Chapter 102
Di luar forge, Shirou berjongkok di samping sepeda Lefiya, dengan telaten memasang kembali ban depan yang telah diperbaiki. Jemarinya bekerja cepat, memutar baut pengunci hingga kencang, memastikan semuanya terpasang dengan sempurna. Setelah beberapa kali menekan ban untuk memeriksa ketahanannya, ia akhirnya berdiri dan menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan sisa debu logam.
"Oke, selesai. Sekarang sepedamu sudah siap dipakai lagi," katanya sambil tersenyum puas.
Lefiya memandangi sepedanya yang kembali utuh dengan ekspresi lega. "Terima kasih, Shirou!" ucapnya penuh semangat. Namun, sebelum ia mencoba menaikinya, matanya tertarik ke arah lain. Ia melirik sepeda tandem yang terparkir tak jauh dari mereka—sepeda yang memiliki dua sadel dan dua set pedal, tampak sedikit lebih besar dibandingkan sepedanya sendiri.
Mata biru gelap Lefiya beralih ke Shirou dan Aiz, penuh rasa ingin tahu. "Tunggu… jadi kalian tadi ke sini naik sepeda ini?" tanyanya.
Aiz yang berdiri di dekat sepeda tersebut, menoleh dan mengangguk. "Ya," jawabnya singkat, lalu dengan tenang ia menunjuk sadel belakang. "Aku duduk di sini."
Lefiya berkedip beberapa kali sebelum ekspresi antusias muncul di wajahnya. "Eh? Seru sekali! Aku juga ingin mencoba naik sepeda tandem!" serunya, lalu mendekati Aiz dengan penuh semangat. "Aiz, bagaimana kalau kali ini kamu yang duduk di depan? Ayo kita keliling kota Orario bersama!" ajaknya dengan mata berbinar.
Aiz tampak mempertimbangkan sejenak, lalu tanpa banyak ragu, ia mengangguk setuju. "Baik."
Namun, sebelum mereka bisa lebih jauh merencanakan perjalanan kecil mereka, Shirou tiba-tiba mengangkat satu tangan, seolah ingin menghentikan mereka. "Oh, aku belum memberi tahu kalian, ya..." katanya dengan nada agak canggung. "Loki melarang kita mengendarai sepeda ke luar area Manor."
"Ehh?! Kenapa begitu?!" keluh Lefiya, merasa keputusan itu tidak adil. "Padahal kita yang bersusah payah membuatnya!"
Shirou mengangkat bahu dan menjelaskan dengan tenang, "Loki ingin kita mematenkan desainnya ke Altena dulu, supaya tidak ada yang mencuri hak ciptanya."
Lefiya meletakkan jari di dagunya, tampak berpikir. "Hmm, jadi begitu…" gumamnya. "Yah, memang Altena adalah pusat pengetahuan di dunia sih. Kalau ada tempat yang bisa mengurus hak cipta, pasti di sana."
Aiz hanya mengangguk, tampaknya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Sementara Lefiya masih sedikit kesal, ia juga memahami alasan Loki. Namun, itu tidak menghilangkan keinginannya untuk mencoba sepeda tandem. Dengan sedikit mendengus, ia menatap Shirou. "Jadi... kita hanya bisa memakainya di dalam area Manor saja?" tanyanya dengan nada sedikit kecewa.
Shirou mengangguk. "Setidaknya sampai kami mematenkan desain sepeda di Altena."
Shirou menyilangkan tangan sambil berpikir sejenak. "Kupikir Altena itu hanya pusat sihir di dunia ini… ternyata mereka juga berfokus pada pengetahuan dan penemuan, ya?" tanyanya dengan nada penasaran.
Lefiya mengangguk cepat, wajahnya sedikit berbinar karena bisa berbagi sesuatu yang ia ketahui. "Benar! Aku field trip ke Altena saat masih bersekolah di School District. Saat itu, aku melihat sebuah kapal yang sedang dikembangkan oleh para peneliti di sana," ceritanya dengan antusias.
Aiz mengangkat wajah dan bertanya, "Kapal? Kapal seperti apa?"
Lefiya mengangkat kedua tangannya dan membentuk bentuk menyerupai lambung kapal di udara. "Ini bukan kapal biasa," katanya, matanya berbinar saat mengingat pemandangan menakjubkan yang pernah ia lihat. "Mereka sedang mengembangkan kapal yang bisa berlayar di padang pasir. Sumber energinya berasal dari sihir!"
