Title: Full-Time
Genre: Romance, fluff
Rate: T
Words: 2k
Sequel of "Part-Time"
.
"Harry, Draco," panggil Hermione yang baru saja keluar dari dapur. Ia membuka celemek dan menggantungnya. "Ada sedikit masalah dengan kantor pengiriman. Mereka tidak bisa mengantarkan paket kita hari ini."
Harry mengangguk mengerti. Tanpa perlu meminta penjelasan dari Hermione, Harry langsung tahu apa yang dimaksud oleh gadis itu.
"Lalu kenapa? Mereka bisa mengirimkannya lain waktu," Draco, dialah yang membalas.
Baik Hermione maupun Harry menghela napas mendengar perkataannya. "Kau sudah bekerja di ini selama dua bulan, dan kau masih belum mengerti dengan apa yang kumaksud?" Begitulah Hermione membalas perkataan Draco.
"Aku dan Ron akan pergi berbelanja," ucap Hermione. Ia menunjukkan catatan bahan-bahan apa saja yang kurang di dapur cafe mereka sekilas. Ia kemudian melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore. "Kantor pengiriman itu akan tutup jam enam sore. Kita butuh barang itu untuk besok, jadi kita tidak bisa menunggu. Bisakah kalian berdua pergi mengambilnya?" tanya Hermione.
"Kenapa kalian tidak langsung saja mengambilnya? Kantor pengirimannya mungkin tutup jam enam, tapi pasarnya tidak akan tutup jam segitu," balas Draco yang sepertinya sedang mencari alasan untuk tidak mendapatkan tugas tambahan.
Hermione menatap Draco datar. "Karena itu merepotkan. Akan lebih cepat jika kalian berdua yang mengambilnya. Aku juga bisa memperbanyak waktu untuk berbelanja."
Draco memutar mata. Pada akhirnya ia tetap harus melakukan tugas tambahan itu.
"Aku sedang berbaik hati sekarang," kata Hermione yang sudah mengambil tasnya. "Aku mengizinkan kalian pulang lebih cepat dari seharusnya. Ah, tapi kalian harus kembali ke sini untuk meletakkannya. Jadi, kuserahkan kuncinya padamu." Hermione melemparkan kunci cadangan kepada Harry.
Harry menerima kunci itu tanpa banyak mengeluh. Ia tidak sama seperti Draco. Harry sama sekali tidak keberatan dengan tugas tambahan ini.
"Oh, Ron sudah datang." Hermione sekali lagi mengingatkan Harry dan Draco akan tugas mereka. Kemudian ia keluar dari cafe, langsung masuk ke mobil Ron.
Draco dan Harry kini hanya tinggal berdua. Keduanya langsung melepaskan celemek dan mengambil barang-barang mereka. Harry tidak lupa untuk memasang tanda tutup di pintu dan mengunci cafe.
Setelah Harry selesai mengunci pintu, Draco pun bersuara. "Kita hanyalah pekerja paruh waktu yang tidak dibayar. Seharusnya dia tidak seenaknya menyuruh-nyuruh begini," keluhnya.
Harry hanya bisa menghela napas. Ia bukannya setuju dengan perkataan Draco, malah sebaliknya. Bagi Harry, hal seperti ini sama saja dengan membantu temannya dengan pekerjaan-pekerjaan ringan. "Sudahlah, ayo kita pergi sebelum kantornya tutup."
Keduanya berangkat menuju kantor pengiriman itu menggunakan mobil Draco. Mereka beruntung karena barang-barang yang dipesan Hermione tidak terlalu banyak. Tapi kebanyakan adalah barang-barang mudah pecah seperti gelas dan piring yang harus dibawa dengan penuh kehati-hatian. Itu sedikit merepotkan dan menyebalkan, setidaknya bagi Draco.
"Dia tidak seharusnya memperlakukan pekerja part-time yang tidak digaji seenaknya begini," gumam Draco saat mereka dalam perjalanan kembali ke cafe.
