Chapter 26
.
.
.
"Ruu Nee!"
"Colette, sayang, Ruu Nee pulaaang!" Dengan sigap, Rook menangkap tubuh seorang gadis kecil yang tidak lebih besar dari Cheka, tapi sudah dipastikan sedikit lebih tua dari pangeran muda itu. "Aaah, adik cantiknya Ruu Nee! Kamu nggak nakal, kan?"
"Aku sudah kelas empat, Ruu Nee. Bukan anak kecil lagi."
"Kamu tetap bayi kecilku."
Gadis yang ternyata bungsu Hunt, Colette, merasa kurang senang dengan panggilan yang diberikan Rook. Meski begitu, ia tetap memberi kakak kesayangannya kecupan ringan di pipi. Terkadang, tumbuh dewasa dengan tubuh yang masih terhitung kecil tidak seburuk itu.
"Pagi, Nee-chan."
"Biar kami bawakan, Leona-san."
Kali ini giliran putra nomor empat dan lima Hunt yang memunculkan diri; Reeves dan Cesan. Seperti yang Rook ingat, tinggi, postur, bahkan fitur wajah mereka tampak selalu hampir sama. "Kalian semakin mirip saja," goda Rook, tak tahan melihat keduanya secara ajaib menjadi akur di depan Leona.
Si nomor empat, Reeves, sudah melayangkan tendangannya pada adik yang satu tahun di bawahnya itu ketika Leona menginterupsi, "Hei, hei. Fokus bantu aku dulu, berantemnya nanti." Keduanya menurut, tapi masih saling lempar ejekan—melalui tatapan. "Kau jangan pancing mereka begitu," tegur Leona, menghampiri Rook yang masih menggendong Colette di halaman depan.
"Aku cuma gemas karena mereka seperti cari perhatian di depanmu. Padahal biasanya berantem."
"Mereka habis main pasir sebelum Ruu Nee dan Leo Nii tiba," adu Colette, menyinggung "main pasir" yang maksudnya adalah bertengkar di atas kotak pasir tempat si bungsu biasa membuat istana pasir. "Kalau bukan karena aku yang keluar rumah duluan, mungkin mereka masih lanjut."
"Jangan bicara yang tidak-tidak, Colette!" seru si nomor lima, Cesan, tidak terima. "Tidak ada yang main pasir di rumah!" lanjutnya, kemudian berlari menyusul Reeves yang sudah mengambil satu langkah lebih dulu, masuk ke rumah.
Leona menghela nafas menyaksikan itu. "Kenapa anak remaja selalu punya energi yang terlalu banyak?"
"Lebih tepatnya, kau yang sudah kehabisan energi bahkan di usia remajamu, Leona-kun."
"Aku anggap itu pujian." Leona tidak peduli tatapan menghakimi Rook, dan berjalan masuk ke dalam kediaman Hunt.
"Aah! Ini dia menantu tersayangku." Baru masuk, Leona langsung disambut pelukan hangat sang kepala keluarga. "Maaf, kami keduluan sama yang muda-muda untuk menyambutmu di depan."
"Sama sekali tidak masalah, Papa." Leona membalas pelukan itu dan memberi ayahnya tepukan ringan di punggung, tanda persahabatan. "Bagaimana kabarnya?"
"Baik. Aku baik."
"Terlalu baik, kalau aku boleh bilang. Baru saja selesai makan ikan yang ditangkapnya sendiri dinihari tadi." Pelukan itu berganti ke seorang wanita yang selalu meninggalkan kesan "Rook di masa tua nanti" dari awal Leona mengenalnya. Setelah berpelukan, ibu keluarga Hunt itu mencubit pelan hidung mancung sang menantu. "Sesuai yang diharapkan dari seorang pangeran. Dalam kondisi dan waktu apa pun, keindahannya akan tetap terpancar. Bahkan, kalau aku boleh jujur, kau tampak lebih bercahaya dibanding saat terakhir bertemu."
Leona tersenyum ramah. "Terima kasih, Maman."
