Star Lost © mitarafortunadow
Legacies © Julie Plec and the CW
-:-
"Don't matter even if I lose everything right now. I think of you and hold on."
- Stray Kids, Star Lost
.
.
.
Pernahkah kau berpikir akan kehilangan? Seorang asing di jalan bertanya padanya.
Hope hanya bisa tertawa. Dia paham benar apa itu kehilangan, bagaimana rasanya, bagaimana melampaui kepedihannya. Bagaimana untuk berjalan di tengah keramaian dengan kantong kresek berisi camilan yang terlalu asin dan tekstur yang terlalu kering, bergerak mengikuti arus manusia menuju rumah yang tidak dihuni oleh siapa-siapa selain dirinya. Berjalan dan terus berjalan, merogoh saku celana untuk mengambil kunci yang hanya pernah digunakan oleh satu orang, membuka pintu yang hanya pernah menyambut satu orang.
Kehilangan. Hope tidak hanya memikirkannya. Dia menjalaninya. Setiap saat. Setiap detik. Bersama dengan darah yang mengalir dalam tubuhnya dan darah yang menetes dari mulutnya. Darah yang memberinya kutukan dan darah yang memberinya kehidupan.
Beberapa tahun lalu, rasanya hampir menyakitkan. Seolah-olah dunia begitu bersikeras untuk menolaknya, menarik setiap kebahagiaan kecil yang sempat ia jamah dengan tangan mungilnya. Dia pikir Tuhan kejam, kemudian dia belajar bahwa mungkin Tuhan tidak ada.
Bahwa kematian ibu dan ayahnya, paman dan bibinya, teman-temannya, dan kekasih-kekasih yang pernah ia punya hanyalah satu dari sekian ribu kejadian yang tak terelakkan. Bahwa takdir itu buta, takdir itu tidak nyata, dan kehidupan itu omong kosong belaka.
Yang benar hanyalah kematian.
Dan karena itu, kehilangan.
Pria tua yang bertanya padanya di pinggir jalan tidak berkomentar saat Hope tertawa. Pria itu itu juga tidak tampak berniat untuk menjelaskan mengapa ia bertanya, atau apakah dia tertarik mengetahui alasan mengapa Hope tertawa.
Mungkin, sama seperti Hope juga, pria itu sudah terlalu familiar dengan kehilangan. Dan bahwa dia mengenali bayangan gelap kematian yang memayungi gadis kecil yang berdiri sendirian dengan kantong berisi jajanan yang sedikit basah terkena percik hujan. Mungkin ia mengenali sesama jiwa nelangsa, yang menunggu di halte tapi tidak benar-benar menunggu busnya datang.
Pernahkah Anda berpikir tentang kehilangan? Hope ingin bertanya, tetapi mulutnya terasa letih setelah tertawa.
Pria tua itu menatapnya, tak tampak kasihan, tak tampak pula lega. Hanya menatap, kemudian berpaling ke arah jalan di seberang, tempat orang-orang lain–manusia-manusia lain–terus berjalan menembus lebatnya hujan, terlihat terburu-buru hendak kembali ke rumah yang berisi orang-orang tersayang. Ke sebuah rumah yang Hope sudah lupa bagaimana rupanya.