Harry yang duduk di kursi penumpang di sampingnya menoleh. "Kau pekerja full-time, Draco. Kau tidak ada pekerjaan apa-apa selain menjadi karyawan Hermione." Harry tersenyum, menahan tawa yang mungkin saja akan keluar.
Draco berdecak kesal karena itu memang benar. "Tapi ini adalah hari terakhirku, setidaknya dia bisa meringankan bebanku sedikit saja."
Harry yang awalnya ingin bermain dengan ponselnya kembali menoleh ke arah Draco. Alisnya terangkat, terkejut. "Hari terakhir?" tanyanya bingung.
Draco mengangguk, pandangannya tak lepas dari jalan di depannya. "Masa hukumanku sudah selesai. Aku akan kembali ke kantor besok," jawabnya menjelaskan.
Harry ber-oh ringan. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan kemudian sibuk dengan ponselnya.
Draco yang masih fokus mengemudi melirik Harry dari sudut matanya. Ia mendengus kecil dan sudut bibirnya terangkat. "Apa kau juga akan berhenti bekerja di sana?" tanyanya pada Harry.
"Hmm, sepertinya tidak," jawab Harry tanpa menoleh.
"Ooh," gumam Draco sebagai balasan. Seringai masih terlukis di wajahnya. "Kupikir kau akan berhenti karena aku tidak akan ada lagi di sana."
Akhirnya Harry mengalihkan pandangannya dari ponsel. Ia menatap Draco dengan kedua alis menekuk dan kening yang berkerut. "Apa hubungannya aku tetap bekerja di sana dengan kau yang tidak akan ada lagi di sana?"
"Memang tidak ada hubungannya?" Draco memanjang-manjangkan gaya bicaranya. Ia seolah menganggap bahwa perkataan Harry bagaikan omong kosong yang buruk.
"Tentu saja tidak ada hubungannya," balas Harry dengan nada sedikit kesal. Ia pun kembali bermain dengan ponselnya. Ia sama sekali tidak menyadari jika Draco sekali lagi meliriknya dengan seringai yang sama.
.
"May I take your order?" Harry sudah bersiap mencatat pesanan dua pelanggan di depannya. Namun ia tidak bisa menahan hela napas saat kedua gadis itu terus saja menoleh ke sana kemari seolah sedang mencari sesuatu. Atau, seseorang.
Salah satu gadis itu akhirnya bicara. "Di mana pemuda pirang itu?" tanyanya pada Harry.
Ingin sekali rasanya Harry melempar buku catatan di tangannya. Ini sudah ketiga kalinya Harry mendengar pertanyaan yang sama hari ini. "Dia sudah tidak bekerja lagi di sini," jawab Harry dengan malas.
Pundak kedua gadis itu langsung merosot. Mereka sama sekali tidak menyembunyikan kekecewaan di wajah mereka. Bahkan saat memberitahu Harry pesanan mereka, Harry bisa menduga bahwa ini akan menjadi terakhir kalinya ia melihat kedua gadis itu di cafe ini.
Kedua gadis itu bukanlah yang terakhir. Saat hari mulai beranjak sore, Harry kembali mendapatkan pertanyaan yang sama. Dan Harry pun selalu memasang raut yang sama setiap kali meninggalkan pelanggan yang hanya datang untuk mencari Draco.
"Jangan berwajah seperti itu. Kau membuat pelangganku lari," tegur Hermione saat Harry menghampirinya di belakang konter. Hermione terkekeh kecil saat melihat wajah cemberut Harry.
"Seharusnya kau buat pengumuman di depan pintu kalau Draco sudah tidak bekerja lagi di sini." Harry duduk di samping Hermione dengan wajah menekuk. Beruntung tidak ada pelanggan sekarang, Harry tidak perlu memasang senyum palsunya.
Hermione menggeleng namun tetap tersenyum karena tingkah Harry. Ia menatap Harry cukup lama sebelum berbicara. "Apa kau belum memberitahu Draco?"
Wajah kesal dan cemberut Harry berganti menjadi raut wajah bingung. "Memberitahu apa?"
"Kalau kau menyukainya."
