Tidak perlu lagi mengetuk, Leona langsung masuk ke ruang kerja kakaknya begitu melihat pintunya yang setengah terbuka. Ada Kifaji, menyampaikan beberapa laporan terkait pekerjaan, hingga tak membutuhkan waktu lama, sang kepala istana pamit undur diri. Leona hanya bertukar pandang dengannya sekilas, tapi dari tatapannya, Leona tahu Kifaji tengah memperingatkannya perihal pernikahan.

"Maaf tiba-tiba mengganggu waktu libur dan istirahatmu ya, Leona." Yang diajak bicara tidak menjawab dan langsung duduk di sofa. Falena bangun dari kursi kerjanya, mengambil map merah tua dari atas meja, kemudian membawanya ke tempat adiknya sekarang duduk. "Ini daftarnya, kau bisa cek satu-satu," jelasnya seraya duduk tepat di sebelah sang adik.

"Zaman sudah serba canggih, tapi laporan seperti ini saja masih harus pakai kertas." Leona menerima map tersebut dan membukanya. Ia hanya melihat sekilas-sekilas tiap lembar di dalamnya.

"Yang dikumpulkan bentuknya sudah begitu. Aku tidak ada waktu untuk scan satu-satu," Falena memberi alasan.

"Bisa minta Kifaji."

"Kerjaan dia sudah terlalu banyak."

"Dia memang diciptakan untuk kerjaan banyak."

"Leona."

Akhirnya Leona diam setelah suara teguran kakaknya. Ia masih terus melihat tanpa minat tiap nama berikut biodata serta latar belakang yang tertulis. "Dua puluh tiga dari total tiga puluh dua nama yang ada di sini aku sudah pernah dengar."

"Yang dua puluh tiga itu masih sepupu jauh kita sih soalnya." Falena mengangguk setuju dengan pendapat adiknya. Ia menerima map itu kembali saat Leona menyerahkannya. "Nama-nama sisanya adalah saudara atau sepupu dari mereka. Masih terhitung keluarga jauh dari kita, tapi sudah beda keturunan."

"Hm."

Falena memperhatikan ekspresi adiknya yang tidak menunjukkan perubahan apa-apa, lalu berkomentar, "Kau masih tidak tertarik satupun dari mereka, huh."

"Karena mereka semua orang asing bagiku."

Falena hanya mengangguk. Ia paham betapa adiknya tidak terlalu suka berurusan dengan "orang asing," sekalipun orang itu masih punya ikatan leluhur yang sama. Pada akhirnya, mereka jarang atau bahkan tidak pernah bertemu selain jika ada acara-acara besar yang memang harus melibatkan seluruh anggota keluarga Kingscholar. Tentu saja nama-nama "sepupu" itu tak ada bedanya dengan orang asing yang tak sengaja kau kenal saat duduk bersebelahan di kereta atau kasir minimarket seberang jalan. Kecuali satu nama, tapi tentunya Leona tidak akan mau dengan sepupunya yang satu itu. Dia sudah menolak keberadaannya sejak lama sekali. Falena bahkan tidak sampai hati menyatukan namanya dengan deretan nama-nama tadi.

"Punya masukan sendiri tentang orang yang kau kenal?" Falena mengajukan pertanyaan itu sambil memperhatikan adiknya sekali lagi. "Atau… kau diam-diam punya pacar di sekolah; model yang pernah kau bawa ke sini saat Catch the Tail kemarin, misalnya."

"Jangan bercanda." Leona nyaris mengeluarkan tawa remeh mendengar ucapan kakaknya yang asal keluar itu. "Aku terlalu sibuk belajar sampai tidak ada waktu untuk romansa; dan gadis itu cuma temanku."

"Baiklah, terserah. Tapi 'sibuk belajar' tidak bisa jadi alasan, Leona, karena yang sebenarnya terjadi adalah kau itu buruk dalam sosialisasi makanya tidak pernah punya pacar," tembak Falena yang sukses mendapat hadiah pukulan di lengan kekarnya. "Yah, apa pun itu, kalau kau punya nama yang ingin dikenalkan, bilang-bilang ya. Biar aku, kakak iparmu dan Kifaji bisa ikut memberi pendapat."

