Tak pernah Kuroo duga sebelumnya, bahwa tetangga barunya akan menjadi patner kerjanya juga. Mungkin dunia memang menakdirkan kalian lebih sering bersama. Apalagi fisik Name adalah perwujudan dari tipe ideal Kuroo.
Haikyuu! © Haruichi Furudate | Kuroo Tetsurou x OC (Female Reader) | Office Worker, Romance, & Drama | Semi-canon | MA
Warning : TYPO(S), OOC, Broken EYD V, Broken SPOK, etc.
Happy Reading
.
.
.
.
.
.
Blurred Lines © Saby Whispers
CHAPTER 2 : Behind Desks and Glances
Second Person POV
Meski hari pertama bekerja cukup membuatmu kewalahan. Namun, kamu berhasil menyelesaikan tugas kecil yang diberikan. Beberapa hari berikutnya, kamu mulai lebih banyak bekerja sama dengan anggota divisi ESM untuk menyusun administrasi event dan sponsorship.
Kamu juga sangat berterima kasih pada Kuroo. Terlepas dari tingkahnya yang suka menggodamu dengan kata-katanya yang dangdut, ia sangat sering membantumu, mulai dari memberikan saran hingga membantumu memahami pola audiens.
Di hari kelima bekerja, untuk pertama kalinya kamu ikut meeting besar dengan beberapa divisi lain. Kamu dan Kuroo ditunjuk sebagai perwakilan dari divisi ESM oleh Bu Rika. Kamu merasa sedikit gugup, sedangkan Kuroo yang duduk di sebelahmu terlihat sangat tenang. Ia tampak sangat cakap dalam diskusi tersebut. Kamu fokus mendengarkan dan sesekali mencatat poin-poin penting dalam meeting tersebut.
"Good job, Name! Gak kelihatan kayak anak baru kok." Ucap Kuroo setelah keluar dari ruang meeting.
Kamu menghela nafas lega.
"Ohya jelas. Kan selalu ada mentor baik hati yang ngebantu gue."
"Hahaha, gue jadi merasa tersanjung."
Kalian pun kembali ke ruang divisi ESM dan menyerahkan hasil meeting kepada Bu Rika. Setelah itu kamu kembali ke meja kerjamu, sedangkan Kuroo masih membahas beberapa hal dengan Bu Rika.
Semuanya berjalan cukup lancar untuk minggu pertama bekerja di JVA. Saat kamu bersiap pulang, anggota divisi ESM tiba-tiba berkumpul di sekitarmu.
"Name! Malam ini kamu harus ikut!" Ucap salah seorang anggota yang kamu panggil Bang Yamamoto.
"Yamamoto, harusnya kamu tanyain dulu apa Name ada kegiatan sepulang kantor." Anggota lain, Bang Yaku, menegur Yamamoto.
"Eh? Ikut apa?" Tanyamu bingung.
"Pesta penyambutan anggota baru!"
"Divisi ESM biasanya mengadakan makan malam bersama untuk menyambut anggota baru." Bang Yaku menjelaskan.
"Apa ini… wajib?" Kamu menatap mereka dengan sedikit ragu.
"Jelas!" Bang Yamamoto tertawa. "Anggap saja ini ritual resmi masuk divisi ESM."
"Oh, mau makan-makan ya?" Kuroo yang baru saja kembali ke ruang ESM langsung menyahut.
Kamu menatap Kuroo seolah minta penjelasan.
"Udah, ikut aja. Biar lo lebih dekat dengan divisi ini." Ajak Kuroo.
"Baiklah, saya ikut."
Malam itu, kamu dan anggota divisi ESM yang lain tiba ke sebuah restoran izakaya di dekat kantor. Rekan kerjamu sudah memenuhi meja panjang di salah satu sudut, dengan makanan dan minuman yang mulai berdatangan. Seperti biasa, Bang Yamamoto adalah orang yang paling bersemangat.