Mata hijau Harry melebar, terbelalak dan... kewalahan? "Ap—Kau gila! Bagaimana mungkin kau mengatakan omong kosong seperti itu?" Harry berdiri dari tempat duduknya. Ia terus mengatakan betapa konyolnya Hermione hingga akhirnya Harry pergi ke belakang untuk beristirahat.
Hermione yang masih berada di posisinya hanya tersenyum makin lebar. Ia berteriak sebelum Harry sempat menutup pintu. "Jangan lupakan fakta bahwa dia populer, Harry. Kau bisa keduluan orang lain kalau tidak cepat bergerak!" Hermione memberi saran. Ia tertawa saat Harry mengacungkan jari tengahnya.
.
Sudah hampir dua minggu berlalu sejak Draco berhenti bekerja paruh waktu. Harry, masih berada di cafe ini bersama Hermione dan Ron. Hari sudah sore saat itu, dan sore dengan cepat berganti malam. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum cafe tutup, namun sudah tak ada lagi pelanggan. Hermione, Ron, dan Harry duduk di satu meja yang sama. Sebenarnya, tanda 'close' bisa mereka pasang sekarang, kemudian masing-masing bisa sepenuhnya menikmati secangkir kopi panas. Tapi Hermione berpikir untuk menutup cafe tepat waktu saja.
Di saat mereka berbincang-bincang, suara bel pintu berdenting. Ketiganya kompak menoleh ke arah pintu. Di sana, baru saja masuk seorang pemuda berambut pirang dengan jas abu-abu gelap yang terlihat sangat jelas adalah jas mahal.
"My Lord, cafe ini buruk. Kenapa semua pelayannya malah bersantai?" Draco, yang sepertinya baru pulang dari kantornya, langsung menghampiri meja ketiga sahabat itu.
Ron mencibir, sedangkan Hermione hanya terkekeh pelan. Harry? Oh, ia terdiam karena tak menduga jika Draco akan datang.
Draco kemudian bergabung dengan mereka, menarik satu kursi dan duduk di samping Harry. Ia menyilangkan kakinya, memperhatikan cafe yang sepi akan pelanggan. "Huh, sepertinya kau kehilangan pelangganmu sejak aku tak ada, Ginger," ucap Draco yang langsung di balas dengan decakan kesal oleh Ron.
Hermione berdiri dari tempatnya untuk mencubit lengan Draco, yang mana tentunya dihindari oleh si pirang. Namun begitu, Hermione tetap tertawa. "Maaf, Draco, tapi mereka semua datang untuk kopi buatanku." Hermione kemudian melirik Harry yang hanya diam saja, hanya sekilas. Ia kemudian menyeringai jahil. "Yah, walaupun memang ada satu orang yang berharap kau datang, sih."
Perkataan gadis itu memanen reaksi yang berbeda dari ketika pemuda. Ron, memasang raut bingung karena tak tahu siapa satu orang yang dibicarakannya. Harry, memelototi Hermione, namun tak mengucapkan apa-apa. Sedangkan Draco, diam-diam mendengus dan menyeringai. Oh, sepertinya ia tahu siapa satu orang itu.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga waktu tutup cafe. Hermione dan Ron menahan Draco yang tadinya ingin pulang lebih dahulu. Mereka memaksanya untuk bantu beres-beres. Lagipula, ini bukanlah pekerjaan asing bagi Draco.
Hermione dan Ron sedang berada di dapur, saat Harry sedang membereskan kursi-kursi dan meja bersama Draco. Sesuatu yang sedikit aneh jelas ada di antara mereka. Harry, sedari tadi hanya diam, tak bicara apa-apa.
Draco melirik Harry. Sebuah seringai terulas di wajahnya. "Hei," panggilnya setelah menaikkan kursi terakhir ke atas meja. Saat Harry menoleh, barulah ia lanjut bicara. "Pulang denganku?"
Tawaran yang tak terduga itu membuat kening Harry berkerut. Ia menatap Draco penuh curiga. "Kenapa tiba-tiba kau menawarkan tumpangan? And, well, aku menolak." Harry berucap cuek, kemudian membuka celemek dan menggantungnya.
