Star Lost © mitarafortunadow
Legacies © Julie Plec and the CW
-:-
"To me who has even lost greed, the feeling of being left alone swallows me."
- Stray Kids, Star Lost
.
.
.
Entah mulai kapan, nyawa-nyawa yang telah ia lenyapkan meninggalkan rasa terkhianati di belakang tenggorokannya. Kadang-kadang ia bahkan kesulitan bernapas karenanya. Seperti dicecoki sesuatu yang terlalu masam untuk ditelan, ia akan memuntahkan semuanya ke jalanan beraspal. Lendir, air, roti yang telah berubah jadi gumpalan putih kental, potongan-potongan lembek dari buah yang belum sempat ia cerna, dan darah. Banyak sekali darah. Berwarna gelap dan begitu kental, menodai kemeja putihnya alih-alih langsung mengotori tanah yang dipijaknya. Baunya tidak segar, berwarna nyaris pekat, seperti darah menstruasi yang terlalu lama ditahan di dalam tubuh. Lebih mirip daging yang berair daripada cairan. Segumpal kehidupan yang membedakan Hope dengan manusia biasa.
Ah, pikirnya setelah menatap gumpalan itu lebih lama, itu bukan darah, tapi jantung yang sudah berhenti berdetak. Di sanalah bedanya.
Dari dulu, ia mempertanyakannya. Mengapa ia bisa mengucurkan darah padahal jantungnya tidak lagi berdetak? Sihir macam apa yang mengikat vampir ke dunia fana meski secara teknis mereka tidak bisa dikatakan hidup? Untuk apa semesta membiarkan monster sepertinya merajalela di tengah-tengah gerombolan rapuh bernama manusia?
"Kau adalah keajaiban, Hope," pamannya pernah berkata.
Empat hari dalam seminggu, Hope tidak sependapat. Tiga hari sisanya, ia anggap kata-kata sang paman sebagai semacam kutukan. Keajaiban sama artinya dengan anomali. Keanehan. Sesuatu di luar nalar. Kejadian yang menentang logika. Peristiwa yang seharusnya tidak terjadi. Anak yang tidak seharusnya dilahirkan.
Pembawa petaka, para peramal tua di New Orleans pernah berkata, suara mereka nyaring seperti ketel yang telah selesai memanaskan air.
Sewaktu kecil, mudah bagi Hope untuk tak mengacuhkan nada jijik yang melekat pada setiap kata terucap dari para pembenci. Meskipun lusinan orang mengerutkan wajah saat melihat atau mendengar namanya, Hope tahu ia sendiri dicintai. Ia yang tumbuh dengan pelukan dan ciuman, serta gelak tawa keluarganya, tak mungkin buta pada limpahan kasih sayang mereka. Ayahnya, terutama, yang punya ekspresi sedemikian lembut tiap kali mereka bertatap mata. Seolah-olah di dunia ini tidak ada keajaiban yang lebih menakjubkan dari dirinya. Seolah-olah Hope adalah kunci dan pintu keluar dari semua masalah yang sedang dan akan mereka hadapi.
Perasaan dicintai itu menjadi rantai yang mengekang Hope di kemudian hari. Hope bukan kunci—dia terkunci. Begitu kedua orang tua dan pamannya mati, rantai itu tak bisa dilepas dan terus mengikatnya ke dasar danau. Ia tidak bisa bernapas. Ia tidak bisa menjangkau permukaan. Seluruh hidupnya digembok di satu titik di masa lalu dan hingga sekarang, ia kehilangan daya bahkan untuk sekadar berharap.
Kerap kali, ia bahkan bertanya-tanya, pantaskah ia untuk berharap? Ia, makhluk yang dilahirkan dari sebuah titik buta aturan Semesta? Ia, yang nyaris menelan nyawa ibunya sendiri dan berulangkali membuat ayahnya mengecap dinginnya mati?
Tapi kemudian Paman Elijah akan mengusap rambutnya dalam memori yang entah kenapa tidak bisa memudar.
Katanya, "Jika bukan karena kau, kematian kami akan sia-sia. Tanpa arti. Kehidupan panjang yang berakhir dengan kebosanan yang mencekik."
Maka tiap kali memori itu bangkit, menebar hangat pada jantungnya yang tak lagi berfungsi, Hope akan mengambil satu tarikan napas panjang—sesuatu yang tidak dibutuhkan, tetapi ingin ia lakukan.
Ia melanjutkan hidup.
Seperti bintang yang mati dan meledak, dan terlahir kembali menjadi benda langit yang lain, ia melanjutkan hidup. Seperti yang selalu orang-orang tersayangnya inginkan.