"Oke oke, sebelum makan, kita harus toast dulu buat Name!"
Ia mengangkat gelas birnya tinggi-tinggi, diikuti yang lain.
"Selamat datang di divisi Event and Sponsorship Management, Name!" Seru mereka bersamaan.
Kamu tersenyum agak canggung, tetapi tetap mengangkat gelas.
"Terima kasih semuanya. Mohon bantuannya untuk kedepan."
Mereka pun mulai menyantap hidangan yang tersedia diselingi dengan obrolan ringan bahkan candaan. Hana, salah seorang staff perempuan di sana memulai obrolan denganmu.
"Gue seneng banget ada cewek yang gabung di divisi ini. Kadang sampe muak sama tingkah cowok-cowok lajang itu." Kata Hana.
"Iya iyaa, si paling punya pacar." Yamamoto merespon.
"Ohya, Name. Kenapa lo pilih kerja di JVA?" Tanya Hana kepadamu.
"Hmmmm…" Kamu berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Gue emang suka voli sih, dan gue ingin kerja di industri yang dinamis. Terus, kata sepupu gue JVA buka lowongan, ya gue coba deh."
"Sepupu? Siapa?"
"Ushijima Wakatoshi."
"HEEEEEEEEEHH?!"
Satu divisi kompak langsung kaget ketika mendengar salah satu nama pemain voli nasional kebanggaan Jepang itu. Begitu pula Kuroo yang mengernyitkan dahinya.
"Dunia sempit sekali." Batin Kuroo.
"Berarti lo bisa main voli?" Bang Yaku langsung mencondongkan tubuhnya.
"Iya, udah berhenti sih pas lulus SMA. Jadi sekarang cuma nonton doang."
"Kalo gitu, nanti kita harus nonton pertandingan bareng!" Ajak Bang Yaku bersemangat.
"Ngomong-ngomong, gue sering liat lo nyampe kantor bareng Bang Kuroo. Kalian searah?" Tanya Kai kepadamu.
"Ya, bisa dibilang begitu." Jawabmu agak ragu.
"Dia tetangga apartemen gue, sebelahan persis." Timbrung Kuroo.
"Hah?! Serius?" Bang Yaku hampir menjatuhkan sumpitnya.
"Sudah satu divisi, ternyata tetangga sebelah juga."
"Iya, jadi kami saling ketemu gitu. Jodoh kali yak, makanya ketemu terus." Gombal Kuroo kepadamu.
Kai langsung mendekat ke kursi Name.
"Name, gue peringatkan ya, jangan terlalu banyak bergaul sama Bang Kuroo! Dia itu—"
"Oi, oi, jangan merusak reputasi gue di depan anak baru dong!" Potong Kuroo sambil menjitak kepala Kai.
"Ooh gue juga dengar tuh dari Morisuke, adek gue. Dia bilang kalo Kuroo saat SMA itu playboy sejati, genit sana sini. Eh sampai sekarang juga masih sih. HAHAHA!" Saut Bang Yaku.
"Bisa gak sih malam ini jangan jadi ajang bongkar aib gue."
Gelak tawa pun pecah saat Kuroo menegur karyawan lain akan reputasinya. Begitu pula denganmu, yang menikmati momen ini. Kamu merasa satu minggu bekerja di divisi ini disambut cukup hangat dengan mereka.
Malam semakin larut, dan pesta penyambutan itu akhirnya berakhir. Sebagian besar anggota sudah berpisah lebih dulu, entah naik taksi, ataupun kereta malam. Kamu pun pulang bersama Kuroo menuju apartemen kalian.
"Lumayan seru juga ternyata." Ucapmu sembari merapatkan jaket.
"Divisi kita memang selalu heboh kalau sudah makan-makan." Sahut Kuroo yang berjalan di sebelahmu, memasukan tangannya ke saku celana.
"Dan gue juga baru tahu ternyata lo dulu satu tim voli sama saudara-saudaranya divisi kita." Kamu melirik Kuroo.