Draco mengangguk-anggukkan kepala. "Okay," balasnya dengan santai.
Hermione dan Ron kembali dari dapur. Ketiga pemuda sudah lebih dahulu keluar, Hermione yang terakhir karena ia harus mematikan lampu dan mengunci pintu.
Ron, membuka pintu mobil, kemudian menoleh ke arah Harry. "Eh, Mate, kenapa kau tidak pulang dengan Draco saja? Kalian satu arah, kan?" Ron mengedikkan bahunya. "Well, bukannya aku tidak mau mengantarmu pulang, tapi akan lebih cepat jika dengan Draco, kan?"
Oh, Ronald Weasley, dia sungguh tidak tahu apa yang dikatakannya berpengaruh besar kepada sahabatnya. Hermione, yang baru bergabung, terkekeh pelan. Ia tidak akan ikut-ikutan sekarang.
Draco, bersandar di pintu mobilnya. Ia mengangkat alisnya, seolah mengatakan, "Kubilang juga apa, mending kau pulang denganku."
Harry mendengus kesal ke arah Draco. Menghela napas, Harry akhirnya mengangguk ke arah Ron. "Ya, sudah, aku pulang dengannya." Ia melambaikan tangannya, yang dibalas oleh Ron. Harry kemudian berjalan menuju mobil Draco dengan enggan. Oh, kalau saja Harry tahu Draco akan datang hari ini, maka ia akan datang dengan mobilnya sendiri.
Di mobil, Draco menyetel musik pop dari band favoritnya. Ia bersenandung kecil, begitu pun Harry yang ikut bernyanyi di beberapa bagian yang ia ketahui. Draco melirik Harry sekilas.
"Bagaimana? Kudengar dari Hermione kau mengusir pelanggan yang terus bertanya ke mana aku." Draco tak bisa menahan kekehannya. Ia teringat pada malam ketika Hermione memberitahunya kalau Harry bicara dengan galak kepada seorang pelanggan yang terus saja bertanya soal dirinya.
Harry langsung memasang tampang kesal. Sepertinya suara si pelanggan yang bertanya sosial media Draco kembali terngiang di kepalanya. "Aku tidak mengusirnya. Aku hanya menyuruhnya untuk datang kembali lain waktu jika kau bekerja lagi di sana."
Draco kembali tertawa, lebih lepas. "Kalau kau semuak itu, Harry, kenapa tidak berikan saja Instagram-ku padanya? Kujamin itu akan langsung membuatnya berhenti bertanya."
Harry mendengus. "Nanti kalau kau di-spam olehnya, malah aku yang kau salahkan. Lagipula, siapa aku, punya hak untuk memberikan akun sosial mediamu padanya."
Draco melirik Harry dengan alis yang terangkat. Sebuah senyum kemenangan mengembang di wajahnya. "Dan bukan hakmu juga untuk melarangnya mendekatiku. Kau bukan pacarku." Draco sengaja bicara pelan—dengan nada sedikit menggoda—pada kalimat terakhirnya.
Harry, menoleh seketika. Sialan, kenapa wajahnya tiba-tiba memanas begini. Harry berdeham, mencoba untuk terlihat biasa saja. Harry menyilangkan tangannya di dada sebelum kembali bicara. "Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mengusir mereka. Mereka bahkan diam-diam membicarakanku, mengatakan kalau aku sangat menyebalkan."
"Well, indeed," gumam Draco yang langsung mendapatkan pukulan ringan dari Harry. "Kalau begitu, cukup tunjukkan pada mereka jika kau memang punya alasan jelas kenapa kau tidak bisa memberikan sosial mediaku pada mereka, kan?"
Harry menoleh. "Bagaimana maksudmu?"
Draco tersenyum, tak menoleh sama sekali karena sedang fokus memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen Harry. Setelah memarkirkan mobil dan mematikan mesinnya, barulah Draco menoleh ke arah Harry. "I don't know. Mungkin, kau hanya perlu bilang kalau aku sudah bukan pelayan cafe part time lagi," ucap Draco yang kemudian mendekat. "Tapi aku adalah kekasih full time-mu."