"Apakah putriku bersikap baik padamu selama ini?"
"Kau tidak mungkin meragukan putrimu sendiri, kan, Kaa-san?"
Sang ibu mengambil alih Colette dari gendongan Rook yang baru bergabung, kemudian menurunkannya. Gadis kecil itu segera berlari, kemungkinan menyusul dua abang yang bisa bertengkar kapan saja apabila tidak diawasi. "Aku hanya ingin memastikan," bela sang ibu. "Kau ini banyak tingkahnya. Aku agak khawatir melepasmu di tempat keluarga Raja kita tinggal."
"Kaa-san!" Wajah Rook memerah, tak bisa menyangkal kalau ia memang anak yang termasuk aktif. "Aku ... bisa menyesuaikan diri ... Aku tidak mungkin merepotkan Leona-kun dan keluarganya."
"Kuharap begitu, ya." Sekarang ayahnya yang menimpali, bermaksud menggoda Rook, dan tampaknya berhasil. Wajah gadis kecilnya itu semakin merah, dan sekarang ia berjalan ke arahnya untuk memberi beberapa pukulan di lengan keras sang kepala keluarga. "Aduh, aduh! Masih suka mukul gini, yakin bisa berbaur sama keluarga Raja?"
Leona menahan senyum. "Itu salam cinta darinya dan aku sudah sering menerimanya."
"Leona-kun!"
"Kita sudahi dulu sapa-sapanya," sang ibu mencoba menengahi, sebelum ada pemukulan berikutnya terjadi. "Kalian bisa ke kamar untuk istirahat. Rencana berburu kita akan dimulai dengan kemah satu malam, jadi ada baiknya persiapkan tenaga sebelum itu."
Baru saja mereka hendak berjalan semakin masuk, ketika sang ayah mendadak berhenti. "Oh, iya. Leona-kun tidurnya sama Nello, kan? Anak itu bahkan belum keluar dari kamar sejak semalam."
"Benar juga," sang ibu menimpali. Tampaknya mereka hampir lupa kalau Leona dan Rook bukan pasangan sungguhan. "Apa dia melakukan protes karena tidak terima kamarnya akan ditumpangi?"
Rook tertawa canggung mendengar percakapan orang tuanya, lalu merasakan tangannya disenggol pelan dari samping. "Aku sudah kepikiran dari awal," bisik Leona—orang yang menyenggol tangannya, "tapi Nello ini sepertinya bisa berteman baik dengan Si Lobak, Idia Shroud."
"..." Satu sikutan mendarat di lengan Leona, membuat lelaki singa itu mundur sedikit dari posisinya. "Um ... kalau Nello Nii-san tidak mau, tidak apa-apa. Leona-kun biar tidur di lantai di kamarku. Aku bisa siapkan kasur lipat untuknya."
"Tidak, tidak. Mana mungkin aku membiarkan Yang Mulia tidur di lantai? Lagipula, biar sekalian Nello tanggung jawab." Dengan cepat, ayah Hunt menolak masukan dari putrinya. Bukan karena ia tidak percaya pada pasangan bohongan itu, tapi memang karena putra keduanya sudah berjanji untuk berbagi kamar sampai tahun baru. "Aku akan coba keluarkan dia. Selama aku mengurus anak itu, kalian ke ruang tengah dulu, ya. Aku titip anak-anak padamu, Sayang." Ayah Hunt memberi kecupan hangat di dahi sang istri, sebelum pergi melaksanakan "tugas negara" yang telah menunggu. Entah mengapa aksinya mengecup dan memanggil istrinya "Sayang" tadi begitu menginspirasi Leona, membuatnya diam-diam mengagumi sosok sang ayah mertua.
"Sesuai perintahnya," ibu Hunt berbalik, matanya mengajak dua sejoli itu untuk mengikutinya, "kita istirahat dulu di ruang tengah. Aku akan halau dua laki-laki lainnya supaya tidak mengajak kalian bermain selama menunggu." Reeves dan Cesan bisa saja kembali melancarkan aksi untuk menarik perhatian Leona. Mereka sangat menyukai sang pangeran kedua.