"Kai dan Bang Yaku yang terlalu banyak bicara." Kuroo terkekeh pelan.
"Hahaha, gue jadi penasaran lo pas SMA gimana."
Kuroo melirikmu dengan ekspresi isengnya.
"Kenapa? Tertarik?"
"Hmmm, mungkin iya." Ucapmu tak kalah iseng.
"Kalau begitu gue—"
"Mungkin juga tidak." Tambahmu dengan senyum jahil.
Kuroo bersiul mendengarmu. Angin malam yang berhembus cukup dingin menemani perjalan pulang kalian.
Setidaknya sudah dua bulan kamu bekerja di bagian promosi JVA. Memang cukup menyenangkan, tetapi tetap saja ada kalanya kamu merasa jenuh. Deadline yang menumpuk, rapat yang terasa tak berujung, serta laporan yang harus diperiksa berulang kali bisa membuat kepalamu terasa penuh.
Salah satu kebiasaan yang kamu lakukan adalah kabur sejenak ke pantry saat otak mulai terasa buntu. Sering kali Kuroo ikut bersamamu ke pantry, seperti saat ini.
"Asli dah, kalau gue harus baca satu dokumen lagi, meledak nih kepala." Keluhmu sambil menyeduh kopi.
Kuroo yang berdiri di sebelahmu mengangkat alis.
"Kalau kepala lo meledak, gue harus cari staff baru lagi dong. Ribet."
"Makasih ya atas kepedulian lo, Kuroo." Kamu mendelik padanya.
"Relaks dikit, Name. Lo tadi ngetik udah kayak nulis surat pengunduran diri. Baru juga dua bulan." Iseng Kuroo.
"Gue kan pengen pulang tepat waktu. Gak kayak seseorang yang sering lembur." Balasmu, menyindir Kuroo yang kerap kamu dapati lembur.
"Biasa itu, deadline dadakan. Kan dapet bonus gaji juga." Bela Kuroo.
TUK!
Kamu meletakan secangkir kopi panas di depan Kuroo.
"Nih, temen kerja lo. Lembur lagi kan malam ini?"
Kuroo menatapmu beberapa detik, lalu tiba-tiba menyeringai.
"Wah, gue merasa istimewa nih."
"Biasa aja sih. Kan lo sering bantu gue juga."
Kuroo tertawa pelan, kemudian mengambil kopi tersebut dan menyeruputnya.
Sebagai mentor yang suportif, Kuroo banyak membantumu memahami sistem kerja dan strategi promosi. Namun, di saat yang sama, ia juga menjadi orang yang paling sering menggodamu. Semakin lama bekerja dengannya, kamu menyadari beberapa hal tentang Kuroo.
Pria itu selalu memperhatikan detail kecil dan seorang pekerja keras, mungkin karena itu yang membuatnya sering lembur. Ia adalah pemimpin alami. Meskipun secara teknis bukan atasan langsungmu, orang-orang sering mendengarkan pendapatnya, dan ia punya cara unik dalam mengarahkan anggota lain tanpa terkesan bossy.
"Yang minggu depan itu jadi?" Tanyamu tiba-tiba pada Kuroo.
"Yang mana?" Tanya Kuroo balik.
"Pertemuan dengan calon sponsor itu." Terangmu.
"Oh itu. Ya, sesuai jadwal sih. Kita berdua yang akan ketemu sama pihak mereka."
"Hmm, okeey."
Hari itu, kamu dan Kuroo dijadwalkan menghadiri pertemuan dengan salah satu calon sponsor potensial untuk event voli berikutnya. Perusahaan ini bergerak di bidang minuman isotonik yang cocok diminum setelah berolahraga.
"Kita harus yakinin kalau program promosi kita dapat meningkatkan exposure brand mereka di komunitas voli." Ucap Kuroo saat kalian berjalan menuju ruang meeting.