"..." Tak lagi menjawab, Leona berdiri dan pergi meninggalkan ruangan. Kakaknya kurang ajar sekali sempat mengungkit Vil Schoenheit. Memang tak bisa dipungkiri, akibat dengan bodohnya ia mengajak Vil datang ke Sunset Savanna untuk mengikuti Catch the Tail waktu itu, keluarganya jadi menaruh curiga karena Vil adalah perempuan satu-satunya dalam kelompok. Mereka pasti langsung tahu siapa Vil bagi Leona.

Meskipun… mulutnya tadi sudah ingin mengiakan tebakan sang kakak, Leona tidak bisa melakukannya. Tidak dengan "rumor" yang berseliweran tentang seorang laki-laki asing yang jadi pacar putri Schoenheit itu.

"Aku harus cari nama lain… yang bisa diajak kerja sama."

.

.

.

Chapter 33

.

.

.

Sesuai dengan ucapannya, Leona sungguhan sibuk dengan pekerjaan. Ini sudah satu minggu berlalu, dan sudah satu minggu pula Rook tidak melihat Leona pulang ke rumah di sore hari. Dua hari pertama setelah "pamitan" itu bahkan Leona tidur di istana. Begitu ia bisa pulang, Rook hanya bisa melihatnya saat sudah siap berangkat kerja lagi dan tidak sempat sarapan bersama. Pagi ini pun agaknya menjadi kesempatan langka ketika akhirnya Rook bangun dengan Leona berada di sampingnya.

Tidak banyak yang terjadi pagi tadi. Hanya Rook yang berusaha membangunkan Leona, menuntunnya yang masih mengantuk ke kamar mandi, membantu pelayan yang biasa menyiapkan pakaiannya, sampai mereka berakhir di meja makan yang sama. Leona masih menutup mulut perihal apa yang ingin dibicarakannya dengan Rook—tak ada sedikit pun spoiler yang diberikan. Rook merasa agak tidak sabaran melihat tingkah suaminya yang satu itu, tapi kemudian ia teringat akan dirinya sendiri.

Rook juga punya rahasia. Hingga detik ini, ia masih belum bisa mengungkapkan perasaannya. Yang tentang alasan ia menyukai cat kuku perak dan menganggapnya berharga saja belum bisa ia katakan. Tentu, karena kalau ia mengatakannya, itu sama dengan mengungkapkan perasaan. Ia berjanji pada Leona akan menceritakannya saat sang pangeran ulang tahun, tapi bahkan kalau sekarang dipikir, Rook jadi tidak yakin apa ia sanggup menunggu.

"Aku jadi semakin tidak sabar dan ingin meneriakkan perasaan itu sekarang juga."

Ulang tahun Leona masih dua ratus hari lagi terhitung dari hari ini. Apakah Rook bisa menahan selama dua ratus hari itu untuk tetap tutup mulut? Kedengaran hampir mustahil untuk sekarang. Dan itu harus diperburuk dengan Leona yang seperti telah mempersiapkan sesuatu.

Rook menarik bantal dari sofa di belakangnya, membekap wajahnya sendiri dengan itu ketika memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.

"Malam… pertama…." Dan ketika ia mengatakannya, kedua kakinya langsung menendang-nendang udara. Teriakan tertahan juga keluar dari mulutnya. Rook benar-benar bersemangat dan jadi semakin tidak sabar.

"Aku… belum ada pengalaman sih," ia lanjut bicara pada diri sendiri, "dan agak menakutkan kalau dipikir-pikir. Tapi… tapi kalau melakukannya dengan Leona-kun… hehe…." Dan ia kembali menahan teriakan dengan wajah yang masih terbekap bantal.

"Rook-sama."

Yang dipanggil namanya refleks bangun, melempar bantal sofa ke sembarang arah. "Iya?" Tombol off segera ditekan, mengembalikan Rook Hunt ke sedia kala.