Shirou sedikit mengernyit, mencoba membayangkan konsep kapal yang bergerak di atas pasir. "Padang pasir?" tanyanya, merasa aneh dengan gagasan itu. "Apa daerah di sekitar Altena itu padang pasir?"
Lefiya menggeleng. "Bukan," jawabnya sambil tersenyum. "Kapal itu dibuat untuk dijual ke daerah-daerah yang memiliki gurun luas. Altena selalu menjadi pusat inovasi, jadi mereka mengembangkan berbagai teknologi yang bisa digunakan di berbagai tempat. Mungkin sepeda kita nanti juga akan dipatenkan dan diperjualbelikan seperti itu."
Aiz menatap sepeda tandem di samping mereka dengan ekspresi berpikir. "Tapi sepeda kalian lebih bagus," komentarnya datar. "Karena bisa dipakai oleh semua orang."
Shirou dan Lefiya saling bertukar pandang sebelum tertawa kecil. "Ya," Shirou akhirnya berkata sambil tersenyum, "kalau memang bisa membantu banyak orang, aku rasa itu akan jadi hal yang bagus."
Lefiya mengangguk setuju. "Mungkin suatu hari nanti, sepeda akan jadi alat transportasi umum di Orario," katanya dengan penuh harapan.
Aiz hanya menatap mereka berdua, lalu kembali melihat sepeda tandem itu. Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti alat ini akan benar-benar mendunia, tapi satu hal yang pasti—ia menikmati waktu yang ia habiskan bersama mereka saat menggunakannya.
Shirou menyandarkan tubuhnya sedikit ke sepeda, pandangannya mengarah ke langit pagi yang semakin terang. "Ngomong-ngomong," ucapnya pelan, "sebelum aku datang ke Orario, ada seorang teman yang mengajakku untuk sama-sama bersekolah ke Altena."
Lefiya membelalakkan mata sedikit, terlihat tertarik dengan cerita itu. "Ohhh, aku dengar sangat sulit untuk diterima di sana," katanya penuh kagum. "Mungkin bahkan lebih sulit daripada masuk ke School District."
Aiz menoleh ke arah Shirou. "Siapa temanmu itu?" tanyanya singkat.
Shirou tersenyum tipis, mengenang seseorang yang sudah lama tidak ia temui. "Dia seorang Elf muda, mungkin seumuran denganmu, Aiz. Namanya Saria Balsys. Dia berasal dari Hutan Alf, sama seperti Riveria," jelasnya.
Lefiya tampak terkejut. "Hmmm... sebelum Lady Riveria meninggalkan Hutan Alf, tempat itu sangat tertutup. Tak ada yang pernah keluar dari sana. Tapi sepertinya sekarang banyak yang mengikuti jejak beliau," katanya sambil menatap Shirou dengan penuh rasa ingin tahu.
Shirou mengangguk. "Benar. Saria sangat mengidolakan Riveria. Bahkan dia meniru cara Riveria merapal mantra," ujarnya sambil terkekeh pelan. "Aku masih ingat saat kami naik kereta kuda, dia berpura-pura merapal mantra dengan gerakan dan ekspresi serius. Dia benar-benar ingin menjadi seperti Riveria."
Aiz memperhatikan Shirou dengan tatapan dalam sebelum akhirnya bertanya, "Lalu, kenapa kau tidak mengikuti ajakannya? Kenapa akhirnya kau memilih datang ke Orario?"
Shirou menghela napas pelan sebelum menjawab. "Aku ingin menjadi pahlawan," katanya dengan suara mantap. "Berbeda dengan Altena yang menjadi pusat pengetahuan, Orario adalah satu-satunya kota di dunia yang memiliki Dungeon di bawahnya. Jika suatu hari monster keluar dari sana tanpa ada yang bisa menahannya, seluruh dunia akan berada dalam bahaya."
Lefiya terdiam sejenak sebelum tersenyum cerah. "Kurasa kau sudah menjadi pahlawan, Shirou!" katanya dengan penuh keyakinan.
Shirou tersentak sedikit, lalu menggeleng pelan dengan senyum lembut. "Aku masih jauh dari kata pahlawan," ucapnya dengan rendah hati. "Masih banyak yang harus kulakukan."
