menjulurkan lidahnya dengan nakal.

Sementara Hinata kehabisan kata dan memutuskan untuk tetap menghentakan pinggulnya.

"Mmh…ah…oh! Ah!" Tubuh Hinata mengejang, ia akhirnya klimaks.

Naruto yang merasakan otot kewanitaan Hinata menyempit langsung mendorong kejantanannya lagi tanpa henti.

"N-Naruto aku baru keluar…" Pekik Hinata yang masih sensitif.

"Tapi aku belum…" Naruto mengerang.

Tak lama kemudian Naruto menyandarkan wajahnya ke tengkuk Hinata, sambil merasakan klimaksnya.

Naruto jatuh keatas kasur sembari mendekap Hinata.

"Hinata…aku…aku mencintaimu." Naruto menatapnya sambil mengatur nafasnya.

"Naruto….aku juga." Hinata mendekaktkan wajahnya dan mengecup bibir Naruto.

"Sudah pagi…" Naruto melenguh lembut.

"Mau tidur atau mau lanjut…?" Hinata tersenyum nakal.

"Kau ini…jangan coba-coba. Nanti kau tidak bisa berjalan…" Naruto tertawa dan memejamkan matanya.

Beberapa jam kemudian Naruto terbangun mendengar suara berisik dari dekatnya.

"Hinata?" Naruto menguap.

Hinata sedang berada di sampingnya, menggeliat-geliat.

"Hinata, kenapa?" Tanya Naruto khawatir.

"Ah anu…" Hinata menunjukan kemaluannya yang tak henti-henti mengeluarkan cairan putih hasil karya Naruto yang meluap.

Naruto yang melihatnya mengambil beberapa helai tisu dan membersihkannya.

"Maaf…" Naruto tertawa canggung.

Wajah Hinata merah namun ia tetap membiarkan Naruto menyentuhnya.

Naruto yang melihat kewanitaan Hinata yang lembab dan merah merasa tergiur.

"Hinata…" Naruto menyandarkan dagunya di bahu Hinata.

"Hmm, Naruto?"

"Aku masih belum puas…" Bisiknya nakal.

Hinata yang mendengarnya tertawa lembut.

"Hmm? Begitu ya…sambil mandi saja ya…" Hinata berbisik lembut di telinga Naruto.

"Siap tuan putri." Naruto menggendong Hinata menuju kamar mandi.

"Ngomong, ngomong, kau belajar dimana bisa berbuat seperti itu?" Hinata sedikit cemberut.

"Hmm? Belajar dimana?" Naruto tertawa dan mencium pipi Hinata.

"Nggak belajar dimana-mana..." Naruto tertawa dengan suara seraknya.

"A-aku tidak percaya itu...Lebih tepatnya kau belajar dengan siapa?" Hinata berpaling, masih sedikit jengkel.

"Hinata."

Naruto tertawa lembut sembari meletakan istri tercintanya itu di pinggir bathtub.

"Itu pertamakali buatku." Naruto mengecup bibir Hinata dan menyeringai.

"A-ah tapi kau..." Wajah Hinata merah padam.

"Apa? Pandai? Terampil?" Naruto menggoda Hinata.

"I-iya..." Hinata menatap Naruto malu-malu.

"Jangan marah...aku memang sering menonton video dewasa..." Naruto menggaruk kepalanya dengan canggung.

"Maaf."

Hinata menatap Naruto, sedikit kaget dengan jawabannya, tapi lega.

"Mulai hari ini jangan nonton hal seperti itu lagi, belajarnya bersamaku saja..." Hinata tersenyum kepada Naruto, seperti biasa dengan nada dan wajah yang sedikit malu-malu.

"Ah...Hinata...Tentu saja."

Naruto tersenyum dan mencium pipi Hinata.

Punggung Hinata yang mulus dan ramping terlihat sangat menawan, serta kakinya yang jenjang dan putih pucat sungguh melengkapinya.

Tapi, bagian kesukaan Naruto dari tubuhnya adalah bokongnya yang semok dan payudaranya yang kenyal dan besar.

Naruto menatap punggungnya dan menggoda,

"Kau tahu? Kalau ada ujian praktik tiap malam… aku bakal jadi murid paling rajin." Ia menyeringai dan mengelus pinggang Hinata.

"Oh ya? Coba buktikan sekarang." Hinata tersenyum nakal.

"Dengan senang hati."

Naruto menarik Hinata masuk ke pelukannya lagi, kali ini dengan lebih banyak ciuman, tawa, dan uap air hangat yang memenuhi ruangan. Tentu dilengkapi dengan bunyi bercinta dan desahan yang bisa terdengar dari semua penjuru rumah.

...

Berbagai posisi mereka coba, dari pagi hingga siang mereka menghabiskan waktu bercinta di kamar mandi.

Walaupun sudah melakukannya berjam-jam, beronde-ronde, keduanya tetap bersemangat dan berenergi.