"... Kadang aku heran, kenapa aku bisa menarik perhatian anak-anak muda seperti itu." Ucapan spontan Leona membuat Rook diam-diam menahan tawa. Seketika ia teringat kalau ada lagi anak muda lain di NRC yang bahkan, sesuai pengakuannya, masuk NRC demi bisa bertemu dengan Leona Kingscholar. "Diam, Nyonya Kingscholar." Telinganya bergerak tidak senang mendengar tawa tertahan sang istri.
"Aku ... aku diam ... pfft!"
"... Terserah."
.
.
.
"Tou-san ini ... selalu saja berlebihan."
"Kau yang memancingku. Jangan menggerutu."
Sejoli Kingscholar yang sedang berbagi earphone—mendengarkan audiobook, menoleh bersamaan begitu suara ayah Hunt dan seorang laki-laki lainnya terdengar dari belakang. Hanya ada mereka berdua di ruang tengah. Tampaknya, ibu Hunt—dibantu si bungsu—berhasil menghalau dua pemuda energik Hunt untuk menjauh dari pasangan yang sedang bersantai itu.
Leona selalu dibuat kagum bagaimana pasangan ayah-putra itu bisa sangat mirip saat berdiri bersandingan. Dan, seperti yang sudah diduga, Nello Hunt masih menolak melihatnya langsung di mata. "Lama tak jumpa, Onii-san," sapa sang pangeran, berusaha untuk ramah sekaligus basa-basi.
Nello membalas sapaan itu dengan anggukan lemah. Kalau bukan senggolan dari sang ayah, ia mungkin tidak akan memberi balasan dalam bentuk suara. "... Lama tak jumpa."
"Karena sloth-nya sudah keluar," Ayah Hunt mengacak rambut pirang sang putra kedua yang sudah acak-acakan, "kau bisa istirahat di kamar, Leona-kun. Kasurnya sudah disiapkan. Kau juga bisa kembali ke kamarmu, Rook. Tidak ada satu pun barang yang berpindah tempat, kau bisa percaya padaku."
"Aku sudah mengeceknya, kok." Rook tersenyum, melepaskan earphone-nya, kemudian berdiri. Setelah memberi pelukan singkat pada kakaknya, gadis itu berjalan ke lantai dua, menuju kamar yang sudah berbulan-bulan tak dikunjunginya.
Nello menepis tangan ayahnya yang masih sibuk bermain di kepalanya. "Apanya yang sloth? Sembarangan saja menilai orang," ia mulai melancarkan protes. "Memang tidak lihat hasil kerjaku di kamar? Aku berusaha maksimal membuat kasur yang layak untuk Yang Mulia Pangeran Leona—yang sedang berdiri di depan kita ini."
"..." Leona hanya diam mendengarkan sambil menggulung kabel earphone-nya. Benda itu sebenarnya milik Rook karena itu earphone untuk manusia, bukan yang dirancang khusus untuk beastman. Namun Rook tetap memberikan itu padanya supaya Leona bisa mendengar audiobook yang baru ia beli kemarin dengan lebih jelas—meskipun tangannya harus terus menahan ujung benda itu di telinganya.
"Minimal cerita dulu tujuanmu, jangan tiba-tiba mengurung diri begitu." Ayah Hunt mengembuskan nafas lelah. Terlihat sekali hanya dari tatapannya kalau ia merasa tidak enak pada Leona. "Barang-barangmu sudah kubawa saat aku mengeluarkan bocah ini tadi. Kau bisa langsung ke atas, Leona-kun."
"Maaf merepotkan, Papa." Leona tersenyum, kali ini tulus dan tidak dibuat-buat. Ia berdiri, bertukar pandang dengan Nello sesaat, kemudian mengikuti jejak Rook beberapa saat lalu. Tidurnya semalam termasuk bagus dan perjalanan tadi tidak memakan waktu lama. Namun, begitu ia melihat kasur yang sudah disiapkan, rasa kantuk seketika menyerang. Dengan keahliannya yang tak lagi diragukan, Leona tertidur tiga detik setelah matanya terpejam.