Di sisi lain, Aiz menatap Shirou dalam diam. Ia tidak berbicara, tidak menyela, tetapi hatinya dipenuhi dengan satu pikiran yang tak bisa ia ucapkan.
"Bagimu, mungkin kau belum menjadi pahlawan... Tapi bagiku, kau sudah menjadi pahlawanku."
Aiz mengalihkan pandangannya ke arah sepeda pink Lefiya yang kini sudah kembali seperti semula setelah diperbaiki oleh Shirou. Namun, pikirannya melayang ke hal lain—janji yang pernah dibuat Shirou padanya. Tanpa ragu, ia menoleh ke arah pemuda berambut merah itu dan berkata, "Shirou, karena proyekmu di forge sudah selesai, bagaimana kalau kita sparring sekarang?"
Shirou tersentak mendengar permintaan itu. Ia menggaruk pipinya, tampak sedikit canggung. "Uh… bagaimana kalau kita tunda sampai besok?" katanya dengan nada bersalah. "Sebentar lagi aku ada latihan dengan Ryuu, rekan kerjaku di Hostess of Fertility."
Lefiya yang mendengarkan percakapan mereka, langsung mendekat dengan ekspresi penuh tuduhan. "Booo! Shirou, kemarin kamu menunda janjimu dengan Ryuu, dan sekarang kamu juga menunda janjimu dengan Aiz!" katanya dengan nada bercanda, tetapi jelas ada nada menyalahkan di sana.
Shirou menghela napas panjang sebelum tersenyum kecut. "Sepertinya aku terlalu sibuk akhir-akhir ini dengan proyek sepeda kita, Lefiya," ujarnya sambil melemaskan bahunya.
Lefiya berkedip beberapa kali sebelum menunjuk dirinya sendiri. "Eh? Jadi aku juga salah?" gumamnya, bertanya-tanya apakah dirinya juga turut bertanggung jawab atas keterlambatan janji Shirou.
Aiz tetap mempertahankan ekspresi datarnya, tetapi ia menambahkan sesuatu yang membuat Shirou semakin menyadari betapa banyaknya janji yang belum ia tepati. "Selain itu," kata Aiz tenang, "kau juga pernah berjanji akan mengajarkanku berenang lagi di Water City, lantai 25 sampai 27 di Dungeon."
Shirou terdiam sejenak, kemudian mengangkat alisnya seolah baru mengingat hal itu. "Ah… iya juga, ya. Aku hampir lupa," katanya sambil menghela napas. "Kalau lusa, sepertinya aku ada waktu. Kita bisa pergi saat itu."
Mendengar kata 'berenang', Lefiya langsung menoleh ke arah Shirou dan Aiz dengan penuh antusias. "Apa? Berenang?" tanyanya, matanya berbinar-binar. "Aku juga mau ikut!" katanya bersemangat.
Aiz yang menyadari bahwa ia tanpa sengaja membocorkan rahasianya langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, wajahnya berubah sedikit merah. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa ia belajar berenang diam-diam—apalagi Lefiya. Itu adalah sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Sementara itu, Shirou hanya bisa tersenyum kecil melihat reaksi Aiz. Kurasa aku tak punya pilihan selain memenuhi semua janji ini satu per satu… pikirnya dalam hati.
Lefiya melangkah lebih dekat dengan mata berbinar penuh harapan. "Boleh ya? Boleh ya aku ikut?" tanyanya dengan suara antusias, tangannya mengepal di depan dadanya seperti anak kecil yang meminta izin untuk ikut bermain.
Namun, tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikiran Lefiya. Ia mengingat saat di Melen dulu—ketika pagi-pagi sekali, Aiz dan Shirou kembali ke penginapan setelah pergi entah ke mana. Sekarang setelah dipikirkan lagi… jangan-jangan mereka berdua pergi berenang di pantai waktu itu?
Mata Lefiya sedikit menyipit saat menatap mereka berdua dengan penuh rasa ingin tahu. "Ah, jangan-jangan… waktu itu di Melen, kalian berdua diam-diam pergi berenang, ya?" tanyanya dengan nada menggoda.
Shirou yang tak menyangka pertanyaan itu, hanya bisa menggaruk kepalanya sambil berpaling ke Aiz. "Uh… ini bukan rahasiaku, jadi… coba tanya Aiz," katanya, mencoba menghindari menjawab langsung.