Naruto melihat Hinata yang sedang mengeringkan rambutnya. Ia menggunakan baju tidur satin berwarna lilac muda, kerahnya membentuk huruf v yang memperlihatkan belahan dada Hinata, dengan pinggiran renda.

"Aku suka kalau kau pakai baju seperti ini." Naruto memeluknya dari belakang dan mencium kepala Hinata.

"Hmm? Kau suka?" Hinata tersenyum lembut.

"Ya, karena melepasnya mudah." Naruto tersenyum nakal.

"Ah kau ini...sudah cukup bercinta nya, kita jadi tidak tidur..." Hinata tertawa kecil.

Naruto melenguh, "Ah yasudah..." Dia menghela nafasnya.

"Sini aku saja." Naruto mengambil piring yang hendak Hinata cuci.

"Ah tidak usah N-Naruto-"

"Tidak, tadi malam aku sudah berjanji." Ia menyeringai dan tertawa.

Hinata pun mengangguk pelan dan memutuskan untuk menyapu saja.

Tiba-tiba telefon rumah mereka berdering.

"Aku saja yang jawab." Ujar Naruto.

"Halo? Ah...begitu ya. Baiklah, aku akan segera kesana Rokudaime."

Naruto menutup telfonnya dan mengambil pakaian shinobinya.

"Kau mau kemana Naruto?" Tanya Hinata.

"Hinata ada misi mendadak untuk mengawal orang penting yaitu tamu Hokage, aku diperlukan disana." Naruto dengan terburu-buru memakai jaketnya.

Hinata tersenyum dan menghampiri Naruto, ia membantu Naruto memakai rompinya dan ikat kepalanya.

"Hmph tampan sekali." Hinata tersenyum dan mengecup pipi Naruto.

Naruto untuk pertama kalinya merasa sedikit malu, "Ah Hinata kau ini." Naruto tertawa dan menciumnya balik.

"Sudah lengkap semua barang bawaanmu?" Hinata mengecek saku Naruto.

"Sepertinya sudah, kalau begitu aku pergi dulu...sayang." Naruto mencium bibir Hinata dan melambaikan tangannya.

"Iya...hati-hati..."

...

Setelah selesai membersihkan ruang makan dan dapur, Hinata kembali ke kamarnya dan mencuci semua sprei dan selimut. Semuanya dipenuhi noda dan bekas bercinta mereka semalam.

Hinata tertawa canggung sembari memasukannya kedalam mesin cuci.

Ia menyapu dan mengepel kamarnya, kemudian membersihkan kamar mandi.

"Aku pulang!"

Terdengar suara Tsunade dari luar.

Hinata buru-buru menyambut mereka.

"Ah nenek, selamat datang." Hinata tersenyum lembut.

"Ah Hinata, Naruto tidak dirumah ya?" Tanya Tsunade.

"Tidak nek, tadi dia pergi karena dipanggil oleh Rokudaime."

"Oh begitu rupanya, sepertinya kakekmu itu juga tidak akan pulang cepat hari ini. Ada tamu penting yang harus ia temui." Tsunade menghela nafasnya.

Tsunade melihat Hinata yang berjalan sedikit pincang.

"Hinata, kau baik-baik saja?" Tanya Tsunade khawatir.

"Ah, a-aku tidak apa-apa nek..." Tsunade mengamati leher Hinata yang memiliki banyak bekas merah dan cara berjalannya yang sangat khas.

"Oh..." Tsunade tertawa.

"Jadi kalian memang benar sudah melakukan 'itu' ya." Tsunade tertawa kecil.

"M-maksud nenek..?" Wajah Hinata merah padam.

"Tidak perlu menutup-nutupinya...aku tahu." Tsunade tersenyum dan tertawa.

Wajah Hinata sangat merah saking malunya.

"Kemarilah, aku akan memastikan kau baik-baik saja. Semoga cucu bodohku itu tidak kelewatan batas."

Sebagai seorang ninja medis yang paling ahli di konoha, Tsunade pun mengecek kondisi Hinata.

"Wow...tubuhmu sangat letih ya sepertinya..."

Hinata hanya bisa tersenyum canggung.

"Kau merasa sedikit pusing kah Hinata?" Tanya Tsunade.

"Tidak nek..."

Tsunade pun mengangguk, "Kau harus bersyukur, hari ini adalah masa suburmu, kalian tidak menggunakan pengaman ya?" Tanya Tsunade.

"A-ah...tidak..." Wajah Hinata semakin merah.

"Jangan diulangi lagi kalau kau tidak mau hamil." Tsunade tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"B-baiklah..." Hinata mengangguk malu-malu.

Tsunade bangun dari sofa dan merogoh laci di depan kamarnya.

"Minumlah ini, ini ramuan agar tubuhmu cepat pulih. Dan soal kehamilan, mungkin kau bisa bicarakan dengan Naruto, aku siap membantumu kapanpun kau perlu." Tsunade tersenyum dan memeluk Hinata.

"Terimakasih nenek."

...

Hahaha... Gimana? Semoga kalian suka ya...