"Maaf mengganggu waktu istirahatnya," Ternyata Kifaji, dan seorang lainnya—Laura—berdiri di balik punggungnya, "tapi saya ingin minta tolong sesuatu."

Rook memiringkan kepala. "Minta tolong apa?"

"Belikan permen kesukaan Leona-sama." Rook bangun dan berjalan mendekat. Ia menerima beberapa Madol dari tangan Kifaji. "Anda tahu tokonya kan? Yang di Raintree Market. Tidak banyak-banyak, sesuaikan saja dengan uang yang ada," ia menjelaskan lebih lanjut mengenai permintaannya. "Saya sedang tidak bisa meninggalkan istana saat ini. Selain itu, saya ingin Rook-sama bisa jalan-jalan sejenak."

Laura beralih ke sisi Rook setelah Kifaji memberi isyarat padanya. "Uh… tapi tidak bisa keluar—"

"Kalau tidak ada izin dari Leona-sama?" Kifaji mengangguk maklum. "Tenang saja, Leona-sama tidak akan marah sekalipun dia tahu. Lagi pula, Anda keluar bersama pelayan yang paling dekat dengan Anda. Tidak akan ada masalah."

Masih ada sedikit keraguan terlukis di wajahnya, tapi Rook akhirnya setuju. "Baik, aku akan belikan."

Kifaji memasang senyum mendengar gaya bicara Rook yang sudah lebih santai. "Terima kasih ya. Oh, dan juga, tidak perlu buru-buru."

"Huh? Bukannya Leona-kun butuh permennya?"

"Haha, tidak juga." Kifaji menepuk-nepuk puncak kepala Rook. Gerakannya sedikit mengingatkannya pada yang biasa ayahnya lakukan. "Tadi saya bilang apa? Saya ingin Rook-sama jalan-jalan sejenak. Menunggu Leona-sama libur kelihatannya masih akan lama."

Kedua pipi Rook sedikit memanas mendengar itu. Kata-kata Kifaji seolah dirinya terlihat sekali sedang menunggu Leona (yang mana sebenarnya tidak salah juga). "...Aku sudah biasa menunggu."

Kifaji tertawa lagi. "Tolong titip Rook-sama sebentar ya, Laura-san."

"Tentu saja, Kifaji-sama." Kepala istana itu segera meninggalkan keduanya begitu yakin Laura akan menjalankan tugasnya dengan baik. Fokus Laura kali ini hanya pada Rook yang masih malu-malu. "Ayo, Rook-sama."

"U-um…." Kifaji benar. Ada baiknya Rook jalan-jalan, melihat pemandangan yang berbeda untuk sementara waktu. Memikirkan Leona dan "janji" itu terus menerus bisa mengikis tembok kesabarannya sedikit demi sedikit, dan itu sama sekali tidak baik.

.

.

.

"Saya baru tahu kalau Leona-sama makan permen."

Rook terkekeh. "Apa karena perangainya?"

"Dan wajahnya." Laura mengangguk setuju. "Sama sekali bukan tipe yang suka makan permen, setidaknya itu yang terlihat."

"Aku juga agak kaget saat tahu untuk yang pertama kali." Rook menarik dirinya sedikit ke belakang, saat ia dan keluarganya masih proses pengenalan dengan Kingscholar.

"Rook-sama, satu catatan dari saya: Leona-sama suka permen ini." Tiba-tiba Kifaji menghampiri Rook yang sedang duduk sendirian di taman, menunggu orang tuanya yang masih bersenda gurau dengan Raja Falena. Kepala istana itu menaruh sebungkus permen ke telapak tangan Rook yang menerimanya dengan penuh tanya. "Kalau dia sedang badmood atau Anda ingin memberi sesuatu sebagai hadiah, belikan saja ini."

Meski masih bingung, Rook mencoba mencairkan suasana dengan tersenyum. "Ini permen yang di pasar itu kan? Saya pernah beli untuk kakak saya."

"Oh?" Kifaji ikut duduk di sebelah Rook, menatap gadis itu antusias. "Itu berarti Anda sudah familier. Bagus, bagus."