.
.
.
"Hei, sudah waktunya berangkat." Leona sedikit tersentak ketika tubuhnya menerima guncangan yang, harus diakui, dahsyat. Rupanya itu Nello, dengan mata coklat terangnya yang entah bagaimana terasa menusuk. "Tidurmu lelap sekali, sampai tidak sempat makan siang," ucapnya lagi, berusaha menjaga Leona agar tidak kembali tidur.
Masih menyesuaikan pandangannya dengan keadaan sekitar, Leona bangun dan mendudukkan diri di pinggir kasur. "... Jam berapa sekarang?"
"Setengah lima," balas Nello singkat. Ia tampak sibuk dengan perlengkapannya sendiri yang tidak begitu banyak. "Kita hanya akan berkemah satu malam di pinggir sungai, kemudian pergi berburu besok paginya. Tidak perlu bawa barang terlalu banyak, cukup peralatan mandi dan baju ganti."
Leona belum bisa mendapat gambaran yang baik karena ia masih belum sepenuhnya sadar. Hingga semenit kemudian, ia teringat dengan salah satu vila keluarga Hunt yang berada tepat di depan sebuah hutan tropis. Jarak vila dengan sungai yang dimaksud tidak terlalu jauh. "Kalau sudah ada vila, untuk apa harus berkemah di luar?"
"Aih, tak ada jiwa petualangannya sama sekali."
Aku tidak mau mendengarnya dari hikkikomori macam kau, balas Leona dalam kepala.
"Sedikit info: aku bukan hikkikomori, karena aku sendiri seorang pemburu." Rupanya ia bisa mendengar balasan Leona barusan. Mengerikan. "Aku sudah terbiasa diajak ke alam liar, jadi kegiatan yang hanya sesekali seperti ini bukan perkara besar buatku."
"..." Leona akhirnya bangun dan ikut menyiapkan perlengkapannya. Sesuai arahan si abang, ia hanya membawa satu kaos dan tas mandi yang sudah Rook siapkan dua hari lalu, dan memasukkannya ke tas lipat yang terselip di salah satu kantong di ranselnya. Itu tas yang sempat Leona tolak keberadaannya saat Rook memberikannya. Ia tidak berpikir itu akan berguna sampai detik ini ia merasakannya sendiri.
"Sepertinya kau sudah tidak takut denganku," Leona memulai percakapan.
Nello yang baru saja selesai dengan bawaannya, melirik sang pangeran dari ekor matanya. "Bukan takut ... aku cuma sungkan—dan tidak terbiasa," suaranya agak mengecil di akhir.
"Karena pangkatku?"
"Memang ada alasan lain lagi?" Nello sudah selesai dengan barang bawaannya. Pria berbadan besar itu menyandarkan punggungnya ke dipan tempat tidurnya sendiri. Matanya masih terus memperhatikan Leona saat mengatakan, "Rasanya masih seperti mimpi, mengetahui Leona Kingscholar menjadi adik iparku. Biasanya aku hanya melihatmu dari jauh, tanpa pernah berpikir punya kesempatan untuk bicara langsung."
Kali ini, giliran Leona yang melirik dari ekor matanya. "Kau tahu apa, Onii-san? Pengakuanmu tadi mengingatkanku pada Rook. Dia juga terus-terusan merasa sungkan dengan keluargaku."
Nello mendengus. "Hanya di sisi itulah kami terdengar seperti saudara."
"Ya, kalian mirip."
"Tapi tidak semirip itu," bantah Nello cepat. "Energinya jauh, jauh lebih banyak dariku. Aku tidak akan pernah bisa sebanding dengannya."
Leona juga sudah selesai dengan barang bawaannya. Ia menarik nafas pendek, kemudian menimpali, "Bukan hanya dia, tapi semua anggota keluargamu—kecuali kau, tentunya."