"Gue udah nyiapin data dari event tahun lalu. Harusnya cukup untuk menunjukan potensi besar kerja sama ini." Kamu berjalan di sebelah Kuroo.
"Good! Kalau ada pertanyaan yang terlalu teknis, nanti alihkan ke tim keuangan aja. Kita hanya hanya perlu fokus pada konsep dan strategi." Ucap Kuroo dan dibalas anggukan darimu.
Setibanya di ruangan meeting, kalian disambut oleh perwakilan perusahaan tersebut—seorang pria berusia sekitar 40-an dengan jas mahal dan senyum terlalu lebar.
"Akhirnya, aku bisa bertemu langsung dengan perwakilan JVA." Katanya, suaranya terdengar terlalu manis.
"Senang bertemu dengan Anda, Pak. Saya Kuroo Tetsurou, dan ini rekan saya, Name." Kuroo menjabat tangan pria tersebut dengan sopan.
Setelah berjabat tangan dengan Kuroo, pria itu langsung menjabat tanganmu. Matanya bergerak meneliti wajah dan penampilanmu dengan cara yang membuatmu sedikit tidak nyaman.
"Senang bertemu dengan Anda juga, terutama dengan Anda, Name." Katanya, menekankan namamu dengan nada yang terdengar lebih pribadi daripada profesional.
Kuroo yang berdiri di sampingmu melirik sikap pria itu dengan tatapan datar, tetapi kamu bisa merasakan perubahan halus dalam air mukanya.
Pertemuan dimulai dengan kalian yang menjelaskan konsep kerja sama serta strategi pemasaran yang sudah dirancang oleh divisi ESM. Namun, sepanjang meeting pria itu lebih banyak memperhatikan dirimu daripada presentasi yang sedang kalian berikan.
"Jadi, Name," katanya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Saya sangat tertarik dengan strategi yang Anda presentasikan, tapi saya lebih tertarik dengan bagaimana Anda bisa bekerja di industri yang didominasi pria seperti ini."
"Saya hanya melakukan pekerjaan saya dengan sebaik mungkin, Pak. JVA sangat terbuka untuk siapa pun yang kompeten, tanpa memandang gender." Kamu tersenyum tipis, menjaga profesionalitas.
"Hahaha," pria itu tertawa kecil.
"Ah tentu, tapi pasti banyak pria yang merasa sulit berkonsentrasi kalau ada wanita secantik Anda di sekitar mereka.
Kamu diam, membeku sesaat.
"Saya rasa kita di sini untuk membahas kerja sama bisnis, bukan hal lain." Kuroo mulai angkat bicara. Suaranya terdengar lebih dingin dari biasanya.
"Oh ya ya, santai saja. Saya hanya bercanda." Pria itu menatap Kuroo dengan ekspresi tak berdosa. Ia tampaknya tidak menangkap peringatan halus Kuroo.
"Name, kalau kita bekerja sama, mungkin kita bisa mengatur pertemuan tambahan," Pria itu malah mengalihkan perhatiannya padamu.
"Secara lebih privat? Saya ingin mengenal Anda lebih baik di luar kerjaan." Tambahnya.
Kamu sudah sangat tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Ketika kamu hendak akan menjawab dengan tegas, Kuroo tiba-tiba bersandar ke depan menyela dengan suara yang begitu tajam hingga suasana ruangan terasa berubah drastis.
"Kami di JVA tidak mentoleransi pelecehan terhadap staf kami," kata Kuroo menatap pria itu langsung. "Jika Anda tidak bisa bersikap profesional, maka kita tidak perlu melanjutkan meeting ini."
Ruangan menjadi hening. Pria itu tampak terkejut dengan Kuroo yang tiba-tiba begitu dingin dan tajam.
"Saya hanya bercanda, tidak perlu terlalu serius." Ucapnya canggung.
"Silahkan bercanda di luar sana, tapi di perusahaan kami tidak menerima perlakuan seperti iitu terhadap rekan kerja kami."