"Saya sudah jarang ke pasar, tapi masih ingat lokasi tokonya," jelas Rook, mendadak tegang karena seorang kepala istana sedang duduk di sebelahnya, apalagi menatapnya dengan antusiasme seperti itu.

"Baiklah, saya bisa tenang kalau begitu." Kifaji mengelus-elus jenggotnya, memasang tampang bangga. "Anak nakal itu… tak peduli berapa tahun berlalu, dia akan tetap menyukai makanan yang sama. Dan sekarang dia malah melamar seorang gadis."

Senyum Rook berubah pahit. Ia meremas bungkusan permen di tangannya, menahan rasa sakit di dada agar tak mengacaukan obrolan berharga ini. "Ini… hanya sementara."

"Yah, memang." Melihat orang tua Hunt keluar dari ruangan yang dihantar langsung oleh sang raja, Kifaji dan Rook kompak berdiri. "Meski begitu, saya titip Leona-sama pada Anda. Mohon kerja samanya, Rook-sama."

Mengingat itu sekarang membuat Rook merasa spesial. "Siapa sangka anak nakal itu suka makan permen, eh."

Laura nyaris tertawa lepas mendengarnya, langsung tahu siapa "anak nakal" yang Rook maksud. "Setiap orang punya kesukaannya masing-masing, dan itu termasuk Leona-sama."

"Dan kesukaannya itu membuatnya jadi lebih manis," Rook mengungkapkan itu seolah tidak lagi malu menunjukkan perasaannya di depan Laura—di depan umum. Dadanya penuh dengan suara-suara yang meracau ingin menerobos bibir, berteriak hingga sampai ke sepasang telinga lucu Leona.

Laura hanya diam memperhatikan tuan putrinya yang memerah semu dengan senyuman. Rasanya menyenangkan sekali menjadi bagian dari saksi perjalanan cinta keduanya.

"Oh, tak terasa kita sudah sampai." Suasana pasar yang ramai dan bergemuruh. Rook diam-diam merindukan ini. "Sudah berapa lama ya… terakhir itu bersama Nova Onee-san, aku rasa."

"Kalau boleh jujur, saya agak kaget saat tahu Rook-sama jarang ke pasar," balas Laura sambil menjaga jalannya agar tetap bersisian dengan Rook. Ada beberapa pedagang yang menyadari kehadirannya, dan Rook hanya membalasnya dengan senyuman serta lambaian tangan ringan. Ia tak pernah lupa kata-kata Leona dalam bersikap sebagai bangsawan.

"Kenapa begitu?" Akhirnya Rook masuk ke dalam obrolan. "Apa karena aku orang biasa?"

"Saya rasa begitu…." Tiba-tiba saja Laura merasa malu setelah mengingat ucapannya barusan. "M-maaf, Rook-sama. Saya terdengar seperti mengkotak-kotakkan derajat orang."

"Santai saja." Rook tertawa kecil sebelum meneruskan, "Itu hanya karena aku jarang di rumah. Aku sudah tinggal di asrama sejak SMP, lalu dilanjut saat aku ke NRC. Tidak setiap liburan aku bisa pulang, dan setiap pulang, aku hanya fokus menghabiskan waktu bersama keluarga. Aku tidak sesering itu jalan-jalan keliling negeri sendiri semenjak fokus belajar."

Laura mengangguk-anggukkan kepala, tidak berani berucap apa-apa. Melihat pelayannya jadi semakin ragu untuk bersuara, Rook menarik tangannya dalam genggaman. "Tidak perlu dipikirkan, Mademoiselle. Aku tidak merasa tersinggung sama sekali karena aku sudah menganggapmu temanku. Jangan sungkan untuk bersuara ya."

Senyum kembali menghiasi paras manis perempuan muda itu. Ia balas genggaman tangan Rook yang ternyata hangat, sesuai dengan perangainya. "Terima kasih, Rook-sama. Saya… saya sangat menghargainya."

"Syukurlah." Mata Rook kemudian tertuju pada toko yang tak berada jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. "Oh? Itu dia toko permennya." Langsung Rook menarik pelan Laura supaya tetap berada di dekatnya, menuju toko yang dimaksud.