Untuk yang pertama kali, Leona mendengar Nello tertawa lepas. Ketegangan yang biasa menyelimuti di antara mereka, akhirnya sirna. "Kau benar. Satu-satunya yang tidak punya energi terlalu banyak di keluarga ini, sepertinya aku. Kaa-san yang terhitung lebih anteng dari Tou-san saja masih sering bersemangat."
Keduanya saling berpandangan dan bertukar senyum. "Sepertinya aku bisa cocok denganmu," aku Leona setelah beberapa detik."
Nello refleks memasang tampang jijik. "Ew, kau mengatakannya seolah kau menyukaiku. Aku tidak mau jadi perusak hubungan adikku sendiri."
"Mulutmu ternyata menyebalkan juga, ya." Baru saja Leona hendak memberi pukulan ke punggung lebar sang kakak, pintu kamar diketuk dan terbuka tak lama setelahnya.
"Oh, kupikir kalian belum siap—Kaa-san menyuruhku mengingatkan." Itu Rook, tampak berbeda dengan rambutnya yang diikat tinggi, serta ... pakaiannya yang sedikit terbuka. "Kalau sudah selesai, nanti langsung masuk saja, ya? Aku mau duluan, karena yang lain juga sudah duluan." Pintu kembali ditutup, tanpa lagi menunggu ada jawaban dari dua pria dewasa itu.
"Dasar, kenapa tidak mau bareng saja, sih? Jelas-jelas dia tahu kalau kita sudah siap. Kan, Leona?"
"..." Mati-matian Leona menahan segala perasaan yang tiba-tiba tumpah ruah. Apa yang matanya tangkap tadi, meski sekilas, sanggup menghancurkan tembok pertahanannya yang tersisa satu lapis.
Rook terburu-buru bukan karena ia ingin segera menyusul yang lain, tapi karena ia baru sadar kalau pakaiannya sedikit tidak biasa, sementara ada Leona yang melihatnya. Detik ia sampai di kamarnya sendiri, Rook benar-benar kembali ke dirinya sebelum pindah ke istana; suka memakai pakaian pendek dan terbuka, serta tidak memikirkan makeup. Tentunya itu berbeda dengan apa yang selama ini Leona ingat dan lihat, dan ia merasa malu, sehingga memilih untuk tidak menunggu keduanya.
Rook dan pakaian pendek? Anak itu memakai baju tanpa lengan hanya saat ia masih di Savanaclaw, dengan tubuh yang belum terlalu terlihat seperti wanita. Setelahnya, yang Leona ingat adalah Rook Hunt yang seorang siswi Pomefiore, dengan pakaian-pakaian panjang nan anggun dan makeup yang cantik. Bahkan sesampainya di istana, manner Rook selama di Pomefiore terbawa karena ia perlu menjaga penampilan sebaik mungkin sebagai bangsawan. Baju tidur yang dipakai pun selalu gaun-gaun panjang yang terlihat merepotkan. Nyaris tak ada ingatan "kulit Rook" di kepala Leona selama empat tahun mereka saling mengenal.
"... Onii-san."
"Ya?" Nello menggendong ranselnya, sudah siap untuk keluar kamar. "Kalau mau ngobrol, sambil jalan saj—"
"Aku ... mau ke toilet dulu."
"Hah?"
Ini buruk. Sangat buruk. Tas tentengnya berusaha menyamarkan tubuh bagian depannya, saat ia meneruskan, "Perutku mulas. Kau duluan saja, nanti aku menyusul."
"..." Nello tidak lagi bersuara. Ia keluar kamar dan berjalan santai ke ruang magic doors keluarga Hunt yang ada di lantai tiga. Leona dibiarkan sendiri di kamarnya, hingga beberapa saat kemudian, pangeran kedua Sunset Savanna itu sungguhan pergi ke kamar mandi terdekat, menghabiskan kurang lebih 15 menit yang terasa seperti selamanya di dalam sana.
.
.
.
Next: Chapter 27