Harry tersedak udara mendengar komentar tak terduga dan agak norak itu. "W-what? You crazy!" Harry mendorong Draco menjauh darinya. Wajahnya sudah memerah sepenuhnya.
"Bukankah itu cara yang paling efektif?" Draco tetap tidak mundur meski Harry mendorongnya dengan sangat keras. Ia mengangkat alisnya, seolah sedang menawar. "Bagaimana? Mau menandai hari ini sebagai hari pertama kita?"
Harry berdecak, entah kesal atau sedang menyembunyikan rasa malu. Ia membalas tatapan Draco yang masih belum mau menjauh. Harry menghela napas. "Terserah, deh," ucap Harry pasrah. Lupakan saja jantungnya yang sedang berdebar tidak karuan sekarang.
Harry akhirnya berbalik dan membuka pintu mobil. Ia ingin buru-buru kembali ke kamarnya sekarang. Namun baru satu kakinya yang keluar, Harry ditahan oleh Draco. "Apa?"
Draco menunjukkan pipinya kepada Harry. "Well, ini hari pertama kita, kan?" ucapnya, alias meminta sebuah kecupan dari Harry.
Kalau saja bukan karena tidak mau membuat keributan malam-malam, Harry mungkin sudah menggebuk Draco sekarang. Harry menahan rasa malunya. Ia kemudian meraih wajah Draco, mencondongkan tubuhnya. Namun Harry tidak mendaratkan sebuah kecupan di pipi Draco. Alih-alih, Harry memberikan kecupan singkat di sudut bibir Draco. Begitu saja, dan kemudian ia langsung keluar dengan wajah yang lebih merah dari ceri.
Draco? Sialnya ia melewatkan timing dan membiarkan Harry lolos. Namun Draco tak bisa menahan senyum lebarnya. Ia menatap punggung Harry yang kini telah menghilang ke dalam lift. Mungkin bukan malam ini, lagipula ini baru hari pertama mereka. Draco menyalakan kembali mobilnya, pergi dari area parkir. Selama perjalanan, Draco sedang memikirkan berbagai tempat terbaik untuk kencan.
Sementara itu, Harry buru-buru kembali ke kamarnya. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan menenggelamkan wajahnya di bantal, berharap rona merah itu segera menghilang. Harry tiba-tiba seperti remaja yang baru jatuh cinta dalam sesaat. Setelah selesai menenangkan dirinya, Harry kembali duduk.
Harry menghembuskan napas, menenangkan dirinya. Ia kemudian mengambil ponsel dari sakunya. Ia membuka akun sosial medianya. Harry, tanpa basa-basi langsung mengganti deskripsi di profilnya.
Ia menghapus kata "single" yang sudah beberapa tahun tak pernah berganti. Kemudian, ia menggantinya dengan "taken", di bawahnya Harry beri inisial DM yang ditambah emoji hati berwarna hijau. Oh, tidak lupa, Harry juga menambahkan "Full time boyfriend" di ujungnya.
Hah... lihatlah pemuda kasmaran ini.
.
.
.
Full-Time — Completed
.
.
.
A/N
Yoooooo aku balik lagi sama sequel... Aku liat-liat di Part-Time banyak juga ya, yang minta part 2. Sooo this is for you guys!
Btw, soal fanfiction Drarry multichapter yang kubahas sebelumnya, yang mau aku publish itu... aku agak bingung nih. Kan lagi puasa nih ya, apa aku tunggu aja sampai lebaran? Kalian maunya gimana?
Btw (lagi), warga Wattpad and Ffn ku tercinta... Aku baru (banget) bikin akun TikTok buat kasih update soal fanfiction aku, entah itu drarry atau fandom lain (meskipun akhir-akhir ini yang ku tulis drarry terus... So, mungkin kalian mau mampir gituhh ke TikTok aku... Nama akunnya Virgo Takao14 (virgo_takao) yaa shayy, foto profilnya juga sama ama foto profilku di sini...
Okeee itu aja untuk kali ini...
See you!
Virgo