Aiz yang sejak tadi tetap bersikap tenang, kali ini tampak sedikit tergagap. Mata emasnya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain, seolah-olah melihat sesuatu yang lebih menarik di kejauhan. Namun, wajahnya yang sedikit memerah tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Melihat respons Aiz yang canggung, Lefiya segera mendekat dan mulai merengek dengan nada manja. "Aiz~! Bukankah waktu itu di Melen kalian berjanji akan mengajakku pergi bersama?" katanya sambil menarik lengan Aiz sedikit, suaranya penuh dengan harapan sekaligus sedikit menyalahkan.
Aiz yang tidak terbiasa menghadapi rengekan seperti ini, akhirnya menyerah. Ia menghela napas kecil sebelum mengangguk pelan. "...Baiklah," jawabnya singkat.
"Yaayyyy!" Lefiya bersorak senang, melompat kecil di tempat dengan penuh kegembiraan. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan betapa menyenangkannya berenang bersama dua orang favoritnya—Aiz dan Shirou. Ini pasti akan jadi pengalaman yang menyenangkan! pikirnya dengan penuh semangat.
Shirou mendongak ke langit yang semakin cerah. Sinar mentari pagi mulai menerobos melalui celah atap forge, menandakan bahwa waktu latihan bersama Ryuu semakin dekat. Ia menarik napas dalam, lalu menoleh ke arah Aiz dan Lefiya.
"Aku pergi dulu, ya. Latihan dengan Ryuu sebentar lagi dimulai," katanya dengan nada santai, sambil merenggangkan bahunya sejenak.
"Bye-bye, Shirou!" sahut Lefiya dengan ceria, melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Kemudian, ia menoleh ke Aiz dan menarik tangannya dengan antusias. "Ayo, Aiz! Kita naik sepeda tandem sekarang!"
Aiz menatap Lefiya sebentar, lalu mengangguk dan berjalan ke arah sepeda tandem yang terparkir di dekat mereka. Dengan langkah ringan, ia menaiki sadel depan sementara Lefiya mengambil tempat di belakang.
"Kami duluan, Shirou," kata Aiz singkat, sebelum kakinya mulai mengayuh pedal sepeda.
Shirou memperhatikan mereka berdua saat sepeda perlahan-lahan mulai melaju. Pada awalnya, ia bisa melihat Aiz sedikit kesulitan menjaga keseimbangan—tangannya masih agak kaku saat memegang setang, dan ada beberapa kali sepeda tampak sedikit oleng.
Namun, seiring dengan putaran pedal yang semakin stabil, Aiz mulai bisa mengendalikan arah dengan lebih baik. Lefiya yang duduk di belakang tampak menikmati perjalanan, bahkan sesekali tertawa kecil saat sepeda mulai melaju lebih mulus menuju halaman belakang Manor.
Shirou tetap berdiri di tempatnya untuk beberapa saat, memperhatikan punggung mereka yang semakin menjauh. Ada sedikit kekhawatiran di hatinya, tapi melihat bagaimana Aiz mulai bisa menyesuaikan diri, ia akhirnya merasa cukup lega.
"Haaah… kalau begini, sepertinya aku cukup jalan kaki saja," gumamnya, sebelum akhirnya berbalik arah.
Dengan langkah santai, ia meninggalkan Forge, membiarkan sepeda pink Lefiya tetap terparkir di tempatnya, lalu berjalan menuju gerbang masuk Twilight Manor untuk melanjutkan harinya.
Di halaman belakang asrama pelayan Hostess of Fertility, terdengar suara kayu beradu dengan batang pohon. Whack! Whack! Setiap kali pedang kayu itu ditebaskan, daun-daun di sekitar bergetar akibat hantaman kuat yang mengenainya.
Di bawah naungan pohon besar, Ryuu dengan tekun melatih ayunan pedangnya. Ia bergerak dengan presisi, mengikuti pola yang sudah tertanam dalam ingatannya. Keringat menetes di pelipisnya, namun alih-alih lelah, matanya justru menyiratkan ketegangan yang belum tersalurkan.
Selama seminggu terakhir, sosok Shirou seakan terus menghantui pikirannya. Bukan dalam arti romantis—tidak, bukan itu yang membuatnya resah. Rasa penasaran dan sedikit frustrasi-lah yang mengganggu pikirannya.
Baik saat ia tengah sibuk melayani pelanggan di restoran maupun saat ia berlatih sendirian seperti ini, ingatan tentang percakapan mereka terus muncul kembali.