.

.

.

"M-maafkan saya, Rook-sama. Anda… Anda sampai harus menunggui… saya…."

Rook menyerahkan satu pak tisu yang selalu siap sedia di dalam tas tentengnya. "Tidak apa, Mademoiselle. Ini tisunya." Laura menerima tisu itu dengan senang hati dan segera berlari masuk ke toilet umum di belakang mereka. "Jangan buru-buru! Take your time! Aku akan menunggu di sini!" teriak Rook, harap cemas gadis itu mampu mendengarnya.

Semua berawal di toko permen tadi. Tidak hanya membeli bagian untuk Leona, Rook juga membeli untuk dirinya sendiri dan Laura. Ia masih ingat rasa permennya seperti apa, tapi tidak dengan Laura yang kebetulan belum pernah mencobanya. Menurut Laura, ia selalu takut mencoba permennya karena dulu pernah ditakut-takuti ibunya perihal rasanya yang pedas menusuk. Laura tidak suka pedas, tapi karena melihat Rook memakannya hampir tanpa reaksi, Laura jadi penasaran dan ikut mencoba. Rupanya, sesuai perkataan ibunya, permen itu luar biasa pedas. Rasa manisnya tetap ada, tapi pedasnya tak sanggup lidahnya tahan. Hingga perutnya menjadi korban dan berakhirlah mereka mencari toilet umum di taman terdekat.

Rook terus menahan tawanya sejak mereka keluar dari pasar. Sudah lama ia tidak menghabiskan waktu dengan seorang teman seperti ini. Kejadian-kejadian tak terduga beginilah yang paling ia nanti karena akan jadi kenangan tak terlupakan hingga tua nanti.

"Mungkin aku akan coba sering-sering minta izin Leona-kun untuk keluar seperti ini dengan Mademoiselle Laura. Rasanya menyenangkan."

"Kalau denganku bagaimana? Kita bisa girls date."

Tak ada suara langkah kaki, tak ada suara napas, apalagi tanda-tanda kehadiran dari unique magic-nya. Rook sontak menoleh ke sumber suara yang ternyata sudah sangat dekat dengannya.

Perempuan muda, kemungkinan tidak terlalu jauh beda umurnya dengannya, tinggi sekitar 190 cm, bobot tak lebih dari 70 kg, dengan telinga dan ekor singa. Jangan lupakan rambutnya; coklat keemasan dengan gradasi oranye di ujung. Singa dengan rambut gradasi di Sunset Savanna. Sudah pasti Kingscholar.

"Oya? Maaf, apa aku mengejutkanmu?" Perempuan itu melangkah dan berhenti tepat di hadapan Rook yang masih duduk di bangku taman. Sang pemburu tak sanggup bergerak, tidak dengan kehadiran seorang perempuan bangsawan misterius yang tak ada di ingatannya sama sekali.

Rook meremas ujung bangku, mati-matian mempertahankan ekspresi datarnya. "Siapa Anda?"

"Jangan terlalu sopan begitu. Kau menyakiti hatiku." Perempuan itu akhirnya duduk di sebelah Rook, mengakibatkan si gadis pemburu menggeser sedikit posisinya. Pergerakannya hanya sanggup untuk memberi jarak, bukan untuk kabur. "Lebih baik kita perkenalan dulu, bukan begitu, Nyonya Leona Kingscholar."

"..." Masih waspada, Rook menerima uluran tangan perempuan itu yang mengajak bersalaman. "...Rook Hunt-Kingscholar."

"Wow, kau sungguhan anak dari Hunt? Sulit dipercaya." Tangan Rook tidak dilepasnya, justru membuat jarak mereka kian menipis—karena perempuan itu sedikit menarik Rook mendekat. Sambil memamerkan senyum paling ramah, perempuan itu mengucapkan namanya, "Tarina Kingscholar. Aku sepupu Leona, sekaligus mantan calon tunangannya."

"..."

Mantan calon tunangan…?

.

.

.

Next: Chapter 34