Kuroo merapikan berkas-berkas di depannya dan berdiri. Ia mengajakmu untuk pergi dari ruangan tersebut dan kamu tidak ragu mengikutinya.
"Saya rasa pertemuan ini selesai." Ucap Kuroo meninggalkan kursinya.
"Tunggu! Apa maksud Anda?" Ekspresi pria itu berubah, jelas tidak menyangka bahwa Kuroo akan mengambil sikap sekeras ini.
"JVA hanya bekerja sama dengan pihak yang menghormati nilai-nilai profesionalisme kami. Saya akan menyampaikan kepada tim manajemen bahwa kita tidak akan melanjutkan diskusi ini." Kuroo berucap dengan tatapan dingin.
Tanpa memberi kesempatan untuk jawaban lebih lanjut, Kuroo dan kamu keluar dari ruangan.
Kalian sengaja memutus secara sepihak diskusi siang itu. Kuroo yang berjalan di sampingmu, masih dengan ekspresi serius. Kamu hanya memandangnya dalam diam. Namun, batinmu berbisik bahwa tindakan yang Kuroo lakukan untukmu tadi terlihat sangat keren.
"Lo oke?" Kata Kuroo tiba-tiba tanpa menoleh ke arahmu.
"Eh ya." Katamu. "Masih agak gak enakan sih."
"Haaah," Kuroo membuang nafas berat.
"Padahal kita sudah bekerja keras mempersiapkan pertemuan hari ini." Ucap Kuroo.
"Maaf ya, karena gue—"
"Gak, bukan salah lo, emang Pak tua itu aja bangsat mesum." Gerutu Kuroo, memotong ucapanmu.
"Makasih ya, untuk yang tadi. Kalau gue sendirian, mungkin udah gue lempar sepatu itu Pak tua. Tapi, kalau ada orang yang belain gue di sebelah kayak tadi itu… rasanya berbeda." Kamu tersenyum kecil pada Kuroo.
Kuroo menatapmu cukup lama sebelum akhirnya mengangkat bahu.
"Ya, gak mungkin gue diem aja lihat hal seperti tadi."
Tak berapa setelah obrolan kalian, ponsel Kuroo bergetar. Ia melihat layar sebentar sebelum mendesah.
"Seperti yang gue duga. Kita dipanggil Bu Rika."
"Cepat sekali ternyata."
Kamu dan Kuroo tiba di ruangan kepala divisi ESM, Bu Rika. Di dalam, Pak Inuoka selaku Kepala bidang promosi juga ada di sana. Kalian pun duduk bersebelahan di depan meja Bu Rika.
Kuroo dengan tenang menceritakan semua detail kejadian di ruangan meeting tadi, bagaimana perwakilan sponsor bertindak tidak profesional terhadapmu, dan bagaimana ia akhirnya mengambil keputusan untuk membatalkan kerja sama tanpa ragu.
Pak Inuoka mengatakan bahwa ia tidak terkejut atas keputusan kalian. Ia berkata bahwa perusahaan tersebut dikenal cukup problematic.
"Saya sebenarnya sudah mempertimbangkan ulang kerja sama dengan perusahaan mereka. Kejadian tadi hanya memperjelas bahwa kita memang sebaiknya tidak berbisnis dengan orang orang seperti itu." Jelas Pak Inuoka.
Kamu dan Kuroo merasa sedikit lega mendengar jawaban itu. Namun, tetap saja kalian ditegur karena membatalkan kerja sama tanpa berkonsultasi terlebih dulu.
"Saya tahu ini pengalaman yang tidak menyenangkan, tapi kalau kamu butuh waktu istirahat atau bicara dengan divisi SDM, jangan ragu." Ucap Bu Rika menatapmu.
"Terima kasih, Bu Rika. Tapi, saya baik-baik saja." Kamu tersenyum kecil, lalu sedikit melirik ke arah Kuroo.
.
.
.
to be continued~
11 April 2025, Sable_Whis