Shirou, yang dengan wajah santainya, menceritakan bagaimana ia berhasil mendapatkan double level up—sesuatu yang tidak pernah terdengar di antara para petualang.
Ryuu mengerutkan kening. "Tidak masuk akal…" gumamnya.
Kemarin malam, di belakang restoran saat Ryuu menarik paksa Shirou dan menyudutkannya ke dinding, Shirou akhirnya mengungkapkan kisahnya.
"Aku hanya… menembus Dungeon hingga lantai 18 saat masih level 1. Dan, yah… aku bertarung melawan musuh yang setidaknya level 6," kata Shirou santai, seolah hal itu adalah sesuatu yang lumrah dilakukan oleh siapa pun.
Ryuu yang mendengarnya hanya bisa membeku di tempat, antara kagum dan ingin membanting nampan ke kepala Shirou karena betapa konyol dan nekatnya tindakan itu.
"Tunggu dulu, kau bilang kau berhasil melukai musuh berlevel 6… dalam keadaan masih level 1?"
Shirou hanya mengangkat bahunya. "Yah, aku hanya beruntung sih."
Jawaban menggantung itu hanya membuat Ryuu semakin frustrasi.
Kekuatan macam apa yang ia gunakan untuk melakukan hal seceroboh itu?
Ryuu menggertakkan giginya, lalu dengan keras menebaskan pedangnya ke arah batang pohon. WHACK!
"Shirou, dasar bodoh!"
WHACK!
"Shirou, kau menyebalkan!"
WHACK!
"Kenapa kau selalu bicara setengah-setengah!"
Suaranya yang biasanya tenang kini keluar dalam bentuk keluhan yang lebih mirip kutukan.
Di sisi lain, Shirou yang baru saja tiba di halaman belakang hanya bisa memiringkan kepalanya, terheran-heran melihat adegan itu.
Ia melipat tangannya di depan dada dan menatap Ryuu yang tampak begitu serius menebas pohon, seolah-olah batang kayu itu adalah musuh bebuyutannya.
"Uh… aku melakukan sesuatu yang salah lagi?" gumam Shirou pelan, merasa tidak enak hati tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Shirou yang masih kebingungan melihat Ryuu melampiaskan kemarahannya pada pohon, akhirnya mendekat dan dengan santai menepuk pundak elf itu.
"Oi, Ryuu—"
Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Ryuu bergerak secara refleks. Dengan kecepatan seorang petarung terlatih, ia berbalik dan menebaskan pedang kayunya ke arah sumber gangguan.
SWOOSH!
Shirou yang sudah cukup sering menghadapi serangan mendadak dengan sigap memiringkan tubuhnya, menghindari ayunan itu hanya dalam hitungan detik. Dalam gerakan yang sama, tangannya terulur dan menangkap bilah pedang kayu Ryuu, menghentikan tebasannya sebelum mengenai dirinya.
"Hati-hati, Ryuu. Ini aku," kata Shirou, menatapnya dengan ekspresi tenang.
Elf itu hanya mendengus kecil, lalu menarik kembali pedang kayunya dengan sedikit kasar. "Hmph… salahmu sendiri karena datang terlambat."
Shirou mengangkat alis, tidak merasa bahwa dirinya benar-benar bersalah dalam hal ini. Tapi sebelum ia sempat membela diri, mata Ryuu memperhatikan sesuatu—atau lebih tepatnya, sesuatu yang tidak dibawa Shirou kali ini.
"Mana tas kecilmu?" Ryuu bertanya, matanya menyipit penuh selidik. Sebelumnya, Shirou membawa tas kecil berisi pedang tumpul saat mereka berlatih bersama. Tapi hari ini, tangannya kosong.
Shirou hanya menanggapinya dengan senyum menyeringai. "Bukannya aku sudah berjanji akan menunjukkan kekuatanku? Nanti kamu akan tahu."
Ryuu mendengus, menatapnya dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. "Sok misterius."
Ia berbalik, lalu berjalan cepat menuju asramanya. "Tunggu di sini, aku akan mengambil sesuatu," katanya sebelum menghilang ke dalam bangunan.
Shirou hanya terkekeh kecil, masih nyengir melihat reaksi Ryuu yang, meskipun selalu tampak tenang dan anggun di mata banyak orang, ternyata bisa juga menunjukkan ekspresi penuh kekesalan seperti itu.
